Vol. 8 No. 2 April 2022 p-ISSN : 2252-4150 e-ISSN : 2716-3474 Tersedia online di http://ejurnal. id/index. php/JurnalPublisitas/ Persepsi Masyarakat Desa terhadap Fenomena Politik Uang dalam Pemilihan Umum Rifa Nabilah 1. Stevany Afrizal 2. Febrian Alwan Bahrudin 3 Pendidikan Sosiologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sultan Ageng TirtayasaBanten Pendidikan Sosiologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sultan Ageng TirtayasaBanten Pendidikan Kewarganegaraan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa-Banten E-mail: nabilahrifa@gmail. ABSTRAK Politik uang saat ini sudah dianggap sebagai AukebiasaanAy di masyarakat Maja. Bahkan pada masyarakat desa yang memiliki solidaritas kuat, politik uang dianggap memiliki peran kuat untuk mengikat suara masyarakat dalam kontestasi politik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat terhadap fenomena politik uang. di Desa Maja. Kecamatan Maja. Kabupaten Lebak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Maja memiliki persepsi berbeda dengan norma hukum dalam memandang politik uang. Masyarakat menganggap bahwa politik uang adalah bentuk terimakasih atas suara yang akan diberikan dan pendekatan kepada masyarakat. Dalam teori tindakan sosial. Weber memperkenalkan konsep pendekatan verstehen untuk memahami makna tindakan seseorang. Dalam hal ini masyarakat Maja membangun persepsi dan keputusan tindakan didasarkan pada penglihatannya terhadap orang sekitar dan figur yang Kata kunci : Persepsi. Masyarakat Desa. Politik Uang. Pemilihan Umum ABSTRACT Money politics is now considered a "custom" in the Maja community. Even in rural communities who have strong solidarity, money politics is considered to have a strong role to bind people's voices in political contestation. The purpose of this study was to determine how the public's perception of the phenomenon of money politics. in Maja Village. Maja District. Lebak Regency. The research method used is qualitative. The results of the study indicate that the people of Maja Village have different perceptions from legal norms in viewing money The community considers that money politics is a form of gratitude for the votes that will be given and an approach to the community. In social action theory. Weber introduced the concept of a verstehen approach to understanding the meaning of one's actions. In this case, the Jurnal Publisitas. Vol. No. April 2022 Maja people build perceptions and action decisions based on their vision of the people around them and the figures they emulate. Keywords : Perception. Village Community. Money Politics. General Election PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara yang menganut sistem demokrasi menetapkan sistem pemilihan pemimpin negaranya melalui pemilihan umum . Pemilihan umum merupakan ciri khas negara demokrasi yang bertujuan untuk menyatakan kedaulatan rakyat terhadap negara dan pemerintah. Partisipasi masyarakat dalam pemilu merupakan hal yang sangat penting karena tujuan demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dengan menentukan sendiri siapa yang berhak menjalankan dan memimpin negaranya (Nuraeni, 2. Bagi negara demokrasi, pemilu menjadi mekanisme dan prasyarat yang utama. Demokrasi dianggap sia-sia jika tidak menghadirkan pemilu di Dalam gagasan demokrasi, kekuasaan tertinggi berada di tangan pemerintahan akan tetap dilaksanakan oleh wakil rakyat yang telah dipilih oleh rakyat (Gaffar, 2. Secara umum, sistem demokrasi yang esensinya memberikan kebebasan hak pilih bagi rakyat dapat memberikan dampak kebahagiaan untuk rakyat jika pelaksanaannya berjalan dengan adil. Rakyat