Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Esensi Ajaran Bhujangga dalam Tradisi Ritual Masyarakat Batur (Kajian Teologi Hind. I Wayan Titra Gunawijaya Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia wayantitragunawijaya@gmail. Abstrack Batur is seen as one the centers of Balinese civilization, which a strategic position in the spread of Hinduism in Bali. Bhujangga teachings are one of the sources the implementation yajna for the Batur community, in the developing mythology Ida Bhujangga is a human who is diksa to become a sulinggih, which until now still exists with the name Ida Bhattara Bhujangga. This study aims to determine Bhujangga teachings in Batur in the implementation of rituals and to determine the concept of Hindu Theology from these teachings. The study uses a qualitative descriptive approach with data collection techniques through participatory observation, semi-structured interviews with Batur traditional figures, temple caretakers Pura Tuluk biyu, and text documentation The results of the study explain that Bhujangga teachings emphasize the implementation yajna ceremonies as an implementation of maintaining balance between humans and nature through the application of dharma teachings, one of which is the Madewasraya ceremony at Pura Tuluk Biyu Batur. Ida Pandita Bhujangga achieved an increase in status from human to bhattara who is worshipped by the Batur community through the Ida Bhattara Bhujangga shrine, reflecting the concept of Hindu Theology. The existence of the Ida Bhattara Bhujangga Shrine and Pratima in the Tuluk Biyu Batur Temple is the embodiment Saguna Brahman. This study confirms that the Bhujangga teachings in Batur are not only in the order mythology but also in the material order both in the form Pratima. Pelinggih, and the implementation yajna as the embodiment of the Hindu Theology in the Batur. Keywords: Bhujangga. Ritual. Hindu Theology Abstrak Batur dipandang sebagai salah satu pusat peradaban Bali, yang mempunyai kedudukan strategis dalam penyebaran agama Hindu di Bali. Ajaran Bhujangga salah satu sumber pelaksanaan yajna bagi masyarakat Batur, dalam mitologi yang berkembang Ida Bhujangga merupakan manusia yang didiksa menjadi sulinggih untuk muputang yajna, yang sampai saat ini masih eksis dengan sebutan Ida Bhattara Bhujangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ajaran Bhujangga di Batur dalam pelaksanaan ritual serta mengetahui kosep Teologi Hindu dari ajaran tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara semi terstuktur kepada tokoh adat Batur, pengempon pura dan Jero penyarikan Pura Tuluk biyu, serta studi dokumentasi teks. Hasil penelitian menjelaskan ajaran Bhujangga menitik beratkan pada pelaksanaan upacara yajna sebagai implementasi menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam melalui penerapan ajaran dharma, salah satunya adalah upacara Madewasraya di Pura Tuluk Biyu Batur. Ida Pandita Bhujangga mencapai peningkatan status dari manusia menjadi bhattara yang di puja oleh masyarakat Batur melalui pelinggih Ida Bhattara Bhujangga, mencerminkan konsep Teologi Hindu. Keberadaan Pelinggih serta Pratima Ida Bhattara Bhujangga di Pura Tuluk Biyu Batur merupakan pengejawantahan dari Saguna Brahman (Tuhan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH bersifa. Penelitian ini menegaskan ajaran Bhujangga di Batur bukan saja dalam tatanan mitologi tetapi juga dalam tatanan material baik dalam wujud Pratima. Pelinggih, serta pelaksanaan yajna sebagai pengejawantahan Teologi Hindu masyarakat Batur. Kata Kunci: Bhujangga. Ritual. Teologi Hindu Pendahuluan Gunung Batur dipandang sebagai perwujudan Purusa, sedangkan Danau Batur sebagai Pradhana, dan keduanya menjadi pusat spiritualitas masyarakat Batur. Dalam struktur desa adat Bali Aga seperti di Trunyan. Kedisan, dan Songan, kawasan Batur dianggap sebagai pusering jagat, yaitu pusat dari tatanan alam dan spiritual pulau Bali (Sukrawati, 2. Kepercayaan ini juga diperkuat oleh berbagai teks lontar, seperti Raja Purana Pura Ulun Danu Batur, yang menyatakan bahwa Batur adalah tempat asal muasal dari kekuatan, kesuburan dan kehidupan. Dalam teks tersebut dijelaskan: Danu punika kawit anugrah ring kahuripan jagat, pinaka pusering tirtha ring Bali. Ring gunung sane ngametuang urip punika ngadegang stana para Dewa lan Bhujangga (Raja Purana Pura Ulun Danu Batu. Terjemahan: Danau adalah awal dari anugerah bagi kehidupan dunia, menjadi pusat dari air suci di Bali. Di gunung yang memancarkan kehidupan itulah didirikan tempat suci bagi para Dewa dan Bhujangga (Gunawijaya, 2. Masuknya pengaruh Hindu ke Bali memiliki keterkaitan langsung dengan kawasan ini. Berdasarkan lontar-lontar babad seperti Lontar Bhujangga Waisnawa dan Lontar Dharma Kahuripan, diceritakan bahwa seorang resi agung bernama Mpu Semeru datang dari Jawa ke Bali sebagai bagian dari migrasi spiritual. Mpu Semeru datang ke Bali melalui bebukitan Bali, yang dipercaya sebagai jalur spiritual antara Jawa dan Bali (Pageh, 2. Setelah itu, beliau melewati wilayah Gunung Batur, yang saat itu telah dihuni oleh masyarakat Bali Mula. Mpu Semeru mengajarkan ajaran agama kepada masyarakat di kawasan tersebut, ajaran beliau tidak hanya berupa praktik keagamaan, tetapi juga transformasi tatanan kehidupan sosial yang kemudian diintegrasikan ke dalam sistem Hindu Bali. Lontar Babad Pasek Kayu Selem menjelaskan bahwa melalui Tapa Brata Mpu Semeru dan atas anugrah dari Ida Hyang Widhi. Mpu Semeru akhirnya memiliki seorang putra dharma dari tuwed kayu . inonim dari warga asli Batu. Putra dharma inilah yang menjadi manusia pertama yang diberi pengetahuan keagamaan, dan diberinama Mpu Kamareka. Hal tersebut dipertegas pula dalam lontar Dharma Kahuripan bahwa Mpu Semeru melahirkan Putra Dharma bernama Mpu Kamereka kemudian di abiseka oleh Mpu Semeru dengan gelar Ida Pandita Bhujangga sebagai pendeta bagi Masyarakat Pasek Kayu Selem yang ada di wilayah Batur. Ida Pandita Bhujangga memiliki tugas untuk muputang . upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh masyarakat Batur. Secara tidak langsung bhujangga merupakan gelar kepada