JPFT - volume 12, nomor 2, pp. Agustus 2024 Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Open Access http://jurnalfkipuntad. com/index. php/jpft PENGARUH MODEL DISCOVERY LEARNING BERBANTUAN ALAT SAINS SEDERHANA PADA MATERI GELOMBANG CAHAYA TERHADAP KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS PESERTA DIDIK SMA NEGERI 6 SIGI THE EFFECT OF DISCOVERY LEARNING MODEL ASSISTED BY SIMPLE SCIENCE TOOLS ON LIGHT WAVE MATERIAL TOWARD THE CRITICAL THINKING SKILLS OF STUDENTS AT SMA NEGERI 6 SIGI Sry Dewi Putri. Marungkil Pasaribu. Haeruddin . I Wayan Darmadi Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako. Palu. Indonesia srydewi029@gmail. Kata Kunci Model Discovery Learning. Alat Sains Sederhana. Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh model discovery learning berbantuan alat sains sederhana pada materi gelombang cahaya terhadap kemampuan berfikir kritis peserta didik SMA Negeri 6 Sigi. Jenis penelitian ini merupakan eksperimen kuasi dengan desain the non-equivalent pretest-posttest design. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas XI SMA Negeri 6 Sigi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan sampel penelitian adalah kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol. Instrumen kemampuan berfikir kritis peserta didik berupa tes pilihan ganda. Hasil analisis uji Independent Sample T-Test pada nilai sig. -taile. sebesar 0,000<0,05, maka H1= diterima. Dari perhitungan N-Gain Score, kelas eksperimen sebesar 61% dengan kategori cukup efektif sedangkan kelas kontrol sebesar 46% dengan kategori kurang efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh model discovery learning berbantuan alat sains sederhana pada materi gelombang cahaya terhadap kemampuan berfikir kritis peserta didik SMA Negeri 6 Sigi. Keywords Discovery Learning Model. Simple Science Tools Abstract This research was conducted to determine the influence of the discovery learning model assisted by simple science tools on light wave materials on the critical thinking ability of students of SMA Negeri 6 Sigi. This type of research is a quasi-experiment with a nonequivalent pretest-posttest design. The research population is students of class XI of SMA Negeri 6 Sigi. The sampling technique used in this study is purposive sampling with the research sample being class XI Science 1 as the experimental class and class XI Science 2 as the control class. The instrument of students' critical thinking ability is in the form of a multiple-choice test. The results of the analysis of the Independent Sample T-Test test on the . -taile. 000<0. 05, then H1= is accepted. From the calculation of the N-Gain Score, the experimental class was 61% with the category of moderately effective while the control class was 46% with the category of less effective. The study results showed an influence of the discovery learning model assisted by simple science tools on light wave materials on the critical thinking ability of students of SMA Negeri 6 Sigi. A2024 The Author p-ISSN 2338-3240 e-ISSN 2580-5924 Received 16/04/2024. Revised 30/04/2024. Accepted 12/05/2024. Available Online 31/08/2024 *Corresponding Author: fisika@yahoo. kemampuan menggunakan teknologi dan media informasi, dan kemampuan berkolaborasi, sehingga dapat menciptakan keterampilan pembelajaran yang berinovasi . Berfikir kritis menjadi salah satu faktor penting dalam pembelajaran karena kemampuan berfikir kritis merupakan pokok dalam semua aspek pembelajaran . Hal ini juga didukung oleh Sukestiyarno et al. , . menjelaskan bahwa PENDAHULUAN Pendidikan pada abad 21 erat kaitannya dengan era revolusi industri 4. 0 yang menuntut manusia untuk semakin kreatif dan mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja produktif, mengevaluasi diri, memecahkan masalah serta dapat berfikir kritis . Arah pendidikan abad 21 yaitu peserta didik memiliki kemampuan berfikir kritis. Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online pembelajaran karena dapat menghasilkan ide-ide baru, mengubah atau menambah ide yang ada, mengevaluasi ide-ide yang telah didapatkan . Faktanya. Indonesia menempati peringkat 71 dalam PISA pada tahun 2019 dengan rata-rata skor pada aspek kemampuan kinerja sains sebesar 396 poin, skor tersebut tergolong rendah . Hubungan kemampuan berfikir kritis dan kemampuan kinerja sains cukup kuat dengan presentase 41,5%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelajar Indonesia memiliki kemampuan berfikir kritis masih rendah. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri Eka Azrai et al. menyatakan bahwa kemampuan berfikir kritis peserta didik tergolong rendah dengan nilai rata-rata sebesar 45 . Hal ini disebabkan karena dalam proses pembelajaran belum menggambarkan pembiasaan kemampuan berfikir kritis yang baik dan efektif. Faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan berfikir kritis peserta didik yaitu mayoritas pendidikan di sekolah masih bersifat teacher center . erpusat pada pendidi. , sehingga peserta didik tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya . Faktor lain disebabkan karena kurangnya ketersediaan media pembelajaran fisika untuk dijadikan bahan bagi peserta didik untuk melatih kemampuan berfikir kritisnya secara Akibatnya peserta didik tidak memahami materi, hasil belajarnya otomatis tidak memuaskan menghadapi masalah yang memerlukan pemikiran dan pemecahan yang lebih kompleks. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaruan pada proses belajar fisika itu sendiri khususnya pada model dan media Salah satu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik . tudent centere. yaitu model Discovery Learning . Model Discovery Learning menekankan pada proses penemuan sebuah konsep sehingga muncul sikap ilmiah pada diri peserta didik. Dengan keterlibatan peserta didik secara aktif didalamnya sehingga kemampuan berpikir kritis peserta didik akan berkembang melalui masalah dan tantangan yang Penerapan memungkinkan untuk diintegrasikan dengan media Ketersediaan media pembelajaran sebagai alat, metode dan teknik yang digunakan dalam proses pembelajaran dapat membantu peserta didik meningkatkan kemampuan berfikir kritisnya . Salah satu media yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis peserta didik yaitu alat Sebagaimana sebelumnya. Maryani et al. , . berpendapat bahwa alat sains sederhana merupakan alat bantu untuk mengkonstruksikan materi yang dipelajari dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat merangsang kemampuan berpikir kritis peserta didik . Model discovery learning menggunakan alat sains sederhana sangat sesuai untuk mengajarkan materi gelombang cahaya dengan dasar bahwa Vol. No. 2, pp. Agustus tersebut peserta menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Maka berdasarkan uraian diatas, peneliti bermaksud untuk mengukur pengaruh model discovery learning berbantuan alat sains sederhana pada materi gelombang cahaya terhadap kemampuan berfikir kritis peserta didik. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuasi dengan desain the non-equivalent pretest-posttest design. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 6 Sigi yang merupakan Sekolah Negeri di Desa Ampera. Kecamatan Palolo. Kabupaten Sigi pada Tahun Ajaran 2023/2024. Populasi penelitian adalah peserta didik kelas XI SMA Negeri 6 Sigi. Teknik adalah purposive sampling dengan sampel penelitian adalah kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol. Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh model discovery learning berbantuan alat sains sederhana pada materi gelombang cahaya terhadap kemampuan berfikir kritis peserta didik SMA Negeri 6 Sigi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu semua informasi atau data penelitian dinyatakan dalam bentuk angka yang Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah tes dan dokumentasi. Tes adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan secara lansung kepada peserta didik, dan dokumentasi adalah pengumpulan data mengenai hal hal yang berupa catatan foto dan lain-lain. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah tes kemampuan berfikir kritis peserta didik dalam bentuk pilihan ganda, digunakan sebagai alat ukur kemampuan kognitif peserta didik. Pemberian tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pemberian tes pertama . dilakukan di hari pertama sebelum diberikan perlakuan, kemudian pemberian tes evaluasi . diberikan pada saat setelah diterapkannya model discovery learning berbantuan alat sains sederhana. Adapun perangkat pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) digunakan sebagai acuan dalam proses pembelajaran dan membantu peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai acuan peserta didik dalam proses melakukan percobaan, dan alat sains sederhana sebagai media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Uji analisis instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu : Uji Validitas Ahli Perangkat pembelajaran yang telah dibuat di konsultasikan kepada ahli kemudian dievaluasi dan direvisi jika belum dikatakan valid. Setelah melakukan perbaikan hasilnya akan diperlihatkan kembali kepada ahli validasi, setelah perangkat Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online pembelajaran sudah sesuai dengan ketentuan ahli maka perangkat pembelajaran siap untuk digunakan dalam penelitian ini. Vol. No. 2, pp. Agustus cronbach alpha < 0,60, maka data dinyatakan tidak Uji Validitas Butir Soal Uji Tingkat Kesukaran Butir Soal Tingkat pernyataan tentang seberapa sulit atau seberapa mudah sebuah butir pertanyaan bagi peserta didik. Pada penelitan ini, peneliti melakukan uji tingkat kesukaran butir soal menggunakan SPSS 26 for Interpretasi tingkat kesukaran butir soal dapat dilihat pada Tabel 3. Setelah dilakukan uji coba di sekolah, maka langkah selanjutnya setiap butir- butir soal dihitung harga validitasnya. Uji validitas merupakan salah satu alat ukur untuk mengetahui seberapa berfungsi butir soal tersebut dalam membedakan peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi dan rendah . Pada penelitan ini, peneliti melakukan uji validitas menggunakan SPSS 26 for windows dengan menggunakan teknik korelasi Point Biseral. Kategori validitas instrumen soal dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Kategori Validitas Butir Soal Besarnya Nilai Kategori 0,80O rxy O1,00 Sangat Tinggi 0,49O rxy O0,80 Tinggi 0,25O rxy O0,49 Sedang 0,00O rxy O0,25 Rendah Negatif Tidak valid Tabel 3 Klasifikasi Tingkat Kesukaran Butir Soal Reliabilitas merupakan ukuran suatu kestabilan dan konsistensi responden dalam menjawab, artinya alat ukur yang digunakan memberikan hasil pengukuran yang sama, kapanpun alat ukur tersebut Berikut ini kriteria penafsiran indeks korelasi yang dapat digunakan sebagai patokan dalam pengujian reliabilitas instrumen yang tertera pada Tabel 2. Tabel 2 Kriteria Reliabilitas Instrume Kategori 0,00-0,20 Sangat Rendah 0,20-0,40 Rendah 0,41-0,70 Cukup 0,71-0,90 Tinggi 0,91-1,00 Sangat Tinggi PO0,30 Tes Sukar 0,30O ycE < 0,70 Tes Sedang P Ou 0,70 Tes Mudah Uji Daya Beda Butir Soal Tabel 4 Kategori Daya Pembeda Butir Soal Uji Reliabilitas Butir Soal Koefisien Korelasi . Interpretasi Daya beda butir soal merupakan suatu pernyataan tentang seberapa besar daya beda butir soal dapat membedakan kemampuan antara peserta Adapun kategori daya pembeda butir soal dapat