Taqdir Volume 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab Era 4. Fahimatul Amrillah Uin Maulana Malik Ibrahim Malang Corresponding E-mail: 19720051@student. uin-malang. Abstract The issue of arabization and secularization is considered to have greatly influenced Arabic learning in Indonesia. The confusion of society in viewing the terms arabization, islamization and secularization is one of the main causes of the bad image of Arabic learning in Indonesia. The purpose of this study is to rethink and reflect on the issues of Arabization and secularization that affect Arabic learning in Era 4. The results of this study indicate that both arabization and secularization have positive and negative impacts on learning Arabic. Among the positive impacts is the acculturation of Arab and Indonesian cultures, creating good trade partnerships between Arabs and Indonesians, thus motivating Indonesian students to learn Arabic. While the negative impact is in the form of a shock to the native language culture and the occurrence of tribalism of Arab culture, there is a negative view due to the existence of radical groups who force all Islamic teachings to be oriented to Arabic, the use of the 'Amiyyah language and the change of Arabic script to Latin writing without any absorption of language. So that the role of the teacher is expected to be able to overcome these things. Keywords: Arabization. Secularization. Arabic Learning Issues Abstrak Dewasa ini isu arabisasi dan sekularisasi dinilai sangat mempengaruhi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. Kerancuan masyarakat dalam memandang istilah Arabisasi, islamisasi dan sekularisasi menjadi salah satu penyebab utama buruknya citra pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji ulang dan merefleksi kembali isu-isu arabisasi dan sekularisasi yang mempengaruhi pembelajaran bahasa Arab di Era 4. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa arabisasi dan sekularisasi memiliki dampak positif dan negatif terhadap pembelajaran bahasa Arab. Di antara dampak positifnya adalah akulturasi budaya Arab dan Indonesia, menciptakan kemitraan perdagangan yang baik antara orang Arab dan Indonesia, sehingga memotivasi pelajar Indonesia untuk belajar bahasa Arab. Sedangkan dampak negatifnya berupa goncangan terhadap budaya bahasa asli dan terjadinya tribalisme budaya Arab, terdapat pandangan negatif akibat adanya kelompok radikal yang memaksa semua ajaran Islam berorientasi pada bangsa Arab, penggunaan bahasa 'Amiyyah dan perubahan tulisan Arab ke tulisan Latin tanpa penyerapan bahasa. Sehingga peran pengajar bahasa Arab sangat diharapkan untuk mengatasi isu-isu tersebut. Kata Kunci: Arabisasi. Sekulerisasi. Isu Pembelajaran Bahasa Arab PENDAHULUAN Era digital yang semakin milenialis menghantarkan pada pola pikir yang mengharapkan sesuatu serba praktis dan cenderung mengikuti trend. Ideologi ini mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam segala aspek, baik itu dalam Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab Era 4. kemasyarakatan, transformasi sosial budaya, dan lain-lain. Kehidupan modern menuntut masyarakat untuk Auup to dateAy jika ingin mendapatkan nilai yang lebih tinggi dari kelompok masyarakat lainnya. Tidak seperti perkembangan teknologi yang bisa dilihat dengan mata telanjang, transformasi sosial budaya dalam masyarakat lebih terkesan di bawah alam sadar. Menyatunya masyarakat dengan kebudayaan yang mereka miliki membuat mereka kurang sensitif terhadap perubahan-perubahan yang dialami kebudayaan tersebut. Terutama perubahan yang disebabkan pleh berbaurnya kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan bangsa-bangsa sebagai salah satu produk era globalisasi. Terjadinya proses akulturasi kebudayaan yang disebabkan oleh menjamurnya kebudayaan dari negara lain bukan lagi menu baru di Indonesia, namun merupakan fenomena umum yang dialami seluruh negara. Salah satu negara yang berpengaruh bagi bangsa kita adalah negara-negara Timur Tengah. Masuknya bangsa Arab diasumsikan bermula pada sekitar abad 7 M. Hal ini dibuktikan dalam naskah Tiongkok yang menginformasikan bahwa terdapat sekelompok bangsa Arab yang telah bermukim di Barus, daerah pesisir barat Sumatera Utara (Amrullah, 2. Sehingga fenomena tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Islam sekaligus terjadinya perkawinan kebudayaan antara bangsa Arab dan bangsa Indonesia. Sehingga datangnya bangsa Arab ke Indonesia membuahkan dua buah produk, yakni islamisasi yang menyentuh pada aspek agama dan arabisasi yang lebih terfokus pada bagaimana budaya Arab merasuk ke dalam budaya Indonesia. Besarnya proses islamisasi dibuktikan dengan mayoritas penduduk Indonesia yang memeluk agama Islam dengan presentase 86,39% dari 263,92 juta jiwa di tahun 2020 (Databoks, 2. Sedangkan dari sudut pandang budaya, arabisasi terlihat dengan banyaknya muslimah Indonesia yang mengikuti budaya bangsa Arab seperti contohnya dalam hal berpakaian dengan memakai abaya hitam sebagai pakaian syarAoinya. Fenomena islamisasi pada tahun-tahun terakhir ini mulai dipandang sebagai isu arabisasi, padahal dua fenomena ini lahir dari aspek berbeda yang saling Asumsi ini bermunculan setelah perpecahan umat islam di Indonesia yang terbagi menjadi dua kelompok besar. Islam nusantara yang menjunjung Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab 4. tinggi ajaran agama untuk bersinergi dengan budaya Indonesia dan