seorang pendeta Hindu di kawasan Batur serta merupakan gelar pendeta bagi masyarakat Kayu Selem. Kayu Celagi. Kayu Tarunyan, dan Drya Akah dengan abiseka Ida Pandita Bhujangga Sakti Sangkul Putih (Sidemen, 2. Bhujangga merupakan gelar diberikan kepada pemuka agama yang telah memiliki kematangan spiritual serta mampu untuk melaksanakan rangkaian upacara keagamaan bagi masyarakat Batur pada zaman Bali Kuna. Dalam Lontar Ketattwaning Bali Mula menjelaskan Ida Bhujangga merupakan manusia yang telah disucikan melalui upacara diksa dan mempunyai kewenangan untuk melaksanakan upacara sekaligus muputang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH upacara yajna (Subawa, 2. Di Tengah perkembangan peradaban manusia sampai saat ini tidak lagi eksistensi Ida Pandita Bhujangga sebagai orang suci di Batur, tetapi lebih dari itu Ida Pandita Bhujangga sebagai simbul spiritual yang di wujudkan dalam bentuk pelinggih yang di puja oleh Masyarakat Batur. Pelinggih Ida Bhujangga terdapat di beberapa Pura di Batur seperti Pura Jati dan Pura Tuluk Biyu Batur. Keberadaan Pelinggih Ida Bhujangga di Pura Tuluk Biyu Batur lebih dikenal sebagai Pelinggih Ida Bhujangga Sakti dan Ida Bhujangga Luwih. Pelinggih ini merupakan tempat pemujaan terhadap manifestasi Saguna Brahman. Keberadaan pelinggih ini tidak hanya memiliki makna teologis, tetapi juga historis dan sosiokultural bagi masyarakat Batur. Dibuatkannya pelinggih khusus untuk stana Ida Bhujangga menunjukkan adanya relasi kuat antara tradisi lokal dan kosmologi Hindu, di mana tokoh Bhujangga dipandang sebagai perantara spiritual yang menyampaikan ajaran dharma kepada umat (Ardhana, 2. Keistimewaan pelinggih tersebut terletak pada ajaran keagamaan yang dikandungnya, termasuk nilai-nilai tentang harmoni, ketertiban sosial . atwa, susila, dan upacar. , serta warisan pengetahuan religius yang diturunkan secara turun-temurun melalui tradisi lisan maupun tulisan. Hingga kini, pelinggih ini tetap menjadi pusat spiritual dan sumber legitimasi simbolik dalam struktur sosial keagamaan masyarakat Batur, yang memperkuat identitas religiusnya (Lansing, 1. Keberlanjutan penghormatan terhadap Ida Bhujangga juga memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal membentuk dan memelihara hubungan lintas generasi sebagai wujud penghormatan terhadap ajaran keagamaan dan tatanan sosial. Salah satu ajaran yang diwarisi oleh masyarakat Batur hingga saat ini adalah ideologi mengenai keseimbangan alam. Idiologi ini diwujudkan melalui pelaksanaan ritual keagamaan, sebagai upaya menjaga harmonisasi antara manusia . huwana ali. dengan alam semesta . huwana agun. melalui upacara. Sampai saat ini masyarakat Batur sangat familiar dengan upacara madewasraya, yakni ritual yang bertujuan untuk menetralisir energi negatif alam semesta. Upacara ini hanya dilaksanakan dalam situasi kebrebehan atau wabah penyakit yang melanda pulau Bali seperti saat pandemi COVID19. Dalam konteks ini, menunjukkan adanya tendensius dari masyarakat Batur terkait ritus yang berhubungan dengan wabah penyakit. Masyarakat Batur sangat menyakini bahwa wabah penyakit menular dapat dinetralisir melalui pelaksanaan upacara penyucian yang diajarkan oleh Ida Bhujangga. Dalam Lontar Pengawit Kawitan Shri Saraswati, menyebut bahwa Ida Bhujangga memberikan anugrah kepada masyarakat ketika wilayah mereka dilanda gering kemeranan atau wabah penyakit menular. Kepercayaan ini mencerminkan pemahaman kosmologis masyarakat Bali bahwa bencana bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga tanda ketidak seimbangan alam sehingga perlu dilaksanakan upacara untuk menetralisi energi negatif (Astawa, 2. Sampai saat ini eksistensi ajaran Bhujangga masih dilestarikan oleh masyarakat Batur sebagai salah satu ideologi, yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut yang melatar belakangi peneliti untuk menggali ajaran Bhujangga yang berkembang di Batur, dengan tujuan dapat memberikan referensi kepada umat Hindu di Bali . hususnya masyarakat Batu. terkait eksistensi ajaran Bhujangga dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam makna, nilai, dan praktik keagamaan yang terkait dengan konsep ajaran Bhujangga dalam konteks masyarakat Batur. Pendekatan kualitatif dipilih karena lebih menekankan pada deskripsi naratif serta interpretasi terhadap fenomena sosial dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH keagamaan berdasarkan perspektif subjek yang diteliti. Pengumpulan data dilakukan melalui kombinasi antara data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta teknik dokumentasi lapangan. Informan dipilih secara purposive, yakni mereka yang dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman, dan otoritas dalam struktur sosial-keagamaan, seperti pemangku, dan tokoh adat setempat. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari kajian pustaka, naskah lontar, arsip desa adat, serta sumber-sumber akademik yang relevan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara induktif, dengan tetap menjaga validitas data melalui teknik triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk deskripsi kualitatif interpretatif, yang merepresentasikan pemaknaan simbolik serta dinamika sosial dalam praktik ajaran Bhujangga di Batur. Hasil dan Pembahasan Penelitian mengenai ajaran Bhujangga di wilayah Batur mengungkap keberadaan sebuah sistem spiritual yang tidak hanya bersifat agama semata, tetapi juga menyatu secara integral dengan kosmologi lokal, struktur sosial, serta warisan pengetahuan sakral yang diwariskan secara turun-temurun. Ajaran Bhujangga memperlihatkan karakteristik khas dari sistem kepercayaan Hindu yang bersifat esoterik, di mana praktik spiritual tidak hanya bertumpu pada aspek ritual, tetapi juga melibatkan dimensi tattwa dan etika dalam upaya pencapaian kesempurnaan spiritual. Secara konseptual, ajaran Bhujangga di Batur dapat dijelaskan sebagai berikut: Pokok Ajaran Bhujangga Dalam Teks dan Tradisi Lisan Mpu Kamereka Abiseka Ratu Menjadi Ida Bhujangga Mpu Semeru menganut ajaran oiwa, dimana ajaran ini merupakan suatu ajaran yang menempatkan keberadaan dewa oiwa sebagai entitas tertinggi. oiwa