Ibrahim. D eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 TINGKAT KEMAMPUAN DIGITALISASI KOMUNIKASI GURU DALAM MENYELESAIKAN BEBAN KERJA ADMINISTRASI DI SMP NEGERI 1 PEGAJAHAN Dimas Ibrahim1. Nursapia Harahap2 1,2. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medan dimas0603203081@uinsu. id1, nursapiaharahap@uinsu. Keywords Abstract Digitalization of Communication. Teachers. Workload This study aims to determine the level of communication digitization ability of teachers in completing administrative workload at SMP Negeri 1 Pegajahan. The research method used was qualitative with a case study approach. Data collection techniques were applied through in-depth interviews with 10 teachers and participant observation at SMP Negeri 1 Pegajahan. The results showed that the level of communication digitization ability of teachers at SMP Negeri 1 Pegajahan was still relatively low. This can be seen from the fact that many teachers still apply manual methods in completing administrative workloads, such as using paper and pens to write reports and correspondence. In addition, teachers are also still not accustomed to using digital applications to communicate with parents and guardians. Based on the results of the study, it can be concluded that it is necessary to improve the digitalization communication skills of teachers at SMP Negeri 1 Pegajahan. This can be done through training and workshops on the use of digital applications for administration and communication. In addition, schools also need to provide adequate infrastructure, such as computers and the internet, so that teachers can easily use digital applications. PENDAHULUAN Di era digitalisasi saat ini, kemampuan digitalisasi komunikasi menjadi semakin penting bagi para guru. Kemampuan ini memungkinkan guru untuk menyelesaikan beban kerja administrasi dengan lebih efektif dan efisien. Beban kerja administrasi yang tinggi seringkali menjadi kendala bagi guru dalam melaksanakan tugas utama mereka, yaitu Hal ini dapat berakibat pada kualitas pembelajaran yang menurun. Kemajuan teknologi informasi melahirkan berbagai platform digital yang dirancang khusus untuk menunjang kebutuhan dunia pendidikan. Sistem-sistem ini menawarkan solusi inovatif untuk mengoptimalkan pengelolaan data, proses belajar mengajar, dan komunikasi antar pemangku kepentingan. Implementasi sistem informasi manajemen berbasis digital menjadi langkah strategis bagi lembaga pendidikan untuk meningkatnya efisiensi, efektivitas, juga akuntabilitas ketika menjalankan fungsinya. (Sari et al. , 2. Kini pada era digital, pemakaian teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mengglobal, termasuk dalam dunia pendidikan. Sistem informasi berbasis TIK menjadi 331 | P a g e Ibrahim. D eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 solusi populer untuk meningkatkan efisiensi serta akurasi administrasi pendidikan, seperti yang disampaikan oleh Sholeh Kurniandini . Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. turut aktif dalam mendorong transformasi digital pada aspek pendidikan lewat berbagai program dan kebijakannya. (Kemendikbudriste. mendorong digitalisasi sekolah melalui berbagai program, seperti implementasi Kurikulum Merdeka dan penggunaan platform Merdeka Mengajar. Digitalisasi sekolah diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan dengan memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. (Febrianti et al. , 2. Efisiensi dalam administrasi pendidikan bagaikan kunci utama untuk membuka pintu gerbang kualitas pendidikan yang lebih tinggi. Cakupannya yang luas, mulai dari pengelolaan data siswa, penyusunan jadwal, hingga pendistribusian sumber daya yang tepat, menjadikannya elemen penting dalam kelancaran operasional sekolah. Administrasi yang efisien bukan hanya soal penghematan waktu, anggaran, dan tenaga kerja. Lebih dari itu, hal ini memungkinkan guru dan staf lain agar fokus terhadap pekerjaan pokok mereka: memberi dukungan prestasi peserta didik. Beban administrasi yang ringan