Vol. 10. No. 1 Mei 2025 HUBUNGAN ORIENTASI NILAI BUDAYA, MOTIVASI DAN KETERBATASAN DALAM MENCAPAI TUJUAN AKADEMIS Raykonen Shumacher1, Daniel Harapan Parlindungan Simanjuntak2 Universitas Negeri Medan e-mail: raykonensinaga@gmail.com1)*, danielhp@unimed.ac.id2 Abstrak Artikel ini membahas tentang keterbaruan dan metode kuantitatif dalam meneliti terkait hubungan orientasi nilai budaya, motivasi, dan keterbatasan dalam mencapai tujuan akademis. Pembahsan tersebut dimaksudkan untuk menjawab keraguan terhadap penggunaan metode kuantitatif dalam ilmu Antropologi. Permasalahan sosial budaya tidak dapat dipandang sepele karena masalah yang muncul di tengah masyarakat dapat menjadi bencana sosial bagi masyarakat baik secara mikro maupun makro. Orientasi nilai budaya menjadi salah satu topik yang terkait dengan permasalahan sosial budaya. Dengan memahami orientasi nilai budaya peneliti permasalahan sosial budaya dapat dikenali dan dikaji. Antropologi sebagai salah satu ilmu memiliki metode yang digunakan untuk mengkaji berbagai permasalahan. Adanya keraguan peneliti di luar ilmu antropologi dan bahkan di dalam antropologi itu sendiri terkait metode yang dapat digunakan dalam berbagai kajian meskipun sudah ada berbagai publikasi yang memberikan contoh penggunakan metode dalam penelitian antropologi. Metode yang digunakan adalah studi pustaka peneliti melakukan analisa terhadap bibliografi dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti buku, artikel dan sumbersumber yang relevan dan valid. Peneliti menggunakan Publish or Perish. Artikel dan sumber yang ditemukan kemudian dinilai dengan menggunakan bantuan vos viewer versi 1.6.19 dan pada akhirnya diinterpretasi dan disimpulkan. Hasil menunjukkan bahwa hubungan orientasi nilai budaya, motivasi, dan keterbatasan dalam mencapai tujuan akademis dapat dikaji dengan menggunakan kuantitatif. Kesimpulan bahwa pendekatan kuantitatif bukan sesuatu yang baru dalam kajian-kajian antropologi khususnya dalam tingkat internasional. Kata kunci: orientasi nilai budaya, motivasi, keterbatasan, antropologi kuantitatif. Abstract This article discusses the recentness and quantitative methods in researching related to the relationship of orientation of cultural values, motivation, and limitations in achieving academic goals. The discussion is intended to answer doubts about the use of quantitative methods in Anthropology. Socio-cultural problems cannot be taken lightly because problems that arise in the community can become social disasters for the community both at the micro and macro levels. Cultural value orientation is one of the topics related to socio-cultural problems. By understanding the orientation of cultural values, researchers can identify and study socio-cultural problems. Anthropology as one of the sciences has methods used to study various problems. There are doubts among researchers outside of anthropology and even within anthropology itself regarding methods that can be used in various studies, even though there have been various publications that provide examples of the use of methods in anthropological research. The method used is a literature study, the researcher analyzes the bibliography by collecting data from various sources such as books, articles and relevant and valid sources. The researcher used Publish or Perish. The articles and sources found are then assessed using the help of vos viewer version 1.6.19 and ultimately interpreted and concluded. The results show that the relationship between cultural value orientation, motivation, and limitations in achieving academic goals can be studied