Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2026, 9. , 158-169 Qualitative Analysis of Formalin Content in White Tofu at Traditional Markets in Surakarta Analisis Kualitatif Kandungan Formalin pada Tahu Putih di Pasar Tradisional Surakarta Berliani Ndaru Prasetyo a. Muhammad Haqqi Hidayatullah a* a Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia. *Corresponding Authors: mhh996@ums. Abstract Background: Formalin is still frequently misused as a preservative in white tofu despite being prohibited in food products due to its toxic, irritant, and carcinogenic properties. Therefore, monitoring its presence in traditional markets requires detection methods that are simple, accurate, and well validated. Objective: This study aimed to detect formalin in white tofu sold in traditional markets in Surakarta City and to compare and validate three qualitative formalin detection methods (Nash reagent. KMnOCE, and Schiff reagen. in combination with Thin Layer Chromatography (TLC). Methods: A total of 10 white tofu samples were randomly collected from five traditional markets in Surakarta. The samples were extracted and analyzed using colorimetric tests with Nash. KMnOCE, and Schiff reagents, followed by confirmatory analysis using TLC. Method validation included determination of the limit of detection (LOD) and specificity. Results: Formalin was detected in 30% of the samples (B1. C1, and D. by all applied methods, while the remaining 70% showed negative results. The LOD test indicated that the Nash reagent exhibited the highest sensitivity, detecting formalin at concentrations as low as 3. 125 ppm, followed by TLC . 25 pp. Schiff reagent . , and KMnOCE . All methods demonstrated good specificity, with no false-positive results observed in blank samples and negative controls. Conclusion: This study confirms the misuse of formalin in 30% of white tofu samples from traditional markets in Surakarta. The Nash reagent is recommended as the most sensitive method for initial screening, while TLC serves as an effective confirmatory method. The combination of Nash reagent and TLC provides a simple, sensitive, and specific approach for formalin surveillance in white tofu at the field level. Keywords: Formalin. White Tofu. Nash. KMnO4. Schiff. Thin Layer Chromatography Abstrak Latar Belakang: Formalin masih sering disalahgunakan sebagai pengawet tahu putih meskipun dilarang penggunaannya dalam pangan karena bersifat toksik, iritatif, dan karsinogenik. Oleh karena itu, pemantauan keberadaannya di pasar tradisional memerlukan metode deteksi yang sederhana, akurat, dan tervalidasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi kandungan formalin pada tahu putih yang dijual di pasar tradisional Kota Surakarta serta membandingkan dan memvalidasi tiga metode uji kualitatif formalin . eagen Nash. KMnOCE, dan Schif. yang dikombinasikan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Metode: Sebanyak 10 sampel tahu putih diambil secara acak dari lima pasar tradisional di Surakarta. Sampel diekstraksi dan dianalisis menggunakan uji warna reagen Nash. KMnOCE, dan Schiff, serta analisis konfirmasi dengan KLT. Validasi metode meliputi pengujian batas deteksi (LOD) dan spesifisitas. Hasil: Sebanyak 30% sampel (B1. C1, dan D. terdeteksi positif mengandung formalin oleh seluruh metode uji, sedangkan 70% sampel lainnya menunjukkan hasil negatif. Uji LOD menunjukkan bahwa reagen Nash memiliki sensitivitas tertinggi dengan kemampuan mendeteksi formalin hingga 3,125 ppm, diikuti KLT . ,25 pp. Schiff . , dan KMnOCE . Seluruh metode menunjukkan spesifisitas yang baik tanpa adanya hasil positif palsu pada sampel Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. blanko