Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN : 2829-5536 Vol. No. September, 2024 Karakterisasi Senyawa Antibakteri Dari Ekstrak Biji Labu Kuning (Cucurbita Moschata Duc. Yuyun Suria1*. Nur Fitriana Muhammad Ali2. Wa ode Masrida3 123Program Studi S1 Farmasi. Institut Teknologi dan Kesehatan Avicenna. Kendari Email Korespondensi : yuyunsuria11@gmail. Info Artikel: Diterima: 10 Juni 2024 Disetujui: 21 Juni 2024 Dipublikasi: September 2024 Kata Kunci: Salmonella typhi. KLTBioautografi. Cucurbita moschata Duch Keywords: Salmonella typhi. KLTBioautografi. Cucurbita moschata Duch Abstrak Latar Belakang: Antibiotik berperan dalam mengobati infeksi bakteri. Saat ini, minat masyarakat terpusat pada penggunaan obat tradisional karena diyakini memiliki efek samping yang lebih sedikit dan cenderung tidak menimbulkan resistensi jika dibandingkan dengan obat sintetis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui aktivitas senyawa antibakteri dari ekstrak C. moschata Duch terhadap bakteri S. typhi dan untuk mengetahui karakterisasi senyawa antibakteri dari fraksi C. moschata Duch. Metode: Sampel uji yang digunakan diekstraksi dengan metode maserasi. Sampel diuji aktivitas antibakterinya menggunakan metode difusi sumuran terhadap bakteri S. Ekstrak awal C. moschata Duch difraksinasi dengan metode fraksinasi cair-cair dan dilakukan uji KLT- Bioautografi. Hasil: Ekstrak C. moschata Duch menunjukkan aktivitas antibakteri paling besar dengan diameter rata-rata 23 mm (S. Pada fraksi n-heksan diprediksi mengandung senyawa terpenoid dengan nilai Rf 0,94 cm. Fraksi etil asetat diprediksi mengandung senyawa terpenoid dengan nilai Rf 0,70 cm. Fraksi metanol diprediksi mengandung senyawa flavonoid dengan nilai Rf 0,67 cm. Kesimpulan: Ekstrak C. moschata Duch menunjukkan aktivitas antibakteri paling besar dengan diameter rata-rata 23 mm (S. Karakterisasi senyawa antibakteri yang terkandung dalam setiap fraksi dilakukan secara KLT-Bioautografi. Diprediksi mengandung senyawa terpenoid pada fraksi n-heksan dengan nilai Rf 0,94 cm. Diprediksi mengandung senyawa terpenoid pada fraksi etil asetat dengan nilai Rf 0,70 cm. Diprediksi mengandung senyawa flavonoid pada fraksi metanol dengan nilai Rf 0,67 cm. Abstract Background: Antibiotics play a role in treating bacterial infections. Currently, public interest is centered on the use of traditional medicine because it is believed to have fewer side effects and tends not to cause resistance when compared to synthetic drugs. Objective: This study aims to determine the activity of antibacterial compounds from C. moschata Duch extract against S. typhi bacteria and to determine the characterization of antibacterial compounds from C. moschata Duch fraction. Method: The test sample used is extracted using the maceration method. The samples were tested for antibacterial activity using the well diffusion method against S. typhi bacteria. The initial extract of C. moschata Duch was fractionated by liquid-liquid fractionation method, and a KLT-Bioautography test was performed. Results: C. moschata Duch extract showed the greatest antibacterial activity with an average diameter of 23 mm (S. The n-hexan fraction is predicted to contain terpenoid compounds with an Rf value of 0. 94 cm. is predicted to contain terpenoid compounds in the ethyl acetate fraction with an Rf value of 0. 70 cm. It is predicted to contain flavonoid compounds in the methanol fraction with an Rf value of 0. 67 cm . Conclusion: C. moschata Duch extract showed the greatest antibacterial activity with an average diameter of 23 mm (S. Characterisation of antibacterial compounds contained in each fraction was done using KLT-Bioautography. Predicted to contain terpenoid compounds in the n-hexane fraction with an Rf value of 0. 94 cm. Predicted to contain terpenoid compounds in the ethyl acetate fraction with an Rf value of 0. 