CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 13 - 21 ISSN : 2614-8900 E-ISSN : 2622-6545 AProgram Pascasarjana Universitas Papua, https://pasca. Etnozoologi dan karakteristik walabi (Dorcopsis mueller. satwa endemik New Guinea di Kabupaten Sorong Selatan Etnozoology and Characteristics of Walabi (Dorcopsis mueller. as an Endemic Animal of New Guinea in South Sorong Regency Fitriani Rumalean. Keliopas Krey. Febriza Dwiranti* Program Studi Magister Biologi. Program Pascasarjana. Universitas Papua Jl. Gunung Salju. Amban. Manokwari. Papua Barat *Email: f. dwiranti@unipa. Disubmit: 31 Juli 2025, direvisi: 14 Januari 2026, diterima: 31 Januari 2026 Doi : 10. 30862/casowary. ABSTRACT: Dorcopsis muelleri is a marsupial that is endemic to New Guinea. This research is designed to describe local wisdom on ethnozoology and the characteristic Dorcopsis muelleri, the Wallaby, in the South Sorong district. The method was descriptive, and data were collected through a field survey comprising semi-structured interviews and questionnaires administered to mammal Research variables include respondents' identities, knowledge of D. muelleri, morphological characteristics, hunting activity, and the functions or daily use of the Wallaby by local communities. The results indicate that the majority of the local communityAos hunters in South Sorong districts are initially from local people . ,3%) and Timor ethnics . ,7%), ages from 30-40 years . ,8%), and 84,6% hunters finished higher school education level, which has essential roles in preserving and inheriting local wisdom for ethnozoology. However, most hunters did not know the endemic status of D. muelleri in New Guinea. Wallaby hunting by local people in South Sorong usually uses various traditional methods, such as dog help, snares or traps made from local materials, and air rifles. Wallaby meat is served and consumed after being cooked over a fire, and local recipes and ingredients are used, reflecting local wisdom in maintaining their surrounding ecosystem. This hunting activity is conducted to earn money by selling the hunted meat and to meet local animal protein needs. In Indonesian. muelleri is called Wallaby biasa hutan or Dorcopsis coklat because it has brown feathers, rough fur, and a tail that is 1/5 of the whole tail. Keywords: Dorcopsis muelleri. Endemic. Etnozoology. Local people. South Sorong Regency PENDAHULUAN Pulau Papua, sebagai bagian dari wilayah New Guinea, merupakan salah satu kawasan megabiodiversitas utama di dunia yang menyimpan kekayaan flora dan fauna yang luar Berdasarkan data dari Woxvold et al. , wilayah ini menjadi rumah bagi lebih 800 spesies vertebrata, termasuk lebih dari 250 spesies yang bersifat endemik. Salah satu spesies endemik yang menarik perhatian dalam kajian zoologi adalah Dorcopsis muelleri yang secara lokal dikenal sebagai walabi atau kanguru tanah. Hewan ini termasuk dalam famili Macropodidae dan memiliki ciri khas berupa tubuh yang menyerupai kanguru kecil. Keberadaan walabi tidak hanya penting secara ekologis, namun CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 13 - 21 juga memiliki nilai budaya yang tinggi bagi masyarakat adat di Papua. Masyarakat Papua secara tradisional memanfaatkan walabi sebagai sumber protein utama. Etnozoologi merupakan disiplin dalam etnobiologi yang mempelajari pengetahuan masyarakat tentang hewan dalam konteks budaya dan ekologis Bello-Romyn & Solys, . Kajian ini mencakup persepsi lokal terhadap fauna, identifikasi dan klasifikasi taksonomi informal, serta interaksi manusia dengan hewan, termasuk kepercayaan simbolik dan spiritual. Selain itu, etnozoologi meneliti penggunaan dan pengelolaan sumber daya hewan dalam praktik tradisional, termasuk pemahaman masyarakat mengenai pola pemanfaatan dan reproduksi hewan. Dengan demikian, disiplin ini membantu menjembatani pengetahuan budaya masyarakat dengan pengelolaan dan konservasi fauna. Ketertarikan pengetahuan lokal ini membantu membentuk pola reproduksi, pemanfaatan, dan konservasi fauna, dan terus relevan dalam pelbagai konteks historis dan kontemporer Stevenson, . Etnozoologi merupakan