Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOLUME 5 NOMOR 2. SEPTEMBER 2024 https://ejournal. id/index. php/jurnalalurwatulwutsqo/ ISSN: 2721-5504 NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU PEPELING JEUNG PANGGEUING KARYA KH ACENG ZAKARIA Agus Susilo Saefullah. Rahman Hidayat Universitas Singaperbangsa Karawang Institut Agama Islam (IAI) PERSIS Bandung Email: agussaefullahppssnj@gmail. Abstract This research aims to identify and analyze the values of character education contained in the book "Pepeling jeung Panggeuing" by KH Aceng Zakaria. This book, written in Sundanese, is a collection of advice from a leading scholar who has significantly contributed to education and moral development in society. The language used in this book is very persuasive and easy to understand, especially for the people of West Java. A qualitative approach with content analysis was used in this research to understand the moral and ethical messages contained in the book. Data was collected through an in-depth study of book texts and secondary references related to character education theory. The research results reveal several core values taught in this book, namely the book "Pepeling jeung Panggeuing" which plays an important role in shaping readers' character through applicable and relevant advice. The book "Pepeling jeung Panggeuing" contains a collection of advice that makes people aware of negative actions and awakens the human mind so that they can rise from laziness and be more optimistic in living their lives. This book contains character education values, including religious character education, cooperation, tolerance, hard work and generosity. The implication is that this book can be used as a reference in the character education curriculum in schools and as a guide for families and communities in developing the morals of the younger generation. This research recommendation includes the development of a more integrative and adaptive educational program based on the values contained in this book. Keywords: Character Education. KH Aceng Zakaria. Pepeling jeung Panggeuing. Moral Values. Advice From Ulama. Sundanese Language Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam buku "Pepeling jeung Panggeuing" karya KH Aceng Zakaria. Buku yang ditulis dalam bahasa Sunda ini merupakan kumpulan nasehat dari seorang ulama terkemuka yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam pendidikan dan pembinaan moral masyarakat. Bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat persuasif dan mudah dimengerti, khususnya oleh masyarakat Jawa Barat. Pendekatan kualitatif dengan analisis isi digunakan dalam penelitian ini untuk memahami pesan-pesan moral dan etika yang terkandung dalam buku tersebut. Data dikumpulkan melalui pendalaman terhadap teks buku serta referensi sekunder terkait teori pendidikan karakter. Hasil penelitian mengungkapkan beberapa nilai inti yang diajarkan dalam buku ini, yaitu buku "Pepeling jeung Panggeuing" berperan penting dalam membentuk karakter pembaca melalui nasehat yang aplikatif dan relevan. Buku AuPepeling jeung PanggeuingAy adalah buku berisi kumpulan nasihat-nasihat yang menyadarkan manusia dari perbuatan-perbuatan negatif dan membangunkan mental manusia agar bangkit dari kemalasan dan lebih optimis dalam menjalankan kehidupan. Buku ini mengandung nilai-nilai pendidikan karakter diantaranya yaitu pendidikan karakter religius, kerja sama, toleransi, kerja keras dan dermawan. Implikasinya buku ini dapat digunakan sebagai referensi dalam kurikulum pendidikan karakter di sekolah-sekolah serta sebagai panduan bagi keluarga dan masyarakat dalam membina moral generasi muda. Rekomendasi penelitian ini mencakup pengembangan program pendidikan yang lebih integratif dan adaptif berbasis nilai-nilai yang terkandung dalam buku ini. Kata kunci: Pendidikan Karakter. KH Aceng Zakaria. Pepeling jeung Panggeuing. Nilai-Nilai Moral. Nasehat Ulama. Bahasa Sunda PENDAHULUAN Globalisasi telah menciptakan keterbukaan budaya-budaya asing yang dapat dilihat dan tersebar dengan luas meliputi seluruh penjuru dunia. Kondisi ini secara signifikan sangat berpengaruh kepada beberapa sektor kehidupan seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, lingkungan dan