Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 Progressive of Cognitive and Ability http://journals.eduped.org/index.php/jpr Penggunaan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA M. Kahfi MTs N 1 Purwakarta, Purwakarta, Indonesia Info Artikel Riwayat Artikel: Diterima 07 September 2022 Direvisi 15 September 2022 Revisi diterima 20 September 2022 Kata Kunci: IPA, Pembelajaran Berbasis Masalah, Prestasi Belajar. IPA, Learning achievement, Problem Based Learning, ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran penggunakan metode Pembelajaran Berbasis Masalah dalam mewujudkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan serta meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPA pada Pokok Bahasan Gerak Benda dan Makhluk Hidup di lingkungan sekitar Siswa Kelas VIII A Semester Ganjil MTsN 1 Purwakarta Tahun Pelajaran 2021/2022. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada bulan Juli s.d Nopember 2021 dengan 2 siklus terdapat temuantemuan berikut: 1) kinerja guru meningkat sebesar 25 % dari siklus 1 (62,50%) ke siklus 2 (87,50%); 2) aktifitas kegiatan siswa meningkat 30,88% dari siklus 1 (54,41%) ke siklus 2 (85,29%); 3) rata-rata prestasi belajar dari Pra PTK ke Siklus 1 meningkat sebesar 8,31 sehingga rata-rata prestasi belajar pada Pra PTK 68,53 menjadi 76,84 pada siklus 1; dan 4) rata-rata prestasi belajar dari Sikulus 1 ke Siklus 2 meningkat sebesar 2,44 sehingga rata-rata prestasi belajar pada siklus 1 sebesar 76,84 menjadi 79,28 pada siklus 2. ABSTRACT This study aims to describe the use of Problem-Based Learning methods in realizing active, creative, effective and fun learning as well as improving learning achievement in science subjects on the subject of motion of objects and living things in the environment around Class VIII A Students Odd Semester MTsN 1 Purwakarta Year Lesson 2021/2022. This research is class action research. From the results of research conducted from July to November 2021 with 2 cycles, there are the following findings: 1) teacher performance increased by 25% from cycle 1 (62.50%) to cycle 2 (87.50%); 2) student activities increased by 30.88% from cycle 1 (54.41%) to cycle 2 (85.29%); 3) the average learning achievement from Pre CAR to Cycle 1 increased by 8.31 so that the average learning achievement at Pre CAR was 68.53 to 76.84 in Cycle 1; and 4) the average learning achievement from Cycle 1 to Cycle 2 increased by 2.44 so that the average learning achievement in Cycle 1 was 76.84 to 79.28 in Cycle 2. This is an open access article under the CC BY license. Penulis Koresponden: 79 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 M. Kahfi MTs N 1 Purwakarta Jl. Taman Pahlawan, Kelurahan Purwamekar, Purwakarta, Jawa Barat, Indenesia kahfi.pwk@gmail.com How to Cite: M. Kahfi. (2022). Penggunaan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA. Journal Progressive of Cognitive and Ability, 1(2) 79-90. https://doi.org/10.56855/jpr.v1i2.35 PENDAHULUAN Setiap mendengar kalimat Gerak Benda dan Makhluk Hidup di Lingkungan Sekitar dalam Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), para siswa kelas VIII MTsN 1 Purwakarta seringkali hal itu sebagai suatu mata pelajaran yang memberatkan. Bayangan yang datang kemudian adalah untuk dapat menyelesaikan suatu latihan/tugas/pekerjaan rumah harus menguasai perhitungan yang memusingkan dan membingungkan. Akhirnya latihan/tugas/pekerjaan rumah yang sederhanapun dianggap sesuatu yang di luar jangkauan kemampuannya. Padahal sebetulnya semua siswa bisa mengerjakan latihan/tugas/pekerjaan rumah mata pelajaran IPA, karena dalam mata pelajaran IPA hanya diperlukan keahlian: membaca, menghafal, mengamati, bertanya, mendengar, meniru cara berfikir ilmiah, mencari jawaban dan nilai tambah, serta membangun rasa percaya diri. Dengan kondisi tersebut di atas, berdampak pada rendahnya kemampuan siswa dalam menerapkan konsep IPA. Hal ini terlihat dari banyaknya kesalahan siswa dalam memahami konsep IPA Khususnya Gerak Benda dan Makhluk Hidup di lingkungan sekitar, sehingga dalam mengerjakan soal sering melakukan kesalahan-kesalahan