Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 PERAN SEKTOR PARWISATA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI ASEAN 4 (THAILAND, SINGAPORE, MALAYSIA, DAN INDONESIA) Abdillah Rafi Athallah1, Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto2, Novi Primita Sari3 1,2,3 Prodi Ekonomi Pembangunan, Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246, Malang, Jawa Timur Email Korespondensi : abdillahrafi51@gmail.com ABSTRAK Sektor pariwisata adalah sektor yang memberikan kontribusi signifikan pada PDB (Produk Domestik Bruto) suatu negara, yang dapat menciptakan lapangan kerja, dan memberikan dampak positif pada sektor ekonomi lainnya. Sektor ini juga memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan perekonomian suatu negara, dapat dilihat melalui peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, pengeluaran pariwisata , dan sektor ekspor pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sektor pariwisata berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di 4 Negara ASEAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dan menggunakan teknik olah data panel. Dan memperoleh hasil bahwa satu variabel ada yang berpengaruh negative dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Tetapi, dapat disimpulkan bahwa Pendapatan yang dihasilkan oleh pariwisata dalam bentuk pengeluaran wisatawan, jumlah kedatangan wisatawan, sektor ekspor pariwisata, serta sektor pendukung lainnya, memberikan stimulus yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya itu, Sektor wisata juga memiliki efek multiplikator yang kuat terhadap perekonomian. Hal ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih luas dan meningkatkan kontribusi sektor wisata terhadap PDB suatu negara. Kata Kunci : Pariwisata; Produk Domestik Bruto (PDB); Jumlah Kunjungan Wisatawan; Pengeluaran Pariwisata; Sektor Ekspor Pariwisata. ABSTRACT The tourism sector is a sector that makes a significant contribution to a country's GDP (Gross Domestic Product), which can create jobs, and have a positive impact on other economic sectors. This sector also has great potential to improve a country's economy, which can be seen through increasing the number of tourist visits, tourism expenditure and the tourism export sector. This research aims to find out whether the tourism sector has an influence on economic growth in 4 ASEAN countries. The method used in this research is a quantitative method and uses panel data processing techniques. And obtained the results that there is one variable that has a negative and insignificant effect on economic growth. However, it can be concluded that the income generated by tourism in the form of tourist expenditure, number of tourist arrivals, the tourism export sector, and other supporting sectors, provides a strong stimulus for economic growth. Not only that, the tourism sector also has a strong multiplier effect on the economy. This can encourage broader economic growth and increase the tourism sector's contribution to GDP. Keywords: Tourism; Gross Domestic Product (GDP); Number of Tourist Visits; Tourism Expenditure; Tourism Export Sector 1 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 PENDAHULUAN Sektor pariwisata merupakan sektor yang cukup penting bagi banyak negara di dunia (Wijaya et al., 2023). Sektor ini memberikan kontribusi yang signifikan pada PDB (Produk Domestik Bruto) suatu negara, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan dampak positif pada sektor ekonomi lainnya (Prayitno et al., 2023). Pariwisata juga merupakan salah satu sektor ekonomi yang berkembang pesat di seluruh dunia. Secara global, data United Nation World Tourism Organisation (UNWTO) menunjukkan kedatangan wisatawan internasional di seluruh dunia meningkat 6% pada tahun 2018 menjadi 1,4 miliar, peningkatan tersebut disumbang oleh timur tengah yang mengalami peningkatan sebesar 10% dan afrika sebesar 7%, sementara jumlah kedatangan ke asia pasifik dan eropa mengalami peningkatan sebesar 6% sejalan dengan rata-rata Negara di dunia. Berdasarkan tren saat ini, prospek ekonomi indeks keyakinan UNWOTO memperkirakan pertumbuhan besar 3% hngga 4% dalam kedatangan wisatawan internasional di seluruh dunia tahun 2019 (UNWTO, 2018) Menurut TTCI tahun 2019 Indonesia adalah negara ke 4 dengan destinasi pariwisata terbanyak di ASEAN. Nomor 1 adalah singapura