dan kontrol negatif. Kesimpulan: Penelitian ini mengonfirmasi adanya penyalahgunaan formalin pada 30% sampel tahu putih di pasar tradisional Surakarta. Reagen Nash direkomendasikan sebagai metode skrining awal yang paling sensitif, sementara KLT efektif digunakan sebagai metode konfirmasi. Kombinasi keduanya merupakan pendekatan yang sederhana, sensitif, dan spesifik untuk pengawasan formalin pada tahu putih di lapangan. Kata Kunci: Formalin. Tahu Putih. Nash. KMnO4. Schiff. Kromatografi Lapis Tipis Copyright A 2020 The author. You are free to: Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BYNC-SA 4. License Article History: Received: 21/10/2025. Revised: 13/01/2026 Accepted: 13/01/2026. Available Online : 24/01/2026. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Tahu adalah salah satu makanan yang sangat dekat dengan masyarakat. Daya tahan tahu sangat terbatas, khususnya pada kondisi konvensional . uhu ruanga. daya tahannya hanya 1-2 hari dan jika lebih dari itu, rasa tahu akan menjadi asam dan menimbulkan aroma yang busuk . Oleh karena itu, tahu merupakan salah satu bahan pangan yang rentan terhadap kerusakan, sehingga tidak jarang produk tahu menggunakan bahan tambahan seperti formalin untuk menjadi lebih awet . Menyetujui arahan dari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1168/Menkes/Per/X/1999 yang menyatakan bahwa formalin tidak diizinkan dalam makanan . Selain itu. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 22 melarang penggunaan formalin sebagai Bahan Tambahan Pangan (BTP) sebagai pengawet . Formalin . arutan formaldehid. merupakan senyawa aldehida yang bersifat toksik, iritatif, dan karsinogenik . Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan, tahu yang mengandung formalin memiliki ciri-ciri yaitu tekstur tahu lebih kenyal, tidak mudah hancur, lebih awet, dan berbau khas formalin bukan bau khas tahu . Mengingat bahaya paparan formalin secara oral menyebabkan gangguan sistem saraf, ginjal, hati, asma, kerusakan paru-paru dan kanker pada manusia . Oleh karena itu, keberadaan formalin dalam makanan seperti tahu putih menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang nyata dan perlu diawasi secara Penelitian sebelumnya di berbagai daerah telah menunjukkan adanya kandungan formalin pada tahu putih yang beredar di pasar tradisional. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Sari et al. , uji KMnO4 dan Schiff pada tahu mentah yang dijual di pasar tradisional Kota Banjarmasin, semua sampel menunjukkan hasil positif kecuali kode sampel 1 . Pengujian menggunakan pereaksi KMnO4 menunjukkan hasil yang negatif pada kode sampel 1. Di Kota Surakarta sendiri, penelitian dari Rahayu . , pengujian kualitatif menunjukkan dari 25 sampel tahu dari pasar tradisional di wilayah Kota Surakarta terdapat 2 . %) sampel yang positif mengandung formalin dan 23 . %) sampel negatif mengandung formalin . Meskipun penelitian sebelumnya di Surakarta telah mengidentifikasi keberadaan formalin pada tahu putih, kajian tersebut umumnya masih terbatas pada uji kualitatif tanpa perbandingan dan validasi metode. Perbedaan penggunaan pereaksi tanpa evaluasi batas deteksi dan spesifisitas menyebabkan keakuratan hasil belum dapat dinilai secara komprehensif. Validasi metode deteksi formalin yang sederhana dan mudah diakses menjadi aspek krusial dalam mendukung pengawasan keamanan pangan di lapangan, khususnya di pasar tradisional. Metode yang telah tervalidasi memberikan jaminan bahwa hasil deteksi yang diperoleh bersifat akurat, sensitif, dan spesifik. Penggunaan metode sederhana, seperti uji kualitatif dengan pereaksi tertentu, sangat relevan untuk kondisi lapangan karena tidak memerlukan peralatan canggih, waktu analisis relatif singkat, serta dapat diaplikasikan oleh petugas pengawas dengan keterbatasan fasilitas laboratorium, sehingga pengawasan keamanan pangan dapat dilakukan secara lebih efektif dan tepat sasaran. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Metode analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi uji kualitatif dengan reagen Nash, reagen Schiff. KMnO4 dan KLT. Reagen Nash memiliki komposisi utama yang terdiri dari ammonium asetat, asam asetat glasial, asetil aseton, dan air suling . Reaksi antara formaldehida dan reagen Nash membentuk 3,5-diasetil-1,4 dihidrolutidin (DDL), yaitu senyawa yang memiliki sifat fluoresensi . Reaksi kondensasi antara formalin yang mengandung gugus karbonil (C=O), dan larutan Schiff menghasilkan warna Reaksi antara KMnO4 dan formalin, yang menghasilkan MnO2, dapat menghasilkan warna coklat. Reagen Schiff, reagen Nash dan KMnO4 merupakan analisis kualitatif yang selektif untuk identifikasi formalin pada tahu . Metode Penelitian Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain kualitatif non eksperimental dan dilaksanakan di Laboratorium Kimia Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sampel tahu putih tanpa merek diambil secara acak dari 5 pasar tradisional (A,B,C,D dan E) di Kota Surakarta, dengan pengambilan masingmasing dipilih 2 produsen dalam 1 pasar. Kriteria sampel yang diambil dalam penelitian yaitu memiliki warna cerah, tekstur kenyal, dan tidak mudah hancur . Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan analitik, alumunium, erlenmeyer, penangas air, batang pengaduk, kertas saring, rak dan tabung reaksi, pipet tetes, pipet volume, gelas ukur, gelas beaker, labu ukur, plat KLT, oven, chamber, mortar dan alu, pipa kapiler, dan droplet. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel tahu putih, aquadest, asam fosfat (H 3PO. , formalin, ammonium asetat, asam asetat glasial, asetil aseton, kalium permanganat (KMnO. , reagen Schiff, etil asetat, dan etanol. Prosedur Kerja Penelitian diawali dengan preparasi sampel tahu putih yang ditimbang A5 gram, kemudian diekstraksi menggunakan 4 mL aquadest dan 10 mL sam fosfat (HCEPOCE), dipanaskan pada suhu 40 A 2AC selama A1 jam dengan pengocokan berkala untuk mencegah penguapan formalin. Setelah itu, larutan disaring dan setiap sampel dianalisis sebanyak tiga kali untuk memastikan konsistensi hasil . Selanjutnya dilakukan pembuatan reagen, meliputi reagen Nash yang dibuat dari ammonium asetat, asam asetat glasial, dan asetil aseton yang disimpan dalam botol gelap selama 12 jam sebelum digunakan . , serta reagen KMnOCE yang disiapkan dari kalium permanganat dan aquadest . Validasi Metode Penelitian ini juga melibatkan pembuatan kontrol positif tahu berformalin dengan prosedur ekstraksi yang sama seperti sampel uji . , serta validasi metode yang mencakup uji spesifisitas dan batas deteksi (LOD). Spesifisitas diuji melalui uji warna dan KLT dengan membandingkan respon analit terhadap kemungkinan interferensi dari matriks, blanko, dan placebo, sehingga metode dinyatakan spesifik apabila hanya analit yang menunjukkan respon khas . Sementara itu, uji LOD dilakukan dengan menyiapkan larutan standar pada konsentrasi rendah, baik pada uji warna maupun KLT, untuk menentukan konsentrasi terendah analit yang masih dapat terdeteksi secara visual atau sebagai bercak pada lempeng KLT . Pengujian Sampel Tahap berikutnya adalah pengujian sampel menggunakan empat metode kualitatif. Uji reagen Nash dilakukan dengan menambahkan reagen ke dalam sampel, kemudian dipanaskan dan didinginkan, di mana hasil positif ditandai dengan perubahan warna menjadi kuning . Uji KMnOCE dilakukan dengan mengamati perubahan warna dari ungu menjadi coklat hingga tidak berwarna sebagai indikator adanya formalin . , sedangkan uji Schiff menunjukkan hasil positif apabila terjadi perubahan warna menjadi ungu . Selain itu, dilakukan uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) menggunakan fase diam silika GF 254 dan fase gerak etanol 96%:kloroform . , dengan formalin sebagai pembanding untuk menentukan nilai Rf berdasarkan jarak perambatan noda terhadap pelarut . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Hasil dan Diskusi Formalin adalah bahan kimia berbahaya yang sering disalahgunakan sebagai pengawet pangan dan bersifat korosif, iritatif, toksik, serta karsinogenik karena dapat merusak DNA dan memicu penyakit seperti leukemia dan karsinoma nasofaring . , sehingga penggunaannya sebagai Bahan Tambahan Pangan (BTP) secara tegas dilarang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Peraturan Nomor 22 . Sebelum pengujian, sampel tahu putih dipreparasi dengan cara dihaluskan sebanyak 5 gram, kemudian ditambahkan asam fosfat (HCEPOCE) untuk memutus ikatan formalin dengan protein, dilanjutkan pemanasan pada suhu 40AC agar formalin dapat terlarut ke dalam air sehingga filtrat yang diperoleh siap digunakan dalam tahap pengujian selanjutnya . Validasi Metode Tabel 1. Hasil pengujian LOD Metode Reagen Nash Jenis Larutan Pelarut Standar Formalin Reagen KMnO4 Standar Formalin Reagen Schiff Standar Formalin Konsentrasi 100 ppm 50 ppm 25 ppm 12,5 ppm 6,25 ppm 3,125 ppm 100 ppm 50 ppm 100 ppm 50 ppm 25 ppm Hasil Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Coklat Coklat Ungu Ungu Ungu Tidak terdeteksi Berdasarkan hasil Tabel 1 telah didapatkan konsentrasi formalin terendah yang masih dapat dideteksi. Kemudian, konsentrasi terendah direplikasi sebanyak tiga kali. Hal ini menunjukkan bahwa setiap reagen memberikan sensitivitas yang berbeda dalam mendeteksi keberadaan formalin pada konsentrasi rendah. Uji yang pertama menggunakan reagen Nash, perubahan warna larutan terakhir terlihat pada konsentrasi 3,125 ppm, yang ditunjukkan dengan munculnya warna kuning. Selanjutnya, pada reagen KMnO 4 memberikan perubahan warna larutan yaitu coklat yang terakhir terlihat pada konsentrasi jauh lebih tinggi yaitu 50 ppm. Kemudian, pada reagen Schiff menunjukkan LOD pada konsentrasi 25 ppm, ditandai dengan terbentuknya warna ungu. Masing-masing reagen tersebut memunculkan warna secara konsisten tiga kali replikasi sehingga dinyatakan dapat dideteksi secara visual. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa Reagen Nash merupakan reagen paling sensitif dibandingkan KMnOCE dan Schiff dalam mendeteksi formalin pada sampel tahu putih secara uji warna. Tabel 2. Hasil pengujian LOD dengan metode KLT Penotolan Pelarut Standar Formalin Konsentrasi 100 ppm 50 ppm 25 ppm 12,5 ppm 6,25 ppm 3,125 ppm Nilai Rf 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 Tidak terdeteksi Hasil uji LOD metode KLT pada Tabel 2 menunjukkan bahwa noda spot mulai teramati jelas pada konsentrasi 6,25 ppm dengan nilai Rf yang konsisten sebesar 0,75 pada tiga kali replikasi, sehingga keseragaman nilai Rf dan kesamaan visual noda membuktikan kemampuan deteksi KLT yang cukup baik untuk identifikasi awal formalin. Pendekatan penetapan LOD secara visual ini sejalan dengan pedoman Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. validasi metode analisis (ICH Q. yang memperbolehkan penentuan LOD berdasarkan respon minimum yang masih dapat dibedakan secara jelas dari blanko atau noise selama didukung oleh data replikasi yang konsisten . Konsistensi hasil antar replikasi pada setiap konsentrasi LOD menunjukkan bahwa metode memiliki presisi yang memadai pada kadar rendah, sehingga kecil kemungkinan sinyal muncul secara kebetulan, yang menjadi sangat penting dalam pengujian pangan seperti tahu karena kadar formalin di lapangan umumnya berada pada rentang ppm dan metode harus mampu mendeteksi formalin meskipun kadarnya mendekati batas aman yang ditetapkan. Tabel 3. Perbandingan LOD dengan beberapa metode Metode Nash KMnO4 Schiff KLT Konsentrasi . 