using quantitative. The conclusion that the quantitative approach is not something new in anthropological studies, especially at the international level. Keywords: cultural value orientation, motivation, limitations, quantitative anthropology 23 Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 10. No. 1 Mei 2025 perkembangan pribadi mereka. Kebanyakan mahasiswa cenderung menunda-nunda tugas dan belajar hingga menit-menit terakhir, yang mengakibatkan hasil kerja di bawah standar dan kurangnya pemahaman terhadap materi. Hal di atas dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk keterampilan manajemen waktu yang buruk, kurangnya motivasi, dan kebiasaan belajar yang tidak memadai (Abbas & Hidayat, 2018). Selain itu, kemudahan akses ke informasi dan sumber daya secara online terkadang dapat menciptakan rasa aman yang salah, membuat siswa terlalu mengandalkan jalan pintas dan solusi cepat daripada melakukan upaya yang diperlukan untuk benar-benar belajar dan memahami materi pelajaran (Harahap, 2019). Akibatnya, mahasiswa mungkin kesulitan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, yang sangat penting untuk kesuksesan dalam karir mereka di masa depan. Hasil studi lain menunjukkan kajian tentang gangguan motivasi berfokus pada siswa sekolah menengah atas (Fries dkk., 2005; Hofer dkk., 2007). Faktanya, dibandingkan dengan siswa sekolah menengah, mahasiswa memiliki kebebasan yang lebih besar dalam pengaturan hidup, partisipasi masyarakat, dan interaksi sosial serta menghadapi lebih banyak pilihan kegiatan di waktu luang; dengan demikian, mereka lebih mungkin untuk melawan konflik waktu luang di sekolah. Selain itu, perlu dicatat bahwa teknologi digital terkait erat dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Mereka dapat menggunakan perangkat seluler untuk mengirim atau menerima undangan untuk kegiatan waktu luang setiap saat di semua tempat. Terlihat bahwa gangguan motivasi pada siswa terkait dengan orientasi nilai mereka. Siswa yang menempatkan nilai yang lebih tinggi pada kesuksesan, tujuan masa depan, dan kerja keras menunjukkan lebih sedikit gangguan motivasi setelah keputusan sekolah dan lebih banyak gangguan motivasi setelah keputusan waktu luang. 1. PENDAHULUAN Tingkat kecerdasan orang Indonesia berada pada urutan 130 menurut World Population Review 2022 dari sekitar 199 negara di dunia. Rata-rata IQ orang Indonesia dilaporkan sekitar 78,49, yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-36 di Asia dalam hal kecerdasan berdasarkan skor IQ (Lynn & Bekcer, 2019). Skor ini menunjukkan bahwa sebagian besar populasi Indonesia berada dalam kategori yang lebih rendah dalam skala IQ, di mana skor di bawah 70 sering kali dikaitkan dengan kesulitan dalam berpikir logis (Wahyudi dkk., 2023). Kesulitan dalam berpikir tersebut juga dihadapi oleh mahasiswa, seperti kesulitan dalam bersosialisasi dan berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas. Banyak yang merasa kurang percaya diri untuk mengutarakan pendapat, sehingga menghambat interaksi sosial dan pembelajaran kolaboratif. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan untuk berperilaku asertif, yang penting untuk membangun hubungan baik dengan rekanrekan dan dosen sehingga membuat sebagian besar mahasiswa cenderung memilih untuk diam dalam diskusi karena takut pendapatnya ditolak atau tidak diterima. Kondisi di atas dikuatkan dengan hasil penelitian Wicaksono dkk., (2023) menemukan beberapa faktor permasalahan akademik yang dihadapi mahasiswa FKIP di Kalimantan Barat diantaranya: (1) mahasiswa merasa rendah diri, sehingga motivasi belajar menjadi turun. (2) mahasiswa kurang mengetahui kemampuan dirinya, hanya belajar ketika akan ujian, sedangkan materi untuk ujian biasanya begitu banyak. (3) mahasiswa kurang mampu mengemukakan pendapatnya dengan baik pada saat berdiskusi, kepada dosen maupun dengan rekan-rekannya. Kurangnya upaya dari mahasiswa merupakan masalah mendesak yang tidak hanya mempengaruhi kinerja akademis mereka, tetapi juga pertumbuhan dan 24 Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 10. No. 1 Mei 2025 Penelitian-penelitian di atas menerangkan motivasi yang kurang di kalangan mahasiswa merupakan masalah yang serius yang dapat memiliki konsekuensi yang luas pada kinerja akademik dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan. Ketika mahasiswa kurang motivasi, maka keterbatasan yang dihadapinya semakin meningkat. Masalah ini sering kali membuat mereka kesulitan untuk menemukan makna dan tujuan dalam studi mereka, yang menyebabkan kurangnya antusiasme dan keterlibatan (Oktaviyanti & Novitasari, 2019). Bahkan beberapa mahasiswa mungkin tidak memiliki tujuan dan arah yang jelas, yang mengarah pada rasa tidak memiliki tujuan dan ketidaktertarikan (Lestari, 2023). Orientasi nilai budaya memainkan peranan penting bagi sumber daya mahasiswa dalam membentuk motivasi, mengatasi keterbatasan, dan untuk mencapai tujuannya. Nilai budaya yang dianut oleh mahasiswa dapat mempengaruhi cara mereka memandang diri sendiri, lingkungan sekitar, dan tujuan hidup mereka (Istianah dkk., 2021). Mahasiswa yang memiliki orientasi nilai budaya yang kuat cenderung memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk mencapai tujuan mereka, karena mereka memiliki keyakinan yang kuat tentang apa yang mereka inginkan dan bagaimana cara mencapainya (Marsono, 2019). Namun pengukuran orientasi nilai budaya menggunakan pendekatan kuantitatif telah menjadi topik perdebatan di kalangan akademisi antropologi. Beberapa akademisi merasa bahwa metode kuantitatif, yang cenderung mengandalkan angka dan statistik, tidak mampu menangkap kompleksitas dan nuansa dari nilai budaya yang bersifat subjektif dan kontekstual. Mereka berargumen bahwa menggunakan pendekatan kuantitatif akan menghilangkan ciri khas metode yang digunakan dalam kajian antropologi, karena budaya itu sendiri merupakan entitas yang dinamis dan multifaset. Bagi mereka pendekatan kualitatif lebih mendalam untuk memahami bagaimana nilai-nilai tersebut diinternalisasi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penolakan ini mencerminkan kekhawatiran akan oversimplifikasi dan kehilangan makna yang mungkin terjadi ketika nilainilai budaya diukur hanya dengan angka, yang pada akhirnya dapat mengurangi pemahaman terhadap keragaman dan kedalaman budaya manusia. 2. METODE Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah studi literatur, Machi & McEvoy, (2016) mengutarakan studi literatur adalah proses yang melibatkan pengumpulan dan analisis informasi dari berbagai sumber untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang topik artikel. Machi & McEvoy menekankan pentingnya evaluasi kritis terhadap sumber-sumber yang digunakan. Penggunaan studi literatur dalam artikel ini bertujuan untuk menjadi landasan yang kokoh dalam menjawab penolakan terhadap pendekatan kuantitatif. Artikel dan sumber lain yang menjadi data dalam artikel ini ditemukan dengan menggunakan publish or perish versi 8.8.4275.8412. Data yang terkumpul kemudian dinilai dengan menggunakan vosviewer versi 1.6.19. Penyimpanan data menggunakan Mandeley Reference manager Tahap berikutnya peneliti menganalisis berbagai sumber akademik, artikel, dan