disiplin etnobiologi yang memperluas pemahaman kita mengenai sumber daya alam dan peran hewan khususnya satwa liar dalam ekosistem suatu wilayah berdasarkan interaksi dan pengetahuan masyarakat setempat. Kajian ini mencakup pemanfaatan tradisional, pengelolaan, dan konservasi satwa liar di kawasan tertentu (Sunarminto et al. , 2023. Trias Jaya et al. Masyarakat mengenal walabi melalui . ocal knowledg. yang mencakup nama lokal dan maknanya, ciri morfologi seperti warna bulu, ukuran tubuh, ekor, dan kaki, cara membedakan jantanAebetina atau dewasaAeanakan, habitat yang ditempati, serta tanda keberadaan satwa seperti jejak, kotoran, suara, dan waktu aktif, walabi memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat baik sebagai sumber pangan, unsur budaya dan adat, aturan perburuan, maupun kontribusi ekonomi, serta dipandang sebagai satwa penting yang harus dijaga karena nilai sosial, budaya, dan hubungannya dengan kelestarian hutan sebagai Kadang, dkk . Praktek perburuan suku Kanum di Papua: kombinasi metode tradisional dan modern serta seleksi target berburu sesuai kepercayaan masyarakat. Hasil penelitian menunjukan mengungkapkan bahwa satwa diburu digunakan untuk dikonsumsi, aktivitas sosial budaya serta produk asal satwa diperjualbelikan dalam skala kecil. Hewan buruan pada kedua kampung tersebut dari tiga kelas yaitu Mamalia . abi hutan, rusa, kuskus dan tikus tana. Aves . aleo, kasuari dan mambru. serta kelas Reptil . oa-so. Produk asal satwa yang diperjualbelikan berasal dari bulu burung kasuari, mambruk dan maleo yang digunakan sebagai hiasan kepala yang akan digunakan pada upacara adat seperti kelahiran dan kematian serta upacara permohonan agar berhasil dalam berburu. Produk satwa yang berasal dari mamalia, misalnya kulit kuskus dan gigi babi hutan digunakan untuk asesoris pakaian adat, sedangkan kulit soa-soa digunakan untuk membuat tifa. Informasi dari masyarakat Distrik Moswaren, walabi D. muelleri banyak ditemui, namun belum terdokumentasi secara akademik tentang studi etnozoologinya. Informasi tersebut perlu dilakukan studi etnozoologinya untuk menggambarkan adanya interaksi yang keanekaragaman hayati setempat. Penelitian ini menggabungkan aspek biologi dan sosial ini diharapkan mampu memberikan kontribusi pada pelestarian keanekaragaman hayati berbasis kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji cara memperoleh D. muelleri dan bentuk pemanfaatannya oleh masyarakat di Kabupaten Sorong Selatan serta mengkaji persepsi masyarakat tentang jenis hewani. MATERI DAN METODE Penelitian dilakukan di bulan Juni dan Agustus 2024 di Kabupaten Sorong Selatan pada Distrik Teminabuan. Seremuk. Konda. Wayer. Saifi. Sawiat. Fokour. Moswaren. Inanwatan. Kais. Kokoda Utara. Kais Darat. Salkma dan Metemani . Tempat penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode sampling melalui wawancara semistruktural CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 13 - 21 menggunakan kuisioner. Responden yang dipilih adalah sebagai seluruh pemburu mamalia yang ada di setiap kampung. Untuk mendapatkan informasi tentang pemburu mamalia menggunakan metode snowball sampling, dimana kepala desa sebagai responden pertama. Variabel dalam penelitian ini meliputi data responden, pengetahuan responden terhadap D. muelleri, karakteristik morfologinya serta fungsi walabi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Data dianalisis dengan menggunakan tabulasi. Data disajikan dalam bentuk dan bentuk gambar. Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Data Responden dan Karakteristik D. Responden yang berburu mamalia berjumlah 26 orang. Sebagian besar . ,3%) berasal dari suku asli Papua dan lainnya berasal dari suku Timor sebesar 7,7%. Semua Pendidikan tertinggi pada Perguruan Tinggi sebanyak 7,7%. SMA sebanyak 84,6% dan SMP sebanyak 7,7%. Hal ini berbeda dengan penelitian Abutalib dkk. , pemburu mamalia di Teluk Wondama paling banyak berpendidikan SD dan pendidikan tertinggi pada tingkat SMP. Kisaran umur responden 23 - 54 tahun dengan rata-rata umur responden 35 tahun. Umur tersebut merepresentasikan kelompok usia produktif dengan pengalaman adat