Hidup Beragama Dalam Lingkungan Persekolahan Katolik Yohanes Indrawono Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Email : untility. 123@gmail. Abstrak Beragama merupakan sebuah prinsip yang ada dalam kehidupan manusia dan setiap orang yang beragama. Agama sangat mempengaruhi perilaku dan relasi dengan sesame dilingkungan masyarakat terlebih dilingkungan persekolahan. Sekolah merupakan salah satu tempat berkembangnya pribadi seingga dapat hidup dan tumbuh dalam segala hal, yakni agama, adat istiadat, suku, dan bangsa itu sendiri, sangat relevan dengan lingkungan belajar dan menjunjung tinggi kebhinekaan. Mengargai dan saling mendukung dalam sebuah moderasi agama dalam Pendidikan pertama dalam lingkungan sekolah dapat menanggapi berbagai masalah agama dan peradaban dilingkungan belajar yang beragam karakter. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana moderasi beragama, empati dan kepedulian warga sekolah di lingkungan persekolahan Penelitian ini menggunakan . enelitian lapanga. , yaitu observasi. Dalam hal ini juga peneliti melakukan wawancara dengan warga sekolah. Hasil dari penelitian ini adalah warga sekolah lingkungan persekolahan katolik yang saling menerima, saling menghormati, saling membantu, dan saling melindungi tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan yang ada. Hal inilah yang membuat warga sekolah dapat hidup dengan damai, aman dan tentram. Kata kunci: Warga. Lingkungan sekolah, moderasi. Pendidikan. Abstract Religion is a principle that exists in human life and every religious person. Religion greatly influences behavior and relationships with others in society, especially in the school environment. School is a place for personal development so that they can live and grow in all things, namely religion, customs, ethnicity and the nation itself, which is very relevant to the learning environment and upholds diversity. Respecting and supporting each other in a moderation of religion in the first education in the school environment can respond to various religious and civilizational problems in learning environments with diverse characters. The aim of this research is to find out how religious moderation, empathy and concern for school residents are in a Catholic school environment. This research uses . ield researc. , namely observation. In this case, the researcher also conducted interviews with school residents. The results of this research are that school residents in a Catholic school environment accept each other, respect each other, help each other, and protect each other without questioning existing differences in beliefs. This is what allows school residents to live peacefully, safely and securely. Keywords: Citizens. School environment, moderation. Education. PENDAHULUAN Pendidik merupakan salah satu profesi pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dalam lembaga pendidikan, dengan melakukan pendekatan, layanan pendidikan dan merealisasikan program guru dalam layanan pendidikan. Pelayanan Pendidikan memiliki tujuan yang tidak hanya semata-mata menyelesaikan kewajiban mejalankan kewajibannya saja, namun juga bertujuan mewujudkan empati serta kepedulian siswa, menanamkan nilai kepribadian, berkonstribusi kepada masyarakat melalui dunia Pendidikan. Sebab. Pendidikan sangat penting bagi semua orang yang bertujuan untuk mencerdaskan dan mengembangkan potensi dalam diri. Dengan semakin bertumbuh dan berkembang, setiap individu bisa memiliki bahkan meningkatkan kreativitas, pengetahuan yang lebih luas, kepribadian yang baik dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Moderasi beragama pada dasarnya merujuk pada sikap untuk mengurangi bahkan menghindari keekstreman dalam praktik beragama, karena pada dasarnya kata AuModerasiAy . alam Bahasa Latin AumoderytioA. berarti kesedangan, tidak kelebihan dan tidak kekurangan. Dalam terminologi ini moderasi tidak serta merta bisa langsung bisa diterima dengan pikiran yang baik oleh semua warga sekolah dikarenakan latarbelakang yang berbeda. 1 Agama yang ada juga dapat menyebabkan orang menjadi tidak serius dalam beragama. Bahkan, bisa saja dapat membuat orang tidak beragama secara utuh. Moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri . dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan . 2 Berbicara tentang Moderasi, sebenarnya dalam Gereja Katolik memiliki gagasan tentang moderasi beragama yang sudah tersirat dalam Dokumen Konsili Vatikan II, yakni dalam dokumen Nostra Aetate. Artikel no. 2 dari dokumen tersebut menyatakan: AuGereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suciAy jadi moderasi beragama harus dipahami baik dan dilaksanakan terlebih pada satuan sekolah dan menjadi tanggung jawab para guru agama dan kita semua warga negara. 3 Moderasi Beragama saat ini menjadi kebijakan dan fokus utama serta roh Kementerian Agama yang sangat perlu untuk diajarkan di sekolah karena paham radikalisme beragama telah masuk dan menyusup dalam dunia Pendidikan. Dalam tradisi Gereja Katolik, hidup dalam moderasi beragama menjadi salah satu cara pandang untuk menengahi Extremisme tafsir ajaran Gereja Katolik yang hanya dipahami oleh sebagian orang umatnya. Dalam hal ini, lembaga Pendidikan (Sekola. merupakan salah satu tempat yang digunakan untuk memperkuat moderasi beragama dengan cara melakukan interaksi semaksimal mungkin antar pemeluk agama dan aliran. Dengan demikian modersi beragama memiliki makna dengan lebih mengedepankan keseimbangan keyakinan moral dan pemikiran sebagai bentuk ekspresi sikap keagamaan individu atau kelompok tertentu di tengah keberagaman dan Jadi, moderasi tidak berpihak pada pihak manapun, bersikap adil, dan tidak membenci kelompok lain, hal ini sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Tujuan dari ditulisnya artikel ini ialah untuk Meningkatkan empati dan kepedulian warga sekolah, menanamkan nilai kepribadian, mengembangkan kemampuan sebagai peneliti. Kontribusi Muhamad Murtadlo. Pendidikan Moderasi Beragama Membangun Harmoni Kemajemukan Negeri (Jakarta: LIPI Press, 2. , 1 Tim Penyusun Kementerian Agama. MODERASI BERAGAMA (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2. Nostra Etate art. Dokumen konsili Vatikan II GLORIA BASTIAN S. SITANIA. AuPERAN GURU MENGIMPLEMENTASI SIKAP MODERASI BERAGAMA DI SEKOLAHAy INSTITUTIO: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN VOL. Vi NO. Ae JULI 2023. sekolah melalui aktivitas yang bisa memecahkan permasalahan di lingkungan persekolahan. Sebagai sarana tidak langsung dalam promosi dan branding sekolah. Selain itu juga ialah memberikan pandangan tentang pentingnya sebuah pemahaman dan pengetahuan tentang moderasi beragama dalam lingkungan pendidikan. untuk disebarluaskan kepada masyarakat dengan tujuan mendukung program pemerintah dalam rangka mensyiarkan moderasi beragama. Salah satunya di dunia pendidikan. Mengingat generasi dalam pendidikan akan terus berganti tiap Pergantian individu ini dapat membuat konsep moderasi beragama bisa menyebar ke semua lapisan masyarakat. Dengan adanya tulisan ini, kita semua menjadi sadar bahwa sikap saling menghormati dan menghargai antar pemeluk agama, menjadi sangat penting demi terciptanya kerukunan dan ketentraman Pendidikan dilingkungan persekolaan katolik tanpa mengurangi esensi keimanan katolik dalam penyelenggaraan Pendidikan disekolah6. Dalam hal ini, implementasi moderasi beragama di lingkungan persekolahan katolik sudah terjalin dengan sangat baik. Walaupun disekolah ini notabene Sekolah yang beridentitas Katolik, ada juga banyak siswa yang beragama non-katolik yang mengenyam Pendidikan ditempat tersebut. Sehingga perbedaan agama tidak membedakan satu sama lain antara warga sekolah yang beragama katolik dan non-katolik. Dengan terciptanya moderasi beragama akan tercipta kerukunan dan toleransi satu sama lain, maka dengan begitu setiap umat beragama dapat menjalin hubungan dengan orang lain, menerima perbedaan-perbedaan yang timbul dalam lingkup warga sekolah dan terjalin persaudaraan secara tentram dan damai. Oleh sebab itu, moderasi beragama menjadi sangat penting diimplementasikan dalam lingkungan persekolahan, karena dengan mengamalkan konsep moderasi beragama dilingkungan persekolahan pada hakikatnya bisa membangun suatu kondisi yang harmonis antar warga sekolah sebagai umat beragama, sehingga dengan kondisi tersebut kehidupan warga sekolah baik itu antar siswa, antar guru, antar karyawan, antar guru dan siswa dan sebaliknya, antar guru dan karyawan, atar karyawan dengan siswa dan sebaliknya, dengan orangtua murid ataupun dengan orang yang membangun relasi dengan sekolah atau instansi akan tetap terjalin secara damai dan tentram tanpa perselisihan antar agama satu dengan yang lain. METODE Peneliti dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Yang mana menurut Lincoln dan Denzin penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang menggunakan latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi yang dilakukan dengan cara Alya Mutiara Khansa. AuModerasi Beragama dalam Dunia PendidikanAy Skripsi: PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK TAHUN 2022. Hal. Yusuf Siswantara. Angga Satya Bhakti. Ludovica Dewi Indah Setiawati. FX Bambang K Subowo. SS. KARAKTER RELIGIUS DALAM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK: STUDI PERSEPSI SISWA TENTANG HIDUP BERAGAMA DALAM KERAGAMAN. https://ejournal. id/index. php/vocat. Vol. No. 2 Tahun 2022. Hal. melibatkan berbagai metode penelitian yang ada. 7 Metode penelitian kualitatif ini juga sering disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah . atural settin. 8 Penelitian ini dilakukan di beberapa bagian warga yang berada di persekolahan SMA Santu Petrus Pontianak, dengan subjek penelitian ini sebagai narasumber yang berasal dari Siswa-siswi dan juga karyawan dilingkungan persekolahan SMA Santu Petrus yang berperan dalam membantu mengumpulkan informasi dan data-data untuk mendukung penelitian ini. Penelitian ini membutuhkan waktu kurang lebih selama 3 hari, terhitung sejak tanggal 23 hingga 25 Oktober 2023. Dalam hal ini, pendidik merupakan salah satu profesi pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dalam lembaga pendidikan, dengan melakukan pendekatan, layanan pendidikan dan merealisasikan program guru dalam layanan pendidikan. Pelayanan Pendidikan memiliki tujuan yang tidak hanya semata-mata menyelesaikan kewajiban mejalankan kewajibannya saja, namun juga bertujuan mewujudkan empati serta kepedulian siswa, menanamkan nilai kepribadian, berkonstribusi kepada masyarakat melalui dunia Pendidikan. Sebab. Pendidikan sangat penting bagi semua orang yang bertujuan untuk mencerdaskan dan mengembangkan potensi dalam diri. Dengan semakin bertumbuh dan berkembang, setiap individu bisa memiliki bahkan meningkatkan kreativitas, pengetahuan yang lebih luas, kepribadian yang baik dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Adapun tujuan dari kegiatan ini yaitu: Meningkatkan empati dan kepedulian warga sekolah, menanamkan nilai kepribadian, mengembangkan kemampuan sebagai peneliti. Kontribusi sekolah melalui aktivitas yang bisa memecahkan permasalahan di lingkungan persekolahan. Sebagai sarana tidak langsung dalam promosi dan branding sekolah. Sekaligus memberikan pandangan tentang pentingnya sebuah pemahaman dan pengetahuan tentang moderasi beragama dalam lingkungan pendidikan. untuk disebarluaskan kepada masyarakat dengan tujuan mendukung program pemerintah dalam rangka mensyiarkan moderasi beragama. Salah satunya di dunia pendidikan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara kepada beberapa warga sekolah SMA Santu Petrus Pontianak. Kegiatan wawancara dilakukan di taman sekolah pada tangga 24 Oktober 2023 dalam durasi waktu 30 menit. Pertanyaan yang diberikan mencakup . Bagaimana kerukunan umat umat beragama di lingkungan pendidikan persekolahan SMA Santu Petrus Pontianak ? . Pada hari raya besar, menurut warga sekolah bagaiman pandangan tentang islam, katolik, kristen, hindu, budha dan konghucu ? . Bagaimana sikap warga sekolah yang non-katolik tentang kegiatan sekolah yang mengarah kepada kegiatan keagamaan ? Apakah warga sekolah saling menghargai pendapat orang lain yang berbeda agama? . Apakah warga sekolah di dipersekolahan tersebut saling tolong-menolong tanpa memandang agama? . Apakah guru dan siswa yang menganut dari masing-masing agama saling berkontribusi untuk saling tolong-menolong dalam mewujudkan seluruh kegiatan dilingkungan sekolah ? HASIL DAN PEMBAHASAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pentingnya moderasi beragama di lingkungan persekolahan SMA Santu Petrus Pontianak. Informasi yang didapat peneliti yaitu bersumber dari Albi Anggito, dan Johan Setiawan. Metodologi Penelitian Kualitatif (Sukabumi: CV Jejak, 2. , 7. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2. , 8 warga sekolah. Pada temuan ini peneliti membuat beberapa pertanyaan yang akan di jawab oleh Pertanyaan tersebut dapat dilihat pada tabel: Partisipan Pertanyaan Jawaban Beberapa karyawan Eo Bagaimana kerukunan umat Eo Respon masing-masing dan beberapa siswa di informan ialah pemeluk agama pendidikan lingkungan persekolahan SMA persekolahan SMA Santu Santu Petrus Pontianak sangat Petrus Pontianak ? baik dan tidak ada gangguan atau hambatan akan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Eo Kerukunan dalam sekolah sangat keren dan harus terus Bersamasama dalam mewujudkannya. Eo Sangat menghormati perbedaan dan saling melengkapi jika terjadi kekurangan dan unik. Eo Kerukunan itu sangat penting untuk mewujudkan keidupan Bersama ditengah kemajemukan. Eo Pada hari raya besar. Eo Sangat baik, sebab dalam sebuah menurut warga sekolah kebersamaan pandangan meneguhkan iman satu dengan katolik, yang lain. kristen, hindu, budha dan Eo Semuanya baik dan sangat Eo Agama itu semuanya baik, dan tergantung dari setiap pribadi Maka dari itu perlu pendamping atau pembinaan yang benar sehingga tidak Dengan demikian Kerukunan yang dapat terjalin dengan baik pada setiap pemeluk agama dan saling bertoleransi. Eo Bagaimana sikap warga Eo Sangat toleran dan mendukung sekolah yang non-katolik sebagai ciri khas sekolah katolik. tentang kegiatan sekolah Eo Membantu dan menolong jika yang mengarah kepada memerlukan pertolongan. kegiatan keagamaan ? Eo Harus saling tanggap terhadap situasi tanpa membeda-bedakan. Eo Biasa saja, karena sudah terbiasa dengan Eo Apakah warga sekolah Eo Tentu sangat menghargai akan saling menghargai pendapat pendapat-pendapat yang datang orang lain yang berbeda dari masing-masing pribadi. Eo Saling menghargai pendapat satu sama lain karena merupakan perwujudan nilai-nilai Costantini sebagai seorang pioneer ditengahtengah sesama. Eo Kadang-kadang kurang apabila dirasa kurang dan bahkan tidak Ada juga yang suka ceplasceplos. Eo Ya karena terbawa suasana lingkungan dan suasana sekolah. Eo Apakah warga sekolah di Eo Iya, karena sebagai makluk social. tersebut Eo Iya, sebab hidup Bersama itu pasti tolong-menolong saling memerlukan orang lain. tanpa memandang agama? Eo Iya, kalau bukan kita yang memulai menolong dahulu mau siapa lagi. Eo Apakah guru dan siswa Eo Iya, hal itu selalu dilakukan oleh yang menganut dari masing- setiap warga sekolah karena rasa saling slaling memiliki sekolah. berkontribusi untuk saling Eo Iya, karena sekolah merupakan tolong-menolong dalam rumah belajar kedua bagi siswa seluruh selain keluarga. dilingkungan Eo Iya, karena dengan menghidupi nilai-nilai Costantini, membuat siswa dan guru betah dan nyaman persekolahan SMA Santu Petrus Pontianak yang sangat baik dan toleran antar pemeluk agama satu dengan yang lain. Eo Kadang-kadang tidak bisa karena bentrok dengan kegiatan lain yang tidak bisa ditinggal. Misalnya ngajar, rapat ataupun yang Pendidikan merupakan salah satu cara yang terbaik untuk mampu mengubah dan membentuk karakter hidup manusia, yang sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional dalam UU No. 20 tahun 2003, yang mengemukakan bahwa pendidikan adalah suatu usaha yang dengan sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran yang membuat peserta didik dengan secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaman, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pentingnya juga moderasi beragama didalam dunia Pendidikan khususnya Lembaga . Pendidikan Katolik dengan mengingat pluralisme agama di Indonesia ini yang sangat kental. Sebagai sekolah katolik yang berusaha selalu mewujudkan lingkungan belajar yang moderat dalam beragama dilingkungan persekolahan sangat terbantu dengan adanya nilai-nilai spiritualitas dari sekolah tersebut sehingga memunculkan rasa damai, tenang, aman dan bahagia. Moderasi beragama harus memiliki prinsip yang dengan tegas menolak tindakan kekerasan baik secara fisik maupun verbal, menghargai tradisi dan budaya lokal masyarakat Indonesia yang sangat beragam dan Indikator umum moderasi yakni Pertengahan, toleran, seimbang, konsisten, tegas dan berlaku Sehingga Menempatkan agama sebagai jalan hidup, tidak anti dengan perbedaan pandangan, menghindari sikap evaluatif terhadap perbedaan, memandang positif, memahami orang lain dan tidak merasa benar sendiri, serta senantiasa menebarkan kebaikan setiap pemeluk agama. Mengimplementasikan moderasi beragama yakni dengan Bagaimana cara kita memandang beragama secara moderat, memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrim, radikalisme, ujaran kebencian, hingga retaknya antar umat beragama merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. 10 Solusi ketika terjadi kendala dalam penerapan moderasi yakni Pemahaman keagamaan menjauhkan pemahaman yang berlebihan, melampaui batas, ekstrim sehingga tidak bertolak belakang dengan pandangan esensi, ajaran agama. Dalam hal moderasi beragama. Gereja melalui sikapnya: AuHendaknya semua warga negara menyadari hak maupun kewajibannya untuk secara bebas menggunakan hak suara mereka guna meningkatkan kesejahteraan umumAy (Gaudium et Spes . 11 yang sudah sangat jelas dalam nampak dalam kiba Suci, yakni dalam ajaran Yesus tentang hukum yang utama yaitu AuMengasihi Allah dan Mengasihi SesamaAy dalam Matius 22:37-39 AuJawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan. Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiriAy. Kutipan tersebut menunjukkan keharusan kita dalam mewujudkan keseimbangan relasi kita dengan Allah, diri sendiri dan juga Keseimbangan antara mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia harus dapat berjalan beriringan atau bersamaan, apabila kita mengasihi Allah itu harus dibuktikan dengan kita juga mengasihi sesama manusia. Dengan demikian, moderasi beragama yang terjadi dilingkungan persekolahan katolik harus tetap dengan memegang teguh pada prinsip yang utama bahwa AuSetiap Republik Indonesia Undang-Undang. AuNo. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,Ay Bandung: Citra Umbara . Joni Tapingku. AuOPINI: Moderasi Beragama sebagai Perekat dan Pemersatu Bangsa,Ay IAIN Pare Pare, last modified 2021. Konsili Vatikan II. Dok. AuSikap Gereja dalam Hidup BeragamaAy Gaudium et Spes artikel 75 pribadi manusia, entah dari suku dan ras atau pengelompokan manapun, mempunyai martabat hidup yang tidak dapat diganggu gugatAy12 Dengan tegas Gereja menolak setiap diskriminasi atau penindasan terhadap manusia karena alasan ras atau warna, status, atau agama sebab sangat bertentangan dengan semangat Kristus yang mendamaikan dan menyelamatkan. Dalam membangun lingkungan persekolahan yang moderat dalam hal ini juga tidak dapat terlepas dari pentingnya peran Guru agama, sebab Guru PAK memiliki peranan yang tidak dapat dipandang sebelah mata, karena juga berperan sebagai penuntun para peserta didik secara pribadi dalam menumbuhkan serta mengembangkan karakternya. Guru agama juga menjadikan setiap peserta didiknya bukan hanya sebagai manusia yang beragama saja akan tetapi menjadi manusia yang memiliki spiritual. Guru dalam lingkungan persekolaan memiliki peran penting dalam mengembangkan karakter peserta didik, yakni harus senantiasa mampu menghimbau dan mendorong peserta didik untuk dapat memiliki sikap menghargai orang yang berbeda baik itulatarbelakang, pendapat dan lain Guru juga pertama-tama harus memiliki pribadi dan sikap moderasi sebagai bekal untuk mewujudkannya dalam kegiatan Pendidikan dan pendampingan kepada peserta didik dilingkungan persekolahan baik dalam kegiatan intra kurikuler maupun ekstrakurikuler sehingga dengan demikian dapat terjadilah sebuah keseimbangan dan keadilan antara, baik itu mayoritas dan minoritas bagi dikalangan peserta didik maupun pendidik sendiri. KESIMPULAN Dunia Pendidikan dalam hal ini sekolah merupan sala satu tempat yang tepat dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama, sebab didalamnya banyak sekali tenaga pendidik yang dalam hal ini guru dan juga siswa yang memiliki latar belakang yang berbeda tidak mudah dalam mewujudkan moderasi terutama dalam hal beragama sehingga perlu sebuah proses yang menarik dan berkesinambungan. Pelajar dalam hal ini harus mendapatkan Pendidikan karakter yang benar sehingga kelak bisa berguna sebagai penerus generasi bangsa dan Gereja. Para pelajar terutama yang dalam sekolah katolik dalam hal ini sangat terbantu dengan spiritualitas yang dimiliki ole Lembaga Pendidikan tertentu yang merupakan perwujudan iman katolik yang terus menjadi semangat untuk dihidupi oleh warga sekolah dalam mewujudkan moderasi beragama ditengah-tengah bangsa yang majemuk. REFERENSI