Al-Hikmah Jurnal Theosofi dan Peradaban Islam Vol. 7 N0. Juli-Desember 2025 ISSN 2655-8785 (Onlin. Avalaible Online at: http://jurnal. id/index. php/alhikmah Moderasi Beragama melalui Tarekat dan Peran Mursyid dalam Mewujudkan Harmoni Sosial Armyn Hasibuan Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan armynhasibuan@gmail. Pahri Siregar Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan pahrisrg@uinsyahada. Abstract. Tariqah, as part of the Sufi tradition, plays a significant role in fostering religious moderation within pluralistic societies. Beyond serving as an individual spiritual practice, tariqah functions as a social space that transmits ethical and moderate religious values. A qualitative approach was employed through literature review and empirical observation of tariqah practices and the role of mursyids in socio-religious life. The analysis focused on the internalization of Sufi values, the dynamics of mursyid roles, and variations in their doctrinal orientations. Values such as balance, self-discipline, compassion, and rejection of extremism are internalized through rituals, religious education, and community activities. Mursyids act as both spiritual guides and social agents who shape followersAo religious orientation and mediate the implementation of moderation. The diversity among mursyids ranging from moderate-adaptive, traditional-conservative, to highly modern demonstrates that tariqah is a dynamic tradition capable of maintaining its Sufi essence while responding to social change. Consequently, tariqah contributes significantly to strengthening religious moderation and social harmony through the integration of spiritual and social dimensions. Keywords: Sufism. Religious Moderation. Mursyid. Social Harmony. Abstrak. Tarekat sebagai bagian dari tradisi tasawuf memainkan peran penting dalam pembentukan moderasi beragama di masyarakat plural. Selain sebagai praktik spiritual individual, tarekat berfungsi sebagai ruang sosial yang mentransmisikan nilai-nilai etika keagamaan yang moderat. Pendekatan kualitatif digunakan melalui telaah literatur dan observasi empiris terhadap praktik tarekat serta peran mursyid dalam kehidupan sosial-keagamaan. Moderasi Beragama melalui Tarekat dan Peran Mursyid dalam Mewujudkan Harmoni Sosial Analisis difokuskan pada internalisasi nilai tasawuf, dinamika peran mursyid, dan variasi orientasi pemikiran dalam praktik tarekat. Nilai-nilai seperti keseimbangan, pengendalian diri, kasih sayang, dan penolakan terhadap ekstremisme terinternalisasi melalui ritual, pendidikan, dan aktivitas Mursyid berfungsi sebagai pembimbing spiritual sekaligus agen sosial yang membentuk orientasi keberagamaan murid dan memediasi nilai Variasi orientasi mursyid moderat-adaptif, tradisional-konservatif, hingga sangat modern menunjukkan bahwa tarekat merupakan tradisi dinamis yang mampu mempertahankan nilai sufistik inti sekaligus merespons perubahan sosial. Dengan demikian, tarekat berkontribusi signifikan dalam penguatan moderasi beragama dan harmoni sosial melalui integrasi dimensi spiritual dan sosial. Kata Kunci: Tasawuf. Tarekat. Moderasi Beragama. Mursyid. Harmoni Sosial. Pendahuluan Moderasi beragama menjadi salah satu isu strategis dalam kehidupan keagamaan di Indonesia, yang ditandai oleh kemajemukan agama, etnis, dan budaya1. Tarekat sebagai bagian dari tradisi tasawuf memiliki peran penting dalam membentuk corak keberagamaan yang moderat, toleran, dan berorientasi pada akhlak terpuji2. Meskipun demikian, praktik tarekat sering kali dipersepsikan secara negatif sebagai tradisi keagamaan yang eksklusif, kolot, dan kurang responsif terhadap perkembangan zaman bahkan berbagai stigma negatif dikembangkan 3. Secara historis, tarekat di Nusantara berperan besar dalam penyebaran Islam yang damai, adaptif, dan selaras dengan budaya lokal4. Di wilayah Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan, tarekat tumbuh dan berkembang dalam masyarakat yang multikultural dan plural, sehingga Nurlaili. Fitriana. Cut Ulfa Millah, dan Elya Munawarah Nasution. AuModerasi Beragama di Indonesia: Konsep Dasar dan Pengaruhnya. Ay Moderation: Journal Religious Harmony . https://doi. org/10. 