akan merasakan nilai-nilai keragaman, toleransi, penghargaan, dan Namun jika pada akhirnya keuntungan pada pihak tertentu dan menyisakan kesengsaraan bagi rakyat, maka pelaksanaan demokrasi dianggap gagal dan salah arah (Abbas. Untuk mencegah berbagai kecurangan, dalam pelaksanaan pemilu diperlukan pengelolaan dan pengawasan agar pemilu terlaksana secara sistematis, jujur dan adil. Pengelolaan sistematika pemilu dipegang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan diawasi oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU). Meskipun sudah ada lembaga yang berperan untuk mengawasi jalannya pemilu, namun pada praktiknya masih ditemukan kecurangan dalam pemilu, salah satunya fenomena Auserangan fajarAy atau politik uang. Politik uang diartikan sebagai praktik jual beli suara dalam kontestasi politik dengan memberikan imbalan tertentu kepada masa individu atau kelompok . (Hudri, 2. Praktik politik uang rentan terjadi bukan hanya di ruang lingkup yang luas seperti pemilihan eksekutif dan legislatif, namun rentan pula di lingkup kecil seperti pada pemilihan kepala desa. Dalam norma hukum, praktik politik uang tidak dibenarkan karena akan mengganggu prinsip demokrasi. Secara tegas dalam pelaksanaan pemilu, politik uang telah dilarang sebagaimana Pasal 515 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum yang berbunyi: AuSetiap orang yang dengan sengaja pada saat pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya Pemilih menggunakan hak pilihnya atau memilih Peserta Pemilu menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 . tahun dan denda paling banyak Rp36. 000,00 . iga puluh enam juta rupia. Ay. Meskipun dilarang oleh hukum, secara non etis masyarakat memiliki berbagai persepsi tersendiri terkait praktik politik uang ini. Peneliti memilih masyarakat di Desa Maja. Kecamatan Maja. Kabupaten Lebak sebagai subjek Politik uang saat ini sudah AukebiasaanAy Bahkan solidaritas kuat, politik uang dianggap memiliki peran kuat untuk mengikat suara masyarakat dalam kontestasi politik (Putri, 2. Begitupun pada masyarakat Maja, mereka menganggap bahwa politik uang menjadi rezeki yang tidak terduga dan dapat memenuhi kebutuhannya. Ada yang kebutuhan rumah tangga, makanan, dan ada yang sekedar untuk bersenangsenang. Perilaku menjadikan suasana ramai di Desa Maja saat periode pemilu. Bahkan para pedagang di pasar dan pedangang kaki lima di pinggir jalan merasa diuntungkan karena pembelian barang dagangannya Masyarakat menyambut politik uang ini dengan senang hati terlepas dari benar atau tidaknya praktik ini secara norma, namun mereka berpikir secara realistis bahwa hal ini sudah menjadi hal yang lumrah terjadi di masyarakat dan tidak dianggap menguntungkan bagi Masyarakat Maja memiliki persepsi bahwa calon pejabat yang memiliki loyalitas tinggi terhadap rakyatnya dalam bentuk apapun itu, misalnya mau menyapa masyarakat, gotong royong, peduli, dan memberikan bantuan dianggap lebih cocok menjadi menampakkan kepentingan pribadi atau politiknya saja tanpa peduli rakyatnya. Maka dari persepsi inilah masyarakat menganggap politik uang adalah salah satu wujud loyalitas yang ditunjukkan calon pejabat kepada rakyatnya dan diluar norma hukum ini dianggap bukan sesuatu yang salah bagi sebagian Dalam kapitalis, bahkan uang dapat membangun sebuah kharisma calon pejabat dan mempengaruhi hak pilih masyarakat (Rosyad, 2. Di desa Maja ditemukan pula bahwa calon pejabat berusaha menunjukkan loyalitas lewat politik uang. Melalui politik uang, masyarakat akan membentuk kelompok pendukung dan kelompok ini akan terus meluas karena masyarakat desa masih erat dengan solidaritas