Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TANDA GEJALA POST TRAUMATIC STRESS DISORDER PADA MASYARAKAT KORBAN BENCANA THE RELATIONSHIP BETWEEN SOCIAL SUPPORT AND SYMPTOMS OF POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER IN DISASTER VICTIMS Johan Budhiana*. Siti Zahra Tsuraya. Lia Novianty. Fera Melinda. Rosliana Dewi Sarjana Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sukabumi Jl. Karamat No. Karamat. Kab. Sukabumi. Kota Sukabumi. Jawa Barat 43122 *e-mail korespondensi: zahratsuraya23@gmail. ABSTRAK Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang rentan terhadap bencana, salah satunya gempa bumi. Dampak dari bencana gempa bumi salah satunya post traumatic stress disorder. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan dukungan sosial dengan tanda gejala post traumatic stress disorder pada masyarakat korban bencana gempa bumi. Metode penelitian menggunakan korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh masyarakat Desa Cibulakan Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur sebanyak 6. 331 responden dengan sampel sebanyak 376 responden menggunakan teknik proportional random sampling. Hasil uji validitas variabel dukungan sosial dan tanda gejala post traumatic stress disorder didapatkan seluruh item memiliki nilai p-value 0,000 dengan nilai r = 0,946 pada dukungan sosial dan r = 0,913 pada tanda gejala post traumatic stress Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah SomerAos d. Hasil analisis univariat didapat sebagian besar responden memiliki dukungan sosial kategori mendukung sebanyak 298 orang . ,3%) dan menunjukkan tanda gejala post traumatic stress disorder yang rendah sebanyak 207 orang . ,1%). Terdapat hubungan dukungan sosial dengan tanda gejala post traumatic stress disorder dengan p-value 0,000. Simpulan, terdapat hubungan dukungan sosial dengan tanda gejala post traumatic stress disorder pada masyarakat korban bencana gempa Penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan untuk mencegah post traumatic stress disorder dengan melakukan trauma healing dan tindakan psikoterapi. Kata Kunci : Bencana. Dukungan Sosial. Gempa Bumi. Masyarakat. PTSD ABSTRACT Indonesia is a country in Southeast Asia that is prone to disasters, one of which is an earthquake. The impact of an earthquake disaster is post traumatic stress disorder. The purpose of the study was to determine the relationship between social support and signs of post traumatic stress disorder symptoms in earthquake disaster victims. The research method uses correlation with a cross sectional The population is the entire community of Cibulakan Village. Cugenang District. Cianjur Regency, totaling 6,331 respondents with a sample of 376 respondents using proportional random sampling technique. The results of the validity test of the social support variable and signs of post traumatic stress disorder symptoms obtained all items have a p-value of 0. 000 with a value of r = 946 on social support and r = 0. 913 on signs of post traumatic stress disorder symptoms. Data collection techniques using questionnaires. The data analysis used was Somer's d. The results of univariate analysis showed that most respondents had social support in the supportive category as many as 298 people . 3%) and showed low signs of post traumatic stress disorder symptoms as Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 many as 207 people . 