memberikan ruang bagi mereka untuk mencurahkan perhatian penuh pada proses pembelajaran, pengembangan materi, sertainteraksi langsung dengan siswa. (Al-Emari, 2. Istilah beban kerja tak asing lagi bagi para profesional, termasuk pada aspek pendidikan contohnya guru. Dalam kerangka pikir umum, beban kerja seringkali dipandang menjadi sesuatu yang memberatkan. Beban diartikan sebagai tugas berat yang harus dipikul sebagai tanggung jawab. Anggapan ini dapat membuat pemenuhan beban kerja menjadi terasa sulit. Namun, pendekatan lain memandang beban kerja sebagai sebuah satuan yang menjadi tolok ukur ketepatan penugasan. Beban kerja yang terukur memastikan bahwa setiap tugas diberikan secara proporsional dan sesuai dengan kemampuan individu. Pendekatan ini menekankan bahwa beban kerja ialah konsekuensi logis dari keberadaan tenaga kerja dalam suatu organisasi. Dengan kata lain, beban kerja bukan sekadar tanggung jawab yang harus dipikul, tetapi juga alat untuk memastikan pendistribusian tugas yang adil dan efektif. Pendekatan ini mendorong optimalisasi kinerja dan meminimalisir inefisiensi dalam organisasi. (Syarief Hidayatulloh, 2. Analisis beban kerja membantu memastikan pendistribusian tugas yang optimal dan merata kepada para pegawai. Hal ini meminimalisir inefisiensi dan memaksimalkan produktivitas, sehingga tercapai efektivitas dan efisiensi yang tinggi. Dengan analisis beban kerja yang tepat, pegawai dapat fokus pada tugas-tugas yang sesuai dengan kompetensi dan Hal ini mendorong peningkatan kualitas kerja dan profesionalisme dalam menjalankan tugas. (Novita et al, 2. Manfaat lain dari analisis jabatan dan analisis beban kerja adalah sebagai alat ukur kinerja bagi pegawai dan unit kerja. Alat ukur ini dapat berupa waktu penyelesaian tugas, tingkat efisiensi kerja, juga standar kinerja yang diinginkan. (Permatasari, 2. Dalam sistem pendidikan, guru adalah salah satu landasan utama yang menunjang keberhasilan sekolah. Kualitas kinerjanya secara langsung berdampak pada pencapaian tujuan sekolah, yang pada akhirnya akan dirasakan oleh murid dan orang tua mereka. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru serta Dosen dengan tegas menggarisbawahi pekerjaan pokok seorang guru, yaitu mendidik, mengajar, membimbing, memberi arahan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Kompetensi seorang guru tercermin dari bagaimana mereka menjalankan tugas tersebut secara efektif. Dengan kata lain, kualitas guru dapat diukur dari kinerjanya. Kinerja guru yang baik menjadi tolok ukur keberhasilan sekolah dalam mencetak generasi muda yang berkualitas dan berdaya 332 | P a g e Ibrahim. D eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 Ketimpangan kualitas pendidikan di Indonesia salah satunya dikarenakan kesenjangan kinerja guru di berbagai sekolah. (Simangunsong, 2. Beberapa penelitian terdahulu tentang tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru dalam menyelesaikan beban kerja administrasi yaitu yang ditulis oleh Nofriadi dan Rika Yuliani . dengan judul Tingkat Kemampuan Literasi Digital Guru dan Pengaruhnya Terhadap Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Proses Pembelajaran di SMA Negeri 1 Pekanbaru bahwa penelitian ini menemukan bahwa tingkat literasi digital guru di SMA Negeri 1 Pekanbaru tergolong sedang. Hal ini berakibat pada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam proses pembelajaran yang masih belum optimal. Aspek- aspek yang menjadi pengaruh terhadap tingkat literasi digital guru yakni usia, lama mengajar, dan tingkat pendidikan. Sedangkan penelitian Rika Yuliani. Nofriadi, dan Rini . yang berjudul Analisis Tingkat Kemampuan Guru dalam Mengoperasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi di SMP Negeri 1 Kota Padang menemukan bahwa tingkat kemampuan guru dalam mengoperasikan TIK di SMP Negeri 1 Kota Padang tergolong sedang. Hal ini menyebabkan guru mengalami kesulitan dalam menggunakan TIK untuk menyelesaikan tugas-tugas administrasi dan pembelajaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan guru dalam mengoperasikan TIK adalah usia, lama mengajar, dan tingkat pendidikan. Salah satu aspek penting dalam digitalisasi sekolah adalah digitalisasi komunikasi. Guru perlu memiliki kemampuan digitalisasi komunikasi yang memadai untuk beradaptasi dengan tuntutan zaman dan menyelesaikan berbagai tugas administrasi secara digital. Isu tersebut sesuai dengan Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2022 mengenai Implementasi Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi di Satuan Pendidikan. SMP Negeri 1 Pegajahan ialah salah satu sekolah yang sedang dalam proses Guru-guru di sekolah ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan digitalisasi komunikasi mereka untuk menyelesaikan berbagai beban kerja administrasi secara digital. Hal ini penting untuk mendukung kelancaran proses belajar mengajar dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru dalam menyelesaikan beban kerja administrasi di SMP Negeri 1 Pegajahan. Dan tentunya merumuskan upaya-upaya yang dapat diterapkan untuk meningkatkan tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru dalam menyelesaikan beban kerja administrasi di SMP Negeri 1 Pegajahan. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberi saran juga kritik untuk pemangku kepentingan dalam usaha meningkatkan kemampuan digitalisasi komunikasi guru sehingga dapat menyelesaikan beban kerja administrasi dengan lebih efektif dan efisien. METODE PENELITIAN Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pendekatan kualitatif digunakan sebab memiliki tujuan guna memahami fenomena secara mendalam dan menyeluruh, serta untuk mendapatkan gambaran yang kaya dan kompleks tentang tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru dalam menyelesaikan beban kerja administrasi di SMP Negeri 1 Pegajahan. Desain penelitian ini adalah studi kasus tunggal. Peneliti akan fokus pada satu kasus, yaitu SMP Negeri 1 Pegajahan, untuk meneliti tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru dalam menyelesaikan beban kerja administrasi. Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini yakni melalui wawancara dengan kepala sekolah dan wakilnya, tata usaha, serta guru-guru di SMP Negeri 1 Pegajahan 333 | P a g e Ibrahim. D eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 untuk menggali informasi tentang tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi mereka dalam menyelesaikan beban kerja administrasi. Selanjutnya melakukan observasi di SMP Negeri 1 Pegajahan untuk mengamati bagaimana guru-guru menggunakan teknologi digital dalam menyelesaikan beban kerja administrasi. Dan tentunya tidak lupa mengumpulkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan beban kerja administrasi guru, seperti format administrasi, panduan penggunaan teknologi digital, dan lain sebagainya. Teknik analisis data yang dipakai pada penelitian ini adalah analisis tematik. Analisis tematik bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, serta menginterpretasikan polapola dan tema-tema yang terdapat pada data yang dikumpulkan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif tentang tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru di SMP Negeri 1 Pegajahan dalam menyelesaikan beban kerja Temuan penelitian ini juga mampu memberi rekomendasi guna meningkatkan kemampuan digitalisasi komunikasi guru dan meringankan beban kerja administrasi HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan digital guru di SMP Negeri 1 Pegajahan cukup baik, namun masih ada ruang untuk peningkatan. Pelatihan berkelanjutan dan peningkatan infrastruktur teknologi adalah kunci untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi digital dalam administrasi sekolah. Selain itu, dukungan dari pihak manajemen sekolah juga penting untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas penggunaan teknologi digital. Hal ini ditunjukkan dengan skor rata-rata tes kemampuan digitalisasi komunikasi sebesar 70% dari nilai maksimum 100. Berdasarkan kategori skor, terdapat 38,9% guru yang tergolong kurang mampu, 32,1% guru tergolong cukup mampu, dan 29% guru tergolong mampu. Dari keterlambatan para guru dalam memanfaatkan digitalisasi dalam menyelesaikan beban kerja karna terkendalam usia yang sudah menuah dan sarana yang kurang mendukung. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru dengan kelancaran guru dalam menyelesaikan beban kerja administrasi. Semakin tinggi tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru, semakin lancar guru dalam menyelesaikan beban kerja administrasi. Digitalisasi komunikasi telah menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan, termasuk di SMP Negeri 1 Pegajahan. Kemampuan guru dalam menggunakan teknologi digital untuk menyelesaikan beban kerja administrasi dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja. Kepala sekolah sebagai pemimpin di SMP Negeri 1 Pegajahan memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan digitalisasi komunikasi guru. Kepala sekolah dapat mengalokasikan anggaran untuk pelatihan dan pengembangan kompetensi digital guru. Pelatihan ini dapat berupa seminar, workshop, atau pelatihan online. Kepala sekolah dapat menyediakan infrastruktur teknologi digital yang memadai, seperti komputer, laptop, tablet, dan internet. Kepala sekolah juga dapat membuat kebijakan yang mendukung penggunaan teknologi digital di sekolah, seperti kebijakan penggunaan media sosial yang bertanggung jawab. Hal ini dapat memotivasi guru lain untuk meningkatkan kemampuan digitalisasi komunikasi mereka. Wakil kepala sekolah sebagai pembantu kepala sekolah dalam mengelola sekolah juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan digitalisasi komunikasi guru. Wakil kepala sekolah dapat membantu kepala sekolah dalam memilih materi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan guru, serta mencari narasumber yang kompeten. Wakil kepala 334 | P a g e Ibrahim. D eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 sekolah dapat melakukan observasi kelas, wawancara dengan guru, dan menganalisis data penggunaan teknologi digital di sekolah. Wakil kepala sekolah dapat menyediakan waktu konsultasi bagi guru yang membutuhkan bantuan. Tata usaha sebagai pengelola administrasi sekolah juga memiliki peran penting dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja melalui digitalisasi komunikasi. Tata usaha dapat menggunakan aplikasi digital untuk mengelola data siswa, data guru, data keuangan, dan data administrasi lainnya. Tata usaha dapat berkomunikasi dengan guru melalui email, chat online, atau aplikasi komunikasi lainnya. Tata usaha juga dapat menggunakan media sosial untuk mempublikasikan informasi tentang sekolah. Tata usaha dapat memberikan pelatihan kepada guru tentang cara menggunakan aplikasi digital untuk mengelola administrasi kelas dan berkomunikasi dengan siswa. Guru sebagai pengguna utama teknologi digital dalam menyelesaikan beban kerja administrasi memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan digitalisasi komunikasi mereka. Guru dapat mengikuti seminar, workshop, atau pelatihan online untuk meningkatkan kemampuan digitalisasi komunikasi mereka. Guru dapat mencari informasi di internet, buku, atau majalah. Mencari informasi tentang teknologi digital yang dapat membantu menyelesaikan beban kerja administrasi. Berbagi pengalaman dengan guru lain tentang penggunaan teknologi digital. Guru dapat saling berbagi tips dan trik tentang cara menggunakan teknologi digital untuk menyelesaikan beban kerja administrasi. Peningkatan kemampuan digitalisasi komunikasi guru dalam menyelesaikan beban kerja administrasi di SMP Negeri 1 Pegajahan membutuhkan komitmen dan kerjasama dari semua pihak, termasuk kepala sekolah, wakil kepala sekolah, tata usaha, dan guru terkait. Dengan meningkatkan kemampuan digitalisasi komunikasi, guru dapat bekerja lebih efisien dan efektif, sehingga dapat memberikan layanan pendidikan yang lebih berkualitas kepada Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru di SMP Negeri 1 