KENTAL Jurnal Kewirausahaan dan Bisnis Digital Volume 2. No. Maret Ae Agustus 2025 ISSN DOI Homepage : Debt to Equity Ratio. Return on Asset, and Earning Per Share as Predictor Variables of Stock Return in the Capital Market Ela Fauziah1. Oom Tikaromah2. Erlina Widayanti Djatnicka3 1-2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Manajemen. Universitas Pelita Bangsa. Indonesia 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Akuntansi. Universitas Pelita Bangsa. Indonesia * ela. fauziah@pelitabangsa. Abstract. In the capital market, not all stocks from companies that have a good profile will provide good returns to investors, so a more in-depth analysis of the company is needed. This study aims to determine the effect of Debt to Equity Ratio. Return On Asset, and Earnings Per Share on the Stock Return of manufacturing companies listed on the Jakarta Islamic Index. The data method used in this research is the documentation method. While the analysis method used is descriptive analysis, classical assumption test and hypothesis testing. The population in this study are manufacturing companies listed on the Jakarta Islamic Index in 2018-2020. The sample in this study is 30 companies that have been selected using a purposive sampling method. The results of this study indicate that the simultaneous Debt to Equity Ratio. Return On Assets, and Earnings Per Share have an effect on Stock Returns. Partially. Debt to Equity Ratio and Earnings Per Share affect Stock Return, while Return On Assets does not affect Stock Return. Keywords: Debt to equity ratio, return on assets, earnings per share. Debt to Equity Ratio. Return on Asset, dan Earning Per Share sebagai Variabel Prediktor Return Saham di Pasar Modal Abstrak. Dalam pasar modal, tidak semua saham dari perusahaan yang memiliki profil yang baik akan memberikan return yang baik pada investor sehingga diperlukan analisis yang lebih mendalam mengenai perusahaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari Debt to Equity Ratio. Return On Asset, dan Earning Per Share terhadap Return Saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Jakarta Islamic Index. Metode data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Sedangkan metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji asumsi klasik dan pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar Jakarta Islamic Index tahun 2018-2020. Sampel pada penelitian ini yaitu 30 perusahaan yang telah diseleksi dengan menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa secara simultan Debt to Equity Ratio. Return On Asset, dan Earning Per Share berpengaruh terhadap Return Saham. Secara parsial Debt to Equity Ratio dan Earning Per Share berpengaruh terhadap Return Saham, sedangkan Return On Asset tidak berpengaruh terhadap Return Saham. Kata Kunci: Debt to equity ratio, return on assets, earnings per share. PENDAHULUAN Bangkitnya ekonomi islam dewasa ini menjadi fenomena yang menarik, menggembirakan, dan warna baru bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Fenomena ini menarik pemerintah untuk menerbitkan pasar modal syariah (Safitri. Secara umum konsep pasar modal syariah dengan pasar modal konvensional tidak jauh berbeda, tetapi dalam konsep pasar modal syariah bahwa saham yang diperdagangkan Ela Fauziah. Oom Tikaromah. Erlina Widayanti Djatnicka Debt to Equity Ratio. Return on Asset A. harus memenuhi kriteria syariah dan terbebas dari unsur riba dan transaksi saham dilakukan dengan menjauhi berbagai praktik spekulasi (Manan, 2. Indonesia menjadi salah satu pusat perkembangan keuangan syariah di dunia, hal demikian dapat dilihat dari jumlah penduduk muslim yang mencapai 87% dari 237,6 juta jiwa pada sensus penduduk oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2010. Hal tesebut dibuktikan dengan pencapaian peringkat pertama oleh Indonesia pada Global Islamic Finance Report (GIFR) 2019 dengan kapitalilasi saham syariah mencapai Rp. 