Jurnal Desain Indonesia Volume 01, nomor 01 Ae Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia KERJA KODE DALAM MEME SOEHARTO Rizky Noviasri Universitas Internasional Semen Indonesia noviasri@uisi. ABSTRAK Salah satu fenomena komunikasi di internet adalah kemunculan meme Soeharto. Meme Soeharto biasa dikenal dengan visualisasi gambar Soeharto sedang melambaikan tangan sambil tersenyum disertai tulisan Aupiye kabare? penak jamanku, to?Ay. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah replikasi meme Soeharto yang berangkat dari semangat imitasi ternyata memunculkan beragam variasi Keberagaman variasi visual ini berasal dari penambahan, pengurangan, bahkan penggantian tanda dari meme asalnya sehingga memunculkan relasi-relasi tanda yang baru. Peneliti mencoba membongkar relasi-relasi antar tanda yang muncul dalam variasi meme Soeharto melalui metode analisis isi terhadap 153 variasi meme Soeharto yang ditemukan di berbagai situs di internet dan analisis kode terhadap beberapa meme terpilih yang dianggap mewakili tiap variasi meme Soeharto. Meski sangat bervariasi secara visual, suatu meme tetap dapat dikenali sebagai meme Soeharto karena meme ini secara visual sudah terkodekan membentuk idiolek yang disepakati oleh masyarakat di internet. Suatu karya yang memiliki idiolek memungkinkan adanya produksi karya lain yang identik dengan karya Penggabungan-penggabungan teks dalam meme Soeharto berarti juga penggabunganpenggabungan kode. Setelah dianalisis, dalam meme Soeharto ditemukan penyalahgunaan kode, kode ganda, hingga memunculkan kode baru. Permainan-permainan kode ini mengakibatkan munculnya ekspresi kejenakaan yang sifatnya menyindir atau bisa disebut juga sebagai parodi. Kata kunci : kode, meme. Soeharto, parodi, internet PENDAHULUAN Internet memudahkan manusia dalam pencarian dan penyaluran informasi yang mengakibatkan perkembangan pesat arus komunikasi. Melalui internet, dimungkinkan komunikasi dengan penyatuan beragam media seperti gambar, tulisan, video dan audio sekaligus. Menariknya, siapapun yang online bisa ikut berpartisipasi untuk menambahkan informasi apapun karena internet merupakan media interaktif tanpa kontrol, lain halnya dengan media massa konvensional. Salah satu fenomena komunikasi yang muncul di internet adalah meme Soeharto. Meme di internet biasanya dikenal dalam bentuk tulisan, gambar, maupun video yang tersebar di berbagai situs. Meskipun, sebenarnya istilah meme tidak terbatas di media internet saja. Richard Brodie . , dalam bukunya yang berjudul AuVirus akal BudiAy memaparkan beberapa definisi Meme didefinisikan Dawkins sebagai Auunsur dasar penyebaran atau peniruan budayaAy, contohnya lagu, gagasan, kata-kata populer, mode pakaian, dan lainnya. Dannet mendefinisikan meme sebagai Aujenis gagasan yang kompleks, yang membentuk dirinya sendiri menjadi satuan yang khas dan mudah diingatAy. Brodie sendiri mendefinisikan meme sebagai Auunsur utama informasi di dalam akal budi yang keberadaannya memengaruhi berbagai peristiwa sedemikian rupa sehingga tercipta lebih banyak salinan meme itu di dalam akalbudi orang lainAy. Secara garis besar, meme merupakan unit kebudayaan yang bisa berupa apapun, termasuk gambar-gambar lucu di internet, yang mudah diingat sehingga memunculkan banyak salinan. Meme yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi pada teks digital yang merupakan penggabungan antara gambar dan tulisan yang tersebar di internet . Ada banyak sekali variasi meme di internet, salah satunya yang viral di Indonesia pada tahun 2013-an bahkan masih bisa ditemui sampai saat ini adalah meme Soeharto. Ada banyak sekali variasi visual meme Soeharto. Salah satu