diyakini memiliki tiga tingkat kesadaran yang disebut dengan Tri Purusa. oiwa berperan sebagai Brahman yakni, dewa dan tenaga hidup yang memberi hidup pada manusia. Secara teologis ajaran oiwa merupakan suatu ajaran yang menekankan pada dimensi spiritual dan berorientasi pada asfek esoteris. Para bhakta dari oiwa dapat memuja atau mendekatkan diri terhadap oiwa dengan cara apapun sesuai dengan tendensius yang dimiliki dan memohon anugrah dari oiwa melalui sadhana yang telah dipilih (Kiriana. Mpu Semeru yang selama hidupnya menempuh kehidupan brahmacari . idak kawin selama hidu. cukup menarik. Beliau tidak menikah seumur hidup, namun beliau bisa menurunkan putra. Tentu saja itu terjadi berkat kasidhi ajyanan . esaktian dan pengetahuan gaibny. Beliau menurunkan putra dharma, bernama Mpu Bandesa Dryakah atau Mpu Kamareka. Mpu Semeru datang dari Jawa ke Bali dengan tujuan menghadap BhaAra Hyang Putrajaya dan lain-lainnya. Beliau datang seorang diri tanpa pengiring seorang pun. Menyusuri pegunungan Pulau Bali, pertama beliau tiba di Kuntulgading (Kedisa. Kemudian beliau meneruskan perjalanan ke Tampurhyang (Songa. (Wikraman, 1998. Mpu Semeru terpesona melihat pemandangan alam Tampurhyang yang indah. Udaranya sejuk menyegarkan badan. Di Tampurhyang. Mpu Semeru beristirahat sambil menghirup udara segar. Tampurhyang sendiri diyakini sebagai salah satu lokasi yang disucikan karena menjadi tempat tapasya atau laku tapa oleh para rsi. Hal ini sejalan dengan paparan Titib . , yang menjelaskan bahwa tempat-tempat yang secara geografis terpencil dan alami sering kali dipilih oleh para rsi untuk melakukan sAdhana, karena diyakini mempermudah terciptanya keselarasan antara tubuh, pikiran, dan alam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH semesta. Beliau mandi ditempat tersebut, seusai mandi, pandangannya tiba-tiba tertumbuk pada sebuah tonggak kayu asam . yang hitam, karena bekas terbakar. Berdasarkan kasidhi ajyanan dan kekuatan Payca bhayunya, tonggak kayu tersebut diciptakan menjadi sesosok manusia. Begitu menjadi manusia, seketika manusia baru itu menghadap Mpu Semeru (Sidemen, 2. Orang itu menghaturkan sembah dan sujud bhakti, serta menyampaikan terima kasih banyak kepada Mpu Semeru, yang telah berkenan mengubah tonggak kayu menjadi manusia sesuai dengan kutipan Lontar Babad Pasek Kayu Selem 24a. apan mahawan hyun, sakana prapta pwa maring pinggiring Bali, laju jumujug maring dysa Kuntulaga, di dysa iku, manuhur maring Tumpuryang, irika pwa sira agrarian, kari amyta toya, ahyun pwa acamana, pan hana katon Tirtha mahapawitra, tumuli pwa asucilakana, anggularakun wyda astawyng raNu, kunang wusing acamana, tumuli agian lumampah, katon tang togog wyding taru culagi apekik rupanya, kyndahan pwa Sang PaNsya tuminghal, lwir apsara-gaNa yayang surat, karuNya ta ambukira sang Maharui, alahaning lingyr culagi, mangun-angun pwa sira, wuwus panindaning Hyang Atitah, tumuli pwa sira ayogakun, amasangana kasidya jyananira, wukasan byakta atumah uarira manusa jati, kaguman pwa kang manusa reka, tan wruh ing ulaha, nuhur angaturakun panamaskAra ring sang MahapaNsya, laju umatur. Lontar Babad Pasek Kayu Selem 24a Terjemahannya: sebab beliau berkeinginan melanjutkan perjalanan, dengan segera Beliau sampai di pinggir Bali, selanjutnya menuju desa Kuntulaga, dari desa tersebut menuju Tumpuryang. Disanalah Beliau beristirahat, mencari air, berkeinginan untuk membersihkan diri, sebab dilihat ada air yang jernih dan suci. Beliau mensucikan diri sambil menguncarkan Veda memuja Dewi Ranu, setelah selesai mensucikan diri, segeralah beliau melanjutkan perjalanan, dilihatlah patung sangat rupawan yang terbuat dari kayu celagi, terpesonalah Sang Pendeta, dilihat seperti bidadara, kasihanlah perasaan Sang MahAui, melihat keadaan kayu celagi, berpikirlah beliau memohon karunia Hyang Titah, selanjutnya beliau melaksanakan yoga, dengan kemampuan yoga dan kepenuhan pengetahuannya, akhirnya menjelmalah menjadi manusia sejati, senanglah hati manusia yang dicipta melalui yoga, namun tidak tahu apa yang harus diperbuat, selanjutnya memohon pensucian kepada Sang Pendeta . erjemahan Gunawijaya, 2. Manusia dari kayu celagi itu lalu berkata. Ya Paduka Mpu, bagaimana hamba dapat membayar hutang hamba kepada paduka Mpu. Keadaan hamba dengan Mpu ibarat langit dan bumi. Permohonan hamba agar paduka Mpu berkenan menyucikan hamba. Baik budi paduka Mpu jangan hendaknya secara lahiriah saja, melainkan juga agar sampai ke dalam hat nurani Paduka Mpu. Seterusnya supaya hamba diberikan tuntunan dan ajaran, sehingga hamba dapat mengikuti jejak Paduka Mpu . Demikian permohonan manusia itu namun Mpu Semeru menolak permohonan itu. Beliau tidak berkehendak menyucikan manusia tersebut, oleh karena manusia itu bukan berasal dari manusia, melainkan dari tonggak kayu (Wardana, 1. Mendengar jawaban Mpu Semeru, menusia itu lebih mendekat dan dengan memeluk kaki beliau disertai linangan air mata orang itu lalu berkata, bahwa sebaiknya Mpu Semeru mengembalikan saja wujud dirinya ke asalnya semula yaitu tonggak kayu, karena ia merasa tidak berguna menjadi manusia tanpa ilmu dan pengetahuan. Manusia tersebut kemudian menghaturkan sembah sujud, lalu mendekat pada Mpu Semeru. Ia mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kebodohannya kepada Mpu Semeru, maka bersabdalah: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Ama, wastu,3, tan pariwastu, sidir astuAy. AuSidhi ajyana, anaku kayu ryka, kadya paran, sampun rinangsuk punang Sanghyang OA-KAra mantra dynta. Akara munggwing uarira, katukyng Akara munggwing jabaAy. Umatur sira taru ryka: AuWus rampung rinangsuk dy pwangkulun, waluya ring niskala jatiAy. Sumahur mwah Sang Adiguru:AyAnaku taru ryka, yan mangkana, mangky hana mwah panugrahangku, wunang kita maka guru loka dyning wong Baliaga kabyh, apan noryna Bhujangga ing Bali, nihan tugusing aji puraNa, nguniwyh wyda stawa, aywa wyra mwah cawuh apan wukasing utama wunang kita bhujangga Baliaga, katukyng pratisantananta, 3, turunan. Mwah ana pawarah hulun ring kita, kyngutakuna aja lupa, didina kita awarah warah ring pratisantananta wukas/ sipanya pada umutung ing