Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember 2025 https://doi. org/10. 52060/mp. E-ISSN 2621-0703 P-ISSN 2528-6250 IMPLEMENTASI PROGRAM PELAJAR TANGERANG MENGAJI (PTM) DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK DI SEKOLAH DASAR Nabila Fatmala1. Taufik2. Istinganatul Ngulwiyah3 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Indonesia e-mail: fatmalanabila7@gmail. com1, taufikmalalak@gmail. com2, istinganatul@untirta. ABSTRAK Karakter religius penting untuk membentuk kepribadian peserta didik melalui nilai seperti ketaatan beribadah, kejujuran, disiplin, dan saling menghargai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan, dan dampak program Pelajar Tangerang Mengaji (PTM) dalam menanamkan karakter religius pada peserta didik SDN Cibodas 8 Kota Tangerang. Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah masih ditemukannya peserta didik yang kurang disiplin, belum konsisten menerapkan nilai religius di luar kegiatan PTM, serta kurang menghargai teman saat tadarus dan sholat dhuha PTM merupakan kegiatan rutin sebelum pembelajarn yang meliputi tadarus Al -QurAoan dan sholat dhuha berjamaah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PTM dirancang melalui kerja sama kepala sekolah, guru PAI, dan tenaga pendidik. Pelaksanaan berjalan tertib dan mendapat respon positif. Dampaknya terlihat pada peningkatan ketaatan beribadah, keikhlasan, rasa percaya diri, kreativitas, tanggung jawab, kejujuran, dan kedisiplinan peserta didik kelas V. Namun, sikap menghargai orang lain masih perlu pembinaan lebih lanjut. Secara keseluruhan. PTM menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai religius dan membentuk karakter peserta didik sejak dini. Kata kunci: PTM. Karakter Religius. Peserta Didik ABSTRACT Religious character is essential in shaping studentsAo personalities through values such as obedience in worship, honesty, discipline, and mutual respect. This study aims to examine the planning, implementation, and impact of the Pelajar Tangerang Mengaji (PTM) program in fostering studentsAo religious character at SDN Cibodas 8 Kota Tangerang. The problem underlying this research is that some students still show a lack of discipline, have not been consistent in applying religious values outside PTM activities, and show limited respect for peers during QurAoan recitation and dhuha prayer. PTM is a daily routine before lessons begin, consisting of QurAoan recitation and congregational dhuha prayer. This study employed a descriptive qualitative approach using observation, interviews, and documentation. The findings indicate that PTM was designed through collaboration between the principal, islamic education teachers, and other school staff. Its implementation ran orderly and received positive responses from students. The program had a positive impact on increasing studentsAo obedience to worship, sincerity, self-confidence, creativity, responsibility, honesty, and discipline, although respect for others still requires further development. Overall. PTM serves as an effective means to instill religious values and shape studentsAo character from an early age. Keywords: PTM. Religious Character. Student PENDAHULUAN Pendidikan karakter menjadi salah satu fokus utama dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter sangat penting dalam membentuk generasi yang berkualitas. Dalam Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, diperlukan untuk memperkuat berbagai nilai, seperti agama, kejujuran, toleransi, disiplin, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikasi, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Semua ini bertujuan untuk membentuk bangsa yang berbudaya. Mengingat seharusnya dimulai sejak tingkat yang paling awal, yaitu Sekolah Dasar. Hal ini karena Sekolah Dasar adalah