47766/moderation. Rohmawati. , & Zulkifli. Teosofia 12, no. : 22Ae39. https://journal. id/index. php/teosofia/article/view/22567 Rahmah. St. Akhmad Hasan Saleh, and Sri Nur Rahmi. AuThe Influence of Sufism on Social Practices in Contemporary Muslim Societies: A Case Study in Indonesia. Ay Journal of Noesantara Islamic Studies 1, no. 4 (August 28, 2. : 214Ae232. https://doi. org/10. 70177/jnis. Alim. AuSejarah Tarekat di Nusantara: Islam Damai dan Adaptif. Ay Jurnal Dakwah 18, no. : 101Ae120. https://journal. id/dakwah/article/view/42864 Penulis Armyn Hasibuan. Pahri Siregar / Al-Hikmah: Jurnal Theosofi dan Peradaban Islam Vol. 7 N0. Juli-Desember 2025 menuntut adanya sikap moderat dalam praktik keagamaannya5. Moderasi tarekat merupakan tawaran pemikiran bagi mursyid tarekat yang memiliki posisi sentral dalam membentuk orientasi berpikir murid serta menentukan arah keterbukaan tarekat terhadap dinamika sosial 6. Penelitian tentang tarekat selama ini lebih banyak menekankan aspek doktrinal dan ritual, sementara kajian mengenai peran tarekat dalam moderasi beragama yang nyata, khususnya dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat, masih relatif terbatas7. Sebagian literatur menyoroti potensi tasawuf dalam memperkuat kohesi sosial dan toleransi, tetapi bukti empiris mengenai implementasi moderasi oleh mursyid di masyarakat kontemporer jarang tersedia8. Dengan demikian, terdapat celah penelitian yang signifikan, yaitu studi empiris tentang bagaimana mursyid menginternalisasikan nilai moderasi beragama dalam praktik sosial nyata di komunitas plural masih minim9. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ada tidaknya moderasi beragama dalam ajaran tarekat serta mengkaji bagaimana praktik moderasi tarekat dilakukan secara nyata oleh mursyid tarekat di Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan, mengidentifikasi peran mursyid dalam menanamkan nilai moderasi beragama di tengah masyarakat yang plural dan multikultural, serta menilai keterkaitan antara praktik tarekat dan penguatan harmoni sosial dalam masyarakat Isi/ Pembahasan Moderasi Beragama dalam Perspektif Tasawuf Kontemporer Tasawuf sebagai landasan moderasi beragama menawarkan perspektif spiritual yang berorientasi pada penguatan persaudaraan manusia . khuwah insaniya. Kajian Mukhlisin menunjukkan bahwa tasawuf menekankan transformasi batin . azkiyyah al-naf. serta Rohmawati. , & Zulkifli. AuTarekat dan Moderasi Beragama di Masyarakat Multikultural. Ay Teosofia 12, no. : 40Ae58. Wangsa. AuPeran Mursyid dalam Tarekat Kontemporer. Ay Poros Onim 10, no. 33Ae50. https://ejournal. id/index. php/porosonim/article/view/715 Alim. , & Rohmawati. AuKesenjangan Penelitian Tarekat dan Moderasi Beragama. Ay Jurnal Dakwah 18, no. : 121Ae138 Mukhlisin. AuTasawuf. Moderasi Beragama, dan Kohesi Sosial. Ay Jurnal Tasawuf Kontemporer 7, no. : 10-28. Rohmawati. , & Zulkifli. AuGap Penelitian tentang Peran Mursyid dalam Moderasi. Ay Teosofia 12, no. : 59Ae72. Hasbi. , & Fuady. AuStrategi Penguatan Moderasi Beragama di Indonesia. Ay Jurnal Kebijakan Islam 9, no. : 55Ae77. Moderasi Beragama melalui Tarekat dan Peran Mursyid dalam Mewujudkan Harmoni Sosial pengembangan nilai-nilai kebijaksanaan, cinta, dan toleransi dalam menghadapi realitas pluralisme sosial modern11. Kasus ini menunjukkan bahwa tasawuf bukan semataAcmata praktik batin, tetapi memiliki kontribusi penting dalam mengembangkan