yang cukup matang. Kelompok usia yang dominan 30- 40 tahun dan tingkat pendidikan SMA memegang peranan penting dalam pelestarian dan pewarisan pengetahuan etnozoologi . Tidak ada pemburu yang masih bersekolah. Temuan ini sejalan dengan Nur Abutalib dkk. yang melaporkan bahwa aktivitas perburuan mamalia dilakukan oleh kelompok usia dewasa yang memiliki peran sosial dan adat yang kuat, meskipun terdapat variasi tingkat pendidikan formal di antara pemburu. Menurut informasi dari pemburu mamalia D. muelleri dapat ditemui pada hampir seluruh distrik yang ada di Kabupaten Sorong Selatan. Dari 15 Distrik, hanya di distrik Kokoda. muelleri tidak dapat ditemui karena pada daerah tersebut banyak sungai dan anak sungai, yang menjadi jalur transportasi utama masyarakat. Kondisi ini membuat beberapa wilayah rawan banjir musiman, terutama saat curah hujan tinggi. Empat belas distrik tersebut berada di dataran Hal ini sesuai dengan pendapat (IUCN, 2. , penyebaran D. muelleri pada Papua bagian barat pada dataran rendah. Daerah CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 13 - 21 penyebaran D. muelleri dapat dilihat pada Gambar 2. Walabi D. muelleri dalam bahasa lokal (Maybra. disebut wakef. Secara ilmiah D. muelleri masuk dalam famili Macropodidae, yang berarti memiliki kaki belakang yang sangat besar dan memanjang serta dilengkapi dengan ekor berukuran panjang. Gambar 2. Penyebaran D. muelleri (IUCN,2. Pada penelitian ini, jari kaki belakang berjumlah tiga, dimana jari kedua dan ketiganya menyatu dan tidak memiliki jari Jari kaki bagian depan berjumlah lima. Genus Dorcopsis, termasuk Dorcopsis muelleri, dicirikan oleh ujung ekor sepanjang sekitar 1/5 dari total panjangnya yang botak . anpa rambu. , sementara area rambut di ujung ekor umumnya bertektur kasar. Muelleri, yang dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai walabi hutan coklat atau Aubrown forest wallabyAy. Dorcopsis muelleri, dikenal umum sebagai . alabi hutan cokla. , merupakan marsupial dari keluarga Macropodidae yang tersebar di dataran rendah New Guinea Barat dan pulau-pulau sekitarnya Mammal Diversity Database, . Yang betina memiliki kantung sedangkan jantan tidak memiliki Gambar D. muelleri hasil buruan masyarakat dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Walabi (Dorcopsis mueller. hasil buruan kampung Tokas CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 13 - 21 Menurut IUCN . , status konservasi muelleri di alam adalah AuLeast concernAy, yang berarti statusnya masih aman karena penyebarannya luas dan diduga populasinya masih banyak. Satwa ini merupakan endemik Papua. Status endemis D. muelleri belum diketahui oleh para pemburu, namun mereka kagum karena di lingkungan mereka ada hewan yang tidak dapat ditemui di luar Papua. Mereka tidak khawatir hewan tersebut akan punah karena di alam masih banyak ditemui. Dari hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa belum terdapat peraturan daerah (Perd. maupun peraturan kampung (Perka. yang secara tegas mengatur praktik perburuan atau pengambilan satwa liar. Aktivitas Perburuan Aktivitas perburuan di Papua tetap bersifat subsistensial dan sangat bergantung pada alat tradisionalAiseperti tombak, perangkap, busur-panah, dan anjing pemburuAi untuk mempertahankan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan. Penelitian terbaru mencatat bahwa komunitas lokal mematuhi hukum adat . yang membatasi waktu, lokasi, dan target perburuan demi menjaga keseimbangan ekologis dan sosial Pattiselanno et al. , . Perburuan walabi oleh Masyarakat lokal di Sorong Selatan menggunakan berbagai teknik tradisional, seperti berburu dengan bantuan anjing, pemasangan jerat dari tali, hingga pemanfaatan sagu pele atau merupakan batang sagu yang dibiarkan membusuk dan dimanfaatkan sebagai umpan alami untuk menarik satwa liar dalam kegiatan perburuan tradisional masyarakat. sebagai umpan alami. Penggunaan alat-alat ini mencerminkan pengetahuan ekologi masyarakat dan bentuk Setiap melakukan perburuan, pemburu selalu membawa anjing, jumlahnya 1-4 ekor. Anjing berfungsi untuk mendeteksi, melacak, dan mengejar satwa, dimana anjing tersebut