langkah pertama dalam pendidikan formal, yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik. Sekolah Dasar memegang peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak. Seperti yang diungkapkan oleh Ali Mustadi, mengingat betapa pentingnya pengembangan karakter di tingkat sekolah dasar, serta fakta bahwa masa sekolah dasar adalah tahap awal dalam pendidikan mandiri, maka sangat penting untuk mengembangkan kepribadian yang baik pada usia tersebut (Ali Mustadi, https://ejournal. id/index. php/mp This is an open access article under the cc-by license | 388 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Sekolah dasar memiliki peran penting dalam membentuk dan mengembangkan karakter siswa. Untuk mencapai tujuan ini, sekolah perlu memiliki rencana yang matang dan strategi yang tepat. Namun, keberhasilan pendidikan karakter tidak bisa dicapai hanya oleh pihak sekolah saja. Semua pihak mulai dari kepala sekolah, guru, staf, siswa, hingga orang tua perlu bekerja sama dan Setiap orang memiliki peran yang penting dalam mendukung proses ini, sehingga pendidikan karakter dapat berjalan dengan maksimal. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikna. Pasal 3 menyatakan bahwa AuPendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang jawabAy. Berdasarkan Undang-Undang tersebut, tujuan pendidikan yang paling utama adalah untuk membentuk peserta didik menjadi pribadi yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki kepribadian yang utuh. Tujuan pendidikan ini mencerminkan Indonesia sebagai negara yang beragama, yang selaras dengan sila pertama Pancasila, yaitu "Ketuhanan Yang Maha Esa". Melalui generasi bangsa yang tidak hanya unggul dalam aspek kognitif, tetapi juga memiliki karakter dan kepribadian yang baik, sehingga kualitas pendidikan meningkat dan Indonesia dapat bersaing di era globalisasi saat ini. Namun, pendidikan nasional masih belum sepenuhnya Hal ini berdampak pada munculnya mencerminkan perilaku yang diharapkan. Contohnya, masih banyak ditemukan perilaku menyimpang di kalangan pelajar, seperti pergaulan bebas, meningkatnya kasus pelajar yang terlibat narkoba, tawuran, dan bullying. Selain itu, perilaku tidak jujur saat ujian masih sering terjadi dan dianggap sebagai hal biasa. Pada tahun 2018, tercatat 3. 145 remaja berusia 18 tahun ke bawah terlibat dalam kenakalan dan tindak kriminal. Angka ini meningkat pada tahun 2019 dan 2020 menjadi 280 hingga 4. 123 remaja. Pada tahun 2021, angka kenakalan remaja di Indonesia 325 kasus, yang menunjukkan E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 peningkatan sebesar 10,7% dari tahun 2018 hingga 2021 (BPS, 2. Data ini menggambarkan adanya pertumbuhan jumlah kenakalan remaja yang terjadi setiap Keadaan ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter di sekolah, yang biasanya diajarkan melalui pendidikan agama dan kewarganegaraan, belum memberikan hasil yang diharapkan. Hal ini karena pendidikan agama dan kewarganegaraan lebih fokus pada peningkatan pengetahuan tentang norma dan nilai saja, tetapi belum cukup berpengaruh pada perubahan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jika masalah ini dibiarkan, maka akan ada kesenjangan antara apa yang diketahui dan apa yang diterapkan dalam tindakan sehari-hari oleh para peserta Untuk mengatasi masalah ini, kita perlu membiasakan anak-anak dengan pentingnya nilai-nilai karakter sejak dini. Salah satu cara yang efektif adalah melalui pendidikan karakter di sekolah, terutama di sekolah dasar, karena anak-anak berada pada masa yang sangat penting untuk mengembangkan Tujuannya menanamkan nilai-nilai luhur dan budi pekerti, sehingga mereka bisa memiliki akhlak yang baik dan secara bertahap memperbaiki akhlak generasi mendatang. Salah satu bentuk penanaman karakter religius adalah dengan mengadakan kegiatan