kalinganya, ri wekasing awukas, ana pratisantanangku, umijil saking kakangku. Lontar Babad Pasek Kayu Selem 25b Terjemahannya: Ama, semoga 3 x, terjadilah, semoga sidhi . Aupenuh dengan pengetahuan kamu anakku kayu reka, semua sudah masuk Sang Hyang Om-Kara mantra olehmu, aksara di dalam badan maupun di luarAy. Berkatalah Taru Reka: Ausudah saya terima semua ajaranmu, seperti sejatinya di niskalaAy. Dijawablah oleh Sang Adiguru: AuAnakku taru reka, kalau demikian, sekarang ada lagi anugrahku padamu, kamu berhak menjadi guru loka bagi semua orang Baliaga, karena tidak ada Bhujangga di Bali, beginilah yang ajaran purana. Veda Sthawa, jangan dipakai sembarangan sebab sangat utama, boleh engkau menjadi Bhujangga sampai keturunanmu 3 tingkat. Lagi nasehatku padamu, ingatlah selalu jangan dilupakan, disaat kamu menasehati keturunanmu kelak/tidak diceritakan selanjutnya, sampai pada saatnya memiliki putra, yang terlahir dari kakakuA . erjemahan Gunawijaya, 2. Setelah berhenti beberapa saat Mpu Semeru melanjutkan, begitulah is dan arti Ajipurana. Weda astawa, jangan hendaknya diabaikan karena sangat utama, dan kamu harus menjadi Bhujangga untuk orang Bali Aga, sampai tiga keturunan dan dikemudian hari (Soebandi, 2003. Selanjutnya Mpu Semeru memberi amanat kepada orangorang Bali Aga, bahwa apabila mereka meninggal dunia, mayatnya boleh dibakar. Abunya ditanam dan yang muput upacaranya adalah Mpu Dryakah. Selanjutnya dalam mengadakan upacara penuntun, orang-orang Bali Aga tidak boleh menyimpang dari Apabila mereka melebihi dari ketentuan yang telah digariskan maka mereka akan kena kutuk dari BhaAra Hyang Kasuhun Kidul, dan terhalang jalan arwahnya dari jalan yang benar. Kutipan di atas merefleksikan peran sentral Mpu Semeru dalam proses transmisi ajaran agama Hindu kepada masyarakat lokal di kawasan Batur. Mpu Semeru hadir untuk menyebarkan pengetahuan teologis dengan memberikan pengetahuan keagamaan kepada masyarkat asli yang telah mendiami wilayah Batur, sebutan Mpu Kamereka di berikan kepada salah satu warga setempat yang telah mempelajari ilmu agama Hindu. Mpu Semeru secara khusus mengajarkan ajaran yajya, sebagai sistem ritual pengorbanan suci yang menempati posisi sentral dalam praktik keagamaan Hindu. Melalui proses pembelajaran. Mpu Kamereka kemudian dianggap layak untuk menjalani diksa, yakni proses inisiasi spiritual yang menandai transformasi seseorang menuju kehidupan rohani yang lebih tinggi, khususnya dalam tahapan menjadi seorang sulinggih. Proses ini melibatkan penyucian diri secara lahir dan batin serta pengalihan pengetahuan spiritual dari Guru Nabe kepada muridnya . (Subawa, 2. Mediksa bukan semata-mata upacara formal, melainkan sebuah transformasi ontologis dan epistemologis, yang mempersiapkan individu untuk menerima ajaran suci, menjalankan laku spiritual, serta https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH menjadi perantara antara umat dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Upacara diksa dilakukan di bawah bimbingan guru nabe. Menurut Sudharta . , diksa menjadi momen krusial dalam regenerasi kepemimpinan spiritual di Bali, karena bukan hanya transmisi ajaran, tetapi juga penguatan identitas keagamaan yang terlegitimasi secara adat dan teks-teks suci. Melalui proses diksa Mpu Kamereka berganti nama menjadi Ida Pandita Bhujangga yang berperan dalam muputang upacara keagamaa masyakat Batur saat itu. Hal tersebut menjadi titik awal peradaban pelaksanaan upacara keagamaan yang di puput oleh pendeta Hindu. Warga Batur sampai saat ini masih meyakini keberadaan Ida Bhujangga sebagai pemuput upacara keagamaa yang mereka lakukan, meskipun sedikit bias keturunan langsung dari Ida Pandita Bhujangga sampai saat ini tidak ada penerus dari genersai beliau, namun di beberapa pura di Batur terdapat pelinggih Bhujangga diperuntukkan untuk nunas tirtha pemuput pada saat warga setempat melaksanakan upacara yajna. Eksistensi beliau sebagai Ida Bhujangga bukan semata-mata sebagai orang suci dalam kedudukan dimasa lampau, tetapi sampai saat ini beliau masih dapat berperan muputang upakara yajna bagi masyarakat Batur melalui tirtha pemuput yang di tunas pada pelinggih Bhujangga baik yang ada di Pura Tuluk Biyu Batur ataupun Pura Jati Batur. Ajaran Bhujangga dalam Lontar Ida Sri Saraswati Ajaran Bhujangga terikat erat dengan keberadaan berbagai pura penyangga yang ada didaerah Batur. Pura penyangga ini berperan sebagai pusat spiritual masyarakat Daerah Batur sendiri telah dikenal luas oleh masyarakat Hindu di Bali, sebagai salah satu wilayah dengan sistus keagamaan mendalam terkait ajaran Bhujangga. Kawasan Batur bukan hanya tempat pemujaan bagi Dewa, tetapi juga menjadi simbol pemeliharaan hubungan harmonis antara manusia dan alam (Yunata, 2. Oleh karena itu, wilayah Batur tidak hanya memiliki fungsi ritualistik tetapi juga sebagai pusat pembelajaran spiritual yang mengajarkan pentingnya keseimbangan antara dunia fisik dan spiritual. Ajaran Bhujangga sejatinya menitik beratkan pada upaya pemeliharaan alam dan lingkungan secara seimbang. Hal tersebut tertuang pada kutipan lontar Ida Shri Saraswati bait 8 sebagai berikut: Iki Widisastra Niti Panuggrahan Ida Bhujangga Bali (Ida Mpu Drya Aka. katekeng Panugrahan Ida Bhujangga Sakti Luwih ri sawateking Ki Gede Bandesa, duk ana maring Wesman Ida Ring Cempaga nguni ri sawongkoning Banda Negara, buwat tatwaning Kahuripan, luwirnya, duking Bumi Bali keneng Yudantaka. Gering Kemeranan. Eweh ikang Rat, mekadining Ida Sri Aji Dalem Bali Aga mapinunas ring Ida Bhujangga Bali katekeng Panugrahan Ida Bhujangga Sakti Luwih wit Jagate Keharoharan, akuweh mati tan patuwuh, ana mati sedeng Ajejaka, ana mati rare, ana mati kari rise jeroning Garbaning Ibu, aperang manggung Karang Rat. Gering tan pegatan. Bubur salah Ukur, ana atukar lawan rowangnya. Ratu acengilan arebut Kedaton, ana Dalih-dinalih, mangkana ulahning Wang sejagat Nguni. (Lontar Ida Shri Saraswati, . Terjemahannya: Ini adalah Widisastra Niti merupakan penugrahan dari Ida Bhujangga Bali (Ida Mpu Drya Aka. menerima anugerah suci dari Ida Bhujangga Sakti Luwih kepada seluruh Ki Gede Bandesa, ketika dia datang