Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Pelatihan Kreasi Konten Digital dengan Komunikasi melalui Tools Kecerdasan Artifisial Sri Winiarti*1. Dewi Soyusiawaty2. Rusydi Umar3. Herman Yuliansyah4 1,2,3,4 Fakultas Teknologi Industri. Universitas Ahmad Dahlan email: sri. winiarti@tif. Abstract In line with the Ministry of Primary and Secondary Education of the Republic of IndonesiaAos policy on the application of Artificial Intelligence (AI) in learning from elementary to high school levels, all schools must understand the implementation of AI in learning. The development of AI has provided new opportunities in supporting creativity and digital communication in learning. However, many teachers still find it difficult to interact effectively with AI devices to produce engaging learning content. This community service activity aims to improve teachersAo competence in communicating with AI devices through training on the theme of AuDigital Content Creation with Communication through Artificial Intelligence ToolsAy. The training was held on July 9, 2025, in Sleman Regency with 24 junior high school teachers participating. The methods used included knowledge transfer, hands-on practice with AI applications, teaching practice with AI applications using a Project-Based Learning (PjBL) approach, and evaluation of implementation. The training material covered the concept of AI in learning and how to communicate effectively with AI devices using effective prompts. This training activity improved teachersAo communication skills by 17. 4% . 4% to 86. 8%), demonstrating the effectiveness of the PjBL approach in strengthening teachersAo digital literacy and creativity. Keywords: artificial intelligence. digital communication. digital literacy. learning content. Abstrak Seiring dengan adanya kebijakan Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia terkait penerapan Kecerdasan Artifisial (KA) dalam pembelajaran jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), maka semua sekolah memerlukan adanya pemahaman terhadap pelaksanaan pembelajaran KA. Perkembangan KA telah memberikan peluang baru dalam mendukung kreativitas dan komunikasi digital dalam pelaksanaan pembelajaran. Namun, banyak guru masih kesulitan berinteraksi secara efektif dengan perangkat KA untuk menghasilkan konten pembelajaran yang meraik, khususnya untuk pembelajaran dengan model unplugged. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam berkomunikasi dengan perangkat KA melalui pelatihan bertema AuKreasi Konten Digital dengan Komunikasi melalui Tools Kecerdasan Artifisial. Ay Pelatihan dilaksanakan pada 9 Juli 2025 di Kabupaten Sleman dengan peserta sebanyak 24 guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Metode yang digunakan meliputi tranfer pengetahuan, praktik langsung Aplikasi KA, praktek mengajar dengan Aplikasi KA dengan pendekatan PjBL dan evaluasi Materi pelatihan berupa konsep KA dalam pembelajaran, cara berkomunikasi dengan perangkat KA yang efektif dengan menggunakan prompt yang efektif. Kegiatan pelatihan ini meningkatkan keterampilan komunikasi guru sebesar 17,4% . ari 69,4% menjadi 86,8%), menunjukkan efektivitas pendekatan PjBL dalam memperkuat literasi digital dan kreativitas guru. Kata Kunci: kecerdasan artifisial. komunikasi digital. konten pembelajaran. literasi digital. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi Kecerdasan artifisial (KA) telah mengubah cara manusia menghasilkan konten digital . Dalam https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 berkomunikasi dengan perangkat KA menjadi keterampilan baru yang perlu dimiliki guru agar mampu menciptakan media pembelajaran yang kreatif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik . Tantangan pembelajaran di era Society 5. menuntut guru memiliki kemampuan adaptif, inovatif, dan literat terhadap teknologi agar mampu menjawab perubahan zaman . Komunikasi dengan perangkat KA, seperti ChatGPT. DALLAE, atau Synthesia, tidak hanya sebatas penggunaan, tetapi juga melibatkan kemampuan menyusun prompt yang efektif agar KA dapat memberikan hasil sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, penguasaan teknik komunikasi dengan KA menjadi salah satu aspek penting dalam literasi digital abad ke-21 . Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar guru masih menghadapi tantangan dalam memanfaatkan dan berkomunikasi dengan perangkat KA secara optimal . Berdasarkan observasi dan wawancara awal dengan guru-guru SMP di Kabupaten Sleman, ditemukan bahwa banyak guru belum terbiasa menggunakan bahasa instruksional yang tepat dalam berinteraksi dengan KA. Akibatnya, hasil yang dihasilkan oleh perangkat KA sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan Meskipun banyak guru yang mengenali KA, namun hanya beberapa yang mengimplementasikannya dalam praktik pembelajaran mandiri . Selain itu, terbatasnya pelatihan yang berfokus pada prompt engineering dan penerapan komunikasi berbasis KA membuat guru kurang percaya diri dalam digital secara mandiri. Prompt engineering bukan hanya soal teknis, tetapi bagian dari literasi generative AI yang bermakna . Padahal, literasi generative AI yang efektif tidak hanya kemampuan teknologi, tetapi juga etika sosial dan inovasi supaya tidak ada kesenjangan digital dalam pembelajaran . Peningkatan kemampuan literasi digital guru memerlukan pendekatan yang terstruktur melalui pelatihan berbasis https://doi. org/10. 37859/jpumri. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 teknologi dan komunitas praktik yang berkelanjutan . Program pengabdian kepada masyarakat ini menjawab permasalahan tersebut dengan AuPelatihan Kreasi Konten Digital dengan Komunikasi melalui Tools Kecerdasan Artifisial. Ay Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru dalam berkomunikasi dengan kecerdasan KA dan menghasilkan konten pembelajaran digital yang inovatif . Melalui pendekatan PjBL dan peer teaching, peserta dilatih untuk menyusun prompt yang efektif, berkolaborasi dalam tim, dan menghasilkan video pembelajaran berdurasi pendek dengan bantuan perangkat KA seperti ChatGPT. Heygen. Synthesia, dan Pictory. Dengan demikian, kegiatan ini kemampuan guru dalam memanfaatkan komunikasi berbasis KA secara kreatif dan produktif guna mendukung transformasi pembelajaran di era digital. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pelatihan untuk mendukung pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) sebagai bentuk implementasi dari kebijakan Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. METODE PENELITIAN Kegiatan PkM ini dilaksanakan pada Rabu, 9 Juli 2025, bertempat di SMP Negeri 1. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 24 guru SMP yang berasal dari berbagai sekolah di wilayah Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan perangkat KA serta menggunakannya untuk menciptakan konten pembelajaran digital yang kreatif dan Metode partisipatif dengan model PjBL dan strategi peer teaching. Pendekatan ini dipilih agar peserta dapat belajar secara aktif dan kolaboratif melalui pengalaman langsung dalam berinteraksi dengan perangkat KA untuk menghasilkan media pembelajaran. PJBL terbukti efektif dalam membangun Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 kolaborasi, kreativitas, dan keterampilan pembelajaran berbasis teknologi . Kegiatan berfokus pada peningkatan kemampuan komunikasi guru dengan perangkat KA, terutama dalam menyusun prompt yang efektif dan kontekstual sesuai kebutuhan pembelajaran di kelas. Tahapan pelaksanaan kegiatan terdiri atas empat bagian utama: Tahap Persiapan Tim pelaksana menyiapkan materi pelatihan yang mencakup modul pelatihan Kreasi Konten Digital Berbasis KA. Panduan Umum Membuat Prompt KA, dan Panduan Pembuatan Video Edukasi dengan Tools KA. Pada tahap ini juga dilakukan koordinasi dengan mitra sekolah untuk menentukan peserta serta melakukan survei kebutuhan kompetensi digital guru. Tahap Pelaksanaan Pelatihan Kegiatan pelatihan diawali dengan pengenalan konsep dasar komunikasi dengan AI dan literasi digital. Peserta kemudian mempelajari cara menyusun prompt yang efektif sebagai bentuk komunikasi dengan sistem AI menggunakan ChatGPT. Setelah memahami konsep prompting, peserta berlatih membuat konten pembelajaran berupa teks, gambar, dan video dengan memanfaatkan berbagai tools AI seperti Synthesia. Heygen, dan Pictory. Tahap Peer Teaching dan Produksi Konten Peserta dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan tiga sampai empat orang untuk merancang dan menghasilkan proyek konten digital berbasis KA sesuai bidang pelajaran