Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Vol. No. 1 April 2024 e-ISSN : 2715-7687 P-ISSN : 2715-8748 Evaluasi Implementasi Program 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui Pada Tenaga Kesehatan dan Ibu Menyusui di Praktik Bidan Mandiri (PMB) Bidan AuUAy Kota Depok Fitria Sari1*. Endang Siti Mawarni. Yuna Trisuci A. Miftahul Jannah Prodi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Indonesia *E-mail: fitria_sari@urindo. Abstrak Latar belakang: Pelaksanaan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui . LMKM) yang belum optimal menjadi perhatian khusus. Berbagai regulasi sudah ada, tetapi cakupannya serta praktik lainnya terkait pemberian ASI seperti IMD belum mencapai target yang ditetapkan terutama di Klinik Bersalin dan Praktik Bidan Mandiri (PMB) karena selama ini fokus implementasi hanya tertuju pada rumah sakit. Tujuan: Mengevaluasi implementasi keberhasilan program 10 LMKM di PMB Bidan AuUAy Kota Depok. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Metode pengambilan data menggunakan teknik wawancara mendalam. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 3 orang provider dan 6 orang ibu penerima program. Tempat dan Waktu penelitian di PMB Bidan AuUAy Kota Depok pada bulan Oktober sd Desember 2023. Analisis penelitian menggunakan model Miles dan Hubberman. Dimulai dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, semua bidan mendukung kegiatan pemberian ASI termasuk diskusi sejak kehamilan, semua bidan membantu upaya iniasi menyusu dini (IMD) dan rawat gabung pada ibu yang melahirkan di PMB AyUAy. Seluruh ibu menyusui tidak pernah menerima bingkisan yang mencantumkan logo merek pengganti ASI (PASI) dan ibu memiliki kepekaan terkait tanda bayi mau menyusu. Namun terdapat beberapa yang belum terlaksana dengan optimal antara lain : belum ada kebijakan tertulis tentang 10 LMKM dan belum terbentuknya kelompok pendukung ASI (KP-ASI). Saran : Perlu adanya kebijakan tertulis tentang 10 LMKM, serta diharapkan semua bidan dapat mengikuti pelatihan manajemen laktasi sehingga pelaksanaan 10 LMKM lebih optimal. Kata Kunci : Menyusui. ASI, 10 LMKM Abstract Background: The implementation of the Ten Steps to Successful Breastfeeding . LMKM) which is not yet optimal is of particular concern. Various regulations already exist, but their coverage and other practices related to breastfeeding such as IMD have not reached the targets set, especially in Maternity Clinics and Independent Midwife Practices (PMB) because so far the focus of implementation has only been focused on hospitals. Objective: Evaluate the successful implementation of the 10 LMKM program at PMB Midwife "U" Depok City. Method: This research is qualitative research with a case study research design. The data collection method uses in-depth interview techniques. The sample in this study was 3 providers and 6 mothers who received the Place and time of research at PMB Midwife "U" Depok City from October to December Research analysis uses the Miles and Hubberman model. Starting from data reduction, data presentation and drawing conclusions. Results: The research results show that all midwives support breastfeeding activities including discussions since pregnancy, all midwives help with early breastfeeding initiation (IMD) and joint care for mothers who give birth at PMB "U". All breastfeeding mothers have never received parcels that include the brand logo of a breast milk substitute (PASI) and mothers are sensitive regarding signs that their baby is wanting to breastfeed. However, there are several things that have not