Islam radikalis yang menginginkan perubahan sistem pemerintahan menjadi sistem khilafah yang menjadikan Arab sebagai kiblat. Sehingga masyarakat tidak dapat lagi membedakan antara islamisasi yang mereka, umat Islam, anggap sebagai dakwah agama dan arabisasi yang saat ini dipandang negatif karena diprediksikan akan mencuri keorisinilan budaya leluhur bangsa Indonesia. Menjamurnya isu tersebut tentunya mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan bangsa Arab, termasuk di dalamnya adalah bahasa. Dikarenakan bahasa arab sebagai bahasa ubudiyah dan syariAoah dianggap memiliki urgensitas tinggi bagi umat Islam untuk mempelajarinya. Berkebalikan dengan arabisasi, isu kedua adalah kolonialisasi oleh kelompok orientalis Barat yang ingin membasmi segala hal yang berkaitan dengan Islam dan bangsa Arab. Kelompok ini bertopeng sebagai para ilmuwan yang ingin mengkaji budaya Timur, sedangkan dibalik penelitian yang dilakukan, mereka diam-diam menyusupkan paham sekularisme di tengah-tengah umat Islam. Racun yang mereka sebarkan tidak hanya kaku dalam urusan agama saja, namun menyebar hingga ranah politik, budaya, terutama pendidikan. Dampak yang diberikan begitu besar namun tidak terasa, contohnya saja bahasa Arab Fusha sebagai bahasa asli Al-QurAoan yang menurun kuantitas penggunaannya digantikan dengan dialek lokal, bahasa AoAmiyah. Isu-isu di atas tentunya sangat mempengaruhi pandangan masyarajat Indonesia terhadap pembelajaran bahasa Arab. Di mana pembelajaran bahasa Arab yang pada awalnya bertujuan untuk mendekatkan pembelajarnya kepada bahasa asli Al-QurAoan agar mereka dapat menggali hukum-hukum Islam langsung kepada sumber aslinya sekaligus sebagai bahasa yang bersifat fungsional yang dapat dipakai di event-event global seperti perdagangan, kerja sama antar negara, dan tentunya pendidikan, citra bahasa Arab menjadi berubah dikarenakan isu-isu Sehingga jika hal ini tidak diluruskan, ditakutkan akan membuat minat para calon pembelajar bahasa Arab di Indonesia menjadi surut. Penelitian ini mencoba memberikan refleksi dan pemikiran ulang mengenai isu arabisasi dan sekularisasi yang mempengaruhi pembelajaran bahasa Arab di Era 4. Termasuk di dalamnya akan diulas tentang bagaimana peran ilmuwan yang dalam bidang ini tertuju kepada para pengajar bahasa Arab. 51 Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab Era 4. TEORI Arabisasi Arabisasi atau dalam bahasa arab disebut dengan taAorib (A )OAmerupakan ekspansi bangsa Arab di wilayah non-Arab yang menyebabkan akulturasi budaya dan pegadopsian identitas Arab oleh wilayah tersebut. Dalam bahasa Inggris. Arabization berasal dari kata Arabize yang berarti menyebabkan untuk memperoleh kebiasaan, tata krama, ucapan, atau pandangan Arab . angsa Ara. (Webster, n. Fenomena umumnya, unsur-unsur dari Arab bercampur dengan "Arab". Khususnya non-Arab pemerintahannya berlandaskan Islam seperti Malaysia dan Brunei Darussalam, sehingga akulturasi budaya lokal dengan budaya Arab bukan lagi hal baru meski masih menimbulkan banyak kontroversi. Arabisasi disebut juga dengan arabisme. Terminologi ini lahir setelah perang dunia pertama, didefinisikan sebagai sebuah gerakan politik yang bertujuan untuk memperjuangkan semangat kebangsaan atau nasionalisme di setiap negara Arab. Namun dalam konteks kontemporer, pemahaman arabisme berubah menjadi penyamarataan antara Arab dan Islam. Di Indonesia, fenomena arabisme ditandai dengan pembauran budaya Arab dengan budaya lokal, sebagai contohnya penyerapan bahasa, peniruan cara berpakaian, gaya hidup bahkan dalam perkawinan dan perjodohan. Diseminasi nilai identitas bangsa Arab biasanya berkaitan dengan proses penyebaran ajaran Islam di Indonesia (Putra, 2. Dewasa ini, istilah arabisasi telah bercampur dengan Islamisasi, khususnya di negara non-Arab mayoritas muslim seperti Indonesia. Fenomena ini menimbulkan berbagai aspek dari kehidupan umat muslim dinilai sebagai simbolisme arab, ataupun sebaliknya. Simbolisasi tersebut sudah begitu menyatu dengan nilai-nilai religiusitas bangsa-bangsa muslim dan mengakibatkan tidak bisa dipisahkannya arabisasi dengan islamisasi (Wahid, 2. Sehingga menimbulkan pandangan dalam masyarakat bahwasanya, nilai-nilai di luar agama seperti budaya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan bangsa Arab adalah SyariAoat agama. Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab 4. Sekulerisasi Istilah sekular lahir pertengahan abad 19 yang digunakan bangsa Barat untuk merujuk pada kebijakan tertentu sebagai akibat fenomena penceraian gereja dari Sekular diambil dari bahasa Latin AoSaeculumAo yang memiliki dua konotasi makna yaitu waktu yang menunjukkan present atau yang terjadi sekarang dan tempat yang dinisbatkan kepada dunia (Al-Attas, 1. Sekular diterjemahkan oleh kelompok orientalis ke dalam bahasa Arab menjadi 'almany atau al-Aoilmaniyah . yang pada intinya memiliki makna al-ihtimam bi umur al-dunya . epentingan terhadap urusan duni. dan pengertian ini diikuti oleh mayoritas pemeluk agama Islam (The New International WebsterAos Compeherensive Dictionary of the English Languange, 1. Terdapat perbedaan antara definisi sekularisasi dan sekularisme. Harvey Cox berpandangan bahwa sekularisasi adalah pelepasan manusia dari ikatan agama dan metafisika, dilatarbelakangi oleh bangkitnya keinginan manusia untuk terbebas dari doktrindoktrin pada masa Renaissance, berakibat pada tergantinya nalar agama (The Age of Religio. pada nalar