yang pada akhirnya menyebabkan prestasi belajar siswa dalam ulangan harian, ulangan semester, maupun ujian madrasah menjadi rendah. Hal ini ditunjukkan pada hasil ulangan harian IPA Materi Gerak Benda dan Makhluk Hidup di lingkungan sekitar dua tahun terakhir sebagai berikut: Tabel 1. Rata-rata Hasil Ulangan IPA Tahun Pelajaran Rata-rata Nilai 2019/2020 6,45 2020/2021 6,35 Rata-rata 6,40 Berdasarkan tabel 1 di atas diperoleh nilai rata-rata hasil ulangan harian IPA Materi Gerak Benda dan Makhluk Hidup di Lingkungan Sekitar dalam dua tahun terakhir adalah 6,40. Rata-rata ini jika mengacu kepada nilai KKM untuk Mata Pelajaran IPA kelas VIII adalah 6,50, masih dibawah nilai KKM. Hal ini menujukkan bahwa prestasi belajar IPA pada Materi Gerak Benda dan Makhluk Hidup di Lingkungan Sekitar masih renndah. Rendahnya prestasi belajar ini oleh sebagian orang diartikan sebagai rendahnya mutu pembelajaran, sedangkan rendahnya mutu pembelajaran dapat diartikan kurang efektifnya metode pembelajaran. Metode pembelajaran kurang efektif, menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor, misalnya pembelajaran yang monoton dari 80 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 waktu ke waktu, guru yang bersifat otoriter dan kurang bersahabat dengan siswa, sehingga siswa merasa bosan dan kurang minat belajar. Untuk mengatasi hal tersebut maka guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik harus meningkatkan kualitas profesionalismenya yaitu dengan cara memberikan kesempatan belajar kepada siswa dengan melibatkan siswa secara efektif dalam proses pembelajaran. Juga mengupayakan siswa untuk memiliki hubungan yang erat dengan guru, dengan teman-temannya dan juga dengan lingkungan sekitarnya. Keberhasilan pembelajaran dalam arti tercapainya standar kompetensi, sangat bergantung pada kemampuan guru mengolah pembelajaran yang dapat menciptakan situasi yang memungkinkan siswa belajar sehingga merupakan titik awal berhasilnya pembelajaran. Banyak teori dan hasil penelitian para ahli pendidikan yang menunjukkan bahwa pembelajaran akan berhasil bila siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Atas dasar itulah muncul istilah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Salah satu pendekatan pembelajaran yang mengakomodasi CBSA adalah pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dengan pemberian tugas secara berkelompok. Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan dari pemikiran nilai-nilai demokrasi, belajar efektif perilaku kerjasama dan menghargai keanekaragaman di masyarakat. Dalam pembelajaran guru harus dapat menciptakan lingkungan belajar sebagai suatu sistem sosial yang memiliki proses demokrasi dan proses ilmiah. Pembelajaran berbasis masalah merupakan jawaban terhadap praktik pembelajaran kompetensi serta merespon perkembangan dinamika sosial masyarakat. Selain itu, pembelajaran berbasis masalah pada dasarnya merupakan pengembangan lebih lanjut dari pembelajaran kelompok. Dengan demikian, metode pembelajaran berbasis masalah memiliki karakteristik yang khas yaitu menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks belajar bagi siswa untuk belajar tentang berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran khususnya mata pelajaran IPA. Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berfikir tingkat tinggi dengan situasi berorientasi pada masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (2000), “Pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain Project-Based Learning (Pembelajaran Proyek), Eksperience Based Education (Pendidikan berdasarkan Pengalaman). Authentic learning (Pembelajaran Autentik), dan Anchored Instruction (Pembelajaran berakar pada dunia nyata)”. Peran guru dalam pembelajaran berbasis pemecahan masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Pembelajaran berbasis masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Secara garis besar, pembelajaran berbasis pemecahan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan secara inkuiri. Terkait dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran berbasis pemecahan masalah dengan