been implemented optimally, including: there is no written policy regarding the 10 LMKMs and there has not been an ASI support group (KP-ASI) http://ejournal. id/index. php/jukmas Article History : Submitted 12 Desember 2022. Accepted 29 April 2024. Published 30 April 2024 Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Suggestion : There needs to be a written policy regarding the 10 LMKM, and it is hoped that all midwives can take part in lactation management training so that the implementation of the 10 LMKM is more optimal. Keywords: Breastfeeding. ASI, 10 LMKM PENDAHULUAN WHO kesehatan yang patuh melakukan 10 LMKM. UNICEF Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui . LMKM) pada pemberian air susu ibu (ASI) termasuk diantara Rumah Sakit Ramah bayi agar menyediakan fasilitas yang layak dan optimal menyusui. Secara nasional. LMKM juga diperkenalkan melalui Rumah Sakit Sayang Bayi. Disini diuraikan bagaimana tahapan dan langkah yang dapat dilakukan rumah sakit dalam mempromosikan Capaian ASI eksklusif di Indonesia belum mencapai target yang diinginkan. Pada tahun sebesar 38%. Sedangkan pada tahun 2018 turun menjadi 37,2%. Hal ini belum mencapat target nasional 50% pada tahun 2020. Dimana ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja sejak melahirkan sampai bayi berusia 6 bulan tanpa tambahan makanan/minuman apapun. Hal ini dapat diupayakan sejak persalinan dengan meningkatkan kualitas pelayanan persalinan Hasil assesmen implementasi 10 LMKM Kabupaten Bondowoso Jawa sesuai permintaan sebesar 100%. Sedangkan nilai kepatuhan terendah pada implementasi langkah 7 yaitu mempraktekkan rooming in . iarkan ibu dan bayi tetap bersam. 24 jam sehari sebesar 5,9%. Begitu pula dengan hasil Kabupaten Probolinggo. Didapatkan hasil dari 34 fasilitas kesehatan yang dilakukan evaluasi, hanya 4 fasilitas kesehatan yang patuh melakukan 10 LMKM. Nilai kepatuhan tertinggi pada implementasi langkah 7 sebesar 29,4% terkait rawat gabung antara ibu dan bayinya. Berbagai regulasi nasional yang dbuat pemerintah sudah ada terkait pemberian ASI. Seperti contohnya pada UU No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan terkait pemberian ASI eskslusif, bahwa setiap bayi memiliki hak untuk mendapat ASI eksklusif sampai usia 6 Adanya sanksi bagi pihak manapun yang berusaha menghalangi. Selain itu ada juga regulasi lain pada Keputusan Menteri khususnya program 10 LMKM. langkah 8 yaitu mendorong pemberian ASI langkah 8 sebesar 100%. Sedangkan nilai dan memfasilitasi ibu menyusui. 2013, cakupan ASI eksklusif Nilai kepatuhan tertinggi pada implementasi Timur didapatkan hasil dari 51 fasilitas kesehatan yang dilakukan evaluasi, hanya 4 fasilitas Kesehatan No. 450 tahun 2004 dan PP RI No. 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI Ekslusif. Walaupun berbagai regulasi sudah ada terkait pemberian ASI eksklusif, tetapi pada http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) ASI maupun ibu menyusui. Dimana evaluasi eksklusif belum mencapai target termasuk program 10 LMKM biasanya dilaksanakan di InisiasI Menyusu Dini (IMD). Selain itu di Rumah Sakit, jarang yang melakukan evaluasi Indonesia belum ada data resmi seberapa di PMB. Klinik ataupun Rumah Bersalin. Hal ini juga yang melatarbelakangi kami untuk menerapkan 10 LMKM secara utuh. Kemudian melakukan penelitian ini. Apalagi persalinan di yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana tingkat faskes terbawah seperti RB dan PMB bentuk pengawasan terkait program 10 masih cukup diminati. LMKM yang sudah diatur oleh pemerintah? Apakah semua fasilitas kesehatan