P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KURIKULUM 2013 IMPLEMENTATION OF CHARACTER EDUCATION IN THE 2013 CURRICULUM Anggi Afrina Rambe1. Regita Ayu Dwietama2. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja3. Endis Firdaus4. Rini Rahman5. Edi Suresman6 1,2,3,4,6 Universitas Pendidikan Indonesia. Jl. Dr. Setiabudi No. Isola. Kec. Sukasari. Kota Bandung. Indonesia Universitas Negeri Padang. Jl. Prof. Dr. Hamka. Air Tawar Barat. Kec. Padang Utara. Kota Padang. Indonesia e-mail: anggirambe22@upi. ABSTRACT This study aims to analyze the implementation of character education in Curriculum 2013 at SDN 16 Rantau Utara. The importance of character education in forming a young generation that is not only academically intelligent but also has strong moral values. This research uses a qualitative case study method, with data collection using observation, interviews and document analysis to collect data from teachers and learners. The results show that character education is integrated into various subjects, focusing on teaching moral values through active learning methods. Although there are challenges in character assessment and evaluation, many teachers strive to overcome these problems by applying innovative methods. Therefore, the implementation of character education in Curriculum 2013 has shown significant progress, but it still needs improvement in terms of the assessment system in order to objectively measure students' character Thus, character education in Curriculum 2013 is expected to be more effective in creating students who excel academically and have good character. Keywords: Implementation. Character Education. Curriculum 2013 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 di SDN 16 Rantau Utara. Pentingnya pendidikan karakter dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki nilai-nilai moral yang kuat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus, dengan pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan analisis dokumen untuk mengumpulkan data dari guru dan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran, dengan fokus pada pengajaran nilai-nilai moral melalui metode pembelajaran aktif. Meskipun terdapat tantangan dalam penilaian dan evaluasi karakter, banyak guru berupaya untuk mengatasi masalah ini dengan menerapkan metode yang inovatif. Oleh karena itu, implementasi pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 telah menunjukkan kemajuan yang signifikan, namun masih perlu perbaikan dalam hal sistem penilaian agar dapat mengukur perkembangan karakter siswa secara objektif. Dengan demikian, pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 diharapkan dapat lebih efektif dalam menciptakan peserta didik yang berprestasi akademis dan memiliki karakter yang baik. Kata Kunci: Implementasi. Pendidikan Karakter. Kurikulum 2013 FIRST RECEIVED: 15 February 2024 REVISED: 19 October 2024 ACCEPTED: 19 October 2024 PUBLISHED: 31 October 2024 pada ilmu, namun juga sebagau pencegahan dari degradasi moral yang kian marak di masyarakat (Birhan et al. , 2021. Wang et al. Hal ini menjadi patokan bagi pendidikan dalam mengembangkan proses pembelajaran yang dituju bukan sekedar PENDAHULUAN Dunia pendidikan memegang peranan penting pada pembetukan karakter peserta didik, hal ini juga menunjukkan perihal perkembangan karakter yang di dominasi pada konsep pendidikan tidak sekedar validasi Anggi Afrina Rambe. Regita Ayu Dwietama. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Endis Firdaus. Rini Rahman. Edi Suresman: Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 kognitif saja, namun juga pada aspek perilaku yang harus diperhatikan dan hal ini menunjukkan pada pendidikan karakter. Pendidikan karakter telah menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan di Indonesia, terutama dengan diterapkannya Kurikulum 2013 (Islam, 2. Kurikulum ini tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang diharapkan dapat membentuk peserta didik menjadi individu yang memiliki integritas, disiplin, dan kepedulian sosial (Mulyasa, 2. Dalam konteks ini, implementasi pendidikan karakter diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki sikap dan perilaku yang positif. Terkait dengan hal itu, degradasi mencakup pada etika dan moral pada peserta didik yang menjadi perhatian bagi dunia pendidikan, hal ini juga menjadi sorotan dalam pendidikan yang harus menanamkan pendidikan karakter sebagai upaya dalam menghidupi sebuah Pendidikan harus dapat sebagaimana yang tercantum dalam undangundang Nomor 20 tahun 2003 mengenai tujuan pendidikan. AuPendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter peserta didik serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandirii, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ay (Wakhidah and Erman Pike et al. Berdasarkan dengan tujuan pendidikan nasional di Indonesia membuka kaca mata P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 pada pendidikan bahwa karakter peserta didik juga menjadi tanggung jawab terhadap dunia pendidikan dan keluarga (Jang et al. , 2. Mengenai problematika pada pendidikan karakter juga masih banyak terjadi di kalangan peserta didik antara lain krisisnya etika dan moral mengenai kekerasan yang dilakukan oleh peserta didik yang duduk dibangku sekolah menengah pertama yang menganiaya adik kelasnya, mirisnya aksi tersebut yang sering dilakukan oleh senior kepada juniornya sebagai perilaku bullying dan perundungan . hin and Ayaz-Alkaya Son. Ahn, and Kim 2. Dan hal ini juga dapat menjadi kebiasaan jika tidak diperhatikan lenih lanjut pada lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah, maka disini karakter yang ditanamkan dalam kurikulum (Kidd et al. Rokhman et al. , 2014. Zguir et al. Kemudian implementasi pendidikan karakter sering kali muncul, seperti ketidakpahaman guru mengenai konsep karakter yang harus diajarkan, metode pembelajaran yang kurang variatif, serta sistem penilaian yang tidak Di beberapa sekolah dasar, kasus bullying masih menjadi masalah serius yang menghambat pendidikan karakter. Rosmana et al. , . menjelaskan mengenai pengamatan yang menunjukkan bahwa meskipun program pendidikan karakter telah diterapkan, banyak peserta didik yang masih merasa takut dan tertekan karena adanya tindakan bullying di antara teman sebaya. Ini pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui kurikulum, tetapi juga memerlukan penanganan langsung terhadap isu-isu sosial yang terjadi di lingkungan sekolah. Anggi Afrina Rambe. Regita Ayu Dwietama. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Endis Firdaus. Rini Rahman. Edi Suresman: Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 Namun beberapa sekolah dasar lainnya juga membuat program untuk meningkatkan karakter peserta didik untuk lebih baik, terdapat program khusus yang disebut "Program Karakter" (D. Nugraha & Hasanah, 2. Sekolah ini menerapkan pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam setiap pelajaran yaitu dalam pelajaran matematika, siswa diajarkan untuk bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah, sehingga dapat mengembangkan sikap kerjasama dan saling Namun, tantangan muncul karena tidak semua guru memiliki pemahaman yang sama tentang nilai-nilai karakter yang harus diajarkan. Hal ini menyebabkan ketidakkonsistenan dalam pengajaran karakter di kelas (Dwiputri & Anggraeni, 2. Kemudian juga membuat program kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka dan olahraga dioptimalkan untuk mendukung pendidikan karakter. Dalam kegiatan Pramuka, peserta didik diajarkan tentang kepemimpinan, disiplin, dan kerja Meski demikian, beberapa peserta didik menunjukkan minat yang rendah terhadap kegiatan ini karena kurangnya variasi dalam jenis kegiatan yang ditawarkan. Ini mengindikasikan perlunya evaluasi dan inovasi dalam program ekstrakurikuler agar lebih menarik dan relevan dengan minat siswa (Dahaluddin et al. , 2022. Prasetya, 2. Dalam kajian pendidikan karakter, beberapa penelitian menunjukkan bahwa integrasi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter peserta Misalnya, penelitian oleh Nugraha & Hasanah . menunjukkan bahwa metode meningkatkan kesadaran peserta didik akan P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 