ke Cempaga dari wilayah Banda Negara, untuk menyuci kehidupan. Selanjutnya, ketika tanah Bali terkena Yudantaka . emelut besa. , wabah penyakit, kekacauan rakyat, maka Ida Sri Aji Dalem Bali Aga memohon kepada Ida Bhujangga Bali yang telah menerima anugerah Bhujangga Sakti Luwih untuk membenah dunia yang telah tercemar https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dengan kematian yang tidak wajar: ada yang mati tiba-tiba, mati di usia anakanak, mati dalam kandungan, terjadi perang saudara, penyakit yang tak henti, makanan yang keliru ukuran, pertengkaran dengan keluarga sendiri, raja yang serakah merebut kekuasaan, banyak tipuan muslihat itulah perilaku umat manusia saat itu, . Gunawijaya, 2. Dalam struktur masyarakat Bali, keberadaan Bhujangga bukan sekadar simbol religius, melainkan manifestasi epistemik dari otoritas sakral yang memiliki legitimasi untuk menata kembali dunia yang mengalami leteh jagat akibat ketidak seimbangan antara manusia dan lingkungan mengakibatkan kematian tidak wajar, wabah penyakit, dan perebutan kekuasaan. Sesuai dengan kutipan di atas dijelaskan bahwa Ida Sri Aji Dalem Bali mendapatkan penugrahan dari Ida Bhujangga Sakti Luwih untuk dapat menanggulangi penyakit yang menyebabkan meninggal mendadak melalui pelaksanaan upacara yajna. Pentingnya melaksanakan upacara yajya sebagai pengejawantahan dari keyakinan yang mendalam terhadap Tuhan. Dalam ajaran ini, yajya bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas segala berkat yang diberikan. Upacara yajya mengingatkan umat untuk selalu menjaga hubungan harmonis antar manusia dengan alam semesta. Hal ini menggambarkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan, dan yajya menjadi wujud dari penghormatan umat terhadap kekuasaan-Nya. Pelaksanaan yajya dalam ajaran Hindu tidak hanya bermakna sebagai ritual persembahan kepada Tuhan dan manifestasi-Nya, tetapi juga sebagai sarana menjaga keseimbangan kosmis. Dalam konteks ini, yajya tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga menjaga lingkungan dan kehidupan sosial. Yajya merupakan bentuk aktivitas suci yang menciptakan dan memelihara harmoni antara tiga alam: bhur, bhuvah, dan svah Dalam Kitab Ayurveda merupakan sistem pengobatan tradisional Hindu, mendefinisikan kesehatan bukan sekadar ketiadaan penyakit, tetapi sebagai keseimbangan menyeluruh antara unsur-unsur pembentuk tubuh . osha: vata, pitta, kaph. , proses metabolik . , produk buangan tubuh . , serta keharmonisan pikiran . , jiwa . , dan lingkungan (Juniartha, 2. Seseorang dikatakan sehat jika ketiga dosha-nya seimbang, pencernaannya baik, jaringan tubuh dan ekskresinya berfungsi normal, serta pikirannya, indranya, dan jiwanya berada dalam keadaan bahagia dan damai. Pelaksanaan yajya, khususnya berkaitan dengan pemurnian alam dan jiwa untuk menciptakan lingkungan yang bersih secara spiritual, berpengaruh langsung terhadap kesehatan individu manusia. Pelaksanaan yajya mempergunakan sarana alami dimana sampah hasil dari pelaksanaan yajna mudah di urai oleh bakteri sehingga dapat menjadi pupuk bagi alam (Nautiyal et al. , 2. Ini menunjukkan bahwa yajya bukan hanya simbolik, melainkan memberikan dampak nyata terhadap lingkungan dan kesehatan Dari aspek psikologis, keikut sertaan dalam aktivitas yajna dapat mengendalikan emosi yang membantu menurunkan stres, yang dalam kerangka Ayurveda dikenal sebagai faktor yang mengganggu keseimbangan dosha. Pelaksanaan yajya merupakan jalan untuk menjaga keseimbangan antara sekala dan niskala, untuk menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Konsep Tri Hita Karana menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati dapat dicapai ketika manusia mampu menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam (Sukarma, 2. Dalam konteks penerapan ajaran Bhujangga oleh masyarakat Batur, dilaksanakan dengan melaksanakan upacara yajna sebagai upaya menjaga keseimbangan alam. Pelaksanaan upacara yajna oleh masyarakat Batur merepresentasikan praktik religius yang tidak hanya bersifat ritualistik, tetapi juga menjaga lingkungan secara skala niskala. Yajna juga berfungsi sebagai mekanisme sosial dan ekologis yang memperkuat komunitas https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH masyarakat sekaligus mempererat tali persaudaraan antar warga. Dalam perspektif lokal, pelaksanaan yajna di Batur sebagai upaya menjaga kebersihan dan keberlangsungan sumber air yang menjadi tumpuan irigasi sistem subak di Bali. Disisi lain pelaksanaan yajna yang dilaksanakan oleh masyarakat Batur juga bertujuan untuk menjaga kesehatan warga masyarakat seperti pelaksanaan upacara Madewaseraya di Pura Tuluk Biyu Batur. Upacara tersebut hanya dilaksanakan ketika warga Batur atau masyarakat di Bali mengalami wabah penyakit yang sulit untuk disembukan seperti covid-19, hal tersebut sesuai dengan kutipan lontar Ida Shri Saraswati bahwa Ida Bhujangga memberikan penugrahan kesehatan kepada masyarakat ketika wilayahnya mengalami kesengsaraan atau penyakit merana. Ajaran bhujangga dalam Lontar Ida Shri Saraswati menekankan pada menanggulangi penyakit yang menyebar di masyarakat, oleh masyarakat Batur ajaran tersebut diejawantahkan dalam pelaksanaan upacara yajna sebagai upaya menanggulangi penyakit menahun seperti Pandemi Covid-19 yang melanda Bali tahun 2020. Masyarakat setempat meyakini bahwasanya dengan melaksanakan upacara yajna yakni upacara Madewaseraya dapat menghalau penyakit serta dapat menetralisi energi alam semesta sehingga menjadi seimbang. Upacara Madewaseraya ini merupakan salah satu wujud ajaran Bhujangga di Batur dalam upaya menjaga kesehatan umat serta menjaga keseimbangan alam semesta melalui ritual. Melalui dua pembahasan mengenai pokok dari ajaran bhujangga merupakan tokoh yang mendapatkan penugrahan dari Mpu/ Rsi serta di berikan gelar untuk dapat melaksanakan upacara keagamaan bahkan sampai muputang upacara yajna bagi masyarakat Bali Aga. Gelar Ida Pandita Bhujangga diperoleh melalui proses diksa yang dilaksanakan oleh Mpu Kamereka dengan petunjuk dari Gurunya Mpu Semeru sehingga abiseka ratu menjadi Ida Pandita Bhujangga sebagai pemuput upacara