mekaniknya. Memberikan gambaran mengenai penelitian yang akan dilakukan, peneliti Beberapa diantaranya yaitu yang pertama pada penelitian dengan judul AuPraktik Politik Uang dalam Proses Pemilihan Kepala Desa Sumberingin Kidul Tahun 2019Ay oleh Fathur Rozy dkk, tahun 2019. Universitas Negeri Surabaya. Penelitian ini mengunakan metode penelitian kualitatif. Adapun hasil penelitian yang diperoleh yaitu praktik politik uang di Desa Sumberingin Kidul kontestasi politik yang sehat di dalam tubuh masyarakat. Pada penelitian kedua dengan AuMoney Politics Dalam Penyelenggaran Pemilihan Umum Di Kota PariamanAy oleh Eka Vidya Putra, tahun 2017. Universitas Negeri Padang. Penelitian ini menggunakan metode Adapun hasil penelitian yang diperoleh yaitu money politics dilakukan hampir oleh semua calon legislatif. Politik uang dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti uang tunai, bantuan untuk organisasi, bantuan infrastruktur, dan Pada penelitian ketiga dengan judul AuFenomena Politik Uang (Money Politi. Pada Pemilihan Calon Anggota Legislatif Di Desa Sandik Kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok BaratAy oleh Lina Ulfa Fitriani. L Wiresapta Karyadi. Dwi Setiawan Chaniago, tahun 2019. Universitas Mataram. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Adapun hasil penelitian yang diperoleh yaitu . Faktor-faktor penyebab terjadinya politik uang di masyarakat adalah pengaruh masyarakat, dan lemahnya pengawasan yang dilakukan. Ada 2 proses terjadinya politik uang, yaitu dilakukan secara langsung oleh calon atau kontestan politik tertentu serta dilakukan secara tidak langsung melalui perantara orang mendistribusikan politik uang tersebut. Dampak yang ditimbulkan dari praktek politik uang dapat merusak menimbulkan masalah-masalah baru pemerintah, sehingga membawa dampak negatif yang bersifat jangka panjang. Adapun penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah fokus penelitiannya. Secara lebih lanjut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap fenomena politik uang dalam pemilu dan Kegunaan penelitian ini adalah untuk memperlihatkan kepada pembaca bahwa ilmu sosiologi dapat memandang suatu fenomena secara non etis. Artinya meskipun secara norma hukum politik uang ini dilarang, namun secara realita di masyarakat politik uang belum tentu salah karena masyarakat memiliki persepsi beragam yang dapat membuka sudut pandang lain. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Rivai dan Mulyadi . dalam persepsi adalah suatu proses pengorganisasian dan penafsiran oleh individu untuk memaknai kesankesan yang ditangkap oleh indera mereka terhadap lingkungannya (Sutrisman, 2019:. Thoha . juga mengatakan bahwa kunci untuk memahami persepsi adalah mengenali bahwa persepsi berisi penafsiran yang unik, bukan penilaian tentang kebenaran terhadap suatu situasi (Sutrisman, 2019:. Persepsi tidak berusaha untuk mencari kebenaran dalam sebuah situasi, melainkan persepsi ini hanya memberikan penafsiran unik yang dimiliki setiap sudut pandang individu. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt sebagai ahli sosiologi mengartikan masyarakat sebagai kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok tersebut (Nurmansyah, 2019: Dijelaskan oleh Mac Iver dan Charles bahwa unsur-unsur perasaan dalam masyarakat antara lain adalah seperasaan, sepenanggungan dan saling memerlukan (Soekanto, 2007: . Secara umum politik uang diartikan sebagai sebuah cara untuk mempengaruhi perilaku orang melalui pemberian imbalan tertentu. Ada yang mengartikan politik uang tindakan jual beli suara pada sebuah Pemahaman politik uang tindakan membagi-bagikan uang oleh