nilai-nilai karakter seperti kerjasama dan tanggung jawab. Sementara itu, studi oleh Fitrianingtyas Jumiatmoko menemukan bahwa refleksi diri siswa berkontribusi pada peningkatan kesadaran Di sisi lain, tantangan dalam evaluasi pendidikan karakter juga telah diidentifikasi dalam berbagai studi. Penelitian oleh Kurniawati et al. , . menyebutkan bahwa penilaian karakter masih cenderung bersifat subjektif dan tidak terintegrasi dengan baik dalam sistem penilaian akademik, sehingga perkembangan karakter peserta didik secara Di SDN 16 Rantau Utara, terdapat menyelenggarakan pendidikan karakter yang lebih terstruktur. Meskipun sekolah telah mengimplementasikan Kurikulum 2013, praktik pendidikan karakter yang dilakukan masih kurang optimal. Misalnya, banyak guru yang belum sepenuhnya memahami konsep pendidikan karakter, sehingga pengajaran nilai-nilai moral sering kali dilakukan secara terpisah dari mata pelajaran lainnya. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler yang seharusnya menjadi sarana pengembangan karakter juga kurang variatif dan terencana (Narimo et al. Wekke & Astuti, 2. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diidentifikasi solusi konkret untuk karakter di SDN 16 Rantau Utara, seperti pengembangan program pelatihan bagi guru, integrasi nilai karakter dalam pembelajaran, dan penyusunan sistem penilaian yang lebih Dengan demikian, diharapkan peserta didik tidak hanya meraih prestasi akademik, tetapi juga menjadi individu yang memiliki Anggi Afrina Rambe. Regita Ayu Dwietama. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Endis Firdaus. Rini Rahman. Edi Suresman: Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 karakter baik dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Berdasarkan hal tersebut, pendidikan karakter menjadi hal yang krusial pada dunia pendidikan untuk menumbuhkan generasi yang lebih baik lagi, namun penelitian ini implementasi pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 di SDN 16 Rantau Utara, dan apa saja tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut? Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai karakter diintegrasikan dalam pembelajaran sehari-hari perkembangan karakter peserta didik. P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 penelitian, misalnya RPP, modul. SKL dan KI. Kemudian setelah dilakukan pengambilan data dan dilanjutkan pada menganalisis hasil penelitian menggunakan analisis interaktif yang dilakukan dengan empat tahapan yaitu reduksi, penyajian, verifikasi dan penarikan kesimpulan (Huberman & Miles, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan melalui observasi, wawancara serta dokumentasi mengenai implementasi pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 dilaksanakan untuk memberikan pendidikan karakter pada peserta didik, diantaranya yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, sebagaimana rincian penjelasan Perencanaan Pada tahapan ini secara umum yang dilakukan oleh guru di SDN 16 Rantau Utara. Sumatera Utara bahwa pentingnya untuk menyiapkan sebuah rencana pelaksanaan Dalam konteks pendidikan karakter. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan dokumen yang sangat Dalam penelitian ini, semua guru yang diwawancarai mengonfirmasi bahwa mereka telah menyusun RPP dengan cermat. RPP tersebut tidak hanya mencakup aspek akademis, tetapi juga secara eksplisit menyoroti tujuan pendidikan karakter. Hal ini berarti bahwa setiap pelajaran yang diajarkan di kelas diharapkan dapat mengembangkan nilai-nilai karakter yang menjadi dasar bagi perkembangan moral dan sosial peserta didik (Nugraha, 2. Para guru juga mengintegrasikan nilainilai seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerja sama ke dalam setiap mata METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan studi lapangan dengan menggunakan teknik wawancara, dan dokumentasi. Sehingga penelitian ini menggunakan metode kualitatif mengeksplorasi fenomena tertentu secara mendalam dan terperinci dalam konteks kehidupan nyata (Fadli, 2021. Yusanto. Kemudian dalam penelitian ini juga mendeskripsikan sesuatu dengan rinci dan memerlukan data dan informasi secara jelas dan konsisten dengan pendekatan kualitatif (Jyrgens et al. , 2023. Lorenz et al. , 2. Selanjutnya menggunakan teknik pengumpulan data dokumentasi pada empat orang guru yang telah menerapkan pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013 pada Sekolah Dasar Negeri 16 Rantau Utara di Sumatera. Indonesia. Kemudian untuk dokumen pada penelitian pembelajaran seperti, pedoman pembelajaran dan dokumen yang berkaitan dengan Anggi Afrina Rambe. Regita Ayu Dwietama. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Endis Firdaus. Rini Rahman. Edi Suresman: Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 Misalnya, dalam pelajaran PAI, seorang guru mungkin menggunakan ceritacerita dari Al-Qur'an atau Hadis yang mengajarkan tentang kejujuran dan tanggung Melalui cerita tersebut, peserta didik tidak hanya diajarkan tentang nilai-nilai karakter, tetapi juga dilatih untuk memahami nilai-nilai kehidupan sehari-hari. Selain itu, guru PAI juga dapat memberikan tugas yang mendorong peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompok, seperti menyusun presentasi mengenai nilai-nilai Islam, sehingga mereka belajar tentang pentingnya kerja sama. Dengan cara ini, pendidikan karakter tidak dipisahkan dari proses belajar mengajar, tetapi menjadi bagian yang melekat dalam setiap kegiatan pembelajaran. Hal ini memahami dan menerapkan nilai-nilai karakter dalam konteks yang relevan dengan kehidupan mereka, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki karakter yang baik sesuai dengan ajaran Selain perencanaan melalui RPP, pelatihan dan sosialisasi bagi para guru juga implementasi pendidikan karakter. Sebagian besar guru di SD Negeri 16 Rantau Utara melaporkan bahwa mereka telah mengikuti pelatihan yang berfokus pada Kurikulum 2013 dan penerapan pendidikan karakter. Pelatihan ini bertujuan untuk membekali guru dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengajarkan karakter dengan efektif. Meskipun demikian, ada kesadaran di kalangan guru bahwa pelatihan yang telah diikuti masih perlu ditindaklanjuti dengan lebih banyak sosialisasi dan diskusi mengenai P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 praktik terbaik dalam pengajaran karakter. Beberapa guru merasa bahwa pengalaman berbagi di antara mereka sangat berharga, karena setiap guru mungkin memiliki pendekatan yang berbeda dan inovatif dalam mengajarkan nilai-nilai karakter. Dengan adanya forum diskusi atau kelompok belajar, guru dapat saling bertukar ide, strategi, dan tantangan yang mereka hadapi dalam mengimplementasikan pendidikan karakter. Hal tidak hanya pemahaman mereka tetapi juga menciptakan menerapkan pendidikan karakter secara efektif di kelas. Secara keseluruhan, perencanaan pendidikan karakter di sekolah SDN 16 Rantau Utara menunjukkan upaya yang terstruktur dan komprehensif. RPP yang dirancang dengan baik dan dukungan pelatihan yang memadai adalah langkah awal yang penting untuk memastikan bahwa pendidikan karakter dapat terintegrasi dengan baik dalam Kurikulum 2013, sehingga dapat mempersiapkan siswa menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang baik. Pelaksanaan Pelaksanaan pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 adalah langkah krusial untuk membentuk sikap dan perilaku positif Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi tambahan dalam proses belajar, tetapi diintegrasikan ke dalam semua aspek Dalam pendidikan karakter terdapat nilai-nilai yang ditekankan pada kurikulum 2013 yaitu religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu yang tinggi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, serta menghargai prestasi. Anggi Afrina Rambe. Regita Ayu Dwietama. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Endis Firdaus. Rini Rahman. Edi Suresman: Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 bersahabat/komunikatif, cinta damai, senang membaca, peduli sosial, peduli lingkungan dan tanggung jawab sebagi upaya dalam mengatasi degradasi moral pada peserta didik (Lailia Rahman et al. , 2021. Parker, 2. Salah satu metode utama yang digunakan dalam pelaksanaan pendidikan karakter adalah integrasi nilai-nilai karakter ke dalam berbagai mata pelajaran. Guru berusaha mengaitkan materi pelajaran dengan karakter yang relevan. Sebagai contoh, dalam pelajaran PAI yang membahas kisah para nabi, guru tidak hanya menyampaikan cerita tentang kehidupan nabi-nabi, tetapi juga menekankan nilai-nilai yang terkandung dalam kisah-kisah tersebut, seperti kejujuran, keadilan, dan kasih sayang. Guru mengajak siswa untuk merenungkan bagaimana nilainilai ini dapat diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik dalam berinteraksi dengan teman, keluarga, maupun masyarakat. Dengan pendekatan ini, peserta didik diajarkan untuk tidak hanya memahami ajaran agama secara teoritis, tetapi juga untuk menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam perilaku sehari-hari. Hal ini penting agar peserta didik tidak hanya menjadi pribadi yang paham agama, tetapi juga memiliki karakter yang baik dan mampu berkontribusi positif bagi lingkungan sosial Melalui integrasi nilai-nilai karakter dalam pelajaran PAI, siswa diharapkan dapat mengembangkan jiwa religius sekaligus memiliki komitmen yang kuat terhadap etika dan moral dalam menjalani kehidupan. Selain pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler juga memainkan peran penting dalam pengembangan karakter peserta Kegiatan seperti Pramuka, kegiatan sosial, dan olahraga dirancang untuk membangun nilai-nilai karakter secara praktis. Misalnya, dalam kegiatan Pramuka, peserta P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 didik diajarkan untuk saling membantu dan bekerja sama dalam tim. Kegiatan sosial seperti bakti sosial mengajarkan peserta didik untuk peduli dan berkontribusi kepada masyarakat, sementara olahraga mengajarkan mereka tentang disiplin dan semangat kompetisi yang sehat. Semua kegiatan ini mendukung peserta didik untuk belajar bekerja sama, bertanggung jawab atas tindakan mereka, dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Meskipun telah dilakukan banyak pendidikan karakter, tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa guru masih menghadapi tantangan dalam pelaksanaannya. Salah satu tantangan utama adalah konsistensi dalam penerapan pendidikan karakter di seluruh Beberapa guru merasa kesulitan dalam mengelola kelas yang beragam dan menjaga fokus peserta didik pada nilai-nilai karakter yang diajarkan, terutama ketika waktu pembelajaran terbatas. Dengan pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 melibatkan berbagai metode yang saling pengembangan karakter siswa. Namun, meskipun masih banyak tantangan yang dihadapi juga penting untuk terus mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi agar implementasi pendidikan karakter dapat berjalan lebih efektif dan berdampak positif pada perkembangan peserta didik. Evaluasi Evaluasi pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 menghadapi berbagai tantangan yang perlu dicermati. Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting yang menjadi fokus dalam evaluasi ini (Fitrianingtyas & Jumiatmoko, 2. , pertama, metode penilaian yang Anggi Afrina Rambe. Regita Ayu Dwietama. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Endis Firdaus. Rini Rahman. Edi Suresman: Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 beragam yaitu dalam pelaksanaan evaluasi pendidikan karakter, guru menggunakan beragam metode penilaian. Diantara metode tersebut, beberapa guru memilih penilaian sikap dan perilaku peserta didik. Ini melibatkan pengamatan langsung oleh guru terhadap interaksi peserta didik di kelas dan dalam kegiatan lainnya, penilaian diri yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri, serta penilaian antar teman. Misalnya, seorang guru dapat mengamati bagaimana peserta didik bersikap selama diskusi kelompok, atau seorang peserta didik dapat menilai sejauh mana temannya menunjukkan sikap kerjasama. Namun, metode penilaian ini sering kali memiliki sifat yang subyektif. Artinya, penilaian yang diberikan oleh guru atau teman dapat dipengaruhi oleh pandangan pribadi mereka terhadap peserta didik lain. Selain itu, kurangnya standar yang jelas dalam