di sekolah yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional. Kegiatan ini harus direncanakan dengan baik dan melibatkan semua pihak terkait, agar tujuannya tercapai. Untuk itu, kegiatan tersebut perlu dilakukan secara rutin dan Berdasarkan observasi yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Cibodas 8 Kota Tangerang, penanaman pendidikan karakter religius telah dilaksanakan dalam program yang dinamakan Pelajar Tangerang Mengaji (PTM). Kegiatan tersebut rutin dilakukan oleh para guru dan peserta didik. Kegiatan penanaman pendidikan karakter religius pelaksanaan sholat dhuha yang dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengevaluasi sejauh mana program Pelajar Tangerang Mengaji (PTM) berhasil menumbuhkan karakter religius pada peserta didik di SDN Cibodas 8 Kota Tangerang. Tujuan dari penelitian ini mencakup pada perencanaan program Pelajar Tangerang Mengaji (PTM) di SDN Cibodas 8, proses pelaksanaan penanaman karakter religius melalui program Pelajar Tangerang Mengaji https://ejournal. id/index. php/mp | 389 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . (PTM) di SDN Cibodas 8 Kota Tangerang, dan karakter religius peserta didik setelah diadakannya program Pelajar Tangerang Mengaji di SDN Cibodas 8 Kota Tangerang. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualittaif dimana peneliti mengumpulkan data kelompok, observasi atau studi kasus dengan berinteraksi dalam siatuasi tertentu. tidak hanya fokus pada jumlah saja, tetapi lebih kepada kualitas informasi yang diperoleh yang memberikan Gambaran lebih jelas tentang fenomena yang diteliti. Menurut Cresswell (Kusumastuti et al. , 2. Mengemukakan bahwa penelitian kualitatif merupakan Aupenelitian untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau kelompok orang dianggap kemanusiaanAy. Selanjutnya Cresswell menjelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif, ada beberapa Langkah penting yang perlu Langkah mengajukan pertanyaan yang relevan dan menentukan prosedur yang tepat. Selanjutnya, peneliti mengumpulkan data yang spesifik dari para partisipan. Setelah data terkumpul, peneliti menganalisisnya secara induktif, mulai dari tema-tema yang lebih spesifik hingga menemukan pola atau tema yang lebih umum. Terakhir, peneliti menafsirkan makna dari data yan telah dianalisis (Kusumastuti et al. , 2. Dalam menggunakan dua teknik utama yaitu wawancara semi-terstruktur dan observasi pasrtisipatif pasif. Pada wawanacara semiterstruktur, pertanyaan inti yang dirancang berdasarkan tujuan dan fokus penelitian. Namun, informan tetap diberi kebebasan untuk menjawab secara lebih luas, mendalam, dan spontan sesuai pengalaman serta sudut pandang Pelaksanaan wawancara dilakukan secara tatap muka dengan berbagai pihak yang terlibat langsung, seperti kepala sekolah, guru agama islam, guru kelas V, dan beberapa peserta didik kelas V. Kegiatan ini berlangsung di lingkungan sekolah pada waktu yang telah disepakati bersama sehingga tidak mengganggu proses belajar Materi pertanyaan mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan, hambatan yang dihadapi, hingga dampak program PTM terhadap pembentukan karakte religius peserta didik. Setiap jawaban narasumber direkam . engan persetujua. dan dicatat E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 untuk menjaga keakuratan informasi. Data tersebut kemudian dianalisis dan disajikan pendekatan kualitatif. Sementara itu, observasi dilakukan dengan hadir langsung di lokasi kegiatan untuk mengamati jalannya program PTM tanpa ikut terlibat dalam aktivitas. Peneliti memerhatikan perilaku peseta didik, interaksi guru dan peserta didik, serta suasana selama Observasi dilaksanakan pada beberapa momen kegiatan seperti tadarus AlQurAoan yang biasanya berlangsung setiap 00 - 07. 