bentuk variasi yang dimaksud adalah gambar Soeharto yang sedang melambaikan tangan disertai tulisan Aupiye kabare? Penak jamanku, to?Ay Page | 7 Jurnal Desain Indonesia Volume 01, nomor 01 Ae Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia Page | 8 Gambar 1. Meme Soeharto Indikator keberagaman meme Soeharto dapat ditinjau dari gambar maupun tulisannya yang tidak statis. Bahkan tidak semua meme yang dikenali sebagai meme Soeharto menggunakan gambar Soeharto, bisa jadi figur Soeharto dimanipulasi maupun digantikan dengan gambar yang lain. Meski visualisasinya sangat beragam, tetapi suatu meme tetap bisa dikenali sebagai meme Soeharto jika dalam replikasinya tetap mempertahankan sebagian elemen dari meme asalnya. Pada meme Soeharto, suatu meme akan dikenali sebagai meme Soeharto jika meme tersebut melakukan imitasi terhadap tulisan Aupiye kabare? Penak jamanku, to?Ay dan atau gestur melambaikan tangan . Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah replikasi meme Soeharto yang berangkat dari semangat imitasi ternyata memunculkan beragam variasi visual. Keberagaman variasi visual ini berasal dari penambahan, pengurangan, bahkan penggantian tanda dari meme asalnya sehingga memunculkan relasi-relasi tanda yang baru. Peneliti mencoba membongkar relasi-relasi antar tanda yang muncul dalam variasi meme Soeharto METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi dan analisi kode. Analisis isi dilakukan terhadap 153 variasi meme Soeharto yang ditemukan di berbagai situs di internet. Dalam metode analisis isi, peneliti menginterpretasikan sendiri keseluruhan variasi meme Soeharto yang ditemukan dan menggolongkannya ke dalam beberapa kategori deksripsi pengamatan tertentu . Salah satu kategori deskripsi pengamatan adalah penggunaan liyan . ang lai. Dalam visualisasinya, variasi meme Soeharto menunjukkan adanya penambahan, pengurangan, bahkan penggabungan visual ikon Soeharto dengan elemen visual objek lain. Dari 153 meme yang diteliti, didapati ada 122 meme menunjukkan relasi dengan liyan. Liyan-liyan tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 1. Liyan dalam Meme Soeharto Kategori liyan Gambar orang Gambar selain orang Sub-kategori Keluarga Tokoh politik Rakyat Pemain bola Artis Sumanto Tokoh lainnya Campuran Karakter fiksi Hewan Produk Jumlah Persentase (%) Jurnal Desain Indonesia Volume 01, nomor 01 Ae Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia Objek lainnya Jumlah Gambar campuran orang dan selain orang Dari data, didapati bahwa liyan variasi meme Soeharto memunculkan beragam liyan mulai dari gambar Page | 9 orang, gambar selain orang, bahkan campuran keduanya. Mayoritas liyan merupakan gambar orang terutama tokoh politik. Hal ini menunjukkan meme Soeharto lekat dengan konteks politik. Selanjutnya, peneliti memilih satu meme dari setiap kategori liyan untuk kemudian dianalisis relasi antar tandanya menggunakan metode analisis kode yang merujuk pada teori lima kode Roland Barthes. Barthes . , dalam buku S/Z membongkar teks Balzac. Sarrasine, sehingga menghasilkan konstruksi lima kode . Kelima kode tersebut adalah hermeneutika, semantik, simbolik, proarietik, dan kultural. Piliang . menjelaskan lima kode tersebut menjadi satu tabel sebagai berikut : Tabel 2. Lima Kode Barthes . Kode Hermeneutika Makna efek provokatif, enigma Semantik konotatif, feminin/maskulin, perversitas, normal/abnormal Ekspresi siapakah mereka? apa yang terjadi? halangan apakah yang muncul? Bagaimanakah tujuannya? dll. Konotasi, maskulin, feminin, kebangsaan, kesukuan. Simbolik Ketidak naratif atau antinaratif lineral/sirkular mitologis, ideologis, spiritual, psikoanalisis, antitesis, kemenduaan, pertentangan