keagamaan masyarakat Batur. Eksistensi beliau bukan saja sampai pada proses diksa sebagai ida pandita akan tetapi juga menekankan pada pentingnya melaksanakan upacara yajna sebagai salah satu upaya untuk menjaga keseimbangan alam serta memperoleh kesehatan. Ida Bhujangga berperan sebagai pemuput upacara, tentu upacara yajna apapun yang dilaksanakan oleh masyarakat Batur baik dalam pelaksanaan upacara yajna rutin . ataupun pelaksanaan yajna insidental seperti memohon kemakmuran, kesehatan . pacara Madewaseray. harus nunas tirtha pemuput dari Ida Bhujangga (Pelinggih Ida Bhattara Bhujangg. Implementasi Ajaran Bhujangga di Pura Tuluk Biyu Batur Konsep pemujaan di Batur khususnya di Pura Tuluk Biyu di kenal dengan konsep Rwabineda yakni pemujaan Plinggih Ida BhAAra Bhujangga Sakti dan Ida Bhujangga Luwih. Keberadaan plinggih tersebut memberikan keyakinan kepada masyarakat pengempon Pura Tuluk Biyu Batur untuk mewarisi ajaran agama tirtha sebagai representasi dewa air yang sering disebut Ida BhAAra Bhujangga oleh masyarakat pengempon Pura Tuluk Biyu Batur. Bukti ontentik dari keberadaan ajaran Bhujangga di Pura Tuluk Biyu Batur dapat ditelusuri dari adanya berbagai peninggalan yang mengidentifikasikan sarana ritus penganut Bhujangga, seperti adanya senjata Cakra Bawa (Cakra Sudarsan. Genta Uter, dan sebuah sistem religi yang mewajibkan pengempon Pura Tuluk Biyu Batur untuk memohon tirtha bhujangga ketika hendak melaksankan yajna. Sistem religi ini menegaskan peran dari Ida BhAAra Bhujangga Sakti dan Ida BhAAra Bhujangga Luwih sebagai Sang Hyang Tri Wikrama . tpeti, stiti, dan pralin. Keberadaan tirtha . ir suc. yang dimohon oleh masyarakat pengempon Pura Tuluk Biyu Batur sebagai media menetralisi keberadaan sasab mrana atau gering agung https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH merupakan suatu hal menarik untuk didiskusikan. Tirtha . ir suc. tersebut, disebut dengan nama tirttha Bayu Gegir. Tirttha Bayu Gegir dimohonkan pada waktu tertentu, dengan mempergunakan media tertentu dan upacara khusus. Prasasti Pakeling Karya MadywAuraya lempengan IVa memaparkan terkait langkah-langkah memohon tirttha Bayu Gegir yang dilaksanakan oleh pengempon Pura Tuluk Biyu Batur: /IVa /. Bhipraya ngamyt Sang Hyang Mrettha, mangaran tirttha Bayu Gegir, yakang hana ryargraning Gunung Abang, margganing-angamyt maka sadhanang kulitning wwah kadhAli kAnaka, ri sampning pinyt, atya winadahana bungbanging pring dhaNua, yaka ta maka sadhanang ori Haji Bali amrInAknang rogha sanghAraning Bhawana. (Prasasti Pakeling Karya MadywAuray. Terjemahannya: /IVa /. Jika mengambil Sang Hyang Merttha, yang bernama tirtha banyu geger yang ada disekitar Gunung Abang, tata cara untuk mengambil dengan menggunakan kulit pisang emas, setelah sudah diambil kemudian ditempatkan dibambu kuning, itu sebagai sarana yang digunakan Sri Haji Bali . ara pejaba. untuk menghilangkan segala marabahaya yang ada di bumi ini. Keyakinan idiologi tentang kultus dewa air juga terdapat dalam beberapa prasasti seperti: Prasasti Tuluk Biyu A (Batur. Pura Abang A) yang berangka tahun 933 Saka . 1 M). Tuluk Biyu B (Batur. Pura Abang B) yang berangka tahun 1103 Saka . 1 M), dan Tuluk Biyu C (Batur. Pura Abang C) yang berangka tahun 1306 Saka . 4 M). Prasasti Pura Tuluk Biyu Batur yang bersumber dari 3 nama raja yang berbeda, yang tersimpan dan menjadi druwe karas Pura Tuluk Biyu Batur (Atmodjo. K, 1976: . Idiologi ketuhan yang bebasis pada kultus pemujaan kepada dewa air terpengaruh dari paham India yang masuk ke dataran Nusantara. Idiologi ketuhanan yang ada dizaman Bali Kuna mengalami akulturasi dengan ajaran yang dikembangkan oleh Rsi Markandya. Hal ini terjadi karena adanya kesaman jiwa ajaran yang berorientasi pada Tuhan yang sama, namun dengan penyebutan yang berbeda. Geneologi Waisnawa berkembang sejak kedatangan Rsi Markandya ke Bali dengan para pengikut. Beliau dan para pengikutnya datang dari Gunung Raung, namun mengalami kegagalan. Sebagian pengikut Rsi Markandeya terkena wabah penyakit, sehingga menyebabkan banyak yang Ekspedisi kedua datang dengan 400 orang pengikut, dan menanam Panca Datu di Besakih. Pada saat ini peradaban ajaran Wisnu menyebarkan ajarannya di Bali (Darmaya, 2010: . Penyebaran ajaran Waisnawa sebagai paham ketuhanan di Pura Tuluk Biyu Batur telah dimulai semenjak kedatangan Rsi Markadya ke Bali. Hal tersebut dapat ditelusuri dari peninggalan senjata Cakra Bawa yang sampai saat ini di susung di Pura tersebut. Selain itu, keberadaan Tirtha bhujangga sebagai tirtha maha utama yang disimbolkan sebagai tirtha pasupati memaikan peran strategis dalam sistem keberagamaan masyarakat pengempon Pura Tuluk Biyu Batur. Ketika masyarakat pengempon Pura Tuluk Biyu Batur hendak melaksanakan upacara yajya . aik yang berskala kecil maupun besa. , masyarakat tidak menggunakan Sang Brahmana sekala (Rsi. Pedanda maupun Mp. Masyarakat cukup memohon tirtha pemuput kepada Ida BhAAra yang berstana di Pelinggih Bhujangga Sakti dan Bhujangga Luwih untuk muput upacara tersebut. Pelaksanaan upacara madywAuraya sebagai tradisi yang diwarisi secara turuntemurun oleh leluhur masyarakat pengempon Pura Tuluk Biyu Batur sampai saat ini masih dipertahankanya upacara tersebut jika terjadi bencana alam dunia. Pelaksanaan upacara madywAuraya yang bertepan pada tahun 2020 karena terjadinya gering agung yang disebut covid 19 maka dari itu dilaksanakanya upacara madywAuraya oleh pengempon Pura Tuluk Biyu Batur untuk meruat jagat. Upacara ini merupakan ungkapan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam berbagai manifestasinya guna memohon kesejahteraan alam semesta baik itu bhuana agung maupun bhuana alit. Upacara madywAuraya ini dilaksanakan untuk meruwat jagat jika terjadi sasab merana/gering agung. Pada zaman pemerintahan Raja Paduka Sri Dharmmodayana Warma Dewa pernah terjadi bencana alam seperti sasab merana/gring agung sehingga dilaksanakanya upacara madywAuraya untuk memohon kehadapan Ida BhAAra-BhAAri yang berstana di Gunung Abang memohon tirtha banyu untuk kesejahteraan alam semesta baik itu manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Sehingga pelaksanaan