dengan peringkat 17 di dunia, Kedua adalah Malaysia dengan urutan 26 di dunia, kemudian Thailand di posisi ke-3 dengan peringkat 31 di dunia dan nomor 4 adalah Indonesia dengan peringkat 40 dari 140 negara. Yang dapat diartikan bahwa negara-negara ASEAN telah menjadi pusat pariwisata asing. (Wardhana et al., 2019) Keempat negara di kawasan ASEAN yakni Thailand, Singapore, Malaysia, dan Indonesia memiliki wisata unggulan yang berbeda-beda. Thailand adalah negara dengan sejarah yang kaya dan beragam situs bersejarah serta atraksi untuk dijelajahi wisatawan. Wisata sejarah di Thailand memungkinkan pengunjung untuk mempelajari masa lalu negara tersebut dan merasakan warisan budayanya serta destinasi wisata sejarah Thailand menawarkan beragam pengalaman, mulai dari reruntuhan kuno hingga istana kerajaan, memberikan pengunjung kesempatan untuk mempelajari kekayaan warisan budaya dan sejarah negara tersebut (Basari & Rahman, 2023). Singapore terkenal akan artificial tourism karena mencerminkan kemampuan Singapura untuk menggabungkan alam dengan arsitektur dan teknologi inovatif, memberikan berbagai pengalaman dan hiburan kepada pengunjung (S Sochipem Zimik & Barman, 2022). Sementara itu, Indonesia dan Malaysia terkenal dengan eco tourismnya karena negara ini memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman ekosistem yang luar biasa. Indonesia adalah rumah bagi beberapa ekosistem alam yang masih sangat terjaga, termasuk hutan hujan tropis, terumbu karang, savana, dan gunung berapi. Indonesia juga telah menerima pengakuan internasional karena keindahan alamnya, dan banyak orang dari seluruh dunia datang ke Indonesia untuk mengeksplorasi keindahan alamnya dan mendukung upaya konservasi. Ekowisata di Indonesia juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat dan, pada saat yang sama, membantu melindungi warisan alam dan budaya negara ini (Sutiarso, 2018) Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengkaji pengaruh sektor pariwisata terhadap PDB. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Cetin & Okumus, 2018) di Turki menunjukkan bahwa sektor pariwisata memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap PDB dan lapangan kerja. Namun, sektor pariwisata juga memiliki dampak negatif pada lingkungan dan kebudayaan lokal. Banyaknya kunjungan wisatawan dapat meningkatkan polusi, kerusakan lingkungan, dan kehilangan kebudayaan lokal. Oleh karena itu, perlu adanya pengelolaan dan pengawasan yang baik dari pemerintah dan masyarakat lokal agar sektor pariwisata dapat memberikan dampak yang positif pada 2 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 lingkungan, kebudayaan lokal, dan sektor ekonomi lainnya. (Febrian & Suresti, 2020; Obot & Setyawan, 2017) Salah satu teori yang terkait dengan hubungan pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi adalah "Teori Siklus Pariwisata" yang dikembangkan oleh Richard Butler. Teori ini menggambarkan pola siklus yang terjadi dalam industri pariwisata, yang terdiri dari empat fase utama: keberangkatan, pertumbuhan, stabilisasi, dan penurunan. Siklus ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan musiman, perubahan ekonomi global, dan kebijakan pemerintah. Menurut Butler, fase pertumbuhan dalam siklus pariwisata dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu destinasi. Pada fase ini, terjadi peningkatan yang signifikan dalam jumlah wisatawan yang mengunjungi suatu tempat, yang menghasilkan dampak ekonomi positif melalui pendapatan yang dihasilkan dari sektor pariwisata. Peningkatan kunjungan wisatawan juga dapat mendorong pertumbuhan sektor-sektor terkait seperti perhotelan, restoran, transportasi, dan industri kreatif lokal. Teori ini juga menyimpulkan bahwa industri pariwisata rentan terhadap fluktuasi ekonomi dan perubahan lainnya. Oleh karena itu, manajemen yang bijaksana dalam pengembangan dan diversifikasi produk pariwisata serta manajemen risiko menjadi kunci untuk meminimalkan dampak negatif pada fase-fase siklus pariwisata. Dengan demikian, Teori Siklus Pariwisata yang dikembangkan oleh Richard Butler menyediakan kerangka kerja yang berguna untuk memahami bagaimana pertumbuhan industri pariwisata dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi suatu destinasi, sambil menyadari tantangan dan risiko yang terkait dengan siklus pariwisata. Kedatangan Wisatawan 50000000 40000000 Tahun 30000000 Thailand 20000000 Singapura 10000000 Indonesia 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 Gambar 1. Jumlah kedatangan wisatawan. Sumber: WorldBank OpenData Jumlah wisatawan yang datang dan penerimaan wisatawan asing juga menunjukkan kondisi sektor pariwisata yang cukup baik (Fotiadis et al., 2021). Dilihat dari grafik diatas, Malaysia mendapati peringkat 1 disusul dengan 3 Negara yang hampir seimbang. Salah satu cara untuk mengukur seberapa besar kontribusi sektor pariwisata terhadap suatu negara adalah dengan melihat seberapa banyak wisatawan yang datang dan berapa banyak yang diterima oleh satu pariwisata tersebut (Weiler & Black, 2015; Zulmi, 2018) Pada tahun 2019, Indonesia menerima 16,1 juta pengunjung asing, Singapura 19,1 juta, Malaysia 20,1 juta, dan Thailand 39,9 juta, menjadikannya pemimpin regional di bidang pariwisata. Ketiga negara ini menghasilkan 95,2 juta wisatawan yang datang pada tahun 2019, sehingga menghasilkan aktivitas ekonomi yang signifikan. Misalnya, di Indonesia, pariwisata menghasilkan devisa sebesar $16,9 miliar, sedangkan di Thailand, menghasilkan devisa sebesar $57,2 miliar (Anggarini, 2021). Namun pandemi COVID- 3 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 19 memberikan dampak yang signifikan terhadap industri pariwisata di negara-negara ASEAN (Larasati et al., 2021). Jumlah total kunjungan pengunjung ke ASEAN turun tajam dari 143,6 juta pada tahun 2019 menjadi hanya 26,2 juta pada tahun 2020, dan perekonomian pariwisata di kawasan tersebut terhenti total. Penurunan sektor pariwisata berdampak menular pada perdagangan jasa di ASEAN, dan mengakibatan pembatasan mobilitas yang berdampak negatif pada industri pariwisata dan perhotelan sejak Maret 2020 (George et al., 2020). Pengeluaran Wisatawan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Tahun Thailand Indonesia Malaysia Singapura Gambar 2. Jumlah Pengeluaran Wisatawan Sumber: WorldBank OpenData Sektor pengeluaran pariwisata juga memiliki peran signifikan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Dilihat dari grafik diatas, Singapura mendapati peringkat 1 dengan jarak yang jauh, tetapi disusul dengan 3 Negara yang hampir seimbang. Ketika wisatawan berkunjung ke suatu wilayah, mereka tidak hanya memberikan kontribusi kepada industri pariwisata, tetapi juga mendukung sektor-sektor ekonomi lainnya (Arshad et al., 2018). Pengeluaran untuk akomodasi, makanan, transportasi, dan berbagai hiburan serta aktivitas lokal menciptakan dampak ekonomi positif yang terasa luas. Pendapatan dari sektor pariwisata membantu menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan bisnis lokal, dan memacu pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung industri pariwisata. Selain itu, pengeluaran pariwisata juga berkontribusi pada pendapatan pajak, yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk investasi dalam sektor-sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur umum. Dengan memanfaatkan potensi pariwisata dengan bijak, akan dapat memperkuat perekonomian sambil mempertahankan pesona dan kekayaan alam yang menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan (Astuti, 2018; Sundoro & Soeprapto, 2019) 4 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Gambar 3. Data Olahan Pengeluaran Wisatawan. Sumber: WorldBank OpenData Di beberapa negara, sektor wisata menjadi kontributor utama terhadap perekonomian nasional. Pendapatan pariwisata dari total ekspor Mengacu pada persentase pendapatan yang diperoleh dari wisatawan asing yang berkunjung ke suatu negara terhadap total ekspor barang dan jasa. Penerimaan pariwisata mencakup pengeluaran wisatawan asing selama berada di negara tersebut, termasuk pembayaran kepada maskapai penerbangan nasional untuk transportasi internasional dan pembayaran lainnya untuk barang atau jasa yang diterima di negara tujuan (Happy, 2019). Penerimaan pariwisata juga dapat mencakup pengeluaran wisatawan harian, kecuali jika pengeluaran tersebut cukup besar untuk dibedakan secara terpisah. Dampak ekonomi yang dihasilkan oleh sektor wisata bukan hanya dalam bentuk devisa dari wisatawan mancanegara, tetapi juga dalam bentuk peningkatan produksi dan lapangan kerja di sektor-sektor terkait seperti transportasi, akomodasi, dan restoran (DEMΔ°R, 2018; Thommandru et al., 2023) Peran Pariwisata Terhadap PDB Menurut data World Tourism Organization (UNWTO), pada tahun 2019, total penerimaan dari pariwisata internasional mencapai US$1,5 triliun dan berkontribusi sebesar 7% terhadap perdagangan dunia. Selain itu, sektor wisata juga menyerap sekitar 1 dari 10 lapangan kerja di dunia, yang menunjukkan besarnya dampak ekonomi dari sektor ini. Pariwisata juga dapat memberikan kontribusi yang besar pada PDB suatu negara. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, sektor pariwisata di Indonesia memberikan kontribusi sebesar 4,02% pada PDB pada tahun 2019. Sektor pariwisata juga memiliki dampak yang luas dengan menimbulkan multiple effect pada sektor ekonomi (Pratt & Alizadeh, 2018). Sektor ini mempengaruhi permintaan akan barang dan jasa dari berbagai sektor, seperti sektor perhotelan, transportasi, makanan dan minuman, dan sektor ritel. Sebagai contoh, dengan adanya sektor pariwisata yang berkembang, permintaan akan produk-produk khas daerah meningkat dan membuka peluang bagi pengusaha lokal untuk meningkatkan produksi dan penjualan mereka (Yusri, 2020). 5 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 METODE PENELITIAN Data yang digunakan untuk variabel dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari website World Bank. Teknik analisis data menggunakan regresi panel dengan bentuk persamaan berikut: LOG(π‘Œ) = 𝛽0 + 𝛽1LOG(𝑋1) + 𝛽2LOG(𝑋2) + 𝛽3LOG(𝑋3)+𝑒𝑖𝑑 Dimana : 𝛽0 = Intersep 𝛽1, 𝛽2, 𝛽3, = Koefisien Y = pertumbuhan ekonomi 𝑋1 = Jumlah Kedatangan Wisatawan 𝑋2 = Pengeluaran Wisatawan 𝑋3 = Ekspor Pariwsata 𝑒 = Kesalahan pengganggu (standar error) Tabel 1. Definisi Operasional Variabel No 1 2 3 4 Variabel Definisi Satuan Wisatawan internasional yang masuk (pengunjung bermalam) adalah jumlah wisatawan yang melakukan perjalanan ke suatu negara selain negara tempat mereka bertempat tinggal biasa, tetapi di luar lingkungan biasanya, untuk jangka waktu tidak lebih dari 12 bulan dan yang tujuan utamanya berkunjung selain dari negara tersebut. Jumlah Sumber dan metode pengumpulan kedatangan berbeda-beda di setiap negara. Dalam Kunjungan US($) beberapa kasus, data diambil dari statistik perbatasan (kepolisian, imigrasi, dan Wisatawan sejenisnya) dan dilengkapi dengan survei perbatasan. Dalam kasus lain, data berasal dari perusahaan akomodasi pariwisata. Di beberapa negara, jumlah kedatangan dibatasi pada kedatangan melalui udara dan di negara lain, jumlah kedatangan dibatasi pada kedatangan yang menginap di hotel. Penerimaan pariwisata internasional adalah pengeluaran pengunjung internasional, Pengeluaran termasuk pembayaran kepada maskapai penerbangan nasional untuk transportasi US($) Wisatawan internasional. Penerimaan ini mencakup pembayaran di muka lainnya yang dilakukan untuk barang atau jasa yang diterima di negara tujuan. Penerimaan ini mencakup pembayaran di muka lainnya yang dilakukan untuk barang atau jasa yang diterima di negara tujuan. Bagian mereka dalam ekspor dihitung sebagai Dalam Ekspor rasio terhadap ekspor barang dan jasa, yang mencakup seluruh transaksi antara presentase Pariwisata penduduk suatu negara dan seluruh dunia yang melibatkan perubahan kepemilikan dari (%) penduduk ke bukan penduduk atas barang dagangan umum, barang yang dikirim untuk diproses dan diperbaiki. PDB atas dasar harga pembeli adalah jumlah nilai tambah bruto seluruh produsen Produk dalam perekonomian ditambah pajak produk dan dikurangi subsidi yang tidak Domestik US($) termasuk dalam nilai produk. Hal ini dihitung tanpa melakukan pengurangan terhadap Bruto penyusutan aset yang dibuat atau untuk penipisan dan degradasi sumber daya alam. 6 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 4. Data Olahan Pariwisata terhadap PDB. Gambar diatas adalah hasil olahan dari data variabel yang diperoleh dari WorldBank Open Data kemudian di olah excel dalam bentuk maps dan hasilnya menunjukkan bahwa merebaknya sektor pariwisata berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Semakin gelap warna yang ada di gambar menunjukkan pengaruh pariwisata terhadap PDB suatu Negara. Indonesia yang pertumbuhan ekonominya sangat dipengaruhi oleh sektor pariwasata, diikuti oleh negara lainnya. Perkembangan sektor pariwisata mendapat respon positif dari masyarakat Indonesia dan negara lainya karena telah mempermudah transaksi, menghemat waktu, dan meningkatkan kelengkapan layanan ekonomi yang