30 WIB sebelum pelajaran dimulai dan sholat dhuha berjamaah sekitar 30 Ae 07. 45 WIB. Pengamatan ini difokuskan pada aspek-aspek pembentukan karakter religius seperti disiplin, kesopanan, dan tanggung jawab peserta didik. Observasi dilakukan pada beberapa hari dan waktu yang berbeda, lalu hasilnya didokumentasikan memungkinkan, dilengkapi dengan foto atau video sebagai bukti pendukung. HASIL DAN PEMBAHASAN Perencanaan Program Pelajar Tangerang Mengaji (PTM) di SDN Cibodas 8 Kota Tangerang Program Pelajar Tangerang Mengaji (PTM) merupakan kebijakan dari Pemerintah Kota Tangerang yang bertujuan membentuk generasi berakhlak mulia dan religius melalui kegiatan baca tulis Al-QurAoan, tahfidz. Aqidah akhlak, dan fiqih. Di SDN Cibodas 8 Tangerang, program ini dirancang dengan menyesuaikan kondisi peserta didik yang pada kenyataannya masih banyak yang belum mampu membaca Al-QurAoan dengan baik. Oleh karena itu, pihak sekolah menjadikan program ini sebagai sarana pembinaan karakter religius sekaligus peningkatan kualitas ibadah peserta didik. Kegiatan ini dilaksanakan pada pagi hari sebelum proses belajar mengajar dimulai sehingga tidak hanya berdampak pada kemampuan keagamaan peserta didik, tetapi juga membentuk kebiasaan disiplin, khususnya dalam hal Hasil wawancara yang dilakukan kepada empat narasumber yaitu kepala sekolah, guru agama islam, guru kelas V, dan beberapa peserta didik kelas V menunjukkan bahwa program PTM membawa dampak positif terhadap sikap dan perilaku peserta Peserta didik tidak hanya mampu membaca Al-QurAoan, tetapi juga mulai membiasakan diri dengan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini terbentuk secara bertahap melalui proses https://ejournal. id/index. php/mp | 390 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Program PTM juga berkontribusi pada pelaksanaan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan menyediakan kesempatan bagi peserta didik untuk mempraktikkan ajaran agama secara langsung dalam aktivitas harian mereka. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Dian selaku guru agama islam Ausejak adanya program PTM, anak-anak jadi lebih semangat untuk mengaji. Bahkan ada beberapa siswa yang sebelumnya belum lancar membaca AlQurAoan, sekarang sudah mulai lancar. Sikap mereka juga menunjukkan perubahan jadi lebih disiplin, dan juga lebih sopanAy. Temuan ini menegaskan bahwa PTM tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan membaca Al-QurAoan tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter religius yang berperan dalam pembentukan akhlak mulia peserta Dalam menerapkan pendekatan praktis yang tidak mempraktikkan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, peserta didik dibiasakan membaca doa sebelum dan sesudah melaksanakan sholat berjamaah, serta melakukan tadarus Al-QurAoan secara tartil setiap pagi. Guru juga menghubungkan materi dengan contoh nyata seperti mengajak peserta didik berbagi makanan saat ada teman berulang tahun atau menjenguk teman yang sakit. Pendekatan ini diterapkan di kelas IV. V, dan VI dengan penyesuaian sesuai tingkat pemahaman masing-masing jenjang. Untuk pembelajaran antara sekolah dan rumah, guru rutin berkoordinasi dengan guru kelas dan orang tua. Berbagai masukan diterima misalnya dari orang tua yang menilai durasi tadarus terlalu lama sehingga dikhawatirkan membuat peserta didik lelah sebelum pelajaran dimulai. Menanggapi hal ini, guru menyesuaikan durasi agar anak tetap fokus. Peserta didik juga memberikan saran seperti menggunakan metode membaca Al-QurAoan secara bergiliran dalam kelompok kecil agar suasana belajar lebih interaktif. Setiap kali metode dirasa kurang efektif, pihak sekolah segera melakukan evaluasi dan melakukan penyesuaian agar pembelajaran berjalan lebih efisien, menyenangkan, dan sesuai kebutuhan peserta didik. Namun, dalam pelaksanaan