dilihat pada Tabel 4. Setelah dihitung maka didapatkan nilai rhitung selanjutnya dibandingkan dengan rtabel dimana df=n-2 dengan taraf signifikansi 5%. Jika rhitung > rtabel maka item soal dinyatakan valid, apabila nilai korelasi rhitung < nilai rtabel maka item soal dinyatakan tidak valid . Indeks Kesukaran Daya Pembeda Kategori 0,40 O ya < 1,00 Sangat baik 0,30 O ya < 0,39 Baik 020 O ya < 0,29 Cukup 0,00O ya < 0,19 Jelek Negatif Sangat jelek Adapun uji analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu : Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk melihat apakah data sudah berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji normalitas Kolmogorov Smirnov, alasan peneliti menggunakan uji Kolmogorov Smirnov adalah karena data yang digunakan oleh peneliti lebih dari 30 sampel. Data normalitas pada uji Kolmogorov Smirnov dapat dilihat pada tabel Tests of Normality. Dasar pengambilan keputusan dalam uji ini, yaitu: Jika nilai signifikansi (Sig. ) > 0,05 maka data berdistribusi normal, tetapi jika nilai signifikansi (Sig. ) < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal Untuk hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel Reliability Statistics yang mengacu pada nilai cronbach alpha yang dihasilkan dalam output SPSS 26 for windows. Jika nilai cronbach alpha > 0,60, maka data dinyatakan reliabel. Sebaliknya, jika nilai Vol. No. 2, pp. Agustus Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online . Pada penelitan ini, peneliti melakukan uji normalitas menggunakan SPSS 26 for windows. Hasil Penelitian Uji Homogenitas Hasil Analisis Instrumen Berdasarkan hasil validitas ahli, jumlah soal yang valid sebanyak 20 butir soal. Soal tersebut diujicobakan pada peserta didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 6 Sigi. Berdasarkan hasil uji coba tes tersebut, selanjutnya dilakukan analisis menggunakan SPSS 26 for windows yang meliputi : validitas butir soal, reliabilita, tingkat kesukaran butir soal, dan daya pembeda butir soal. Analisis Validitas Berdasarkan menunjukkan bahwa jumlah butir soal yang diterima yaitu sebesar 16 butir soal pilihan ganda, sedangkan untuk butir soal yang tidak diterima sebesar 4 butir soal pilihan Sehingga jumlah soal yang di ambil untuk diujikan kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol sebagai pretest dan posttest sebanyak 16 butir soal pilihan ganda. Pemilihan 16 butir soal ini telah memenuhi indikator kemampuan berikir kritis diadaptasi menurut Karim yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, dan inferensi. Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui kesamaan varians dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Untuk hasil uji homogenitas dapat dilihat pada tabel Test of Homogeneity of Variances dengan uji Levene Statistic mengacu pada nilai signifikansi (Si. Dasar pengambilan keputusan, yaitu jika nilai signifikansi (Si. > 0,05 maka data homogen, tetapi jika nilai signifikansi (Si. < 0,05 maka data tidak homogen . Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t sampel berhubungan atau uji independent sample t-test. Uji ini digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan nilai rata-rata kemampuan berfikir kritis peserta didik, antara kelas eksperimen menerapkan model discovery learning berbantuan alat sains sederhana dengan kelas kontrol yang menerapkan model direct instruction. Adapun hipotesis yang dirumuskan adalah sebagai ya0: yuN0 = yuN1: Tidak terdapat pengaruh penerapan model discovery learning berbantuan alat sains sederhana pada materi kemampuan berfikir kritis peserta didik kelas XI. ya1: yuN0 O yuN1: Analisis Reliabilitas Berdasarkan reliabilitas menggunakan SPSS 26 for windows, maka didaptkan hasil uji reliabilitas seperti pada tabel 6. Terdapat pengaruh penerapan model