artikel sebelumnya untuk mengidentifikasi argumen dan kritik yang muncul terhadap pendekatan kuantitatif, seperti keterbatasan dalam menangkap nuansa kualitatif dari hubungan orientasi nilai budaya diantara motivasi dan keterbatasan pada mahasiswa dalam mencapai tujuan akademis. Hasil penelusuran kata kunci yang terkait dengan metode penelitian hubungan orientasi nilai budaya, motivasi, dan keterbatasan dalam mencapai tujuan akademis melalui aplikasi publish or perish ditemukan 200 artikel yang diidentifikasi 25 Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 10. No. 1 Mei 2025 mengarah kepada kata kunci tersebut. Peneliti kemudian membuat peta kookuransi istilah dengan berdasarkan data teks dalam aplikasi vosviewer. Sumber kookuransi istilah diambil dari judul dan abstrak dan dilakukangan penghitungan biner. Peneliti selanjutnya memilih 2 kookuransi istilah dari 1253 istilah, hasilnya ditemukan 212 istilah. Setiap istilah yang dipilih memiliki 60% relevansi. Peneliti kemudian memilih 28 artikel yang diperoleh, yang terbit di jurnal internasional dan nasional. Pada tahap akhir peneliti melakukan interpretasi terhadap beberapa sumber yang dipilih sangat relevan terhadap artikel ini. 3. HASIL tersebut adalah representasi kognitif tingkat tinggi dari motivasi manusia (Bardi & Schwartz, 2003; Schwartz & Bilsky, 1987). Orientasi budaya, seperti individualisme dan kolektivisme, membentuk motif berprestasi siswa. Misalnya, nilai-nilai kolektivis sering kali mengarah pada motif berprestasi yang berorientasi sosial, sementara nilai-nilai individualistis mendorong motif berorientasi individu (Akoto, 2014; Liem dkk., 2012). Nilai Individu vs. Nilai Kolektivis: Nilai-nilai yang berorientasi pada individu (misalnya, pengarahan diri) mendorong pencapaian pribadi, sementara nilai-nilai kolektivis (misalnya, konformitas, keamanan) menekankan keberhasilan kelompok (Liem dkk., 2012) . Hal ini akan berdampak pada motivasi individu. Siswa dari budaya kolektivis mungkin memprioritaskan motif pencapaian yang berorientasi sosial, yang dapat mengarah pada tujuan penguasaan dan kinerja, yang memengaruhi hasil akademis mereka (Liem dkk., 2012). Nilai-nilai budaya ini tidak hanya membentuk cara mahasiswa berinteraksi dengan sesama, tetapi juga mempengaruhi cara mereka merespons tantangan akademis dan sosial yang dihadapi selama proses belajar. Mahasiswa yang tumbuh dalam budaya yang menekankan ketekunan dan disiplin mungkin lebih cenderung untuk menghadapi kesulitan akademis dengan semangat yang tinggi, sedangkan mereka yang berasal dari latar belakang yang lebih permisif mungkin mengalami kesulitan dalam menjaga fokus dan komitmen terhadap studi mereka. Selain itu, orientasi nilai budaya juga dapat menciptakan keragaman dalam cara mahasiswa memahami dan menginterpretasikan kurikulum, yang pada tujuannya dapat memperkaya pengalaman belajar mereka secara keseluruhan. Lingkungan kampus merupakan tempat mahasiswa dapat berdampingan dengan berbagai prinsip dan kebiasaan dari berbagai budaya di lingkungan yang beragam. Mahasiswa tidak hanya belajar DAN PEMBAHASAN 3.1. Orientasi nilai budaya, motivasi, keterbatasan dan mencapai tujuan akademis Nilai dikonseptualisasikan sebagai "prinsip-prinsip panduan dalam kehidupan manusia". Nilai adalah "keyakinan abadi yang berkaitan dengan keadaan akhir atau perilaku yang diinginkan, melampaui situasi tertentu, memandu pemilihan atau evaluasi perilaku dan peristiwa, dan diurutkan berdasarkan kepentingan" (Schwartz & Bilsky, 1987). Persepsi individu terhadap nilai, berbeda-beda, dan "sistem nilai" mereka membantu menjelaskan sikap atau