program ini, sekolah menghadapi sejumlah tantangan. Salah keterbatasan sarana dan prasarana. Ruang E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 kelas yang tersedia tidak mencukupi untuk menampung seluruh peserta didik dalam kegiatan BTQ sehingga kegiatan ini harus dilakukan dilapangan, ruang perpustakaan. Selain tersedianya mushola juga menjadi kendala dalam pelaksanaan praktik ibadah. Tidak hanya dari segi fisik, hambatan juga muncul dari latar belakang peserta didik yang Beberapa peserta didik kurang mendapatkan pengawasan keagamaan di rumah yang berdampak pada kurangnya motivasi dan kedisiplinan dalam mengikuti kegiatan PTM. Untuk mengatasi masalah ini, guru melakukan pendekatan personal kepada peserta didik tertentu guna membangun kedekatan emosional dan memberikan arahan yang sesuai. Dari sisi sumber daya, sekolah telah menyediakan berbagai sarana seperti AlQurAoan dan juzAoamma serta melibatkan peserta didik dari kelas tinggi untuk membantu membimbing peserta didik yang lainnya dalam kegiatan mengaji. Selain itu, fasilitas pendukung seperti smart TV digunakan untuk menyampaikan materi dengan cara yang menarik dan interaktif. Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan, pihak sekolah terus berusaha mencari Solusi dan melakukan evaluasi secara rutin agar program tetap berjalan maksimal. Bahkan, sekolah telah mencoba menjalin kerja sama dengan pihak luar seperti pondok pesantren meskipun hingga saat ini belum mendapat tanggapan. Pelaksanaan Program Pelajar Tangerang Mengaji (PTM) di SDN Cibodas 8 Kota Tangerang Penguatan nilai-nilai karakter religius merupakan bagian penting dalam proses pendidikan terutama di jenjang sekolah dasar, saat peserta didik sedang berada pada masa pembentukan karakter. Karakter religius meliputi sikap taat beribadah, jujur, disiplin. Ikhlas bertanggung jawab, serta menghargai Salah satu cara yang efektif dalam membentuk karakter religius peserta didik Pembiasaan adalah kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dan konsisten sehingga menjadi kebiasaan dalam kehidupan seharihari. Menurut (Noer Cholifudin Zuhri, 2. , pembiasaan dapat dibedakan menjadi empat bentuk, yaitu sebagai berikut: Kegiatan dilaksanakan di sekolah setiap hari, seperti berbaris, berdoa, dan aktivitas sejenis lainnya. https://ejournal. id/index. php/mp | 391 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Kegiatan dilaksanakan secara tiba-tiba atau tanpa menawarkan bantuan dengan tulus atau mengunjungi teman yang sedang sakit. Pemberian dilaksanakan dengan memberikan contoh yang baik kepada siswa, seperti menerapkan budaya hidup bersih, disiplin, serta sopan santun dalam perilaku dan Kegiatan terprogram, yaitu kegiatan yang dilakukan secara bertahap sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Kegiatan ini termasuk dalam pembelajaran yang berjamaah, sholat dhuhur berjamaah dan tadarus Al-QurAoan. Keempat bentuk berperan penting dalam menanamkan nilainilai positif pada peserta didik dan mendukung perkembangan karakter religius secara optimal. E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Kegiatan seperti datang pagi, mengambil wudhu, dan pembukaan dengan sholawat merupakan pembiasaan positif yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Gambar 2. Kegiatan tadarus Al-QurAoan Gambar 3. Pelaksanaan sholat dhuha Gambar 1. Peserta didik berwudhu Kegiatan PTM dimulai dengan kegiatan pendahuluan yang menunjukkan antusiasme tinggi dari peserta didik. Peserta didik kelas V secara rutin hadir lebih awal sebelum pukul 00 WIB dan . angsung mengambil wudhu tanpa harus diingatkan oleh guru. Tindakan ini mencerminkan kesadaran spiritual peserta didik dan menjadi salah satu indikator karakter religius yang kuat, yaitu taat kepada Allah dan bertanggung jawab. Selain itu, pembagian juzAoamma oleh ketua