pemberian tugas secara berkelompok menjadi 81 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 salah satu pendekatan yang sebaiknya dikuasai oleh guru baik secara teoritis maupun praktis. Berangkat dari pemikiran tersebut, Peneliti memilih judul “Penggunaan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA pada pokok bahasan Gerak Benda dan Makhluk Hidup di lingkungan sekitar Siswa Kelas VIII A Semester Ganjil MTsN 1 Purwakarta Tahun Pelajaran 2021/2022”. METODOLOGI Penelitian dilaksanakan di kelas VIII A MTsN 1 Purwakarta. Untuk tahun pelajaran 2021/2022, jumlah keseluruhan siswa kelas VIII A MTsN 1 Purwakarta adalah 32 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan serta semuanya dijadikan objek penelitian. Waktu pelaksanaan penelitian mulai minggu ke-3 bulan Juli s.d minggu ke-3 bulan Agustus 2021. Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini, peneliti meminta bantuan salah satu rekan guru sebagai kolaborator. Setelah persiapan dianggap cukup, baru penelitian dimulai. Peneliti membagi penelitian menjadi dua siklus. Masing-masing siklus melaksanakan kegiatan peremcanaan, pelaksanaan, pengamatan, refleksi dan perbaikan dan pengayaan. Instrumen penelitian ini meliputi metode tes dan observasi. Metode tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah ulanagan harian yang dilakukan pada akhir siklus guna memperoleh data yang diinginkan. Sedangkan teknik observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi dengan menggunakan format yanga sudah disipakan sehingga kolaborator tinggal memberi tanda cheklist pada lembar observasi. Adapun teknik analisis data menggunakan teknik analisis statistik sederhana, yaitu dengan analisis deskriptif. Analisis deskriptif adalah model analisis dengan cara membandingkan rata-rata prosentasenya, kemudian kenaikan rata-rata pada setiap siklus. Disini yang dianalisis yaitu hasil ulangan pada setiap siklus. Dari hasil ulangan tersebut, dapat ditafsirkan tentang ketuntasan belajar siswa. Dalam penelitian ini, untuk ketuntasan belajar siswa individu maupun klasikal digunakan pedoman ketuntasan sebagai berikut: 1. Ketuntasan Perorangan Seorang siswa dikatakan berhasil (mencapai ketuntasan) belajar bila telah mencapai taraf penguasaan minimal 70 % atau dengan nilai 70. Bagi siswa yang taraf penilaiannya kurang dari 70 % dberikan remidi pada pokok bahasan yang belum dikuasai, sedangkan bagi siswa yang telah mencapai 70 % atau lebih dapat melanjutkan ke pokok bahasan berikutnya. 2. Ketuntasan Klasikal Suatu kelas dikatakan telah behasil mencapai ketuntasan belajar jika paling sedikit 85 % data jumlah siswa dalam kelas tersebut telah mencapai ketuntasan perorangan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Apabila sudah terdapat 85 % dari jumlah siswa keseluruhan dalam kelas yang mencapai tingkat ketuntasan belajar maka kelas tersebut dapat melanjutnkan kegiatan pada satuan pembelajaran berikutnya. b. Apabila jumlah siswa yang mencapai tingkat ketuntasan belajar masih kurang dari 85 %, maka: 82 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 1) siswa yang taraf penguasannya kurang dari 70 % harus diberi program perbaikan mengenai bagian-bagian pelajaran yang belum dikuasai. 2) siswa yang telah mencapai taraf penguasaan 70 % atau lebih dapat diberikan program pengayaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hipotesis Pertama Hipotesis pertama dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan adalah “Dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dapat mewujudkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan pada mata pelajaran IPA pokok bahasan Gerak Benda dan Makhluk Hidup di Lingkungan Sekitar Siswa Kelas VIII A Semester Ganjil MTsN 1 Purwakarta Tahun Pelajaran 2021/2022”. Untuk menjawab hipotesis pertama di atas, maka temuan-temuan pada kegiatan penelitian siklus 1 dan siklus 2 perlu dikaji lebih mendalam. 1. Kinerja Guru Berdasarkan temuan-temuan pada kegiatan siklus 1 dan siklus 2 terlihat secara umum skor yang diperoleh dari kinerja guru dalam proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 sebesar 45 (62,50%) ke siklus 2 sebesar 63 (87,50%) mengalami peningkatan sebesar 18 atau 25%. Selanjutnya berdasarkan kriteria, pada siklus 1 kinerja guru dalam proses pembelajaran berbasis masalah tergolong kategori “Baik” dan pada siklus 2 tergolong kategori “Sangat Baik”. Selanjutnya untuk perkembangan kinerja guru dalam proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dan siklus 2 perkomponen (aspek) ditemukan bahwa 4 tergolong dalam kategori “Baik” dan 2 kategori “Cukup”. Sementara untuk kinerja guru yang dilakukan dalam proses pembelajaran berbasis masalah pada siklus 2 dari 6 komponen (aspek) seluruhnya tegolong dalam kategori “Sangat Baik”. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan. Peningkatan masing-masing aspek atau komponen dari kinerja guru dalam proses pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut: a. Untuk kegiatan pendahuluan (pembiasaan pembelajaran) dari siklus 1 dengan skor 12 (75,00% dan kriteria “Baik”) mengalami peningkatan sebesar 3 (18,75%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 15 (93,75% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). b. Untuk kegiatan inti pada sub keaktifan guru dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dengan skor 4 (50,00% dan kriteria “Cukup”) mengalami peningkatan sebesar 3 (37,50%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 7 (87,50% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). c. Untuk kegiatan inti pada sub kekreatifan guru dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dengan skor 5 (62,50% dan kriteria “Baik”) mengalami peningkatan sebesar 2 (25,00%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 7 (87,50% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). 83 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 d. Untuk kegiatan inti pada sub keefektifan guru dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dengan skor 7 (58,33% dan kriteria “Baik”) mengalami peningkatan sebesar 3 (25,00%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 10 (83,33% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). e. Untuk kegiatan inti pada sub kegiatan guru yang menyenangkan dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dengan skor 4 (50,00% dan kriteria “Cukup”) mengalami peningkatan sebesar 3 (37,50%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 7 (87,50% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). f. Untuk kegiatan penutup (penilaian) yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dengan skor 13 (65,00% dan kriteria “Baik”) mengalami peningkatan sebesar 4 (20,00%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 17 (85,00% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). Besarnya peningkatan kinerja guru dari siklus 1 ke siklus 2 dapat dilihat juga dari gambar diagram batang perkembangan penilaian kinerja guru dalam proses pembelajaran berbasis masalah berikut. Gambar 1 Diagram Batang Perkembangan Penialian Kinerja Guru dalam Proses Pembelajaran Berbasis Masalah 2. Aktifitas Siswa Berdasarkan temuan-temuan pada kegiatan siklus 1 dan siklus 2 terlihat secara umum skor yang diperoleh dari aktifitas kegiatan siswa dalam proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 sebesar 37 (54,41%) ke siklus 2 sebesar 58 (85,29%) mengalami peningkatan sebesar 21 atau 30,88%. Selanjutnya berdasarkan kriteria, pada siklus 1 kinerja guru dalam proses pembelajaran berbasis masalah tergolong kategori “Baik” dan pada siklus 2 tergolong kategori “Sangat Baik”. Selanjutnya untuk perkembangan aktifitas kegiatam siswa dalam proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dan siklus 2 perkomponen (aspek) bahwa 2 84 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 tergolong dalam kategori “Baik” dan 4 kategori “Cukup”. Sementara untuk aktifitas kegiatan siswa yang dilakukan dalam proses pembelajaran berbasis masalah pada siklus 2 dari 6 komponen (aspek) seluruhnya tegolong dalam kategori “Sangat Baik”. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi aktifitas kegiatan siswa dalam proses pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan. Peningkatan masing-masing aspek atau komponen dari kinerja guru dalam proses pembelajaran berbasis masalah adalah sebai berikut: a. Untuk kegiatan pendahuluan (pembiasaan pembelajaran) yang dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dengan skor 10 (62,50% dan kriteria “Baik”) mengalami peningkatan sebesar 4 (25,00%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 14 (87,50% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). b. Untuk kegiatan inti pada sub keaktifan siswa dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dengan skor 4 (50,00% dan kriteria “Cukup”) mengalami peningkatan sebesar 3 (37,50%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 7 (87,50% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). c. Untuk kegiatan inti pada sub kekreatifan siswa dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dengan skor 4 (50,00% dan kriteria “Cukup”) mengalami peningkatan sebesar 3 (37,50%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 7 (87,50% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). d. Untuk kegiatan inti pada sub keefektifan siswa dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dengan skor 6 (50,00% dan kriteria “Cukup”) mengalami peningkatan sebesar 4 (33,33%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 10 (83,33% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). e. Untuk kegiatan inti pada sub kegiatan siswa yang menyenangkan dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dengan skor 4 (50,00% dan kriteria “Cukup”) mengalami peningkatan sebesar 3 (37,50%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 7 (87,50% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). f. Untuk kegiatan penutup (penilaian) yang dilakukan oleh siswa dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 dengan skor 9 (56,25% dan kriteria “Baik”) mengalami peningkatan sebesar 4 (25,00%), sehingga pada siklus 2 skornya menjadi 13 (81,25% dan tergolong dalam kriteria “Sangat Baik”). Besarnya peningkatan aktifitas siswa dari siklus 1 ke siklus 2 dapat dilihat juga dari gambar diagram batang perkembangan penilaian kinerja guru dalam proses pembelajaran berbasis masalah berikut. 85 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 Gambar 2 Diagram Batang Perkembangan Aktifitas Kegiatasn Siswa dalam Proses Pembelajaran Berbasis Masalah Berdasarkan gambaran dari kinerja guru dan aktifitas kegiatan siswa dalam proses pembelajaran berbasis masalah tersebut di atas, ini menunjukkan bahwa hipotesis pertama dalam penelitian tindakan kelas yang diajukan “Diterima”, yaitu Dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dapat mewujudkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan pada mata pelajaran IPA Pokok Bahasan Gerak Benda dan Makhluk Hidup di Lingkungan Sekitar Siswa Kelas VIII A Semester Ganjil MTsN 1 Purwakarta Tahun Pelajaran 2021/2022. Hipotesis Kedua Hipotesis kedua dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan adalah “ Dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan prestasi belajar IPA pokok Bahasan Gerak Benda dan Makhluk Hidup di Lingkungan Sekitar Semester Ganjil MAN 2 Cirebon Tahun Pelajaran 2021/ 2022”. Untuk menjawab hipotesis pertama di atas, maka temuan-temuan tentang prestasi belajar sebelum dilakukan penelitian (Pra PTK) dan prestasi belajar pada kegiatan penelitian siklus 1 dan siklus 2 perlu dikaji lebih mendalam. Oleh karena itu, untuk memudahkan dalam mengkajinya maka prestasi belajar Pra PTK, siklus 1 dan siklus 2 perlu disandingkan terlebih dahulu. Berdasarkan temuan-temuan pada prestasi belajar Pra PTK, siklus 1 dan siklus 2 terlihat beberapa hal berikut: 1. Perkembangan peningkatan prestasi belajar IPA dari Pra PTK ke Siklus 1 Diperolah bahwa dari prestasi belajar IPA pokok bahasan Gerak Benda dan Makhluk Hidup di Lingkungan Sekitar siswa kelas VIII A mengalami peningkatan yaitu perolehan nilai tertinggi pada Pra PTK = 76 mengalami peningkatan sebesar 11 sehingga perolehan nilai tertinggi pada siklus 1 menjadi 87. Untuk nilai terendah juga mengalami peningkatan dari perolehan nilai terendah pada Pra PTK = 57 mengalami peningkatan sebesar 11 sehingga nilai