dua unsur, skizofrenia. cerita, urutan,narasi atau mitos, kebijaksanaan, pengetahuan, sejarah, moral, psikologi, sastra, seni,legenda Proarietik Kultural Ada kemungkinan dalam suatu teks bekerja lebih dari satu kode sekaligus. Kode merupakan suatu rangkaian yang luas, yang di dalamnya terdiri dari sesuatu yang sebenarnya telah ada sebelumnya, kode membangkitkan kembali segala sesuatu yang telah ada tersebut, sehingga terangkai menjadi suatu KERJA KODE DALAM MEME SOEHARTO Peneliti melakukan analisis kode terhadap 13 variasi meme Soeharto yang mewakili masing-masing variasi liyan serta satu meme yang dianggap meme asli. Berikut meme-meme yang dianalisis : Jurnal Desain Indonesia Volume 01, nomor 01 Ae Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia Page | 10 Gambar 2. Variasi Liyan Meme Soeharto Kode Hermeneutika Kode hermeneutik adalah kode yang memunculkan efek provokatif, menjadikan pembaca merasa penasaran dan bertanya-tanya. Kode ini bekerja pada teks berbahasa Jawa Aupiye kabare? penak jamanku, to?Ay (Indonesia : bagaimana kabarnya? enak jamanku, kan?). Teks ini muncul hampir di semua variasi meme baik sama persis maupun dengan perubahan. Kalimat tersebut mengusik pembaca untuk Jurnal Desain Indonesia Volume 01, nomor 01 Ae Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia bertanya-tanya dan menggiring rasa penasaran mengenai apa yang terjadi di masa lalu dan membandingkannya dengan masa sekarang. Variasi replikasi kalimat ini bisa dilihat misalnya pada meme dengan liyan tokoh politik Joko Widodo. Aupiye kabare, bro? hebat tenan zamanku, toh?Ay. Meme dengan liyan produk. Aupiye kabare? Sih penak ayam gorengku to?Ay. Meme dengan liyan tokoh lainnya. Aupiye kabare karo bojomu saiki? Sek penak jamanku to?Ay. Serta masih banyak lagi variasi kalimat yang lain. Page | 11 Kode Semantik Kode semantik adalah kode yang memunculkan konotasi tertentu. Dalam meme Soeharto berkerja kode semantik yang meskipun sangat variatif secara visual, meme tersebut dikenal sebagai meme Soeharto. Suatu meme dapat dikenali sebagai meme Soeharto jika dalam proses imitasinya, suatu meme masih memiliki elemen visual berupa teks Aupiye kabare?Ay, dan atau gestur melambaikan tangan . Bahasa dan gestur ini menjadi subkode stilistik yang ketika dibaca langsung melekatkan konotasi meme Soeharto. Subkode stilistik dipaparkan Eco . , merupakan kode yang bekerja dengan cara melekatkan konotasi tambahan berupa nuansa tertentu terhadap suatu tanda. Hal ini merupakan contoh Overcoding berangkat dari penempatan makna tertentu pada ekspresi tertentu, maka overcoding melekatkan makna tambahan. Dalam hal ini ekspresi melambaikan tangan dan teks Aupiye kabare?, penak jamanku to?Ay tidak lagi hanya bermakna sebagai sekedar bentuk sapaan orang Jawa melainkan secara tidak sadar telah tersematkan makna baru yaitu Aomeme SoehartoAo. Overcoding juga terjadi karena ada unit tertentu yang telah terkodekan kemudian melalui aktivitas inovatif, kode-kode tersebut dirubah, tetapi perubahan tersebut kehilangan daya provokatifnya sehingga semakin diterima secara sosial. Hal ini terjadi pada figur Soeharto yang dimunculkan sebagai Meme Soeharto mengusung tokoh dari masa lalu. Soeharto adalah orang nomor satu di Indonesia pada 1967 Ae 1998. Presiden kedua yang menduduki kursi kepresidenan dengan periode masa jabatan paling lama di Indonesia. Pada masa Orde Baru. Ikon Soeharto kerap ditampilkan di berbagai media komunikasi. Pada media-media seperti televisi, perangko, poster, billboard, maupun pecahan mata uang. Soeharto divisualkan sebagai individu yang kuat, penting, mendominasi, memimpin, melindungi, dan mempengaruhi . Sangat jauh berbeda