perilaku spesifik mereka. Pada konteks universitas yang terus berubah dan penuh tuntutan, berbagai situasi dialami di mana kemampuan untuk mempertahankan motivasi dan mengaktifkan pemecahan masalah dapat menjadi relevan dalam penyesuaian diri mahasiswa. Di luar peran motivasi akademis yang dianalisis secara luas, studi ini berfokus pada nilai tambah kemampuan pemecahan masalah sosial dalam penyesuaian diri mahasiswa dalam konteks akademis. Orientasi nilai budaya memandu, memotivasi, dan memengaruhi sikap dan perilaku individu karena nilai-nilai 26 Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 10. No. 1 Mei 2025 tentang mata kuliah yang diikutinya, tetapi juga belajar untuk lebih toleran dan menghargai satu sama lain. Orientasi nilai budaya juga membantu mahasiswa menghubungkan diri mereka dengan temannya, dosennya dan mempersiapkan mereka untuk berkontribusi positif dalam masyarakat global. Mahasiswa belajar bagaimana menerapakan dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang dimilikinya ke dalam kehidupan seharihari mereka melalui kegiatan seperti ketika berdiskusi, dan mengikuti perkuliahan. Pengaruh orientasi nilai budaya terhadap proses pembelajaran mahasiswa sangat penting karena nilai-nilai tersebut membentuk pola pikir dan tindakan mereka dalam menghadapi pendidikan. Mahasiswa yang memiliki komitmen pada nilai-nilai budaya khusus biasanya akan membawa adat tradisi dan aturan yang sudah menjadi bagian dari dirinya sendiri ke dalam lingkup pendidikan di perguruan tinggi. Interaksi nilai-nilai budaya dan proses motivasi menyoroti perlunya strategi pendidikan yang relevan secara budaya untuk meningkatkan keterlibatan dan kinerja siswa (Elliott & Bempechat, 2002). Konteks budaya yang berbeda membentuk jenis tujuan prestasi yang diadopsi siswa. Misalnya, tujuan pendekatan penguasaan sering dikaitkan dengan motivasi intrinsik, sementara tujuan penghindaran kinerja dapat menghambat pencapaian (Liem dkk., 2012; Salili & Hoosain, 2007). Siswa mungkin menghadapi keterbatasan karena ekspektasi budaya yang bertentangan dengan tujuan akademis pribadi, yang menyebabkan penurunan motivasi dan prestasi (Berzina, 2024). Prioritas nilai-nilai tertentu di atas yang lain dapat menciptakan konflik internal, yang memengaruhi kemampuan siswa untuk fokus pada studi mereka dan mencapai tujuan pendidikan mereka. Sebaliknya, meskipun nilai-nilai budaya dapat memberikan batasan, nilai-nilai tersebut juga dapat memberikan kerangka kerja yang mendukung yang menumbuhkan motivasi dan ketahanan pada siswa. Memahami dualitas ini penting bagi para pendidik yang ingin meningkatkan keberhasilan akademis di berbagai latar belakang budaya. Sementara nilai-nilai budaya secara signifikan membentuk motivasi dan hasil akademis, penting untuk menyadari bahwa perbedaan individu dan faktor kontekstual juga memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman pendidikan siswa. Pandangan lain yang dihasilkan oleh penelitian menyatakan bahwa nilai oerientasi memengaruhi motivasi seseorang untuk mancapai sesuatu (Dittmar & Isham, 2022; Franchin dkk., 2023). Perlu adanya pengukuran tentang hubungan orientasi nilai budaya, motivasi, dan keterbatasan dalam mencapai tujuan akademis untuk memahami secara mendalam faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan mahasiswa. Artikel yang sistematis dapat menggali bagaimana orientasi nilai budaya berperan sebagai penggerak motivasi belajar, sekaligus mengidentifikasi hambatanhambatan yang mungkin dihadapi mahasiswa dalam proses belajar. Misalnya, mahasiswa dengan orientasi nilai yang kuat terhadap pencapaian dapat