sikap moderat yang mengatasi ekstremisme dan konflik sosial. internalisasi nilaiAcnilai tasawuf seperti zuhud, tawakkal, ihsan, dan sabar terbukti membentuk sikap moderat dalam komunitas Thoriqoh Syadziliyah Al Masudiyah. Melalui proses pembelajaran aktif, dialog, dan bimbingan langsung para mursyid, tasawuf membantu komunitas memahami moderasi beragama secara praksis, termasuk toleransi, inklusivitas, dan gaya hidup sederhana yang menolak provokasi kekerasan atau Selain itu, konsep moderasi yang ditawarkan tasawuf tidak hanya berhenti pada sikap toleran, tetapi juga menekankan keseimbangan antara dunia dan akhirat, serta penolakan terhadap ekstremisme dalam semua bentuk. NilaiAcnilai ini sangat sesuai dalam menjawab tantangan modern seperti radikalisme dan polarisasi agama. Peran Tarekat dalam Penciptaan Moderasi Sosial Kajian terbaru yang bersifat systematic literature review menunjukkan bahwa tarekat di Indonesia berperan sebagai agen perubahan sosial yang adaptif terhadap kebutuhan umat. Sufi orders tidak hanya berkutat pada praktik spiritual di ruang privat, tetapi juga aktif dalam pendidikan, dakwah, kesejahteraan sosial, dan aktivitas komunitas yang mendorong toleransi dan harmoni sosial. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan tarekat dalam masyarakat modern memiliki karakter holistik melalui integrasi dimensi spiritual dan sosial dalam praktik moderasi beragama. Kajian tentang Idrisiyyah Order bahkan menegaskan bahwa tarekat tertentu memainkan peran aktif dalam mempromosikan moderasi melalui pengajaran cinta, toleransi, dan aktivitas komunitas yang menolak kekerasan serta intoleransi. NilaiAcnilai ini diinternalisasi melalui pendidikan, dhikr, dan kegiatan sosial yang dilakukan oleh komunitas tarekat di Indonesia12. Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik tarekat tidak hanya berfokus pada dimensi spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai Mukhlisin. AuModerasi Beragama Perspektif Ilmu Tasawuf. Ay Jurnal Alasma: Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah 5, no. 2 (January 1, 2. : 115Ae20. https://jurnalstitmaa. org/index. php/alasma/article/view/106 ohmawati. Hanung Sito, and Zulkifli Zulkifli. AuThe Role of Sufi Orders in Social Change in Indonesia: A Systematic Literature Review. Ay Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism 13, no. 2 (December 4, 2. : 187Ae212. https://journal. id/index. php/teosofia/article/view/22567 Penulis Armyn Hasibuan. Pahri Siregar / Al-Hikmah: Jurnal Theosofi dan Peradaban Islam Vol. 7 N0. Juli-Desember 2025 ruang internalisasi nilai toleransi, solidaritas, dan kerja sama sosial. Aktivitas dzikir, suluk, dan majelis ilmu menjadi sarana penguatan harmoni sosial, mengurangi potensi konflik berbasis agama dan budaya. Kelompok moderat-adaptif mampu memadukan nilai sufistik dengan keterlibatan sosial nyata, sedangkan kelompok tradisional menjaga kesinambungan ritual dan identitas komunitas. Transformasi kelembagaan melalui digitalisasi, meskipun masih terbatas, membuka peluang untuk memperluas jangkauan dakwah dan internalisasi nilai moderasi, sejalan dengan temuan Prasetyo13. Osman dan Yusoff 14, serta kajian Zulkifli15. Digitalisasi ini juga meningkatkan kapasitas kelembagaan dan profesionalisme pengelolaan tarekat, sehingga memaksimalkan peran sosial dan spiritualnya. Peran Mursyid dalam Proses Internaliasi Nilai Moderasi Peran mursyid . embimbing spiritua. di tarekat adalah aspek yang sangat penting dalam menginternalisasi nilai tasawuf kepada murid . Studi empiris pada Thoriqoh Syadziliyah di Jombang menunjukkan bahwa proses internalisasi moderasi beragama dilakukan melalui metode pembelajaran langsung oleh mursyid, seperti diskusi kelompok, bimbingan pribadi, dan praktik ritual tasawuf 16. Metode ini berkontribusi dalam