1%). There is a relationship between social support and signs of post traumatic stress disorder symptoms with a p-value of 0. In conclusion, there is a relationship between social support and signs of post traumatic stress disorder symptoms in earthquake disaster This research is expected to be an input to prevent post traumatic stress disorder by carrying out trauma healing and psychotherapeutic measures. Keywords: Disaster. Social Support. Earthquake. Community. PTSD Diterima: 10 Juni 2025 Direview: 16 Juni 2025 Diterbitkan: 06 Agustus 2025 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap bencana. Hal ini berkaitan dengan kondisi geologis, demografis, dan geografis. Indonesia berada di jalur ring of fire, sehingga rawan mengalami aktivitas tektonik. Oleh karena itu, sebagian besar kawasan Indonesia berisiko tinggi mengalami bencana alam, termasuk banjir, tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi, puting beliung, dan tsunami (Murdiaty et al. Akibat berada di sebagai cincin api pasifik menjadikan bencana yang paling rawan terjadi, yaitu gempa bumi (Prayogi and Hendarto 2. Pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang disebabkan oleh lempengan yang bergerak merupakan penyebab gempa bumi (Saptorini and Ema 2. Bencana gempa bumi tidak hanya menyebabkan kerusakan pada infrastuktur dan rumah masyarakat yang terdampak, tetapi juga pada berbagai aspek, seperti fisik dan psikologis. Cedera atau trauma fisik merupakan salah satu dari aspek fisik yang terganggu (Mutianingsih and Mustikasari 2. Adapun dampak psikologis mencakup penghayatan tentang apa yang terjadi selama bencana, penurunan dukungan sosial, dan trauma (Anggarasari and Dewi 2. Trauma yang berlangsung selama 6 bulan setelah kejadian traumatis dikenal dengan Gangguan Stres Pasca Trauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). PTSD adalah gangguan yang ditandai oleh manifestasi khusus yang muncul sesudah seseorang mengalami peristiwa traumatis (Ruidahasi et Ketika seseorang yang mengalami PTSD mengalami bencana alam, mereka dapat mengalami gejala seperti re-experiencing, yang berarti mengingat kembali (Erlin & Sari, 2. Untuk mengatasi atau meminimalkan masalah psikologis yang disebabkan oleh bencana, diperlukan strategi koping yang tepat (Laku 2. Dukungan sosial adalah salah satu yang mempengaruhi strategi koping keluarga sehabis bencana. Dukungan sosial berpengaruh terhadap peningkatan rasa nyaman dan rasa rileks pada korban bencana, karena merasa ada yang memperhatikan (Sari et al. Dukungan sosial merupakan dukungan yang dipersembahkan kepada seseorang, terutama saat diperlukan orang dengan kontak emosional erat (Santoso 2. Hilang atau kurangnya dukungan sosial merupakan penyebab stres atau stresor. Dukungan sosial sangat penting untuk melindungi orang dari situasi ekstrim atau bencana (Laku 2. Persepsi terhadap dukungan sosial adalah faktor penting yang menentukan kepribadian seseorang. Hal-hal seperti perhatian dan bantuan dalam memecahkan masalah merupakan bentuk dukungan sosial penting yang dapat melindungi seseorang dari dampak psikologis yang disebabkan oleh kecelakaan. Dukungan sosial diperlukan seseorang supaya bisa menjadi individu Seseorang dengan dukungan sosial yang baik akan lebih mampu menghadapi kesulitan (Rahmanishati et al. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan dukungan sosial dengan tanda gejala PTSD pada masyarakat korban bencana gempa bumi. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Jenis penelitian adalah korelasional dengan pendekatan cross sectional. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan bulan Februari 2024 sampai Juli 2024 di Desa Cibulakan Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur. Populasi dan Sampel Populasi penelitian adalah seluruh masyarakat di Desa Cibulakan Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur sebanyak 6. 321 orang dan sampel sebanyak 376 responden menggunakan proportional random sampling. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Instrumen Penelitian Instrumen adalah kuesioner dukungan sosial dan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang mengacu pada skala likert . Uji validitas menggunakan pearson product moment . < 0,. dan uji reliabilitas menggunakan alpha cronbach . > 0,. , sehingga instrumen dinyatakan valid dan memiliki reliabilitas sangat kuat. Kriteria mengacu pada pendapat Arikunto . , yang menyatakan bahwa instrumen dikatakan valid apabila nilai signifikansi < 0,05 dan mengacu pada aturan GuilfordAos bahwa dinyatakan reliabel apabila koefisien reliabilitas > 0,7. Perizinan Etik Persetujuan etik diperoleh dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sukabumi dengan nomor etik No: 000693/KEP STIKES SUKABUMI/2024. Persetujuan tertulis dari semua peserta telah diperoleh, dan kerahasiaan serta anonimitas mereka dijamin sepanjang penelitian. Tidak ada risiko yang diketahui terkait dengan penelitian ini, dan penelitian ini dilakukan sesuai dengan pedoman etika. Analisis Data Analisis data menggunakan software SPSS version 27. IBM Corp. New York. Analisis univariat dengan distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan SomersAod. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakteristik Responden . = . Karakteristik Responden Frekuensi Umur (Tahu. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Status Pernikahan Belum Menikah Sudah Menikah Status Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Pekerjaan Tidak Bekerja Buruh Pelajar Wiraswasta/Wirausaha PNS/Polri/TNI Sumber Informasi Tentang Bencana Gempa Bumi Internet Televisi Kerabat Keikutsertaan dalam Organisasi Tidak Ikut Ikut Pelatihan Bencana Tidak Pernah Persentase (%) Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Karakteristik Responden Pernah Total Frekuensi Persentase (%) Tabel 1 memperlihatkan sebagian besar responden berumur 26-35 tahun sebanyak 117 orang . ,1%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 240 orang . ,8%), berstatus menikah sebanyak 328 orang . ,2%), berpendidikan SD sebanyak 218 orang . ,0%), tidak bekerja sebanyak 235 orang . ,5%), memperoleh informasi tentang bencana gempa bumi bersumber dari kerabat sebanyak 258 orang . ,6%), tidak mengikuti organisasi sebanyak 340 orang . ,4%), dan tidak pernah mengikuti pelatihan bencana sebanyak 354 orang . ,1%). Tabel 2. Analisis Univariat . = . Variabel Frekuensi Persentase (%) Dukungan Sosial Mendukung Cukup Mendukung Kurang Mendukung Tanda Gejala PTSD Rendah Sedang Tinggi Total Tabel 2 memperlihatkan sebagian besar responden mendapatkan dukungan sosial berkategori mendukung sebanyak 298 orang . ,3%) dan menunjukkan tanda gejala PTSD yang rendah sebanyak 207 orang . ,1%). Hasil memperlihatkan sebagian besar responden mendapatkan dukungan sosial berkategori mendukung sebanyak 298 orang . ,3%) dan sebagian kecil responden mendapatkan dukungan sosial berkategori kurang sebanyak 25 orang . ,1%). Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan sebagian besar responden memperoleh dukungan sosial tinggi. Indikator dukungan emosional terlihat pada keluarga memperhatikan kondisi responden setelah terjadi bencana gempa bumi, indikator dukungan instrumental terlihat pada masyarakat membantu responden mendapatkan sarana pakaian, dan makanan, indikator dukungan informasional terlihat pada keluarga dan masyarakat sekitar membagikan berita tentang bantuan korban bencana gempa bumi, indikator dukungan penghargaan terlihat pada keluarga menyambut gembira ketika responden selamat saat bencana gempa bumi terjadi. Dukungan sosial yaitu anugerah berupa nasihat dan arahan untuk menghadirkan solusi ketika seseorang mengalami masalah. Individu yang memperoleh dukungan menyadari terdapat orang lain yang memperhatikan mereka, sehingga dapat membantu mengatasi stres (Napitupulu et al. Faktor yang mempengaruhi dukungan sosial adalah usia. Semakin tua seseorang, semakin matang dan kuat mereka dalam berpikir (Lestari et al. Pada umumnya, dukungan sosial berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Faktor yang mempengaruhi dukungan sosial selanjutnya yaitu jenis kelamin (SaAoadah et al. Jenis kelamin juga mempengaruhi interaksi dan dukungan sosial, seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar dikuasai perempuan. Ini karena, dibandingkan dengan laki-laki yang lebih memikirkan harga diri, perempuan cenderung lebih ingin memiliki keterikatan dan saling ketergantungan. Faktor yang mempengaruhi dukungan sosial selanjutnya yaitu pendidikan. Pengembangan sumber daya