dengan figur Soeharto yang ditampilkan dalam Perubahan nampak pada visualisasi dan media yang digunakan untuk menempatkan figur Soeharto yang pada masa lalu ditampilkan AoseriusAo, kini berubah menjadi jenaka. Hal ini menunjukkan adanya aktivitas inovatif masyarakat internet dalam mengubah kode-kode Soeharto yang awalnya AodihormatiAo menjadi AodipermainkanAo. Seringkali masyarakat tidak menyadari kaidah yang telah ter-overcoding. Penyimpangan-penyimpangan teks terjadi karena kerja overcoding di dalamnya. Penyimpangan ini memberikan dampak terhadap penyusunan ulang atas kode-kode sehingga memunculkan pengodean baru. Kode baru yang diproduksi seseorang, tipe kode individual semacam ini disebut sebagai idiolek. Suatu karya yang memiliki idiolek memungkinkan adanya produksi karya lain yang identik dengan karya pertama. Dalam meme Soeharto ditemukan juga kode semantik yang mengkonotasikan etnis Jawa. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan bahasa seperti Aupiye kabare?Ay, pakaian kebaya dan tatanan rambut sanggul yang digunakan Ibu Siti Hartinah Soeharto, istri Soeharto pada liyan keluarga. Dalam meme juga bekerja kode semantik yang mengkonotasikan keabnormalan seperti pada variasi meme dengan liyan campuran yang menggambarkan kendaraan bertangan manusia yang bisa berbicara. Dijelaskan Roland Barthes dalam Piliang . , bahwa tanda tidak bisa dipandang berdiri sendiri melainkan perlu dipandang relasinya dengan tanda yang lain dalam sebuah sistem. Untuk melihat tanda sebagai suatu sistem, perlu melibatkan aturan pengombibasian yang terdiri dari dua aksis yaitu aksis paradigmatik . erbendaharaan tand. dan aksis sintagmatik . emilihan pengombinasian tand. , berdasarkan kode tertentu sehingga menghasilkan ekspresi bermakna . Dalam variasi meme liyan campuran ini, sintag sepeda motor ditumpang tindihkan dengan sintag manusia sehingga merusak sistem tanda yang ada. Penabrakan itu memunculkan paradigma baru kemudian melahirkan sintag baru dan memunculkan kode baru sehingga mengkonotasikan keabnormalan. Menariknya, dalam meme banyak ditemukan dua kode semantik yang bekerja secara bersamaan dalam satu meme, misalnya dalam variasi meme dengan liyan produk. Dalam meme dapat dilihat gambar Jurnal Desain Indonesia Volume 01, nomor 01 Ae Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia Soeharto yang mengenakan pakaian kebaya dan bersanggul. Gambar ini memunculkan konotasi laki-laki dan perempuan sekaligus sehingga memunculkan kode ganda. Kode ganda, dijelaskan Piliang . , terjadi karena adanya suatu kode yang bersintesis dengan kode-kode yang lain. Kode ganda juga dapat ditemukan dalam variasi meme Soeharto dengan liyan tokoh sepak bola yang mengkonotasikan Soeharto sekaligus Alex Ferguson. Alex Ferguson adalah mantan pelatih sepak bola Manchaster United yang disebut-sebut sebagai pelatih klub sepak bola Inggris terbaik dalam sejarah . Begitu juga pada variasi meme dengan liyan Sumanto yang mengkonotasikan Soeharto dan Sumanto sekaligus. Sumanto Page | 12 adalah orang asal Purbalingga. Sumanto dikenal melalui aksi kanibalnya pada 2003. Kode ganda juga muncul pada variasi meme dengan liyan tokoh fiksi. Meme tersebut bisa dikenali sebagai meme Batman Slapping maupun meme Soeharto sekaligus, karena ada elemen gambar dari kedua meme yang dimunculkan secara bersamaan. Situs knowyourmeme. com memaparkan bahwa meme Batman Slapping berasal dari salah satu panel DC komik yang diterbitkan pada 1965. Kode Simbolik Kode simbolik adalah kode yang mengekspresikan pertentangan dua unsur. Kerja kode simbolik dapat dilihat dari teks Aupiye kabare? Penak jamanku, to?Ay (Indonesia : bagaimana kabarnya? enak