penilaian ini membuatnya sulit untuk dibandingkan antar peserta didik atau antar kelas. Dengan kata lain, meskipun ada beragam metode penilaian yang diterapkan, keobjektifan dan konsistensi dalam evaluasi karakter masih menjadi masalah. Kemudian yang kedua, kesulitan dalam pengukuran yaitu banyak guru juga mengungkapkan kesulitan dalam mengukur perkembangan karakter Banyak guru juga mengungkapkan kesulitan dalam mengukur perkembangan karakter peserta didik secara Sering kali, penilaian karakter bersifat kualitatif, yang mengandalkan deskripsi dan penilaian subjektif, daripada kuantitatif yang lebih terukur. Misalnya, guru mungkin mencatat bahwa seorang peserta didik menunjukkan sikap baik, tetapi tidak ada cara yang jelas untuk mengukur seberapa besar sikap tersebut berkembang dari waktu ke waktu. Hal ini menyulitkan guru untuk P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 memberikan umpan balik yang konkret kepada peserta didik dan orang tua mengenai kemajuan karakter peserta didik. Selain itu, penilaian karakter yang tidak terintegrasi dengan baik dalam sistem penilaian akademik yang ada juga mengakibatkan kurangnya perhatian pada aspek ini. Selanjutnya yang ketiga pentingnya refleksi. Dalam penelitian ini, ditemukan pula bahwa refleksi diri peserta didik terhadap perilaku dan sikap mereka sendiri berperan penting dalam proses Refleksi diri ini melibatkan peserta didik untuk berpikir kritis tentang tindakan mereka, bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain, dan nilai-nilai yang mereka anut. Peserta didik yang terlibat dalam proses refleksi ini cenderung menjadi lebih sadar akan perkembangan karakter mereka. Misalnya, setelah melakukan aktivitas kelompok, peserta didik dapat diminta untuk menulis jurnal atau berdiskusi tentang apa yang mereka pelajari mengenai kerja sama dan sikap saling menghargai. Dengan melibatkan siswa dalam refleksi, mereka menjadi lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka dan termotivasi untuk terus meningkatkan karakter mereka. Secara keseluruhan, dalam evaluasi pendidikan karakter pada Kurikulum 2013 masih menghadapi tantangan besar. Meskipun terdapat berbagai metode penilaian yang diterapkan, kesulitan dalam pengukuran dan kurangnya standar yang jelas menjadi Namun, dengan mengedepankan refleksi diri peserta didik, evaluasi ini dapat diharapkan untuk memberikan dampak positif dalam pengembangan karakter mereka. Pembahasan Hasil Penelitian Tujuan ditekankan pada kurikulum 2013 yaitu sebagai pengembangan generasi yang Anggi Afrina Rambe. Regita Ayu Dwietama. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Endis Firdaus. Rini Rahman. Edi Suresman: Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 berkarakter kuat termasuk pada peningkatan kemandirian dan kewarganegaraan yang demokratis sehingga implementasi pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 sejalan dengan undang-undang pendidikan nasional untuk mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan Dalam teori Pembelajaran Sosial oleh Albert Bandura, bahwa pembelajaran menekankan pentingnya observasi, imitasi, dan modeling dalam pembelajaran. Dalam konteks pendidikan karakter, guru berperan sebagai model yang menunjukkan perilaku baik kepada peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran aktif yang melibatkan interaksi langsung antara peserta didik dan guru sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter. Misalnya, dalam kelas, guru dapat menunjukkan sikap saling menghormati dan bekerja sama, yang kemudian dapat ditiru oleh peserta didik (Mubin et al. , 2021. Yanuardianto, 2. Kemudian implementasi pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 dilakukan melalui integrasi nilai-nilai karakter ke dalam Penelitian sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Briliantara & Salim . dan dalam Pusat Kurikulum Pembelajaran . menunjukkan bahwa integrasi karakter dalam kurikulum dapat meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap pentingnya nilai-nilai Penelitian ini menemukan bahwa pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya berfokus pada aspek pengetahuan