pendidikan. Banyak sekali dampak positif dan tidak sedikit dampak negatif yang muncul mengiringinya. Kemudahan berkomunikasi, akselerasi Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 penyebaran pengetahuan, dan teknologi yang membantu pekerjaan manusia adalah beberapa diantara dampak positif yang dirasakan. Adapun dampak negatif yang muncul di tengah kemajuan ini ialah terjadinya krisis etika, moral, dan karakter satu negara bahkan dunia (Khairunisa & Damayanti, 2. Hal ini terjadi dikarenakan sifat dari etika, karakter, moral dan akhlak manusia yang sangat fleksibel, bisa diubah dan dibentuk, dan perubahan itu sangat bergantung pada kondisi lingkungan, budaya dan pendidikan (Zubaedi. Salah satu yang sangat sentral dalam merubah dan membentuk karakter ialah pendidikan karakter. Secara umum pendidikan merupakan kebutuhan yang mutlak bagi setiap individu yang harus ditempuh sepanjang hayat (Soraya, 2. Merujuk pada Bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara pendidikan dapat diartikan sebagai segala cara untuk mengarahkan dan menuntun anak-anak agar memperoleh keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Dengan demikian pendidikan ialah bentuk segala usaha yang dilakukan secara sengaja untuk mengembangkan kemampuan setiap orang agar menjadi manusia yang selamat. Sedangkan pengertian karakter secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu charassein yang mempunyai arti to angrave yang sering diterjemahkan dengan mengukir, melukis, atau menggoreskan (Oktari & Kosasih, 2. Sedangkan Thomas Lickona dalam Soraya . menjelaskan bahwa karakter ialah a reliable inner disposition to respond situations in a morally Good wasy, yang bermakna bahwa satu watak yang melekat yang akan memberikan merespon terhadap segala situasi dengan cara yang baik dan bermoral. Senada dengan Thomas Lickona. Prof. Suryanto dalam Zubaedi . menjelaskan bahwa karakter ialah cara berfikir atau berperilaku yang menjadi ciri khas individu untuk melaksanakan kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Dengan demikian, karakter ialah perilaku ciri khas seseorang dalam melaksanakan kehidupan yang bermoral. Kesadaran seorang individu untuk menerima tatanan nilai mengenai suatu kepercayaan dan direpresentasikan dalam perilaku dan wujud tindakan-tindakan kehidupan sehari-hari adalah representasi dari karakter yang sudah terinternalisasi (Saefullah, 2. Pendidikan karakter menjadi salah satu hal yang sangat fundamental yang harus diimplementasikan dalam segala sektor, karena Pendidikan karakter merupakan aspek penting dalam pembentukan individu seseorang yang berintegritas dan berkepribadian baik (Putri et al. , 2. Thomas Lickona dalam (Ningsih, 2. dalam bukunya AuEducation for character: how our schools can teach respech and responsibilitiyAy mengungkapkan bahwa ketika pendidikan karakter tidak diimplementasikan di satu bangsa maka akan hilang nilai-nilai moral. Selaras dengan tujuan pendidikan karakter bertujuan agar membentuk atau mengukir karakter dan watak sehingga melahirkan peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan satu bangsa, yang bertujuan untuk kemajuan potensi seseorang sehingga melahirkan manusia yang beriman dan bertakwa (Omeri et al. , n. Hal ini senada dengan tujuan pendidikan nasional, seperti dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 berkenaan dengan sistem pendidikan nasional merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, pada pasal 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sikdikna. disebutkan bahwa Aupendidikan nasional berfungsi membentuk dan mengembangkan karakter bangsa yang bermartabat, dengan tujuan melahirkan manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, menjadi warga yang demokratis dan bertanggung jawabAy (Zubaedi, 2. Pendidikan karakter sendiri, spektrumnya sangat luas meliputi beberapa komponen diantaranya, pengetahuan, kesadaran, kemauan dan tindakan yang mendorong untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut baik terhadap Tuhan, diri sendiri, sesama, lingkungan, bahkan untuk bangsa dan negara (Omeri et al. lebih spesifik Syabrini dalam (Fadilah, 2. menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter, diantaranya nilai religius, nilai jujur, nilai