membantu murid menginternalisasi nilai-nilai tasawuf ke dalam perilaku keagamaan serta praktik kehidupan sosialnya. Mursyid tidak hanya menjalankan fungsi sebagai pembimbing spiritual, tetapi juga berperan sebagai agen sosial yang mendorong terciptanya rekonsiliasi, penguatan harmoni antarumat beragama, serta sikap penolakan terhadap berbagai bentuk ekstremisme. Dengan demikian, peran mursyid pada masa kontemporer mengalami perluasan fungsi, dari semata-mata pembimbing rohani menjadi mediator nilai-nilai moderasi dalam kehidupan sosial umat. Mursyid berperan sebagai aktor utama dalam membentuk orientasi keberagamaan yang moderat. Kelompok moderat-adaptif dan Prasetyo. Agung. AuDigital Religion and Islamic Spiritual Communities in Indonesia. Ay Jurnal Komunikasi Islam 13 . : 201Ae220. Osman. Mohamed Nawab, and Zulkifli Yusoff. AuDigital Islam and Religious Authority in Southeast Asia. Ay Contemporary Islam 16 . : 287Ae305. https://doi. org/10. 1007/s11562-022-00489-3 Zulkifli. AuIslamic Authority. Digital Media, and Sufi Networks. Ay Studia Islamika 31 . : 89Ae112. Rahmah. St. Akhmad Hasan Saleh, and Sri Nur Rahmi. AuThe Influence of Sufism on Social Practices in Contemporary Muslim Societies: A Case Study in Indonesia. Ay Journal of Noesantara Islamic Studies 1, no. 4 (August 28, 2. : 214Ae32. https://doi. org/10. 70177/jnis. Moderasi Beragama melalui Tarekat dan Peran Mursyid dalam Mewujudkan Harmoni Sosial sangat modern menginternalisasi prinsip-prinsip moderasi melalui keteladanan, serta mempromosikan sikap toleran dan terbuka terhadap perbedaan mazhab, budaya, dan agama. Hal ini sejalan dengan prinsip moderasi beragama yang dikembangkan oleh Kementerian Agama RI dan temuan Hasbi dan Fuady18, yang menekankan nilai tawazun, tasamuh, dan keterbukaan sebagai fondasi keberagamaan di masyarakat Sementara itu, kelompok tradisional-konservatif juga berkontribusi terhadap moderasi melalui stabilitas nilai sufistik dan legitimasi spiritual, yang mencegah pergeseran ekstrem dalam praktik Dengan kata lain, konservatisme yang terkontrol justru mendukung moderasi karena menegakkan disiplin spiritual dan etika sosial dalam komunitas. Tasawuf. Harmonisasi Sosial, dan Tantangan Modern Tasawuf kontemporer menghadapi sejumlah tantangan, seperti persepsi publik yang menganggap tasawuf terlalu mistis atau tidak sesuai dengan tantangan modern. Namun, kajian tentang etika sufi menunjukkan bahwa prinsipAcprinsip seperti tazkiyyah . embersihan jiw. , mujAhadah . erjuangan melawan hawa nafs. , dan mahabbah . inta kasi. berkontribusi pada harmoni sosial dan penguatan nilai moderat di masyarakat yang majemuk. Ini menjadikan tasawuf bukan sekadar tradisi mistik tetapi sebagai pendekatan etika dan sosial yang mampu menjawab tantangan intoleransi dan eksklusivisme. Temuan ini memiliki signifikansi bagi realitas kemajemukan di Indonesia, di mana pendekatan tasawuf dapat berfungsi sebagai landasan bagi dialog antaragama serta penguatan solidaritas sosial melalui nilai-nilai kebersamaan dan toleransi. NilaiAcnilai ini selaras dengan indikator moderasi beragama seperti toleransi, keseimbangan, dan penolakan Kementerian Agama Republik Indonesia. Moderasi Beragama. Jakarta: Badan Litbang Diklat Kementerian Agama RI. https://balitbangdiklat. Hasbi. , and M. Fuady. AuReligious Moderation and Spiritual Leadership in Plural Societies. Ay Journal of Islamic Social Studies 12 . : 55Ae73 Rasyad. Abdul. Ahmad Tohri. Hasan Basri, dan Hasanuddin Chaer. AuSufism and Social Cohesion: The Role of Hizib Nahdlatul Wathan Tariqa in Pluralistic Religious Life in East Lombok. Ay Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS 12, no. (July 22, 2. : 83Ae96. https://doi. org/10. 