jamanku, kan?) yang menunjukkan pertentangan dua unsur yaitu jaman Soeharto dengan jaman sekarang. Menariknya dalam pertentangan ini menunjukkan adanya dominasi dan marjinalitas. Dominasi ditujukan pada Aojaman SoehartoAo dilihat dari tulisan Aupenak jamanku, to?Ay yang memarjinalkan kondisi Aojaman sekarangAo. Jika teks ini dibaca dari sudut pandang yang berdasarkan paradigma kritis, maka meme Soeharto tidak perlu dibaca dengan dipusatkan untuk mencari kebenaran melainkan bentuk representasi dominasi pihak tertentu . Kode simbolik juga ditunjukkan pada variasi meme dengan liyan rakyat. Meme menunjukkan gambar Soeharto sedang mencekik seseorang tanpa wajah, yang dalam analisis ini dimaknai sebagai rakyat. Dimaknai sebagai rakyat karena tanpa wajah bisa diartikan sebagai Aubukan siapa-siapaAy, yang secara semantis berkonotasi dengan rakyat kecil. Kerja kode simbolik yang mengekspresikan pertentangan muncul pada gambar yang menunjukkan pertentangan antara peran pemimpin yang seharusnya melindungi rakyat ternyata digambarkan menyakiti rakyatnya. Kode Proarietik Kerja kode proarietik mengekspresikan narasi yang secara keseluruhan dapat dilihat dari meme-meme dengan alur narasi seperti variasi meme dengan liyan campuran dan aktris/aktor. Tidak sedikit meme Soeharto yang dalam replikasinya menghasilkan variasi berupa komik dalam beberapa panel. Kode Kultural Kode kultural yang ditemukan bekerja dalam variasi meme Soeharto utamanya adalah kultural Jawa. Hal ini dapat dilihat mulai dari bahasa yang digunakan hingga karakter figur yang ditampilkan. Dari bahasa yang digunakan pada kalimat Aupiye kabare? Penak jamanku, to?Ay merupakan Bahasa Jawa ngoko. Dalam bahasa Jawa, tingkat tutur ngoko memiliki makna tidak santun. Dalam tingkatan tutur, banyaknya penggunaan kata dalam tingkat ngoko dapat memunculkan suasana keakraban. Relasi antara penutur dan mitra tutur lebih bersifat sebagai penentu, sehingga pemakaian tingkat tutur bukanlah sesuatu yang Faktor emosi, terutama amarah, juga membuat orang biasanya menggunakan tingkat tutur ngoko bahkan dicampur dengan kata-kata kasar dan tabu. Dalam berkomunikasi, penutur dan mitra tutur saling mempengaruhi tingkat tutur, misalnya ketika seseorang berbicara dengan bahasa ngoko pada mitra tuturnya, otomatis mitra tutur juga akan menjawab dengan ngoko juga. Penggunaan tingkat tutur ngoko pada meme menunjukkan relasi antara penutur dan mitra tutur untuk menunjukkan keakraban. Dari kalimat yang digunakan juga menunjukkan karakter Jawa yang tidak mengutarakan maksud secara langsung melainkan menggunakan bahasa yang implisit. Seperti pada kalimat Aupenak jamanku, to?Ay yang secara tidak langsung menunjukkan sindiran terhadap suatu AojamanAo. Karakter Jawa dapat dipandang sebagai orang yang tidak suka berterus terang, suka basa-basi, dan berbelit-belit. Orang Jawa dipandang sebagai orang yang ramah, hangat, toleran, sabar, dan kalem . Kultur Jawa mempengaruhi komunikasi politik Soeharto yang dicirikan dengan banyak kepura-puraan . mpression managemen. , tidak langsung menjurus pada poin utama, dan mengutamakan kesantunan . Budaya Jawa sering dikenal tidak demokrasikarena tradisi Jawa merupakan tradisi kerajaan, tradisi Jurnal Desain Indonesia Volume 01, nomor 01 Ae Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia Raja adalah pemimpin tertinggi dan kepala negara dianggap keturunan atau penjelmaan dewa . Pada variasi meme dengan liyan keluarga ditampilkan gambar Ibu Tien selaku istri Soeharto. Dalam gambar tersebut Ibu Tien bersanggul, berbatik, dan disertai tulisan berbahasa Jawa menjadi representasi dari istri suku Jawa. Di Jawa, wanita memiliki dominasi nyata dan praktis yang lebih