Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Peran Fear of Missing Out (FoMO) Sebagai Moderator Antara Kesejahteraan Subjektif dengan Narsisme pada Dewasa Muda Pengguna Instagram Daffa Aulia Zulfa1. Sandi Kartasasmita2 Universitas Tarumanagara 705200002@stu. id, sandik@fpsi. ABSTRACT Social media are a forum for people to search for and share information in the form of writing, videos and images. The presence of social media has given rise to a digital anxiety known as Fear of Missing Out (FoMO). One of the popular applications is Instagram. Considering the large number of users of the Instagram application, researchers are interested in conducting research on the role of Fear of Missing Out (FoMO) as a moderator between Subjective WellBeing and narcissism in young adult Instagram users. The research was conducted using a nonprobability sampling method . urpose samplin. and respondents aged 20-30 years used the Google Form platform. Data processing uses SPSS with reliability test parameters. Based on the results of data analysis, there is a negative and significant relationship between Subjective WellBeing and Fear of Missing Out (FoMO) and there is a positive and significant relationship regarding the relationship between narcissism and FoMO among Instagram users among young adults aged 20- 30 years. The results of this research are that FoMO is not related to SWB, while Narcissism can be a moderator of the respondent's Fear of Missing Out (FoMO) trend. Keywords: Instagram. FoMo. Subjective Well-Being, narcissism ABSTRAK Media sosial merupakan wadah bagi masyarakat dalam mencari dan berbagi informasi dalam bentuk tulisan, video, maupun gambar. Kehadiran media sosial telah memunculkan rasa cemas digital yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FoMO). Salah satu aplikasi yang digemari yaitu Instagram. Mengingat akan banyaknya pengguna aplikasi Instagram, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang peran Fear of Missing Out (FoMO) sebagai moderator antara kesejahteraan subjektif dengan narsisme pada dewasa muda pengguna Instagram. Penelitian dilakukan dengan metode non-probability sampling . urpose samplin. dan responden rentang usia 20-30 tahun yang menggunakan platform Google Form. Pengolahan data menggunakan SPSS dengan parameter uji reliabilitas. Berdasarkan hasil analisis data, terdapat hubungan negatif dan signifikan antara kesejahteraan subjektif (Subjective Well-Bein. dengan Fear of Missing Out (FoMO) dan terdapat hubungan poitif ddan signifikan mengenai hubungan narsisme dengan FoMO pada pengguna Instagram di kalangan dewasa muda dengan rentang usia 20-30 tahun. Hasil dari penelitian ini yaitu. FoMO tidah berhubungan dengan SWB, sedangkan Narsisme dapat menjadi moderator terhadap terhadap trend Fear of Missing Out (FoMO) responden. Kata kunci: Instagram. FoMo,Kesejahteraan Subjektif, narsisme 1916 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. PENDAHULUAN Media sosial atau sosmed adalah platform komunikasi masa kini yang populer dan banyak digunakan oleh kalangan dewasa muda sebagai alat komunikasi di dunia Menurut We Are Social dalam (Simon Kemp, 2. , setiap harinya orang Indonesia menghabiskan waktu di internet selama 7 jam 42 menit dengan rata-rata waktu menggunakan media sosial selama 3 jam 18 menit. Instagram merupakan platform media sosial yang paling banyak digunakan oleh generasi muda di Indonesia. Menurut data yang disajikan oleh (Napoleon Cat, 2. terdapat sekitar 109,33 juta orang pengguna Instagram di Indonesia pada bulan April 2023. Saat ini, masyarakat Indonesia semakin banyak yang aktif menggunakan platform media sosial sebagai hasil dari kemajuan teknologi untuk berinteraksi satu sama lain (Cahyono, 2. Jumlah pengguna media sosial terus meningkat dari tahun-ke