HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor 01 | Januari 2. E-ISSN : 2797-7161 | DOI: doi. org/healthcaring. Pengetahuan Ibu dan Kepatuhan Imunisasi Tetanus Toxoid pada Ibu Hamil Desa Bitung Sari Ciawi Penulis: Astri Sapariah 1 Hafizah Che Hassan 2 Fatimah Yahya3 Afiliasi: Akademi Keperawatan AlIkhlas. Bogor. Indonesia1. Lincoln University College. Selangor. Malaysia 2,3. Korespondensi: phdscholar@lincoln. Histori Naskah: Diajukan: 24-12-2025 Disetujui: 15-01-2026 Publikasi: 17-01-2026 Imunisasi Tetanus Toxoid (TT) merupakan upaya pencegahan penting bagi ibu hamil untuk melindungi ibu dan bayi dari infeksi tetanus. Namun, cakupan imunisasi TT pada ibu hamil masih belum optimal, yang salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan kepatuhan ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu dengan kepatuhan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) selama kehamilan di RT 03 RW 03 Desa Bitung Sari. Kecamatan Ciawi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang . ross-sectiona. Sebanyak 45 ibu hamil dilibatkan sebagai responden melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur tingkat pengetahuan ibu dan kepatuhan terhadap imunisasi TT selama kehamilan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dan kepatuhan imunisasi TT dengan nilai p sebesar 0,036 . < 0,. Meskipun sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, masih ditemukan kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku kepatuhan imunisasi. Kata kunci: Pengetahuan Ibu. Tetanus Toxoid. Kehamilan. Antenatal Pendahuluan Program imunisasi bagi ibu hamil merupakan salah satu komponen fundamental dalam strategi kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi akibat penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi (Mariyana & Sihombing, 2. Salah satu jenis imunisasi yang direkomendasikan selama kehamilan adalah imunisasi Tetanus Toxoid (TT), yang berfungsi untuk meningkatkan kekebalan ibu terhadap infeksi tetanus sekaligus memberikan perlindungan pasif kepada bayi baru lahir (Azizah et al. , 2. Imunisasi TT memiliki peran yang sangat penting dalam pencegahan tetanus maternal dan neonatal, yang hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan, terutama di negara berkembang (Sartika, 2. Di Indonesia, imunisasi Tetanus Toxoid telah ditetapkan sebagai salah satu indikator standar kualitas pelayanan antenatal dan secara aktif dipromosikan oleh otoritas kesehatan daerah sebagai bagian dari upaya pencegahan infeksi pada wanita usia subur dan ibu hamil. Meskipun kebijakan tersebut telah diterapkan, komplikasi maternal yang berkaitan dengan kurangnya upaya pencegahan masih sering dijumpai. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan program imunisasi, khususnya pada tingkat komunitas, guna meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan Imunisasi Tetanus Toxoid dapat diberikan kepada ibu hamil sejak trimester pertama hingga trimester ketiga. Namun demikian, tingkat kepatuhan ibu hamil dalam menjalani imunisasi TT masih tergolong rendah (Paputungan et al. , 2. Secara global. World Health Organization (WHO) dari penelitian (Tilahun & Geremew, 2. bahwa cakupan imunisasi tetanus pada ibu hamil melalui indikator Td2 /TT2 masih berada pada kisaran A75%, menunjukkan bahwa seperempat ibu hamil di dunia belum memperoleh perlindungan optimal terhadap tetanus, dengan This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor 01 | Januari 2. E-ISSN : 2797-7161 | DOI: doi. org/healthcaring. kesenjangan yang nyata antarwilayah. Di Indonesia, meskipun (Kementerian Kesehatan Indonesia, 2. mencatat cakupan Td2 sebesar 75,6%, capaian ini masih mencerminkan keterbatasan kepatuhan imunisasi ibu hamil secara nasional dan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan dibandingkan target eliminasi tetanus maternal dan neonatal. Pada tingkat Provinsi Jawa Barat, peningkatan jumlah ibu hamil penerima imunisasi Td dari sekitar 1. 