kelas menunjukkan adanya peran aktif peserta didik dalam membantu kelancaran kegiatan. Guru agama. Ibu Dian, membuka kegiatan dengan salam dan bersholawat, membangun suasana yang religius dan khidmat sejak awal. Jika dikaitkan dengan teori pembiasaan dari Muhammad Noer Cholifudin Zuhri, maka kegiatan pendahuluan ini termasuk dalam bentuk kegiatan rutin, yaitu aktivitas yang dilaksanakan setiap hari dan menjadi kebiasaan yang membentuk sikap religius. Pada kegiatan inti, peserta didik melaksanakan tadarus Al-QurAoan secara bergantian yang dipimpin oleh peserta didik dari kelas tinggi. Mereka membaca dari awal hingga akhir dengan cukup baik meskipun terdapat beberapa peserta didik yang mengobrol dan bercanda. Ibu Dian serta guru yang lain secara aktif mengawasi dan memberikan teguran yang membangun, menunjukkan bahwa guru berperan penting dalam membina kedisiplinan dan kekhusyukan peserta didik. Setelah tadarus Al-QurAoan, kegiatan dilanjutkan dengan sholat dhuha berjamaah yang dipimpin oleh kepala sekolah. Bapak Taryudi. Peserta didik kelas V melaksanakannya dengan khusyu, tidak ada yang bermain-main bahkan saat cuaca cukup Ini menunjukkan keberhasilan program dalam menanamkan nilai ketaatan dan keikhlasan dalam beribadah. Kegiatan PTM ini termasuk kedalam bentuk kegiatan terprogram menurut Zuhri karena dilakukan secara terstruktur sesuai jadwal dan merupakan bagian dari proses pembelajaran terencana. Tadarus Al-QurAoan dan sholat dhuha berjamaah adalah contoh nyata dari pembelajaran agama yang diorganisir untuk membentuk karakter religius peserta didik secara sistematis. https://ejournal. id/index. php/mp | 392 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Gambar 4. Kegiatan ceramah Kegiatan penutup dengan ceramah atau penguatan karakter. Dalam sesi ini, peserta didik mendengarkan dengan fokus dan sesekali menjawab pertanyaan dari guru dengan percaya diri. Beberapa peserta didik mengakui belum melaksanakan sholat subuh karena kesiangan, namun berjanji tidak akan Hal ini menunjukkan adanya kejujuran dan niat untuk memperbaiki diri yang merupakan bagian dari karakter religius. Ceramah selalu ditutup dengan pembacaan sholawat yang juga dilibatkan peserta didik secara aktif sebagai pemimpin. Setelah kegiatan PTM berakhir, peserta didik dengan tertib mengumpulkan Kembali juzAoamma dan Bersiap mamasuki kelas. Kegiatan penutup ini mengandung beberapa bentuk pembiasaan sekaligus. Ceramah dan sesi tanya jawab termasuk dalam bentuk pemberian teladan karena guru memberikan contoh nilai-nilai moral dan religius yang patut ditiru. Respons jujur dari peserta didik serta keikutsertaan mereka dalam sholawat juga mencerminkan bentuk kegiatan spontan yang membentuk kebiasaan baik secara tidak langsung. Temuan ini membuktikan bahwa pembiasaan melalui program seperti PTM memiliki dampak positif terhadap penguatan karakter religius peserta didik secara menyeluruh, selaras dengan teori pembiasaan Zuhri yang menekankan pentingnya kegiatan rutin, spontan, teladan, dan terprogram dalam membentuk karakter peserta didik. Dampak Program Pelajar Tangerang Mengaji (PTM) di SDN Cibodas 8 Kota Tangerang Dalam mengaitkan hasil temuan dengan teori Marjuki . yang menyebutkan bahwa karakter religius ditunjukkan melalui delapan indikator yaitu ketaatan kepada Allah, keikhlasan, percaya diri, kreativitas, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, dan sikap menghargai E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Ketaatan Kepada Allah Marjuki karakter religius dapat terlihat dari sejauh mana seseorang menunjukkan ketaatan kepada Allah baik dalam menjalankan perintah-Nya maupun menjauhi laranganNya. Dalam konteks peserta didik, hal ini tercermin melalui keterlibatan mereka dalam kegiatan ibadah secara sukarela, konsisten dan sungguh-sungguh. Berdasarkan peserta