memperlihatkan kuasa yang hidup, dibandingkan dengan laki-laki. Kekuasaan laki-laki menjadi mitos Page | 13 ketika dihadapkan pada kenyataan. Wanita memiliki kuasa dan dominsi dalam urusan rumah tangga. Dalam proses pengambilan keputusan, meski secara struktur formal wanita tidak berpengaruh, tetapi secara informal pengaruh tersebut sangat besar. Seperti yang ditampilkan pada meme dengan liyan keluarga. Ibu Tien tidak memiliki kekuasaan dalam bidang politik formal, tetapi secara praktis memiliki kekuasaan informal terhadap Soeharto selaku suaminya. Meski Soeharto merupakan orang nomor satu di Indonesia, tetapi dalam rumah tangga, istri memiliki kekuasaan besar. Kekuasaan istri yang sebenarnya sifatnya bukan kenegaraan melainkan lebih pada hubungan antarpribadi dalam lingkup rumah tangga nyatanya bisa meluas ke sektor-sektor lainnya. KESIMPULAN Meme Soeharto merupakan salah satu fenomena yang muncul di internet. Secara visual, meme Soeharto menunjukkan gairah permainan tanda sehingga membuka gerbang variasi bebas yang menghasilkan banyak variasi meme. Dalam meme Soeharto terjadi penggabungan-penggabungan teks, yang juga berarti penggabungan-penggabungan kode. Meski sangat bervariasi secara visual, suatu meme tetap dapat dikenali sebagai meme Soeharto karena meme ini secara visual sudah terkodekan membentuk idiolek yang disepakati oleh masyarakat di internet. Suatu karya yang memiliki idiolek memungkinkan adanya produksi karya lain yang identik dengan karya pertama. Dalam meme Soeharto bekerja prinsip intertekstualitas. Intertekstualitas dapat didefinisikan sebagai perlintasan satu sistem tanda ke sistem tanda lainnya. Menurut Kristeva, selaku pencetus istilah intertekstualitas, suatu teks tidak bisa berdiri sendiri, melainkan pasti berelasi dan saling bergantung dengan teks-teks lainnya . Intertekstualitas dapat membentuk beragam jenis idiom-idiom yang Meme Soeharto berangkat dari ekspresi perasaan tidak puas terhadap suatu masa. Dijelaskan Bakhtin bahwa memparodi berarti mempertukarkan nilai-nilai dalam teks sehingga menimbulkan kejenakaan yang sifatnya menyindir . Kejenakaan ini muncul karena adanya kode yang disalahgunakan, kode ganda, hingga memunculkan kode baru. Parodi dapat dinikmati jika pemirsanya mengenal objek yang diparodikan. Menurut pandangan Freud, parodi ditujukan pada orang atau objek yang memiliki kekuasaan, kehormatan, dan kedudukan sebagai proses merendahkan karena memparodi berarti merusak keutuhan sifatnya, seperti kepribadian, cara bicara, dan tingkah laku dengan jalan menggantikan cara-cara tersebut (Berger, 2005:. DAFTAR RUJUKAN Brodie. Virus Akal Budi. Jakarta: Gramedia, 2014. Noviasri. Piliang and R. Sihombing, "Replikasi Tokoh dalam Meme Soeharto," Jurnal Sosioteknologi, pp. 32-40, 2016. Krippendorff. Content Analysis An Introduction to Its Methodolgy. Thousands Oak: Sage Publication, 2004. Barthes. S/Z. New York: Blackwell Publishing, 2002. Piliang. Semiotika dan Hipersemiotika. Bandung: Matahari, 2012. Eco. Teori Semiotika. Signifikasi Komunikasi. Teori Kode. Serta Teori Produksi Tanda. Bantul: Kreasi Wacana, 2015. Adityawan. Propaganda Pemimpin Politik Indonesia. Jakarta: LP3S, 2008. Ferguson. Alex Ferguson : My Autobiography. Hodder & Stoughton, 2013. Eriyanto. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks media. Yogyakarta: LKiS, 2010. Jurnal Desain Indonesia Volume 01, nomor 01 Ae Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia . Lesmana. Dari Soekarno Sampai SBY Intrik & Lobi Politik Para Penguasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009. Handayani and A. Novianto. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta: LKiS, 2004. Page | 14