tahun dibuktikan oleh laporan We Are Social pada tahun 2021 sebanyak 170 juta orang, tahun 2022 sebanyak 191,4 juta. Kehadiran media sosial telah memunculkan rasa cemas digital yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FoMO), di mana individu merasa khawatir secara kompulsif bahwa setiap individu akan melewatkan kesempatan untuk terlibat dalam interaksi sosial, tertinggal momen berharga, atau merasakan peristiwa lain yang Orang yang mengalami FoMO tinggi cenderung aktif mencari peluang untuk terus terlibat dalam media sosial. Pada kalangan remaja, hal ini terkait dengan kesejahteraan subjektif atau Subjective Well-Being (SWB) individu (Sianipar et al. Pengguna media sosial di Indonesia paling banyak yaitu dewasa muda, berdasarkan klasifikasi menurut (D. Papalia et al. , 2. , yang merupakan individu yang berusia dari 18 tahun hingga 40 tahun. Menurut (Jenny Basiroen dan Hapsari, 2. , dewasa muda masih belum dapat mengontrol emosinya dengan baik. Dewasa muda juga masih kurang dalam stabilitas dan kontrol diri sehingga memiliki kecenderungan untuk mengalami FoMO. Individu yang mengalami FoMO sengaja mengikuti apa yang sedang terkenal agar merasa stabil karena memiliki perilaku yang sama dalam satu kelompok (Lijun Kang et al. , 2. Przybylski et al. , . , menyatakan bahwa individu yang mengalami FoMO dapat disebabkan karena suasana hati, pemuasan kebutuhan, dan kepuasan hidup yang rendah. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh (Australian Psychological Society, 2. , remaja mengakses media sosial, termasuk Instagram, sebanyak lima kali atau lebih setiap harinya. Media sosial menyumbang sebagian besar waktu yang dihabiskan remaja, bahkan saat akan tidur, mengemudi, makan, berjalan, atau ketika berada dalam kelas. Ketika remaja tidak dapat mengakses informasi dari media sosial yang digunakan, ini dapat menimbulkan perasaan ketakutan dan kekhawatiran (Abel dan Buff, 2. Selain kecemasan digital (FoMO), dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan sosial media dapat menyebabkan kecenderungan para dewasa muda melakukan perilaku narsistik. Nevid . alam Apriliani, 2. , mendefinisikan narsisme atau sifat narsis sebagai cinta diri yang terlalu berfokus pada diri sendiri, memiliki keyakinan yang berlebihan tentang diri sendiri, seperti fantasi tentang kekuatan dan keberhasilan, atau cinta ideal atau pengakuan akan kepandaian atau kecerdasan. Dalam penelitian 1917 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. yang dilakukan oleh (Thiro et al. , 2. , dengan melibatkan 737 sampel, ditemukan hasil korelasi sebesar -0,548 antara harga diri dan narsisme, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 . <0,. Korelasi ini menunjukkan adanya hubungan yang berlawanan arah, artinya semakin rendah harga diri seseorang, semakin tinggi perilaku narsisme yang dimiliki, dan sebaliknya. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan adanya hubungan positif dan negatif antara harga diri dan narsisme. Selanjutnya, penelitian juga mencatat bahwa siswa dan mahasiswa. yang aktif menggunakan media sosial dan memiliki harga diri yang tinggi cenderung memiliki perilaku narsisme yang rendah. Meskipun begitu, ditemukan. pula bahwa individu dengan harga diri tinggi dapat memiliki tingkat perilaku narsisme yang tinggi, sehingga ada hubungan positif antara kedua variabel tersebut Davila dkk. , 2012. (Herianto, 2. , mengemukakan bahwa kurangnya interaksi sosial pada kalangan remaja bisa mengakibatkan timbulnya gejala depresi. Dalam konteks yang sama, (Abidah dan Aziz, 2. juga mencatat bahwa tereksposnya individu pada materi- materi negatif di media sosial bisa memperkuat distorsi kognitif individu terkait perbandingan dengan orang lain. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Ema et al. , 2. , sejumlah besar responden, sekitar setengah dari mereka . %), tampaknya lebih cenderung mengalami stres akibat ketidaktercapaian keinginan dan harapan mereka. Menurut penelitian (Fazrian Thursina, 2. , meskipun keadaan kesehatan mental siswa dalam kategori sedang dilihat dari model penelitian yakni 53% . edia sosial terhadap kesehatan menta. akan tetapi ini menjadi penting karena masa remaja adalah masa transisi. Gangguan kecemasan, stress, depresi dan kesepian merupakan dominan dalam usia remaja sehingga perlu terus dilakukan berbagai upaya pencegahan untuk bijak melakukan media sosial. Berdasarkan paparan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang peran Fear of Missing Out (FoMO) sebagai moderator antara kesejahteraan subjektif dengan narsisme pada dewasa muda pengguna Instagram. Penelitian ini menjadi penting karena belum ada penelitian yang dilakukan di lokasi dan responden penelitian yang dipilih. Dengan dasar penelitian juga didapatkan rumusan masalah yang akan menjadi poin penting, yaitu AuApakah ada kaitan antara Penggunaan Instagram terhadap trend Fear of Missing Out (FoMO) sebagai moderator terhadap kesejahteraan subjektif dan narsisme di Kalangan Dewasa Muda?Ay. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi apakah terdapat hubungan antara penggunaan Instagram dengan tren Fear of Missing Out (FoMO) sebagai moderator terhadap kesejahteraan subjektif dan tingkat narsisme di kalangan dewasa muda. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif yang bersifat Lebih lanjut, penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian korelasional, di mana fokusnya adalah menggambarkan hubungan atau kaitan antara penggunaan Instagram, trend Fear of Missing Out (FoMO), perilaku narsisme, dan kesejahteraan subjektif di kalangan dewasa muda. Dengan merinci,penelitian ini melibatkan tiga variabel utama, yakni Fear of Missing Out (FoMO), kesejahteraan 1918 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. subjektif, dan narsisme. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan penelitian ini berlangsung dari bulan September hingga Desember 2023, melibatkan pemberian kuesioner kepada responden. Responden penelitian terdiri dari individu laki-laki dan perempuan dalam rentang usia 20-30 tahun, yang tinggal di daerah JABODETABEK (Jakarta. Bogor. Depok. Tangerang, dan Bekas. , serta aktif menggunakan platform media sosial Instagram. Skala penilaian diterapkan melalui Google Form yang disebar melalui media sosial seperti Instagram. WhatsApp, dan X. Total responden yang berhasil dikumpulkan mencapai 209 orang. Dalam pengisian kuesioner, tidak ada jawaban yang dianggapbenar atau salah. jawaban diterima sesuai dengan situasi dan kondisiresponden. Gambaran Variabel Penelitian Gambaran Variabel Subjective Well-Being Variabel Subjective Well-Being menggunakan skala 1 sampai 3, yaitu paham, kurang paham, dan tidak paham. Nilai tengah yang dimiliki alat ukur ini adalah Berdasarkan analisis statistik deskriptif yang dilakukan oleh peneliti, nilai darirata-rata variabel Subjective Well-Being responden di penelitian ini berada di atas nilai tengah, yaitu sebesar 2,46 yang berarti responden memiliki tingkat Subjective Well-Being yang baik. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa responden pada penelitian ini memiliki perasaan puas dengan hidup yang telahdievaluasi dari aspek kognitif dan kebahagiaan yang dinilai berdasarkan emosi positif. Table 1. Gambaran Variabel Subjective Well-Being Variabel Keterangan Subjective Well-Being 2,46 0,53 Tinggi (M>. Gambaran Variabel Fear of Missing Out Variabel Fear of Missing Out menggunakan skala 1 sampai 5, yaitu sangat setuju, tidak setuju, ragu-ragu, setuju, dan sangat setuju. Nilai tengah yang dimiliki alat ukur ini adalah 3. Berdasarkan analisis statistik deskriptif yang dilakukan oleh peneliti, nilai dari rata-rata variabel Fear of Missing Out responden di penelitian ini berada di bawah nilai tengah, yaitu sebesar 2,67 yang berarti responden memiliki tingkat Fear of Missing Out yang tergolong cukup rendah. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa responden pada penelitianini tidak merasa cemas terkait ketidak mampuan mengikuti informasi orang laindan juga tidak menggunakan media sosial secara berlebihan. 1919 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Table 2. Gambaran Variabel Fear of Missing Out Variabel Keterangan Fear of Missing Out 2,67 0,79 Rendah (M<. Gambaran Variabel Narsisme Variabel Narsisme menggunakan skala 1 sampai 6, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, cukup tidak setuju, cukup setuju, setuju, dan sangat setuju. Nilai tengah yang dimiliki alat ukur ini adalah 3,5. Berdasarkan analisis statistikdeskriptif yang dilakukan oleh peneliti, nilai dari rata-rata variabel Narsisme responden di penelitian ini berada di bawah nilai tengah, yaitu sebesar 3,46 yang berarti responden memiliki tingkat Narsisme yang tergolong cukup rendah. Pada dimensi pertama yaitu tingkat Grandiose responden tergolong cukup rendah karena memiliki nilai mean sebesar 3,16. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa responden tidak melebih-lebihkan prestasi dan bakat, responden juga tidak merasa superior sehingga tidak membutuhkan oerhatian berlebih dari orang lain. Pada dimensi kedua yaitu tingkat Vulnerable respondentergolong cukup tinggi karena memiliki nilai mean sebesar 3,76. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa responden pada penelitian ini cenderung takut dengan penolakan, khawatir yang berlebih, dan gelisah. Table 3. Gambaran Variabel Narsisme Dimensi Keterangan Grandiose 3,16 0,92 Rendah (M<3,. Vulnerable 3,76 0,86 Tinggi (M>3,. Analisis data Utama Uji Korelasi antara Fear of Missing Out dengan Subjective Well-Being Peneliti memiliki hipotesis bahwa ada hubungan antara Fear of Missing Out dengan Subjective Well-Being pada pengguna Instagram di kalangan dewasa muda. Maka, untuk mengetahui apakah ada hubungan statistik antara dua variabel yang digunakan, peneliti menggunakan Uji Korelasi Spearman. Hasil uji korelasi antar variabel Fear of Missing Out dan Subjective Well-Being menunjukkan bahwa r = -0,036, p = 0,605 . >0,. dengan demikian tolak H1, artinya tidak ada hubungan negatif dan signifikan antaraFear of Missing Out dengan Subjective WellBeing pada pengguna Instagramdi kalangan dewasa muda . erima H. 1920 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Table 4. Hasil Uji Korelasi Variabel Fear of Missing Out dengan Subjective Well Being Variabel Keterangan Fear of Missing Out -0,036 0,605 Tidak ada hubungan yang negatif dan Signifikan Subjective Well Being Uji Korelasi antara Fear of Missing Out dengan Narsisme Pada penelitian ini, peneliti juga memiliki hipotesis bahwa ada hubungan antara Fear of Missing Out dengan Narsisme pada pengguna Instagram di kalangan dewasa muda. Maka, untuk mengetahui apakah ada hubungan statistik antara dua variabel yang digunakan, peneliti menggunakan Uji Korelasi Spearman. Hasil uji korelasi antar variabel Fear of Missing Out dan Narsisme menunjukkan bahwa r = 0,548, p = 0,000 . <0,. dengan demikian tolak H0, artinya ada hubungan positif dan signifikan antara Fear of Missing Out dengan Narsisme pada pengguna Instagram di kalangan dewasa muda . erima H. Hubungan positif berarti semakin tinggi tingkat Fear of Missing Out yang dimiliki oleh responden penelitian, maka semakin tinggi juga tingkat Narsisme yang dimiliki oleh responden. Begitu juga sebaliknya, jika responden memiliki tingkat Fear of Missing Out yang rendah, maka tingkat Narsisme responden juga rendah. Berdasarkan