akal (The Age of Reaso. Sedangkan sekularisme adalah upaya pemusatan pikiran manusia pada aspek materi dan mengkesampingkan aspek spiritual. Masyarakat sekular hanya fokus pada kehidupan dunia yang nyata dan benda-benda yang berwujud atau memiliki materi(Al-Attas, 1. Sehingga dapat disimpulkan, sekularisme adalah ideologi yang dihasilkan dari proses sekularisasi oleh masyarakat berfaham sekular. Hubungannya dengan agama dan negara, sekularisasi didefinisikan sebagai upaya memisahkan secara total simbol-simbol religius dari simbol-simbol politis. Dengan artian, agama dan negara berjalan secara terpisah berdasarkan relnya masing-masing dan tidak disinergikan menjadi satu maupun sekedar saling Sekularisasi menyebabkan norma-norma agama tidak lagi relevan untuk dijadikan salah satu landasan kebijakan bernegara (Rifkiawan & Cahyono. Sedangkan salah satu simbol agama Islam adalah bahasa Arab, hubungan bahasa Arab dan agama Islam yang tidak dapat dipisahkan membuat masyarakat sekuler enggan untuk mempelajari bahasa Arab. 53 Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab Era 4. Paradigma Kritis-Refleksif Paradigma kritis-refleksif adalah paradigma ilmiah yang menempatkan epistemologi kritik Marxis dalam semua metodologi penelitian. Di sisi lain, teori kritis adalah salah satu aliran ilmu sosial yang didasarkan pada gagasan Karl Marx dan Engels (Denzin. Norman K. dan Lincoln, 2. Kajian dalam paradigma kritis tidak memperhitungkan realitas secara harmonis, melainkan dalam konteks konflik dan perjuangan sosial. Paradigma ini berusaha tidak hanya menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan, dan menata realitas sosial, tetapi juga untuk menumbangkan ideologi yang ada. Paradigma reflektif dipadukan dengan pendekatan kritis yang biasa digunakan dalam kajian budaya, media, komunikasi, feminisme, wacana, sastra, dan politik. Tradisi kritis berusaha menggabungkan teori dan tindakan. Teori normatif harus diterapkan dalam kehidupan masyarakat untuk mendorong perubahan ke arah yang lebih baik. Patti Lather percaya bahwa ilmu-ilmu sosial kritis berusaha membantu menciptakan kesetaraan dan pembebasan dalam kehidupan, serta memahami ketidaksetaraan dalam distribusi kekuasaan dan sumber daya. Apalagi, menurut Latherr, ilmu-ilmu sosial yang kritis cenderung secara moral mengkritik status quo dan membangun masyarakat yang lebih adil. (Muhadjir, 2. METODE Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan paradigma kritis-refleksif untuk menjabarkan, mempertimbangkan, merefleksikan, dan menata realitas sosial, serta menumbangkan ideologi yang ada. Pendekatan yang digunakan adalah studi kasus yang berfokus pada satu sasaran tertentu dan mengkajinya sebagai kasus tertentu. Sedangkan untuk penyajian data, penelitian ini bersifat deskriptif yaitu menyajikan data yang dianalisis dan hasil analisisnya dalam bentuk deskripsi (Aminuddin, 1. Dengan kombinasi pendekatan dan metode di atas, realitas kebenaran akan dideskripsikan secara reflektif dan menyeluruh tanpa adanya sensor terhadap data yang tidak dikehendaki, kemudian data tersebut dikaji kembali dengan mengikutsertakan interpretasi dari peneliti. Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi dengan mengkaji dokumen-dokumen yang menjadi sumber data penelitian berupa catatan, transkip, buku-buku, berita, jurnal-jurnal dan sebagainya. Metode ini menggunakan teknik baca dan catat untuk mengumpulkan dan mengorganisir temuan data. Sedangkan Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab 4. untuk teknik analisis datanya peneliti menggunakan rumusan Miles & Huberman yang memiliki tiga tahapan setelah data dikumpulan. reduksi data yaitu dengan menyederhanakan dan menyeleksi data yang ditemukan. penyajian data yaitu menyajikan data berupa narasi dan deskripsi. penarikan kesimpulan yaitu dengan menarik kesimpulan sesuai dengan rumusan masalah yang dianalisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Isu Arabisasi Terhadap Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia Arabisasi dipandang sangat negatif setelah kemunculan ormas-ormas Islam Meskipun Indonesia memiliki kesamaan nilai-nilai Islam yang terbentuk dan berasimilasi dari budaya Melayu kuno. Indonesia bukanlah negara yang berbasis Islam dalam sistem pemerintahannya meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Dikarenakan sejarah perkembangan Islam di Indonesia banyak dipengaruhi oleh media seni dan budaya seperti wayang yang dibawakan oleh Sunan Kalijaga dengan menitikberatkan konsep kemoderatan serta penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal. Sehingga, sebagai negara yang kental akan budaya leluhur, arabisasi dianggap menjadi sumber pola perubahan cara memaknai Islam bahkan menimbulkan tribalisme terhadap budaya Arab. Fenomena arabisasi dinilai sama namun berbeda dengan asimilasi kebudayaan bangsa lain yang masuk ke indonesia. Seperti contohnya westernisasi lebih mempengaruhi lifestyle dan korean wave yang lebih mempengaruhi industri hiburan, sedangkan arabisasi menanggung beban pengaitannya dengan isu sensitif yang dewasa ini sering dialami Indonesia, yakni, agama. Hal ini dikarenakan tujuan kedatangan bangsa Arab ke Indonesia yang tidak lepas dari islamisasi sebagai proses asimilasi nilai-nilai Islam menjadi sesuatu yang baru yang belum memiliki spirit Islam sehingga dapat memasukan sekaligus menyesuaikan ajaran Islam ke Islamisasi di Indonesia mulai bersifat semu setelah munculnya