BESTARI: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnalstkipmelawi. id/index. php/JBPK E-ISSN: 2746-8062 Analysis of Vocabulary Forms and Types in the Guyang Cekathak Tradition for Teaching Indonesian to Foreign Speakers (BIPA) Vita Verliana*1. Sri Surachmi2. Luthfa Nugraheni3 1,2,3Universitas Muria Kudus Abstract This study aims to describe the forms and types of vocabulary in the Guyang Cekathak tradition and its relevance in teaching Indonesian to foreign speakers (BIPA). This study uses a qualitative approach with a descriptive ethnographic method. The research was conducted in Colo Village. Dawe District. Kudus Regency. Central Java, with three informants consisting of religious leaders, village officials, and caretakers. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation. Data analysis was conducted through data reduction, vocabulary classification based on morphological form, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the vocabulary forms in this tradition included basic vocabulary, affixed vocabulary, compound words, and repeated words, with a predominance of basic vocabulary. Based on their function, the vocabulary was classified into six types, namely religious, social, objects, rituals and processions, sacred figures and places, and conceptual or descriptive. The vocabulary in the Guyang Cekathak tradition has the potential to be used as teaching material for Indonesian as a foreign language based on local culture because it helps foreign learners understand the Indonesian language as well as the culture of the local community. Keywords: Guyang Cekathak. Vocabulary. BIPA Learning. Local Culture Submitted: 5 March 2026. Reviewed: 5 March 2026. Accepted: 14 March 2026 DOI: 10. 46368/bjpd. Analisis Bentuk dan Jenis Kosakata dalam Tradisi Guyang Cekathak untuk Pembelajaran BIPA Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan jenis kosakata dalam Tradisi Guyang Cekathak serta relevansinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif etnografis. Penelitian dilakukan di Desa Colo. Kecamatan Dawe. Kabupaten Kudus. Jawa Tengah dengan tiga informan yang terdiri atas pemuka agama, perangkat desa, dan juru kunci. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, klasifikasi kosakata berdasarkan bentuk morfologis, penyajian data, dan penarikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kosakata dalam tradisi ini meliputi kosakata dasar, kosakata berimbuhan, kata gabung, dan kata ulang dengan dominasi kosakata Berdasarkan fungsinya, kosakata tersebut diklasifikasikan menjadi enam jenis, yaitu religius, sosial, benda, ritual dan prosesi, tokoh dan tempat sakral, serta konseptual atau Kosakata dalam Tradisi Guyang Cekathak berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan ajar BIPA berbasis budaya lokal karena membantu pemelajar asing memahami bahasa Indonesia sekaligus budaya masyarakat setempat. Kata Kunci: Guyang Cekathak. Kosakata. Pembelajaran BIPA. Budaya Lokal Corresponding Author: Vita Verliana, vitaverliana930@gmail. Universitas Muria Kudus. Kudus. Jawa Tengah. Indonesia 82 |Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Analysis of Vocabulary Forms and Types in the Guyang Cekathak Tradition for Teaching Indonesian to Foreign Speakers (BIPA) PENDAHULUAN Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat strategis sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara. Sejak diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana komunikasi yang mempersatukan Masyarakat Indonesia yang memiliki latar dan budaya yang beragam (Qanita et al. , 2. Kedudukan tersebut kemudian diperkuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 serta Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera. Bahasa, dan Lambang Negara yang enegaskan bahwa Bahasa Indonesia berfungsi sebagai identitas nasional dan Bahasa resmi dalam berbagai kegiatan kenegaraan. Selain itu. Pasal 44 dalam undangundang tersebut menyatakan bahwa pemerintah berkewajiban meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan (Republik Indonesia, 