Pegajahan memiliki tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi yang sedang. Hal ini menunjukkan bahwa guru masih membutuhkan pelatihan dan pengembangan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menggunakan teknologi digital untuk komunikasi dan menyelesaikan tugas administrasi. Kemampuan guru dalam menggunakan media komunikasi digital sangat penting untuk meningkatkan komunikasi dengan siswa, orang tua, dan rekan guru. Guru yang terampil menggunakan media komunikasi digital dapat menyampaikan informasi dengan lebih mudah dan cepat kepada stakeholders pendidikan. Kemampuan guru dalam menggunakan aplikasi administrasi sekolah juga penting untuk meningkatkan efisiensi dalam menyelesaikan tugas administrasi. Guru yang terampil menggunakan aplikasi administrasi sekolah dapat menghemat waktu dan tenaga dalam menyelesaikan tugas-tugas seperti membuat e-raport dan mengisi SIMPKB. Kemampuan guru dalam memecahan masalah dengan menggunakan teknologi digital juga penting untuk meningkatkan efektivitas dalam menyelesaikan tugas administrasi. Guru yang terampil dalam memecahan masalah dengan menggunakan teknologi digital dapat menemukan solusi yang lebih kreatif dan inovatif untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan tugas administrasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru dengan beban kerja administrasi. Guru dengan tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi yang lebih tinggi memiliki beban kerja administrasi yang lebih ringan. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan 335 | P a g e Ibrahim. D eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 digitalisasi komunikasi guru dapat membantu mengurangi beban kerja administrasi Di era digital, keterampilan belajar berbasis internet menjadi kemampuan dasar yang Hal ini mendorong pengembangan teknologi media pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif. Salah satu contohnya adalah media pembelajaran elektronik, seperti penggunaan komputer, untuk meningkatkan interaktivitas dalam proses belajar mengajar. (Ismail, et. al, 2. Peran guru pun mengalami pergeseran. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, tetapi bertugas sebagai fasilitator yang memandu dan menstimulus siswa untuk menggali pengetahuan dari berbagai sumber belajar yang melimpah di era digital, baik melalui website, media sosial, televisi, maupun media elektronik lainnya. Dengan paradigma baru ini, proses belajar mengajar menjadi lebih interaktif, menarik, dan berpusat pada siswa. Siswa didorong untuk aktif mencari informasi, mengolahnya, dan membangun pengetahuannya sendiri melalui berbagai aktivitas kreatif dan inovatif. Pembelajaran modern di era digital ini menuntut kesiapan dan adaptasi dari seluruh pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan, termasuk siswa, guru, orang tua, dan institusi Dengan kolaborasi dan sinergi yang solid, diharapkan transformasi pendidikan di era digital ini dapat menghasilkan generasi penerus yang kreatif, inovatif, dan mampu menjawab tantangan masa depan. (Izazi & Fudhla, 2. Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Memampuan Digitalisasi Komunikasi Guru Digitalisasi komunikasi telah menjadi tren penting dalam dunia pendidikan. Guru dituntut untuk dapat berkomunikasi secara efektif dengan siswa, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya menggunakan teknologi digital. Namun, tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru masih bervariasi. (Lestari, 2. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru seperti ketersediaan perangkat keras, perangkat lunak, dan koneksi internet yang memadai merupakan prasyarat utama bagi guru untuk dapat berkomunikasi secara digital. Kurangnya akses terhadap teknologi dapat menghambat kemampuan guru untuk memanfaatkan teknologi digital dalam komunikasi. Guru perlu memiliki keterampilan digital yang memadai untuk menggunakan teknologi digital dalam komunikasi. Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mengoperasikan perangkat keras dan perangkat lunak, menggunakan aplikasi komunikasi online, dan membuat konten digital yang menarik. Guru perlu memahami bagaimana menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Hal ini membutuhkan pengetahuan tentang pedagogi digital dan kemampuan untuk merancang kegiatan pembelajaran yang efektif yang memanfaatkan teknologi digital. Dukungan dari sekolah dan pemerintah dalam bentuk pelatihan, pendampingan, dan pengembangan sumber daya dapat membantu guru dalam meningkatkan kemampuan digitalisasi komunikasi mereka. Keinginan dan motivasi guru untuk belajar dan menggunakan teknologi digital juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi Guru yang memiliki motivasi tinggi akan lebih proaktif dalam mencari peluang untuk belajar dan meningkatkan kemampuan mereka. Selain faktor-faktor tersebut, masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi Kualitas sumber daya manusia adalah skill seseorang yang bekerja dengan pengetahun yang dimiliki dengan semaksimal mungkin, adanya pengalaman pribadi yang mampu 336 | P a g e Ibrahim. D eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 memberikan motivasi sehingga dapat bekerja secara baik guna meningkatkan tujuan dari organisasi serta dapat mempertanggungjawabkan apa yang telah dilaksanakan. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor tersebut secara lebih mendalam dan untuk mengembangkan strategi yang efektif untuk membantu guru meningkatkan kemampuan digitalisasi komunikasi mereka. (Rezeki Hasibuan et al. , 2. Digitalisasi sebagai Sarana Administrasi Agar penerapan teknologi di sekolah-sekolah efektif, diperlukan beberapa elemen pendukung, seperti guru yang terampil, infrastruktur yang memadai, dan kurikulum yang Meningkatkan infrastruktur merupakan langkah penting bagi institusi pendidikan yang ingin memperkuat fokus digitalisasi. Tujuannya adalah untuk memberikan pelayanan yang lebih optimal kepada para siswa. Infrastruktur tidak hanya mencakup aspek fisik seperti perangkat keras, jaringan, dan bangunan, tetapi juga aspek non-fisik seperti sistem kerja, aspirasi komunitas sekolah, dan struktur sosial budaya. (Wahyuni, 2. Institusi pendidikan dapat mengambil langkah proaktif untuk menyambut era digitalisasi dengan mempersiapkan beberapa hal penting. Pertama, membangun platform elearning yang menyediakan akses 24 jam kepada materi pembelajaran bagi para peserta Platform ini dapat menjadi sumber informasi yang kaya dan mudah dijangkau, memungkinkan fleksibilitas belajar dan mendorong kemandirian peserta didik. Kedua, mengembangkan sistem informasi sekolah terpadu. Sistem ini mencakup manajemen sekolah dan transparansi kegiatan harian, memberikan kemudahan bagi pimpinan dalam mengambil keputusan berdasarkan data yang akurat dan terkini. Sistem ini juga dapat meningkatkan akuntabilitas dan efektivitas operasional sekolah. Ketiga, melaksanakan pelatihan bagi seluruh civitas institusi pendidikan. Digitalisasi akan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar mengajar di masa depan. Oleh karena itu, pelatihan yang komprehensif sangat penting untuk memastikan seluruh civitas, termasuk guru dan staf, memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan media digital untuk menunjang proses pembelajaran yang efektif. Dengan persiapan yang matang, institusi pendidikan dapat memanfaatkan peluang yang ditawarkan digitalisasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memberikan pengalaman belajar yang lebih optimal bagi para peserta didik. (Hermawansyah, 2. Digitalisasi hadir sebagai solusi untuk meringankan beban administrasi di semua tingkatan organisasi sekolah. Penerapannya mengubah pola komunikasi informasi menjadi lebih jelas, transparan, dan terstruktur. Masing-masing individu di sekolah, baik guru, staf, maupun orang tua, dapat dengan mudah mengakses informasi yang mereka butuhkan. Selain itu, digitalisasi juga meningkatkan akuntabilitas pengelolaan informasi. Data administrasi yang tersimpan secara digital dapat dipertanggungjawabkan dengan