ormas-ormas Islam yang dilabeli radikalisme. Mayoritas ormas ini membawa paham salafisme atau wahabiyah yang berakar dari Arab Saudi dengan wujud menyebarkan paham konservatif yang mengkiblatkan bangsa Arab tidak hanya dalam hal agama namun juga budaya, sehingga mereka bersikap intoleran terhadap budaya yang berseberangan dengan budaya Arab. 55 Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab Era 4. Realitas sosial seperti ini menurut kalangan fenomenologis, dapat diasumsikan sebagai salah satu bentuk dari eksoterisme Islam, yaitu perilaku simbolistik tentang cara pandang penerjemahan agama ke dalam simbol-simbol agama itu sendiri, timbulnya asumsi terhadap Islam dan Arab menjadi dua hal yang mustahil Semakin dia ke-AoArab-ArabAo-an maka semakin dianggap agamis juga dia, dengan kata lain derajat keislaman seseorang diukur dari seberapa akrab ia dengan Arab dalam segala aspek seperti budaya, bahasa, dan pakaiannya. Sehingga kompleksitas dan kesensitifan problema agama di Indonesia menggiring pro dan kontra terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Arab. Masyarakat yang pro dengan paham yang diajarkan oleh ormas-ormas tersebut maka mereka otomatis juga setuju dengan meluasnya arabisasi, sebaliknya, mereka yang kontra akan memilih jalan dikotomi budaya Arab dengan pembelajaran ilmu-ilmu Islam. Secara otomatis hal ini juga mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap mereka yang menempuh studi yang berkaitan dengan negara Timur Tengah, khususnya dalam pembelajaran bahasa Arab. Posisi bahasa Arab dalam hal ini terbagi menjadi dua, sebagai bahasa kitab suci umat Islam dan yang kedua sebagai bahasa bangsa Arab. Sehingga permasalahan ini menimbulkan dilema di tengahtengah masyarakat. AuApakah seseorang yang belajar bahasa arab pasti terkena atau harus mengamalkan arabisasi?Ay Jika dilihat dari posisi pertamanya, bahasa Arab menyandang atribut sebagai bahasa kitab suci umat Islam, yaitu Al-QurAoan, bahasa yang digunakan dalam sebagian besar ritual keagamaan, dan bahasa budaya agama Islam. Maka ia memiliki urgensitas tinggi untuk dipelajari oleh umat Islam. Sedangkan dinilai dari posisi kedua, meskipun al-QurAoan adalah firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, bahasa Arab bukanlah bahasa Allah ataupun malaikat-Nya, tapi merupakan produk kebudayaan bangsa Arab (Muhbib Abdul Wahab, 2. Oleh karena itu, kita tak perlu mensakralkan atau mengagungkan bahasa Arab, tapi cukup dengan mengapresiasinya sebagai bahasa kitab suci umat Islam. Yusuf al-Qaradhawi mengisyaratkan untuk tetap memperlakukan bahasa Arab seperti bahasa-bahasa lainnya di dunia, yaitu sebagai produk sosial-budaya yang tidak dikecualikan untuk dipelajari, dianalisis, dikritisi, demikian pula untuk dikembangkan (Ridlo, 2. Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab 4. Ditarik kesimpulan dari kedua posisinya tersebut, mengkaji bahasa Arab bukan berarti wajib mengamalkan budaya bangsa penuturnya. Hal ini tidak berlaku hanya bagi mereka yang mempelajari bahasa Arab sebagai keterampilan namun juga yang mempelajarinya dalam konteks agama. Dikarenakan bahasa asing juga bermakna sebagai budaya asing. Ketika pemerolehan bahasa dilalui maka penguasaan paling tidak pemahaman akan budaya yang mengiringi bahasa tersebut juga sudah dikuasai. Sebuah perjalanan belajar bahasa juga akan menjadi perjalanan dalam belajar budaya lain. Ini bukan hasil yang otomatis atau merupakan produk sampingan yang datang secara serta merta. Bahkan bisa saja orang yang belajar bahasa tidak memahami sedikitpun konsepsi dan norma yang dipraktikkan penutur bahasa itu (Richardson, 2. Namun yang menjadi pokok masalah di sini bukanlah akulturasi sebagai produk perkawinan budaya Arab dan Indonesia, melainkan terjadinya gegar Pelaksanaan acara bahasa Arab yang mengharuskan pemakaian dresscode dengan tema kearab-araban bisa dijadikan contoh. Sebagaimana diketahui, pakaian umum di antara laki-laki di semenanjung Arab disebut thawb atau dishdasha, pakaian sepanjang mata kaki biasanya dengan lengan panjang, mirip dengan gamis, kaftan, atau tunik. Di Indonesia, istilah populer untuk jenis pakaian ini adalah jubah, meskipun juga berlaku untuk pakaian wanita dari jenis yang Juga pemakaian kain seperti jilbab . diikat di kepala dengan seutas tali hitam . dan digunakan dengan kopiah yang disebut thagiyah, yang membuat rambut tetap masuk ke dalam. Kemudian untuk pakaian perempuan Arab sendiri bermacam, seperti shayla, al-amira, niqab, khimar and, albeit dan burqa (Halim, 2. Namun melihat permasalahan di atas, bukan berarti para pelajar bahasa Arab tidak diperbolehkan mempelajari budaya bangsa Arab, karena bahassa merupakan salah satu produk budaya (Triyanto. Fauziyah, & Hadi, 2. Dilihat dari segi pemerolehan bahasa kedua, pengetahuan tentang budaya penutur bahasa asli juga dapat menunjang keorisinilan dalam pembelajaran bahasa tersebut. Jika tahapan pembelajaran budaya dilalui seiring dengan penguasaan bahasa, maka akan terjadi penerimaan identitas dirinya tanpa adanya perubahan apalagi gegar budaya. Justru, ia akan memahami nilai, sikap, dan pembawaan budaya penutur bahasa yang dipelajarinya (Schmidt. Donitsa. Inbar. , & Shohamy, 2. Hal ini akan 57 Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab Era 4. menjadi momentum untuk menilai sejauh mana ia sudah mulai terpengaruh dengan budaya yang dipelajarinya dalam budayanya sendiri. Dengan memahami budaya bangsa lain justru akan