2. Salah satu upaya internasionalisasi bahasa Indonesia dilakukan melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Progam BIPA merupakan pembelajaran bahasa Indonesia yang ditujukan bagi penutur asing dengan perencanaan, pelaksanaan, dan strategi pembelajaran yang sistematis (Suyitno, 2. Dalam praktiknya, pembelajaran BIPA tidak hanya menekankan aspek linguistik seperti tata Bahasa dan kosakata, tetapi mengintegrasikan unsur budaya sebagai bagian dari kompetensi komunikatif pembelajar (Febriyana & Syamsuyurnita, 2. Melalui integrasi Bahasa dan budaya tersebut. BIPA berperan sebagai sarana diplomasi Bahasa yang memperkenalkan nilai, tradisi, dan kearifan lokal Indonesia kepada Masyarakat internasional. Budaya merupakan keseluruhan gagasan. Tindakan, dan hasil karya manusia yang diperoleh melalui proses belajar dan diwariskan secara turun-temurun (Koentjaraningrat, 1. Salah satu bentuk budaya yang masih berkembang dalam Masyarakat adalah tradisi. Tradisi merupakan praktik budaya yang diwariskan secara turun temurun dan berfungsi sebagai sarana pelestarian nilai social, religius, dan identitas suatu Masyarakat (Danandjaja, 1. Dalam pembelajaran BIPA, tradisi lokal dapat dimanfaatkan sebagai sumber materi pembelajaran yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, karena mengandung unsur Bahasa dan budaya yang saling berkaitan. Pemanfaatan tradisi lokal dalam pembelajaran BIPA juga dapat menjadi media pengenalan budaya Indonesia kepada pembelajar asing (Salaebing & Nugraheni, 2. Berbagai praktik kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun kepada generasi penerus pada setiap kelompok etnis pada dasarnya bertujuan untuk menjaga keberlangsungan tradisi yang telah berkembang dalam masyarakat. Melalui pewarisan tersebut, generasi selanjutnya diharapkan mampu memahami, melestarikan, serta mengimplementasikan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat yang telah diwariskan oleh para leluhur (Lestari et al. , 2. Pelestarian tradisi juga berperan penting dalam memperkenalkan dan menanamkan adat-istiadat yang telah terbentuk sejak masa lampau agar tetap dipraktikkan dalam kehidupan sosial (Nugraheni & Riyanto, 2. Salah satu bentuk tradisi yang mencerminkan keberlanjutan budaya turun-temurun tersebut adalah tradisi Guyang Cekathak. Di Kabupaten Kudus terdapat berbagai tradisi lokal yang masih dilestarikan oleh Masyarakat. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan adalah tradisi Guyang Cekathak yang dilaksanakan di Desa Colo. Kecamatan Dawe. Kabupaten Kudus. Jawa Tengah. Tradisi Guyang Cekathak merupakan kegiatan rutin yang diadakan satu tahun sekali. Prosesi utamanya adalah pembasuhan cekathak atau pelana kuda peninggalan Sunan Muria. Secara etimologis, kata Guyang dalam Bahasa Jawa 83 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Vita Verliana et. berarti memandikan atau menyiram, sedangkan Cekathak merujuk pada pelana kuda milik Sunan Muria. Tradisi Guyang Cekathak yang dilaksanakan oleh Masyarakat Desa Colo dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap Sunan Muria. Selain itu, tradisi ini juga sebagai bentuk ikhtiar Masyarakat dalam memohon turunnya hujan. Tradisi Guyang Cekahak dilaksanakan setiap hari JumAoat Wage pada bulan September Ketika puncak musim kemarau sebagai bentuk permohonan hujan kepada Allah SWT. Penentuan waktu pelaksanaan didasarkan pada perhitungan kalender Jawa yang menempatkan bulan tersebut sebagai puncak musim kemarau atau dikenal dengan istilah mangsa ketiga. Oleh karena itu, masyarakat meyakini bahwa pelaksanaan tradisi guyang cekathak dapat menjadi sarana untuk memohon turunnya hujan agar masyarakat tidak mengalami musim kemarau yang berkepanjangan. Bahasa yang digunakan dalam suatu tradisi tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga merepresentasikan nilai social dan budaya Masyarakat pendukungnya. Analisis linguistik terhadap penggunaan bahasa dalam suatu konteks sosial dapat mengungkap sistem nilai, norma, serta identitas kolektif suatu komunitas (Nugraheni, et al. , 2. Salah satu unsur penting dalam kajian Bahasa Adalah kosakata. Kosakata merupakan keseluruhan perbendaharaan kata yang dimiliki seseorang dan menjadi tolak ukur kemampuan berbahasa (Tarigan, 2. Penguasaan kosakata berperan penting dalam meningkatkan kemampuan komunikasi karena berkaitan langsung dengan pemahaman makna dan penggunaan bahasa secara kontekstual (Wahyudi et al. Penggunaan bahasa dalam produk budaya, baik film maupun tradisi lisan, mengandung nilai sosial dan norma yang dapat dianalisis secara linguistik (Nugraheni, et al. , 2. Dalam tradisi Guyang Cekathak ditemukan berbagai bentuk kosakata seperti kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, dan kata gabung yang merepresentasikan nilai religius, sosial, dan budaya masyarakat Kudus. Kosakata yang terdapat pada Tradisi Guyang Cekathak berkaitan dengan aktivitas ritual, perlengkapan prosesi, serta konsep sosial dan religius yang berkembang dalam masyarakat. Kosakata tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Kudus. Menurut (Geoffrey, 1. , makna kata tidak hanya dipahami secara leksikal, tetapi juga berkaitan dengan konteks social dan budaya tempat Bahasa tersebut digunakan. Selain itu, (Wardhaugh, 2. , menyatakan bahwa Bahasa dan masyarakat memiliki hubungan yang erat karena penggunaan bahsa selalu dipengaruhioleh konteks sosial dan budaya penuturnya. Dari perspektif linguistik, kosakata dalam tradisi tersebut dapat dianalisis berdasarkan bentuk morfologisnya, seperti kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, dan kata gabung. Selain itu, kosakata tersebut juga dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi atau maknanya dalam konteks pelaksanaan tradisi. Pada pembelajaran BIPA, pemanfaatan kosakata berbasis budaya lokal terbukti mampu meningkatkan motivasi dan relevansi pembelajaran. Penelitian (Sari, 2. menunjukkan bahwa penguatan kosakata secara kontekstual dapat meningkatkan pemahaman pemelajar BIPA. Selain itu, bahan ajar berbasis cerita rakyat mampu meningkatkan keterampilan bahasa sekaligus memperkenalkan nilai budaya (Muktadir et al. , 2. Tradisi lisan dapat dijadikan sumber materi pembelajaran BIPA yang efektif karena memuat unsur Bahasa dan budaya (Amri et al. , 2. Penelitian lain menunjukkan bahwa integrasi budaya lokal dalam pembelajaran bahasa terbukti mampu meningkatkan kompetensi komunikatif sekaligus pemahaman lintas budaya pembelajar (Febriyana & Syamsuyurnita, 2. Selain itu, (Suarjaya et al. , 2. dan (Utama et al. , 2. 84 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Analysis of Vocabulary Forms and Types in the Guyang Cekathak Tradition for Teaching Indonesian to Foreign Speakers (BIPA) menegaskan pentingnya pengembangan bahan ajar BIPA yang mengintegrasikan budaya lokal sebagai Upaya menciptakan pembelajaran yang inovatif. Meskipun berbagai penelitian telah membahas integrasi unsur budaya dalam pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA), masih relatif sedikit penelitian yang secara khusus menganalisis bentuk dan jenis kosakata dalam tradisi lokal dan menghubungkannya secara sistematis dengan persyaratan pengajaran BIPA. Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih berfokus pada penggunaan budaya sebagai bahan pengantar budaya atau sebagai konteks pembelajaran, namun belum banyak yang mengkaji aspek kebahasaan secara mendalam, khususnya tingkat kosakata yang muncul dalam praktik budaya masyarakat. Padahal, tradisi Guyang Cekathak di Kabupaten Kudus mengandung banyak kosakata yang berkaitan dengan kegiatan ritual, objek budaya, serta nilai-nilai sosial dan agama masyarakat. Kosakata tersebut mencakup berbagai bentuk morfologis, seperti kosakata dasar, kata turunan, kata pengulangan, dan kata majemuk, yang dapat dikembangkan sebagai sumber bahan ajar dalam pembelajaran BIPA. Keterbatasan dari penelitian ini mengindikasikan adanya celah dalam penelitian yang menganalisis aspek linguistik yang secara khusus menggambarkan bentuk dan jenis kosakata dalam tradisi Guyang Cekathak serta relevansinya dengan pengajaran BIPA. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan jenis kosakata yang ada dalam tradisi tersebut sebagai upaya untuk mendukung pengembangan materi ajar BIPA berbasis kearifan lokal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif etnografis untuk mengkaji bentuk dan jenis kosakata dalam Tradisi Guyang Cekathak serta relevansinya dalam pembelajaran BIPA. Pendekatan ini digunakan untuk memahami penggunaan bahasa dalam konteks budaya masyarakat secara alamiah. Penelitian dilaksanakan di Desa Colo. Kecamatan Dawe. Kabupaten Kudus. Jawa Tengah sebagai lokasi utama pelaksanaan Tradisi Guyang Cekathak. Informan penelitian dipilih secara purposive, yaitu individu yang memiliki pengetahuan dan keterlibatan langsung dalam tradisi tersebut. Informan berjumlah tiga orang yang terdiri atas pemuka agama, perangkat desa, dan juru kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan Observasi dilakukan secara langsung pada saat pelaksanaan tradisi untuk mengidentifikasi penggunaan kosakata yang muncul dalam kegiatan ritual dan interaksi Wawancara digunakan untuk memperoleh penjelasan mengenai makna dan penggunaan kosakata yang berkaitan dengan tradisi tersebut. Dokumentasi berupa foto, rekaman audio, serta catatan lapangan digunakan untuk melengkapi dan memperkuat data penelitian (Creswell, 2. Analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, peneliti menyeleksi kosakata yang muncul dalam tuturan informan dan kegiatan tradisi. Kosakata tersebut kemudian diidentifikasi bentuknya berdasarkan kajian morfologi bahasa Indonesia, yaitu kosakata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, dan kata gabung. Penentuan kosakata dasar dilakukan dengan melihat apakah kata tersebut merupakan satu morfem bebas yang tidak mengalami proses afiksasi, reduplikasi, maupun Sebagai contoh, kata ziarah atau dawet dikategorikan sebagai kosakata dasar karena 85 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Vita Verliana et. tidak mengalami proses pembentukan kata. Sementara itu, kata seperti pelaksanaan termasuk kata berimbuhan karena mengalami proses afiksasi berupa prefiks dan sufiks. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik serta member check kepada informan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sesuai dengan kondisi di lapangan (Sugiyono, 2. Proses ini dilakukan dengan membandingkan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi sehingga hasil analisis kosakata dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. HASIL DAN PEMBAHASAN Tradisi Guyang Cekhatak adalah tradisi masyarakat Desa Colo. Kecamatan Dawe. Kabupaten Kudus, yang berkaitan dengan warisan Kanjeng Sunan Muria. Cekhatak adalah pelana kuda milik Sunan Muria yang hingga kini masih disimpan dan dirawat di masjid dan makam Sunan Muria. Penduduk desa menggunakan benda ini sebagai sarana untuk memohon hujan kepada Allah SWT selama musim kemarau. Tradisi ini telah lama dijaga dan diwariskan oleh para tetua kepada penduduk desa Colo. Tradisi ini biasanya dilakukan setiap tahun pada hari Jumat Wage di bulan September atau Oktober, yaitu pada puncak musim kemarau. Kegiatan ini melibatkan pengurus yayasan masjid dan makam Sunan Muria, pemerintah desa, dan penduduk setempat. Rangkaian tradisi dimulai dengan ziarah ke makam Sunan Muria pada malam sebelum Pada hari pelaksanaan, para peserta berkumpul di aula yayasan masjid dan makam Sunan Muria untuk berdoa bersama dan membaca tahlil. Setelah itu, mereka berbaris menuju Sendang Rejoso sambil membawa cekhatak, bendera, dan dupa serta membaca sholawat. sendang rejoso, pelana kuda dicuci sebagai simbol permohonan hujan kepada Allah SWT. Setelah prosesi selesai, masyarakat mengadakan bancakan, yaitu makan bersama sebagai tanda kasih sayang dan kebersamaan. Acara ini diakhiri dengan tradisi tawur dawet, yang melambangkan harapan akan turunnya hujan serta memperkuat kebersamaan dan pelestarian budaya masyarakat. Tradisi Guyang Cekhatak tidak hanya menggambarkan rangkaian kegiatan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Colo, namun juga melibatkan penggunaan berbagai kosakata khusus yang berkaitan dengan pelaksanaan tradisi tersebut. Dalam pelaksanaannya, masyarakat menggunakan berbagai kosakata yang berhubungan dengan benda, kegiatan, dan tahapan ritual. Kosakata tersebut digunakan dalam berbagai konteks budaya masyarakat, antara lain pada penamaan benda-benda tradisional, tahapan prosesi ritual, aktivitas doa, serta istilah yang berkaitan dengan kegiatan makan bersama dan simbol-simbol ritual yang menyertai pelaksanaan tradisi. Keberadaan kosakata tersebut menunjukkan bahwa tradisi Guyang Cekhatak tidak hanya memiliki nilai-nilai budaya dan spiritual, tetapi juga memiliki kosakata yang beragam yang berkembang di tengah masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, tradisi Guyang Cekhatak dapat dijadikan sebagai sumber data kebahasaan untuk melihat bentuk dan jenis kosakata yang digunakan dalam praktik budaya Setiap istilah tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan nilai, kepercayaan, dan identitas masyarakat Kudus. Oleh karena itu, bentuk kosakata dalam tradisi guyang cekathak menjadi bagian penting dalam memahami kekayaan budaya lokal serta cara pandang masyarakat terhadap kehidupan sosial dan spiritual mereka. Berikut hasil penelitian dan pembahasan bentuk dan jenis kosakata yang ada pada tradisi guyang cekathak: Bentuk kosakata dalam Tradisi Guyang Cekathak 86 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Analysis of Vocabulary Forms and Types in the Guyang Cekathak Tradition for Teaching Indonesian to Foreign Speakers (BIPA) Berdasarkan hasil pengumpulan data, ditemukan empat bentuk kosakata, yaitu kosakata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, dan kata gabung. Tabel 1 Klasifikasi Bentuk Kosakata Tradisi Guyang Cekathak No. Bentuk Kosakata Kosakata Dasar Kosakata Berimbuhan Kata Gabung Kata Ulang Contoh Kosakata Akidah, blangkon, ceremonial, dupa, kenduri, maknawiyah, manaqib, musyrik, nderek, rohani, sedekah, sholawat, sugeng, syariah, tahlil, tunggangan, tawasul, tradisi, walilullah, wafat, wasilah, dan Berinfaq. Cagar Budaya. Gusti Allah. Guyang cekathak. Guyub rukun. Jumat Wage. Juru kunci. Kanjeng Sunan Muria. Kitab Isa. Kubah masjid. Mbah Sunan Muria. Mihrab masjid. Mustaka masjid. Ojek Muria. Pelana kuda. Sendang Rejoso. Sholat istisqaAo, dan Tawur Adat-istiadat, arak-arakan, iringiringan, nguri-uri, panji-panji, sirat-siratan, dan uncal-uncalno. Jumlah Data Berdasarkan hasil analisis pada tabel 1, bentuk kosakata dalam Tradisi Guyang Cekathak terdiri atas empat kategori, yaitu kosakata dasar, kata berimbuhan, kata gabung, dan kata ulang. Kosakata dasar merupakan bentuk yang paling dominan dalam data penelitian. Dominasi bentuk ini menunjukkan bahwa sebagian besar istilah yang digunakan dalam tradisi tersebut masih mempertahankan bentuk leksikal asli yang telah lama hidup dalam praktik sosial dan keagamaan Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan bahasa dalam tradisi cenderung bersifat konservatif dan diwariskan secara turun-temurun. 87 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Vita Verliana et. Keberadaan kosakata berimbuhan menunjukkan adanya proses morfologis berupa afiksasi yang menandakan dinamika pembentukan kata dalam penggunaan bahasa masyarakat. Sementara itu, kata gabung atau komposisi merepresentasikan penggabungan dua unsur leksikal yang menghasilkan makna khusus dalam konteks budaya, seperti penamaan tradisi, tokoh sakral, atau lokasi yang memiliki nilai historis. Adapun kata ulang menunjukkan proses reduplikasi yang berfungsi menandai aktivitas kolektif maupun kegiatan yang berlangsung secara berulang dalam rangkaian prosesi tradisi. Dengan demikian, variasi bentuk kosakata tersebut mencerminkan keragaman struktur morfologis yang berkembang dalam praktik budaya masyarakat Jenis Kosakata dalam Tradisi Guyang Cekathak Berdasarkan klasifikasi semantis dan fungsional, kosakata dalam Tradisi Guyang Cekathak dikelompokan menjadi beberapa jenis berikut: Tabel 2 Jenis Kosakata Berdasarkan Fungsi No. Jenis Kosakata Religius Contoh Kosakata Akidah, ijabah, insyaallah, maknawiyah, manaqib, musyrik, rohani, sedekah, sholawat, syariah, tahlil, tawasul, walilullah, wafat, wasilah, ziarah, berinfaq. Gusti Allah. Sholat istisqaAo Sosial Balak, bancakan, kenduri, instansi, nderek, sugeng, sesepuh, guyub rukun, adat-istiadat, nguri-uri Benda Blangkon, dupa, gentong, jidur, tamping, terbang, tunggangan, pelana kuda, panji-panji, kubah masjid, mihrab masjid, mustaka Ritual dan Prosesi Ceremonial. Guyang cekathak. Jumat Wage, arak-arakan, sirat-siratan, 88 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Fungsi Merepresentasikan nilai teologis dan legitimasi sakral orientasi keimanan Menunjukkan relasi sosial dan sarana pelestarian norma lokal. Menjadi Atribut identitas budaya Menandai tahapan Analysis of Vocabulary Forms and Types in the Guyang Cekathak Tradition for Teaching Indonesian to Foreign Speakers (BIPA) No. Jenis Kosakata Contoh Kosakata Fungsi uncal-uncalno. Tawur pelaksanaan ekspresi kolektif Tokoh dan Tempat Juru Kanjeng Menunjukkan Sakral Sunan Muria. Mbah Sunan otoritas spiritual. Muria. Kitab Isa. Sendang menandai lokasi Rejoso. Ojek Muria. Cagar sakral/bersejarah. Budaya legitimasi historis Konseptual/Deskriptif Ekstrem Memberikan terhadap praktik maupun akademik. Berdasarkan klasifikasi semantis dan fungsional pada Tabel 2, kosakata dalam Tradisi Guyang Cekathak dapat dikelompokkan menjadi enam kategori, yaitu religius, sosial, benda, ritual dan prosesi, tokoh dan tempat sakral, serta konseptual atau deskriptif. Kosakata religius merepresentasikan nilai spiritual yang mendasari pelaksanaan tradisi serta menunjukkan keterkaitannya dengan sistem kepercayaan masyarakat. Sementara itu, kosakata sosial mencerminkan relasi antarmasyarakat serta nilai kebersamaan yang terbangun melalui praktik budaya kolektif. Kosakata benda menunjukkan dimensi material yang digunakan dalam pelaksanaan ritual dan memiliki fungsi simbolik dalam tradisi. Selanjutnya, kosakata ritual dan prosesi berfungsi menandai tahapan kegiatan yang terstruktur dalam pelaksanaan Tradisi Guyang Cekathak. Kosakata tokoh dan tempat sakral merujuk pada figur otoritatif serta lokasi yang memiliki legitimasi historis dan spiritual dalam tradisi tersebut. Adapun kosakata konseptual atau deskriptif merepresentasikan perspektif atau penilaian terhadap praktik budaya dalam wacana sosial maupun akademik. Secara keseluruhan, klasifikasi jenis kosakata tersebut menunjukkan bahwa Tradisi Guyang Cekathak memuat keterpaduan antara aspek religius, sosial, material, dan historis dalam kehidupan Temuan ini juga memiliki implikasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Kosakata yang berkaitan dengan tradisi lokal dapat dimanfaatkan sebagai sumber materi pembelajaran berbasis budaya untuk memperkenalkan nilai-nilai sosial dan budaya Indonesia kepada pembelajar asing. Dengan demikian, integrasi kosakata budaya dalam pembelajaran BIPA tidak hanya mendukung pengembangan kompetensi linguistik, tetapi juga memperkuat pemahaman interkultural pembelajar terhadap konteks penggunaan bahasa Indonesia. 89 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Vita Verliana et. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dalam Tradisi Guyang Cekathak ditemukan empat bentuk kosakata, yaitu kosakata dasar, kosakata berimbuhan, kata ulang, dan kata gabung, dengan dominasi kosakata dasar. Selain itu, kosakata dalam tradisi tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam enam jenis, yaitu kosakata religius, sosial, benda, ritual dan prosesi, tokoh dan tempat sakral, serta konseptual atau deskriptif. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi Guyang Cekathak memiliki kekayaan kosakata yang berkaitan dengan aktivitas budaya masyarakat. Oleh karena itu, kosakata yang terdapat dalam tradisi ini berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber bahan ajar dalam pembelajaran BIPA berbasis budaya lokal. Pemanfaatan kosakata tradisi lokal tersebut dapat membantu memperkenalkan bahasa Indonesia sekaligus budaya kepada pemelajar asing secara lebih kontekstual. DAFTAR PUSTAKA