agama, tetapi juga mengajak peserta didik untuk menghargai nilai-nilai moral dan etika P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 dalam ajaran Islam, seperti sikap toleransi, kasih sayang, dan keadilan. Hal ini mengembangkan sikap nasionalisme dan rasa cinta terhadap tanah air. Temuan ini menunjukkan relevansi antara pembelajaran materi PAI dan pengembangan karakter peserta didik, di mana peserta didik tidak hanya mendapatkan pemahaman agama yang baik, tetapi juga terlatih untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan seharihari. Selanjutnya pendidikan karakter, penggunaan metode pembelajaran aktif menjadi sorotan utama. Penelitian yang dilakukan oleh Buhari . Diana . , dan Isfadilah et al. , . tentang Cooperative Learning menunjukkan bahwa kolaborasi dalam kelompok dapat meningkatkan keterampilan sosial dan karakter peserta didik. Hasil penelitian ini mendukung temuan tersebut, di mana kegiatan diskusi, simulasi, dan proyek kelompok berhasil menanamkan nilai-nilai Kegiatan kesempatan kepada peserta didik untuk berlatih dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam situasi nyata, yang memperkuat internalisasi karakter dalam diri mereka. Terkait dengan hal tersebut juga pentingnya evaluasi karakter dan kesulitan yang dihadapi. Dari hasil penelitian, terlihat bahwa evaluasi pendidikan karakter masih Kesulitan pengukuran perkembangan karakter secara objektif menunjukkan adanya ketidakjelasan dalam standar penilaian. Penelitian oleh dan Mulyasa . dan Wahyu . menggarisbawahi bahwa penilaian karakter harus terintegrasi dalam sistem penilaian Penilaian yang kualitatif dan kurang terstandarisasi ini dapat menyebabkan inkonsistensi dalam evaluasi dan umpan balik Anggi Afrina Rambe. Regita Ayu Dwietama. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Endis Firdaus. Rini Rahman. Edi Suresman: Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 kepada peserta didik. Dengan demikian, perlu adanya pengembangan rubrik yang lebih jelas dan terstandarisasi untuk menilai karakter Temuan mengenai mendeskripsikan pentingnya refleksi diri peserta didik juga Kolb Experiential Learning, yang menekankan bahwa pengalaman dan refleksi adalah kunci untuk pembelajaran yang mendalam. Melalui refleksi, peserta didik dapat mengevaluasi meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap perkembangan karakter mereka. Penelitian ini menunjukkan bahwa peserta didik yang terlibat dalam proses refleksi lebih mampu memahami dan menginternalisasi nilai-nilai (Nurcahyandi Purwaningrum, 2. Oleh sebab itu, pendidikan karakter harus selalu ditanamkan dalam setiap pembelajaran yang mengacu pada perbaikan karakter peserta didik, tidak hanya pendidikan agama saja yang memperhatikan karakter peserta didik, namun juga pada pembelajaran Sehingga peserta didik dapat terlatih terampil dengan karakter yang baik melalui pembiasaan juga dilakukan pada lingkungan sekolah dan keluarga. Maka hal ini sesuai dengan perencanaan kementrian pendidikan terkait karakter dan moral diperlukan kerjasama antara guru dan orangtua dalam mengajarkan karakter dan moral yang naik pada peserta didik (Birhan et al. , 2. P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 karakter dalam kurikulum 2013 merupakan pengembangan individu yang beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif dan menjadi warga negara yang demokrastis, dan integrasi kurikulum yang jelas dan sejalan dengan tujuan undang-undang pendidikan nasional yang mengembangkan pada karakter dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan khususnya pada generasi muda. Implementasi pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 menunjukkan bahwa meskipun terdapat berbagai tantangan, terutama dalam metode penilaian dan evaluasi, banyak kemajuan telah dicapai melalui integrasi karakter dalam pembelajaran dan penggunaan metode pembelajaran aktif. Dengan mengadopsi teori-teori pendidikan yang relevan dan mengembangkan metode implementasi pendidikan karakter dapat lebih efektif dalam menciptakan siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki karakter yang baik. DAFTAR PUSTAKA