mengukuhkan identitas budayanya sendiri. Sehingga ketika para pengajar maupun pelajar bahasa Arab telah mengenali budaya bangsa Arab, mereka dapat membentengi diri dari akibat negatif Arabisasi. Dikarenakan tidak selamanya Arabisasi memiliki konteks buruk, khususnya bagi pelajar bahasa. Arabisasi juga memiliki ranah lain selain hubungannya dengan kebudayaan yaitu dalam bidang linguistik. Dari ranah kebahasaan, taAorib memiliki makna proses penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Arab sebagai bentuk kosa-kata Arab mempertahankan aspek morfologis dan sintaksis bahasa Arab (Yuspa, 2. Upaya ini dilakukan dengan tujuan agar bahasa Arab selalu relevan untuk digunakan seiring berkembangnya zaman. Pengaruh Isu Sekularisme Barat terhadap Pembelajaran Bahasa Arab Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa munculnya paham sekularisme di Barat dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, . Faktor Agama, yaitu berkaitan dengan Bibel . Faktor Ideologi, yaitu dikotomi ilmu pengetahuan dengan doktrin gereja yang berkuasa pada masa itu . Faktor Psikologi, yaitu trauma bangsa Barat pada masa Dark Age di mana ilmu pengetahuan mengalami kelumpuhan, . Faktor Sejarah, yaitu fenomena di masa pertengahan tentang penguasaan Gereja dan perlawanan para ilmuwan, . Faktor realitas kehidupan yang menuhankan empirisme (Qardhawi, 1. Kemudian ideologi yang memusatkan urusan duniawi sebagai pokok ajarannya ini ditularkan ke dunia Islam. Ekspansi ideologi ini pada awalnya dilatarbelakangi oleh faktor kecemburuan agama. Masifnya perkembangan agama Islam hingga ke Perancis Selatan, menimbulkan kekhawatiran pemuka-pemuka agama Kristen di Eropa khususnya Roma jikalau Islam ini akan menyebar ke seluruh benua mereka. Berawal dari khawatir timbullah rasa benci dan iri hati, sehingga lahirlah kaum orientalis yang berkedok ingin mempelajari Islam dengan tujuan menghancurkannya. Berakar dari faktor agama, kemudian bercabang pada tujuan politik berwujud penjajahan atau yang disebut dengan neokolonialisme. Mereka juga tidak suka Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab 4. dengan Islam yang tidak mengajarkan dunia sebagai orientasi utama kehidupan, melainkan orientasi akhirat yang bersifat metafisik. Sehingga mereka berusaha untuk melumpuhkan ajaran-ajaran Islam salah satunya dengan menyusupkan sekulerisasi yang berkebalikan dengan tujuan ajaran agama Islam. Dr. Ghalib Ibn AoAwajiy mengemukakan bahwasanya sekularisme disebabkan karena dangkalnya pengetahuan umat Islam terhadap agamanya sendiri. Akibat kurangnya pengetahuan tersebut umat Islam didera virus TBC yaitu Takhayul. BidAoah dan Chufarat. Dalam realitas kehidupan, virus ini ditandai dengan beberapa gejala, di antaranya, umat Islam memposisikan Al-QurAoan hanya sebagai bacaan saja tanpa memahami maknanya, gampang menghakimi perbuatan orang lain yang tidak sesuai dengan pemahamannya sebagai bidAoah bahkan menyebut mereka kafir, hingga pada akhirnya muncullah kelompok-kelompok ahlu raAoyi yang menuhankan akal (AoAwajiy, 2. Dapat ditarik benang merah bahwa masuknya paham sekularisme ke dalam agama Islam bersumber dari neokolonialisme Barat yang memiliki tujuan terselubung, yaitu mencabut ajaran Islam sampai ke akar-akarnya. Istilah ini merasuk ke dalam dunia Islam seperti melalui alam bawah sadar karena hanya segelintir orang yang merasakannya, dipengaruhi oleh mengalirnya sekularisme bersamaan dengan fenomena-fenomena lainnya seperti westernisasi dan modernisasi, sebagai produk majunya ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga ditambah lagi dengan dangkalnya religiusitas umat Islam. Berkaitan dengan fenomena kolonialisasi Barat terhadap Islam. Dr. Ghalib ibn 'Ali AoAwajiy mengatakan sebenarnya hal tersebut telah termaktub di dalam AlQurAoan, dikatakan bahwasanya memang dari dulu kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan membiarkan Islam dalam kedamaian sehingga umat Islam mengikuti ajaran mereka, berikut terjemahan ayatnya: AuOrang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti Agama mereka, katakanlah: AuSesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk . ang bena. Ay. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti mereka setelah pengetauhan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. Ay (Q. Al-Baqarah: . Sekularisasi menyusup di seluruh bagian tubuh Islam termasuk di dalam targetnya adalah pemusnahan bahasa Arab sebagai bahasa Al-QurAoan. Selain pendangkalan wawasan generasi muda terhadap sumber keilmuan islam, mereka juga menanamkan stigmatisasi buruk terhadap bahasa Arab sehingga tingkat 59 Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab Era 4. optimisme dan pembelajarnya menurun. Didukung dengan kampanye besar- besaran yang mempropagandakan bahasa Inggris sebagai bahasa kaum modernitas dikarenakan dinilai paling kompatibel dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejalan dengan pernyataan di atas. Farid al-Anshari menambahkan, program globalisasi neokolonial yang dicanangkan Barat terhadap dunia Islam bertujuan untuk membunuh identitas dan karakter budaya Timur, terutama Arab maupun negara-negara lain yang berasimilasi dengan Arab. Ditunjukkan dengan arogansi Amerika Serikat dalam menetapkan kebijakan-kebijakan luar negeri ataupun urusan politik terhadap dunia Islam, khususnya Timur Tengah (Ridlo, 2. Negara adikuasa ini dikenal terlalu sibuk mencampuri urusan negara-negara Arab baik dengan intervensi