diberikan. Hasil Uji Asumsi Klasik Tabel 2. Hasil Uji Normality, Multiko Test. Uji Normalitas Multikolinieritas Prob. 0,597816 1000000 Sumber : Output Eviews 10. Normalitas: Diketahui dari hasil pengujian menggunakan uji jarque-bera dan terlihat probabilitas diatas 0.05 yang berarti dapat dinyatakan bahwa model ini berdistribusi normal. Multikolinieritas: Diketahui dari tabel diatas dengan pengujian multiko tidak tampak ada data diatas nilai angka 1, sehingga model tidak terdapat multikoliniertitas. Pemilihan model terbaik Tabel 3. Hasil Uji Chow, Hausman. PENGUJIAN EFFECT TEST PROB UJI CHOW Cross-section Chi-square 0.0000 UJI HAUSMAN Cross-section Random 0.0000 KETERANGAN model fem lebih baik model fem lebih baik Sumber : Output Eviews 10. 7 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Hasil Uji Chow Berdasarkan pengujian dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai probabilitas dari hasil uji chow menggunakan model fixed effect diperoleh hasil 0.0000 yang menunjukan bahwa nilai tersebut berada dibawah 0.05 sehingga dapat diperoleh bahwa hasil uji model FEM lebih baik dari model CEM. Hasil Uji Hausman Berdasarkan pengujian dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai probabilitas dari hasil uji chow menggunakan model fixed effect diperoleh hasil 0.0000 yang menunjukan bahwa nilai tersebut berada dibawah 0.05 sehingga dapat diperoleh bahwa hasil uji model FEM lebih baik dari model REM. Dengan begitu setelah dilakukan 2 uji untuk menentukan model terbaik model FEM terpilih karena 2 uji telah membuktikan bahwa model FEM adalah model terbaik. Hasil uji estimasi dari model terbaik Tabel 4. Hasil regresi menggunakan FEM. Variable Coefficient C 11,64202 X1 1,223142 X2 -0,152768 X3 -0,93716 Fixed Effect (Cross) INDONESIA-C 1,242447 MALAYSIA-C -0,626493 SINGAPURA-C -0,842362 THAILAND-C 0,226407 Std. error t-Statistic Prob. 2,019526 0,13755 0,095921 0,200575 5,764729 7,03946 -1,592657 -4,680133 0.0000 0.0000 0,1158 0.0000 Sumber : Output Eviews 10. Uji T - Dapat diketahui nilai prob dari variabel jumlah kedatangan wisatawan diatas sebesar 0.0000 yang menandakan bahwa variabel X1 berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi - Dapat diketahui nilai prob dari variabel jumlah pengeluaran wisatawan diatas sebesar 0.1158 yang menandakan bahwa variabel X2 tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi - Dapat diketahui nilai prob dari variabel jumlah ekspor pariwisata diatas sebesar 0.0000 yang menandakan bahwa variabel X3 berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Tabel 5. Hasil uji Adj. R-Square, Prob F. Adj. R-Squared Prob. (F-statistic) Sumber : Output Eviews 10. 0.678927 0.000000 8 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Adj. R-squared Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa R Square sebesar 0,678927 atau 67,89 %. Artinya, variable independent Jumlah Kedatangan Wisatawan, Jumlah Pengeluaran Wisatawan, dan Jumlah Ekspor Pariwisata secara simultan (Bersama-sama) berpengaruh terhadap variable dependen PDB sebesar 67,89 % . Sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diuji dalam penelitian. Uji F Berdasarkan output tersebut dapat diketahui bahwa nilai F-statistik sebesar 0.000000 atau < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Jumlah Kedatangan Wisatawan (X1), Jumlah Pengeluaran Wisatawan (X2), dan Jumlah Ekspor Pariwisata (X3) berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi atau PDB (Y) di ASEAN 4 Cross Section per Negara β€’ β€’ β€’ β€’ Indonesia : 11,64202 + 1, 242447 = 12,884467 Y = 12,884467*C + 1,223142X1 - 0,152768X2 - 0,93716X3 Malaysia : 11,64202 - 0,626493 = 11,015527 Y = 11,015527*C + 1,223142X1 - 0,152768X2 - 0,93716X3 Singapore : 11,64202 – 0,842362 = 10,799658 Y = 10,799658 + 1,223142X1 - 0,152768X2 - 0,93716X3 Thailand : 11,64202 + 0,226407 = 11,868427 Y = 11,868427 + 1,223142X1 - 0,152768X2 - 0,93716X3 Berdasarkan angka-angka tersebut, Indonesia memiliki konstituten terbesar dibandingkan Negara manapun, yang menunjukkan bahwa ketika jumlah kunjungan wisatawan, pengeluaran wisatawan, dan ekspor pariwisata meningkat maka pertumbuhan ekonomi juga ikut meningkat. Pembahasan Berdsasarkan hasil analisis regresi panel, maka diperoleh persamaan berikut: LOG(Y) = 11,64202 + 1,223142X1 - 0,152768X2 - 0,93716X3 1. Jumlah Kedatangan Wisatawan terhadap PDB Berdasarkan hasil pengujian dari Tabel 4, variabel kedatangan wisatawan 1.223142, koefisien regresi varaibel kedatangan wisatawan (X1) sebesar 1.223142. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif antara jumlah kedatangan wisatawan (X1) dengan pertumbuhan PDB (Y) sebesar 1.223142. Jika Jumlah Wisatawan (X1) naik sebesar 1% maka PDB akan naik sebesar 1.223142. Sedangkan jika jumlah wisatawan (X1) turun sebesar 1% maka PDB akan turun sebesar 1.223142. Penelitian ini sejalan dengan peneliatan (Anggraeni, 2017), Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang diidentifikasi sebagai determinan kunjungan wisatawan internasional adalah PDB per kapita, rasio partisipasi pendidikan menengah bruto, dan angka harapan hidup. Selain itu, jumlah kedatangan wisatawan internasional mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi sesuai dengan hipotesis pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh pariwisata (TLGH). Temuan ini 9 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 memberikan kesimpulan bahwa sektor pariwisata dapat dikembangkan sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 2. Jumlah Pengeluaran Wisatawan terhadap PDB Berdasarkan hasil pengujian dari Tabel 4, variabel pengeluaran wisatawan 0.152768, koefisien regresi varaibel pengeluaran wisatawan (X2) sebesar -0.152768. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh negatif antara pengeluaran wisatawan (X2) dengan pertumbuhan PDB (Y) sebesar -0.152768. Jika pengeluaran Wisatawan (X2) naik sebesar 1% maka PDB akan naik sebesar sebesar -0.152768. Sedangkan jika pengeluaran wisatawan (X2) turun sebesar 1% maka PDB akan turun sebesar 0. sebesar -0.152768. Menurut penelitian (AL-Tamimi, 2020; Karadag & Esener, 2017) memang ada beberapa hal yang membuat pengeluaran wisatawan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di suatu daerah, jika suatu daerah hanya mengandalkan pengeluaran wisatawan maka hal itu akan mengakibatkan dampak negative terhadap PDB per kapita di Negara tersebut, biasanya hal ini akan terjadi ke beberapa Negara berkembang. Penelitian dari (Webber et al., 2010) juga menghasilkan hal yang serupa, yakni pengeluaran pariwisata berpengaruh negative tetapi signifikan terhadap PDB, hal itu disebabkan jika beberapa negara mengalami krisis keuangan besar-besaran maka pengeluaran dari wisatawan akan berdampak negative terhadap PDB suatu negara. 3. Jumlah Total Ekspor Sektor Wisata terhadap PDB Berdasarkan hasil pengujian dari variabel ekpor pariwisata -0.938716, koefisien regresi varaibel ekspor pariwisata (X3) sebesar -0.938716. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh negatif antara ekspor pariwisata (X3) dengan pertumbuhan PDB (Y) sebesar 0.938716. Jika ekspor pariwisata (X3) naik sebesar 1% maka PDB akan naik sebesar 0.938716. Sedangkan jika ekspor pariwisata (X3) turun sebesar 1% maka PDB akan turun sebesar -0.938716. Ada sejumlah variabel yang dapat menyebabkannya. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa ekspor sektor wisata dapat berdampak negatif pada PDB: Menurut (Zhang et al., 2022), Ketergantungan pada sektor wisata: Jika suatu negara sangat bergantung pada pendapatan dari sektor wisata, hal itu dapat berdampak negatif jika terpengaruh oleh perubahan dalam permintaan atau situasi global. Misalnya, permintaan terhadap wisatawan dapat menurun tajam dalam situasi ketidakstabilan politik, bencana alam di negara tersebut atau di negara-negara mitra ekspornya. Ini dapat mengakibatkan penurunan pendapatan dari sektor wisata dan pada gilirannya berdampak negatif pada pajak Ketergantungan pada mata uang asing: Jika sektor wisata menghasilkan sebagian besar pendapatannya dalam mata uang asing, perubahan nilai tukar mata uang asing dapat berdampak negatif pada ekonomi domestik. Jika nilai mata uang lokal melemah terhadap mata uang asing, pendapatan dalam mata uang lokal akan menurun. dan hal ini akan mengurangi kontribusi sektor wisata terhadap PDB. Leakages atau aliran keluar: Sektor pariwisata terjadi ketika sebagian dari pendapatan yang dihasilkan oleh pariwisata tidak berdampak langsung pada ekonomi domestik. Contohnya adalah banyak pengeluaran yang dilakukan oleh wisatawan, seperti membayar perusahaan penerbangan, hotel, atau perusahaan kartu kredit asing. Dampak langsung terhadap PDB akan berkurang jika leakages ini tinggi (Nizar, 2015; Yakup & Haryanto, 2021). 