21831/hsjpi. Penulis Armyn Hasibuan. Pahri Siregar / Al-Hikmah: Jurnal Theosofi dan Peradaban Islam Vol. 7 N0. Juli-Desember 2025 Moderasi Tarekat dan Dinamika Kehidupan Keagamaan Lokal di Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan Walaupun riset langsung terhadap tarekat di Tapanuli Selatan dan Padangsidimpuan masih terbatas, general literature tentang peran tarekat di Indonesia dan proses internalisasi nilai tasawuf memberikan landasan kuat bahwa praktik tarekat di berbagai wilayah Nusantara memiliki karakter moderat yang khas. Nilai-nilai tasawuf diadaptasi dengan realitas budaya setempat, sehingga tarekat dapat berfungsi sebagai instrumen moderasi yang efektif dalam lingkungan sosial yang plural dan dinamis. Pada ranah sosial-budaya masyarakat, peran mursyid dipandang krusial sebagai pembimbing spiritual-kultural yang mentransmisikan nilai-nilai moderat melalui interaksi yang selaras dengan tradisi setempat20. Mursyid tarekat di tingkat lokal menerapkan tradisi dan ritual tarekat secara partisipatif. Dalam perspektif moderasi beragama, hal ini didasarkan pada pemahaman maqAm hadiyat al-afAoAl, khususnya dalam Tarekat Naqsyabandiyah, yang memandang keberagaman ekspresi keberagamaan manusia baik mukmin, kafir, munafik, fasik. Muslim. Kristen. Buddha. Hindu, dan lainnya sebagai afAoAl Allah, yakni perbuatan yang diciptakan-Nya sebagai bentuk anugerah yang diberikan kepada setiap manusia dalam perbedaan. Keragaman agama, suku, atnis dan lainnya, pengamal tarekat tidak boleh benci, mengintimidasi apalagi memperlakukan mereka tidak manusiawi. Semuanya perbedaan merupakan kekayaan Allah Swt yang dirahmati sebagai pancaran rahmannya Allah Swt. dan manifestasi tauhid rububiyah serta domain mahabbah kemanusiaan yang dicetuskan oleh RabiAoah Al-Adawiyah. Penelusuran lapangan mengidentifikasi 19 mursyid aktif membimbing jamaah tarekat, dengan variasi orientasi pemikiran yang mencerminkan keberagaman praktik moderasi. Temuan ini menunjukkan bahwa tarekat bukan entitas statis, melainkan ruang spiritual-sosial yang terus beradaptasi dengan zaman. Dari total mursyid, sembilan orang menunjukkan kecenderungan moderat-adaptif, delapan mursyid bersikap tradisional-konservatif, dan dua mursyid menempati posisi sangat modern/elastis. Saidah Difla Iklila. AuTitik Temu Tasawuf Dengan Tarekat Lokal di Indonesia. Ay Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya 8, no. https://doi. org/10. 55115/purwadita. Hasil Wawancara refleksi dari kajian halaqah al-Mursyid H. Khalid Huta Suhut. S, bi Khalaifa Thariqatah Baina Shalat al-Maghrib wa al-Isya, (Tapanuli Selatan : Parsalakan, 29 Nopember 2. Moderasi Beragama melalui Tarekat dan Peran Mursyid dalam Mewujudkan Harmoni Sosial Kelompok moderat-adaptif menekankan keseimbangan . antara urusan duniawi dan ukhrawi. Mereka mengetahui tarekat berada pada domain zanniy al-dhilalah yang dapat menerima interpretasi atau pembaruan orietasi dari pola lama22 ke kontemporer, mampu menyesuaikan pembimbingan spiritual dengan kebutuhan sosial, etika profesional, kesehatan mental, dan ketahanan keluarga, serta sebagiannya telah mulai menggunakan teknologi digital terbatas untuk mendukung managerial pengajaran tanpa menggeser inti ritual tarekat. Orientasi ini sejalan dengan kajian yang menekankan pentingnya neosufisme dalam merespons kebutuhan masyarakat modern23. Generasi mursyid ini cenderung memiliki pendidikan formal lebih tinggi dan mobilitas sosial-ekonomi lebih luas, sehingga mampu melakukan rekontekstualisasi ajaran tanpa menghilangkan nilai sufistik inti24. Sebaliknya, tradisional-konservatif mempertahankan pola pembimbingan klasik, menekankan disiplin ritual, konsistensi sanad . , dan kesinambungan otoritas spiritual . Delapan mursyid ini menempatkan manhaj tarekat sebagai rujukan absolut, mencerminkan habitus adabiyyah yang menjaga identitas kolektif komunitas. Sikap konservatif ini memperlihatkan