toleransi, nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai kreatif, nilai mandiri, nilai demokratis, nilai semangat kebangsaan, nilai rasa ingin tau, nilai cinta tanah air, nilai semangat kebangsaan, nilai komunikatif, nilai menghargai prestasi, nilai cinta damai, nilai gemar membaca, nilai peduli sosial. Tanpa pendidikan karakter kemajuan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan hanya akan menjadi malapetaka yang besar. Contohnya pejabat korupsi, jika dilihat dari segi pendidikan rata-rata menengah ke atas, namun salah satu faktor internal terjadinya korupsi ialah pribadi yang rakus, lemahnya akhlak dan moral, gaya hidup yang konsumtif dan lemahnya iman (Burhanudin, n. Dengan demikian penerapan pendidikan karakter sangat urgen sehingga perlu diimplementasikan. Lickona. Schap, dan Lewis dalam (Ningsih, 2. menyatakan bahwa salah satu cara untuk mewujudkan pendidikan karakter yang paling efektif ialah dengan mempromosikan nila-nilai dasar etika. Salah satu tokoh ulama Persatuan Islam (PERSIS) yaitu KH Aceng Zakaria dalam salah satu karyanya yang berbentuk buku cetak berjudul "Pepeling Jeung Panggeuing", memiliki potensi untuk memberikan kontribusi penting dalam memberikan pemahaman konsep dan mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam pendidikan karakter di era modern. Apalagi dalam buku tersebut. KH Aceng Zakaria menyatakan bahwa nilai seseorang bukan terletak pada fisiknya akan tetapi terletak pada akhlak atau karakternya (Zakaria. Dengan menggali nilai-nilai yang terkandung dalam karya ini, kita dapat memperkaya kurikulum Agus Susilo Saefullah. Rahman Hidayat Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 pendidikan karakter. Terlebih buku ini memberikan contoh-contoh yang relate dengan kehidupan seharihari masyarakat dengan kultur dan nuansa nusantara khususnya masyarakat suku sunda sehingga buku ini mampu mengarahkan generasi muda untuk senantiasa menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menguak nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku "Pepeling Jeung Panggeuing". Buku tersebut dikaji dengan menggunakan deskriptif yang selanjutnya akan dikaitkan dengan nilai-nilai pendidikan karakter secara lebih luas. Bersandar pada latar belakang diatas, peneliti melakukan pendalaman dan kemudian dituangkan dalam artikel berjudul AuNilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Buku Pepeling Jeung Panggeuing Karya KH. Aceng ZakariaAy. METODE PENELITIAN Subjek penelitian ini adalah salah satu buku karya KH. Aceng Zakaria yang berjudul "Pepeling Jeung PanggeuingAy yang diterbitkan oleh Ibn Azka Press penerbit profesional yang berkedudukan di Garut Jawa Barat. Buku ini berisi 72 judul nasihat yang berukuran sedang dengan ketebalan sebanyak 168 halaman. Diperjualbelikan bebas dan banyak ditemui di berbagai toko buku dan marketplace online. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Menurut Moleong dalam (Harahap, 2. penelitian kualitatif mendorong peneliti untuk memahami subjek penelitian, seperti penelitian terhadap perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Fokus penelitian diarahkan pada penggalian nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku "Pepeling Jeung Panggeuing" karya KH. Aceng Zakaria. Dengan menggunakan penelitian kualitatif, penulis melakukan pembacaan yang mendalam terhadap isi buku, mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan karakter yang tersirat atau tersurat, dan menghubungkannya dengan konsep-konsep pendidikan karakter yang diakui secara luas. Secara garis besar, langkah-langkah penelitian jenis kualitatif yang dilakukan penulis yaitu merumuskan masalah sebagai fokus penelitian, mengumpulkan data, menganalisis data, merumuskan hasil studi dan penarikan kesimpulan yang kemudian disajikan secara terstruktur (Harahap, 2. Adapun jenis pendekatan penelitian yang akan digunakan ialah analisis isi . ontent analysi. Analisis isi bisa diartikan sebagai analisis pada penelitian yang bersifat eksplorasi terhadap isi suatu informasi baik yang tertulis dalam buku atau tercetak di media masa. Dengan cara menarik kesimpulan melalui identifikasi berbagai ciri tertentu yang terdapat pada pesan secara objektif, sistematis dan generalis. Analisis ini bisanya digunakan pada penelitian kualitatif (Asfar, 2. Dalam penelitian ini, analisis isi akan digunakan untuk mengidentifikasi, mengategorikan, dan menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam buku "Pepeling Jeung Panggeuing" karya KH. Aceng Zakaria. HASIL DAN PEMBAHASAN KH. Aceng Zakaria merupakan seorang ulama terkemuka yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam pendidikan dan pembinaan moral masyarakat. Selama hidup beliau ditemani seorang istri yang bernama Hj. Euis Nurhayati dan dikaruniai delapan orang anak. Beliau merupakan Pimpinan Pesantren Persatuan Islam (PPI) 99 Rancabango Garut, salah satu dari 372 Pesantren yang berada di bawah koordinasi Bidang Tarbiyah PP. Persis (Bachtiar, 2. Beliau merupakan ketua umum Pimpunan Pusat Persatuan Islam (PERSIS) Masa Jihad 2015-2022 melanjutkan kepemimpinan Ketua Umum sebelumnya yaitu Prof. Dr. KH. Maman Abdurahman. MA dan sehabis kepemimpinannya dilanjutkan oleh Dr. KH. Jeje Zaenudin. Ag. KH. Aceng Zakaria lahir di Garut Jawa Barat pada tanggal 11 Oktober 1948 dan meninggal pada tanggal 21 November 2022. Ulama ini merupakan generasi pelanjut estafet ideologi para pendahulunya di Persatuan Islam (PERSIS) (Fauzan, 2. Sebuah organisasi yang sejak berdiri hingga hari ini berperan besar dalam dunia pendidikan, dakwah dan politik di Indonesia serta melahirkan tokoh-tokoh besar salah satunya yaitu Mohammad Natsir pahlawan Nasional dan mantan Perdana Menteri RI (Saefullah, 2. Puluhan karya berupa buku telah diciptakan oleh KH. Aceng Zakaria salah satunya adalah Buku AuPepeling jeung PanggeuingAy. Buku ini disajikan dalam bahasa sunda dengan gaya bahasa yang sangat persuasif dan mudah dimengerti, khususnya oleh masyarakat Jawa Barat. AuPepelingAy adalah salah satu dalam bahasa sunda yang berasal dari kata AuelingAy yang artinya sadar. AuPepelingAy berarti nas ihat yang Sedangkan AuPanggeuingAy berasal dari kata AugeuingAy yang berarti bangun. AuPanggeuingAy berarti nasihat yang membangunkan seseorang dari kemalasan untuk bangkit dan lebih optimis dalam menjalankan kehidupan. Secara garis besar dilihat dari judulnya buku AuPepeling jeung PanggeuingAy berarti buku yang berisi nasihat-nasihat yang menyadarkan manusia dari perbuatan-perbuatan negatif dan Agus Susilo Saefullah. Rahman Hidayat Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 membangunkan mental manusia agar bangkit dari kemalasan dan lebih optimis dalam menjalankan Gambar 1 Buku AuPepeling Jeung PanggeuingAy Karya KH. Aceng Zakaria Berdasarkan hasil pembacaan dan analisis mendalam terhadap buku AuPepeling jeung PanggeuingAy karya KH. Aceng Zakaria terdapat nilai-nilai pendidikan karakter, seperti nilai pendidikan karakter religius, kerjasama, toleransi, kerja keras dan dermawan. Berikut adalah data atas pembacaan penulis: Nilai Pendidikan Karakter Religius Religius berasal dari kata religion yang berarti taat kepada agama. Religius ialah sebuah kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu. Karakter religius membuat seseorang berperilaku dan berakhlak yang sesuai dengan apa yang diajarkan pendidikan dan mengimplementasikan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan baik secara eksplisit atau implisit (Oktari & Kosasih, 2. Menurut Hirata dalam (Darihastining & Sulistyowati, n. ) menjelaskan bahwa nilai religius merupakan perilaku dan sikap ketaatan terhadap ajaran agama yang dianut, serta toleransi terhadap pelaksanaan peribadatan agama lain. Dengan demikian sebagaimana telah dijelaskan tentang pengertian pendidikan dan karakter maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter religius ialah penerapan perilaku ketaatan kepada Tuhan kepada individu manusia dengan sadar dan sengaja. Diantara nilai pendidikan karakter religius dalam buku AuPepeling jeung PanggeuingAy karya KH. Aceng Zakaria dari hasil pembacaan, diantaranya: Data . Agus Susilo Saefullah. Rahman Hidayat Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 Dalam buku tersebut KH. Aceng Zakaria membuat satu judul dalam bahasa sunda yaitu Kriteria Sholeh. KH. Aceng Zakaria memulai pembahasan sebagai berikut: AuNu kumaha ari pamajikan anu sholeh teh? ceuk salakina, awewe anu sholeh teh awewe anu daek di Nu kumaha ari salaki anu sholeh teh? ceuk pamajikanana, salaki anu sholeh mah anu teu daek nyandung. Jadi