mudah dan terstruktur. Hal ini tentunya meminimalisir risiko penyalahgunaan informasi dan meningkatkan kepercayaan terhadap sistem administrasi sekolah. (Visnhu Pradana & Mario Pratama, 2. Komunikasi antarpribadi dinilai paling efektif dalam kegiatan mengubah sikap, kepercayaan, opini dan perilaku komunikan. Alasannya karena komunikasi antarpribadi lebih banyak dilakukan secara tatap muka . ace to fac. Ketika komunikator menyampaikan pesan, umpan balik berlangsung ketika komunikator mengetahui pada saat itu juga bagaimana tanggapan komunikan terhadap pesan, ekspresi wajah, dan gaya bicara (Anjerini et al. , 2. Perilaku komunikasi seseorang yang dapat berubah karena dari faktor lingkungan, seperti keinginan untuk mendapat respond, memperoleh 337 | P a g e Ibrahim. D eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 pengalaman baru, mendapatkan pengakuan, serta keinginan akan rasa aman. (Nursin et al. Peningkatan komunikasi internal melalui platform kolaborasi dan komunikasi daring membawa dampak positif, seperti memperlancar pertukaran informasi dan ide antar staf Hal ini mendukung budaya kerja tim yang solid, meminimalisir hambatan komunikasi, dan meningkatkan koordinasi, yang merupakan faktor penting dalam meningkatkan efisiensi operasional sekolah. Pemberitahuan dan pengingat otomatis memastikan semua staf selalu terinformasi tentang kegiatan dan tugas yang harus diselesaikan, sehingga mencegah terlewatnya tenggat waktu atau informasi penting. Secara keseluruhan, integrasi teknologi telah membantu sekolah untuk lebih fokus pada misi utama mereka, yaitu memberikan pendidikan berkualitas. Selain itu, keterlibatan siswa, guru, dan orang tua dalam proses pendidikan pun semakin meningkat. (Abdurrachman et al. , 2. Beban Kerja Guru Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 75/7/2004, beban kerja didefinisikan sebagai jumlah target pekerjaan, hasil, ataupun keluaran yang harus diperoleh dan dihasilkan dalam kurun waktu tertentu. Penetapan target ini menjadi krusial dalam menentukan atau menghitung formasi pegawai, baik di sektor swasta maupun Target pekerjaan ini berasal dari program-program kerja yang kemudian diubah menjadi beban atau target kerja untuk setiap jabatan. Untuk menghitung kebutuhan pegawai, diperlukan beberapa tahapan, antara lain: Mengevaluasi analisis kinerja: Menelaah jabatan kinerja untuk memperoleh wawasan mengenai pekerjaan dan tanggung jawab yang dilakukan oleh pegawai dalam posisi Memperhitungkan persediaan pegawai: Menilai jumlah pegawai (SDM) yang dimiliki oleh suatu unit kerja dalam organisasi pada saat tertentu. Melakukan perhitungan kebutuhan pegawai: Melakukan kegiatan logis dan berkelanjutan untuk menentukan jumlah dan kualitas pegawai yang diperlukan sesuai dengan beban kerja yang telah ditetapkan. Menentukan kesesuaian antara jumlah staf yang ada dengan kebutuhan yang diperlukan: Memastikan bahwa jumlah pegawai yang tersedia sesuai dengan kebutuhan yang telah ditentukan. (Samudra, 2. Pencapaian kinerja yang optimal merupakan indikator kepuasan kerja yang diwujudkan dalam bentuk prestasi bagi seorang pegawai. Pegawai yang memiliki antusiasme tinggi terhadap pekerjaannya akan menunjukkan semangat kerja yang tinggi pula, karena hal tersebut merupakan refleksi dari keberhasilan kinerja mereka. Capaian tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung, akan memberi efek baik untuk efektivitas organisasi. (Latifah et al. , 2. Penilaian kinerja guru didasarkan pada penyelesaian tugas administrasi, terutama dalam hal kuantitas. Hal ini dikhawatirkan dapat menghambat inspirasi dan kreativitas guru karena padatnya tuntutan administrasi. Guru memiliki peran penting dalam membentuk generasi penerus yang berkualitas, dan tugas ini tidak dapat dicapai hanya dengan memenuhi target administratif. (Mustofa, 2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017, dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 15 Tahun 2018 mengatur beban kerja guru paling sedikit 24 jam secara langsung setiap seminggu dan paling banyak 40 jam secara langsung setiap seminggu. Namun, realitanya, pemenuhan beban kerja ini seringkali terkendala oleh kekurangan jumlah guru. Sebuah studi kasus oleh Arifah . 