langsung maupun melalui taktik terselubung yang tidak Agenda marginalisasi sumber daya pengajaran Islam disusupi paham sekularisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Ibarat pembiusan tanpa obat, penyelundupan dilakukan dengan halus dan licin sehingga target tidak merasakan gejalanya, namun akibat yang dihasilkan sangatlah fatal. Agenda penyelundupan itu dibuktikan dengan munculnya kelompok orientalis yang bersembunyi dibalik nama ilmu pengetahuan agar dengan bebas mengeksplorasi ilmu-ilmu keislaman. Mereka melabeli diri mereka sebagai ilmuwan Barat . ewasa ini sudah banyak orang Timur seperti Jepang yang ikut bergabun. yang mengkaji kebudayaan Timur khususnya keilmuan tentang Islam, menyangkut Al-Qur'an. Hadits, sejarah kebudayaan Islam, hukum Islam dan sumber pokok ajaran Islam lainnya. Sehingga mereka juga mempelajari bahasa Arab sebagai jembatan utama untuk menyelidiki ilmu-ilmu tersebut. Dari ilmu yang mereka serap, banyak buku-buku keislaman yang mereka tulis juga usaha penterjemahan kitab-kitab klasik berbahasa Arab ke dalam bahasa-bahasa lain seperti Inggris dan Perancis. Dibalik tujuan yang AoterlihatAo positif tersebut, ada tujuan utama yang disembunyikan, seperti menjamurnya penggunaan bahasa AoAmiyah . ialek loka. yang mengalahkan eksistensi bahasa Fusha sebagai bahasa resmi bangsa Arab sekaligus bahasa Al-QurAoan. Tanpa disadari hal ini menimbulkan perpecahan umat Islam baik di kalangan bangsa Arab maupun bangsa AoAjam, bukan penutur asli. Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab 4. Dikarenakan berbeda daerah maka berbeda juga bahasa Arab AoAmiyah yang dituturkan, sedangkan bahasa Fusha sebagai bahasa pemersatu sudah mulai menipis penuturnya. Sehingga akibat fatal seperti kebutaan dan jauhnya umat muslim terhadap bahasa Arab sebagai Al-QurAoan tidak dapat dihindarkan. Sebab, jika dirasionalkan mengapa mereka merekomendasikan bahkan mengapresiasi suburnya ekspansi penggunaan bahasa AoAmiyyah dengan berbagai dialek berbeda di setiap daerah, sedangkan secara akademis mereka sendiri hanya fokus mempelajari bahasa Fusha dalam kegiatan eksplorasi budaya ketimuran? Upaya selanjutnya adalah penggantian penulisan Arab dengan huruf latin. Eksistensi bahasa Arab di Instansi-Instansi berbasis Islam pun mulai digeser dengan bahasa asing lain. Gerakan ini menawarkan kilah AomenggiurkanAo, antara lain : . Penggunaan bahasa 'amiyah dirasa lebih praktis dan mudah karena tidak terikat dengan kaidah-kaidah Nahwu dan Sharf, . Tulisan Latin lebih mudah dan telah digunakan oleh mayoritas negara di dunia, . Bahasa Arab fusha dinilai tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, . Bahasa Arab fusha dinilai sulit untuk pembelajar baru, terutama yang bukan penutur asli (Agustiar, 2. Sehingga muncullah pandangan bahwa bahasa Arab Fusha mengalami stagnansi dan tidak fleksibel dengan perkembangan zaman, dibuktikan dengan masuknya kosa kata asing terutama yang berbau teknologi, diterima apa adanya tanpa melalui proses seleksi ataupun penyerapan, hanya pergantian tulisan latin ke Arab. Bangsa arab sendiri lebih bangga menggunakan bahasa AoAmiyyah karena dianggap sebagai bentuk modernisasi yang harus mereka ikuti. Akibatnya, meski dalam acara resmi seperti perkuliahan ataupun pertemuan akademis lainnya, mereka tetap tidak menggunakan Fusha sebagai bahasa resmi negara. Kemudian acara televisi juga sudah diwarnai gaya hidup Barat yang serba sekuler dan Sehingga bagi mereka mempelajari bahasa Fusha dengan segala qawaidnya sudah tidak mempunyai urgensitas tinggi lagi. Berbeda dengan dunia Arab, di Indonesia bahasa Arab Fusha masih menjadi primadona utama dalam pembelajaran bahasa Arab. Hal ini dikarenakan mayoritas pembelajaran bahasa Arab di Indonesia adalah untuk orientasi agama, sehingga mereka memilih mempelajari bahasa Fusha karena bahasa Arab Fusha merupakan bahasa al-QurAoan dan al-Sunnah. Sehingga banyak pondok pesantren, khususnya 61 Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab Era 4. pondok Salaf, yang menjadikan kitab-kitab klasik sebagai sumber bahan ajarnya, baik dalam pelajaran kebahasaan, hukum Islam, akhlak dan lain-lain dengan alasan kitab-kitab tersebut asli dari hasil pemikiran UlamaAo Arab. Meskipun sudah banyak pula kitab klasik yang diputarbalikkan subtansi dan tercemar keorisinilannya oleh kaum orientalis. Peran Pengajar Bahasa Arab terhadap Isu Arabisasi Sebagaimana telah dipaparkan di atas, arabisasi bercabang pada dua aspek, yakni agama dan budaya. Kaitannya dengan agama, memang bahasa Arab sebagai bahasa kitab suci umat Islam tidak bisa dipisahkan dengan urusan agama. Namun jika dipandang dari segi keterampilan berbahasa, maka bahasa Arab bisa berdiri sendiri tanpa disangkut-pautkan dengan Islam. Hubungan arabisasi dengan agama terlihat dari pernyataan bahwa agama merupakan identitas kultural suatu bangsa yang tidak dapat dipisahkan dengan bangsa itu sendiri. Islam sebagai agama yang paling banyak pemeluknya di Indonesia tentunya dipengaruhi oleh kedatangan bangsa Arab berabad-abad lalu. Kedatangan yang bertujuan untuk berdagang tersebut juga dimanfaatkan bangsa Arab untuk menyebarkan agama Islam sekaligus ekspansi kultural. Hal inilah yang juga menyebabkan tidak dapat dipisahnya bahasa Arab dengan esensi agama Islam. Merujuk pada realitas bahwa Indonesia dinobatkan sebagai negara terbanyak populasi muslimnya, menunjukkan bahwa agama Islam memiliki pengaruh besar di negara ini. Dalam