70 cm. Predicted to contain flavonoid compounds in the methanol fraction with an Rf value of 67 cm. PENDAHULUAN Penyakit infeksi terus menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya tingkat kesakitan dan kematian di wilayah tropis, terutama di Indonesia. Infeksi dapat dipicu oleh mikroba patogen, seperti bakteri S. Bakteri ini menjadi penyebab penyakit infeksi yang dikenal sebagai demam tifoid (Niah, 2. Demam tifoid merupakan suatu kondisi infeksi akut pada usus halus yang menunjukkan ciri-ciri khas berupa rasa nyeri di perut, ruam pada kulit, dan peningkatan suhu tubuh (Zurimi, 2. Penyebab demam tifoid adalah organisme Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN : 2829-5536 Vol. No. September, 2024 Salmonella enterica subspecies enterica serovar typhi (Salmonella typh. , suatu infeksi sistemik yang umumnya menyebar melalui konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi oleh tinja manusia (Birkhold et al. , 2. Demam tifoid di Indonesia memiliki ciri khas endemis dan seringkali timbul di Kejadian demam tifoid di negara ini mencapai sekitar 350-810 per 100. penduduk, dengan prevalensi sekitar 1,6%. Penyakit ini menempati peringkat kelima sebagai penyakit menular yang umum terjadi di semua kelompok usia di Indonesia, mencakup sekitar 6,0% dari populasi. Selain itu, demam tifoid juga menjadi penyebab kematian yang signifikan di semua kelompok usia, menempati peringkat ke-15 dengan angka sebanyak 1,6% (Herardi et al. , 2. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2020, demam tifoid termasuk dalam 10 penyakit terbesar di wilayah tersebut. Secara spesifik, demam tifoid menempati peringkat keenam dengan jumlah kasus mencapai 4. 467 kasus (Dinkes Sultra, 2. Obat yang dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan tersebut tergolong zat antimikroba, seperti antibiotik untuk bakteri, antijamur, dan antivirus. Pemberian antibiotik menjadi pilihan utama dalam kelompok obat yang paling umum digunakan di bidang kesehatan, terutama dalam resep untuk pasien anak. Antibiotik berperan dalam mengobati infeksi bakteri, dan tingginya angka penyebaran penyakit menular telah meningkatkan penggunaan antibiotik di Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dapat menimbulkan resistensi terhadap obat tersebut, selain juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi dan efek Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan pedoman terapi standar dapat menyebabkan munculnya efek samping, terutama ketika informasi objektif mengenai penggunaan yang benar tidak tersedia secara memadai (Athaya et al. , 2. Laporan Global Review tahun 2016 yang mengulas model simulasi populasi dunia menyatakan bahwa resistensi bakteri diperkirakan akan menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia pada tahun 2050. Diperkirakan bahwa setidaknya 10 juta orang akan meninggal setiap tahunnya, dengan tingkat kejadian tertinggi di Asia (Aslam et al. Di Indonesia, tingkat resistensi bakteri terus meningkat sejak tahun 2013 hingga Menurut Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba, persentase bakteri resisten meningkat dari 40 persen pada tahun 2013, menjadi 60 persen pada tahun 2016, dan mencapai 60,4 persen pada tahun 2019 (Kementrian Kesehatan, 2. Mengatasi bakteri patogen menjadi sulit ketika bakteri mengalami resistensi terhadap antibiotik, yang menambah meningkatkan biaya pengobatan. Keadaan ini menjadi pendorong utama di balik pencarian antibakteri baru. saat ini yang menjadi fokus perhatian masyarakat ialah menggunakan obat tradisional. Karena obat tradisional dianggap memiliki efek samping yang lebih sedikit dan biasanya tidak menyebabkan resistensi bila dibandingkan dengan obat Adapun cara yang sering dimanfaatkan adalah dengan penggunaan bahan alami, termasuk tanaman (Utami & Damayanti, 2. Labu kuning (C. moschata Duc. termasuk ke dalam kelompok tumbuhan Cucurbita, dan masuk dalam keluarga Cucurbitaceae. Bagian yang paling sering dimanfaatkan dari labu ini adalah daging buahnya, yang digunakan sebagai bahan sayuran dalam proses memasak (Mujaffar & Ramsumair, 2. Sementara itu, biji labu kuning seringkali kurang dimanfaatkan dan Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN : 2829-5536 Vol. No. September, 2024 cenderung menjadi limbah. Oleh karena itu, usaha untuk mengembangkan pemanfaatan biji labu kuning diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi dari limbah tanaman ini (Syam et al. , 2. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pelu et al . , penelitian tersebut mengungkapkan bahwa dalam skrining fitokimia ekstrak biji labu kuning (C. Duc. , senyawa-senyawa flavonoid, dan saponin. Keberadaan senyawa-senyawa ini terbukti melalui hasil uji aktivitas antibakteri terhadap S. dimana pada konsentrasi 20%, ekstrak menunjukkan kategori sangat kuat dengan diameter daya hambat sebesar 21 mm (Pelu et , 2. Sejalan dengan kemajuan dalam bidang autobiografi, upaya yang signifikan telah dilakukan untuk mengidentifikasi senyawasenyawa yang menunjukkan aktivitas biologis, dengan tujuan mengembangkan obat-obatan baru yang diharapkan memiliki kemampuan yang lebih unggul dan aman bagi kesehatan tubuh. Sehingga diharapkan akan memberikan manfaat yang lebih optimal dan memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Proses karakterisasi dianggap sebagai langkah awal yang penting dalam tahapan pengembangan obat ini (Vylgyi et al. , 2. METODE Jenis penelitian adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian dilakukan secara langsung terhadap objek yang diteliti menggunakan ekstrak etanol 70% biji labu kuning (C. moschata Duc. terhadap bakteri S. typhi dan aktivitas antibakteri sumuran dari ekstrak biji labu kuning. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2023 dan bertempat di Laboratorium Biomedik. Fakultas Kedokteran. Universitas Halu Oleo. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu biji labu kuning (C. moschata Duc. 30 buah yang diperoleh dari Desa Lapuko. Kecamatan Moramo. Kabupaten Konawe Selatan. Sulawesi Tenggara dengan sampel biji labu kuning yang telah dikeringkan dan diserbukkan sebanyak 833,27 g. Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Rotary evaporator (Buci-R. , autoklaf (Prest. , inkubator (Memmer. , timbangan analitik (HWH), lemari pendingin (Toshib. Laminar Air Flow, oven, pinset, erlenmeyer 250 mL (PyrexA), cawan petri, gelas kimia 250 mL(PyrexA), lumpang alu (ROFA), spoit 1 mL, batang pengaduk, cawan parselin . , kaca arloji, vial, pinset, corong pisah (PyrexA), plat silika gel G 60 F254 nm ukuran 10x10 cm, chamber kaca silinder untuk plat ukuran 10x10 cm, pipa kapiler, dan lampu UV 254 nm lampu UV 366 nm (Philip. , pH-meter (Jenwa. Sedangkan bahan-bahan digunakan pada penelitian ini adalah antibiotik amoksisilin 0,02 g . ontrol positi. , akuades . ontrol negati. , ekstrak biji labu kuning, etanol 70%. H2SO4. BaCl2. 2H2O, NaCL, tissue, spidol, jergen, aluminium foil, media nutrient agar (MerckA), isolat bakteri S. typhi, etil asetat, metanol, n-heksan, wadah maserasi, kertas saring. Prosedur penelitian dalam penelitian ini terdiri atas: Pengambilan Sampel. Determinasi Sampel. Preparasi Sampel. Ekstraksi Sampel. Fraksinasi. Uji Aktivitas Antibakteri. Sterilisasi Alat. Pembuatan Media NA. Pembuatan Larutan Standar Mc. Farland. Peremajaan Bakteri. Pembuatan Suspensi Bakteri Uji. Kontrol Positif dan Kontrol Negatif. Variasi Konsentrasi Ekstrak. Pengujian Aktivitas Antibakteri. Uji Fraksi melalui Metode KLT-Bioautografi Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN : 2829-5536 Vol. No. September, 2024 Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah senyawa antibakteri yang telah diuji secara KLT-bioautografi dimana data yang diperoleh berupa posisi Rf (Reterdation facto. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengambilan Sampel Sampel biji labu kuning diambil di Desa Lapuko. Kecamatan Moramo. Kabupaten Konawe Selatan. Sulawesi Tenggara. Buah labu kuning diambil pada pagi hari sebanyak 30 buah. Buah labu kuning kemudian dibersihkan dan dibelah untuk memisahkan daging buah dengan Biji yang diambil adalah biji labu kuning yang masih segar. Alasan mengambil sampel pada pagi hari adalah karena pada waktu tersebut, sampel masih dalam kondisi segar dan belum terkena kontaminasi polusi Selain itu, di pagi hari, tanaman mengalami fotosintesis secara optimal, sehingga kandungan metabolit sekunder dalam tanaman menjadi tinggi (Mindawarnis. Determinacy Sample Determinasi sampel biji labu kuning (C. Duc. Laboratorium Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo Kendari. Hasil determinasi ini digunakan Hasil determinasi menyatakan bahwa bagian tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah biji labu kuning yang memiliki spesies moschata