338 | P a g e Ibrahim. D eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 menunjukkan bahwa jika kebutuhan guru adalah 2,25 guru serta hanya tersedia 2 guru, beban mengajarnya akan menjadi 28 jam per minggu. Hal ini melebihi ketentuan maksimal 24 secara offline setiap seminggu. Di sisi lain, jika kebutuhan seorang tenaga pengajar ialah 2,8 guru dan disediakan 3 guru, beban kerjanya menjadi 22,4 jam setiap seminggu. Beban kerja ini masih di bawah ketentuan maksimal, namun dikhawatirkan akan memberatkan guru jika harus mengajar 22,4 jam per minggu secara konsisten. Solusi idealnya adalah dengan menyediakan jumlah guru yang sesuai dengan kebutuhan. Namun, hal ini terkendala oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan anggaran dan kurangnya minat untuk menjadi Kondisi ini menjadi dilema bagi sekolah dan guru. Jika kekurangan guru tidak diatasi, beban kerja guru akan terus meningkat dan berakibat pada kualitas pembelajaran. (Akmal et al. , 2. Seperti diungkapkan (Ervina, 2. Beban kerja yang berlebihan dapat menghambat kinerja guru dalam mencapai hasil optimal. Hal ini menunjukkan pentingnya perencanaan sumber daya manusia (SDM) yang efektif guna memastikan distribusi pekerjaan serta tanggung jawab yang seimbang. Kompensasi yang sesuai dengan beban kerja ialah salah satu aspek utama yang berkontribusi pada kinerja guru yang optimal. Guru yang merasa dihargai atas jerih payah mereka melalui kompensasi yang adil akan termotivasi untuk memberikan yang terbaik dalam proses pembelajaran. Di sisi lain, beban kerja yang terlalu berat dapat membebani guru dan berakibat pada penurunan kualitas mengajar. Penting bagi institusi pendidikan untuk menyeimbangkan beban kerja dengan kemampuan dan kapasitas guru agar mereka bisa bekerja secara efektif juga efisien. Dengan kata lain, keseimbangan antara kompensasi yang memadai dan beban kerja yang wajar merupakan kunci untuk mencapai kinerja guru yang optimal. (Mustofa, 2. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini mendeskripsikan bahwasannya sebagian besar guru mempunyai tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi yang sedang. Hal ini berarti bahwa guru masih perlu meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menyelesaikan beban kerja administrasi. Beberapa faktor yang memengaruhi tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru adalah usia, pendidikan, pelatihan, dan akses ke teknologi. Guru yang lebih muda, mempunyai pendidikan yang lebih tinggi, dan mengikuti pelatihan tentang digitalisasi komunikasi, serta memiliki akses ke teknologi yang lebih baik, cenderung memiliki tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi yang lebih tinggi. Dalam hal ini peneliti merekomendasikan beberapa langkah untuk meningkatkan tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru diantaranya. Memberikan pelatihan tentang digitalisasi komunikasi kepada guru. Pelatihan ini dapat membantu guru untuk mempelajari cara menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menyelesaikan beban kerja administrasi. Mempermudah akses guru ke teknologi. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan komputer dan internet di sekolah, serta memberikan pelatihan kepada guru tentang cara menggunakan teknologi tersebut. Mengembangkan kebijakan yang mendukung digitalisasi komunikasi di sekolah. Kebijakan ini dapat mencakup pengembangan standar untuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah, serta menyediakan pendanaan untuk pelatihan dan peralatan. 339 | P a g e Ibrahim. D eScience Humanity Journal 4 . May-nov 2024 Dengan meningkatkan tingkat kemampuan digitalisasi komunikasi guru, diharapkan dapat membantu guru untuk menyelesaikan beban kerja administrasi dengan lebih efisien dan efektif, sehingga mereka dapat lebih fokus pada tugas utamanya, yaitu mengajar. REFERENSI