pemberian uang kepada masa . secara berkelompok untuk keuntungan Politik uang sebagai suatu bentuk pemberian menyuap kepada seseorang bertujuan agar orang yang dituju menjatuhkan pilihan pada calon yang Politik uang sebagai cara instan untuk mencapai kekuasaan biasanya digunakan oleh perorangan ataupun kelompok untuk mendapatkan kursi jabatan menjadi anggota legislatif maupun menjadi kepala daerah-wakil kepala daerah melalui perebutan suara dalam pemilihan umum (Sugiharto, 2021:. Menarik dukungan masyarakat, para calon pejabat melakukan berbagai cara dalam berkampanye yaitu sosialisasi diri kepada masyarakat, memasang poster, membagi-bagikan uang sembako, membangun fasilitas umum di bidang kesehatan, pendidikan, ibadah dan Politik uang bisa juga dilakukan dengan pemberian barang misalnya sembako berupa: beras, minyak goreng, teh, maupun mie instan, serta alat-alat perlengkapan ibadah dan Politik uang biasanya dilakukan oleh simpatisan, kader, atau bahkan pengurus partai politik pada saat sosialisasi kampanye atau pada pagi hari menjelang pelaksanaan pemilihan umum (Sugiharto, 2021:. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum yang dimuat dalam pasal 1 ayat 1, didefinisikan bahwa Pemilihan Umum (Pemil. adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, anggota Dewan Perwakilan Daerah. Presiden dan Wakil Presiden, dan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pemilu juga diartikan sebagai sebuah bentuk ekspresi dari masyarakat sebagai pemilih untuk menentukan pemilihan politiknya melalui pemberian suara yang akan ditransformasikan menjadi kursi di (Sihabuddin, 2019:. Landasan teori yang digunakan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap politik uang ini menggunakan teori tindakan sosial Max Weber. Tindakan sosial merupakan tindakan individu yang memiliki makna subjektif bagi dirinya dan memiliki keterkaitan dengan orang lain. Weber mengartikan bahwa tindakan sosial tidak selalu bersifat rasional tetapi terdapat berbagai tindakan nonrasional yang dilakukan oleh orang, termasuk dalam tindakan orang dalam kaitannya dengan berbagai aspek dari kehidupan, seperti politik, sosial, dan ekonomi (Damsar, 2015:. Weber memerhatikan tindakan yang dilakukan atas proses pemikiran. Tindakan dapat terjadi jika individu meletakkan makna-makna dalam tindakan mereka. Bagi Weber, analisis sosiologis mencakup penafsiran tindakan dari segi makna subjektifnya. Weber mengatakan bahwa para sosiolog mempunyai peluang yang jauh lebih baik untuk memahami tindakan secara rasional daripada memahami tindakan yang didominasi oleh perasaan atau tradisi. (Ritzer, 2012:. Ada 4 jenis tindakan menurut Weber, yaitu: . Tindakan rasionalitas alat-tujuan adalah sebuah tindakan yang ditentukan melalui pengharapan perilaku seseorang di dalam lingkungan dan pengharapan tersebut menjadi alat tercapainya tujuan sang aktor yang diperhitungkan secara rasional. Tindakan rasionalitas nilai adalah kepercayaan akan adanya nilai tersendiri di dalam masyarakat. Bentuknya dapat berupa perilaku yang etis, estetis, atau . Tindakan afektual adalah tindakan yang ditentukan oleh keadaan emosional aktor. Tindakan tradisional adalah suatu tindakan yang ditentukan oleh cara berperilaku sang aktor yang sudah lazim. Kerangka Pemikiran Memahami alur pikir dari penelitian, berikut kerangka pemikiran dari penelitian ini: Sistem Demokrasi Pemilihan Umum (Presiden. Legislatif. Kepala Daerah. Kepala Des. Politik Uang Tindakan Sosial Max Weber (Rasionalitas Alat-Tujuan. Rasionalitas Nilai. Afektual. Tradisiona. Persepsi Masyarakat Terhadap Fenomena Politik Uang dalam Pemilu Sumber: data pribadi . METODE