mekanisme komunitas tarekat dalam mempertahankan otoritas dan stabilitas sosial, sejalan dengan temuan Rohman & Hidayat25 dan Trimingham26. Bagi mereka ini moderasi beragama sudah cukup manakala kita mampu mengaktualisasikan isi kandungan firman Allah Swt. Al-Kafirun ayat 1 sampai 6. Kelompok sangat modern atau elastis terdiri dari dua mursyid yang memadukan praktik spiritual klasik dengan pendekatan digital, komunikasi daring, dan pembelajaran adaptif untuk menjangkau jamaah Pendekatan ini menegaskan bahwa tarekat dapat berfungsi sebagai living tradition yang responsif terhadap tantangan modernitas, sesuai dengan analisis27. Lebih jauh, pandangan tersebut menegaskan Hasl Observasi dan Wawancara dengan beberapa syekh tarekat di dua daerah penelitian, 26 Oktober 2025 Zulkifli. AuSufism. Authority, and Social Transformation in Contemporary Indonesia. Ay Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism 13 . : 1Ae20. Howell. Julia Day. Sufism and the Modern in Islam. London: I. Tauris. Rohman. , and A. Hidayat. AuReligious Authority and Traditionalism in Indonesian Sufi Orders. Ay Jurnal Sosiologi Agama 16 . : 145Ae162. Trimingham. Spencer. The Sufi Orders in Islam. Oxford: Oxford University Press Pourjavady. Reza, and Leonard Lewisohn Wilson. Sufism: A New History of Islamic Mysticism. London: I. Tauris. Penulis Armyn Hasibuan. Pahri Siregar / Al-Hikmah: Jurnal Theosofi dan Peradaban Islam Vol. 7 N0. Juli-Desember 2025 bahwa Islam, termasuk di dalamnya tradisi tarekat, dipahami sebagai ajaran yang senantiasa selaras dengan perkembangan zaman (Aliu li kulli zamA. Sementara itu, aspek penerapan praktis ajaran tersebut secara sadar diserahkan kepada kapasitas dan pertimbangan manusia, sebagaimana prinsip antum aAolamu bi umri dunyAkum, yang menekankan otonomi manusia dalam mengelola urusan-urusan duniawi. Simpulan Kajian ini menegaskan bahwa tarekat sebagai bagian dari tradisi tasawuf memiliki peran strategis dalam pembentukan moderasi beragama di tengah masyarakat yang plural. Tasawuf tidak hanya berfungsi sebagai praktik spiritual individual, tetapi juga sebagai kerangka etika sosial yang menanamkan nilai keseimbangan, pengendalian diri, toleransi, dan penolakan terhadap sikap ekstrem dalam kehidupan beragama. Praktik tarekat memperlihatkan integrasi antara dimensi spiritual dan sosial melalui ritual, pendidikan keagamaan, serta aktivitas Aktivitas tersebut berperan sebagai medium internalisasi nilai moderasi yang berkontribusi pada penguatan harmoni sosial dan pengurangan potensi konflik berbasis agama maupun budaya. Dengan demikian, tarekat berfungsi sebagai ruang pembentukan sikap keberagamaan yang tidak hanya menekankan kepatuhan ritual, tetapi juga orientasi etis dan sosial. Mursyid menempati posisi sentral dalam proses internalisasi nilai moderasi tersebut. Peran mursyid tidak terbatas pada pembimbing spiritual, tetapi juga mencakup fungsi sebagai agen sosial yang membentuk orientasi keberagamaan murid serta memediasi nilai moderasi dalam kehidupan sosial. Variasi orientasi pemikiran mursyid mulai dari moderat-adaptif, tradisional-konservatif, hingga sangat modern menunjukkan bahwa tarekat merupakan tradisi yang dinamis, mampu mempertahankan nilai sufistik inti sekaligus merespons perubahan sosial secara proporsional. Dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan, tarekat berperan sebagai ruang pembentukan etika keberagamaan yang moderat melalui penyesuaian ajaran tasawuf dengan realitas budaya setempat. Pemahaman sufistik, termasuk ajaran maqAm hadiyat al-afAoAl, memperkuat sikap penerimaan terhadap keragaman sebagai bagian dari kehendak Ilahi, sehingga mendorong terwujudnya harmoni sosial dan stabilitas kehidupan Moderasi Beragama melalui Tarekat dan Peran Mursyid dalam Mewujudkan Harmoni Sosial Referensi