upacara madywAuraya ini tetap dilaksanakan jika terjadi bencana alam seperti halnya pada tahun 2019 yang terjadi virus corona/covid 19 yang meresahkan kesehatan masyarakat (Sukertayasa, 2. Pada tahun 2020 karena terjadi bencana alam terjadinya virus corona/covid 19 yang meresahkan masyarakat umum mengenai kesehatan mahluk hidup baik itu manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Dalam melaksanakan tradisi upacara madywAuraya dilaksanakanya nunas tirtha/memohon tirtha banyu dan juga tidak luput dengan tirtha bhujangga ini sebagai tirtha utama yang diyakini oleh masyarakat pengempon. Tirtha bhujangga sebagai tirtha maha utama yang disimbolkan sebagai tirtha pasupati. Menurut Dane Jero penyarikan Alitan . menjelaskan mengenai keutamaan tirtha bhujangga adalah Tirtha pada Plinggih Bhujangga tidak boleh dicampur dan harus berada paling atas sebagai orientasi pemujaan tertinggi, sebagai rasa wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Ida BhAAra Hyang Wukir Kulit Biyu (Ida BhAAra-BhAAri Tuluk Biy. atas waranugraha kadirgayusan yang diberikan oleh Beliau kepada umatnya, inti dari dilaksanakanya upacara madywAuraya adalah permohonan keselamatam dunia membersihkan energi negatif yang terdapat di dunia dengan memohon tirtha banyu geger di puncak Gunung Abang menggunakan sarana kulit pisang emas, tiing gading/bambu kuning, beras yang nantinya di bagi kepada masyarakat pengempon sebagai simbol amertha yang diberikan oleh Ida BhAAra-BhAAri Tuluk Biyu, kemudian tirtha bhujangga ini sebagai tirtha pasupati sebagai tirtha pemuput upacara madywAuraya. Tirtha banyu geger ini yang diyakini oleh masyarakat pengempon Pura Tuluk Biyu Batur dapat menetralisir energi negatif yang terdapat di bhuana agung dan bhuana alit Tirtha bhujangga ini juga dipercikan di tempat-tempat yang terkena panca baya dan sebagai tirtha pemuput. Permohonan nedung Ida BhAAra Tirtha Banyu Geger ini terlihat berbeda dengan pura-pura pada umumnya, di Pura Tuluk Biyu Batur menggunakan kulit pisang mas yang dipotong menjadi dua daging dari pisang emas itu dikeluarkan dicampur dengan beras yang nantinya diberikan kepada masyarakat pengempon sebagai amertha yang diberikan oleh Beliau yang berstana di Gunung Abang. Dimensi Teologi Hindu Ajaran Bhujangga dalam Kehidupan Religius masyarakat Batur Ajaran Bhujangga di Batur menekankan bahwa Tuhan adalah sumber dari segala ciptaan dan segala yang ada di alam semesta. Dalam ajaran ini. Tuhan diwakili oleh manifestasi Dewa Wisnu atau salah satu dari trimurti (Brahma. Wisnu. Siw. sesuai dengan pandangan Waisnawa yang dominan dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali. Tuhan sebagai sumber segalanya sangat mendasar dan menjadi inti dari pemahaman spiritual (Wastawa, 2. Tuhan dalam konteks Hindu dikenal sebagai Brahman, yang merupakan realitas tertinggi dan sumber dari segala sesuatu yang ada di alam semesta. Konsep ini juga tercermin dalam ajaran-ajaran yang menekankan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Dalam konteks ini, agama berperan penting dalam mengajarkan nilai-nilai spiritual yang mendalam kepada generasi muda, sehingga mereka dapat memahami bahwa semua aspek https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kehidupan, baik fisik maupun spiritual, terhubung dengan Tuhan yang Maha Esa (Somawati, 2. Pendidikan ini tidak hanya mencakup pengajaran tentang ritual dan upacara, tetapi juga tentang pemahaman filosofis yang lebih dalam mengenai hubungan antara manusia dan Tuhan, serta bagaimana manusia dapat menjalani hidup yang harmonis dengan alam dan sesama (Dharma, 2. Pemahaman tentang Tuhan sebagai sumber segalanya tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga etis, mendorong umat Hindu untuk hidup dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Konsep Tuhan sebagai sumber segalanya dalam ajaran Hindu tidak hanya menjadi dasar dari keyakinan spiritual, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, yajna dianggap sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, memohon restu, dan mengakui kekuasaan-Nya atas segala hal yang Dimensi ketuhanan yang di maksud adalah penyatuan antara atman dengan brahman, sesuai dengan konsep ketuhanan Hindu yang dualis yakni Tuhan yang satu . disebut dengan brahman merupakan sumber dari segalanya, kemudian atman sebagai percikan terkecil dari brahman merasuki sekaligus memberikan kehidupan kepada umat manusia serta mahluk hidup lainnya (Sutarti, 2. Konsep penyatuan ini terjadi pada Ida Bhujangga, dimana eksistensi beliau merupakan manusia yang mendapatkan pencerahan keagamaan serta menjalankan ajaran dharma sehingga menjadi pendeta Hindu yang dipercayai mencapai moksa yakni kebebesan abadi. Melalui dedikasi dan pengabdian beliau dalam mengembangan sekaligus melestarikan ajaran agama Hindu di Batur, beliau di hormati oleh masyarakat Batur sampai saat ini terbukti dengan adanya pelinggih khusus untuk pemujaan Ida Bhujangga. Ketika ditelisik lebih jauh yang berfungsi sebagai pemuput upacara adalah pendeta, secara tidak langsung meskipun pisik Ida Pandita Bhujangga tidak lagi ada tetapi cukup nunas tirtha pemuput pada pelinggih Ida Bhujangga sebagai linggih Ida Bhattara Bhujangga sudah di anggap cukup muputan upacara yajna masyarakat Batur. Eksistensi ida Bhujangga dari manusia menjadi Ida Bhattara tentu menunjukkan bukti bahwa dalam diri manusia juga terdapat tuhan yakni atman dapat menyatu dengan brahman. Dalam praktik keagamaan masyarakat Desa Adat Batur, terdapat kekhasan dalam pelaksanaan upacara yang tidak selalu melibatkan kehadiran sulinggih sebagai pemuput Sebaliknya, masyarakat setempat cukup memohon . tirtha suci dari pelinggih Ida Bhattara Bhujangga. Tirtha tersebut kemudian dipercikkan pada banten atau sarana upacara, yang dianggap telah memenuhi syarat sebagai pemuput upacara. Praktik ini mencerminkan sistem keagamaan yang bersifat mandiri dan berbasis pada tradisi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Konsep ini merefleksikan pemahaman religius dimana kesakralan tidak selalu dimediasi oleh kehadiran sulinggih, tetapi dapat dihadirkan melalui kekuatan simbolik dan spiritual