700 trilliun pada Juni 2019 mengungguli Negara GCC dan Malaysia yang sejak 2011 mendominasi peringkat atas. Pencapaian penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas semua pihak baik pelaku usaha, akademisi, pemerintah serta masyarakat dalam mewujudkan Masterplan Ekonomi Syariah (MEKSI) dan Masterplan Arsitektur Keuangan Syariah (MAKSI) demi meningkatkan peran keuangan syariah . Di Indonesia, pasar modal syariah ditandai dengan terbentuknya Jakarta Islamic Index 70 (JII70 Inde. Konstituen Jakarta Islamic Index 70 terdiri dari 70 saham syariah paling likuid yang tercatat di BEI. Saham-saham yang masuk kriteria Jakarta Islamic Index 70 adalah sahamsaham yang operasionalnya tidak mengandung unsur ribawi, permodalan perusahaan juga bukan mayoritas dari hutang. Saham-saham yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index 70 ini adalah saham yang pengelolaan dan manajemennya terbilang sudah transparan (Aryanti. Mawardi, & Andesta, 2. Adapun produk investasi pasar modal berbasis syariah telah menunjukkan perkembangannya. Peminat atau investor saham berbasis syariah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan atau kinerja indeks saham syariah khususnya Jakarta Islamic Index 70 mengalami nilai yang fluktuatif sepanjang tahun 2016-2018 ditandai dengan tercatatnya 391 perusahaan masuk dalam konstituen saham syariah dari total 624 perusahaan yang tercatat di BEI (Aryanti. Mawardi, & Andesta, 2. Jakarta Islamic Index 70 merupakan respon akan kebutuhan informasi mengenai investasi secara islami. Tujuannya sebagai tolak ukur standar dan kinerja bagi investasi saham secara syariah di pasar modal dan sebagai sarana untuk meningkatkan investasi di pasar modal secara syariah. Menurut (Majid & Windaswari, 2. dengan hadirnya pasar modal syariah khususnya Jakarta Islamic Index 70 ini diharapkan memberikan ketenangan dan keyakinan atas transaksi yang halal. Investasi pada pasar modal memang lebih beresiko dibandingkan investasi pada produk perbankan. Konsep high risk high return menyatakan bahwa semakin tinggi resiko . semakin tinggi pula pengembalian . yang akan di dapatkan (Herlianto, 2. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menorehkan banyak rekor baru salah satunya di tengah pandemi virus corona terjadi kenaikan jumlah investor ritel domestik khususnya kaum milenial yang berhasil mengangkat laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hampir ke 000-an yang pada awal pandemi virus corona sempat menurun ke titik 3. Oleh karena itu, tahun 2020 diklaim sebagai tahun kebangkitan investor domestik ritel Indonesia (Fawzi, 2. Investasi di pasar modal mampu memberikan tingkat pengembalian . yang tidak terbatas sehingga dianggap memiliki keunggulan, meskipun memberikan keuntungan yang beragam namun investasi pada saham bukan berarti tanpa resiko. Pergerakan harga saham yang tidak menentu menyebabkan tingkat pengembalian . saham menjadi sulit diprediksi (Sudana, 2. Investasi saham syariah di Indonesia pada tahun 2018 mengalami perkembangan yang cukup pesat, tercatat dalam Laporan Perkembangan Keuangan Syariah Indonesia 2018 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pertumbuhan investor pada investasi efek syariah meningkat 516 investor atau setara dengan tumbuh 38,16% dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, seperti pada gambar di bawah ini: KENTAL: Jurnal Kewirausahaan dan Bisnis Digital Vol. No. Maret Ae Agustus 2025 Perkembangan Saham Syariah Periode 1 Periode 2 Gambar 1. Perkembangan Saham Syariah Sumber: . Berdasarkan gambar 1, diketahui bahwa saham syariah mengalami peningkatan, hal tersebut mengindikasikan bahwa saham syariah mulai diminati investor, disisi lain return ekuitas syariah lebih mendominasi dari pada return dari ekuitas konvensional (Tumiwa. Saham merupakan salah satu instrumen investasi yang berfluktuasi dan cenderung memiliki tingkat risiko yang tinggi, akan tetapi hal tersebut tidak membuat investor