10 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata memiliki dampak yang menguntungkan terhadap total produk domestik (PDB) suatu negara. Namun, ada satu variabel yang berpengaruh negatif dan tidak signifikan yaitu variabel pengeluaran wisatawan(X2). Sedangkan variabel jumlah kunjungan wisatawan(X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, variabel ekspor pariwisata(X3) juga signifikan tetapi memiliki pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Diantara 4 negara yang digunakan, Indonesia adalah Negara yang paling dipengaruhi pertumbuhan ekonominya oleh sektor pariwisata. Keterbatasan dari penelitian saya yaitu meskipun data historis dapat memberikan wawasan yang berharga, mereka tidak dapat secara akurat memprediksi atau menjelaskan perubahan yang mungkin terjadi di masa depan. Dengan adanya pengaruh ekonomi global dan perubahan kondisi internal di setiap negara, hasil studi ini mungkin tidak selalu relevan atau dapat diandalkan untuk memperkirakan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. Dalam rangka memaksimalkan manfaat ekonomi dari sektor wisata terhadap PDB, penting untuk mengambil kebijakan yang mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, investasi dalam infrastruktur dan pelatihan sumber daya manusia, promosi destinasi pariwisata, serta pengelolaan yang baik terhadap lingkungan dan budaya lokal. Dengan demikian, sektor wisata dapat menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkontribusi secara positif terhadap PDB suatu negara. Dan disarankan untuk peneliti selanjutnya untuk lebih mendalami variabel lain pariwisata yang lebih mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. DAFTAR PUSTAKA AL-Tamimi, K. A. M. d. (2020). Impact of tourism sector on gross domestic product growth in Jordan. Research in World Economy, 11(1), 106–114. https://doi.org/10.5430/rwe.v11n1p106 Anggarini, D. T. (2021). Upaya Pemulihan Industri Pariwisata Dalam Situasi Pandemi Covid -19. Jurnal Pariwisata, 8(1), 22–31. https://doi.org/10.31294/par.v8i1.9809 Anggraeni, G. N. (2017). the Relationship Between Numbers of International Tourist Arrivals and Economic Growth in the Asean-8: Panel Data Approach. Journal of Developing Economies, 2(1). https://doi.org/10.20473/jde.v2i1.5118 Arshad, M. I., Iqbal, M. A., & Shahbaz, M. (2018). Pakistan tourism industry and challenges: a review. Asia Pacific Journal of Tourism Research, 23(2), 121–132. https://doi.org/10.1080/10941665.2017.1410192 Astuti, N. N. S. (2018). Designing Bali tourism model through the implementation of tri hita karana and sad kertih values. International Journal of Linguistics, Literature and Culture. https://doi.org/10.21744/ijllc.v5n1.461 Basari, L. M., & Rahman, A. (2023). Upaya Mengidentifikasi Kosakata Bahasa Melayu Khas di Pattani, Yala Thailand. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 5(1), 2907–2101. http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jpdk/article/view/11270 Cetin, G., & Okumus, F. (2018). Experiencing local Turkish hospitality in Istanbul, Turkey. International Journal of Culture, Tourism, and Hospitality Research, 12(2), 223–237. https://doi.org/10.1108/IJCTHR-06-2017-0070 11 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 DEMΔ°R, O. (2018). Does High Tech Exports Really Matter for Economic Growth A Panel Approach for Upper Middle-Income Economies. AJIT-e: Online Academic Journal of Information Technology, 9(31), 43–54. https://doi.org/10.5824/13091581.2018.1.003.x Febrian, A. W., & Suresti, Y. (2020). Pengelolaan wisata kampung blekok sebagai upaya peningkatan ekonomi masyarakat berbasis community based tourism kabupaten situbondo. Jurnal Administrasi Bisnis, 9(2), 139–148. https://doi.org/10.14710/jab.v9i2.25308 Fotiadis, A., Polyzos, S., & Huan, T. C. T. C. (2021). The good, the bad and the ugly on COVID-19 tourism recovery. Annals of Tourism Research, 87, 103117. https://doi.org/10.1016/j.annals.2020.103117 George, A., Li, C., Lim, J. Z., & Xie, T. (2020). Propagation of Epidemics’ Economic Impacts via Production Networks: The Cases of China and ASEAN during SARS and COVID-19. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.3641263 Happy, C. M. (2019). Pariwisata, Pengaruh Sektor-Sektor Penunjang 2011-2014, Terhadap Penerimaan Pariwisata Di 82 Negara Pada Tahun. Calyptra, 8(1), 1–12. Karadag, Y., & Esener, S. C. (2017). Are the tourism led-growth and public expenditure strategies counteract in the long-run: Pressacademia, 4(1), 25–36. https://doi.org/10.17261/pressacademia.2017.363 Larasati, A. R., Suganda, D., & Endyana, C. (2021). Pariwisata Dan Lingkungan: Analisis Covid-19 Secara Global Dan Pengaruhnya Di Asean. Pariwisata Budaya: Jurnal Ilmiah Agama Dan Budaya, 6(1), 20. https://doi.org/10.25078/pba.v6i1.1972 Nizar, M. A. (2015). Tourism Effect on Economic Growth in Indonesia. Munich Personal RePEc Archive (MPRA), 7(65628), 1–25. http://mpra.ub.uni-muenchen.de/65628/ Obot, F., & Setyawan, D. (2017). Implementasi Kebijakan Pemerintah Kota Batu Dalam Mewujudkan Kota Pariwisata Berkelanjutan Yang Berwawasan Lingkungan. Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 6(3), 113. www.publikasi.unitri.ac.id Pratt, S., & Alizadeh, V. (2018). The economic impact of the lifting of sanctions on tourism in Iran: a computable general equilibrium analysis. In Current Issues in Tourism (Vol. 21, Issue 11). https://doi.org/10.1080/13683500.2017.1307329 Prayitno, A. R. D., Purwantoro, A., Astuti, N. W., & Haryanto, T. (2023). Analisis produktivitas pariwisata: Studi kasus pada beberapa negara berdasarkan perbedaan karakter wilayah. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JUPE), 11(3), 304–312. https://doi.org/10.26740/jupe.v11n3.p304-312 S Sochipem Zimik, T. A., & Barman, A. (2022). Cross-National State of Affairs on Performance of Tourists Attraction a Comparison Among India. Galaxy International Interdisciplinary Research Journal (Giirj) Issn (E), 10, 2347–6915. Sundoro, H. S., & Soeprapto, V. S. (2019). The Effect of Tourism Sectors on ASEAN Countries’ Economic Growth: Analysis Panel Regression. 180–184. https://doi.org/10.5220/0008490201800184 Sutiarso, M. A. (2018). Pengembangan Pariwisata yang Berkelanjutan Melalui Ekowisata. Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional (STPBI) Denpasar-Bali, 1–11. https://www.researchgate.net/publication/327538432_PENGEMBANGAN_PARI WISATA_YANG_BERKELANJUTAN_MELALUI_EKOWISATA Thommandru, A., Espinoza-MaguiΓ±a, M., Ramirez-Asis, E., Ray, S., Naved, M., & Guzman-Avalos, M. (2023). Role of tourism and hospitality business in economic development. Materials Today: Proceedings, 80, 2901–2904. 12 Jurnal Industri Pariwisata Vol 6, No. 2, 2024 e-ISSN : 2620-9322 https://doi.org/10.1016/j.matpr.2021.07.059 UNWTO. (2018). Wardhana, A., H, M. S. G., Ekonomi, F., Padjadjaran, U., & Barat, J. (2019). DAMPAK SEKTOR PARIWISATA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI ( TLG HIPOTESIS , STUDI KASUS : 8 NEGARA ASEAN ) PENDAHULUAN Sektor pariwisata merupakan kegiatan perjalanan individu atau kelompok yang menetap tidak lebih dari satu tahun yang bertujuan dengan kepent. 10, 1193–1208. Webber, D., Buccellato, T., & White, S. (2010). The global recession and its impact on tourists’ spending in the UK. Economic and Labour Market Review, 4(8), 65–73. https://doi.org/10.1057/elmr.2010.114 Weiler, B., & Black, R. (2015). The changing face of the tour guide: One-way communicator to choreographer to co-creator of the tourist experience. Tourism Recreation Research, 40(3), 364–378. https://doi.org/10.1080/02508281.2015.1083742 Wijaya, A., Fasa, H., Berliandaldo, M., Andriani, D., Prasetio, A., Strategis, B. K., Film, G., & Indonesia, P. (2023). IMPLIKASI PENERAPAN KEBIJAKAN GOLDEN VISA DALAM RANGKA. 22(2), 159–175. https://doi.org/10.52352/jpar.v22i2.1117 Yakup, A. P., & Haryanto, T. (2021). Pengaruh Pariwisata terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia. Bina Ekonomi, 23(2), 39–47. https://doi.org/10.26593/be.v23i2.3266.39-47 Yusri, A. Z. dan D. (2020). Pengelolaan Destinasi Pariwisata. In Jurnal Ilmu Pendidikan (Vol. 7, Issue 2). https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=OTQhEAAAQBAJ&oi=fnd&pg= PA37&dq=digitalisasi+surat+menyurat&ots=6aq1OMflLU&sig=rbfbjbnBzHIpbY 9vn1s-IdKqvsI Zhang, X., Guo, W., & Bashir, M. B. (2022). Inclusive green growth and development of the high-quality tourism industry in China: The dependence on imports. Sustainable Production and Consumption, 29, 57–78. https://doi.org/10.1016/j.spc.2021.09.023 Zulmi, F. (2018). Peranan Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Provinsi Lampung. Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 1– 84. 13