3,125 6,25 Metode Nash pada penelitian ini memiliki LOD 3,125 ppm, cukup sensitif untuk mendeteksi formalin pada kisaran ppm dan masih jauh di bawah batas paparan oral harian yang dianggap aman oleh berbagai lembaga internasional . ,2 mg/kg/hari atau 10 mg/hari untuk berat badan 50 k. Dalam konteks regulasi pangan Indonesia, setiap keberadaan formalin di atas LOD sudah dinyatakan tidak memenuhi syarat keamanan, karena formalin tidak diizinkan sebagai bahan tambahan pangan. Dengan demikian, dilihat pada Tabel 3 uji warna dengan reagen Nash direkomendasikan sebagai metode skrining cepat dan sensitif, sedangkan KLT berperan sebagai metode konfirmasi visual yang lebih spesifik. Kombinasi kedua metode ini dinilai efektif dan andal untuk pemantauan formalin pada tahu putih di pasar tradisional, dengan mempertimbangkan sensitivitas, kemudahan analisis, dan kesesuaian terhadap matriks pangan. Tabel 4. Hasil pengujian spesifitas Reagen Nash Reagen KMnO4 Reagen Schiff Replikasi Reagen Bening Bening Bening Ungu Ungu Ungu Bening Bening Bening Sampel Bening Bening Bening Ungu Ungu Ungu Bening Bening Bening S R F Kuning Kuning Kuning Bening Bening Bening Ungu Ungu Ungu F R Kuning Kuning Kuning Coklat Coklat Coklat Ungu Ungu Ungu P R Bening Bening Bening Ungu Ungu Ungu Bening Bening Bening S R F F R Sampel Reagen Formalin (Kontrol Positi. Formalin Reagen (Standar. Pelarut Reagen (Blank. P R Berdasarkan hasil validasi pada Tabel 4, validasi spesifitas pertama yaitu uji pereaksi KMnO4 ditunjukkan oleh perubahan warna khas pada sampel yang mengandung formalin. Hal tersebut ditujukan larutan KMnO4 ini akan memiliki kemampuan untuk mengoksidasi formalin. Warna KMnO4 berubah menjadi bening, menandakan terjadinya proses oksidasi . KMnO4 dan formalin dapat bereaksi menghasilkan warna coklat berdasarkan reaksi oksidasi dengan dihasilkannya MnO2-. Sedangkan blanko dan kontrol negatif tidak mengalami perubahan warna yang bermakna sehingga mengindikasikan tidak adanya interferensi signifikan dari senyawa lain. Selanjutnya, pereaksi Schiff memberikan warna ungu merupakan hasil dari reaksi kondensasi antara formalin . yang mengandung gugus karbonil (C=O) dengan larutan Schiff . Sehingga hasil pengamatan yang menunjukkan warna ungu hanya pada sampel berformalin hal ini memperkuat bahwa respon yang muncul berasal dari formaldehid, bukan dari komponen alami tahu. Demikian pula, pereaksi nash bereaksi yaitu amonium asetat dan asetil aseton bereaksi dengan formaldehid membentuk larutan kompleks 3,5-diasetil-2,6-dihidrolutidin (DDL) berwarna kuning . Pembentukan kompleks tersebut Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. konsisten pada sampel positif dan tidak membentuk warna serupa pada blanko dan kontrol negatif, sehingga mengkonfirmasi bahwa metode memiliki kemampuan identifikasi yang selektif terhadap formalin. Tabel 5. Hasil pengujian spesifitas dengan metode KLT Jenis Sampel Replikasi Standar Formalin Sampel Formalin Pelarut Hasil HRf 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 ND ND ND ND ND ND Tidak terdeteksi Pada Tabel 5 menunjukkan hasil KLT yang dilakukan setelah derivatisasi formaldehid memperlihatkan adanya noda pada nilai Rf yang sama dengan standar formalin hanya pada kontrol positif . ampel berformali. , sementara pada blanko dan