ukuran sholeh teh boga kriteria masing-masing, padahal dina Alquran geus diterangkeun "yen ciri awewe anu sholeh teh nyaeta, sakumaha dina surat an-Nisa . ayat 34: Aawewe anu sholeh teh anu taat . a Alla. anu ngajaga dirina dina saat teu aya salakina. Ay (Qs. AnNisa . : . (Zakaria, 2. Berdasarkan hasil penelitian pada data 1, terdapat sebuah narasi. AuAawewe anu sholeh teh anu taat . a Alla. anita yang saleh itu ialah wanita yang taat kepada AllahAAy ). Secara jelas dan tegas narasi ini menunjukkan bahwa diantara nilai religius yaitu ketaatan kepada Tuhan, yang ditandai dengan mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Lebih lanjut pada data 1, dinyatakan bahwa standarisasi kebaikan seseorang tidak diukur oleh subjektif manusia tapi diukur dengan seberapa taat kepada aturan Tuhan dalam konteks diatas taat kepada Allah Swt. Data . Dalam buku tersebut KH. Aceng Zakaria membuat satu judul dalam bahasa sunda yaitu Harga manusa kumaha nempelna. KH. Aceng Zakaria memulai pembahasan sebagai berikut: AuHarga kulit domba atawa embe hampir sarua kurang leuwih saratus rebu salambarna. Tapi engkena mah kumaha nempelna. Lamun jadi sapatu nya jadi panghandapna, anu kotor jeblog oge ditincak. Tapi lamun kulit nempel kana Alquran, jadi jilid, ayeuna mah di hormat malahan di susuhun. Kitu oge harga manusa sarua, kumaha nempelna. Lamun nempel kana kajahatan jadi bangsat jadi copet, kapanggih teh pada neunggeulan jeung pada ngagebugan. Tapi lamun nempel kana iman jeung amal sholeh mah jadi hargaan malah pada ngahormat jadi saluhur-luhurna tempat, tapi lamun nempel kana amal salah, nya bakal jadi anu sarendah-rendahna tempatAy. (Zakaria, 2. Berdasarkan hasil penelitian pada data 2, terdapat sebuah narasi,AyKitu oge harga manusa sarua, kumaha nempelna. Lamun nempel kana kajahatan jadi bangsat jadi copet, kapanggih teh pada neunggeulan jeung pada ngagebugan. Tapi lamun nempel kana iman jeung amal sholeh mah jadi hargaan malah pada ngahormat jadi saluhur-luhurna tempat, tapi lamun nempel kana amal salah, nya bakal jadi anu sarendah-rendahna tempatAy. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa diantara nilai religius ialah keyakinan atau keimanan dan amal saleh. Ketika keyakinan dan amal saleh tertanam dalam pribadi seseorang maka akan mengangkat nilai seseorang tersebut. KH. Aceng Zakaria menjelaskan bahwa keyakinan merupakan satu hal yang penting yang harus dimiliki manusia, karena dengan keyakinan lah akan membedakan nilai seseorang. Manusia bisa menjadi mulia atau dikarenakan keyakinannya (Zakaria. Data . Dalam buku tersebut KH. Aceng Zakaria membuat satu judul dalam bahasa sunda yaitu Saha nu nyiptakeun laut? . iapa yang menciptakan laut?), kemudian KH. Aceng Zakaria memberikan penjelasan sebagai berikut: AuKumaha cara ngabuldoserna . , jerona ribuan meter, dikamanakeun taneuhna? saha manusa anu nguyahan laut jeung Timana eta uyahna saha nu melak laukna jeung timana bibit laukna ? saha nu maraban laukna, saha nu sok ngawuran huut keur maraban laukna? saha nu sok ngala laukna? Naha ari syukuran beut ka Nyi Roro Kidul ku cara ngayakeun pesta laut, meuncit munding terus dipalidkeun huluna kana laut, pok na teh keur nyuguhan Nyi Roro KidulAkuduna mah ka Allah Swt atuh syukuran teh anu geus nyiptakeun laut jeung sagala eusina keur kapentingan manusa. Ay (Zakaria, 2. Berdasarkan hasil penelitian pada data 3, terdapat sebuah narasi Aukuduna mah ka Allah Swt atuh syukuran teh anu geus nyiptakeun laut jeung sagala eusina keur kapentingan manusaAy. Kutipan ini merupakan nilai religius yaitu bersyukur atas pemberian Tuhan. KH. Aceng Zakaria memberikan pertanyaan-pertanyaan renungan, siapa yang menciptakan laut yang begitu dalam, siapa yang menciptakannya? yang di dalamnya terdapat tumbuh-tumbuhan dan hewan, siapa yang mengurusnya? lalu beliau menegaskan seharusnya manusia bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan dan mengatur Nilai pendidikan karakter religius apabila terinternalisasi dalam diri seseorang akan menumbuhkan keimanannya yang implikasinya akan menumbuhkan sikap ketaatan terhadap Tuhan dan membentuk jiwa yang berintegritas atau dalam bahasa agama sering disebut dengan kata AuihsanAy merasa melihat Allah atau merasa dilihat oleh Allah. Agus Susilo Saefullah. Rahman