hasil uji korelasi, didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,548, hal ini berarti bahwa Fear of Missing Out memiliki hubungan yang kuat dengan Narsisme pada responden penelitian ini. Table 5. Hasil Uji Korelasi Variabel Fear of Missing Out dengan Narsisme Variabel Keterangan Fear of Missing Out 0,0548 0,000 Terdapat hubungan yang positif dan Signifikan Narsisme Analisis Data Tambahan Uji Beda Fear of Missing Out Berdasarkan Jenis Kelamin Uji perbedaan variabel Fear of Missing Out berdasarkan jenis kelamin dilakukanmenggunakan independent sample t-test. Berdasarkan data yang diperoleh, hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat Fear of Missing Out antara laki-laki dan perempuan, dengan F = 0,822 dan p = 0,366. ig > 0,. Table 6. Uji Beda Fear of Missing Out Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki 0,366 Perempuan 27,85 0,366 1921 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Uji Beda Subjective Well-Being Berdasarkan Jenis Kelamin Uji perbedaan variabel Subjective Well-Being berdasarkan jenis kelamin dilakukan menggunakan independent sample t-test. Berdasarkan data yang diperoleh, hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikandalam tingkat Subjective Well-Being antara laki-laki dan perempuan, dengan F = 0,715 dan p = 0,399 . ig > 0,. Table 7. Hasil Uji Beda Subjective Well-Being Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki 51,96 0,399 Perempuan 55,49 0,399 Uji Beda Narsisme Berdasarkan Jenis Kelamin Uji perbedaan variabel Narsisme berdasarkan berdasarkan jenis kelamin dilakukan menggunakan independent sample t-test. Berdasarkan data yang diperoleh, hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat Narsisme antara laki-laki dan perempuan, dengan F = 0,002 dan p =0,969 . ig > 0,. Table 8. Hasil Uji Beda Narsisme Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki 0,969 Perempuan 72,72 0,969 Uji Beda Fear of Missing Out Berdasarkan Usia Uji perbedaan variabel Fear of Missing Out berdasarkan usia dilakukan dengan menggunakan one way ANOVA, pada data yang diperoleh hasil p = 0,169 > 0,05. Hasilnya menunjukkan bahwa variabel Fear of Missing Out rata-rata sama antara usia 20 dan 30 tahun. Responden berusia 20 tahun memiliki tingkat Fear of Missing Out yang lebih tinggi dengan nilai mean 29,42 dan responden berusia 30 tahun memiliki tingkat Fear of Missing Out yang lebih rendah, dengan nilai mean 22,5. Table 9. Hasil Uji Beda Fear of Missing Out Berdasarkan Usia Usia 29,42 0,169 25,22 0,169 25,78 0,169 27,79 0,169 0,169 1922 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. 0,169 24,25 0,169 0,169 27,71 0,169 25,14 0,169 0,169 Uji Beda Subjective Well-Being Berdasarkan Usia Uji perbedaan variabel Subjective Well-Being berdasarkan usia dilakukan dengan menggunakan one way ANOVA, pada data yang diperoleh hasil p = 0,05. Hasilnya menunjukkan bahwa variabel Subjective Well-Being rata-rata berbeda antara usia 20 dan 30 tahun. Responden berusia 26 tahun memiliki Subjective WellBeing yang paling tinggi dengan nilai mean 61 dan responden berusia 30 tahun memiliki Subjective Well-Being yang paling rendah, dengan nilai mean 42,4. Table 10. Hasil Uji Beda Subjective Well-Being Berdasarkan Usia Usia 54,02 55,42 0,05 0,05 57,73 0,05 54,27 0,05 50,92 0,05 52,76 0,05 0,05 55,62 0,05 51,21 0,05 57,42 0,05 0,05 Uji Beda Narsisme Berdasarkan Usia Uji perbedaan variabel Narsisme berdasarkan usia dilakukan dengan menggunakan one way ANOVA, pada data yang diperoleh hasil p = 0,018 < 0,05. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat Narsisme rata-rata berbeda antara usia 20 hingga 30 tahun. Responden berusia 20 tahun memiliki tingkat Narsisme yang paling tinggi dengan nilai mean 79,37 dan responden berusia 24 tahun memiliki Narsisme yang paling rendah, dengan nilai mean 63,35. 