sudah mengimplementasikannya secara lengkap?. METODE Rancangan Penelitian Selama ini pun yang menjadi perhatian implementasi program 10 LMKM hanya berfokus pada fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dibandingkan dengan puskesmas. Bidan Praktik Mandiri (BPM) dan Klinik Seharusnya kesehatan mendapatkan perhatian terkait LMKM memberikan pelayanan pada ibu hamil dan pertolongan persalinan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain penelitian studi kasus Metode mendalam/indepth Instrumen/alat PMB KB, persalinan 24 jam, deteksi dini tumbuh kembang anak termasuk konseling laktasi. Dalam berwenang dalam membantu keberhasilan melaksanakan 10 LMKM seperti IMD dan rawat gabung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi implementasi 10 LMKM di PMB Bidan "U" baik pada bidan pelaksana Analisis menggunakan analisis model Miles dan Dimulai penyajian data dan penarikan kesimpulan. PMB yang berada di Kota Depok. PMB Bidan "U" digunakan yaitu pedoman wawancara dan Hubberman. PMB Bidan "U" merupakan salah satu Teknik sampling dalam penelitian ini adalah purposive sampling karena hanya mengambil informan yang sesuai dengan kriteria, tujuan dan masalah yang ditentukan peneliti yang berada di PMB AuUAy Kota Depok. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah ibu kehamilannya sudah memeriksakan antenatal care (ANC) di PMB Bidan AuU. Keabsahan dan validitas datanya menggunakan triangulasi wawancara antara bidan pemilik PMB, bidan http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) jaga dan ibu menyusui. Tempat dan Waktu penelitian : PMB Bidan Partisipan AuUAy Kota Depok pada bulan Oktober sd Populasi dalam penelitian ini adalah Desember 2023 tenaga kesehatan yang bertugas sebanyak 3 Persetujuan Etik Penelitian memeriksan diri ke PMB Bidan AuUAy Kota persetujuan dari komite etik Universitas Depok. Sampel informan dari penelitian ini Respati adalah bidan yang masih bertugas sebanyak 3 747/SK. KEPK/UNR/X/2023 Indonesia No. orang dan 6 orang ibu penerima program. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Deskriptif Penelitian ini dilakukan di PMB Bidan AuUAy Depok sejak Bulan Agustus sampai Desember 2023 Tabel 1. Gambaran Karakteristik Ibu Menyusui Inisial Informan Umur Paritas Pendidikan 25 th 25 th 20 th 24 th 29 th 27 th SMA SMA SMP SMA SMA Tabel 2. Gambaran Karakteristik Tenaga Kesehatan Nama Usia Pendidikan terakhir Lama bekerja Status Profesi Bidan 2,5 tahun Bidan Jaga D3 Kebidanan 2 tahun Bidan Jaga Profesi Bidan 13 tahun Pemilik PMB Informan dalam penelitian ini terdiri informan lainnya 3 orang Bidan yaitu 2 bidan dari 8 orang, yaitu 5 orang ibu menyusui dan 3 jaga dan 1 pemilik PMB. Informan B1 dan B3 orang bidan. Ibu menyusui 3 orang lainnya paritas yang ke 3 dan ke 4. Dan dari terakhir D3 Kebidanan. Bidan jaga memiliki pendidikan hanya informan P3 yang riwayat pengalaman kerja 2 dan 2,5 tahun, sedangkan pendidikan terakhirnya SMP, sedangkan yang pemilik PMB memiliki pengalaman bekerja selama 13 tahun. SMA. Kemudian Interpretasi Penelitian Dalam diantaranya memiliki paritas 2 dan 2 ibu http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) menyampaikan hasil interpretasi berdasarkan Berikut hasil penelitian yang kami dapatkan di lapangan. Langkah Kebijakan Sarana pelayanan Kesehatan keberhasilan menyusui . LMKM) di PMB Salah satu implementasi 10 LMKM Bidan U Depok. Interpretasi hasil penelitian ini berdasarkan hasil wawancara secara langsung peraturan internal di PMB AuUAy yang mengacu pada ibu pada regulasi yang ada dari pemerintah untuk dan bidan selama disampaikan ke masyarakat