didik kelas V SDN Cibodas 8 keikutsertaan mereka dalam kegiatan PTM sejak sebelum kegiatan dimulai. Mereka datang ke sekolah lebih awal, menempati tempat duduk di lapangan dengan tertib tanpa perlu disuruh. Bahkan ketika guru belum tiba, peserta didik telah Bersiap untuk memulai kegiatan. Ini menunjukkan bahwa nilai ketaatan tidak hanya ditanamkan secara teori melainkan telah membentuk kebiasaan positif dalam perilaku nyata peserta didik. Keterlibatan aktif peserta didik dalam kegiatan tadarus dann sholat dhuha berjamaah selama tiga hari pengamatan memperkuat bukti bahwa peserta didik telah mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam keseharian. Peserta didik tidak hanya hadir secara fisik tetapi juga secara mental dan spiritual yang mencerminkan adanya perkembangan dalam karakter religius mereka khususnya pada aspek ketaatan kepada Allah. Keikhlasan Indikator Marjuki merupakan bentuk dari ketulusan hati dalam menjalankan ibadah tanpa mengharapkan pujian, imbalan, atau penilaian dari orang lain. Seseorang yang Ikhlas akan tetap menjalankan perintah agama meskipun tidak ada pengawasan. Dalam penelitian ini, keikhlasan tampak dari konsistensi peserta didik dalam mengikuti PTM setiap hari tanpa keluhan bahkan ketika guru tidak selalu hadir atau mengawasi secara langsung. Peserta didik membaca Al-QurAoan dengan khidmat, melaksanakan sholat shuha dengan khusyu dan tidak menunjukkan tanda-tanda melakukan kegiatan tersebut semata karena keterpaksaan. Keikhlasan ini semakin terlihat saat peserta didik tetap tertib dan serius dalam mengikuti kegiatan meskipun tidak ada penilaian akademik secara langsung terhadap aktivitas https://ejournal. id/index. php/mp | 393 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Percaya Diri Percaya diri dalam perspektif Marjuki adalah bagian dari karakter religius karena orang yang yakin dengan menampilkannya secara terbuka dan tanpa rasa malu. Pada peserta didik, rasa percaya diri terlihat dari cara mereka menampilkan diri saat menjalankan Dalam penelitian ini, peserta didik kelas V menunjukkan rasa percaya diri yang baik saat membaca Al-QurAoan pertanyaan guru dengan penuh keyakinan dan bahkan tampil ke depan untuk Meskipun masih ditemukan beberapa peserta didik yang ragu-ragu namun secara umum mayoritas menunjukkan peningkatan rasa percaya diri dari hari ke Kreativitas Menurut Marjuki, kreativitas dalam kemampuan untuk melakukan kebaikan secara mandiri dan inovatif. Dalam konteks religius, kreativitas bukan semata soal ide atau inovasi teknis tetapi juga kesadaran diri untuk mengambil inisiatif dalam ketaatan. Hasil pengamatan menunjukkan kreativitas religius melalui inisiatif mereka dalam menyiapkan diri sebelum kegiatan dimulai seperti mengambil wudhu tanpa diperintah, datang lebih awal, dan membantu mempersiapkan alat atau tempat kegiatan. Tanggung Jawab Tanggung jawab menurut Marjuki adalah kesadaran untuk melaksanakan kewajiban secara konsisten dan mandiri. Dalam kehidupan religius, tanggung jawab tercermin dari kesungguhan dalam menjalankan ibadah, menjaga alat ibadah serta memperhatikan waktu dan aturan yang berlaku. Berdasrkan observasi, peserta didik menunjukkan tanggung jawab yang tinggi baik secara individu maupun kolektif. Peserta didik mempersiapkan alat ibadah . ukena, sajada. , menjaga ketertiban menunjukkan sikap khidmat saat tadarus maupun sholat dhuha. Ketua kelas secara juzAoamma dan peserta didik lainnya E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 diingatkan berulang kali oleh guru. Kejujuran Kejujuran merupakan ciri khas dari karakter religius yang mendalam. Marjuki menekankan bahwa kejujuran adalah integritas antara ucapan dan perbuatan yang mencerminkan hati yang bersih dan takut kepada Allah. Dalam penelitian ini, kejujuran peserta didik terlihat dari kesungguhan mereka dalam membaca Al-QurAoan secara nyata, tidak berpura-pura serta sikap terbuka saat menjawab pertanyaan dari Misalnya, pada saat observasi kegiatan penutup dalam sesi ceramah, guru mengajukan pertanyaan siapa saja yang tidak sholat subuh di rumah, peneliti menemukan beberapa peserta didik mengakui tidak sholat subuh karena bangun kesiangan, bukan berbohong demi Temuan menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya memahami ajaran agama secara formal tetapi juga mulai menerapkannya dalam perilaku jujur dan bertanggung Kedisiplinan Kedisiplinan dalam karakter religius adalah kemampuan untuk konsisten dan tertib dalam menjalankan ajaran agama. Menurut Marjuki, kedisiplinan ini menjadi penghargaan terhadap waktu serta aturan Peserta didik kelas V menunjukkan kedisiplinan yang tinggi dengan datang tepat waktu, membantu menyiapkan fasilitas kegiatan PTM, dan mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir secara Tidak hanya itu, peserta didik juga mengikuti urutan kegiatan sesuai arahan dan tidak meninggalkan kegiatan sebelum Menghargai Orang Lain Menghargai orang lain dalam pandangan Marjuki merupakan bagian penting dari karakter religius karena mencerminkan ajaran islam tentang adab, empati, dam toleransi. Dalam praktiknya, ini berarti menghormati teman, guru, dan tidak mengganggu dalam kegiatan ibadah. Namun, ditemukan bahwa indikator ini masih belum sepenuhnya terbentuk dengan baik. Beberapa menunjukkan perilaku tidak sopan, seperti mengobrol saat tadarus dan sesu Meskipun Sebagian besar mengikuti kegiatan https://ejournal. id/index. php/mp | 394 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . dengan tertib, masih ada segelintir peserta penghormatan terhadap orang lain dalam konteks kegiatan keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa indikator menghargai orang lain perlu menjadi fokus dalam pembinaan selanjutnya. Dari pembahasan diatas, peneliti Program PTM berkontribusi besar terhadap pembentukan karakter religius peserta didik sesuai dengan indikator dari teori Marjuki, . Tujuh dari delapan indikator karakter religius telah berkembang dengan baik terutama pada aspek ketaatan kepada Allah, keikhlasan, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, percaya diri, dan kreativitas, . Indikator ditingkatkan melalui bimbingan karakter yang lebih personal dan pembiasaan dalam interaksi sosial selama kegiatan keagamaan, . Pembiasaan kegiatan religius secara rutin dan konsisten dalam program PTM terbukti efektif dalam membentuk sikap dan perilaku religius yang nyata pada diri peserta didik. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Pelajar Tangerang Mengaji (PTM) di SDN Cibodas 8 Kota Tangerang telah disusun dan dijalankan dengan baik melalui kolaborasi antara kepala sekolah, guru pendidikan agama, dan seluruh tenaga pendidik. Kegiatan ini berfokus pada pembiasaan tadarus AlQurAoan serta pelaksanaan sholat dhuha berjamaah setiap pagi sebelum pembelajaran Tujuan utama dari program ini adalah menanamkan karakter religius pada peserta didik sejak usia dini. Selama pelaksanaan, kegiatan berlangsung dengan tertib dan mendapatkan tanggapan positif dari para peserta didik dan guru. Program PTM memberikan dampak yang nyata terhadap perkembangan karakter religius peserta didik kelas V, terutama dalam hal ketaatan kepada Allah, keikhlasan, rasa percaya diri, sikap kreatif, tanggung jawab, kejujuran, dan Meski begitu,masih ada aspek yang perlu ditingkatkan, yaitu sikap saling Beberapa peserta didik masih terlihat berbicara saat kegiatan berlangsung, yang menandakan bahwa nilai tersebut belum sepenuhnya tertanam. Secara keseluruhan. PTM telah menjadi media yang efektif dalam menumbuhkan nilai-nilai keagamaan di lingkungan sekolah dasar. E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 DAFTAR PUSTAKA