kontrol negatif tidak muncul noda pada posisi tersebut, yang berarti sinyal kromatografis benar berasal dari formalin. Konsistensi pola warna pada uji KMnO 4. Schiff, dan Nash serta kesesuaian posisi noda pada KLT di seluruh replikasi menunjukkan bahwa metode yang divalidasi memenuhi kriteria spesifitas untuk penetapan formalin dalam tahu, karena mampu memberikan respon positif hanya pada keberadaan formalin dan tidak dipengaruhi oleh komponen lain dalam matriks sampel. Uji spesifisitas hanya menggunakan matriks tahu tanpa penambahan formalin, sehingga kemungkinan interferensi senyawa karbonil lain belum dinilai langsung. Penggunaan KLT sebagai konfirmasi dengan nilai Rf identik standar formalin dan tanpa noda pada blanko maupun kontrol negatif membantu menekan risiko hasil reaksi menyimpang. Keterbatasan penelitian ini terletak pada validasi metode yang hanya mencakup uji LOD dan spesifitas tanpa menyertakan parameter presisi, akurasi atau repeatability. Keterbatasan ini dapat membatasi keakuratan metode dalam aplikasi lapangan jangka panjang, karena presisi diperlukan untuk menilai konsistensi hasil pengukuran berulang, sementara akurasi menjamin kedekatan hasil dengan nilai sebenarnya melalui recovery studies. Selain itu, uji repeatability yang absen berpotensi menyembunyikan variabilitas antar replikasi atau operator . Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melengkapi parameter validasi yang belum dilakukan. Analisa Kualitatif Sampel Hasil pengamatan Tabel 6 menunjukkan 3 dari 10 sampel yang dianalisis menghasilkan warna kuning. Sampel B1. C1, dan D2 menghasilkan reaksi positif mengandung formalin setelah dipanaskan pada suhu 40 AC menunjukkan perubahan warna kuning stabil yang mirip dengan kontrol positif. Sedangkan, sampel lainnya tidak ada perubahan warna atau tetap putih yang menunjukkan hasil negatif mengandung formalin. Perubahan warna menjadi kuning terjadi karena formalin bereaksi dengan amonium asetat dan asetil aseton, membentuk larutan kompleks 3,5-diasetil-2,6-dihidrolutidin (DDL) berwarna kuning. Intensitas warna kuning yang semakin kuat menunjukkan konsentrasi formalin yang semakin tinggi . Gambar 1. Reaksi formalin dengan pereaksi Nash . Berdasarkan prinsipnya, larutan KMnO4 ini akan memiliki kemampuan untuk mengoksidasi formalin. Warna KMnO4 berubah menjadi bening, menandakan terjadinya proses oksidasi . KMnO4 dan formalin dapat bereaksi menghasilkan warna coklat berdasarkan reaksi oksidasi dengan dihasilkannya MnO 2- . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Setelah penambahan KMnO4 namun larutan tetap bewarna ungu, maka uji tersebut dianggap negatif dikarenakan tidak terjadi proses reduksi yang signifikan. Gambar 2. Reaksi formalin dengan pereaksi KMnO4 . Tabel 6. Hasil analisis kualitatif menggunakan pereaksi Nash Sampel Kontrol Positif Replikasi Hasil pengujian Larutan Kuning Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Kuning Larutan Kuning Larutan Kuning Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Kuning Larutan Kuning Larutan Kuning Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Kuning Larutan Kuning Larutan Kuning Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Keterangan Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Hasil pengamatan menunjukkan 3 sampel (B1. C1, dan D. dari 10 sampel yang dianalisis menghasilkan perubahan warna larutan menjadi cokelat, yang menunjukkan respons positif, sesuai dengan hasil uji yang ditampilkan dalam Tabel 7. Hal ini mengindikasikan bahwa sampel tersebut mengandung senyawa reduktor yang mampu mereduksi KMnO4. Hal ini menunjukkan bahwa bahan kimia reduktor dalam sampel-sampel ini tidak terdeteksi secara kualitatif menggunakan metode ini atau terdapat formalin dalam jumlah yang sangat rendah. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 7. Hasil analisis kualitatif menggunakan pereaksi KMnO4 Sampel Kontrol Positif Replikasi Hasil pengujian Larutan Coklat Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Coklat Larutan Coklat Larutan Coklat Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Coklat Larutan Coklat Larutan Coklat Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Coklat Larutan Coklat Larutan Coklat Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Keterangan Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Hasil pengamatan menunjukkan 3 dari 10 sampel yang dianalisis menghasilkan perubahan warna menjadi ungu, yang menunjukkan respons positif, sesuai dengan hasil uji yang ditampilkan dalam Tabel 8. Pada sampel B1. C1, dan D2 menghasilkan larutan ungu seperti kontrol positif, sehingga diartikan positif terhadap uji aldehid atau gugus karbonil tertentu. Sedangkan, hasil negatif yaitu pada sampel A1. A2. B2. C2. D1. E1, dan E2 yang tetap tidak berubah menandakan tidak adanya gugus aldehid yang bereaksi dengan pereaksi Schiff pada kedua sampel tersebut. Pereaksi Schiff dan formalin bereaksi menghasilkan warna ungu merupakan hasil reaksi kondensasi antara formalin . yang mengandung gugus karbonil (C=O) dengan larutan Schiff . Gambar 3. Reaksi formalin dengan pereaksi Schiff . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Tabel 8. Hasil analisis kualitatif menggunakan pereaksi Schiff Sampel Kontrol Positif Replikasi Hasil pengujian Larutan Ungu Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Ungu Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Larutan Putih Keterangan Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Tabel 9. Hasil uji KLT formalin Sampel Baku Formalin 0,75 0,18 0,18 0,18 0,75 0,75 0,75 0,18 0,18 0,18 0,75 0,75 0,75 0,25 0,25 0,25 0,22 HRf Warna Noda Sinar UV254 Hitam Hitam Keterangan Positif ( ) Negatif (-) Hitam Negatif (-) Hitam Positif ( ) Hitam Negatif (-) Hitam Positif ( ) Hitam Negatif (-) Hitam Negatif (-) Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. 0,22 0,22 0,75 0,75 0,75 0,21 0,21 0,21 0,20 0,20 0,20 Hitam Positif ( ) Hitam Negatif (-) Hitam Negatif (-) Tidak terdeteksi Hasil pengamatan uji KLT dapat dilihat pada Tabel 9. Analisis KLT pada sampel tahu putih dengan menotolkan pada plat KLT yang dielusi dengan fase gerak yang digunakan etanol:kloroform dengan perbandingan . Hasil yang dapat dilihat di bawah sinar UV 254 nm memperlihatkan adanya noda pada plat KLT. Pembanding baku formalin memiliki nilai Rf sebesar 0,75. Hasil nilai Rf yang mendekati baku adalah B1. C1, dan D2, dengan nilai Rf sebesar 0,75. Tabel 10. Perbandingan hasil analisis sampel dengan berbagai metode Sampel Reagen Nash Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Reagen KMnO4 Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Reagen Schiff Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) KLT Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Positif ( ) Negatif (-) Negatif (-) Berdasarkan Tabel 10 hasil analisis kandungan dan validasi metode deteksi formalin pada tahu putih di pasar tradisional Surakarta, seluruh sampel diuji menggunakan empat metode, yaitu reagen Nash. KMnOCE. Schiff, dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), yang menunjukkan bahwa tiga sampel (B1. C1, dan D. secara konsisten positif mengandung formalin pada semua metode, sedangkan tujuh sampel lainnya memberikan hasil negatif. Konsistensi hasil positif dan negatif antar metode menegaskan bahwa reagen sederhana seperti Nash. KMnOCE, dan Schiff memiliki validitas dan keakuratan yang tinggi sebagai metode skrining awal, yang diperkuat oleh hasil KLT tanpa ditemukannya perbedaan hasil atau indikasi palsu. Sejalan dengan temuan Pratiwi et al. , penelitian ini menegaskan bahwa metode reagen Nash memiliki sensitivitas yang lebih baik dibandingkan reagen Schiff dan KMnOCE dalam mendeteksi formalin. Meskipun demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa pada kondisi pengujian dan matriks tahu yang digunakan, metode Nash mampu memberikan batas deteksi yang lebih rendah serta respons warna yang lebih konsisten pada konsentrasi formalin rendah. Sehingga sehingga hasil penelitian ini dapat dipandang sebagai penguatan temuan sebelumnya dalam konteks aplikasi uji skrining formalin. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 033 tahun 2012 menyatakan bahwa formalin tidak dapat digunakan sebagai bahan tambahan makanan. Meskipun menggunakan bahan pengawet untuk menyembunyikan kualitas di bawah standar merupakan tindakan ilegal . Sehingga dari hasil temuan 30% tahu putih di pasar tradisional Surakarta masih mengandung formalin perlu adanya pengawasan dari BPOM yang lebih intensif dan edukasi produsen serta pedagang mengenai larangan dan bahaya formalin. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan, tahu yang mengandung formalin memiliki ciri-ciri yaitu tekstur tahu lebih kenyal, tidak mudah hancur, lebih awet, dan berbau khas formalin bukan bau khas tahu . Namun, tahu putih dalam penelitian ini yang mengandung formalin dengan yang tidak dari segi tekstur yang hampir sama, sehingga sulit membedakannya. Ditemukannya kandungan formalin pada tahu putih Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. yang telah diuji menunjukkan tahu putih pada 3 Pasar Tradisional Surakarta tidak memenuhi syarat mutu tahu yang telah diatur SNI Nomor 01-3142-1998 untuk menjamin kualitas tahu dan aman dikonsumsi. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian terhadap 10 sampel tahu putih yang diambil dari lima pasar tradisional di Kota Surakarta, dapat disimpulkan bahwa penyalahgunaan formalin sebagai bahan pengawet masih ditemukan, ditunjukkan dengan teridentifikasinya tiga pasar yang sampel tahunya positif mengandung formalin dan berasal dari produsen yang berbeda. Hasil validasi metode menunjukkan bahwa uji batas deteksi (LOD) menggunakan reagen Nash memiliki sensitivitas tertinggi dengan kemampuan mendeteksi formalin hingga sekitar 3,12 ppm sehingga direkomendasikan sebagai metode skrining awal, sementara metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) efektif sebagai uji konfirmasi dengan sensitivitas sekitar 6,25 ppm. Reagen Schiff dan KMnOCE hanya memberikan respon yang jelas pada konsentrasi formalin yang lebih tinggi, masing-masing sekitar 25 ppm dan 50 ppm, sehingga kurang sesuai untuk deteksi kadar rendah meskipun tetap menunjukkan selektivitas yang baik. Berdasarkan hasil tersebut, kombinasi uji pereaksi Nash dan KLT direkomendasikan sebagai prosedur skrining dan konfirmasi yang sensitif, spesifik, relatif sederhana, serta berpotensi diterapkan dalam program pengawasan formalin pada tahu putih di pasar tradisional. Conflict of Interest Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan dalam penelitian, penulisan, maupun publikasi artikel ini, serta penelitian dilakukan secara independen tanpa pengaruh finansial, personal, atau Acknowledgment Penulis mengucapkan terima kasih kepada Laboratorium Kimia Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta, atas penyediaan fasilitas laboratorium dan bantuan teknis selama pelaksanaan Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh pihak yang telah memberikan bimbingan dan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini. Referensi