PENELITIAN Metode digunakan adalah kualitatif. Subjek penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di Desa Maja. Kecamatan Maja. Kabupaten Lebak. Peneliti menggunakan metode kualitatif untuk memberikan makna yang jelas mengenai persepsi masyarakat di Desa Maja terkait politik uang. Pendekatan ini prinsipnya untuk memahami perilaku dan pandangan subjek yang diteliti secara mendalam melalui wawancara dan pengamatan subjek secara langsung. Hasil penelitian berdasarkan data dari informan. Dalam buku Sugiono . , dinyatakan bahwa metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data mendalam yang memiliki makna. Makna disini diartikan sebagai data yang memiliki nilai sebenarnya, yaitu dibalik data yang tampak. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan menekankan pada makna yang diberikan oleh subjek. Selanjutnya teknik pengumpulan data yang digunakan antara observasi, wawancara dan studi literatur. Observasi yang dilakukan menggunakan opsi non partisipan yaitu peneliti hanya sebagai observer dari objek yang diteliti. Teknik selanjutnya adalah wawancara. Peneliti dalam mengumpulkan data menggunakan teknik wawancara terbuka, hal tersebut agar peneliti dapat menggali informasi yang mendalam mengenai persepsi masyarakat dari politik uang masyakat di Desa Maja. Selanjutnya pengumpulan data yang digunakan adalah Penelitian menggunakan literatur seperti buku, jurnal ilmiah, dan penelitian terdahulu untuk mengkorelasikan data yang diperoleh di lapangan dengan teori-teori Sebagai instrumen penelitian, peneliti mendalami teori-teori terkait terlebih dahulu untuk dapat bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi situasi sosial yang diteliti agar menjadi lebih terarah dan bermakna (Sugiyono, 2019:. Langkah yang terakhir adalah menganalisis data, peneliti menggunakan teknik analisis data Miles & Huberman . alam Sugiyono, 2019:. meliputi : . Pengumpulan Data, . Reduksi data, . Penyajian Data. Penarikan Kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Persepsi Masyarakat Terhadap Politik Uang Berdasarkan hasil wawancara dari 4 informan di Desa Maja, terdapat berbagai macam persepsi yang diutarakan informan terkait politik uang ini. Menurut hasil wawancara ke 4 informan, politik uang saat pemilu masih terjadi di masyarakat Maja. Jenis politik uang yang pernah diterima oleh masyarakat maja yaitu saat pemilu presiden, anggota legislatif, kepala daerah, dan kepala desa. Saat peneliti bertanya mengenai persepsi informan terkait kehadiran politik uang ini. MZ memandang bahwa selama calon pemimpin ini tidak memaksa dan mengancam dalam menggunakan hak suara, politik uang bukanlah kesalahan melainkan bentuk terimakasih kepada masyarakat. Aukalo saya sih melihat sesuatu secara positif dari politik uang ini Neng, memang sih awalnya para calon pejabat memberi kami masyarakat uang untuk mencari simpati, tapi kami juga merasa dihargai atas waktu dan tenaga yang kami luangkan berangkat ke TPS (Tempat Pemungutan Suar. untuk memilih mereka. Kalo saya sih asal si calon ga maksa atau ngancam ya santai aja mandang politik uang, malahan makasih udah inget masyarakat trus ngasih rezeki dadakan buat jajan, pasti kita antusias dong nyambutnyaAy -MZ. Selanjutnya informan YR juga sejalan dengan pendapat MZ. YR menanggapi bahwa: Ausecara hukum iya politik uang dilarang karena rentan mempengaruhi suara masyarakat, tapi kan masyarakat juga dapat menilai calon yang pantas untuk Kita-kita ini punya naluri, jadi ga perlu takut, hak suara ga akan bisa dipaksa kok Neng. Justru melalui politk uang masyarakat bisa ngeliat mana calon pejabat yang murah hati dan perhatian sama