khususnya pasien Peneliti menggunakan tabel dalam ibu hamil dan ibu bersalin. Berikut hasil penyajian data agar tampak lebih ringkas dan wawancara pada informan bidan. Tabel 3. Kebijakan sarana pelayanan kesehatan Informan Kebijakan tertulis Tidak ada Tidak ada Promosi pengganti ASI (PASI) Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Keterangan Kebijakan hanya lisan Peraturan internalnya g ada terkait 10 LMKM Belum tertulis terkait program 10 LMKM hanya saja adanya di buku KIA dan PERDA Hanya diberi tas dengan logo bidan AuU Hanya diberi tas logo bidan Tidak pernah diberikan Tidak pernah diberikan Pernah diberi susu tetapi dari puskesmas karena ibunya kurang gizi Hanya dikasih popok dan lotion Berdasarkan hasil wawancara diatas mengikuti panduan yang ada di buku KIA dan dapat diambil kesimpulan bahwa, kebijakan sudah dilaksanakan juga oleh bidannya terkait 10 LMKM di PMB Bidan AuUAy sudah sampai ke MP ASI. dilaksanakan mengikuti peraturan pemerintah Kebijakan seperti mengajari teknik menyusui yang Puskesmas terkait program 10 LMKM minimal benar, melakukan IMD. ASI ekslusif 6 bulan, ada tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD), rawat gabung dan tidak boleh menggunakan rooming in . awat gabung antara ibu dan dot, dll. Hanya saja peraturan internal nya bay. , larangan promosi susu formula dan belum ada terkait 10 LMKM, semua bidan pengganti ASI lainnya, larangan penggunaan empeng dan dot, cara menyusui yang benar Selama http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) termasuk dalam hal ini adalah posisi dan faktor kunci keberhasilan menyusui adalah perlekatan juga menyusui pada saat bayi kesehatan. Hal Permenneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Kesimpulan berikutnya adalah seluruh Anak Republik Indonesia No. 3 Tahun 2010 tentang Penerapan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan mencantumkan logo merek pengganti ASI Menyusui . LMKM). Dengan adanya peraturan secara tertulis, (PASI) sebagai upaya promosi diharapkan petugas kesehatan akan lebih Kompetensi Staf disiplin dan patuh. Begitu pun dengan Kompetensi staf atau tenkes dalam masyarakat yang diharapkan lebih peduli dan LMKM mengetahui sehingga keberhasilan menyusui dibutuhkan untuk memberikan edukasi yang dapat tercapai. optimal dan maksimal kepada ibu. Adapun Dalam penerapannya harus mengikuti pada kenyataan di lapangan, ada bidan yang SOP yang ada, sesuai dengan panduan sudah mengikuti pelatihan dan ada juga yang program, sistematis, memudahkan dan dapat Sesuai dengan info dari tabel berikut. Dan salah satu yang menjadi Tabel 4. Kompetensi Staf dalam mengikuti Pelatihan Informan Mengikuti Pelatihan Belum Berdasarkan hasil wawancara, tidak Keterangan Pelatihan manajemen laktasi Tidak pernah Pelatihan konseling menyusui Diskusi mengenai ASI dan manajemen semua bidan pernah melakukan pelatihan menyusui pada sejak kehamilan terkait menyusui. Informan B1 sudah ikut Diskusi terkait ASI sebaiknya dilakukan pelatihan manajemen laktasi, informan B3 sejak ibu memeriksakan kehamilannya terkait manfaat menyusui, perawatan payudara. Sedangkan informan B2 belum pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan, rawat mengikuti satu pun pelatihan dengan alasan gabung serta cara menyusui yang benar. Hal keterbatasan biaya dan waktu. Hal ini seharusnya penting untuk mengajarkan ke ibu demi mencapai keberhasilan menyusui. http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Tabel 5. Diskusi sejak kehamilan Informan Diskusi sejak kehamilan Tidak Keterangan ASI ekslusif. IMD sama rawat gabung Persalinan nantinya akan