manusia adalah salah satu aspek yang dipengaruhi pendidikan, sebab dapat mengubah cara masyarakat berpikir. Pendidikan tentang bencana yang paling praktis dan sederhana diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan tentang bencana. Pengetahuan yang buruk tentang bencana dapat meningkatkan angka kematian akibat bencana (Rahmanishati et al. Peneliti berasumsi masyarakat setempat memiliki dukungan sosial yang kuat, dikarenakan masyarakatnya banyak yang saling membantu ketika terjadinya bencana gempa bumi, adanya keterikatan satu sama lain dikarenakan telah lama tinggal ditempat itu, mempunyai kepedulian yang tinggi dan memberikan bantuan ketika terjadinya bencana gempa bumi, serta saling memahami dan memberikan support Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Berdasarkan hasil penelitian memperlihatkan sebagian besar responden menunjukkan tanda gejala PTSD yang rendah sebanyak 207 orang . ,1%) dan sebagian kecil responden menunjukkan tanda gejala PTSD yang tinggi sebanyak 41 orang . ,9%). Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan sebagian besar responden mengatakan berkali-kali terganggu dengan kenangan atau bayang-bayang tentang kejadian bencana gempa bumi pada akhir November 2022. Responden juga seringkali merasa seakan kejadian tersebut muncul kembali, terlihat selalu waspada atau berjaga-jaga secara berlebihan, merasa jantung berdebar atau berkeringat dingin, serta terlihat gugup atau mudah merasa khawatir. Beragam faktor dapat menentukan tanda gejala PTSD, meliputi jenis kelamin, usia, dan Faktor risiko PTSD salah satunya yaitu jenis kelamin. Menurut Hu et al. wanita lebih condong mengalami PTSD. Hal ini karena strategi koping yang berbeda. Wanita juga lebih condong memperlihatkan respons emosional (Hafid et al. Faktor lain yang mempengaruhi kejadian PTSD adalah usia. Pada usia produktif, seseorang berkemungkinan terkena PTSD lebih tinggi setelah bencana seiring kehilangan orang-orang tercinta, seperti anak, pasangan, atau anggota keluarga lainnya, serta kerugian benda-benda berharga, seperti rumah atau dokumen penting (Rahmanishati et Faktor yang mempengaruhi PTSD selanjutnya yaitu pendidikan. Tingkat pendidikan seorang individu juga dapat memengaruhi strategi kopingnya. Orang tanpa pendidikan tidak tahu banyak tentang strategi koping atau ketahanan dalam situasi bencana. Mereka tidak terbiasa menggunakan mekanisme koping ketika mereka kehilangan sesuatu atau merasa berduka karena kecelakaan (Erlin and Sari 2. Peneliti berasumsi masyarakat setempat menampakkan PTSD yang dialami mulai surut. Hal tersebut dimungkinkan karena kejadian bencana sudah lama terjadi. Meskipun masyarakat disana sebagian mengatakan takut jika terjadi gempa lagi dengan skala besar dan takut ketika mendengar suara keras yang tiba-tiba muncul. Namun dengan berlalu waktu, korban akhirnya mendapatkan dukungan dari keluarga, teman dekat, dan masyarakat sekitar yang terus menemani dan menghibur para korban, sehingga manifestasi PTSD mulai mereda. Tabel 3. Analisis Bivariat Dukungan Sosial Mendukung Cukup Mendukung Kurang Mendukung Total Tanda Gejala PTSD Rendah Sedang Tinggi 202 67,8 207 55,1 128 34,0 Total P-Value SomersAod 0,000 0,500 Tabel 3 memperlihatkan sebagian besar responden mendapatkan dukungan sosial berkategori mendukung dan menunjukkan tanda gejala PTSD yang rendah sebanyak 202 orang . ,8%) serta sebagian kecil responden mendapatkan dukungan sosial berkategori mendukung dan menunjukkan tanda gejala PTSD yang tinggi sebanyak 6 orang . ,0%). Kemudian sebagian besar responden mendapatkan dukungan sosial berkategori cukup dan menunjukkan tanda gejala PTSD yang sedang sebanyak 37 orang . ,8%) serta sebagian kecil responden mendapatkan dukungan sosial berkategori cukup dan menunjukkan tanda gejala PTSD yang rendah sebanyak 5 orang . ,4%). Sementara itu, sebagian besar responden mendapatkan dukungan sosial berkategori kurang dan menunjukkan tanda gejala PTSD yang tinggi sebanyak 24 orang . ,0%) serta sebagian kecil responden mendapatkan dukungan sosial berkategori kurang dan menunjukkan tanda gejala PTSD yang sedang sebanyak 1 orang . ,0%). Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh p-value sebesar 0,000 dan somersAod sebesar 0,500, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan dan cukup kuat antara dukungan sosial dengan tanda gejala PTSD pada masyarakat korban bencana gempa bumi. Hasil penelitian menjabarkan terdapat hubungan yang cukup kuat diantara dukungan sosial dengan tanda gejala PTSD pada masyarakat korban bencana. Hal serupa dijelaskan oleh Rahmanishati et al. bahwasanya dukungan sosial yang baik akan menurunkan kemungkinan PTSD pada korban bencana. Serupa dengan itu. Rachma & Febrianti . juga menjelaskan bahwa PTSD seseorang dapat dikurangi dengan meningkatkan faktor sosialnya, terutama dari dukungan sosial. PTSD yaitu kondisi jiwa yang diakibatkan kejadian traumatis, secara langsung mengalami atau Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 melihatnya sendiri. Kebanyakan orang kesulitan menghadapi trauma, namun dengan waktu dan perawatan diri, kondisi akan membaik. Bila kejadian traumatis terus membayangi sampai membuahkan hasil, kondisi tersebut dikenal sebagai gangguan stres pasca trauma (Nurhafiza et al. Faktor yang mempengaruhi tanda gejala PTSD adalah dukungan sosial, yang dimana itu ada dukungan emosional. Dalam mengatasi PTSD, dukungan emosional menjadi krusial karena individu memerlukan sosok terdekat untuk membantu mereka melewati kondisi tersebut. Dukungan dari orang tua, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan dapat membantu memulihkan rasa percaya diri, memberikan perhatian, dan memungkinkan mereka untuk kembali menjalani kehidupan secara normal (Harsono et al. Sutrisno et al. Dukungan instrumental terlihat dari tersedianya bantuan konkret yang memudahkan seseorang menghadapi masalah, seperti pemberian waktu, kesempatan, layanan, barang, atau bantuan finansial. Dukungan ini dinilai dari perilaku pemberinya, yang membuat individu merasa puas, diperhatikan, dan dihargai (Tampubolon and Syamsuddin 2. Dukungan sosial yang baik membantu individu mengatasi masalah dan memberikan rasa perlindungan. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki dukungan sosial akan merasa kesepian, terisolasi, dan tertekan setelah mengalami trauma, yang dapat memperburuk gejala PTSD (Rohmah et al. Pada akhirnya, hal ini akan berperan dalam mengembangkan keyakinan dan persepsi yang tidak baik tentang dirinya sendiri dan lingkungannya (Arcani and Ambarini 2. Menurut peneliti dukungan sosial yang kuat dapat mengurangi tanda dan gejala PTSD. Walaupun sebagian masyarakat kadang teringat kembali tentang bencana gempa bumi yang telah terjadi, lambat laun mereka mampu bertahan berkat dukungan sosial yang solid. Dengan adanya dukungan sosial yang memadai, gejala PTSD dapat mengalami penurunan secara bertahap, karena masyarakat memberikan dukungan moral dan berbagi cerita tentang pengalamannya dengan orang lain yang mengalami kondisi serupa. Lebih lanjut, semakin besar dukungan yang diterima dari masyarakat, maka individu tersebut cenderung menjadi lebih responsif dan ramah terhadap anggota komunitasnya. Selain itu, apabila trauma yang dialami sangat berat dan kurangnya pengendalian diri secara emosional, maka kemungkinan gejala PTSD yang dirasakan tetap sedang atau tinggi meskipun memiliki dukungan sosial yang cukup. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian memperlihatkan sebagian besar responden menerima dukungan sosial mendukung dan mengalami tanda gejala PTSD berkategori rendah. Selain itu, terdapat hubungan yang cukup kuat antara dukungan sosial dengan tanda gejala PTSD di Desa Cibulakan Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur. Pemerintah setempat diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan upaya-upaya mendukung masyarakat dan pihak terkait yang difokuskan kepada dukungan sosial antar individu DAFTAR PUSTAKA