Hidayat Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 Nilai Pendidikan Karakter Kerjasama Manusia ialah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Maka dalam melaksanakan kehidupan, manusia perlu kerja sama untuk melangsungkan kehidupan. Sehingga karakter kerja sama dipandang karakter yang dasar yang harus dimiliki seseorang tanpa terkecuali. Agustian dalam (Yulianti et al. , n. )menyatakan bahwa salah satu karakter yang harus ditanamkan dan dimiliki oleh setiap individu ialah karakter kerja sama. Diantara pendidikan karakter kerja sama dalam buku AuPepeling jeung PanggeuingAy karya KH. Aceng Zakaria dari hasil pembacaan, diantaranya: Data . Dalam buku tersebut KH. Aceng Zakaria membuat satu judul dalam bahasa sunda yaitu Hirup mah kudu jiga kadua leungeun ulah jiga kadua ceuli. KH. Aceng Zakaria memulai pembahasan sebagai berikut: AuLeungeun katuhu jeung leungeun kenca tugasna beda, garapannana oge beda tapi teu pada sirik. Anu nulis surat leungeun katuhu, anu nandatangan leungeun katuhu, anu narima duit oge sarua leungeun katuhu. Ari meuli jam tangan keur leungeun kenca, meuli ali oge keur leungeun kenca. Ceuk leungeun katuhu, pek bae maneh make ali, urang moal sirik, peupeuriheun gawe maneh mah dinu kotor wae. Ngisangan budak bagean maneh, ngajingjing bangke beurit bagean maneh. Lamun leungeun kenca arateul garoan ku leungeun katuhu, teu diantep sina gegetret. Nyakitu deui leungeun kenca ka leungeun katuhu. Fungsina leungeun teh beda, curuk keur nyarekan, jempol keur muji, cingir keur ngahina jelema. Kabehna boga fungsi masing-masing. Anu gering struk keur tunggu imah, moal keseleun da parantina. Anu torek keur nyobaan pepetasan. Anu kopet keur bendahara atawa anu galak keur nagih hutang. Kukituna: Aomaraneh teh kudu hirup berjamaahAoAy (Zakaria, 2. Berdasarkan hasil penelitian pada data 4, terdapat sebuah narasi Aumaraneh teh kudu hirup berjamaahAy. Kutipan ini merupakan nilai karakter kerja sama. Kerja sama oleh KH Aceng Zakaria di ibaratkan bahwa dalam menjalani kehidupan, manusia layaknya harus seperti kedua tangan yang saling membantu, ketika tangan kanan merasa gatal kemudian tangan kiri menggaruk nya, begitupun sebaliknya. Kemudian KH. Aceng Zakaria mengibaratkan bahwa kehidupan manusia jangan sampai seperti kedua telinga walaupun dekat tidak pernah saling tegur sapa. Nilai pendidikan karakter kerjasama apabila terinternalisasi dalam diri seseorang akan menumbuhkan sikap mudah untuk saling tolong menolong, kompak dan komitmen di dalam bekerja dalam sebuah tim untuk mencapai suatu tujuan tertentu baik dalam pekerjaan, kemasyarakatan maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai Pendidikan Karakter Toleransi Nilai-nilai pendidikan karakter toleransi seharusnya diterapkan dalam setiap lini kehidupan. Toleransi menurut Fithriyana dalam (Tamaeka, 2. menyebutkan bahwa, toleransi adalah sikap atau tingkah laku yang menerangkan, menghormati, menghargai, dan menerima pendapat orang lain yang bersebrangan dengan dirinya. Sedangkan menurut Zubaedah toleransi ialah sikap atau tindakan yang menghargai perbedaan antar etnis, agama, suku, pendapat, dan tindakan yang berbeda dengan dirinya (Zubaedi, 2. Salah satu penerapan toleransi ialah menghormati tetangga sebagaimana dalam (Aziz et al. , 2. dinyatakan bahwa penekanan nilai pendidikan karakter terhadap tetangga dan tamu ialah toleransi. Karena manusia hidup berdampingan dengan lingkungan yang bermacam-macam dengan watak, karakter dan agama yang berbeda-beda. Sehingga berbuat baik kepada tetangga dan tamu itu tidak dilihat dari sesama muslim saja akan tetapi kepada seluruh tetangga walaupun non muslim. Data . Dalam buku tersebut KH. Aceng Zakaria membuat satu judul dalam bahasa sunda yaitu Berkah tamu. KH. Aceng Zakaria memulai pembahasan sebagai berikut: AuTamu mah sok cemel, sagala dibeja-beja. Lamun ka hiji jalma nu imahna alus, parabot imahna perentek, tanaman hiasan loba, pasti balik teh dibeja-beja. Sabalikna lamun natamu kahiji kulawarga anu di imahna pabalatak, acak-acakan, pasti engkena teh dibeja-beja. Maka dawuh Nabi Muhammad Saw: AoHormat tamu anjeunAoAy (Zakaria, 2. Berdasarkan hasil penelitian pada data 5, terdapat sebuah narasi AuHormat tamu anjeun . ormatilah tamu kam. Ay. Kutipan ini