dilakukan IMD 1 jam , dianjurkan untuk rawat gabung sudah dijalankan dan sesuai dengan prosedur Tidak ada yang memberi tahu sejak kehamilan Sering datang penyuluhan, tapi lupa apa yang Selama hamil diberikan informasi tentang pemberian ASI, pola makan selama kehamilan, minum vitamin Pemberian ASI secara eksklusif sampai 6 bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun Nutrisi, vitamin, cara menyusui, dll Cara menyusui Berdasarkan hasil wawancara, semua diskusi terkait program 10 LMKM sudah edukasi terkait menyusui sejak kehamilan. Sedangkan pada informan ibu menyusui, 4 persiapan persalinan dan ASI eksklusif . Melakukan kontak dan menyusui dini edukasi sejak bayi baru lahir mengatakan tidak ada yang memberi tahu Proses pelaksanaan IMD di kamar sejak kehamilan. Sedangkan 1 orang lagi bersalin yang dimulai dari pendampingan dan menyatakan sering datang penyuluhan, hanya tindakan/proses pelaksanaannya merupakan saja ibu lupa apa yang disampaikan. rangkaian dalam pelaksanaan IMD. Berikut Hal ini sesuai dengan hasil penelitian hasil wawancara yang disampaikan informan. Wahyuni Mahmud, dkk, 2021. bahwa http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Tabel 6. Inisiasi Menyusu Dini Informan IMD Keterangan kita melakukan IMD IMD A 1 jam Kalau pas lahir langsung Melakukan IMD Bayi langsung diletakkan di dada ibu selama 1 jam Ditaruh di dada ibu, minimal 1 jam, kaya kangguru. Bayinya cari Iya di taruh di dada saya IMD Melahirkan secara SC Melahirkan secara SC, bayi langsung dibawa untuk diperiksa Melahirkan secara SC, tidak IMD, tidak tau Berdasarkan aturan dari Permeneg secara sectio caesarea (SC). Mereka adalah PP&PA tahun 2010 . Sesuai dengan pasien PMB Bidan AuUAy sejak kehamilan. Hanya ke empat menuju keberhasilan saja ketika melahirkan, dirujuk ke RS karena menyusui yaitu membantu ibu melakukan ada indikasi medis. Sepulangnya dari RS, inisiasi menyusui dalam waktu satu jam setelah kelahiran. Begitu pun seharusnya menyusui tetap didapatkan dari PMB Bidan pada ibu yang melahirkan secara sectio AuUAy. Ibu dibantu setelah 30 menit ibu Pelaksanaan IMD kontak kulit ke kulit Sedangkan yang menggunakan anestesi segera mungkin setelah lahir harus dilakukan lumbal . ukan anestesi seluruh bada. Ibu kecuali pada beberapa kondisi atau alasan tetap dibantu untuk segera menyusui bayinya Beberapa alasan tersebut diantaranya dalam setengah jam pertama di ruang ada bayi dengan kelahiran kurang dari 37 Berdasarkan hasil wawancara diperoleh bawaan, ketuban yang bercampur dengan hasil bahwa semua bidan membantu dalam mekonium dan adanya infeksi pada bayi. proses IMD. Dukungan yang penuh dari Dukung mempertahankan pemberian ASI Tenaga kesehatan dapat mengajarkan pada ibu cara menyusui yang benar dimulai perkembangan bayi. Dalam hal ini, 3 informan ibu menyusui melakukan IMD. bagaimana cara mempertahankannya. Berikut Sedangkan hasil wawancara yang disampaikan oleh melakukan IMD karena melahirkan di RS Termasuk informan ibu menyusui. http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Tabel 7. Dukungan Menyusui Informan Dukungan Tidak ada Keterangan Jangan sambil rebahan, sambil duduk Ibunya langsung bisa sendiri Pada saat bayi lahir sudah diajari teknik menyusui oleh tenaga kesehatan Selalu diajari oleh bidan nya mulai kehamilan trimester 3 dan pada saat imunisasi masih diberikan informasi terkait teknik menyusui dan perlekatannya Pada saat di Rumah Sakit dikasih tahu karena ada suster laktasi yang ngasih tahu , cara nyusuin, cara gendong nya Menyusui dalam posisi duduk, ga boleh tiduran, takut Berdasarkan hasil wawancara pada ibu