masing-masing. Setiap kelompok melakukan peer teaching dengan mempresentasikan hasil karya video pembelajaran berdurasi satu menit serta memberikan umpan balik terhadap kelompok lain. Tahap Evaluasi dan Refleksi Evaluasi kegiatan dilakukan melalui lembar observasi, analisis produk konten digital, dan refleksi peserta. Aspek yang dievaluasi meliputi kemampuan komunikasi dengan KA melalui penyusunan prompt, kemampuan teknis dalam penggunaan tools KA, dan kreativitas dalam menghasilkan konten pembelajaran. Berdasarkan hasil refleksi, mayoritas peserta menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan berkomunikasi dengan AI dan menghasilkan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan kurikulum. Luaran kegiatan ini berupa portofolio video pembelajaran AI hasil karya guru, panduan penyusunan prompt efektif, dan modul AuKreasi Konten Digital dengan Komunikasi melalui Tools Kecerdasan ArtifisialAy. Gambar 1 menunjukan tahapan pelaksanaan PkM dalam pelatihan KA bagi guru SMP di Sleman. Gambar 1. Metode pelaksanaan PkM https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Pelatihan Kegiatan pelatihan AuPelatihan Kreasi Konten Digital dengan Komunikasi melalui Tools Kecerdasan ArtifisialAy dilaksanakan pada hari Rabu, 9 Juli 2025 di Kabupaten Sleman dan diikuti oleh 24 guru SMP dari berbagai sekolah. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan antusias sejak sesi Berdasarkan berlangsung dengan dinamis, interaktif, dan menunjukkan peningkatan partisipasi pada p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 setiap tahap pelatihan. Pelaksanaan kegiatan mencakup tiga sesi utama, yaitu . pengenalan dasar komunikasi dengan kecerdasan artifisial dan penyusunan prompt, . praktik pembuatan konten pembelajaran digital dengan perangkat KA, serta . peer teaching dan presentasi hasil Sesi pertama, peserta diperkenalkan tentang konsep dengan komunikasi KA dan prinsip prompt. Materi meliputi perangkat KA seperti ChatGPT. Synthesia, dan Pictory. Penyampaian materi tentang perangkat KA ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2. Penyampaian materi perangkat KA (ChatGPT. Synthesia, dan Pictor. Setelah penyampaian materi, peserta diarahkan untuk melakukan praktik secara mandiri dengan bimbingan tim pelaksana Pada tahap ini, setiap peserta diminta menyusun prompt sederhana berdasarkan topik mata pelajaran masing-masing. Setelah tahap praktik selesai, peserta dibagi dalam kelompok kecil menjadi tiga hingga empat orang untuk melakukan peer teaching dan menampilkan video pembelajaran yang ditunjukkan pada Gambar 3. Seluruh kegiatan menggunakan pendekatan PJBL yang mendorong peserta untuk learning by Kegiatan pelatihan ini sejalan dengan pengabdian Anis dkk . dan Silmina dkk . yang menekankan pentingnya literasi digital melalui pelatihan langsung dan praktik Pendekatan tersebut mendorong partisipasi aktif peserta dan membantu memahami peran teknologi dalam proses Gambar 3. Peserta melakukan peer teaching dan menampilkan video https://doi. org/10. 37859/jpumri. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 Hasil Evaluasi Pretest dan Posttest tersebut disusun untuk menilai perubahan Untuk mengukur efektivitas pelatihan, kemampuan peserta dalam memahami konsep dilakukan pretest dan posttest dengan KA. Contoh soal pretest dan posttest instrumen yang terdiri dari tujuh soal pilihan ditunjukkan pada Tabel 1. ganda dan tiga soal esai pendek. Soal Tabel 1. Contoh soal Pretest dan Posttest Jenis Contoh Soal Pretest 1. Apa yang dimaksud dengan Artificial Intelligence (AI) dalam konteks Tujuan utama penggunaan AI dalam pembelajaran adalah . Posttest 1. Apa tujuan utama dari pembelajaran AuKoding ArtifisialAy dalam konteks Model pembelajaran yang digunakan dalam pelatihan ini adalah . Pretest dilaksanakan sebelum kegiatan seluruh sesi pelatihan berakhir. Hasil capaian dimulai untuk mengetahui pengetahuan awal peserta pada setiap sesi pelatihan dirangkum peserta, sedangkan posttest diberikan setelah dalam Tabel 2 berikut. Tabel 2. Hasil Pretest dan Posttest Aspek Rata-rata Pretest Rata-rata Posttest Pemahaman konsep dasar AI Penyusunan prompt efektif Penerapan tools AI dalam konten pembelajaran Kemampuan kolaborasi dan refleksi Rata-rata keseluruhan Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui hasil analisis terhadap data hasil pretest dan posttest para peserta pelatihan. Hasilnya signifikan dalam kompetensi peserta setelah mengikuti pelatihan. Secara keseluruhan, rata-rata nilai peserta meningkat sebesar 17,4%, dari 69,4% pada pretest menjadi 86,8% pada posttest. Peningkatan terbesar tercatat pada aspek kemampuan kolaborasi dan refleksi, dengan kenaikan 22,9%, yang menunjukkan bahwa peserta semakin efektif bekerja dalam tim dan merefleksikan hasil karya mereka dalam sesi peer teaching. Aspek penyusunan prompt efektif juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 21,7%, menunjukkan bahwa pelatihan berhasil mengajarkan peserta cara menyusun instruksi yang tepat untuk mendapatkan hasil optimal dari perangkat KA. Meskipun peningkatan pada penerapan perangkat KA dalam konten pembelajaran tercatat lebih rendah, yaitu sebesar 10,6%, hal ini tetap memanfaatkan perangkat KA untuk membuat konten yang relevan dan bermanfaat bagi Pola peningkatan yang serupa juga dilaporkan oleh Aulianita dkk . , di mana hasil pretest dan posttest menunjukkan kenaikan 75% terhadap pemahaman peserta terkait penggunaan ChatGPT sebagai alat bantu pembelajaran Dari segi gain score, setiap aspek menunjukkan perubahan positif yang signifikan, dengan pemahaman konsep dasar KA mengalami peningkatan sebesar 16,8%. Secara keseluruhan, gain score yang signifikan ini mengindikasikan bahwa PJBL dan peer teaching sangat efektif dalam meningkatkan kompetensi digital dan literasi KA peserta. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut berhasil meningkatkan menggunakan KA, khususnya dalam konteks Ke depan, fokus lebih besar pada latihan penyusunan prompt dan penggunaan perangkat KA serta penambahan sesi refleksi dapat lebih mengoptimalkan peningkatan https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 kompetensi peserta dalam pelatihan serupa. Peningkatan kemampuan komunikasi dengan KA menunjukkan bahwa proses belajar berbasis proyek memungkinkan guru untuk learning by doing belajar melalui eksplorasi dan interaksi langsung dengan teknologi pembelajaran, sejalan dengan pandangan . bahwa pelatihan berbasis praktik dapat meningkatkan kompetensi digital dan kreativitas guru. Dengan memahami prinsip dasar mengendalikan arah keluaran KA sesuai konteks pembelajaran yang diinginkan . Temuan ini memperkuat gagasan bahwa literasi digital di era KA tidak hanya mencakup keterampilan teknis, tetapi juga berkomunikasi secara efektif dengan sistem cerdas untuk menghasilkan solusi kreatif . Hasil Peningkatan Kompetensi Peserta Kegiatan ini menghasilkan beberapa luaran konkret sebagai berikut: Portofolio video pembelajaran berbasis KA, yang dikembangkan oleh seluruh Panduan penyusunan prompt efektif untuk guru, disusun berdasarkan praktik terbaik selama pelatihan. Modul pelatihan AuKreasi Konten Digital dengan Komunikasi melalui Tools Kecerdasan ArtifisialAy, yang dapat digunakan secara mandiri atau untuk pelatihan lanjutan di sekolah. Luaran tersebut tidak hanya bersifat dokumentatif, tetapi juga aplikatif karena dapat digunakan langsung dalam kegiatan belajar mengajar maupun pengembangan Hasil menunjukkan bahwa pengembangan media mendorong inovasi dalam desain dan penyajian materi ajar . Hasil ini sejalan dengan Costaner dkk . , dimana pelatihan https://doi. org/10. 37859/jpumri. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 berbasis proyek mendorong peserta untuk belajar eksplorasi dan kolaborasi, sehingga menghasilkan produk teknologi sederhana dengan konteks pendidikan. Dampak dan Keberlanjutan Program Berdasarkan hasil refleksi, mayoritas peserta menyatakan minat untuk melanjutkan praktik pembuatan konten KA secara mandiri dan membentuk komunitas berbagi praktik baik di tingkat Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Hal ini menunjukkan potensi keberlanjutan program dalam jangka Rencana tindak lanjut yang disepakati meliputi: Pembuatan kelas berbagi daring untuk communication for teaching. Pengembangan jejaring guru kreator konten digital berbasis KA di Sleman. Integrasi materi prompt engineering dalam berkelanjutan (PKB) guru. Kegiatan ini tidak berhenti pada satu kali pelatihan, tetapi menjadi titik awal bagi lahirnya ekosistem pembelajaran berbasis KA di kalangan guru SMP. Pelatihan ini telah