1923 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Table 11. Hasil Uji Beda Narsisme Berdasarkan Usia Usia 79,37 68,15 67,93 63,35 68,61 70,25 0,018 0,018 0,018 0,018 0,018 0,018 0,018 70,81 0,018 68,21 0,018 64,57 0,018 0,018 Uji Beda Fear of Missing Out Berdasarkan Frekuensi Mengakses Instagram Uji perbedaan variabel Fear of Missing Out berdasarkan frekuensi mengakses Instagram dilakukan dengan menggunakan one way ANOVA, pada data yangdiperoleh hasil p = 0,000 < 0,05. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat Fear of Missing Out rata-rata berbeda antara responden yang mengakses Instagram 1-2 kali/hari hingga tidak mengakses Instagram setiap hari. Responden yang mengakses Instagram setiap saat memiliki tingkat Fear of Missing Out yang palingtinggi dengan nilai mean 29,32 dan responden yang tidak mengakses Instagram setiap saat memiliki tingkat Fear of Missing Out yang paling rendah, dengan nilai mean 21,26. Table 12. Hasil Uji Beda Fear of Missing Out Berdasarkan Frekuensi Mengakses Instagram Frekuensi mengakses Instagram 1-2 kali/hari 24,67 0,000 3-4 kali/hari 27,35 0,000 Setiap saat 29,32 0,000 Tidak mengakses Instagram setiaphari 21,26 0,000 Uji Beda Subjective Well-Being Berdasarkan Frekuensi Mengakses Instagram Uji perbedaan variabel Subjective Well-Being berdasarkan frekuensi mengaksesInstagram dilakukan dengan menggunakan one way ANOVA, pada data yang diperoleh hasil p = 0,296 > 0,05. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat Subjective Well-Being rata-rata sama antara responden yang mengakses Instagram 1-2kali/hari hingga tidak mengakses Instagram setiap hari. Responden yang tidak mengakses Instagram setiap hari memiliki tingkat Subjective Well-Being yang lebih 1924 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. tinggi dengan nilai mean 59,15 dan responden yang mengakses Instagram 1-2 kali/hari memiliki tingkat Subjective Well-Being yang lebih rendah, dengan nilai mean 53,57. Table 13. Hasil Uji Beda Subjective Well-Being Berdasarkan Frekuensi Mengakses Instagram Frekuensi mengakses Instagram 1-2 kali/hari 53,57 0,296 3-4 kali/hari 53,93 0,296 Setiap saat 53,58 0,296 Tidak mengakses Instagram setiaphari 59,15 0,296 Uji Beda Narsisme Berdasarkan Frekuensi Mengakses Instagram Uji perbedaan variabel Narsisme berdasarkan frekuensi mengakses Instagram dilakukan dengan menggunakan one way ANOVA, pada data yang diperoleh hasil p = 0,076 > 0,05. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat Narsisme rata-rata sama antara responden yang mengakses Instagram 1-2 kali/hari hingga tidak mengakses Instagram setiap hari. Responden yang setiap saat mengakses Instagram memiliki tingkat Narsisme yang lebih tinggi dengan nilai mean 72,16 dan responden yang tidak mengakses Instagram setiap hari memiliki tingkat Narsisme yang lebih rendahdengan nilai mean 6,1,63. Table 14. Hasil Uji Beda Narsisme Berdasarkan Frekuensi Mengakses Instagram Frekuensi mengakses Instagram 1-2 kali/hari 68,57 0,076 3-4 kali/hari 69,24 0,076 Setiap saat 72,16 0,076 Tidak mengakses Instagram setiaphari 61,63 0,076 Uji Beda Fear of Missing Out Berdasarkan Durasi Mengakses Instagram Uji perbedaan variabel Fear of Missing Out berdasarkan durasi mengakses Instagram dilakukan dengan menggunakan one way ANOVA, pada data yangdiperoleh hasil p = 0,004 < 0,05. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat Fear of Missing Out ratarata berbeda antara responden yang mengakses Instagram dengan durasi 1-2 jam hingga lebih dari 5 jam. Responden mengakses Instagram dengan durasi lebih dari 5 jam memiliki tingkat Fear of Missing Out yang paling tinggi dengan nilai mean 30,3 dan responden mengakses Instagram dengan durasikurang dari 1 jam memiliki tingkat 1925 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Fear of Missing Out yang paling rendah dengannilai mean 24,77. Table 15. Hasil Uji Beda Fear of Missing Out Berdasarkan Durasi Mengakses Instagram Durasi mengakses Instagram 1-2 jam 2-3 jam 3-5 jam 25,96 29,85 29,05 0,004 0,004 0,004 Kurang dari 1 jam 24,77 0,004 Lebih dari 5 jam 0,004 Uji Beda Subjective Well-Being Berdasarkan Durasi Mengakses Instagram Uji perbedaan variabel Subjective Well-Being berdasarkan durasi mengakses Instagram dilakukan dengan menggunakan one way ANOVA, pada data yangdiperoleh hasil p = 0,921 > 0,05. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat Subjective Well-Being rata-rata sama antara responden yang mengakses Instagram dengan durasi 1-2 jam hingga lebih dari 5 jam. Responden mengakses Instagram dengan durasi 1-2 jam memiliki tingkat Subjective Well-Being yang lebih tinggi dengan nilaimean 54,73 dan responden mengakses Instagram dengan durasi lebih dari 5 jam memiliki tingkat Subjective Well-Being yang lebih rendah dengan nilai mean 51,6. Table 16. Hasil Uji Beda Subjective Well-Being Berdasarkan Durasi Mengakses Instagram Durasi mengakses Instagram 1-2 jam 54,73 0,921 2-3 jam 53,45 0,921 3-5 jam 53,63 0,921 Kurang dari 1 jam 54,65 0,921 Lebih dari 5 jam 0,921 Uji Beda Narsisme Berdasarkan Durasi Mengakses Instagram Uji perbedaan variabel Narsisme berdasarkan durasi mengakses Instagram dilakukan dengan menggunakan one way ANOVA, pada data yang diperoleh hasil p = 0,282 > 0,05. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat Narsisme rata-rata sama antara responden yang mengakses Instagram dengan durasi 1-2 jam hingga lebih dari 5 jam. Responden mengakses Instagram dengan durasi 2-3 jam memiliki tingkat Narsisme yang lebih tinggi dengan nilai mean 72,55 dan responden mengakses Instagram dengan durasi kurang dari 1 jam memiliki tingkat Narsisme yang lebih rendah dengan nilai mean 66,36. 1926 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1916 -1929 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Table 17. Hasil Uji Beda Narsisme Berdasarkan Durasi Mengakses Instagram Durasi mengakses Instagram 1-2 jam 70,31 0,282 2-3 jam 72,55 0,282 3-5 jam 0,282 Kurang dari 1 jam 66,36 0,282 Lebih dari 5 jam 0,282 KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data, terdapat hubungan negatif dan signifikan antara kesejahteraan subjektif (Subjective Well-Bein. dengan Fear of Missing Out (FoMO) dan terdapat hubungan poitif ddan signifikan mengenai hubungan narsisme dengan FoMO pada pengguna Instagram di kalangan dewasa muda dengan rentang usia 20-30 tahun. Hasil dari penelitian ini yaitu. FoMO tidah berhubungan dengan SWB, sedangkan Narsisme dapat menjadi moderator terhadap terhadap trend Fear of Missing Out (FoMO) responden. SARAN Saran yang Berkaitan dengan Manfaat Teoritis Saran yang dapat diberikan peneliti terkait dengan penelitian ini yaitu untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi FoMO terhadap individu dari berbagai media sosial yang aktif karena pada penelitian ini SWB tidak memiliki pengaruh terhadap FoMO pada individu yang aktif menggunakan media sosial yang diteliti yaitu Instagram. Pada penelitian selanjutnya juga disarankan agar karakteristik responden tidak hanya dari kalangan dewasa muda saja, tetapi dapat mencoba ketahap remaja tengah dan akhir, sehingga gambaran SWB terdahap FoMO dapat dilihat tidak hanya dari kalangan dewasa muda saja, melainkan juga dilihat dari kalangan dewasa tengah dan Saran yang Berkaitan dengan Manfaat Praktis Saran yang dapat diberikan peneliti terkait penelitian ini yaitu agar individu dapat lebih bijak terhadap penggunaan media sosial, merujuk dengan manfat, tujuan, waktu, durasi, dan urgensinya sehingga penggunaan media sosial dapat memberikan menfaat bagi individu yang menggunakannya. DAFTAR PUSTAKA