Sedangkan alasan lainnya. Padahal dengan mengetahui teknik menyusui yang benar dapat mencegah terjadinya puting lecet pada ibu danbayi akan lebih tenang . Selain itu. ASI juga akan langsung bisa sendiri tanpa diajarkan oleh Pengetahuan yang diterima oleh ibu keberhasilan dalam menyusui akan lebih mudah tercapai. Pada proses pemberian ASI, salah satu Hanya memberikan ASI saja tanpa hal yang harus diperhatikan adalah teknik minuman pralaktal sejak bayi lahir Edukasi teknik menyusui yang Bayi hanya diberikan ASI saja tanpa paling mendasar adalah mengajarkan cara ibu tambahan makanan atau minuman apapun memposisikan dan pelekatan pada bayi. sejak lahir sampai usia 6 bulan. Hal ini sudah Beberapa cukup untuk memenuhi gizi bayi kecuali ada terjadi pada ibu, baik yang primipara ataupun indikasi medis atas rekomendasi tenaga multipara adalah ibu tidak mendapatkan kesehatan yang berwenang. Kepatuhan ibu informasi secara utuh tentang menyusui, ibu dalam memberikan ASI saja sejak lahir terlihat lalai terhadap cara menyusui, ibu merasa dari hasil wawancara sebagai berikut. sudah bisa tanpa perlu diajarkan dan berbagai Tabel 8. Hanya memberikan ASI saja tanpa tambahan makanan apapun Informan Kepatuhan memberi ASI saja sejak bayi lahir Pandangan terkait susu Tidak dianjurkan Tidak dianjurkan Keterangan Bayi yang diberi akan sering sakit Sufor tidak bagus untuk bayi baru http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Tidak dianjurkan Tidak di anjurkan susu formula untuk bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis Masih terus memberikan ASI saja tanpa tambahan apapun Masih ASI, tanpa campuran ASI saja full ASI saja Selalu diberikan ASI sampai saat ini , hanya saja saat lahir dipisah dengan bayi dan sempat diberikan susu formula di RS pada saat SC Tetap ASI Berdasarkan hasil wawancara yang 450/MENKES/SK/VI/2004 tentang Pemberian dilakukan kepada seluruh informan, diperoleh ASI Eksklusif pada Bayi di Indonesia . hasil ada 5 ibu yang sejak awal memberi ASI Tenaga saja pada bayinya, sedangkan 1 orang ibu, informasi kepada ibu menyusui sejak masa bayinya sempat diberikan susu formula di RS karena sang ibu mengalami perdarahan Mempraktekkan rooming in . iarkan sehingga terpisah. Sedangkan ketiga bidan ibu dan bayi tetap bersam. 24 jam mengatakan tidak menganjurkan memberikan susu formula. Ibu dan bayi dibiarkan bersama Pemberian ASI saja hingga usia 6 bulan. Kemudian pemberian ASI diteruskan hingga usia 2 tahun bersama dengan makanan pendamping asi (MP ASI) yang adekuat merupakan salah satu peraturan yang ada dalam 24 jam atau dikenal dengan istilah rawat gabung. Hal ini berguna agar ibu bisa menyusui sesering mungkin dan semau bayi tanpa diwaktu. Selain itu dalam regulasi pemerintah Indonesia. Hal ini terciptanya bounding antara ibu dan bayi terutama di hari hari pertama bayi lahir ke Kesehatan Keputusan Menteri Tahun No. Tabel 9. Rooming-in Informan Rawat Gabung Keterangan Tidak dipisahkan, di kamar yang sama Posisinya berdekatan, 1 kamar tapi beda tempat tidur Posisi 1 ruangan Ibu dan bayi terpisah selama 10 hari dan hanya berkunjung 2x sehari untuk menjenguk bayinya. Bayi berada di ruang NICU Terpisah 2 x 24 jam Hari Rabu pagi operasi, baru ketemu bayi hari Jumat sore http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Berdasarkan hasil wawancara diperoleh Membantu ibu menyusui semau bayi hasil bahwa, 3 ibu yang melahirkan di PMB AuUAy dilaksanakan rawat gabung, sedangkan 3 lamanya maupun frekuensinya ibu lainnya tidak dilaksanakan rawat gabung Ibu karena melahirkan di RS. Bahkan 1 orang ibu memberikan ASI sesuai permintaan