Jurnal Riset Kebidanan Indonesia Vol 9. No. Juni 2025, pp. ISSN 2615-5621 Faktor usia ibu sebagai determinan perdarahan postpartum di RSUD Lembang tahun 2025 Tasya Dwi Indriani*. Intan Karlina. Enjeh Latipah Nuraeni. Putri Dewi Purwanti. Hilmi Yanti Siti Masitoh. Salsabilla Konita Putri. Riska Puteri Fadilah. Maulida Al Avissina. Meylinda Dewi Anggraeni. Nazma Raine Hamzah. Nurhasanah. Ai Nely Susanti. Chinta Salma Az-Zahra Institut Kesehatan Rajawali. Indonesia. INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel Latar Belakang: Perdarahan postpartum (PPH) merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia. Usia ibu hamil kerap disebut sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko PPH, khususnya pada kelompok usia <20 tahun dan >35 tahun. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara usia ibu bersalin dan kejadian pendarahan post partum di RSUD Lembang tahun Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan Sampel sebanyak 65 ibu bersalin dipilih menggunakan Teknik purposive sampling berdasarkan catatan rekam medis. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan Tingkat signifikasi Hasil: Perdarahan postpartum terjadi pada semua kelompok usia, dengan proporsi tertinggi pada kelompok usia >35 tahun . ,94%). Namun uji statistik menunjukan tidak terdapat hubungan signifikan antara usia ibu dan kejadian PPH . = 1. Simpulan: Meskipun hasil tidak signifikan secara statistic, temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan klinis berbasis risiko, terutama pada ibu usia <20 dan >35 tahun. Deteksi dini dan intervensi antenatal pada kelompok usiatersebut Tetap penting dalam Upaya pencegahan komplikasi obstetri. Tanggal diterima, 30 Mei 2025 Tanggal direvisi, 30 Juni 2025 Tanggal dipublikasi, 30 Juni 2025 Kata kunci: Usia Ibu. Pendarahan Pospartum. Risiko Obstetri. Pelayanan Kebidanan. 32536/jrki. Keyword: Maternal Age. Postpartum Hemorrhage. Obstetric Risk. Midwifery Care. Background: Postpartum hemorrhage (PPH) remains a leading cause of maternal mortality in Indonesia. Maternal age is frequently identified as a contributing factor, especially among women aged <20 and >35 years. Objective: To determine whether maternal age is associated with the incidence of postpartum hemorrhage at RSUD Lembang in 2025. Methods: This study employed a descriptive-analytic design with a retrospective A total of 65 medical records were selected using purposive sampling basedon inclusion criteria. Data were analyzed using the Chisquare test at a 5% significance level. Results: Postpartum hemorrhage occurred across all age groups, with the highest proportion observed in women aged >35 years group . 94%). However, statistical analysis revealed no significant association between maternal age and postpartum hemorrhage . = 1. Conclusion: Although the findings were not statistically significant, a clinical tendency was observed among mothers aged <20 and >35 years. These results highlight the importance of risk-based antenatal care and targeted surveillance to prevent obstetric complications. Enjeh Latipah Nuraeni, dkk. (Faktor usia ibu sebagai determinan perdarahan postpartum di. ISSN 2615-5621 Jurnal Riset Kebidanan Indonesia Vol 9. No. Juni 2025, pp. Pendahuluan* Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan indikator penting dalam menilai kualitas sistem kesehatan di suatu negara. Perdarahan postpartum (PPH) masih menjadi penyebab utama kematian ibu, baik di negara berkembang maupun maju. Data WHO . menunjukkan bahwa sekitar 27% kematian ibu di seluruh dunia disebabkan oleh perdarahan setelah melahirkan. Faktor usia ibu hamil menjadi salah satu variabel yang sering diteliti dalam kaitannya dengan kejadian PPH. Usia ekstrem, yaitu <20 tahun dan >35 tahun, dianggap berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi obstetri, termasuk perdarahan postpartum. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidaksiapan biologis maupun adanya komorbiditas pada usia tua. Beberapa studi mendukung hal ini. Kurniati . menemukan bahwa kelompok usia <20 dan >35 tahun memiliki kecenderungan mengalami Namun demikian, hasil penelitian tidak selalu konsisten. Sunarsih dan Susanaria . dalam penelitiannya menyebutkan bahwa meskipun ada kecenderungan peningkatan risiko, hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik karena keterbatasan jumlah sampel atau distribusi yang tidak merata. Selain itu. Durmaz & Komurcu . dalam studi meta-analisisnya menekankan pentingnya mempertimbangkan faktor lain yang dapat memengaruhi hasil, seperti paritas, jenis persalinan, atau komplikasi kehamilan lainnya. Kesenjangan hasil dari beberapa studi tersebut memperlihatkan pentingnya dilakukan penelitian lanjutan pada konteks lokal. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara usia ibu bersalin dan kejadian perdarahan postpartum di RSUD Lembang, sebagai upaya memperkuat bukti empiris dan mendukung pengambilan keputusan klinis yang berbasis risiko. Metode penelitian Penelitian ini menggunakan desain Korespondensi penulis. Alamat E-mail: akunbarutasya1@gmail. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan di RSUD Lembang selama tahun 2024, sebanyak 977 kasus. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, yaitu mengambil data ibu bersalin yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu memiliki catatan lengkap mengenai usia ibu dan status kejadian perdarahan postpartum. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh 65 kasus sebagai sampel penelitian. Jumlah sampel yang diperoleh relatif kecil Keterbatasan ini dapat memengaruhi kekuatan analisis statistik dan kemampuan generalisasi hasil penelitian. Namun demikian, data yang tersedia tetap memberikan gambaran awal yang dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian lanjutan yang lebih komprehensif. Data dikumpulkan menggunakan format pencatatan yang merujuk pada data rekam Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 5% ( = 0,. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian perdarahan postpartum terjadi pada semua kelompok usia. Proporsi tertinggi ditemukan pada kelompok usia >35 tahun sebesar 52,94%, diikuti kelompok usia 20Ae35 tahun sebesar 29,41%, dan kelompok usia <20 tahun sebesar 17,65%. Namun, berdasarkan uji Chi-square, tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara usia ibu dan kejadian PPH . = 1. Tabel 1. Distribusi Ibu Bersalin Berdasarkan Usia dan Kejadian Perdarahan Postpartum Kelompok Usia <20 tahun 20Ae35 tahun >35 tahun Jumlah Ibu PPH Tidak PPH Persentase PPH (%) 33,33% 45,24% 52,94% Berdasarkan tabel di atas, kejadian perdarahan postpartum ditemukan pada seluruh kelompok usia. Secara absolut, jumlah kasus tertinggi terjadi pada kelompok usia 20Ae35 tahun sebanyak 19 orang, karena memang kelompok ini merupakan mayoritas populasi. Namun secara proporsional, kelompok usia >35 tahun memiliki persentase tertinggi yaitu 52,94%, diikuti oleh Enjeh Latipah Nuraeni, dkk. (Faktor usia ibu sebagai determinan perdarahan postpartum di. Jurnal Riset Kebidanan Indonesia ISSN 2615-5621 Vol 9. No. Juni 2025, pp. usia 20Ae35 tahun . ,24%) dan <20 tahun . ,33%). Gambar 1. Distribusi jumlah ibu bersalin yang mengalami dan tidak mengalami pendarahan postpartum berdasarkan kelompok usia. Gambar 2. Persentase kejadian pendarahan postpartum berdasarkan kelompok usia di RSUD Lembang 2024 Analisis bivariat menggunakan uji ChiSquare menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu bersalin dengan kejadian perdarahan postpartum . ilai p = 1. Artinya, secara statistik, tidak ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa usia ibu memiliki hubungan langsung terhadap terjadinya perdarahan postpartum pada sampel penelitian Walaupun hasil analisis tidak signifikan menunjukkan bahwa ibu bersalin dengan usia <20 tahun dan >35 tahun memiliki kecenderungan proporsi kejadian perdarahan postpartum yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 20Ae35 tahun. Temuan ini selaras dengan teori dari Manuaba . dan Wiknjosastro . yang menyatakan bahwa usia di luar rentang reproduktif ideal . Ae35 tahu. berisiko terhadap komplikasi obstetri, termasuk perdarahan postpartum. Usia <20 tahun dikaitkan dengan ketidaksiapan organ reproduksi, kontraksi uterus yang kurang efektif, serta ketidakmatangan secara emosional yang dapat memengaruhi proses persalinan (Proverowati, 2015. Depkes. Sementara itu, usia >35 tahun berhubungan dengan menurunnya tonus otot uterus dan peningkatan kemungkinan penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes, yang secara fisiologis dapat memperburuk kondisi pascapersalinan (Lao et al. , 2014. Pubu et al. Beberapa studi sebelumnya menunjukkan hasil serupa namun dengan variabilitas yang dipengaruhi oleh ukuran sampel dan distribusi Penelitian oleh Sunarsih dan Susanaria . menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan risiko perdarahan pada usia ekstrem, namun hasilnya tidak signifikan secara Sementara penelitian Kurniati . justru menemukan hubungan signifikan antara usia ibu dan PPH dengan nilai p < 0,05, terutama pada kelompok usia >35 tahun. Perbedaan hasil antara penelitian ini dan studi-studi terdahulu kemungkinan disebabkan oleh jumlah sampel yang terbatas dan ketidakseimbangan distribusi antar kelompok Dalam penelitian ini, kelompok <20 tahun hanya terdiri dari 6 orang . ,2%), sehingga kekuatan statistik untuk mendeteksi perbedaan menjadi terbatas. Durmaz & Komurcu . dalam meta-analisisnya juga menekankan pentingnya ukuran sampel dan variasi karakteristik populasi dalam mempengaruhi kekuatan analisis hubungan faktor risiko maternal dengan PPH. Temuan ini mendukung beberapa literatur yang menyatakan bahwa usia ekstrem berkaitan dengan peningkatan risiko, meskipun tidak selalu bermakna secara statistik. Studi oleh Nyflot et al. menunjukkan bahwa usia tua memiliki hubungan dengan perdarahan berat pasca persalinan, namun faktor risiko lain seperti paritas, riwayat PPH sebelumnya, dan kelainan koagulasi juga harus dipertimbangkan sebagai faktor perancu. Dengan demikian, meskipun tidak ditemukan hubungan signifikan, distribusi kasus menunjukkan kecenderungan klinis penting yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, pendekatan antisipatif berbasis risiko tetap Enjeh Latipah Nuraeni, dkk. (Faktor usia ibu sebagai determinan perdarahan postpartum di. ISSN 2615-5621 Jurnal Riset Kebidanan Indonesia Vol 9. No. Juni 2025, pp. penting, terutama pada kelompok usia <20 dan >35 tahun. Simpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa (PPH) ditemukan pada seluruh kelompok usia ibu bersalin di RSUD Lembang tahun 2024, dengan proporsi relatif tertinggi pada kelompok usia >35 Namun, hasil analisis statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan tidak hubungan yang signifikan antara usia ibu bersalin dan kejadian perdarahan postpartum . = 1. Meskipun demikian, kecenderungan peningkatan kasus pada kelompok usia <20 tahun dan >35 tahun mendukung temuan literatur yang menyatakan bahwa usia ekstrem merupakan faktor risiko obstetri. Oleh karena itu, usia tetap menjadi salah satu pertimbangan penting dalam perencanaan dan pelayanan kebidanan. Saran: Berdasarkan hasil penelitian ini yang tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara usia ibu dan perdarahan postpartum, maka tenaga kesehatan tetap perlu mempertimbangkan aspek klinis lain yang dapat berkontribusi terhadap kejadian PPH. Pendekatan komprehensif berbasis risiko, yang tidak hanya mempertimbangkan usia tetapi juga paritas, jenis persalinan, dan riwayat obstetri, sangat dianjurkan. Bagi institusi pelayanan kesehatan seperti RSUD Lembang, disarankan untuk melakukan pencatatan rekam medis yang lebih sistematis dan lengkap, sehingga mendukung tersedianya data valid dalam evaluasi dan pengembangan Untuk peneliti selanjutnya, dianjurkan menggunakan sampel yang lebih besar dan mempertimbangkan variabel lain yang relevan agar dapat menggambarkan hubungan faktor risiko secara lebih akurat dan dapat digunakan sebagai dasar rekomendasi klinis yang kuat. Ucapan terima kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak RSUD Lembang yang telah memberikan izin serta akses data rekam medis sebagai bahan utama dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada dosen pembimbing, tim penguji, serta seluruh rekan mahasiswa yang telah berkontribusi dalam proses pengumpulan dan pengolahan data. Tidak lupa, apresiasi yang sebesar-besarnya ditujukan kepada Program Studi Sarjana Kebidanan Institut Kesehatan Rajawali atas dukungan akademik dan fasilitas selama proses penyusunan artikel ini. Daftar Pustaka