menunjukkan tingkat motivasi yang tinggi, namun mereka mungkin juga menghadapi tekanan sosial yang dapat menghambat kinerja akademis mereka. Dengan menggunakan alat ukur yang tepat, seperti kuesioner atau wawancara, peneliti dapat mengumpulkan data yang relevan untuk menganalisis hubungan ini. Hasil dari pengukuran tersebut tidak hanya akan memberikan wawasan tentang bagaimana nilai orientasi budaya dapat memengaruhi keterbatasan dan motivasi, tetapi juga akan membantu institusi pendidikan dalam merancang intervensi yang lebih efektif untuk mengatasi keterbatasan yang dihadapi mahasiswa, sehingga mendukung mereka dalam mencapai tujuan akademis yang diinginkan. 27 Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 10. No. 1 Mei 2025 Pengukuran orientasi nilai budaya, motivasi, dan keterbatasan menggunakan pendekatan kuantitatif dapat dianggap sebagai langkah yang tepat dalam artikel sosial dan budaya. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat mengumpulkan data yang terstruktur dan dapat diukur secara objektif, memungkinkan analisis yang lebih jelas dan komprehensif mengenai hubungan antara nilai-nilai budaya dan motivasi, dan keterbatasan mahasiswa. Misalnya, melalui survei yang dirancang dengan baik, peneliti dapat mengidentifikasi pola-pola tertentu dalam motivasi yang dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, serta mengukur tingkat keterbatasan yang mungkin dirasakan oleh mahasiswa dalam mencapai tujuan akademisnya. Baiduri, (2020) mengutip bahwa dua antropolog Indonesia, Koentjaraningrat, pernah menyatakan bahwa penggabungan metode kualitatif dan kuantitatif dapat membantu peneliti antropologi menghasilkan generalisasi hasil penelitian yang lebih dipertangungjawabkan. Namun bagaimana memahami penggunaan metode kuantitatif atau campuran dalam penelitian antropologi sangat penting untuk digali untuk mendapatkan kebaruan dan kemajuan penelitian antropologi itu sendiri. yang signifikan atau tepat. Mahasiswa kami kadang-kadang berpikir bahwa antropologi kuantitatif adalah cara untuk "melegitimasi" temuan "sains lunak" atau membuat antropologi lebih dekat dengan ilmu pengetahuan alam. Karakterisasi seperti itu, bagaimanapun, tidak sesuai dengan tujuan melakukan analisis statistik data antropologi dengan cara yang berbasis teori. Sebaliknya, antropologi kuantitatif menawarkan alat tambahan yang memungkinkan kita untuk (1) menemukan pola yang didasarkan pada kesamaan dan perbedaan manusia yang sebenarnya, atau (2) menghubungkan pola "nyata" dan terukur tersebut satu sama lain dalam upaya untuk memperoleh pemahaman baru tentang biologi dan perilaku manusia. Semua subbidang antropologi, mulai dari antropologi budaya dan antropologi biologis hingga arkelogi, menggunakan alat kuantitatif. Analisis kuantitatif sering menjadi pusat proyek penelitian terutama yang bertujuan untuk menilai akurasi metodologis atau membuat model prediktif. Beberapa penelitian yang dimaksud seperti tentang nilai-nilai pribadi dan perilaku mahasiswa dua universitas di Indonesia dan Malaysia (Rizdkia dkk., 2023), faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan mendengar siswa (Kasriyati dkk., 2023), dampak motivasi terhadap keberhasilan kuliah (Norvilitis dkk., 2022), dampak motivasi pada penyesuaian psikologis (De La Fuente dkk., 2023), hubungan antara orientasi nilai dan kesejahteraan (Besika, 2022), dan penyelidikan tentang peran moderasi orientasi nilai sosial dalam kerja sama (Wang & Hu, 2021). (Gao, 2023) memberikan gagasan baru dalam mengeksplorasi orientasi nilai di kalangan mahasiswa seni. Menurutnya beberapa hal yang penting seperti mempromosikan integritas dan inovasi kursus ideologis dan politik, memperluas praktik sosial dan saluran pendidikan, memberikan permainan bagi keuntungan media baru, meningkatkan mekanisme tata kelola dunia maya, dll., untuk memperkuat 3.2. Kebaruan metode penelitian Kebaruan menjadi faktor yang diharapkan disajikan dalam sebuah penelitian. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menentukan keterbaruan dalam suatu kajian. Berdasarkan penilaian dengan menggunakan vosviewer terhadap artikel-artikel yang ditemukan, peneliti menemukan istilah penelitian kuantitatif yang memiliki relevansi 2,60 dan juga menemukan istilah kuesioner yang memiliki nilai relevansi 1,11. Nilai tersebut Data-data tersebut menunjukkan bahwa metode kuantitatif pernah digunakan dalam penelitian antropologi. Orang pandai menemukan pola, tetapi tidak selalu pandai menemukan pola 28 Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 10. No. 1 Mei 2025 pengakuan mahasiswa seni universitas di era baru untuk mengarusutamakan nilainilai, dan membimbing mereka untuk membentuk orientasi nilai yang sehat. Penelitian-penelitian di atas merupakan contoh dari penggunaan penelitian terkait value orientation yang menggunakan kuantitatif sebagai pendekatannya. Dengan demikian penulis berpendapat bahwa penggunaan pendekatan kuantitatif dalam kajian antropologi pada umumnya bukanlah menjadi sesuatu permasalahan yang selama ini terjadi di kalangan penelitipeneliti antropologi. Structure of Relations. 29(10). https://doi.org/10.1177/01461672032 54602 Besika, A. (2022). A within-study crossvalidation of the values-as-ideals measure: Levels of value orientation explain variability in well-being. Heliyon, 8(12), e12131. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.202 2.e12131 De La Fuente, A., Cardeñoso, O., Chang, E. C., Lucas, A. G., Li, M., & Chang, O. D. (2023). The role of problemsolving ability, beyond academic motivation, in college students’ psychological adjustment. Current Psychology, 42(21), 17888–17897. https://doi.org/10.1007/s12144-02202945-y Dittmar, H., & Isham, A. (2022). Materialistic value orientation and wellbeing. Current Opinion in Psychology, 46, 101337. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.202 2.101337 Elliott, J. G., & Bempechat, J. (2002). The culture and contexts of achievement motivation. New Directions for Child and Adolescent Development, 2002(96), 7–26. https://doi.org/10.1002/cd.41 Franchin, L., Agnoli, S., & Rubaltelli, E. (2023). Asymmetry between cost and benefit: The role of social value orientation, attention, and age. Current Research in Behavioral Sciences, 5, 100138. https://doi.org/10.1016/j.crbeha.2023 .100138 Fries, S., Schmid, S., Dietz, F., & Hofer, M. (2005). Conflicting values and their impact on learning. European Journal of Psychology of Education, 20(3), 259–273. https://doi.org/10.1007/BF03173556 Gao, Y. (2023). Exploring the Value Orientation of College Art Students Based on Marxist philosophy. Cultura. International Journal of Philosophy of Culture and Axiology, 4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas kami berkesimpulan bahwa pendekatan kuantitatif bukan sesuatu yang baru dalam kajian-kajian antropologi khususnya dalam level internasional. Meski demikian penggunaan pendekatan kuantitatif dalam kajian antropologi justru disarankan untuk membantu generalisasi hasil-hasil penelitian antropologi itu sendiri. DAFTAR PUSTAKA Abbas, A., & Hidayat, M. Y. (2018). Faktor-Faktor Kesulitan Belajar Fisika Pada Peserta Didik Kelas Ipa Sekolah Menengah Atas. JPF (Jurnal Pendidikan