discovery learning berbantuan alat kemampuan berfikir kritis peserta didik kelas XI. Tabel 6 Hasil Uji Reliabilitas Dasar pengambilan keputusan dalam uji independent sample t-test, yaitu jika nilai signifikansi . -taile. < 0,05 maka ya0 ditolak dan ya1 diterima. Begitupun sebaliknya, jika nilai signifikansi . -taile. > 0,05 ya0 diterima dan ya1 ditolak. Uji N-Gain Score bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan suatu metode atau perlakuan dalam penelitian. Uji N-Gain Score merupakan selisih antara nilai pretest dan posttest. Kategori perolehan nilai N-Gain Score berdasarkan analisis terhadap skor gain dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5 Kategori Tafsiran Efektivitas N-Gain Tafsiran < 40 Tidak Efektif 40 Ae 55 Kurang Efektif 56 Ae 75 Cukup Efektif > 76 Efektif N of items 0,73 Berdasarkan diperoleh nilai untuk CronbachAos Alpha yaitu sebesar 0,73. Nilai alpha cronbanch berada diatas batas minimal 0,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa butir soal tersebut reliabel dengan kategori Tinggi. Uji N-Gain Score Presentase (%) CronbachAos Alpha Analisis Tingkat Kesukaran Butir Soal Berdasarkan kesukaran butir soal menggunakan SPSS 26 for windows, didapatkan jumlah butir soal pada kategori sukar sebanyak 8 butir soal, kategori sedang sebanyak 11 butir soal dan kategori mudah sebanyak 1 butir soal. Analisi Daya beda Butir Soal Berdasarkan perhitungan daya beda butir soal menggunakan SPSS 26 for windows, jumlah soal pada kategori sangat jelek sebanyak 2 butir soal, kategori jelek 2 butir soal, kategori cukup sebanyak 5 butir soal, kategori baik HASIL DAN PEMBAHASAN Vol. No. 2, pp. Agustus Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online sebanyak 5 butir soal, dan kategori sangat baik sebanyak 6 butir soal. Analisis Data Pretest Deskripsi Hasil Pretest Berfikir Kritis Peserta Didik peserta didik Kemampuan Pre-Test Kelas XI IPA 1 ,941 ,060 Pre-Test Kelas XI IPA 2 ,940 ,055 Berdasarkan Tabel 2 nilai Sig dari data kelas XI IPA 1, yaitu sebesar 0,060 > 0,05, maka data berdistribusi normal dan data kelas XI IPA 2 nilai Sig 0,055 > 0,05, maka data berdistribusi normal. Sehingga dapat dinyatakan bahwa data pretest kelas berdistribusi normal. Data kemampuan berfikir kritis yang telah dianalisis secara deskripsi, dapat dilihat pada Tabel 7 Uji Homogenitas Hasil pengolahan data pretest homogenitas dapat dilihat pada Tabel 9 Tabel 7 Deskripsi Hasil Pretest Kemampuan Berfikir Kritis Peserta Didik Min Max Mean 5,26 1,268 PreTest Kelas XI IPA 2 4,31 Valid N . Tabel 9 Data Uji Homogenitas Pretest Std. Devia Pretest Kelas XI IPA 1 Kemampuan Berfikir Kritis Peserta Didik Berdasarkan Tabel 7 didapatkan nilai pretest kelas XI IPA 1 dengan jumlah peserta didik sebanyak 35 orang didapatkan nilai mean sebesar 5,26 dengan standar deviasi 1,268 dan kelas XI IPA 2 sebanyak 35 orang didapatkan nilai mean sebesar 4,31 dengan standar deviasi sebesar 1,367. Adapun grafik hasil pretest Kemampuan berfikir kritis peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu sebagai berikut : Based on Mean Based on Median Based on Median and adjusted df Based on Levene Statistic ,371 Sig. ,545 ,341 ,561 ,341 67,922 ,561 ,360 ,551 Berdasarkan Tabel 9 mengacu pada nilai signifikansi pada based on mean didapatkan bahwa uji homogenitas pretest untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol nilai Sig 0,545 > 0,05, maka dapat dinyatakan bahwa data homogen. Uji Hipotesis Hasil pengolahan data pretest hipotesis dapat dilihat pada Tabel 10 Tabel 10 Data Uji Hipotesis Pretest PreTest Kelas XI IPA 1 PreTest Kelas XI IPA 2 Gambar 1 Grafik Deskripsi Hasil Pretest Kelas XI IPA 1 Dan Kelas XI IPA 2 Uji Normalitas Hasil pengolahan data pretest normalitas dapat dilihat pada Tabel 8 Kelas XI IPA 1 5,26 XI IPA 2 4,31 