menghindari jual beli saham di pasar modal, karena investor memiliki harapan yang besar dari risiko yang dihadapi dengan return yang akan mereka dapatkan dikemudian hari (Safitri, 2. Menurut (Salim, 2. return adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh pemodal atas suatu investasi yang dilakukannya. Return diperoleh pemegang saham sebagai hasil atau income dari suatu investasi di perusahaan tertentu. Semakin besar return saham yang dihasilkan oleh suatu investasi, maka akan semakin besar pula daya tarik investasi saham tersebut bagi investor. Investor akan melakukan berbagai upaya untuk memperoleh keyakinan bahwa investasi yang akan dilaksanakannya mendapatkan pengembalian . yang sesuai dengan yang diharapkan. Pencapaian harapan untuk memperoleh return yang maksimal diusahakan melalui analisis yang berkaitan dengan investasi dalam sahamnya (Widayanti & Colline, 2. Return saham di pasar modal dapat diprediksi melalui analisis rasio keuangan. Analisis rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya (Ismail M. , 2. Ada dua hal yang mempegaruhi return suatu investasi diantaranya faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup kualitas manajemen sebuah perusahaan, komposisi aktiva perusahaan, perbandingan antara aktiva dan hutang itu sendiri. Faktor eksternal perusahaan mencakup kebijakan moneter dan fiskal, inflasi, suku bunga, nilai tukar dan sebagainya (Safitri, 2. Faktor fundamental atau internal perusahaan memiliki peran penting dalam mempengaruhi volatilitas pasar saham, faktor internal dalam sebuah perusahaan dapat dilihat dari rasio keuangan mereka seperti rasio profitabilitas, solvabilitas, likuiditas, aktivitas dan rasio pasar (Thampayana, 2. Dalam penelitian ini peneliti akan mengunakan Return On Asset (ROA) untuk melihat rasio profitabilitas. Debt to Equity Ratio (DER) untuk rasio solvabilitas. Earning Per Share (EPS) untuk rasio pasar. Ela Fauziah. Oom Tikaromah. Erlina Widayanti Djatnicka Debt to Equity Ratio. Return on Asset A. Menurut penelitian (Ihsan, 2. , (Bayu, 2. mendapatkan hasil bahwa Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap return saham. Namun menurut penelitian (Mutiara, 2. Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap return saham. Rasio lain yang mempengaruhi return saham menurut (Nurhayati, 2. adalah Return On Asset (ROA). Berdasarkan penelitian (Lilis, 2. , (Selviani,2. Return On Asset (ROA) tidak berpengaruh terhadap return saham. Penelitian (Badewin, 2. , (Handayati, 2. , (Abdillah, 2. Earning Per Share (EPS) berpengaruh terhadap return saham. Berbeda dengan hasil penelitian (Ariesta & Malavia, 2. Earning Per Share (EPS) tidak berpengaruh terhadap return saham. Perbedaan hasil penelitan-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya tentang pengaruh debt to equity ratio, return on asset, earning per share terhadap return saham membuat peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang variabel-variabel yang berpengaruh terhadap return METODE PENELITIAN Berdasarkan tujuannya, penelitian ini termasuk penelitian dengan pendekatan Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan suatu fenomenasecara sistematis mengenai sifat dan fakta atau hubungan antar variabel yang dimilliki (Hamdi & Bahruddin, 2. Berdasarkan jenis datanya penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif. Penlitian kuantitatif merupakan penelitian yang pengumpulan datanya, penafsiran data, dan hasil penelitiannya menuntutpenggunaan angka (Siyoto & Sodik, 2. Variabel penelitian merupakan objek yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari karakteristiknya dan kemudian dapat diambil kesimpulan (Iswati & Anshori, 2. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Variabel Independen/Bebas (X) Menurut (Sugiyono, 2. variabel independen/bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat . , yang disimbolkan dengan simbol (X). Variabel independen dalam penelitian ini adalah Debt to Equity Ratio (Yahya & Hidayat, 2. Return On Asset (Yahya & Cahyana, 2. , dan Earning per Share. Variabel Dependen/Terikat (Y) Menurut (Sugiyono, 2. variabel dependen/terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas, yang disimbolkan dengan simbol (Y). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah return saham (Yahya & Butar, 2. Berikut merupakan definisi operasional variabel dalam penelitian ini: Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Variabel Definisi Indikator Debt to Rasio yang Equity Ratio membandingkan jumlah DER = Total Utang X 100 hutang dengan ekuitas Total Ekuitas (Yahya & Hidayat, 2. Bayu Wulandari . Return On Rasio yang Asset menunjukkan tingkat ROA = Laba Bersih Setelah Pajak X100% laba melalui asetnya Total Asset Nurhayati . , (Yahya & Cahyana. KENTAL: Jurnal Kewirausahaan dan Bisnis Digital Vol. No. Maret Ae Agustus 2025 Earning Per Share Rasio yang menujukkan tingkat laba melalui setiap lembar saham yang dimiliki EPS = Laba Bersih Setelah Pajak X 100% Saham Yang Beredar Badewin . Ratna Handayati . Return Saham Jumlah data yang digunakan sebagai sampel . perusahaan x 3 tahu. Return realisasi atau Return saham = Pt Ae Pt -1 Dt sering disebut Pt - 1 actual return (Yahya & Butar, 2. persentase perubahan harga saham dari satu periode ke periode Sumber: Data diolah penulis, 2021 Menurut Sugiyono . 7: . sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2017: Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index 70 periode 2018-2020. Berikut ini tabel yang menyajikan proses pengambilan sampel penelitian: Tabel 2. Kriteria Sampel Kriteria Total Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Jakarta Islamic Index 70 periode Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Jakarta Islamic Index 70 periode 2018-2020 secara berturut-turut dan tidak melaporkan laporan keuangan Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Jakarta Islamic Index 70 periode . 2018-2020 dan memiliki nilai laba bersih negatif. Jumlah perusahaan yang terpilih sebagai sampel Sumber : Data diolah penulis, 2021 HASIL DAN PEMBAHASAN Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Jakarta Islamic Index 70 periode 2018-2020, dan yang memenuhi kriteria pengambilan sampel dengan metode purposive sampling sebanyak 30 perusahaan. Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik dokumentasi. Sebelum dilakukan analisis untuk pengujian hipotesis, dijelaskan atau dideskripsikan data informasi mengenai analisis pengaruh debt to equity ratio, return on asset, earning per share terhadap return saham yang dilihat dari nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata . , dan standar deviasi pada tabel berikut ini. Tabel 3. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Minimum Maksimum Mean Std. Deviation DER 0,04 5,83 1,2226 1,22384 ROA 0,00 0,96 0,1049 0,16807 Ela Fauziah. Oom Tikaromah. Erlina Widayanti Djatnicka Debt to Equity Ratio. Return on Asset A. EPS Return Saham Valid N . 0,03 119,02 6,2413 18,61670 -0,50 1,01 -0,0705 0,27119 Sumber: Output SPSS 22, data diolah 2025 Berdasarkan hasil deskriptif hasil penelitian pada tabel 3, maka dapat diketahui gambaran masing-masing variabel dependen dan independen sebagai berikut: Debt to Equity Ratio (DER) Berdasar hasil uji statistik deskriptif diatas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata DER menunjukan 1,2226 nilai tertinggi sebesar 5,83 nilai terendah 0,04 dan standar deviasi 1,22384. Return on Asset (ROA) Berdasar hasil uji statistik deskriptif diatas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata ROA menunjukan 0,1049 nilai tertingi sebesar 0,96 nilai terendah yaitu 0. 