pandangan masyarakat muslim pengetahuan adalah bagian integral dari nilai-nilai ilahi karena sumber utama pengetahuan adalah dari Tuhan. Manusia adalah makhluk Tuhan tertinggi dibandingkan makhluk lain, karena manusia diberi kemampuan untuk berpikir. Kekuatan berpikir inilah yang kemudian digunakan untuk merumuskan teori-teori ilmiah dan melahirkan teknologi seperti sekarang ini. Dikarenakan kekuatan akal menjadi bagian integral dari keberadaan manusia sebagai ciptaan Tuhan, maka ia tidak hanya bertanggung jawab kepada sesamanya saja, tetapi juga untuk Penciptanya. Namun, perlu diingat bahwa ikatan agama yang terlalu kaku dapat menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga dibutuhkan integrasi sebagai jalan temu keduanya dengan memperhatikan Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab 4. kebebasan sains dan sistem nilai dalam agama. Dengan begitu ilmu pengetahuan dan agama bisa saling dihubungkan dan tidak saling bertentangan. Berkaitan dengan integrasi agama dan ilmu pengetahuan, sebagai ilmuwan yang dalam hal ini ditujukan kepada para pendidik bahasa Arab, maka seharusnya mengkesampingkan kode etik yang harus dipatuhi. Jika agama bertugas sebagai pembatas agar manusia tidak Aolupa diriAo dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan, maka kode etik dan moral ilmuwan menuntut kita untuk selalu memposisikan diri sebagai penengah jika terjadi suatu masalah yang berkaitan dengan ilmu tersebut. Termasuk juga dalam masalah arabisasi ini, kita harus bisa mensejajarkan posisi agama dan pembelajaran bahasa Arab tanpa menjadikan keduanya berbenturan. Menanggapi pandangan negatif terhadap isu tentang Arabisasi, maka sebagai seorang ilmuwan, pendidik bahasa Arab tidak serta merta terseret oleh kenegatifan yang diciptakan oleh masyarakat ataupun ikut mendewakan ekspansi kultural yang digaungkan melalui aspek agama tersebut, tetapi kita harus mampu berdiri di tengah-tengah dan meluruskan problema ini tanpa memojokkan pihak Sehingga, sebagai pendidik maupun pengajar bahasa Arab, kita dituntut untuk mampu mengklasifikasikan orientasi studi bahasa Arab, orientasi kemahiran atau orientasi keagamaan, bukan dengan maksud untuk menjadikannya terpecah dan saling bertentangan tapi agar saling bersinergi satu sama lain. Selanjutnya kaitannya arabisasi dengan budaya, dalam pembelajaran bahasa Dikarenakan bahasa adalah bagian, produk sekaligus sebagai jembatan dalam pemahaman budaya. Maka sebagai solusi kita bisa menerapkan AoIntercultural CompetenceAo pembelajaran bahasa. Penerapan Intercultural Competence (IC) ini selain untuk mempermudah juga bisa menanggulangi isu-isu negatif tentang adanya akulturasi dan asimilasi budaya tidak wajar dalam pembelajaran bahasa asing, termasuk juga bahasa Arab. Untuk landasan praktis IC. Kramsch menyatakan bahwa menggunakan bahasa secara bersamaan pula kita mempraktikkan budaya. Dia juga memposisikan pembelajar bahasa dalam sistem kompeten secara interkultural sebagai Authird placeAy . empat ketig. Posisi ini menempatkan pembelajar bahasa secara 63 Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab Era 4. bersamaan dapat berperan sebagai seorang outsider dan insider. Sehingga ia memiliki perspektif etic sebagai orang luar dan juga perspektif emic sebagai orang dalam terhadap budayanya dan budaya dari bahasa yang dipelajari (Crozet. , & Liddicoat, 1. Sedangkan untuk penerapannya. Liddicoat menyatakan bahwa sistem IC untuk pengajaran dan pembelajaran bahasa melibatkan empat kegiatan utama yang berkaitan dengan budaya, yakni, akuisisi tentang budaya, membandingkan budaya lokal dengan budaya bahasa target, eksplorasi budaya dan menemukan sendiri 'tempat ketiga' dalam hubungan antar budaya (A. J Liddicoat, 2. Lebih jauh lagi. Liddicoat. Papademetre. Scarino, & Kohler menawarkan strategi penerapan IC melalui 5 prinsip pedagogis, di antaranya (Anthony J. Liddicoat. Papademetre. Scarino, & Kohler, 2. Active construction: menghimbau kepada pembelajar tentang pentingnya mempelajari budaya yang dibawa bahasa target dan juga budayanya sendiri, sehingga mereka mampu mengkaji, menganalisis bahkan mengkritisi hubungan dua kebudayaan berbeda tersebut. Making connections: fokus terhadap pengembangan kemampuan untuk menghubungkan dan melihat keterkaitan antar budaya. Social interaction: menerapkan sistem diskusi interaktif antar sesama pembelajar sehingga mereka dapat berbagi pandangan tentang hubungan budaya lokal dan budaya yang dimiliki bahasa target. Reflection: melakukan refleksi terhadap budaya tanpa menghakimi maupun memihak budaya lokal dengan budaya bahasa yang akan dipelajari. Responsibility: upaya untuk meningkatkan kesadaran akan perbedaan budaya dan untuk menghormati orang-orang berlatar belakang budaya yang berbeda. Strategi dan sistem di atas dapat dipraktikkan untuk pembelajaran bahasa Arab. Pengenalan budaya dapat dilakukan sedari awal pengajaran, sehingga pembelajar secara mandiri dapat menentukan di mana seharusnya ia memposisikan dirinya. Dalam kasus arabisasi, ketika pengetahuan tentang budaya Arab sudah dikenalkan di awal pembelajaran, maka secara otomatis pembelajar akan dapat menilai dengan sendirinya substansi mana yang harus ia kuasai sekaligus praktikkan dan mana yang bisa ia kesampingkan. Sehingga, ketika ia sudah mencapai prinsip responbility, ia tidak akan terjebak dalam kubangan Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab 4. negatif isu Arabisasi, karena ia sudah