telah dilatih secara khusus untuk mengenali bau, jejak, dan suara hewan buruan. Pemburu juga menggunakan jerat, yang dibuat dari bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar mereka, misalnya dibuat dari rotan atau serat alami atau tali, serta potongan dahan. Sebelum pemasangan jerat, pemburu mencari tempat yang sering dilewati kanguru ditandai dengan jejak kaki dan kotorannya. Pemasangan jerat tambah info dari mamberamo disamarkan dengan tumpukan daun dan menggunakan sesuai warna tanah. Jerat dibuat dari ranting pohon yang panjangnya k. l 1-2 meter. Ranting tersebut diberi tali dari kulit kayu atau nilon. Selesai dilengkapi dengan tali maka kayu bagian yang berukuran besar ditanam ke dalam tanah lalu ujungnya dibengkokkan dan tali pada ujung bambu atau kayu tersebut dikaitkan pada sepotong kayu yang telah disiapkkan. Jika hewan menginjak kayu tersebut maka kakinya terikat dan terangkat ke atas. Pemasangan jerat dilakukan pada sore hari dan akan dilihat kembali pada pagi hari berikut. Pada sekitar areal jerat diletakan umpan sagu pele sebagai Pemasangan jerat dan bentuk jerat dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Pemburu sedang memasang jerat dan b. model jerat tali yang digunakan untuk berburu CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 13 - 21 Setiap berburu D. muelleri, pemburu selalu membawa anjing karena anjing akan menggonggong bila mengetahui ada D. muelleri di sekitar mereka. Perburuan menggunakan anjing juga dilakukan oleh pemburu mamalia di kampung Pasir Putih Fakfak Iyai dkk. , . Tamrau berburu dengan anjing dan tanpa anjing Pattiselanno et al. , . Perubahan adaptif Sawaki et al. , . Selain itu, kajian eksploratif menyeluruh terhadap Hubungan Masyarakat Adat Papua Arobaya et al. , . bahwa berburu adalah sumber protein utama dan juga berperan dalam identitas budaya, sekaligus membuka peluang ekonomi di lokalSeringkali menggunakan senapan angin dan ditemani oleh Masyarakat memilih menggunakan senapan angin karena akurasi dan daya jangkau lebih baik. Sebaliknya masyarakat di Tambrauw berburu tanda menggunakan anjing maupun senapan angin memperoleh hewan hewan buruan lebih banyak . ,70 vs 0,38 per ja. Pattiselanno et al. , . Dalam kajian etnozoologi, penggunaan alat tradisional dan modern mencerminkan perpaduan antara pengetahuan tradisional dan adaptasi terhadap alat modern. Meskipun senapan bukan alat tradisional, dalam praktik berburu dan tetap disesuaikan dengan norma adat seperti batasan musim berburu dan jenis hewan yang boleh Dalam melakukan perburuan dapat dilakukan secara individu atau berkelompok. Bila hanya untuk kebutuhan keluarga, perburuan dilakukan secara mandiri. Bila untuk keperluan pesta adat, maka mereka berburu secara kelompok. Jumlahnya sekitar 2-5 orang. Studi etnografi kontemporer menunjukkan bahwa di berbagai komunitas Papua, pemburu mamalia seperti rusa, babi hutan, kakatua, dan kasuari mempraktikkan perburuan yang bersifat fleksibel terkait jumlah anggota kelompok Di Kabupaten Asmat, suku Nduga juga berburu kasuari baik secara individu maupun kelompok, memilih metode seperti jerat leher/lelong-an, busur-panah, parang, atau bantuan anjing berburu, dengan intensitas harian 1Ae3 ekor tergantung alat dan kondisi musim Rahawarin et al. , . Di daerah lain seperti Tambrauw dan pesisir Papua Barat, pemburu mamalia menggunakan keterampilan lokal dan norma tabu untuk menentukan tujuan, alat, waktu, dan wilayah berburuAiyang berpengaruh terhadap komposisi kelompok berburu dan hasil tangkapan Pattiselanno et al. , . Arobaya et al. , . Dalam berburu D. muelleri dan mamalia lainnya, mereka tidak ada pantangan kecuali di Distrik Kais, pemburu tidak di perkenankan masuk di daerah hore-hore, karena daerah tersebut daerah keramat, mayat dari nenek moyang tidak dimasukan ke dalam peti melainkan diletakan di para-para. Berburu D. muelleri dapat dilakukan kapan saja, namun mereka lebih menyukai perburuan pada musim Pemanfaatan D. Tujuan masyarakat lokal berburu D. muelleri untuk konsumsi, sumber penghasilan. maupun upacara adat. Menurut Arobaya dkk. , umumnya perburuan oleh masyarat asli Papua bertujuan untuk