Duch. Preparasi Sampel Proses pengeringan dan serbuk biji labu kuning dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Proses Pengeringan . Serbuk Biji Labu Kuning (Dokumentasi Pribadi. Sampel biji labu kuning (C. Duc. yang telah diambil kemudian dilakukan sortasi basah dan dicuci bersih dengan air mengalir dengan tujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainya yang masih melekat pada biji labu kuning (C. moschata Duc. Setelah itu sampel yang telah bersih ditiriskan. Kemudian ditimbang dan didapatkan sampel sebanyak 162 g. Biji labu kuning yang telah dibersihkan kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama tiga hari dan dilindungi dengan kain hitam agar terhindar dari debu, serta mencegah kerusakan pada zat aktif yang terkandung dalam sampel. Proses pengeringan bertujuan untuk menghentikan reaksi enzimatis, sehingga biji dapat disimpan dengan lebih lama dan komposisi kimianya tetap tidak mengalami perubahan (Windarsih, 2. Kemudian dilakukan proses sortasi kering dan penimbangan simplisia yang telah kering didapatkan sampel sebanyak 883 g. Dari simplisia kering yang telah diblender massa biji labu kuning (C. moschata Duc. yang dihasilkan adalah sebesar 833,27 g yang selanjutnya digunakan pada tahap ekstraksi. Ekstraksi Biji Labu Kuning (C. Duc. Biji labu kuning (C. moschata Duc. dapat diekstraksi menggunakan metode maserasi karena metode ini dianggap simpel, ekonomis, dan memungkinkan kontak antara sampel dan pelarut dalam waktu yang cukup Kelebihan metode maserasi adalah memudahkan pelarut untuk mengekstraksi senyawa yang ada dalam sampel. Pilihan pertimbangan bahwa maserasi dapat Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN : 2829-5536 Vol. No. September, 2024 mencegah kerusakan pada komponen senyawa yang tidak tahan panas, seperti flavonoid, tanin, fenol, steroid, triterpenoid alkaloid, dan saponin (Susanty & Bachmid. Senyawa-senyawa tersebut cenderung tidak stabil saat terpapar panas, dan oleh karena itu, metode maserasi diharapkan dapat menjaga stabilitas dan mencegah kerusakan pada senyawa-senyawa tersebut selama proses ekstraksi (Kumalasari et al. , 2. Dalam tahap ekstraksi ini, digunakan etanol Pemilihan etanol 70% dilakukan karena kemampuannya menarik senyawa aktif lebih efektif dibandingkan dengan pelarut organik Etanol dipilih karena memiliki titik didih yang rendah, yakni 79EE, sehingga memerlukan panas yang lebih sedikit dalam proses pemekatan (Farida et al. , 2. Alasan menggunakan etanol 70% didasarkan pada kemampuan larutan ini untuk menembus yang baik pada sisi hidrofil maupun lipofil, sehingga dapat menembus membran sel, sehingga memudahkan untuk masuk kedalam sel dan berinteraksi dengan metabolit didalam sel. Selain itu, etanol 70% juga dapat mengekstrak senyawa-senyawa seperti fenolik, flavanoid, alkaloid, terpenoid, dan steroid (Andriani, 2. Etanol memiliki dua sisi, yakni gugus hidroksil (O-H) yang bersifat polar dan gugus metoksil (CH. yang bersifat non-polar. Oleh karena itu, etanol tidak hanya mampu mengekstrak zat ekstraktif dari kelompok polar, tetapi juga mampu melarutkan senyawa yang bersifat semi-polar dan non-polar (Rizki et al. , 2. Dalam penelitian oleh Pelu et al . mengenai skrining fitokimia biji labu kuning, ditemukan bahwa biji tersebut mengandung senyawa tannin, saponin, terpenoid, dan Flavonoid, sebagai contoh, bersifat polar, sehingga larut dalam pelarut polar seperti etanol. Hal ini sesuai dengan prinsip "like dissolve like," di mana suatu senyawa akan larut dalam pelarut yang memiliki sifat serupa (Amini et al. , 2. Sebanyak 833,27gram sampel direndam dalam etanol 70% selama 3 kali 24 jam, lalu dilakukan evaporasi pada suhu 40EE untuk mencegah kerusakan senyawa akibat suhu Berat ekstrak yang dihasilkan setelah 130,37 Tabel 1. Hasil Ekstraksi dan Rendamen Biji Labu Kuning (C. moschata Duc. Volume Berat Berat Nama Jenis (%) Karakteristik Konsistensi Pelarut Simplisia Ekstrak Sampel Pelarut Rendamen Ekstrak Ekstrak (L) Biji Labu Warna coklat Kuning (C. Etanol 833,27 130,37 pekat, bau khas Kental biji labu kuning Duc. Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa berat ekstrak kental biji labu kuning yang diperoleh yaitu sebesar 130,37 g, dengan persen rendamen sebe sar 15,6%. Persen rendamen yang dihasilkan sesuai dengan syarat rendamen yang baik menurut (Farmakope Herbal Indonesia, 2. yaitu lebih dari 10%. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Biji Labu Kuning Pengujian bertujuan untuk mengukur kemampuan ekstrak biji labu kuning dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. Metode yang digunakan adalah metode difusi sumuran. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN : 2829-5536 Vol. No. September, 2024 dimana aktivitas antibakteri diukur melalui pembentukan zona hambat disekitar Hasil pengamatan mencakup keberadaan atau ketiadaan zona hambat selama inkubasi. Terbentuknya zona hambat menunjukkan efek penghambatan terhadap pertumbuhan koloni bakteri, diduga disebabkan oleh senyawa bioaktif yang terkandung dalam ekstrak biji labu kuning (Abubakar et al. , 2. Hasil pengukuran diameter zona hambat ekstrak biji labu kuning (C. moschata Duc. terhadap bakteri S. typhi dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Biji Labu Kuning Terhadap Bakteri S. Rata-rata Interpretasi Sampel efektivitas S. zona hambat . Kontrol 0 mm Tidak ada Negatif 14 mm Kuat 17 mm Kuat 19 mm Kuat 23 mm Sangat kuat Kontrol 29 mm Sangat kuat Berdasarkan Tabel 2 hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak biji labu kuning (C. moschata Duc. terhadap bakteri S. yaitu menunjukan bahwa pada konsentrasi 10% memiliki aktivitas antibakteri kuat dengan nilai diameter zona hambat rata-rata sebesar 14 mm, pada konsentrasi 15% memiliki aktivitas antibakteri kuat dengan nilai diameter zona hambat rata-rata sebesar 17 mm, dan pada konsentrasi 20% memiliki aktivitas antibakteri yang kuat dengan nilai diameter zona hambat rata-rata sebesar 19 mm, serta pada konsentrasi 25% memiliki aktivitas antibakteri yang sangat kuat dengan nilai diameter zona hambat rata-rata sebesar 23 mm. Zona hambatan yang terbentuk menggambarkan sejauh mana zat antibakteri dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji. Jika sebuah senyawa antibakteri bersifat menghambat, ketika diinkubasi lebih lama, bakteri memiliki peluang untuk terus tumbuh secara perlahan. Antibakteri bakteriostatik pertumbuhan bakteri tanpa menyebabkan Sebaliknya, jika senyawa tersebut bersifat bakterisidal atau mampu membunuh bakteri, pertumbuhan bakteri akan berhenti secara total (Sinea & Fallo, 2. Konsentrasi ekstrak yang lebih tinggi cenderung mengandung lebih banyak zat antibakteri, menghasilkan daya hambat yang lebih efektif dan meluas dengan diameter yang lebih besar (Munfaati et al. , 2. Kemampuan biji labu kuning (C. moschata Duc. untuk menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri dapat disebabkan oleh kandungan senyawa antibakteri di dalamnya. Penelitian yang dilakukan oleh Pelu et al . melalui skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji labu kuning (C. Duc. mengandung senyawa seperti tannin, saponin, terpenoid, dan flavonoid. Senyawasenyawa ini memiliki peran sebagai agen antibakteri, sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan ekstrak biji labu kuning dalam menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri disebabkan oleh adanya senyawasenyawa tersebut. Senyawa antibakteri dengan cara mengendapkan Efek antibakteri tannin terjadi melalui interaksi dengan membran sel, penonaktifan enzim, dan penonaktifan fungsi materi genetik. Mekanisme antibakteri tannin melibatkan penghambatan enzim seperti DNA topoisomerase, menghentikan pembentukan Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN : 2829-5536 Vol. No. September, 2024 sel bakteri. Tannin juga menunjukkan aktivitas antibakteri dengan menginaktifkan adhesin sel mikroba, menghambat enzim, dan mengganggu transportasi protein di dalam sel. Selain itu, tannin memiliki target pada polipeptida dinding sel, menghasilkan pembentukan dinding sel yang kurang Akibatnya, sel bakteri mengalami lisis baik secara osmotik maupun fisik, menyebabkan kematian sel bakteri (Suryani et , 2. Saponin memiliki sifat antibakteri permukaan, yang dapat meningkatkan permeabilitas sel, disebut sebagai kebocoran Senyawa intraseluler keluar dari sel sebagai akibat dari kebocoran sel (Trisia et al. Saponin menyebar melewati membran luar dan