000 orang pada tahun 2021 000 orang pada tahun 2023 lebih mencerminkan pemulihan layanan pascapandemi daripada peningkatan kepatuhan yang merata (Open Data Jabar, 2. Di Kabupaten Bogor, meskipun jumlah penerima imunisasi Td meningkat dari 63. 400 orang pada tahun 2021 menjadi 800 orang pada tahun 2023, angka ini belum dapat menjamin terpenuhinya imunisasi Td2 secara lengkap, terutama jika mempertimbangkan besarnya populasi sasaran ibu hamil. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pada tingkat wilayah yang lebih kecil, termasuk kecamatan dan wilayah penelitian, masih terdapat potensi rendahnya kepatuhan imunisasi TT yang perlu dikaji secara lebih mendalam untuk mengidentifikasi hambatan struktural, pelayanan, maupun perilaku ibu hamil (Open Data Jabar, 2. Pengetahuan ibu telah diidentifikasi sebagai salah satu determinan utama dalam meningkatkan cakupan imunisasi. Data Riskesdas menunjukkan bahwa sebesar 39,1% ibu masih memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai imunisasi Tetanus Toxoid, yang berpotensi berkontribusi terhadap rendahnya tingkat kepatuhan imunisasi (Sari et al. , 2. Pengetahuan memegang peranan penting dalam pembentukan perilaku kesehatan, karena memengaruhi cara individu memahami risiko kesehatan, menilai manfaat suatu tindakan pencegahan, serta mengambil keputusan terkait pemanfaatan layanan kesehatan (Fadhila et al. , 2. Kurangnya pengetahuan dapat menyebabkan munculnya kesalahpahaman, rendahnya kesadaran, serta ketidakpatuhan terhadap jadwal imunisasi yang direkomendasikan. Selain pengetahuan, beberapa faktor lain juga dilaporkan memengaruhi kepatuhan ibu terhadap imunisasi TT, antara lain usia, tingkat pendidikan, jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan, status pekerjaan, dukungan suami, serta paritas (Sinaga et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh (Sinaga et al. , 2. menunjukkan bahwa cakupan imunisasi TT pada ibu hamil belum mencapai target yang ditetapkan pemerintah, yang sebagian besar disebabkan oleh kurangnya pemahaman ibu mengenai pentingnya kunjungan antenatal, di mana imunisasi TT merupakan salah satu komponen utama. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kepatuhan imunisasi TT masih menjadi tantangan dalam pelayanan antenatal. Sejalan dengan permasalahan yang telah diuraikan, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kepatuhan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) selama kehamilan di RT 03 RW 03 Desa Bitung Sari. Kecamatan Ciawi, serta untuk menggambarkan tingkat pengetahuan ibu dan kepatuhan imunisasi TT sebagai dasar dalam memahami perilaku kesehatan ibu hamil dalam pelaksanaan pelayanan antenatal. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor 01 | Januari 2. E-ISSN : 2797-7161 | DOI: doi. org/healthcaring. Studi Literatur Imunisasi Tetanus Toxoid pada Ibu Hamil Imunisasi Tetanus Toxoid (TT) merupakan salah satu intervensi kesehatan yang direkomendasikan bagi ibu hamil sebagai upaya pencegahan tetanus maternal dan neonatal. Tetanus merupakan penyakit infeksi serius yang dapat menyebabkan komplikasi berat bahkan kematian, baik pada ibu maupun bayi baru lahir. Pemberian imunisasi TT selama kehamilan bertujuan untuk meningkatkan kekebalan ibu terhadap tetanus serta memberikan perlindungan pasif kepada bayi melalui transfer antibodi dari ibu (Sari et al. , 2. Program imunisasi TT telah menjadi bagian dari standar pelayanan antenatal dan diimplementasikan secara luas dalam sistem pelayanan kesehatan, khususnya di negara Meskipun demikian, cakupan imunisasi TT pada ibu hamil masih belum mencapai target yang diharapkan. Data World Health Organization menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan cakupan imunisasi TT secara global, angka tersebut masih tergolong belum optimal (WHO, 2. Di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar juga menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil belum menerima imunisasi TT secara lengkap selama kehamilan (Kementerian Kesehatan Indonesia, 2. Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi Tetanus Toxoid Salah satu faktor yang berperan penting dalam kepatuhan imunisasi TT adalah tingkat pengetahuan Pengetahuan ibu mengenai tujuan, manfaat, dan jadwal pemberian imunisasi TT dapat memengaruhi sikap dan perilaku ibu dalam memanfaatkan layanan imunisasi. Penelitian yang dilakukan oleh (AYU & Latifah, 2. melaporkan bahwa masih terdapat proporsi ibu yang memiliki pengetahuan terbatas mengenai imunisasi TT, yang berdampak pada rendahnya kepatuhan terhadap imunisasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman ibu terhadap imunisasi TT masih menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji hubungan antara pengetahuan ibu dan kepatuhan imunisasi TT. (Wijayanti Eko Dewi, 2. menemukan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu hamil dengan perilaku kepatuhan dalam menjalani imunisasi TT. Penelitian (Turipah et al. , 2. turut memperkuat temuan dengan menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap ibu memiliki hubungan yang bermakna dengan penerimaan imunisasi TT. Kepatuhan Imunisasi Tetanus Toxoid Faktor pendukung lain juga dilaporkan berperan dalam kepatuhan imunisasi TT, antara lain usia, tingkat pendidikan, paritas, pekerjaan, dan dukungan suami. menunjukkan bahwa peran bidan dan dukungan suami memiliki hubungan dengan kepatuhan imunisasi TT pada ibu hamil primigravida. Sementara itu, bahwa keterbatasan waktu, jarak ke fasilitas kesehatan, serta aktivitas sehari-hari ibu menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan imunisasi TT (Kusumaratna et al. , 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional melalui metode potong lintang . ross-sectiona. , yang memungkinkan pengukuran variabel independen dan dependen dilakukan secara bersamaan tanpa intervensi terhadap subjek penelitian (Vionalita. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu, sedangkan variabel dependen adalah kepatuhan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) selama kehamilan. Penelitian This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor 01 | Januari 2. E-ISSN : 2797-7161 | DOI: doi. org/healthcaring. dilaksanakan di RT 03 RW 03 Desa Bitung Sari. Kecamatan Ciawi, berdasarkan temuan awal masih adanya ibu yang tidak menyelesaikan imunisasi TT akibat rendahnya pemahaman, persepsi kurang penting terhadap imunisasi, serta keterbatasan waktu. Populasi penelitian mencakup seluruh ibu postpartum berusia 19Ae50 tahun yang berdomisili di wilayah tersebut sebanyak 45 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling karena jumlah populasi relatif kecil (Fatimah et al. , 2. Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang mengukur karakteristik responden, tingkat pengetahuan ibu mengenai imunisasi TT, serta kepatuhan imunisasi berdasarkan kelengkapan penerimaan TT selama kehamilan (Ikhwan et al. Pengumpulan data dilakukan secara langsung dengan pendampingan peneliti bila Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi = 0,05, di mana nilai p < 0,05 diinterpretasikan sebagai adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara variabel yang diteliti (Musfirah et al. , 2. Hasil Hasil penelitian ini diperoleh dari 45 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat untuk menggambarkan karakteristik responden, tingkat pengetahuan ibu mengenai imunisasi Tetanus Toxoid (TT), kepatuhan imunisasi TT selama kehamilan, serta hubungan antara pengetahuan ibu dan kepatuhan imunisasi TT. Berdasarkan hasil analisis, mayoritas responden berada pada kelompok usia 31-40 tahun, yaitu sebanyak 22 orang . ,9%). Responden dengan usia 41-50 tahun berjumlah 15 orang . ,3%), sedangkan kelompok usia 19-30 tahun merupakan proporsi terendah, yaitu sebanyak 8 orang . ,8%). Distribusi ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia reproduktif matang. Tabel 1. Distribusi Responden menurut Usia Ibu Karakteristik usia Maternal 19-30 Tahun 31-40 Tahun 41-50 Tahun Total Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar responden memiliki latar belakang pendidikan menengah atas (SMA/SMK), yaitu sebanyak 21 orang . ,7%). Responden dengan pendidikan SMP berjumlah 15 orang . ,3%), sedangkan responden dengan pendidikan SD sebanyak 8 orang . ,8%). Hanya 1 responden . ,2%) yang memiliki pendidikan perguruan tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan formal yang tergolong sedang. Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Educational background SMP SMA/SMK Sarjana Total This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor 01 | Januari 2. E-ISSN : 2797-7161 | DOI: doi. org/healthcaring. Berdasarkan kepatuhan terhadap imunisasi TT selama kehamilan, sebanyak 29 responden . ,4%) tergolong patuh dalam menjalani imunisasi TT sesuai anjuran. Sementara itu, sebanyak 16 responden . ,6%) dikategorikan tidak patuh. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar responden telah patuh terhadap imunisasi TT, masih terdapat proporsi ibu yang belum menjalani imunisasi secara lengkap. kepatuhan terhadap imunisasi TT selama kehamilan, sebanyak 29 responden . ,4%) tergolong patuh dalam menjalani imunisasi TT sesuai anjuran. Sementara itu, sebanyak 16 responden . ,6%) dikategorikan tidak patuh. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar responden telah patuh terhadap imunisasi TT, masih terdapat proporsi ibu yang belum menjalani imunisasi secara lengkap. Tabel 3. Distribusi Kepatuhan Imunisasi Tetanus Toxoid pada Ibu Hamil Compliance with Tetanus Toxoid Patuh Tidak Patuh Total Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dan kepatuhan imunisasi Tetanus Toxoid selama kehamilan. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi = 0,05. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p sebesar 0,036 . < 0,. , yang berarti terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan ibu dan kepatuhan imunisasi Tetanus Toxoid selama kehamilan. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan adanya hubungan antara pengetahuan ibu dan kepatuhan imunisasi TT dapat Tabel 4. Pengetahuan Ibu dengan Kepatuhan Imunisasi TT Selama Kehamilan Tingkat Pengetahuan Patuh n (%) Tidak Patuh n (%) Total n (%) Baik 11 . Cukup 15 . Kurang 3 . Total Distribusi kepatuhan imunisasi menunjukkan adanya variasi pada setiap tingkat pengetahuan ibu. Responden dengan tingkat pengetahuan baik cenderung menunjukkan kepatuhan imunisasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan kurang. Namun demikian, masih ditemukan responden dengan pengetahuan baik yang tidak patuh terhadap imunisasi TT, yang menunjukkan bahwa pengetahuan bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kepatuhan imunisasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa kepatuhan imunisasi Tetanus Toxoid merupakan perilaku kesehatan yang bersifat multifaktorial, di mana selain pengetahuan, faktor lain seperti keterbatasan waktu, akses terhadap pelayanan kesehatan, persepsi terhadap manfaat imunisasi, serta dukungan keluarga juga berperan dalam menentukan perilaku ibu hamil. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor 01 | Januari 2. E-ISSN : 2797-7161 | DOI: doi. org/healthcaring. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dan kepatuhan terhadap imunisasi Tetanus Toxoid (TT) selama kehamilan, dengan nilai p sebesar 0,036 . < 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan ibu memiliki peran penting dalam memengaruhi perilaku kepatuhan imunisasi. Secara konseptual, pengetahuan merupakan faktor kognitif awal yang membentuk sikap dan perilaku kesehatan seseorang, termasuk dalam pengambilan keputusan terkait tindakan pencegahan selama kehamilan (Sartika. Meskipun demikian, hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa kepatuhan imunisasi tidak sepenuhnya sejalan dengan tingkat pengetahuan ibu. Pada kelompok ibu dengan pengetahuan baik, masih ditemukan proporsi responden yang tidak patuh terhadap imunisasi TT. Kondisi ini menggambarkan adanya knowledge practice gap, yaitu situasi di mana pemahaman yang baik mengenai suatu tindakan kesehatan belum tentu diikuti oleh perilaku yang sesuai. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pengetahuan merupakan faktor penting, namun bukan satu-satunya determinan perilaku kesehatan. Pada kelompok ibu dengan tingkat pengetahuan cukup, sebagian besar responden menunjukkan kepatuhan terhadap imunisasi TT. Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman yang memadai mengenai manfaat dan tujuan imunisasi dapat mendorong perilaku kepatuhan, terutama apabila didukung oleh faktor lain seperti kemudahan akses layanan kesehatan dan anjuran dari tenaga Sementara itu, pada kelompok ibu dengan pengetahuan kurang, tingkat kepatuhan relatif lebih rendah, yang menunjukkan bahwa keterbatasan pengetahuan berpotensi menjadi hambatan dalam pemanfaatan layanan imunisasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Putri et al. , 2. , yang melaporkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan ibu dan kepatuhan imunisasi Tetanus Toxoid. Penelitian-penelitian tersebut menegaskan bahwa ibu dengan tingkat pengetahuan yang lebih baik cenderung memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya imunisasi sebagai upaya pencegahan penyakit pada ibu dan bayi. Kesamaan temuan ini memperkuat bukti bahwa pengetahuan tetap menjadi komponen kunci dalam peningkatan cakupan imunisasi maternal. Namun, temuan penelitian ini tidak sepenuhnya sejalan dengan hasil penelitian (Paputungan et al. , yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dan kepatuhan imunisasi TT. Perbedaan hasil tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh variasi karakteristik responden, perbedaan konteks sosial dan budaya, akses terhadap fasilitas kesehatan, serta perbedaan metode pengukuran pengetahuan dan kepatuhan. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku kesehatan ibu bersifat kontekstual dan tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosial tempat ibu berada. Dalam pelayanan kesehatan ibu di Indonesia, imunisasi Tetanus Toxoid merupakan salah satu indikator penting dalam pelayanan antenatal dan telah menjadi bagian dari kebijakan nasional dalam upaya pencegahan tetanus maternal dan neonatal. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan di tingkat komunitas masih menghadapi tantangan, khususnya dalam memastikan bahwa informasi yang diterima ibu benar-benar dipahami dan diinternalisasi sebagai kebutuhan kesehatan. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume : 05 | Nomor 01 | Januari 2. E-ISSN : 2797-7161 | DOI: doi. org/healthcaring. Dari perspektif keperawatan dan kesehatan masyarakat, temuan ini menegaskan bahwa upaya peningkatan kepatuhan imunisasi TT tidak dapat hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan Edukasi kesehatan perlu dikombinasikan dengan pendekatan yang memperhatikan faktor pendukung dan penguat perilaku, seperti ketersediaan waktu, kemudahan akses layanan, komunikasi efektif antara tenaga kesehatan dan ibu hamil, serta dukungan keluarga, terutama Pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan praktik, sehingga kepatuhan imunisasi TT pada ibu hamil dapat meningkat secara optimal. Kesimpulan Penelitian ini menjawab rumusan masalah dengan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dan kepatuhan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) selama kehamilan di RT 03 RW 03 Desa Bitung Sari. Kecamatan Ciawi. Berdasarkan hasil analisis bivariat, hubungan tersebut dibuktikan secara statistik dengan nilai p = 0,036 . < 0,. , yang menandakan bahwa pengetahuan ibu berperan dalam menentukan kepatuhan imunisasi TT. Sebagian besar ibu dengan tingkat pengetahuan yang lebih baik menunjukkan kepatuhan imunisasi yang lebih tinggi, meskipun masih ditemukan ketidaksesuaian antara pengetahuan dan praktik pada sebagian responden. Temuan ini mengimplikasikan bahwa peningkatan kepatuhan imunisasi TT tidak cukup hanya melalui peningkatan pengetahuan, tetapi juga memerlukan penguatan strategi pelayanan antenatal yang mendukung perubahan perilaku kesehatan ibu secara Referensi