bayi. Ibu mengatakan tidak tahu mengapa harus pun perlu diedukasi untuk mampu mengenali dipisah dan mengapa dia tidak langsung tanda bayi siap menyusu. Tanda itu berupa menetein bayinya. Tidak ada informasi yang mulut bayi mencari atau menoleh ketika pipinya disentuh, bayi mengeluarkan suara mengetahui lebih lanjut, karena penelitian kecil, mengisap jari dan terbangun juga hanya terbatas di PMB Bidan AuUAy saja. Hal ini sesuai dengan jawaban RS. Kami informan sebagai berikut. Tabel 10. Mengenali dan merespon isyarat bayi menyusu Informan Waktu menyusu Tanda bayi siap menyusu Tidak diwaktu Pas lagi nangis Semau bayinya Kapan saja ibu selalu menyusui Klo dia nangis ya lngsung di susui Setiap saat selagi Rungsing, gerak gerak mulu Pas dia merasa haus aja. disusui pas lagi tidur Bayi bergerak gerak, kalua bayi tetidur lama dibangunkan jika diberikan rangsangan diarea mulutnya jika kepala geleng-geleng berarti ingin menyusu atau disaat bayi menangisAy mulutnya mencari-cari berarti dia haus klo dah kelamaan baru deh nangis Tandanya nangis ga berhenti berhenti, merintih Menurut hasil wawancara kepada 6 Penggunaan dot/kempeng dalam waktu Informan memiliki kepekaan bahwa lama dapat membuat bayi bingung puting. Hal tanda bayi mau menyusu adalah menangis, ini disebabkan karena perbedaan fisiologi merintih, mulutnya mencari cari. Dan bayi menyusu langsung dengan fisiologi menyusui disusui tidak diwaktu, semaunya bayi. dengan botol. Berikut adalah hasil wawancara Tidak memberikan dot atau kempeng dengan beberapa informan ibu menyusui kepada bayi yang diberi ASI http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Tabel 11. Penggunaan dot/empeng Informan Penggunaan dot/empeng Tidak setuju Tidak setuju Tidak setuju Tidak setuju Tidak setuju Berdasarkan Keterangan Tidak setuju takut lupa sama putingnya, takut bibirnya monyong Tidak pernah memberikan dot/empeng ke anak karena kurang Karena membuat bingung putting dan bayi jadi malas untuk menyusu ke ibunya ibu tidak memberikan karena anaknya tidak mau Kurang bagus langkah lainnya yang tercantum dalam 10 mendalam, diperoleh hasil 5 orang ibu tidak LMKM seperti rawat gabung, inisiasi menyusu setuju menggunakan dot/empeng dengan dini, dll. Koordinasi pemulangan dari fasilitas menjadi monyong dan bayi jadi malas menyusu ke ibu nya. Sedangkan 1 orang Sepulangnya ibu dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan, perlunya ibu mendapat menggunakan empeng/dot. Walau begitu, ibu dukungan dari Kelompok Pendukung ASI di tetap tidak memberikan dot pada anaknya masyarakat ataupun di komunitas. Ibu dapat karena anaknya tidak mau. dirujuk ke kelompok tersebut setelah keluar Adanya larangan terkait memberikan dari rumah sakit atau klinik. Berikut adalah dot atau kempeng kepada bayi dapat hasil wawancara terkait penjelasan apa yang didapat ibu ketika pulang dari pelayanan pemberian ASI eksklusif pada bayi. Termasuk dapat meningkatkan keberhasilan langkah Tabel 12. Koordinasi pemulangan dari fasilitas kesehatan Informan Penjelasan terkait menyusui Tidak ada Tidak ada Dapat Dapat Dapat Tidak ada Keterangan Hanya Info, balik kesini lagi untuk kontrol bayi Paling nanti ibu udah boleh pulang ya bu, ibu kesini lagi pas suntik apa, yang di kaki, pas 3 hari. Kalo ada keluhan, langsung ke bidan seperti jam jam untuk menyusui, jangan memberikan makanan selain ASI Pernah dapat informasi terkait menyusui seperti bayi wajib di sendawakan setelah disusui Makannya lebih banyak untuk ibunya karena lagi netein , setelah menyusui di sendawain, perlekatan bayinya Cuma dijelasin minum obatnya aja ama disuruh balik lagi untuk periksa jahitan http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Menurut hasil wawancara, 3 orang mendapatkan penjelasan terkait menyusui, berpendidikan D3 kebidanan. Dan dari 3 tetapi bukan terkait dukungan komunitas bidan tersebut, semuanya memiliki Hanya terkait posisi, perlekatan, pengalaman praktik yang cukup untuk melayani pasien Sedangkan 3 orang lainnya tidak mendapat Semua penjelasan apa apa, hanya terkait jadwal pemberian ASI, namun belum ada kontrol saja. Eksklusif Dalam hal ini belum sesuai dengan teori ASI ASI Yuniyanti, 2017 . Kelompok pendukung ASI berguna untuk memberikan kepercayaan berpedoman pada 10 Langkah Menuju Keberhasilan menyusui . LMKM) dan pengalaman antara ibu menyusui. Kelompok kebijakan berupa panduan yang ada di pendukung ASI bisa dimulai dari kader, karena Sedangkan peraturan internal dari PMB KIA PERDA AyUAy itu sendiri belum ada. Seluruh ibu menyusui tidak pernah Partisipasi dan peran masyarakat dalam mendukung ASI menjadi hal yang penting. merek pengganti ASI (PASI) sebagai Adanya kerjasama antara tokoh agama, tokoh upaya promosi masyarakat serta kader sangat diperlukan Tidak semua bidan pernah melakukan untuk tercapainya keberhasilan menyusui. pelatihan terkait menyusui. Dari 3 bidan Keberhasilan yang ada, 1 orang pernah mengikuti jawab kita bersama. pelatihan manajemen laktasi, 1 orang lainnya pernah mengikuti pelatihan KESIMPULAN konseling menyusui. Sedangkan 1 orang Hasil penelitian pada 3 bidan pelaksana lagi belum mengikuti satu pun pelatihan yang bertugas dan 6 ibu menyusui yang biasa dengan alasan keterbatasan biaya dan berkunjung/pasien dari PMB AyUAy Kota Depok, maka dapat disimpulkan hasil sebagai berikut Semua memberikan edukasi terkait menyusui Ada Sedangkan berpendidikan terakhir profesi bidan, http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) ibu menyusui, 4 orang mengatakan tidak ada yang memberi menyusu adalah menangis, merintih, tahu sejak kehamilan. Sedangkan 1 mulutnya mencari cari. Ada bahwa tanda bayi dot/empeng penyuluhan, hanya saja ibu lupa apa yang disampaikan alasan khawatir bingung putting, bibir Semua bidan membantu dalam proses menjadi monyong dan bayi jadi malas IMD. menyusu ke ibu nya. Sedangkan 1 melakukan IMD. Sedangkan 3 informan lainnya tidak melakukan IMD karena melahirkan di RS secara sectio caesarea empeng/dot. Walau begitu, ibu tetap (SC). Mereka adalah pasien PMB Bidan tidak memberikan dot pada anaknya AuUAy sejak kehamilan. Hanya saja ketika karena anaknya tidak mau indikasi medis Semua informan ibu menyusui memiliki melahirkan, dirujuk ke RS karena ada kehamilan terkait menyusui. 1 orang orang lagi menyatakan sering datang melahirkan di RS Ada Sebelum kepulangan ibu dari pelayanan mendapatkan penjelasan tentang teknik Seperti posisi, perlekatan. Sedangkan 1 orang merasa sendawakan bayi setelah menyusui langsung bisa sendiri tanpa diajarkan oleh bidan Ada sebanyak 5 ibu yang sejak awal penjelasan apa apa, hanya terkait ASI sedangkan 1 orang ibu, bayinya sempat Sedangkan jadwal kontrol saja. diberikan susu formula di RS karena Ucapan Terima Kasih sehingga terpisah. Sedangkan ketiga Penulis ingin menyampaikan ucapan terima bidan mengatakan tidak menganjurkan kasih kepada keluarga, pihak Universitas memberikan susu formula. Respati Indonesia, informan penelitian juga Ada sebanyak 3 ibu yang melahirkan di tim peneliti yang telah bekerjama dengan baik PMB AuUAy dilaksanakan rawat gabung, untuk membantu menyelesaikan tulisan ini. http://ejournal. id/index. php/jukmas Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Daftar Pustaka