dinding sel yang rentan, berikatan pada membran sitoplasma, sehingga dapat mengganggu dan mengurangi kestabilan membran sel. Yang berakibat pada kebocoran sitoplasma dari sel, pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian sel. Senyawa antibakteri yang bersifat bakterisidal dapat menyebabkan gangguan pada membran sitoplasma (Sulistiyono et al. , 2. Saponin berperan sebagai zat antibakteri dengan cara mengurangi tegangan permukaan, sehingga berpotensi meningkatkan permeabilitas sel atau yang dikenal sebagai kebocoran sel. Kebocoran tersebut mengakibatkan senyawa intraseluler keluar dari sel (Trisia et al. , 2. Mekanisme transmembran yang terletak pada lapisan luar dinding sel bakteri. Proses ini menghasilkan pembentukan ikatan polimer yang kuat, menyebabkan kerusakan pada porin. Kerusakan pada porin, yang berfungsi sebagai saluran untuk keluar-masuknya permeabilitas dinding sel bakteri. Hal ini menyebabkan sel bakteri mengalami kekurangan nutrisi, sehingga pertumbuhan bakteri terhambat atau bahkan menyebabkan kematian (Zebua et al. , 2. Cara kerja flavonoid sebagai agen antibakteri melibatkan pembentukan senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler dan protein terlarut, yang dapat mengakibatkan kerusakan pada membran sel bakteri. Proses ini diikuti oleh pelepasan senyawa intraseluler dari bakteri (Maulana et al. , 2. Gugus hidroksil yang terdapat dalam struktur flavonoid menyebabkan perubahan pada komponen organik dan transportasi nutrisi, akhirnya menyebabkan efek toksik terhadap bakteri (Fitriah et al. , 2. Fraksinasi Ekstrak Biji Labu Kuning Ekstrak Maserat yang dihasilkan melalui proses maserasi kemudian dipekatkan dengan melakukan evaporasi pada suhu 40AC untuk mendapatkan ekstrak yang lebih padat. Ekstrak kental ini selanjutnya akan digunakan dalam fraksinasi menggunakan metode caircair. Tujuan utama dari fraksinasi adalah memisahkan komponen senyawa aktif dari ekstrak yang telah dihasilkan. Prinsip dasar dari proses fraksinasi ini didasarkan pada perbedaan tingkat kepolaran dan bobot jenis antara fraksi-fraksi (Pratiwi et al. , 2. Fraksinasi dilakukan menggunakan tiga jenis pelarut yaitu n-heksan . on pola. , etil asetat . emi pola. , dan metanol . Sebanyak 10 g ekstrak kental etanol biji labu kuning dilarutkan dalam 200 mL metanol, kemudian dikocok dan dimasukkan ke dalam corong pisah. Selanjutnya, ditambahkan nheksan sebanyak 200 mL . dan dikocok Campuran diamkan hingga terbentuk dua fase, dengan n-heksan di atas dan metanol di bawah. Proses fraksinasi diulang dengan penambahan n-heksan sebanyak 100 mL . hingga bening, menghasilkan fraksi n-heksan dan fraksi Fraksi n-heksan dipisahkan dari Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN : 2829-5536 Vol. No. September, 2024 metanol, kemudian dikentalkan dengan rotary evaporator pada suhu 40AC. Sisa fraksi metanol kembali dimasukkan ke dalam corong pisah untuk fraksinasi lanjutan. Etil asetat sebanyak 200 mL ditambahkan dengan perbandingan 2:2, dicampur perlahan, dan diamkan hingga terbentuk dua fase dengan etil asetat di bawah dan metanol di atas. Proses penambahan etil asetat sebanyak 100 mL . hingga bening, menghasilkan fraksi etil asetat dan fraksi metanol. Fraksi etil asetat dan metanol dipisahkan, lalu dikentalkan dengan rotary evaporator pada suhu 40AC (Puspita & Muflihah, 2. Dari proses fraksinasi, diperoleh berat yang bervariasi untuk ketiga fraksi yang Fraksi n-heksan memiliki berat sebanyak 1,98 g dari ekstrak, fraksi etil asetat sebanyak 1,99 g, sementara komponen senyawa dari ekstrak biji labu kuning (C. moschata Duc. yang lebih banyak larut dalam pelarut polar, yaitu metanol, menghasilkan fraksi sebanyak 2,65 g. Fraksinasi dilakukan secara berkesinambungan, dimulai dengan pelarut non polar, dilanjutkan dengan semi polar, dan diakhiri dengan pelarut polar. Setiap pelarut secara selektif memisahkan kelompok kandungan kimia tersebut. Jumlah senyawa yang dapat dipisahkan menjadi fraksi berbeda-beda tergantung pada kandungan senyawa di setiap jenis sampel. Pada akhir proses fraksinasi, diperoleh senyawa non polar, semi polar, dan polar secara berturut-turut (Purwanto, 2. Hasil Profil KLT Berikut adalah hasil uji kromatografi lapis tipis untuk