berhasil memupuk kemampuan komunikasi digital guru dan menumbuhkan budaya kolaboratif antara pendidik dan teknologi kecerdasan artifisial dalam mendukung inovasi pembelajaran abad ke-21. Pendekatan keberlanjutan program ini juga relevan dengan hasil pengabdian yang dilakukan oleh Wahyuni dkk. yang menekankan pentingnya tindak lanjut berupa proyek kolaboratif setelah kegiatan pelatihan. Pendekatan berbasis proyek dan komunikasi dengan KA terbukti efektif meningkatkan literasi digital guru serta menumbuhkan memanfaatkan kecerdasan artifisial sebagai mitra kolaboratif dalam pembelajaran . Gambar 4 menunjukkan hasil visualisasi dari evaluasi pelatihan KA yang telah diberikan dengan mengacu data pada Tabel 2. p-ISSN : 2550-0198 e-ISSN : 2745-3782 Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 Gambar 4. Visualisasi data evaluasi peserta pelatihan metode Pretest dan Posttest Dari Gambar menyusun prompt efektif, berinteraksi menunjukkan perbandingan antara skor dengan perangkat KA, dan memproduksi pretest dan posttest untuk masing-masing video pembelajaran yang menarik dan relevan aspek, serta perubahan skor . alam perse. dengan kebutuhan kurikulum. setelah pelatihan. Setiap bar horizontal Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan mewakili skor untuk pretest dan posttest, signifikan pada pemahaman guru mengenai dengan penambahan teks di sebelah kanan konsep komunikasi dengan KA, keterampilan menunjukkan peningkatan skor untuk setiap teknis dalam pembuatan konten digital, serta Sebelum kegiatan pelatihan kepercayaan diri untuk menerapkan teknologi dilakukan, kemampuan peserta masih KA dalam pembelajaran. Program ini juga terbatas, pemahaman konsep dasar KA menghasilkan beberapa luaran penting, yaitu masih kurang, peserta belum dapat portofolio video pembelajaran berbasis KA, menyusun prompt dengan baik sehingga panduan penyusunan prompt efektif, dan output yang diinginkan tidak maksimal, modul pelatihan yang dapat digunakan untuk peserta juga belum pernah menggunakan tools KA untuk membuat video. Pemahaman konsep dasar KA pada peserta Berdasarkan hasil pelatihan ini, beberapa bertambah, peserta paham dan dapat saran dapat diterapkan untuk meningkatkan menulis prompt yang lengkap dan juga dapat efektivitas pelatihan di masa mendatang. membuat video dengan tools KA setelah Pertama, fokus pada latihan penyusunan pelatihan dilaksanakan. Grafik ini prompt yang lebih mendalam perlu diberikan, memberikan gambaran visual yang jelas dengan memperluas materi tentang teknik mengenai seberapa besar peningkatan lanjutan dalam menyusun prompt yang kompetensi peserta di berbagai aspek dalam kompleks dan relevan dengan berbagai pelatihan yang telah dilaksanakan. konteks pembelajaran. Penambahan studi kasus berbasis disiplin ilmu tertentu akan SIMPULAN membantu peserta mengadaptasi teknik ini sesuai dengan kebutuhan kurikulum mereka. Kegiatan AuPelatihan Kreasi Konten Selain itu, meskipun pelatihan telah Digital dengan Komunikasi melalui Tools KA. Kecerdasan ArtifisialAy meningkatkan kemampuan guru SMP di dapat diperkenalkan untuk memberikan Kabupaten Sleman dalam berkomunikasi pengalaman yang lebih luas. Selanjutnya, sesi dengan sistem KA dan menghasilkan konten peer teaching dapat diperkuat dengan pembelajaran digital yang kreatif. Melalui memberikan lebih banyak waktu bagi peserta pendekatan PjBL dan peer teaching, peserta untuk berdiskusi dan berkolaborasi dalam memperoleh pengalaman langsung dalam https://doi. org/10. 37859/jpumri. Jurnal Pengabdian Untuk Mu NegeRI Vol. 9 No. November 2025 kelompok kecil, sehingga mereka bisa saling memberikan umpan balik dan mengatasi tantangan bersama. Selain itu, untuk disarankan untuk melakukan evaluasi berkala pasca pelatihan, seperti Focus Group Discussion (FGD) lanjutan atau kelas menghadapi tantangan dalam penerapan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial di sekolah. Terakhir, memberikan akses ke sumber belajar mandiri seperti modul pelatihan digital atau tutorial online akan sangat berguna, memungkinkan peserta untuk terus belajar secara mandiri setelah pelatihan dan mengatasi hambatan di masa mendatang dapat lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi guru dalam menggunakan KA untuk pembelajaran yang lebih inovatif dan adaptif. DAFTAR PUSTAKA