terendah pada siklus 1 adalah 68. Selanjutnya perolehan rata-rata kelas prestasi belajar juga mengalami peningkatan sebesar 4,68 dari rata-rata kelas pada Pra PTK 68,53 menjadi 76,84 pada 86 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 rata-rata kelas siklus 1. Kemudian dari jumlah siswa yang tuntas mengalami peningkatan sebesar 11 (34,38 %) dari 18 (56,25%) siswa yang tuntas pada Pra PTK menjadi 29 (90,63%) siswa yang tuntas pada Siklus 1. Sedangkan dilihat dari jumlah siswa yang tidak tuntas mengalami penurunan sebesar 11 siswa (34,38%) dari 14 siswa (43,75%) yang tidak tuntas pada Pra PTK menjadi 3 siswa (9,38%) pada Siklus 1. Perkembangan perubahan prestasi belajar Pra PTK dan Siklus 1 untuk lebih jelasnya digambarkan pada tabel 2 berikut. Tabel 2. Perkembangan Perubahan Prestasi Belajar dari Pra PTK dengan Siklus 1 No. Kriteria Nilai Perkembangan Pra Siklus Prestasi Besarnya PTK 1 Belajar 1 Nilai Tertinggi 76 87 meningkat 11 2 Nilai Terendah 57 68 meningkat 11 3 Rata-rata 68.53 76.84 meningkat 8.31 4 Jumlah Siswa Yang Tuntas 18 29 meningkat 11 5 Jumlah Siswa Yang Tidak 14 3 menurun 11 Tuntas 6 % Ketuntasan 56.25% 90.63% meningkat 34.38% 7 % Ketidaktuntasan 43.75% 9.38% menurun -34.38% Di samping pada tabel 2 di atas perkembangan perubahan prestasi belajar dari Pra PTK dengan Siklus 1 ini dapat lihat pada gambar 3 berikut. Diagram Batang Perkembangan Prestasi Belajar Pra PTK dan Siklus 1 % Ketidaktuntasan % Ketuntasan Jumlah Siswa Yang Tidak Tuntas Jumlah Siswa Yang Tuntas Rata-rata Nilai Terendah Nilai Tertinggi 0 10 20 Siklus 1 30 40 50 60 70 80 90 100 Pra PTK Gambar 3. Diagram Batang Perkembangan Prestasi Belajar Pra PTK dan Siklus 1 2. Perkembangan peningkatan prestasi belajar IPA dari Siklus 1 ke Siklus 2 Diperolah bahwa dari prestasi belajar IPA pokok bahasan Gerak Benda dan Makhluk Hidup di Lingkungan Sekitar siswa kelas VIII A pada siklus 2 mengalami peningkatan dari siklus 1 yaitu perolehan nilai tertinggi pada siklus 1 = 87 mengalami 87 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 peningkatan sebesar 3 sehingga perolehan nilai tertinggi pada siklus 2 menjadi 90. Untuk nilai terendah juga mengalami peningkatan dari perolehan nilai terendah pada siklus 1 = 68 mengalami peningkatan sebesar 5 sehingga nilai terendah pada siklus 2 adalah 73. Selanjutnya perolehan rata-rata kelas prestasi belajar juga mengalami peningkatan sebesar 2,44 dari rata-rata kelas pada siklus 1 76,84 menjadi 79,28 pada rata-rata kelas siklus 2. Kemudian dari jumlah siswa yang tuntas mengalami peningkatan sebesar 3 (9,37 %) dari 29 (90,63%) siswa yang tuntas pada siklus 1 menajdi 32 (100 %) siswa yang tuntas pada Siklus 2. Sedangkan dilihat dari jumlah siswa yang tidak tuntas mengalami penurunan sebesar 3 siswa (9,37 %) dari 3 siswa (9,37%) yang tidak tuntas pada siklus 1 menjadi 0 siswa (0,00%) pada Siklus 2. Perkembangan perubahan prestasi belajar Siklus 1 dan Siklus 2 untuk lebih jelasnya digambarkan pada tabel 3 berikut. Tabel 3. Perkembangan Perubahan Prestasi Belajar dari Siklus 1 dengan Siklus 2 No. Kriteria 1 2 3 4 5 Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata-rata Jumlah Siswa Yang Tuntas Jumlah Siswa Yang Tidak Tuntas % Ketuntasan % Ketidaktuntasan 6 7 Nilai Siklus 1 Siklus 2 87 68 76.84 29 3 90 73 79.28 32 0 Perkembangan Prestasi Besarnya Belajar meningkat 3 meningkat 5 meningkat 2.44 meningkat 3 menurun -3 90.63 9.37 100.00 0.00 meningkat menurun 9.37 -9.37 Di samping pada tabel 3 di atas perkembangan perubahan prestasi belajar dari Siklus 1 dengan Siklus 2 ini dapat lihat pada gambar 4 berikut. Diagram Batang Perkembangan Prestasi Belajar Siklus 1 dan Siklus 2 % Ketidaktuntasan % Ketuntasan Jumlah Siswa Yang Tidak Tuntas Jumlah Siswa Yang Tuntas Rata-rata Nilai Terendah Nilai Tertinggi 0 20 40 Siklus 2 Siklus 1 60 80 100 120 Gambar 4.4 Diagram Batang Perkembangan Prestasi Belajar Siklus 1 dan Siklus 2 88 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 Berdasarkan perkembangan pengingkatan prestasi belajar IPA siswa kelas VIII A dari Pra PTK ke Siklus 1 dan dari Siklus 1 ke Siklus 2, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua dari penelitian tindakan kelas pada proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah “Diterima” yaitu Dengan menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Masalah dapat meningkatkan prestasi belajar IPA pokok bahasan Gerak Benda dan Makhluk Hidup di lingkungan sekitar Siswa Kelas VIII A Semester Ganjil MTsN 1 Purwakarta Tahun Pelajaran 2021/2022. KESIMPULAN Setelah peneliti cermati selama dalam kegiatan Penelitian Tindakan Kelas dari proses sampai hasil, maka Peneliti menyimpulkan sebagai berikut. 1. Dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dapat mewujudkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan pada mata pelajaran IPA pokok bahasan Gerak Benda dan Makhluk Hidup di lingkungan sekitar Siswa Kelas VIII A Semester Ganjil MTsN 1 Purwakarta Tahun Pelajaran 2021/2022. Hal ini dibuktikan dengan beberapa hal berikut. a. Dari kinerja guru dalam proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 sebesar 45 (62,50%) ke siklus 2 sebesar 63 (87,50%) mengalami peningkatan sebesar 18 atau 25%. Selanjutnya berdasarkan kriteria, pada siklus 1 kinerja guru dalam proses pembelajaran berbasis masalah tergolong kategori “Baik” dan pada siklus 2 tergolong kategori “Sangat Baik”. b. dari aktifitas kegiatan siswa dalam proses pembelajaran berbasis masalah dari siklus 1 sebesar 37 (54,41%) ke siklus 2 sebesar 58 (85,29%) mengalami peningkatan sebesar 21 atau 30,88%. Selanjutnya berdasarkan kriteria, pada siklus 1 kinerja guru dalam proses pembelajaran berbasis masalah tergolong kategori “Baik” dan pada siklus 2 tergolong kategori “Sangat Baik”. 2. Dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan prestasi belajar IPA pokok bahasan Gerak Benda dan Makhluk Hidup di lingkungan sekitar Siswa Kelas VIII A Semester Ganjil MTsN 1 Purwakarta Tahun Pelajaran 2021/2022. Hal ini dibuktikan dengan beberapa hal berikut: a. Adanya peningkatan rata-rata kelas pada Pra PTK 68,53 menjadi 76,84 pada ratarata kelas siklus 1. Kemudian dari jumlah siswa yang tuntas mengalami peningkatan sebesar 11 (34,38 %) dari 18 (56,25%) siswa yang tuntas pada Pra PTK menjadi 29 (90,63%) siswa yang tuntas pada Siklus 1. Sedangkan dilihat dari jumlah siswa yang tidak tuntas mengalami penurunan sebesar 11 siswa (34,38%) dari 14 siswa (43,75%) yang tidak tuntas pada Pra PTK menjadi 3 siswa (9,38%) pada Siklus 1. b. Adanya peningkatan peningkatan rata-rata sebesar 2,44 dari rata-rata kelas pada siklus 1 76,84 menjadi 79,28 pada rata-rata kelas siklus 2. Kemudian dari jumlah siswa yang tuntas mengalami peningkatan sebesar 3 (9,37 %) dari 29 (90,63%) siswa yang tuntas pada siklus 1 menajdi 32 (100 %) siswa yang tuntas pada Siklus 2. Sedangkan dilihat dari jumlah siswa yang tidak tuntas mengalami penurunan 89 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 sebesar 3 siswa (9,37 %) dari 3 siswa (9,37%) yang tidak tuntas pada siklus 1 menjadi 0 siswa (0,00%) pada Siklus 2. DAFTAR PUSTAKA Dimyati, Mudjiono. 1998. Belajar Pembelajaran. Jakarta: Asdi Mahasatya. Eva Latifah Hanum, dd. 2005. IPA 2. Bandung: Remaja Rosdakarya. Kemdibud. 2016. Buku Siswa IPA Kelas VIII. Jakarta: Kemendikbud. Miftahul Huda. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004 (Panduan Pembelajaran KBK). Bandung: Rosdakarya. Nurhadi, Yasin BY, Senduk AG. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapan dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang. Ruseffendi. 1991. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran IPA untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito. Sanjaya, Mina. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana. Suharsimi Arikunto. 2010. Penelitian Tindakan Kelas.Yogyakarta: Aditya Media. Suryabrata S, 1984. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Rajawali Pers. Suryabrata S, 2003. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Rajawali Pers. Witherington. 1986. Psikologi Pendidikan. Bandung: Jemmars Bandung. Zaenal A. 2006. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Bandung: Yrama Widya. 90 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 79 - 90