setiap fraksi: Fraksi N-Heksan 0,94 cm . Gambar 2. Penampakan noda fraksi n-heksan dengan campuran fase gerak nheksan perbandingan . , . Penampakan noda UV 366nm, . Penampakan noda UV 254nm, . Hasil KLT fraksi n-heksan biji labu kuning (C. moschata Duc. Fraksi Etil Asetat 0,70 cm . Gambar 3. Penampakan noda fraksi etil asetat dengan campuran fase gerak nheksan perbandingan . , . Penampakan noda UV 366nm, . Penampakan noda UV 254nm, . Hasil KLT fraksi etil asetat biji labu kuning (C. moschata Duc. Fraksi Metanol 0,67 cm . Gambar 4. Penampakan noda fraksi metanol dengan campuran fase gerak nheksan , . Penampakan noda UV 366nm, . Penampakan noda UV Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN : 2829-5536 Vol. No. September, 2024 254nm, . Hasil KLT fraksi metanol biji labu kuning (C. moschata Duc. Dalam penelitian ini, dilakukan pemisahan senyawa kimia menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Senyawa yang berhasil terpisah kemudian muncul sebagai noda pada permukaan lempeng KLT. Pembentukan noda terjadi karena keberadaan komponen kimia dalam ekstrak etanol biji labu kuning. Setiap noda menunjukkan nilai Rf yang berbeda karena perbedaan kelarutan senyawa tersebut terhadap eluen yang digunakan. Dan masingmasing noda memiliki nilai Rf (Yusriyani et , 2. , nilai Rf untuk setiap fraksi adalah sebagai berikut: fraksi n-heksan sebesar 0,94 cm, fraksi etil asetat sebesar 0,70 cm, dan fraksi metanol sebesar 0,67 cm. Berdasarkan analisis KLT, yang dilakukan, maka senyawa yang terkandung masing-masing dikarakterisasi melalui nilai Rf -nya. Nilai Rf dapat digunakan sebagai bukti identifikasi suatu senyawa, karena senyawa dengan nilai menunjukkan adanya kesamaan karakteristik (Taupik & Mustapa, 2. Fraksi n-heksan pada penelitian ini diprediksi mengandung senyawa terpenoid dengan nilai Rf 0,94 cm. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Febriani et al . yang menyatakan bahwa fraksi n-heksan dengan nilai Rf 0,94 cm mengandung senyawa terpenoid (Raihan et , 2. Fraksi etil asetat pada penelitian ini diprediksi mengandung senyawa terpenoid dengan nilai Rf 0,70 cm. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspita & Muflihah . yang menyatakan bahwa fraksi etil asetat dengan nilai Rf 0,70 cm mengandung senyawa terpenoid (Puspita & Muflihah, 2. Fraksi metanol pada penelitian ini diprediksi mengandung senyawa flavonoid dengan nilai Rf 0,67 cm. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasan et al . yang menyatakan bahwa jika nilai Rf suatu fraksi relatif sama dengan standar quarsetin (Rf = 0,64-0,. maka fraksi tersebut mengandung flavonoid (Hasan et al. Nilai Rf yang baik dalam KLT menggambarkan pemisahan yang baik, berkisar antara 0,2 hingga 0,8. Pemisahan terbaik dalam KLT dapat diidentifikasi melalui pembentukan bercak yang banyak dan terpisah dengan jelas (Kurniawati, 2. Senyawa dengan nilai Rf yang lebih tinggi menunjukkan kepolaran yang lebih rendah, dan sebaliknya, karena fase diam pada umumnya bersifat polar. Senyawa yang lebih polar cenderung tetap di fase diam, menghasilkan nilai Rf yang lebih rendah (Jannah, 2. Hasil analisis KLT menunjukkan bahwa jarak pemisahan tergantung pada sifat polaritas senyawa. Senyawa nonpolar dan sedikit polar akan bergerak lebih jauh dari titik penotolan . endekati baseline ata. , sementara senyawa yang sangat polar akan bergerak sedikit dari titik penotolan . endekati baseline bawa. (Fauziah et al. , 2. KLT-Bioautografi Tabel 3. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri KLT-Bioautografi fraksi Biji Labu Kuning Terhadap Bakteri S. Rata-rata Interpretasi Sampel efektivitas S. Fraksi n-heksan 13 mm Kuat Fraksi etil asetat 6 mm Sedang Fraksi metanol 5 mm Lemah Berdasarkan Tabel 3, hasil pengujian aktivitas antibakteri fraksi biji labu kuning (C. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN : 2829-5536 Vol. No. September, 2024 moschata Duc. terhadap bakteri S. menunjukan bahwa pada fraksi n-heksan memiliki aktivitas antibakteri kuat dengan nilai diameter zona hambat rata-rata sebesar 13 mm, dan pada fraksi etil asetat memiliki aktivitasku antibakteri yang sedang dengan nilai diameter zona hambat rata-rata sebesar 6 mm sedangkan pada fraksi metanol memiliki aktivitas antibakteri lemah dengan nilai diameter zona hambat rata-rata sebesar 5 mm. Berdasarkan hasil diameter zona hambat yang dihasilkan pada fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi metanol, dapat diketahui bahwa fraksi n-heksan memiliki zona hambat yang lebih tinggi dibandingkan fraksi etil asetat dan fraksi metanol. Perbedaan dalam ukuran zona hambat yang dihasilkan oleh setiap fraksi terhadap bakteri uji menunjukkan jenis kandungan senyawa aktif di dalam ketiga fraksi biji labu Oleh karena itu, kemampuan masingmasing pertumbuhan bakteri S. typhi juga beragam. Semakin besar diameter zona hambat yang terbentuk, menunjukkan bahwa kemampuan antibakteri fraksi tersebut juga semakin tinggi (Erlyn, 2. Perbedaan antibakteri antara ekstrak dan fraksi biji labu kuning (C. moschata Duc. terhadap bakteri S. typhi dapat dipengaruhi oleh kelompok kemampuan menghambat pertumbuhan Sumber aktivitas tersebut mungkin berasal dari mekanisme kerja suatu senyawa secara individu atau kombinasi dari senyawa-senyawa terkandung di dalamnya (Njateng et al. , 2. Tabel 4. Hasil Uji KLT-Bioautografi fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi metanol biji labu kuning (C. moschata Duc. terhadap bakteri S. Bakteri Sampel Keterangan Fraksi n-heksan 0,94 Diduga senyawa terpenoid mampu sebagai antibakteri Fraksi etil asetat 0,70 Diduga senyawa terpenoid mampu sebagai antibakteri Fraksi metanol 0,67 Diduga senyawa flavonoid mampu sebagai antibakteri Berdasarkan Tabel 4, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi metanol dari biji labu kuning (C. moschata Duc. menunjukkan nilai Rf dalam kisaran golongan senyawa terpenoid dan flavonoid. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa senyawa-senyawa flavonoid dan terpenoid memiliki potensi sebagai agen antibakteri. Flavonoid dalam tanaman berperan sebagai pelindung terhadap tekanan dan faktor lingkungan, juga berkontribusi dalam pembentukan warna dan Selain itu, flavonoid dilaporkan memiliki aktivitas antimikroba, antikanker, dan antidiare (Trimanto et al. , 2. Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa fenol yang cenderung dapat mendenaturasi protein, menghentikan aktivitas metabolisme sel bakteri, dan dengan demikian bertindak sebagai agen antibakteri (Marina et al. , 2. Di sisi lain, terpenoid adalah senyawa tumbuhan yang memiliki aroma dan dapat diisolasi melalui penyulingan yang dikenal sebagai minyak atsiri (Minarno, 2. Mekanisme antibakteri dari senyawa terpenoid melibatkan kerusakan pada struktur dinding sel, gangguan pada transportasi aktif, dan pelemahan kekuatan proton di dalam membran sitoplasma bakteri (Bota et al. , 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Pelu et al . , hasil uji fitokimia pada ekstrak biji labu kuning (C. moschata Duc. menunjukkan keberadaan senyawa antibakteri seperti tanin, terpenoid, flavonoid, dan saponin. Beberapa kelompok Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN : 2829-5536 Vol. No. September, 2024 senyawa tersebut, seperti tannin, terpenoid, flavonoid, dan saponin, diyakini memiliki potensi sebagai agen antibakteri. Dalam penelitian ini, terbukti bahwa metabolit sekunder flavonoid dan terpenoid memiliki sifat antibakteri, yang dibuktikan dengan adanya zona hambat pada uji KLTBioautografi. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa ekstrak biji labu kuning (C. moschata Duc. memiliki aktivitas antibakteri sangat kuat pada konsentrasi 25% dengan diameter zona hambat rata-rata sebesar 23 mm terhadap bakteri S. typhi sedangkan karakterisasi senyawa antibakteri yang terkandung dalam fraksi biji labu kuning dilakukan secara KLTBioautografi yaitu diprediksi mengandung senyawa terpenoid pada fraksi n-heksan dengan nilai Rf sebesar 0,94 cm, senyawa terpenoid juga diprediksi pada fraksi etil asetat dengan nilai Rf sebesar 0,70 cm, serta diprediksi senyawa flavonoid pada fraksi metanol dengan nilai Rf sebesar 0,67 cm. Disarankan Perlu dilakukan isolasi senyawa serta pengujian isolat senyawa aktif dari fraksi biji labu kuning terhadap bakteri S. typhi dan diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai karakterisasi senyawa antibakteri spektrofotometer UV-Vis dan FT-IR. DAFTAR PUSTAKA