memperoleh sumber makanan dan meningkatan penghasilan Maturbongs . menawarkan contoh adaptasi praktik berburu domestik terhadap tekanan ekonomi dan sosial modern, dengan mempertahankan nilai budaya dan sistem konservasi lokal Untuk konsumsi, masyarakat lebih menyukai mengonsumsi daging D. Muelleri jantan karena daging lebih enak dan tidak berbau. Daging pada D. Muelleri betina lebih bau karena bila tidak benar dalam mencuci tercium bau pesing dan tidak enak yang berasal dari kantung kencing dan kantung Untuk upacara adat, daging walabi merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada saat kelahiran, pernikahan dan kematian. Satu ekor walabi dapat menghasilkan daging 5 Ae 12 kg. Daging walabi juga diperjualbelikan, dengan harga berkisar Rp 200. 000,- - Rp 000,-, tergantung ukuran tubuh walabi. Menurut masyarakat, daging walabi . anguru tana. lebih enak dibandingkan dengan kanguru pohon karena rasa dagingnya lebih enak dan teksturnya lebih lembut. Cara pengolahan walabi dilakukan dengan berbagai Sebelum diolah, walabi tersebut dibakar dahulu di atas bara api atau menggunakan batu panas sampai kulitnya terlihat sudah berubah warna lalu dibersihkan permukaan kulitnya CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 13 - 21 dengan menggunakan pisau agar bersih dari rambut D. muelleri yang masih menempel. Proses pembakaran kanguru dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Seorang Pemuda sedang membakar walabi. Dua orang pemuda sedang memotong walabi yang telah dibakar Setelah dibakar, walabi disayat bagian tengahnya untuk mengeluarkan isi perutnya. Setelah dibersihkan isi perutnya, daging dipotong kecil-kecil untuk diolah, untuk ditumis atau diasar. Bila untuk acara adat daging dapat dimasak dengan santan. Bumbu dasar tumis dan santan yaitu bawang merah, bawang putih, cabe kecil, kemangi, jahe dan Bumbu tersebut dihaluskan. Proses memasak menggunakan bara api, dimulai dengan menumis bumbu dengan minyak goreng sampai tercium bau harum, lalu masukan daun salam, kemangi dan sereh serta potongan daging, diaduk supaya bumbu merata lalu masukan air sedikit atau santan. Bila daging walabi akan disimpan. Cara pengolahan daging satwa liar juga sama seperti yang dilakukan di Teluk Wondama Nurhaidah dkk, . Cara pengolahan walabi tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6. Hasil olahan makanan walabi untuk konsumsi sehari-hari Bila daging walabi tersebut akan diawetkan sehingga dapat disimpan lama, maka dilakukan pengasapan atau diasar. Cara pengasapan dimulai dengan memotong daging walabi berukuran kecil. Daging tersebut ditusuk ke dalam tali rotan atau dibakar di atas bara api yang telah diberi alas dari pelepah daun kelapa. CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 13 - 21 KESIMPULAN Etnozoologi masyarakat di Sorong Selatan terhadap D. muelleri menunjukkan bahwa tidak seorang pun pemburu mengetahui bahwa muelleri adalah satwa endemik karena walabi ini tersedia dalam jumlah banyak di dalam hutan dan belum ada peraturan daerah (Perd. maupun peraturan kampung (Perka. yang mengatur praktik perburuan satwa liar. Karakteristik D. muelleri memiliki rambut berwarna coklat. Seperlima bagian ujung ekor tidak berambut dan rambut pada ekor kasar. Jari kaki bagian depan berjumlah lima sedangkan jari kaki belakang berjumlah tiga. Aktivitas perburuan bersifat subsistens yang sangat bergantung pada alat buru tradisional, dengan menggunakan bantuan anjing dan Bahan perangkat yang digunakan berasal dari bahan yang tersedia di dalam hutan. Selain alat buru tradisional, masyarakat juga menggunakan alat modern yaitu senapan Perburuan D. muelleri tidak dilakukan dalam jumlah banyak, hanya untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dan kebutuhan ekonomi keluarga, dan sesekali diburu untuk kegiatan upacara adat. Perburuan dilakukan secara perseorangan maupun kelompok. Daging D. muelleri diolah dengan menggunakan bahan alami, baik yang ditumis maupun menggunakan santan. Sebelum diolah, walabi tersebut dibakar dahulu di atas bara api atau menggunakan batu panas sampai kulitnya terlihat sudah berubah. DAFTAR PUSTAKA UCAPAN TERIMA KASIH