JURNAL BHAKTI CIVITAS AKADEMIKA Volume VII. Nomor 1. Tahun 2024 ISSN 2615-210X (Prin. dan ISSN . (Onlin. Available Online at http://e-journal. id/index. php/jbca PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG RISIKO STUNTING PADA BALITA MELALUI PENDIDIKAN KESEHATAN Iis Suwanti. Program Studi Keperawatan. Akademi Keperawatan Dian Husada Mojokerto. Email : arel. jasmine2016@gmail. Darsini. Program Studi Ilmu Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Jombang. Email : darsiniwidyanto4@gmail. Fajar Purwanto. Program Studi Manajemen. Universitas Mayjen Sungkono. Email : fajar. purwanto@gmail. Korespondensi : darsiniwidyanto4@gmail. ABSTRAK Salah satu masalah gizi kronis balita yang ditandai dengan tinggi badan lebih pendek dibanding usianya adalah istilah stunting, yang masih menjadi masalah besar di masyarakat. Salah satu faktor yang menyebabkan kejadian stunting yaitu kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi anak sehingga ibu kurang pengetahuan dalam mencegah terjadinya stunting. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk melakukan transfer IPTEK terkait stunting melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Desa Karangtanjung Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Metode penyampaian materi menggunakan wawancara dan diskusi. Jumlah peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini sebanyak 38 Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini terjadinya peningkatan pengetahuan pada peserta kegiatan. Sosialisasi mengenai permasalahan stunting merupakan masalah penting yang harus menjadi perhatian oleh semua pihak. Hal ini dikarenakan stunting yang terjadi pada masa balita dapat berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan balita itu sendiri. Selain itu, stunting yang terjadi pada balita akan mengakibatkan penurunan kualitas sumberdaya manusia di Indonesia ketika balita tersebut dewasa nantinya. Edukasi yang dilakukan oleh petugas kesehatan terkait dengan stunting perlu secara rutin dilakukan kepada ibu balita agar pengetahuan masyarakat tentang pencegahan gizi buruk lebih baik serta ibu memiliki informasi dan pengetahuan yang lebih beragam Kata Kunci : Pendidikan Kesehatan. Pengetahuan. Stunting. Ibu Balita Halaman | 1 PENDAHULUAN Pada zaman modern ini status gizi balita masih menjadi permasalahan yang utama, yang mana masih banyak khalayak masyarakat mempercayai bahwa pertumbuhan anak yang pendek atau yang sering disebut stunting merupakan faktor keturunan. Namun pada hakikatnya stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor dimana hal ini merupakan masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan seusianya (Setianingsih et al. , 2. Kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saat dewasa (Sudikno et al. , 2. Oleh karena itu anak pendek merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang diterima secara luas, yang selanjutnya menurunkan kemampuan produktif suatu bangsa di masa yang akan datang ini yang disebabkan oleh berbagai faktor salah satunya kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sehingga ibu kurang pengetahuan dalam mencegah terjadinya stunting (Aditianti et al. , 2. Ibu yang mempunyai tingkat pendidikan rendah dilaporkan kurang mengetahui pentingnya penerapan pola hidup sehat dan pemenuhan gizi yang cukup dalam merawat anak. Hal ini akan berdampak pada munculnya risiko terjadinya stunting pada anak. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 melaporkan sebesar 21,3% atau sebanyak 144 juta anak dibawah 5 tahun mengalami stunting pada tahun 2019. Prevalensi stunting di dunia mengalami penurunan sejak tahun 2015 yaitu sebesar 155 juta anak dibawah 5 tahun. Jumlah stunting merupakan permasalahan terbesar setelah angka kejadian wasting yaitu sebanyak 47 juta anak dan obesitas sebanyak 38. 3 juta anak di dunia. Angka kejadian stunting di dunia didominasi oleh Asia sebesar 54% dan Afrika sebesar 40%. Data tersebut menunjukkan bahwa stunting sebagian besar terjadi di negara berkembang yang memiliki pendapatan menengah hingga rendah (Kemenkes RI, 2023. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki prevalensi stunting yang Prevalensi stunting yang terjadi di Indonesia pada tahun 2022 sebesar 21,6% atau sebanyak 4,5 juta anak dan prevalensi stunting di Jawa Timur sebesar 158 anak yang terkena stunting . ,2%) (Kemenkes RI, 2023. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, angka stunting Tahun 2022 di Sidoarjo adalah 16,1%. Angka tersebut naik sekitar 1,3% dari tahun sebelumnya, yaitu 14,8% (Riskesdas, 2. Setelah dilakukan studi pendahuluan dengan cara wawancara bersama bidan desa di dadapatkan jumlah balita di wilayah Posyandu Cempaka 4 Desa Karangtanjung sebanyak 42 anak. Pada bulan Februari 2023 telah dilakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan balita didapatkan anak yang mengalami stunting sebanyak 2 anak . ,7%). Setelah dilakukan wawancara bersama 10 ibu yang memiliki balita, 8 orang mengatakan belum mengetahui apa itu stunting, penyebab dan dampak yang ditimbulkan. Sedangkan 2 orang mengatakan sering mendengar stunting melalui iklan yang sering tayang di televisi akan tetapi tidak mengetahui banyak tentang stunting. Pada saat ini angka kejadian stunting di Indonesia tergolong masih cukup tinggi, sehingga pemerintah mendorong untuk melakukan penanggulangan stunting demi menekan angka kejadian stunting di Indonesia (Kemenkes RI. Penyebab tingginya angka stunting di Indonesia dipengaruhi oleh Halaman | 2 berbagai faktor penyebab antara lain tidak adekuatnya nutrisi pada masa bayi, infeksi pada balita, faktor ekonomi, dan tidak terpenuhinya gizi yang adekuat pada masa kehamilan (Fauziah & Novandi, 2. Namun kekurangan gizi kronik yang terjadi pada balita dan ibu hamil tidak selalu menjadi penyebab utama terjadinya stunting. Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebab tingginya angka stunting adalah pengasuhan orang tua tidak maksimal. Hal tersebut dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu tentang stunting dan pengetahuan gizi yang tidak tepat sebelum hamil, saat hamil dan setelah melahirkan (Dermawan et al. , 2. Pengetahuan ibu menjadi salah satu aspek penting untuk diperhatikan dalam mengatasi stunting pada anak. Tingginya angka kejadian stunting di Indonesia memberikan dampak besar terhadap kualitas sumber daya manusia dikemudian hari. Kemampuan intelektual pada anak yang tidak mengalami stunting akan lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengalami stunting, dan tingkat produktivitasnya 20% lebih rendah pada anak yang mengalami stunting ketika dewasa. Selain itu penyakit degeneratif yang tidak menular lebih mudah dialami pada anak yang mengalami stunting, hal tersebut mengakibatkan Indonesia mengalami kerugian sebesar Rp260-300 triliun per tahun (Wardani et al. , 2. Dampak lain yang ditimbulkan oleh stunting yaitu tinggi badan dan perkembangan kognitif tidak akan maksimal serta menjadi penyebab berkurangnya kualitas sumber daya manusia pada masa dewasa (WHO. Upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah tingginya angka stuting salah satunya adalah dengan pemberian pendidikan kesehatan tentang stunting kepada ibu balita. Pengetahuan ibu menjadi salah satu aspek penting untuk diperhatikan dalam mengatasi stunting pada anak. Pendidikan kesehatan menggunakan penyuluhan merupakan strategi terbaik dalam meningkatkan pengetahuan ibu. Selain itu metode penyampaian pendidikan kesehatan secara langsung dapat mendorong seseorang untuk menerima informasi dengan lebih mudah PELAKSANAAN DAN METODE Tahapan pelaksanaan kegiatan dimulai dengan pengajuan perijinan kegiatan. Setelah mendapatkan ijin, selanjutnya pelaksana kegiatan menyiapkan kebutuhan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dibutuhkan nantinya termasuk lokasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 19 November 2023 mulai pukul 08. 00 WIB s/d Kegiatan ini dilakukan di balai pertemuan Desa Karangtanjung Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dimulai dengan pembagian kuesioner terkait dengan permasalahan stunting pada Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi awal mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebelum kegiatan dilakukan. Selanjutnya materi pengabdian kepada masyarakat disampaikan oleh pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah ditunjuk sebelumnya. Pada saat penyampaian materi dilakukan, peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat juga diperkenankan mengajukan pertanyaan mengenai materi yang disampaikan. Tahap terakhir yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah melakukan tes ulang terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh peserta kegiatan terkait permasalahan stunting. Halaman | 3 HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN Dari pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan, didapatkan beberapa data sebagai berikut : Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan pendidikan terakhir Tabel 1 Distribusi frekuensi peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan pendidikan terakhir di Desa Karangtanjung Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo Keterangan Frekuensi . Presentase (%) SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan lebih dari separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki latar belakang pendidikan SMA yaitu sebanyak 21 peserta . ,3%) Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan Tabel 2 Distribusi frekuensi peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan pekerjaan di Desa Karangtanjung Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo Keterangan Frekuensi . Presentase (%) Bekerja Tidak bekerja Jumlah Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak bekerja atau hanya menjadi ibu rumah tangga yaitu sebanyak 26 peserta . ,4%) Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan usia Tabel 3 Distribusi frekuensi peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan usia balita di Desa Karangtanjung Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo Keterangan Frekuensi . Presentase (%) 0-1 tahun 1-3 tahun 3-5 tahun Jumlah Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki balita berusia 1-3 tahun yaitu sebanyak 19 peserta . ,0%) Karakteristik peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan jenis kelamin balita Halaman | 4 Tabel 4 Distribusi frekuensi peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan jenis kelamin balita di Desa Karangtanjung Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo Keterangan Frekuensi . Presentase (%) Laki-laki Perempuan Jumlah Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan lebih dari separuh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki balita perempuan yaitu sebanyak 19 peserta . ,3%) Pengetahuan peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang stunting Tabel 5 Distribusi frekuensi pengetahuan peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang stunting di Desa Karangtanjung Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo Keterangan Frekuensi . Presentase (%) Baik Cukup Kurang Jumlah Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan tentang stunting dalam kategori cukup yaitu sebanyak 26 peserta . ,4%) Pengetahuan peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang stunting Tabel 6 Distribusi frekuensi pengetahuan peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang stunting di Desa Karangtanjung Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo Keterangan Frekuensi . Presentase (%) Baik Cukup Kurang Jumlah Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan tentang stunting dalam kategori baik yaitu sebanyak 32 peserta . ,2%) PEMBAHASAN Pengetahuan peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang stunting Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan tentang stunting dalam kategori cukup yaitu sebanyak 26 peserta . ,4%) Halaman | 5 Menurut Notoatmojo . Darsini et al. , 2. Pengetahuan merupakan hasil tau dan terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahaun dapat didapatkan dari orang lain , seperti mendengar melihat langsung dan melalui alat komunikasi seperti televisi, radio dan lain-lain. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Suryagustina tahun 2018 menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan tentang pencegahan stunting akan berdampak pada pengetahuan ibu, ibu yang memiliki kurang informasi maka akan memiliki pengetahuan kurang juga terhadap pencegahan stunting (Suryagustina, 2018. Darsini et al. , 2. Menurut asumsi tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat dari hasil diatas diakibatkan oleh cukupnya pengetahuan peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat terhadap pencegahan stunting, yang mana pengetahuan ibu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting pada anak. Salah satu cara yang tepat untuk menghindari stunting adalah memberikan pendidikan kesehatan pada ibu agar ibu memiliki pengetahuan yang lebih informatif Pengetahuan peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang stunting Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan tentang stunting dalam kategori baik yaitu sebanyak 32 peserta . ,2%) Menurut Suryani dkk . Darsini et al. , 2. tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap pengetahuan yang dimilikinya. Pendidikan ibu menjadi salah satu faktor yang terjadinya stunting pada anak (Suryani dkk, 2018. Komalasari et al. , 2. Kejadian stunting banyak faktor yang mempengaruhinya salah satunya adalah kurangnya pengetahuan yang dimiliki ibu tentang asupan gizi dan status gizi. Anak yang dilahirkan oleh ibu dengan pendidikan yang rendah lebih beresiko terkena stunting, artinya meningkatan pengetahuan ibu akan membuat pertumbuhan anak menjadi lebih Pendidikan ibu yang rendah membuat ibu tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan akibat kurangnya pengetahuan sehingga dapat menyebabkan terjadinya stunting (Olsa, 2. Menurut asumsi tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat, setelah peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat diberikan pendidikan kesehatan, pengetahuan ibu tentang stunting hampir seluruh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat mengetahui apa itu stunting. Faktor yang paling berpengaruh terhadap pengetahuan ibu adalah informasi. Melalui penelitian ini mayoritas ibu yang berpengetahuan baik sering mendapatkan banyak informasi tentang stunting dari berbagai macam media. Oleh karena itu pemberian informasi melalui penyuluhan kesehatan berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang stunting Menurut asumsi tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat, berdasarkan hasil analisis ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan ibu sebelum dan setelah diberikannya pendidikan kesehatan Halaman | 6 tentang stunting artinya bahwa pendidikan kesehatan mempunyai pengaruh positif terhadap pengetahuan ibu. Dari awalnya hanya 2 orang yang memiliki pengetahuan yang baik dan 26 orang memiliki cukup pengetahuan serta 10 orang memiliki kurang pengetahuan setelah diberikan pendidikan kesehatan menjadi 32 orang dengan pengetahuan yang baik, hampir seluruhnya terdapat Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan ibu dalam mengenali stunting, penyebab stunting, tanda gejala stunting dan dampak dari stunting, serta pencegahan stunting. Pengetahuan yang dimiliki oleh ibu tentang stunting akan menjadi cerminan kesehatan dan kesejahteraan anak dan penentu masa depan anak di masa yang akan datang. Ibu yang sering mendapatkan edukasi kesehatan tentang stunting akan memiliki pengetahuan yang lebih informative dan lebih bervariasi KESIMPULAN Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan, didapatkan hasil : Berdasarkan hasil pengumpulan data awal pada pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan tentang stunting dalam kategori cukup yaitu sebanyak 26 peserta . ,4%) Berdasarkan hasil pengumpulan data akhir pada pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, didapatkan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki pengetahuan tentang stunting dalam kategori baik yaitu sebanyak 32 peserta . ,2%) Terjadi peningkatan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat terkait stunting setelah dilakukan edukasi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini SARAN Pelaksanaan transfer IPTEK sebagai bagian dari tanggungjawab civitas akademika baik terhadap pengembangan keilmuan dan hilirisasi informasi, perlu mendapatkan perhatian yang serius. Hal ini dikarenakan masih banyak masyarakat di Indonesia yang belum mampu mengakses beragam informasi yang bermanfaata bagi peningkatan derajat kesehatan mereka. Sosilisasi dan edukasi merupakan upaya nyata yang dapat dilakukan oleh civitas akademika untuk memastikan setiap masyarakat memahami mengenai pentingnya upaya mencegah dan mengatasi permasalahan stunting pada balita DAFTAR PUSTAKA