00, dan standar deviasi 0,16807. Earning Per Share (EPS) Berdasar hasil uji statistik deskriptif diatas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata EPS menunjukkan 6,2413 nilai tertingi sebesar 119,02 nilai terendah 0,03 dan standar deviasi 18,61670. Return Saham Berdasar hasil uji statistik deskriptif diatas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata Return Saham menunjukkan -0,0705 nilai tertingi sebesar -0,50 nilai terendah yaitu -0,50 dan standar deviasi 0,27119. Uji Asumsi Klasik Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Penelitian yang baik adalah penelitian yang nilai residualnya terdistribusi normal (Duli, 2. Pengujian normalitas data dalam penelitian ini menggunakan KolmogorovSmirnov. Histogram, dan P-Plot. Pada penelitian ini kami menggunakan uji KolmogorovSmirnov Test untuk menguji normalitas data. Penarikan kesimpulan dari pengujian dengan menggunakan kolmogrov-smirnov didasarkan pada: Nilai sig > 0,05, maka data berdistribusi normal Nilai sig < 0,05, maka data berdistribusi tidak normal. Hasil uji Kolmogorov-Smirnov dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 4. Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Unstandardized Residual Normal Parameters Mean 0,0000000 Std. Deviation 0,26257132 Most Extreme Differences Absolute 0,102 Positive 0,102 Negative -0,071 Test Statistic 0,102 Asymp. Sig. -taile. 0,023c Sumber: Output SPSS 22, data diolah 2025 Dari hasil uji normalitas pada tabel 4. 2 diketahui bahwa hasil Asymp. Sig. -taile. 0,023 lebih kecil dari 0,05 yang menunjukkan bahwa data berdistribusi tidak normal sehingga dilakukan penghapusan data outlier. Data outlier adalah data yang memiliki karakteristik unik yang terlihat sangat berbeda jauh dari observasi dan muncul dalam bentuk nilai yang ekstrim (Ghozali, 2. Setelah didapat hasil bahwa data terdistribusi tidak normal maka dilakukan uji outlier. Uji outlier dilakukan dengan melihat grafik box plot, angka-angka yang KENTAL: Jurnal Kewirausahaan dan Bisnis Digital Vol. No. Maret Ae Agustus 2025 terletak diluar boxplot merupakan angka observasi yang perlu dihilangkan. Hasil uji normalitas setelah penghapusan outlier dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 5. Hasil Uji Kolmogorov- Smirnov . etelah penghapusan outlie. Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Mean 0,0000000 Std. Deviation 0,22469973 Most Extreme Differences Absolute 0,093 Positive 0,093 Negative -0,075 Test Statistic 0,093 Asymp. Sig. -taile. 0,200c,d Sumber: Output SPSS 22, data diolah 2025 Berdasarkan uji kolmogorov-smirnov pada tabel 5 menunjukkan nilai signifikasi 0,200. Nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dapat diartikan bahwa data penelitian terdistribusi normal. Uji multikolinearitas dilakukan untuk melihat nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Variabel bebas dikatakan mengalami multokolinearitas jika nilai tolerance < 0,10 dan VIF > 10 atau variabel bebas tidak mengalami multikolinearitas jika nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10. Berikut hasil uji mutikolinearitas yang diolah dengan SPSS versi 22: Tabel 6. Uji Multikolinearitas Model Tolerance VIF DER 0,817 1,224 ROA 0,688 1,453 EPS 0,824 1,214 Sumber: Output SPSS 22, data diolah 2025 Berdasarkan tabel 6, nilai tolerance dari DER sebesar 0,817 ROA sebesar 0,688 dan EPS sebesar 0,824. Nilai tersebut menunjukkan bahwa nilai tolerance dari masing-masing variabel lebih besar dari 0,10. Sedangkan nilai VIF dari masing-masing variabel secara berturut-turut sebesar 1,224, 1,453, dan 1,214 dimana masing-masing variabel nilainya lebih kecil dari 10 yang berarti bahwa model regresi tersebut bebas dari multikolinearitas. Uji heteroskedastisitas menguji ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi harus homoskedastisitas atau tidak terjadi Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilihat dari pola yang teratur pada grafik scatterplot serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y (Ghozali, 2018: . Ela Fauziah. Oom Tikaromah. Erlina Widayanti Djatnicka Debt to Equity Ratio. Return on Asset A. Gambar 2. Grafik Scatterplot Sumber: Output SPSS 22, data diolah 2025 Berdasarkan grafik scetterplot diatas, menunjukkan bahwa tidak ditemukan pola tertentu yang teratur, dan titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, artinya tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi tersebut. Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t-1 . Model regresi harus bebas dari Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi digunakan uji Durbin-Watson (DW Tes. , dengan kriteria jika hasil Durbin-Watson berada diantara dU dan 4-dU artinya tidak terdapat autokorelasi pada penelitian tersebut (Ghozali, 2018: . Berikut ini hasil uji Tabel 7. Hasil Uji Autokorelasi Adjusted R Std. Error of the Model R Square Square Estimate Durbin-Watson 0,477 0,227 0,193 0,11541 2,256 Sumber: Output SPSS 22, data diolah 2025 Berdasarkan hasil tabel 7, menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson adalah sebesar 2,256 sedangkan dari tabel Durbin-Watson dengan signifikansi 0,05 dan jumlah data (N) = 71, serta k = 3 . adalah jumlah variabel independe. diperoleh nilai dL sebesar 1,5284 dan dU sebesar 1,7041. Karena nilai Durbin-Watson lebih besar dari batas atas . U) yakni dU dari 0,05. Sehingga variabel ROA secara parsial tidak berpengaruh terhadap return saham. Nilai t hitung EPS sebesar -2,378 nilai t tabel 1,66660 dan nilai signifikan sebesar 0,020. Hal ini menunjukkan bahwa nilai t hitung < t tabel, dan nilai signifikansi < dari 0,05. Sehingga variabel EPS secara parsial berpengaruh terhadap return saham Uji F Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimaksudkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen atau terikat (Ghozali, 2009: . Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikasi 0,05 . =5%). Jika nilai Sig < 0,05 maka variabel bebas (X) berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Y). Jika nilai Sig > 0,05 maka variabel bebas (X) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Y). Dari hasil olah data didapat nilai F hitung seperti dibawah ini: Tabel 10. Hasil Analisis Uji F Model Sum of Squares Mean Square Sig. Regression 0,262 0,087 6,564 0,001b Residual 0,892 0,013 Total 1,155 Sumber: Output SPSS 22, data diolah 2025 Berdasarkan tabel 10, diatas menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 6,564 nilai F tabel sebesar 2,73 dan nilai signifikasi 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa nilai F hitung > nilai F tabel dan nilai signifikasi < dari 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen yang meliputi debt to equity ratio, return on asset, earning per share secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu return saham. Uji Koefisien Determinasi Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Koefisien determinasi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 11. Hasil Uji Koefisien Determinasi Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 0,477 0,227 0,193 0,11541 Sumber: Output SPSS 22, data diolah 2025 Berdasarkan tabel 4. 9 besarnya Adjusted R Square yaitu 0,193. Hal ini berarti 19,3 % variabel return saham dapat dijelaskan oleh variabel debt to equity ratio, return on asset, earning per share. Sedangkan 80,7% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak teliti. Pembahasan Berdasarkan uji F diperoleh nilai F hitung sebesar 6,564 F tabel sebesar 2,73 dan nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa nilai F hitung > F tabel. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang dibangun dimana KENTAL: Jurnal Kewirausahaan dan Bisnis Digital Vol. No. Maret Ae Agustus 2025 seluruh variabel independen debt to equity ratio, return on asset, earning per share secara simultan mempengaruhi variabel dependen yaitu return saham. Berdasarkan hasil uji t menunjukkan bahwa nilai t hitung DER sebesar 3,747, nilai t tabel 1,66660, dan nilai signifikan sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa nilai t hitung > t tabel, dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Sehingga variabel DER secara parsial berpengaruh terhadap return saham. Semakin tinggi DER menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan buruk, karena tingkat hutang yang semakin tinggi berarti beban bunga akan semakin besar yang berarti akan mengurangi keuntungan, sehingga return pun akan menjadi kecil (Khasanah, 2. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang dibangun dimana debt to equity ratio berpengaruh terhadap return saham. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian (Ayu Dika & Gede Mertha, 2. , (Dwian & Fitri, 2. (Wulandari, 2. yang menyatakan bahwa debt to equity ratio berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan hasil uji t menunjukkan bahwa nilai t hitung ROA sebesar 1,669, nilai t tabel 1,66660, dan nilai signifikan sebesar 0,100. Hal ini menunjukkan bahwa nilai t hitung > t tabel, dan nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Sehingga variabel ROA secara parsial tidak berpengaruh terhadap return saham. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Rosa & Mulyani, 2. , (Susilowati & Turyanto, 2. bahwa profitabilitas yang diproksikan dengan ROA tidak berpengaruh terhadap return saham. Hasil statistik memberikan makna bahwa informasi profitabilitas yang digambarkan oleh ROA yang dipublikasikan dalam laporan keuangan kurang informatif bagi investor dalam mengestimasi return. Rasio ROA belum menggambarkan laba operasional yang sesungguhnya, karena perhitungan ROA menggunakan laba hasil pencatatan akrual basis. Jadi investor lebih cenderung menggunakan cashflow dalam mengambil keputusan investasi. Pasar tidak merespon ROA sebagai informasi yang bisa merubah keyakinan mereka, sehingga tidak mempengaruhi return saham, ini mengindikasikan bahwa para investor tidak hanya menggunakan ROA sebagai ukuran dalam menilai kinerja perusahaan untuk memprediksi total return saham di pasar modal. Berdasarkan hasil uji t menunjukkan bahwa nilai t hitung EPS sebesar -2,378, nilai t tabel 1,66660, dan nilai signifikan sebesar 0,020. Hal ini menunjukkan bahwa nilai t hitung < t tabel, dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Sehingga variabel EPS secara parsial berpengaruh terhadap return saham. Semakin tinggi earning per share akan menarik minat investor berinvestasi di perusahaan tersebut. Akibatnya permintaan akan saham meningkat dan harga saham meningkat pula, harga saham yang tinggi tentu akan menghasilkan return yang tinggi (Alfianti & Sonja, 2. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang dibangun dimana earning per share berpengaruh terhadap return saham. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian (Herni & Ary, 2. , (Ariani, 2. yang menyatakan bahwa earning per share berpengaruh terhadap return saham. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa debt to equity ratio dan earning per share memiliki pengaruh positif terhadap return saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index tahun 2018-2020. Sedangkan return on asset tidak berpengaruh terhadap return saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index tahun 2018-2020. Artinya, semakin baik rasio DER dan EPS, maka return saham cenderung meningkat. Sebaliknya, untuk Return on Asset (ROA) mengindikasikan bahwa efisiensi penggunaan aset perusahaan tidak mempengaruhi pengembalian saham di pasar modal syariah selama periode 2018-2020. Implikasi penelitian ini adalah perusahaan perlu memperhatikan pengelolaan struktur modal (DER) dan peningkatan laba per saham (EPS) untuk meningkatkan nilai saham dan menarik minat Sementara itu, fokus pada ROA mungkin kurang efektif dalam mempengaruhi return saham di pasar modal syariah, sehingga manajemen harus lebih mengutamakan Ela Fauziah. Oom Tikaromah. Erlina Widayanti Djatnicka Debt to Equity Ratio. Return on Asset A. faktor-faktor yang terbukti berpengaruh positif. Investor juga dapat menggunakan DER dan EPS sebagai indikator penting dalam pengambilan keputusan investasi di saham yang terdaftar di Jakarta Islamic Index. DAFTAR PUSTAKA