ycEaycnycycycuyci ycycycaycayceyco Keputusan 0,46 0,05 yaycC diterima Berdasarkan Tabel 10 nilai pretest didapatkan nilai Sig . -taile. , yaitu sebesar 0,46 > 0,05 maka pada data pretest kedua kelas tersebut dinyatakan ya0 diterima dan ya1 ditolak. Artinya tidak ada perbedaan hasil berfikir kritis peserta didik antara kelas XI IPA 1 dengan kelas kelas XI IPA 2. Kolmogorof-Smirnov Statistic Skor Ratarata Tabel 8 Uji Normalitas pretest Kelas XI IPA 1 dan Kelas XI IPA 2 Kemampuan berfikir kritis Kelas Sig. Vol. No. 2, pp. Agustus Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Analisis Data Posttest Deskripsi Hasil Posttest Kemampuan Berfikir Kritis Peserta Didik 75,83% sedangkan pada kelas kontrol sebesar 53,33%. Data deskripsi posttest hasil kemampuan berfikir kritis yang telah dianalisis, dapat dilihat pada Tabel 11 Tabel 11 Deskripsi Hasil Berfikir Kritis Peserta Didik Posttest Min Max Hasil pengolahan data postest untuk uji hipotesis dapat dilihat pada Tabel 13 Kemempuan Mean Uji Hipotesis Tabel 13 Uji Hipotesis Posttest Std. Devia PostTest Kelas XI IPA 1 10,09 1,869 PostTest Kelas XI IPA 2 6,26 1,686 Valid N . Kelas Skor Ratarata XI IPA 1 10,09 XI IPA 2 6,26 ycEaycnycycycuyci ycycycaycayceyco Keputusan 0,000 0,05 yaycC ditolak Berdasarkan tabel 13 nilai posttest di dapatkan nilai Sig . -taile. , yaitu sebesar 0,000 < 0,05 maka dinyatakan ya0 ditolak dan ya1 diterima. Artinya terdapat perbedaan rata-rata kemampuan berfikir kritis peserta didik antara kelas yang menerapkan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan alat sains sederhana dengan kelas direct instruction. Berdasarkan Tabel 11 didapatkan nilai posttest kelas XI IPA 1 dengan jumlah peserta didik sebanyak 35 orang didapatkan nilai mean sebesar 10,09 dengan standar deviasi 1,869 dan kelas XI IPA 2 sebanyak 35 orang didapatkan nilai mean sebesar 6,26 dengan standar deviasi sebesar 1,686. Adapun grafik hasil posttest kemampuan berfikir kritis peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol yaitu sebagai berikut : Uji N-Gain Score Pengolahan data N-Gain Score di lakukan menggunakan SPSS 26 for Windows. Hasil pengolahan dapat dilihat pada Tabel 14 Tabel 14 Uji N-Gain Score Kelas XI IPA 1 Kelas XI IPA 2 Gambar 2 Grafik Deskripsi Hasil Posttest Kelas XI IPA 1 Dan Kelas XI IPA 2 Uraian Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Minimum 33,33 8,33 Maximum 84,62 76,92 Mean 61,35 46,24 Kategori Cukup efektif Kurang Efektif Berdasarkan tabel 14 tersebut dengan mengacu pada nilai Mean di dapatkan nilai N-Gain Score pada kelas eksperimen yaitu sebesar 61% maka termasuk dalam kategori cukup efektif. Sedangkan rata-rata N-Gain Score untuk kelas kontrol adalah sebesar 46% maka termasuk kurang Setelah melihat nilai N-Gain Score, kemudian nilai tersebut dianalisis untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan terhadap nilai NGain Score. Hasil uji perbedaan N-Gain Score dapat dilihat pada Tabel 15. Hasil Observasi Berdasarkan pertemuan yang telah dilakukan maka didapatkan data masing-masing indikator kemampuan berfikir kritis peserta didik pada kelas eksperimen dan kelas Hasil observasi masing-masing indikator dapat dilihat pada Tabel 12 Tabel 12 Hasil Observasi Indikator Kemampuan Berfikir Kritis Peserta Didik Indikator Kelas Kelas Kemampuan Eksperimen Kontrol Berfikir Kritis Interpretasi 78,33 % 51,67% Analisis Evaluasi 76,67 % Inferensi 68,33 % 51,66 % Rerata 75,83 53,33 Tabel 15 Uji Perbedaan Nilai N-Gain Score Uraian ycEaycnycycycuyci ycycycaycayceyco Keputusan N-Gain Persen 0,000 0,05 Terdapat Berdasarkan Tabel 15 dengan mengacu pada nilai Sig . -taile. , yaitu sebesar 0,000 < 0,05 maka secara deskriptif statistik dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berfikir kritis peserta didik antara kelas yang menerapkan Berdasarkan