rakyatnya, mana yang acuh aja tuh ga peduli. Kalo yang modelan kaya gini gimana bisa peduli sama kita pas udah kepilihAy-YR Dari dua pandangan informan, politik uang justru dianggap sebagai bentuk aksi sosial atau kepedulian ekonomi yang realistis dari calon pejabat terutama untuk kalangan menengah ke Masyarakat jelas menerima politik uang ini dengan antusias karena Masyarakat merasa terbantu dengan pemberian politik uang karena uang tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Lalu saat peneliti bertanya mengenai persepsi masyarakat terhadap calon pemimpin yang tidak melakukan politik uang. HM memberikan respon: AuNeng, zaman sekarang mah udah ga ada calon yang mau menang tapi ga ngeluarin duit, ga bakal menang yang gitu mahAy-HM. Bahkan menyatakan bahwa calon pemimpin yang tidak memberikan apapun ke masyarakat saat masa kampanye adalah calon pemimpin yang pelit. Karena ia berpandangan bahwa: Au eleh calon yang ga ngasih apa apa mah pelit, udah keliatan dari awal. Atuh gini aja sih Neng, kalo pas kampanye sebelum jadi pejabat aja udah pelit gimana kalo kepilih nanti, ga akan dilirik tuh masyarakat lagi susah jugaAy. -MI MZ juga menanggapi bahwa politik uang merupakan salah satu bentuk pendekatan calon pejabat masyarakat agar ia memiliki citra yang baik dan murah hati, ia memandang Aukalo ga ada upaya pendekatan dari calon pejabat ke masyarakat, berarti calon itu ga mampu ngambil hati masyarakat dan ga ada usaha lebih untuk Karena kalo mau meraih sesuatu orang kan harus berjuang, barulah nanti masyarakat yang lihat sejauh mana bentuk usaha para calon untuk menunjukkan kepedulian ke masyarakat, masyarakat mah realistis ya pasti nilai dari yang loyal sama memberikan dampak ekonomi dulu ajaAy. Hasil jawaban informan, peneliti masyarakat yang tidak sejalan dengan Jika hukum menganggap bahwa calon pemimpin yang ideal adalah yang bersih dari politik uang, namun masyarakat menganggap bahwa calon pemimpin yang tidak memberikan manfaat langsung kepada masyarakat baik dalam bentuk uang, barang, fasilitas bangunan, dan sebagainya maka ia dianggap sebagai calon pemimpin yang tidak peduli dan tidak sesuai dengan kriteria pemimpin ideal masyarakat di Desa Maja. Bukan hanya dari keinginan mendapatkan uangnya saja, sebenarnya cara calon pemimpin ini menyampaikan maksud dan tujuannya melakukan politik uang kepada masyarakat juga menjadi salah satu penilaian masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara YR: Auya kalo diliat-liat dari berbagai calon, saya lebih senang ketika calon yang mendatangi saya secara langsung, melakukan pendekatan emosional, dan mengutarakan tujuannya dengan sopan. Calon ini dilihat lebih beretika menitipkan uangnya saja ke tim sukses tanpa ada omongan baik-baik buat ngejelasin tujuannya apaAy. -YR Dari hasil wawancara kepada seluruh informan, bentuk politik uang dalam pemilu yang pernah mereka terima selama menjadi masyarakat di Desa Maja berupa uang, sembako, makan gratis, baju, fasilitas publik . asjid, mushola, perbaikan jalan, gedung serba gun. Dari semua bentuk tersebut, bentuk uang lah yang paling umum diterima masyarakat. Ketika digunakan untuk apa hasil dari politik uang yang diterima masyarakat. MZ AuNeng disini mah seru kalo lagi pemilu suka pada rame di pasar barang pada abis, di jajanan perumahan Citra, di Alfa, sama itu sekarang lagi pada seneng naik mobil odong-odong. Ada juga yang beli baju, sembako, beli daging, perabotan rumah, makanan, jajanan, pokoknya banyak lah beda-beda. Biasalah orang desa gimana sih kalo punya uang seneng langsung dihabisin Bermanfaat banget Neng ini buat kebutuhan kitaAy. -YR pernyataan dari YR: AuIya seru Neng