dari pelinggih yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya kekuatan niskala, dalam hal ini Ida Bhattara Bhujangga. Kepercayaan terhadap tirtha Bhujangga sebagai air penyucian spiritual memperlihatkan keyakinan teologis masyarakat Batur terhadap Ida Bhattara Bhujangga sebagai pemuput yajna. Kayakinan masyarakat Batur terhadap Ida Bhatara Bhujangga sebagai pemuput upacara yajna sangat kental sekali sampai sekarang. Hal tersebut membuktikan bahwasanya keberadaan Ida Bhujangga masih eksis pada zaman modern bahkan beliau di wujudkan dalam bentuk konsep pemujaan tuhan saguna brahman dalam pelinggih Ida Bhattara Bhujangga. Berbicara mengenai konsep teologi Hindu dijelaskan bahwa kedudukan Tuhan Hindu adalah dualitas yakni memuja Tuhan Nirguna Brahman . idak terejawantahka. dan Saguna Brahman . emiliki sifa. (Windya, 2. Melalui konsep tersebut Tuhan dalam Hindu bisa di gambarkan dalam bentuk Dewa dan Ida Bhattara sebagai sebutan teologi lokal Bali, sehingga sebuatan dari Ida Bhattara Bhujangga https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sesungguhnya telah mengangungkan beliau dalam manifestasi sebagai Dewa. Lebih lanjut Dewi . menjelaskan bahwa perwujudan saguna brahman bukan saja bentuk dewa yang memiliki sifat tetapi dalam realisasi kehidupan masyarakat Batur diejawantahkan dalam bentuk pretima sebagai simbul dari Ida Bhattara Bhujangga. Konsep Saguna Brahman memberikan ruang bagi umat manusia untuk mendekati realitas transenden melalui bentuk-bentuk simbolik dan material yang terpersonifikasi. Dalam konteks Hindu Bali, manifestasi Saguna Brahman ini secara konkret diwujudkan melalui pratima, yaitu representasi fisik yang dianggap sebagai media atau tempat bersemayam kekuatan dalam bentuk yang dapat diakses secara sekala oleh umat (Titib. Pratima tidak sekadar dipandang sebagai arca atau patung, melainkan sebagai benda sakral penghubung antara alam sekala dan niskala. Pratima sebagai simbol dari kehadiran nyata Tuhan dalam wujud tertentu, seperti Dewa Siwa. Wisnu. Brahma, atau manifestasi lokal seperti Ida Bhatara Bhujangga Pura Tuluk Biyu Batur. Gambar 1. Pratime Ida Bhattara Bhujangga di Pura Tuluk Biyu Batur Sumber: Gunawijaya 2024 Pretima Ida Bhattara Bhujangga dipandang sebagai pengejawantahan dari Tuhan dalam manifestasi beliau yang telah menyatu dengan brahman. Keberadaan pratima difungsikan dalam ritual yajya, piodalan, dan ngelinggihan, di mana umat memohon perlindungan, serta pencerahan spiritual melalui kekuatan Ida Bhattara Bhujangga sebagai wujud dari Saguna Brahman (Suarka, 2. Teologi Hindu memandang Tuhan dapat bersemayam dalam berbagai media material seperti batu, kayu, logam, atau bahkan bentuk mental, dan jika disucikan secara ritual (Widana, 2. Pratima Ida Bhattara Bhujangga adalah perwujudan Tuhan dalam bentuk Saguna Brahman yang di buat oleh umat melalui proses pembuatan . emilihan bahan baku, hari baik, melaspas dan pasupati dengan upacara yajn. untuk mempermudah mengejawantahkan Tuhan yang Nirguna dalam kehidupan keagamaan masyarakat Batur. Keberadaan Pratima Ida Bhattara Bhujangga memberikan keyakinan kepada umat mengenai pemujaan kepada Tuhan dalam berbagai wujud beliau. Dimensi Teologi Hindu mengenai ajaran Bhujangga di Batur bukan saja dalam ranah keyakinan mayarakat setempat dalam metologi yang berkembang tetapi juga dalam bentuk keyakinan spiritual yang di tuangkan dalam bentuk arca sebagai simbul keagungan Tuhan. Masyarakat Batur meyakini bahwa Ida Bhattara Bhujangga dapat memberikan kesejahteraan dan kesehatan kepada umat sehingga umat juga mewujudkan beliau dalam bentuk yang lebih nyata yakni pratime Ida Bhattara Bhujangga. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kesimpulan Penelitian ini menunjukan ajaran Bhujangga di Batur menjadi wujud konkret dari implementasi teologi Hindu dalam praktik masyarakat. Dalam hal ini. Bhujangga dipandang sebagai jivanmukta atau makhluk yang telah mencapai pembebasan . dan kemudian dimuliakan sebagai Dewa. Konsep Bhujangga dalam tradisi keagamaan di daerah Batur merupakan hasil konstruksi historis dan teologis yang mengakar pada legitimasi spiritual Mpu Semeru. Mpu Semeru dipandang sebagai sosok suci yang membawa ajaran dharma ke Bali melalui jalur perbukitan serta bertemu dengan warga asli Batur yang di angkat sebagai putra dharma (Mpu Kamarek. yang kemudian dianugerahi gelar Ida Pandita Bhujangga. Ajaran Bhujangga menitik beratkan pada pelaksanaan upacara yajna sebagai wujud persembahan kepada Tuhan, selain pelaksanaan yajna ajaran yang ditekankan yakni melaksanakan ajaran dharma yakni kebenaran berdasarkan pengetahuan yang baik untuk dapat menjaga keseimbangan alam beserta isinya. Konsep lain yang ditemukan dalam penelitian ini adalah Selfsurpasing merupakan peningkatan eksistensi diri dari manusia menjadi bhattara, dimana Ida Bhujangga awalnya merupakan manusia dengan pengetahuan dharmanya serta dedikasi beliau mengembangkan agama Hindu di wilayah Batur sehingga sampai saat ini di buatkan Pelinggih untuk memuja keagungan beliau sebagai Ida bhattara Bhujangga. Konsep ini mencerminkan penerimaan masyarakat Batur terhadap ajaran Saguna Brahman, yakni Tuhan yang berwujud sebagai Ida Bhattara. Sampai saat ini masyarakat Batur meyakini keberadaan Ida Bhattara Bhujangga sebagai pemuput dari upacara yajna yang dilaksanakan masyarakat. Tidak semua upacara yajna di puput oleh ida Sulinggih melainkan masyarakat cukup nunas tirtha pemuput di pelinggih Ida Bhattara Bhujangga kemudian dipercikan pada upakara yajna sebagai simbul muputang yajna umat Hindu di Batur. Selain itu, dalam aspek keyakinan terhadap kedudukan Ida Bhattara Bhujangga sesuai ajaran Toelogi Hindu, umat juga mengejawantahkan keyakinan tersebut dalam bentuk Pratima sebagai perwujudan dari Ida Bhattara Bhujangga yang merupakan manifestasi Tuhan Saguna. Dimensi teologi Hindu bukan saja berada pada tatanan keyakinan mitologi mengenai keberadaan Ida Bhujangga tetapi juga dalam dimensi materi yang diwujudkan dalam bentuk dan rupa yakni Pratima Ida Bhattara Bhujangga yang di pergunakan umat untuk menghubungkan diri kepada Tuhan (Saguna dan Nirguna Brahma. Daftar Pustaka