Tabel 12 dapat dilihat bahwa pada kelas eksperimen didapatkan nilai rata-rata Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online discovery learning berbantuan alat sains sederhana dengan kelas direct instruction. Vol. No. 2, pp. Agustus melihat keadaan peserta didik terkait kemampuan berfikir kritis hasilnya menjadi beragam karena bersemangat dalam pembelajaran. Mereka hanya mendengarkan dan mencatat apa yang disampaikan oleh peneliti. Mereka juga kurang ikut berpartisipasi ketika peneliti mengajukan pertanyaan tentang gelombang cahaya. Bahkan ada yang takut apabila diminta maju kedepan untuk menyelesaikan soal yang ada di papan tulis. Ketika dibentuk kelompok, selalu ada yang terlihat mendominasi dalam Peserta didik yang mendominasi tersebut adalah peserta didik yang memiliki kemampuan akademisnya yang tinggi, peserta didik tersebut kurang percaya dengan teman kelompoknya sehingga membuat teman-teman yang lain tidak percaya diri dalam mengeluarkan pendapat. Berdasarkan data hasil observasi yang telah diperoleh nilai rerata pada kelas eksperimen sebesar 75,83% sedangkan kelas kontrol sebesar 53,33%, menunjukkan bahwa kemampuan berfikir kritis peserta didik pada kelas eksperimen yang menerapkan model discovery learning lebih tinggi dibandingkan pada kelas kontrol yang menerapkan model direct instruction. Hal ini menitikberatkan peserta didik sebagai center learning dalam proses pembelajaran. Sedangkan direct instruction merupakan model pembelajaran yang bersifat teacher center. Selain itu, pada kelas eksperimen peneliti menerapkan pembelajaran Discovery Learning menggunakan alat sains sederhana. Alat sains sederhana yang diterapkan pada penelitian ini yaitu percobaan yang menjelaskan tentang konsep difraksi cahaya dan interferensi cahaya. Alat dan bahan yang digunakan seperti kaset CD yang ditempelkan sehelai rambut sebagai kisi celah ganda dan silet sebagai kisi celah sempit, laser sebagai sumber cahaya, sterefom sebagai layar, penyangga yang terbuat dari kardus sebagai tempat laser, kisi dan layar, dan mistar sebagai alat ukur. Prinsip kerja dari alat sains sederhana ini yaitu ketika cahaya melewati kisi celah ganda maupun celah sempit maka cahaya akan membentuk pola terang gelap pada layar. Sehingga, output yang akan diperoleh yaitu nilai antara pola terang gelap ke pusat sebagai acuan perbandingan jarak kisi ke layar terhadap pola terang dari berbagai variasi orde. Penerapan media alat sains sederhana ini dalam proses pembelajaran membuat peserta didik lebih antusias belajar, lebih aktif dan kreatif dalam melakukan percobaan sehingga dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis peserta didik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lorenza et al. , . bahwa pemilihan alat sains sederhana bertujuan untuk mempermudah peserta didik dalam memahami materi pembelajaran dan juga agar peserta didik lebih aktif selama proses pembelajaran . Sehingga dengan penggunaan alat sains sederhana dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis peserta Pembahasan Berdasarkan hasil pretest yang dilakukan, maka didapatkan hasil kemampuan berfikir kritis peserta didik pada kelas eksperimen sebesar 5,26 dan kelas kontol sebesar 4,31, bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dan masih relatif rendah. Selanjutnya dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas didapatkan bahwa data pretest kedua kelas berdistribusi normal dan homogen. Kemudian dilakukan uji independet sample t-test, hal ini dilkakukan untuk melihat kondisi awal kemampuan berfikir kritis peserta didik dari kedua kelas tersebut, maka didapatkan nilai Sig. -taile. sebesar 0,46 > 0,05 yang berarti yaycC diterima, tidak ada perbedaan kemampuan berfikir kritis peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sehingga dapat dikatakan kemampuan awal kedua kelas sama. Kemampuan akhir peserta didik dilihat melalui pemberian posttest setelah diberikan didapatkan skor untuk kelas eksperimen sebesar 10,09 dan untuk kelas kontrol sebesar 6,26. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan skor antara kedua kelas, dimana skor pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Selanjutnya dilakukan uji independent sampel t-test didapatkan nilai sebesar 0,000. Artinya terdapat perbedaan kemampuan berfikir kritis peserta didik antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Hal ini diduga karena adanya perbedaan proses pembelajaran yang berlangsung di kedua kelas tersebut. Penelitian ini menggunakan model discovery learning sebagai tahap pembelajaran pada kelas Sintaks model discovery learning terdiri dari 6 tahap, yaitu stimulus, identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian, dan menarik kesimpulan. Sedangkan pada kelas kontrol menerapkan model direct instruction. Sintaks model direct instruction terdiri dari mengamati. Di kelas eksperimen pada pertemuan pertama peserta didik belum memahami tahapan pembelajaran, mereka masih membutuhkan arahan dari peneliti terlihat dari cara mereka dalam Namun, pertemuanpertemuan selanjutnya peserta didik sudah mulai menyesuaikan dengan tahapan pembelajaran yang diterapkan peneliti. Pada tahap pengumpulan data peserta didik terlihat sangat antusias dan terlibat aktif dalam melakukan percobaan karena peserta didik melakukan penemuan konsep secara langsung terkait materi gelombang cahaya menggunakan alat sains sederhana selain itu karena kegiatan praktek sangat jarang dilakukan di sekolah. Berbeda menerapkan model direct instruction, peserta didik sudah terbiasa dengan pembelajaran tersebut sehingga tidak sulit bagi peserta didik untuk tahapan-tahapan pembelajaran yang diterapkan, hanya saja ketika Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kemampuan berfikir kritis peserta didik antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Kelas eksperimen berbantuan alat sains sederhana lebik baik daripada kelas kontrol yang menerapkan model direct instruction dalam meningkatkan kemampuan berfikir kritis peserta didik. Hal ini dapat dilihat pada nilai Dimana nilai mean pada kelas eksperimen sebesar 61% termasuk kategori cukup efektif, sedangkan pada kelas kontrol sebesar 46% termasuk kategori kurang efektif. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan . Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah peneliti paparkan, diperoleh kesimpulan bahwa hasil olah data melalui uji idependent sampel t-test diketahui bahwa sebelum diberikan perlakuan tidak ada perbedaan kemampuan berfikir kritis peserta didik pada kelas eksperimen dan kelas Kemudian setelah diberikan perlakuan yang berbeda, berdasarkan uji independent sampel t-test diperoleh bahwa ada perbedaan kemampuan berfikir kritis peserta didik antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sementara itu, hasil uji N-Gain Score diperoleh bahwa mean kemampuan berfikir kritis kelas eksperimen lebih tinggi, yaitu sebesar 61% dibandingkan kelas kontrol, yaitu sebesar 46%. sehingga, dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh model discovery learning berbantuan alat sains sederhana terhadap kemampuan berfikir kritis peserta didik. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di SMA Negeri 6 Sigi bahwa kemampuan berfikir kritis peserta didik mengenai pokok bahasan gelombang cahaya masih tergolong sedang. Untuk itu bagi peneliti lain juga diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut dengan fokus ketertarikan penelitian, subyek, teknik penelitian yang berbeda dan juga diharapkan dapat mengembangkan instrumen penelitian sehingga dapat meningkatkan ketelitian data riset. DAFTAR PUSTAKA