disini mah, apalagi kalo nanti misal ada calon yang menang, pasti pendukung-pendukungnya makan-makan atau ngeliwet gitu lah Ay-MI Dari hasil wawancara kedua informan, peneliti menemukan bahwa masyarakat Desa Maja memanfaatkan hasil politik uang ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para pedangang juga mendapatkan keuntungan lebih banyak saat momen pemilu ini. Hubungan Sosial Yang Terbentuk Akibat Politik Uang Peneliti mewawancarai MZ yang saat Pilkades pernah menjadi koalisi salah satu calon kepala desa. Ketika peneliti bertanya mengenai siapa saja koalisi yang terlibat saat pemilu, baik itu Pilkades atau AuBiasanya koalisi dari calon-calon ini dari keluarga sama kerabat dulu, terus ngedeketin kyai biasanya atau tokoh masyarakat, tetep aja ngedeketin yang gitu juga pake uang bukan ke masyarakat doangAy. -MZ Lalu peneliti bertanya mengenai sumber dana para calon. MZ menjelaskan AuSumbernya yang utama dari dana pribadi kalo kades, terus kerabat paling. Kalo DPR ya dari partai atau ga nyari sponsor pengusaha tar bales budinya pake proyekAy. -MZ Menyimpulkan wawancara informan dan peneliti, politik uang dapat membentuk hubungan-hubungan masyarakat Maja. Saat calon pemimpin ini akan mencalonkan diri dalam pemilu, ia memperkuat hubungan keluarga dan kerabat dekat. Kemudian ia membangun relasi dengan pihak-pihak yang memiliki peranan dan status untuk memperluas koalisinya. Pihak yang memiliki peranan dan status disini seperti tokoh masyarakat, kyai, dan pemilik Lalu untuk mengikat masyarakat lainnya . erutama masyarakat menengah ke bawa. para calon pemimpin ini menggunakan politik uang untuk mencari simpati masyarakat. Solidaritas solidaritas organik terbangun disini. Solidaritas berdasarkan kesadaran kolektif yang ditunjukkan oleh keluarga dan kerabat. Biasanya keluarga dan kerabat dekat ikut mendukung dengan menyumbangkan sejumlah uang dan ikut mempromosikan calon pemimpin yang terkait sebagai bentuk solidaritas tersebut. Lalu untuk berdasarkan pada keterikatan hubungan kerja yang nantinya saling memberikan asas manfaat terjalin dengan tokoh masyarakat, kyai, dan pemilik modal. Tokoh masyarakat dan kyai memiliki pengaruh besar dalam masyarakat karena suara mereka lebih didengar oleh Desa Maja berpeluang besar untuk memperbanyak Dan untuk pemilik modal, biasanya ia berperan sebagai pemodal dalam masa kampanye yang nantinya jika calon pemimpin ini menang akan memberikan asas manfaat berupa sejenisnya kepada para pemilik modal ini. Analisis Teori Tindakan Sosial Max Weber Peneliti penelitian menggunakan teori Tindakan Sosial yang dicetuskan oleh Max Weber. Weber memusatkan perhatiannya pada teori tindakan sosial yang berorientasi pada tujuan dan motivasi pelaku. Hal ini sejalan dengan topik penelitian ini mengenai persepsi masyarakat terhadap politik uang. Weber berpendapat bahwa untuk bisa membandingkan struktur pada masyarakat yang beragam, maka perlu dipahami alasan masyarakat tersebut mempengaruhi karakter mereka, dan perlunya pemahaman tindakan pelaku yang hidup pada masa kini. Namun kita harus dapat memahami bahwa tidak masyarakat atau semua struktur sosial karena setiap orang punya alasannya tersendiri dalam bertindak (Jones 2. Berdasarkan hasil wawancara, di dapatkan bahwa alasan masyarakat menerima politik uang adalah karena adanya kebutuhan ekonomi, pendekatan emosional dari calon pemimpin yang dapat diterima masyarakat, adanya solidaritas yang terbangun, dan kebiasaan politik uang yang mengakar setiap ada kontestasi politik dalam pemilu. Namun sebagaimana telah dijelaskan oleh Weber bahwa setiap masyarakat tidak dapat digeneralisir, persepsi yang ada