tahu bahwasanya posisinya adalah sebagai Aothird placeAo dalam dua atau lebih kebudayaan yang dibawa dari bahasa target. Peran Pengajar Bahasa Arab terhadap Isu Sekulerisasi Sebagai pengajar kita tidak boleh ikut larut bahkan takut dengan isu-isu pesimistis seperti munculnya sekularisasi, neokolonialisme hingga usaha kaum orientalis untuk menghancurkan perkembangan bahasa Arab, khususnya bahasa Arab Fusha. Kita harus tetap dalam zona positif dengan tanpa menutup mata bahwa isu-isu itu benar adanya. Dengan menanamkan sikap optimis dalam diri sendiri juga kepada peserta didik bahwasanya belajar bahasa Arab memiliki urgensitas tinggi baik dalam orientasi agama, keilmuan maupun kemahiran. Kita harus percaya, meski digerogoti berbagai isu negatif, bahasa Arab akan tetap eksis di masa depan. Meluasnya pembelajaran bahasa Arab di Indonesia menjadi salah satu bukti bahwa bahasa Arab (Fush. akan tetap langgeng meskipun penutur aslinya lebih senang menggunakan dialek lokal. Merujuk kepada tujuan yang dibawa dalam penyebaran ideologi ini, tidak hanya tujuan negatif saja yang bisa kita kritisi dan antisipasi. Dikarenakan sebenarnya terdapat tujuan positif yang mereka bawa, di antaranya: Pembelajaran bahasa Arab untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini didasari oleh sejarah Golden Age umat Islam pada abad pertengahan. Perkembang pesatnya ilmu pengetahuan di masa turki usmani seperti kedokteran, matematika, filsafat, dan lain-lain memotivasi orang-orang Eropa untuk mengkaji ilmu-ilmu tersebut. Sehingga mereka mempelajari bahasa Arab terlebih dahulu agar dapat mengkaji ilmu-ilmu yang berasal dari pemikir Muslim yang kemudian mereka terjemahkan ke beberapa bahasa dan sebarkan ke negara mereka. Pembelajaran bahasa untuk perdagangan. Perkembangan perindustrian, pertanian dan perkebunan di negara-negara Arab membuat orang-orang Barat ingin mengkaji bahasa Arab dengan tujuan untuk mempermudah komunikasi dalam urusan perdagangan. Penulis sangat menghimbau kepada para pengajar untuk tidak hanya fokus terhadap materi internal kebahasa Arab-an saja. misalkan ketika ia menjadi seorang pengajar linguistik murni yang di dalamnya mencakup ilmu nahwu, shorof dan ilmu ashwat, maka tidak hanya materi dalam ilmu-ilmu tersebut yang harus ia 65 Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab Era 4. kuasai, tapi juga fenomena kebahasaan yang mempengaruhi eksistensi bahasa tersebut, seperti kasus sekulerisasi ini. Dikarenakan dewasa ini, mayoritas pengajar bahasa Arab terkadang tidak peduli tentang faktor-faktor eksternal di luar ilmu kebahasaan. Dengan memulai dari diri sendiri untuk menciptakan sikap AoawarenessAo juga merupakan bentuk usaha untuk menanggulangi fenomena-fenomena negatif di atas. Diharapkan kepada pengajar untuk menularkan sikap kesiagaan tersebut kepada peserta didik dengan menginformasikan isu-isu kontemporer yang menyangkut bahasa Arab. Sehingga guru sekaligus murid yang diajarnya tidak lagi awam terhadap apa yang terjadi di luar bahasa tapi dan hanya kaku mempelajari materi internal ilmu Bermula dari sikap kesiagaan tersebut, maka diharapkan nantinya akan timbul usaha-usaha nyata untuk menanggulangi bersama faktor-faktor yang bisa menimbulkan pesimisme eksistensi bahasa Arab di masa depan. SIMPULAN Pengaruh arabisasi dalam pembelajaran bahasa Arab tidak lepas dari dua sumber masalah, kesensitifan dalam aspek agama dan kaitannya dengan benturan Ketika orientasi pembelajaran bahasa Arab adalah untuk pemahaman ilmu agama, terjadi pandangan negatif karena adanya kelompok radikalis yang memaksa semua ajaran Islam berkiblat ke Arab. Sedangkan dengan dalam budaya, arabisasi ditakutkan akan menjadi penyebab gegar budaya bahasa asli dan terjadinya tribalisme budaya Arab. Sekularisasi Barat tidak dapat dilepaskan dari dua masalah pokok yakni masalah agama yang dilatarbelakangi oleh dengkinya kaum Yahudi dan Nasrani Islam Kemudian neokolonialisasi yang bersumber dari arogansi Barat untuk menguasi negara Timur, terutama Arab. Kelompok-kelompok ini berusaha menyelundupkan sekularisme di tubuh Islam dengan tujuan utama untuk menghancurkan agama Allah itu. Kaitannya dengan bahasa Arab, upaya yang dilakukan adalah dengan menyebarkan penggunaan bahasa AoAmiyyah dan pergantian tulisan Arab ke tulisan latin tanpa adanya penyerapan bahasa. Tugas dan sikap pendidik bahasa Arab terhadap arabisasi adalah tidak serta merta terseret oleh ataupun ikut mendewakan ekspansi kultural yang digaungkan melalui aspek agama tersebut, tetapi kita harus mampu berdiri di tengah-tengah Taqdir 8 . , 2022 p-ISSN 2527-9. e-ISSN 2621-1157 Arabisasi dan Sekulerisasi: Isu Kontemporer Pembelajaran Bahasa Arab 4. dan meluruskan problema ini tanpa memojokkan pihak manapun. Kemudian kaitannya dengan budaya, pengajar bahasa Arab dapat menerapkan Intercultural Competence kepada siswanya dengan tidak hanya mengenalkan budaya bahasa asing yang akan di pelajari namun juga hubungannya dengan budaya lokal di awal Pengajar tidak hanya fokus terhadap materi internal kebahasa Arab-an saja, tapi juga fenomena kebahasaan yang mempengaruhi eksistensi bahasa tersebut, seperti kasus sekulerisasi ini. Dikarenakan dewasa ini, mayoritas pengajar bahasa Arab buta bahkan tidak peduli tentang faktor-faktor eksternal di luar ilmu Dimulai dari diri sendiri untuk menularkan sikap AoawarenessAo kepada peserta didik dengan menginformasikan isu-isu kontemporer yang menyangkut bahasa Arab. DAFTAR PUSTAKA