merupakan nilai karakter toleransi terhadap tamu. KH Aceng Zakaria mengutip sebuah hadis bahwa tamu itu harus dihormati dan dihargai. Data . Dalam buku tersebut KH. Aceng Zakaria menceritakan satu percakapan sebagai berikut: Ceuk hiji jalmi. cik atuh ulah maksakeun pendapat kabatur, waler Ustadz Abdul Fatah. : Ana mah boro-boro maksa, nitah oge moal da teu boga naraka ana mah, ngan ukur rek nerangkeun panyarek . Agus Susilo Saefullah. Rahman Hidayat Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 Berdasarkan hasil penelitian pada data 6, terdapat sebuah narasi AuAna mah boro-boro maksa, nitah oge moal da teu boga naraka ana mah, ngan ukur rek nerangkeun panyarek . aya tidak akan memaksa, memerintahkan juga tidak, karena saya tidak punya neraka, namun saya hanya berkewajiban untuk menerangkan saj. Ay. Kutipan ini merupakan nilai karakter toleransi terhadap perbedaan pendapat, dengan tidak memaksakan sebuah pendapat agar diterima oleh orang lain. Nilai pendidikan karakter toleransi apabila terinternalisasi dalam diri seseorang akan menumbuhkan sikap saling menghargai dalam menghadapi berbagai perbedaan, tidak fanatik buta dan bisa hidup berdampingan dengan berbagai suku, bangsa, ras dan agama dengan damai dan tenteram. Nilai Pendidikan Karakter Kerja Keras Salah satu indikator seseorang kerja keras ialah ditunjukkan dengan perilaku tertib dan patuh terhadap segala aturan dan ketentuan (Marzuki & Hakim, 2. Menurut Dharma Kesuma, dkk dalam (Marzuki & Hakim, 2. kerja keras ialah satu istilah yang mencakup segala tindak yang dilakukan tanpa menyerah untuk menyelesaikan satu pekerjaan sampai tuntas. Salah satu indikator seseorang memiliki karakter kerja keras, menurut Agus Wuryanto dalam (Marzuki & Hakim, 2. ialah menyelesaikan masalah dan tugas dengan baik dan tepat waktu, tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah-masalah. Data . Dalam buku tersebut KH. Aceng Zakaria membuat satu judul dalam bahasa sunda yaitu Hirup mah mening cape jeung nyalse mah. KH. Aceng Zakaria memulai pembahasan sebagai berikut: AuSaur Imam SyafiAoi: Aosing cape hirup mah sabab nikmat hirup mah dina capeAo. Ku cape mah sagala nikmat, dahar jadi gembul, nginum ngeunah, sare tibra, pek nyalse, moyan ti isuk-isuk nepi ka lohor, meureun teu lungleung mah, ngan ulah cape hate. Dawuh Allah: Audimana geus rengse hiji gawe pek neang deui . awe nepi ka cap. (Qs. Al-Syarh: . Didinya bakal karasa nikmatna hirupAy (Zakaria. Berdasarkan hasil penelitian pada data 7, bahwa KH Aceng Zakaria mengutip ucapan seorang ulama yaitu AuSaur Imam SyafiAoi: Ausing cape hirup mah sabab nikmat hirup mah dina cape . ata Imam SyafiAoi bahwa nikmatnya kehidupan itu disesabkan setelah menyelesaikan berbagai persoala. Ay. Kutipan ini merupakan nilai karakter kerja keras. Karena nikmatnya sebuah kehidupan itu dapat dirasakan ketika kita telah menyelesaikan berbagai persoalan. Pada kutipan di atas KH Aceng Zakaria memberikan contoh bahwa nikmatnya makan itu ketika lapar dan nikmatnya minum itu ketika haus. Nilai pendidikan karakter kerja keras apabila terinternalisasi dalam diri seseorang akan menumbuhkan etos kerja yang baik, disiplin dan bersungguh-sungguh dalam setiap tanggungjawabnya masing-masing baik pada diri sendiri, keluarga, pekerjaan, masyarakat serta kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai Pendidikan Karakter Dermawan Sifat dermawan merupakan salah satu sikap peduli terhadap sosial artinya sikap dan tindakan yang selalu berkeinginan untuk senantiasa membantu orang lain serta masyarakat yang membutuhkan (Zubaedi, 2. Dermawan sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad Hamid dalam Nofiaturrahmah . merupakan implementasi dari ikhlas dalam memberi, menolong atau rela berkorban di jalan Allah apakah dengan harta ataupun dengan jiwa dan raganya baik berbentuk zakat, infak, sedekah dan sebagainya. Data . Dalam buku tersebut KH. Aceng Zakaria membuat satu judul dalam bahasa sunda yaitu Rajeun sadar zakat kudu dibius heula. KH. Aceng Zakaria memulai pembahasan sebagai berikut: AuAya hiji jalma nyakolakeun anakna. Anu hiji ka Eropa sangkan jadi dokter pisik. Anu hiji ka Arab sangkan jadi ulama atawa dokter psikis. Geus beres kuliah baralik ka Indonesia, nu hiji jadi ulama nu hiji jadi dokter. Dina hiji waktu bapakna gering rada ripuh, ceuk bapaka. gero budak pang mariksakeun bapak gering. Tuluy budak di panggil pikeun ngubaran bapana. Atuh atoheun bapana teh nepi ka sehat deui. Ahirna bapana manggil ka anak nu hiji deui, pokna. bapak gering ripuh tepi sehat deui diubaran ku lanceuk maneh, ayeuna sok maneh rek mulang tarima naon ka bapak?. Ceuk abdi jeung pun lanceuk mah beda jurusanana, pun lanceuk mah fiddunya hasanah, abdi mah fii akhirati hasanah. Janteun resep ti abdi mah, bapak teh tos seueur pakaya, berarti pikeun kasalametan di akherat, bapak kedah ngaluarkeun zakat jeung infaq. Ay (Zakaria, 2. Berdasarkan hasil penelitian pada data 8, diceritakan bahwa ada seorang anak yang memberikan nasihat kepada ayahnya untuk mengeluarkan zakat dan infak, dengan ungkapan Aubapak kedah ngaluarkeun zakat jeung infaq . apak harus mengeluarkan zakat dan infa. Ay. Kutipan ini merupakan nilai pendidikan karakter dermawan dibuktikan dengan perintah untuk menunaikan zakat dan infak. Data . Agus Susilo Saefullah. Rahman Hidayat Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 Dalam buku tersebut KH. Aceng Zakaria membuat satu judul dalam bahasa sunda yaitu Ubaran panyakit teh ku shodaqoh. KH. Aceng Zakaria memulai pembahasan sebagai berikut : AuDawuh Rasulullah: Auubaran panyakit teh ku shodaqohAy. Ah teu kaharti, ngubaran panyakit mah ka dokter lain ku shadaqoh. Jawab: ah petunjuk ti dokter ge aya nu teu kaharti, angger we gening diturut. Buktina, anu rieut sirah, tapi anu dijeksi mah bujur. Naha dokter, da bujur mah teu rieut abdi teh, moal salah kitu dokter teh, tapi ari geus dijeksi mah gening ngemplong sirah teh. Ku shadaqoh kanu miskin tangtu bakal ngaduAoakeun, oge doAoa tinu miskin mah bakal diijabah. Ay (Zakaria, 2. Berdasarkan hasil penelitian pada data 9, terdapat sebuah narasi AuKu shadaqoh kanu miskin tangtu bakal ngaduAoakeun, oge doAoa tinu miskin mah bakal diijabah . engan mengeluarkan sedekah terhadap orang yang miskin pasti orang yang miskin akan mendoakan orang yang bersedekah. Sedangkan doa orang miskin akan di kabulka. Ay. Kutipan ini merupakan nilai pendidikan karakter dermawan dibuktikan dengan perintah untuk menunaikan zakat kepada orang miskin, karena zakat kepada orang miskin akan mendapatkan doa yang pasti di kabulkan. Data . Dalam buku tersebut KH. Aceng Zakaria membuat satu judul dalam bahasa sunda yaitu Nu mere leuwih alus tibatan nu dibere. KH. Aceng Zakaria memulai pembahasan sebagai berikut : AuEta dawuh Nabi Saw: Aoleungeun anu diluhur leuwih alus tibatan leungeun anu di handapAo. (H. Bukhar. Maksudna mah, leungeun nu sok mere leuwih alus tibatan leungeun anu dibere. Ay Berdasarkan hasil penelitian pada data 10, terdapat sebuah narasi yang bersumber dari hadis Nabi Saw yaituAuleungeun anu diluhur leuwih alus tibatan leungeun anu di handapAy. (H. R Bukhar. Ay. Kutipan ini merupakan nilai pendidikan karakter dermawan dibuktikan dengan pernyataan bahwa orang yang memberikan itu lebih baik kedudukannya dibandingkan dengan orang yang menerima. Nilai pendidikan karakter dermawan apabila terinternalisasi dalam diri seseorang akan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, tidak individualis dan bahkan bisa menjadi penggerak untuk bisa menciptakan solusi-solusi atas permasalahan yang dihadapi di lingkungannya baik keluarga, masyarakat maupun kehidupan berbangsa dan bernagara. PENUTUP Buku "Pepeling jeung Panggeuing" berperan penting dalam membentuk karakter pembaca melalui nasehat yang aplikatif dan relevan. Buku AuPepeling jeung PanggeuingAy adalah buku berisi kumpulan nasihat-nasihat yang menyadarkan manusia dari perbuatan-perbuatan negatif dan membangunkan mental manusia agar bangkit dari kemalasan dan lebih optimis dalam menjalankan kehidupan. Buku ini mengandung nilai-nilai pendidikan karakter diantaranya yaitu pendidikan karakter religius, kerja sama, toleransi, kerja keras dan dermawan. Implikasinya buku ini dapat digunakan sebagai referensi dalam kurikulum pendidikan karakter di sekolah-sekolah serta sebagai panduan bagi keluarga dan masyarakat dalam membina moral generasi muda. Rekomendasi penelitian ini mencakup pengembangan program pendidikan yang lebih integratif dan adaptif berbasis nilai-nilai yang terkandung dalam buku ini. DAFTAR PUSTAKA