dalam hasil penelitian ini hanya berlaku pada realitas di masyarakat Maja, belum tentu masyarakat lain memiliki persepsi yang Lebih lanjut Weber mengatakan bahwa pada hakikatnya setiap individu dalam masyarakat merupakan aktor yang kreatif dan realitas sosial tidak menjadi alat yang statis daripada fakta sosial yang memaksa (Wirawan, 2. Artinya dalam praktik politik uang ini tindakan dan respon masyarakat dapat berbedabeda terlepas dari bagaimana norma, nilai, atau kebiasaan yang umum Setiap individu memiliki pandangan dan sikapnya. Sebagaimana yang terjadi pada informan MZ bahwa ia memiliki pandangan yang tidak sejalan dengan hukum mengenai makna politik uang ini sehingga dari perbedaan makna tersebut MZ akan lebih mengikuti tindakan yang ia lakukan. Weber memperkenalkan konsep pendekatan verstehen untuk memahami makna tindakan seseorang. Seseorang bertindak bukan hanya berdasarkan menempatkan diri dalam lingkungan berfikir dan perilaku orang (Wirawan, 2. Di masyarakat Maja tokoh masyarakat dan kyai yang dijadikan figur oleh masyarakat dalam menentukan pandangan dan tindakan. Sebagian masyarakat Maja sedikit berdasarkan figur yang diikutinya. Maka tidak sedikit dari calon pemimpin yang relasi dengan masyarakat dan kyai untuk menjadikan mereka perantara dalam menyampaikan tujuannya kepada masyarakat. Dari empat tindakan sosial yang dikemukakan Weber, terdapat tiga jenis Pertama, tindakan rasionalitas alat-tujuan adalah sebuah tindakan yang ditentukan melalui pengharapan perilaku seseorang di dalam lingkungan dan pengharapan tersebut menjadi alat tercapainya tujuan sang aktor yang diperhitungkan secara rasional. Dalam penelitian ini, politik uang menjadi suatu alat . ang diharapkan masyaraka. untuk mencapai tujuan para calon pejabat yaitu meraih kemenangan dalam kontestasi politik pemilu. Kedua, tindakan rasionalitas nilai adalah tindakan yang ditentukan oleh kepercayaan akan adanya nilai tersendiri di dalam masyarakat. Bentuknya dapat berupa perilaku yang etis, estetis, atau Dalam penelitian ini, politik uang dipercaya masyarakat Maja memiliki nilai positif yaitu sebagai bentuk perhatian calon pejabat kepada masyarakat dan bentuk terimakasih karena masyarakat mau mendukung para Ketiga, adalah suatu tindakan yang ditentukan oleh cara berperilaku sang aktor yang sudah lazim. Di masyarakat Maja, politik uang sudah menjadi kebiasaan sejak lama hingga menimbulkan rutinitas setiap diadakannya pemilu. Ketika ada calon pejabat yang tidak melakukan politik uang, maka ia sudah mendapatkan stigma negatif dari masyarakat yaitu AupelitAy. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil disimpulkan bahwa masyarakat Desa Maja memiliki persepsi berbeda dengan norma hukum dalam memandang politik Masyarakat menganggap bahwa politik uang adalah bentuk terimakasih atas suara yang akan diberikan dan pendekatan kepada masyarakat. Alasan masyarakat menerima politik uang adalah karena adanya kebutuhan ekonomi, pendekatan emosional dari calon masyarakat, adanya solidaritas yang terbangun, dan kebiasaan politik uang yang mengakar setiap ada kontestasi politik dalam pemilu. Dalam teori Weber memfokuskan diri pada motivasi dan tujuan seseorang menentukan perilaku. Weber pendekatan verstehen untuk memahami makna tindakan seseorang. Dalam hal ini masyarakat Maja membangun persepsi dan keputusan tindakan didasarkan pada penglihatannya terhadap orang sekitar dan figur yang diteladani. Saran untuk peneliti selanjutnya yang membahas mengenai persepsi masyarakat terhadap politik uang yaitu gunakanlah teori sosiologi lain untuk menganalisis terkait masalah ini agar hasilnya lebih beragam. DAFTAR PUSTAKA