Fisika) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 6(1), Article 1. https://doi.org/10.24252/jpf.v6i1.32 73 Akoto, E. O. (2014). Cross-cultural factorial validity of the academic motivation scale. Cross Cultural Management: An International Journal, 21(1), 104–125. https://doi.org/10.1108/CCM-112011-0100 Baiduri, R. (2020). Teori-Teori Antropologi (Kebudayaan). Yayasan Kita Menulis. Bardi, A., & Schwartz, S. H. (2003). Values and Behavior: Strength and 29 Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 10. No. 1 Mei 2025 20(3), 27–47. Harahap, N. J. (2019). Mahasiswa Dan Revolusi Industri 4.0. Ecobisma (Jurnal Ekonomi, Bisnis Dan Manajemen), 6(1), 70–78. https://doi.org/10.36987/ecobi.v6i1. 38 Hofer, M., Schmid, S., Fries, S., Dietz, F., Clausen, M., & Reinders, H. (2007). Individual values, motivational conflicts, and learning for school. Learning and Instruction, 17(1), 17– 28. https://doi.org/10.1016/j.learninstru c.2006.11.003 Istianah, A., Mazid, S., Hakim, S., & Susanti, R. P. (2021). Integrasi Nilai-Nilai Pancasila Untuk Membangun Karakter Pelajar Pancasila Di Lingkungan Kampus. 19(1). Kasriyati, D., Eriyanti, R. W., & Hudha, A. M. (2023). Persepsi Mahasiswa: Permasalahan Mahasiswa Di Dalam Keterampilan Menyimak. 13(2). Liem, T. K., Yanit, K. E., Moseley, S. E., Landry, G. J., DeLoughery, T. G., Rumwell, C. A., Mitchell, E. L., & Moneta, G. L. (2012). Peripherally inserted central catheter usage patterns and associated symptomatic upper extremity venous thrombosis. Journal of Vascular Surgery, 55(3), 761–767. https://doi.org/10.1016/j.jvs.2011.10 .005 Lynn, R., & Bekcer, D. (2019). The Intelligence of Nations. Dalam R. J. Sternberg (Ed.), The Nature of Human Intelligence (1 ed., hlm. 256–269). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/9781316817 049.017 Machi, L. A., & McEvoy, B. T. (2016). The Literature Review: Six Steps to Success. Corwin Press. Marsono, M. (2019). Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Budaya Di Era Milenial. Prosiding Seminar Nasional Dharma Acarya, 1(1), Article 1. https://jurnal.stahnmpukuturan.ac.id/ index.php/dharmaacarya/article/view /191 Norvilitis, J. M., Reid, H. M., & O’Quin, K. (2022). Amotivation: A Key Predictor of College GPA, College Match, and First-Year Retention. International Journal of Educational Psychology, 11(3), 314–338. https://doi.org/10.17583/ijep.7309 Oktaviyanti, I., & Novitasari, S. (2019). Analisis Penerapan Problem Based Learning pada Mata Kuliah Pendidikan IPS. Musamus Journal of Primary Education, 50–58. https://doi.org/10.35724/musjpe.v2i1 .1945 Rizdkia, M., Baharum, S. B., & Windia. (2023). Personal Values, Ethical Behavior, and Ethical Orientation of Higher Education Students (Comparison of Private College in Indonesia and Malaysia). Subang International Journal of Governance and Accountability (SINGA), 1(1), Article 1. Salili, F., & Hoosain, R. (2007). Culture, Motivation and Learning: A Multicultural Perspective. IAP. Schwartz, S. H., & Bilsky, W. (1987). Toward a universal psychological structure of human values. Journal of Personality and Social Psychology, 53(3), 550–562. https://doi.org/10.1037/00223514.53.3.550 Wahyudi, A., Chozairi, C., & Zahroh, W. (2023). Pendampingan Pembuatan Buket Uang Dan Snack Dalam Meningkatkan Kualitas Iq Rendah Sumber Daya Manusia Desa Galis Dajah Kecamatan Konang Kabupaten Bangkalan. ABDINA: Jurnal Sosial dan Pengabdian kepada Masyarakat, 2(1), Article 1. https://doi.org/10.28944/abdina.v2i1. 1264 30 Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. 10. No. 1 Mei 2025 31 Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora