Al Amiyah Volume Online at Email E-ISSN : Jurnal Ilmiah Multidisiplin : Vol. No. 01 (Januari-April 2. : https://miftahul-ulum. id/ojs/index. php/alamiyah : jurnalamiyahmultidisiplin@gmail. : 3048-2038 Dialog Lintas Iman Dalam Pemulihan Ekologis Pasca-Bencana: Studi Ekoteologi Multikultural di Aceh dan Sumatra Ramdanil Mubarok1. Sultan2 1STAI Sangatta. Kutai Timur. Indonesia 2Universitas Cokroaminoto Makassar. Indonesia e-mail: danil. education@gmail. com2, sultandzul99@gmail. Bencana alam di Indonesia tidak hanya menimbulkan kerusakan ekologis, tetapi juga dampak sosial dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat multireligius. Di wilayah Aceh dan Sumatra, proses pemulihan pasca-bencana menunjukkan bahwa rekonstruksi lingkungan tidak dapat dilepaskan dari dinamika keagamaan dan multikultural. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran dialog lintas iman dalam pemulihan ekologis pasca-bencana dengan menggunakan kerangka ekoteologi multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi konseptual-literatur, dengan menganalisis karya akademik, dokumen teologis, dan praktik sosial keagamaan yang berkembang di konteks Aceh dan Sumatra. Hasil kajian menunjukkan bahwa dialog lintas iman berfungsi sebagai praksis ekoteologi yang membentuk kesadaran ekologis kolektif, memperkuat solidaritas sosial, serta mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kearifan lokal dalam upaya pemulihan lingkungan. Praktik kolaboratif lintas agama seperti reboisasi, pendidikan ekologis berbasis iman, dan ritual reflektif bersama menciptakan ruang spiritual bersama yang mendukung rekonstruksi sosial dan ekologis secara simultan. Studi ini berargumen bahwa pendekatan lintas iman dapat dipahami sebagai bentuk teologi ekologis praksis yang berkontribusi pada pembangunan social-ecological peace di masyarakat Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan menawarkan model ekoteologi multikultural lintas iman yang relevan bagi pengembangan teologi kontekstual dan kebijakan pemulihan ekologis di masyarakat plural. Kata kunci: dialog lintas iman, ekoteologi multikultural, pemulihan ekologis, pasca-bencana Abstract Natural disasters in Indonesia not only cause ecological damage but also profound social and spiritual impacts on multireligious communities. In Aceh and Sumatra, post-disaster recovery processes demonstrate that environmental reconstruction is inextricably linked to religious and multicultural dynamics. This study aims to analyze the role of interfaith dialogue in post-disaster ecological recovery using a multicultural ecotheology framework. This research employs a descriptive qualitative approach grounded in conceptual literature, analyzing academic works, theological documents, and socio-religious practices that have developed in the context of Aceh and Sumatra. The results indicate that interfaith dialogue functions as an ecotheological praxis that shapes collective ecological awareness, strengthens social solidarity, and integrates religious values with local wisdom in environmental recovery efforts. Collaborative interfaith practices such as reforestation, faith-based ecological education, and shared reflective rituals create a shared spiritual space that supports simultaneous social and ecological reconstruction. This study argues that the interfaith approach can be understood as a form of practical ecological theology that contributes to the development of socio-ecological peace in post31 Copyright A 2026 Ramdanil Mubarok, et al. (Dialog Lintas Iman Dalam Pemulihan Ekologis Pasca-Bencana: Studi Ekoteologi MultikulturalA. Auliya IstiAoanah, et al. disaster communities. This research makes a theoretical contribution by offering a model of interfaith, multicultural ecotheology that is relevant to the development of contextual theology and ecological restoration policies in pluralistic societies. Keywords: interfaith dialogue, multicultural ecotheology, ecological restoration, post-disaster PENDAHULUAN Bencana alam yang melanda Indonesia tidak hanya meninggalkan kerusakan ekologis, tetapi juga luka sosial dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat lintas Di wilayah seperti Aceh dan Sumatra, bencana besar seperti tsunami 2004 dan gempa bumi, serta tanah longsor tahun 2025 telah memicu proses rekonstruksi yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga moral dan teologis. Dalam konteks tersebut, muncul kebutuhan mendesak untuk meninjau kembali peran agama bukan hanya sebagai sumber makna, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu memperkuat solidaritas ekologis (Elza, 2. Dialog lintas iman menjadi wahana penting untuk membangun kesadaran ekologis bersama, mengingat kerusakan lingkungan tidak mengenal batas agama, etnis, atau budaya (Purwanto. Munawar-Rachman, 2. Praktik-praktik kolaboratif antara umat Muslim. Kristen, dan komunitas adat di Aceh dan Sumatra menunjukkan bahwa rekonsiliasi sosial dan pemulihan ekologis dapat berjalan beriringan melalui pendekatan spiritual yang inklusif dan berbasis ekoteologi (Yanuardi et al. , 2. Kajian akademik tentang hubungan antara agama dan ekologi di Indonesia telah berkembang pesat, terutama melalui gerakan AuGreen IslamAy yang menekankan tanggung jawab moral umat beragama terhadap alam (Testriono et al. , 2. dan pendekatan ekoteologi Kristen yang menyoroti dimensi spiritual dari krisis lingkungan (Simangunsong et al. , 2. Namun, sebagian besar penelitian ini masih berjalan dalam koridor intra-agama dan belum cukup mengeksplorasi interaksi lintas iman dalam konteks pemulihan ekologis pasca-bencana. Penelitian sebelumnya lebih menyoroti aspek teologis atau sosial-ekologis secara terpisah, tanpa memerhatikan dinamika multikultural yang khas Indonesia (J. Smith, 2. , terutama di wilayah pascakonflik seperti Aceh. Oleh karena itu, kajian yang mengintegrasikan ekoteologi, multikulturalisme, dan dialog lintas iman masih terbatas dan membutuhkan pengembangan konseptual baru untuk menjembatani kesenjangan antara spiritualitas ekologis dan rekonstruksi sosial. Tulisan ini berangkat dari asumsi bahwa dialog lintas iman dapat berfungsi sebagai praktik ekoteologi multikultural yakni bentuk teologi ekologis yang diwujudkan melalui kolaborasi nyata antarumat beragama dalam merawat bumi dan memulihkan kehidupan pasca-bencana. Dalam konteks Indonesia yang plural dan sarat dengan kearifan lokal, ekoteologi tidak hanya menjadi doktrin normatif tentang hubungan manusia dan alam, tetapi juga praksis sosial yang membangun jembatan antar keyakinan (Wijaya, 2. Argumen utama Penelitian ini adalah bahwa praktik dialog lintas iman di Aceh dan Sumatra dapat dibaca sebagai bentuk Auteologi ekologis praksis,Ay di mana agama-agama bekerja sama untuk menciptakan perdamaian sosial-ekologis . ocial-ecological peac. (Yanuardi et al. , 2. , sambil menumbuhkan kesadaran spiritual baru yang menempatkan bumi sebagai rumah bersama ciptaan Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana dialog lintas iman berperan dalam proses pemulihan ekologis pasca-bencana di Aceh dan Sumatra, dengan menggunakan kerangka ekoteologi multikultural sebagai pisau analisis Secara khusus, tulisan ini menguraikan: . bagaimana interaksi antaragama membentuk kesadaran ekologis bersama. bagaimana kearifan lokal dan nilai-nilai keagamaan diintegrasikan dalam upaya pemulihan lingkungan. bagaimana pendekatan lintas iman dapat menjadi model rekonstruksi sosial dan ekologis di masyarakat multikultural. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 03. Nomor 01. Tahun 2026. E-ISSN: 3048-2038 dapat memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan ekoteologi lintas iman di Indonesia dan memperkuat arah teologi kontekstual yang responsif terhadap krisis ekologis global METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan studi konseptual berbasis literatur, yang bertujuan membangun model teoretis tentang peran dialog lintas iman dalam pemulihan ekologis pasca-bencana melalui perspektif ekoteologi multikultural. Pendekatan ini dipilih karena isu yang dikaji bersifat multidimensi menggabungkan aspek teologis, sosial, ekologis, dan kultural yang tidak dapat direduksi pada pendekatan kuantitatif semata. Fokus kajian diarahkan pada wilayah Aceh dan Sumatra, yang merepresentasikan konteks sosial pascakonflik dan pascabencana dengan keanekaragaman agama dan budaya yang Penelitian ini menempatkan teologi, budaya lokal, dan praktik lintas iman sebagai sumber analisis konseptual untuk menelusuri bentuk-bentuk spiritualitas ekologis yang muncul dari interaksi masyarakat multireligius di wilayah tersebut (Yanuardi et al. , 2. Karena penelitian ini bersifat konseptual-literatur, partisipan yang dimaksud tidak berupa individu empiris, melainkan aktor dan komunitas yang direpresentasikan dalam literatur ilmiah. Beberapa konteks sosial dan teologis yang dianalisis mencakup: gerakan Green Islam sebagai representasi Islam ekologis di Indonesia (Testriono et al. , 2. inisiatif eco-ecclesiology Gereja di Tanah Batak sebagai praktik teologi ekologis kontekstual (Simangunsong et al. , 2. komunitas lintas iman di Aceh dan Sumatra Utara yang menjadi ruang interaksi spiritual multikultural (Defriza et al. , 2. Dengan demikian, penelitian ini tidak meneliti manusia sebagai subjek empiris, melainkan praktik sosial dan teologis yang tercermin dalam wacana akademik dan lapangan. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah analisis dokumen dan literatur ilmiah yang berhubungan dengan tema ekoteologi, dialog lintas iman, dan pemulihan ekologis pascabencana. Sumber data meliputi artikel jurnal terindeks Scopus dan Sinta, buku teologi kontekstual, laporan NGO keagamaan, serta arsip penelitian ekologi berbasis komunitas di Indonesia. Penulis berperan sebagai instrumen kunci dalam menafsirkan teks, menggunakan pendekatan hermeneutik teologis untuk menemukan makna di balik interaksi sosial dan spiritual dalam literatur. Dengan demikian, proses analisis bersifat reflektif dan interpretatif, bukan sekadar deskriptif, agar mampu mengungkap dimensi makna yang tersembunyi dalam praktik lintas iman. Prosedur penelitian dilakukan dalam empat tahap utama. Pertama, pengumpulan literatur akademik tentang ekoteologi, multikulturalisme, dan dialog lintas iman di Indonesia dari sumber ilmiah terverifikasi. Kedua, klasifikasi tema literatur berdasarkan fokus analisis: . spiritualitas ekologis, . relasi lintas iman, dan . konteks pascabencana. Ketiga, analisis isi dan interpretasi hermeneutik, yaitu membaca teks-teks akademik untuk menemukan pola pemikiran, nilai-nilai spiritual, dan praktik sosial yang mendukung kolaborasi ekologis lintas iman. Keempat, sintesis konseptual, yaitu merumuskan model teoretis yang menjelaskan hubungan antara dialog lintas iman dan pemulihan ekologis melalui lensa ekoteologi Tahapan ini mengacu pada pendekatan analisis kualitatif deskriptif yang menekankan makna dan konteks sosial (Rumahuru & Kakiay, 2. Untuk menjamin keabsahan hasil, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber literatur dan analisis tematik lintas agama. Validitas diperoleh dengan membandingkan temuan dari berbagai disiplin: teologi Islam, teologi Kristen, antropologi lingkungan, dan studi perdamaian. Analisis dilakukan secara komparatif antara wacana teologis dan praktik sosial keagamaan. Kredibilitas diperkuat dengan merujuk pada studi lintas konteks misalnya, pengalaman eco-pesantren sebagai Copyright A 2026 Ramdanil Mubarok, et al. (Dialog Lintas Iman Dalam Pemulihan Ekologis Pasca-Bencana: Studi Ekoteologi MultikulturalA. Auliya IstiAoanah, et al. pendidikan lingkungan berbasis Islam (Mulya & Salvi, 2. dan eco-ecclesiology Gereja Batak yang menekankan pelayanan ekologis (Simangunsong et al. , 2. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak dimaksudkan untuk generalisasi empiris, melainkan untuk memperkuat validitas konseptual dan refleksi teologis yang relevan bagi konteks Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Interaksi Antaragama Membentuk Kesadaran Ekologis Bersama Hasil kajian menunjukkan bahwa dialog lintas iman dalam konteks pascabencana di Aceh dan Sumatra berperan sebagai katalis pembentukan kesadaran ekologis kolektif. Dalam pengalaman masyarakat Aceh setelah tsunami 2004, keterlibatan pemuka Islam. Kristen, dan komunitas adat dalam proses rehabilitasi bukan sekadar kolaborasi kemanusiaan, tetapi juga bentuk refleksi spiritual bersama tentang hubungan manusia dengan alam. Kesadaran ini lahir dari pengalaman penderitaan ekologis yang sama bahwa bencana tidak mengenal agama, dan pemulihan hanya dapat dilakukan melalui kerja sama lintas iman (Yanuardi et , 2. Dialog lintas iman tersebut mewujud dalam berbagai bentuk partisipasi sosial: kegiatan reboisasi, penanaman mangrove, hingga doa bersama lintas agama untuk korban bencana dan penyembuhan bumi. Aktivitas ini membentuk kesadaran ekologis spiritual suatu pandangan bahwa bumi adalah rumah bersama yang suci, dan menjaga lingkungan merupakan bentuk ibadah lintas keyakinan (Testriono et , 2. (Simangunsong et al. , 2. Dalam konteks ini, interaksi antaragama berfungsi sebagai medium teologis yang membangun spiritualitas ekologis bersama di mana nilai kasih, rahmat, dan kepedulian terhadap ciptaan Tuhan menjadi jembatan bagi solidaritas ekologis. Tipologi interaksi lintas iman yang berkembang dapat dibagi ke dalam tiga bentuk: . kolaborasi praksis, seperti kerja sama lintas agama dalam restorasi . pendidikan ekologis transformatif, seperti eco-pesantren yang membuka ruang belajar lintas agama tentang etika lingkungan (Mulya & Salvi, 2. ritual reflektif lintas iman, seperti doa bersama untuk alam. Ketiganya menunjukkan bahwa dialog antaragama mampu menggeser orientasi keagamaan dari yang eksklusif menuju praksis ekologis yang universal, sekaligus menumbuhkan solidaritas sosial-ekologis di masyarakat multireligius. Literatur sosiologi agama dan studi lintas iman menunjukkan bahwa krisis ekologis terutama bencana alam sering kali berfungsi sebagai transformative social moment yang mendorong lahirnya solidaritas lintas identitas keagamaan. Dalam konteks Aceh dan Sumatra pascabencana, interaksi antaragama dapat dibaca melalui kerangka shared suffering yang menghasilkan apa yang disebut sebagai shared ecological consciousness. Kesadaran ini terbentuk bukan dari keseragaman teologis, melainkan dari pengalaman kolektif menghadapi kerentanan ekologis yang Temuan tersebut sejalan dengan pendekatan yOmile Durkheim tentang solidaritas sosial, di mana pengalaman krisis kolektif memperkuat kesadaran moral bersama . ollective conscienc. yang melampaui batas-batas kelompok primordial (Belvedere, 2023. Smith, 2. Dalam konteks ekologi, penderitaan akibat bencana alam menciptakan Auruang perjumpaan eksistensialAy yang mempertemukan komunitas Muslim. Kristen, dan kelompok adat dalam kesadaran akan keterhubungan manusia, alam dan Tuhan (Sukadana, 2. Studi tentang dialog lintas iman pascakonflik di Maluku menunjukkan bahwa pengalaman trauma kolektif mampu menggeser dialog antaragama dari kompetisi identitas menuju pencarian nilai bersama, termasuk tanggung jawab terhadap kehidupan dan lingkungan (Hedges et al. , 2. AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 03. Nomor 01. Tahun 2026. E-ISSN: 3048-2038 Wijsen menegaskan bahwa dalam konteks Indonesia, isu lingkungan telah menjadi arena baru bagi perjumpaan agama-agama, di mana agama berfungsi sebagai sumber makna dan motivasi etis dalam merespons krisis ekologis. menunjukkan bahwa agama tidak bekerja secara tunggal, melainkan secara dialogis dalam ruang sosial, sehingga membuka peluang bagi terbentuknya kesadaran ekologis lintas iman (Wijsen, 2. Hal ini relevan dengan praktik di Aceh dan Sumatra, di mana kerja-kerja pemulihan lingkungan pascabencana seperti rehabilitasi hutan, pengelolaan air bersih, dan relokasi berbasis komunitas sering melibatkan aktor lintas agama. Dialog akademis juga muncul ketika temuan ini dikaitkan dengan konsep dialogue in praxis dalam studi interfaith. Canceran menekankan bahwa dialog lintas iman yang efektif justru tidak berhenti pada pertukaran teologis, melainkan terwujud dalam kerja bersama menghadapi persoalan kemanusiaan konkret (Op. Dalam konteks ekologis, krisis lingkungan menjadi medium praksis yang mempertemukan nilai-nilai keagamaan berbeda dalam satu kepedulian moral yang sama, yaitu keberlanjutan kehidupan. Riset tentang dialog lintas iman di Indonesia menunjukkan adanya pergeseran dari dialog elitis menuju dialog berbasis komunitas dan advokasi sosial. Jati dkk. mencatat bahwa interaksi lintas iman pascareformasi semakin berakar pada pengalaman sehari-hari masyarakat, termasuk dalam isu keadilan sosial dan Pergeseran ini memperkuat argumen bahwa kesadaran ekologis bersama lahir dari relasi sosial yang intens dan berulang, bukan dari kesepakatan normatif semata (Jati et al. , 2. Kerangka ekoteologi multikultural menegaskan, interaksi antaragama pascabencana dapat dipahami sebagai proses theological convergence without Setiap agama tetap mempertahankan kekhasan doktrinalnya, namun menemukan titik temu pada gagasan bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang harus dijaga bersama. Studi Daffa dan Anggara tentang peran agama lokal dalam moderasi beragama menunjukkan bahwa kearifan ekologis seperti harmoni dengan alam dan etika keseimbangan sering menjadi jembatan antara agama formal dan komunitas adat dalam membangun kesadaran lingkungan kolektif (Daffa & Anggara, 2. Dengan demikian, interaksi antaragama dalam konteks Aceh dan Sumatra tidak hanya memperkuat kohesi sosial pascabencana, tetapi juga membentuk etos ekologis kolektif yang berorientasi pada keberlanjutan. Dialog lintas iman berfungsi sebagai medium rekonstruksi makna, di mana krisis ekologis dipahami sebagai persoalan moral dan spiritual bersama. Kesadaran ekologis yang lahir dari interaksi ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan model rekonstruksi sosial dan ekologis di masyarakat multikultural. Integrasi Kearifan Lokal dan Nilai-Nilai Keagamaan dalam Pemulihan Lingkungan Salah satu temuan konseptual penting dari studi ini ialah bahwa pemulihan ekologis pascabencana di Aceh dan Sumatra tidak dapat dipisahkan dari integrasi antara nilai-nilai agama dan kearifan lokal. Dalam konteks Aceh, falsafah adat bak poe teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala dan prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah berfungsi sebagai dasar moral dalam menata kembali relasi manusia dan alam. Pandangan ini sejalan dengan etika Islam ekologis yang memandang manusia sebagai khalifah . bumi, sehingga tindakan merawat alam merupakan bagian dari ibadah dan ketaatan spiritual (Testriono et al. , 2. Sementara itu, di wilayah Sumatra Utara dan Tapanuli, masyarakat Batak Kristen menafsir ulang teologi pelayanan menjadi diakonia ekologis yakni pelayanan kepada bumi sebagai pelayanan terhadap sesama manusia (Simangunsong et al. Nilai marsiadapari . otong royon. dijadikan dasar etika ekologis kolektif yang menyatukan kerja sama lintas agama dalam menjaga sumber daya alam. Dalam Copyright A 2026 Ramdanil Mubarok, et al. (Dialog Lintas Iman Dalam Pemulihan Ekologis Pasca-Bencana: Studi Ekoteologi MultikulturalA. Auliya IstiAoanah, et al. konteks ini, agama berfungsi sebagai bahasa moral, sedangkan kearifan lokal menjadi medium sosial untuk menerjemahkan etika ekologis ke dalam tindakan Integrasi nilai-nilai ini menunjukkan bahwa spiritualitas ekologis Nusantara bersifat organik dan kontekstual lahir dari interaksi antara ajaran agama, budaya lokal, dan pengalaman ekologis masyarakat. Kesadaran ekologis yang tumbuh bukan hasil dogma dari luar, melainkan hasil refleksi spiritual dari pengalaman bersama menghadapi bencana dan perubahan lingkungan (Defriza et al. , 2. Kajian ini menunjukkan bahwa pemulihan ekologis pascabencana di Aceh dan Sumatra menjadi lebih berkelanjutan ketika kearifan lokal dipertemukan secara dialogis dengan nilai-nilai keagamaan. Temuan ini sejalan dengan kritik terhadap pendekatan teknokratis dalam manajemen bencana dan lingkungan, yang kerap mengabaikan dimensi kosmologis dan moral masyarakat lokal. Berbagai studi menegaskan bahwa kearifan lokal menyediakan moral ecology, yakni seperangkat nilai, simbol, dan praktik yang membingkai relasi manusia dan alam sebagai hubungan etis, bukan semata relasi utilitarian (Tatay & Merino, 2023. Shiferaw et , 2. Kearifan lokal dalam konteks Indonesia, seperti adat pengelolaan hutan, tanah ulayat, dan sumber air memandang alam sebagai entitas hidup yang memiliki nilai Perspektif ini beresonansi dengan pandangan ekoteologi yang menolak antroposentrisme ekstrem. Dalam Islam, konsep khalifah fil ardh dan amanah menegaskan bahwa manusia bukan pemilik absolut alam, melainkan penjaga yang bertanggung jawab atas keberlanjutan ciptaan Tuhan (Ives et al. , 2. Sejumlah studi tentang AuGreen IslamAy di Indonesia menunjukkan bahwa konsep-konsep tersebut semakin diterjemahkan ke dalam praksis ekologis berbasis komunitas, termasuk rehabilitasi lingkungan pascabencana (Testriono et al. , 2. Sementara itu, dalam tradisi Kristen, pendekatan eco-ecclesiology menempatkan gereja sebagai komunitas ekologis yang terpanggil merawat ciptaan sebagai bagian dari panggilan iman. Simangunsong et al. menunjukkan bahwa gereja-gereja di Sumatra Utara mengintegrasikan pelayanan sosial, spiritualitas, dan kepedulian lingkungan melalui praktik konkret seperti konservasi lahan dan pendidikan ekologi berbasis iman. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Moltmann . tentang creation-centered theology, yang menekankan bahwa relasi dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari relasi dengan bumi sebagai ciptaan. Dialog akademis menjadi semakin kuat ketika kearifan lokal diposisikan bukan sebagai Aupra-agamaAy atau tradisi sekunder, melainkan sebagai locus theologicus ruang di mana refleksi teologis bertemu dengan pengalaman hidup masyarakat. Dalam konteks Aceh dan Sumatra, integrasi antara nilai Islam. Kristen, dan kosmologi lokal memungkinkan nilai-nilai ekologis diterjemahkan ke dalam praktik yang kontekstual dan diterima secara sosial. Studi (Rumahuru & Kakiay, 2. menegaskan bahwa rekonstruksi pascabencana yang mengabaikan dimensi budaya dan spiritual lokal cenderung gagal membangun keberlanjutan sosial-ekologis. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa ekoteologi multikultural bekerja secara dialogis dan inkarnatif yang tidak menghapus identitas keagamaan maupun tradisi lokal, tetapi mempertemukannya dalam praksis ekologis bersama. Alam dipahami sebagai ruang spiritual bersama . hared sacred spac. yang mengikat relasi antaragama dan budaya. Dengan demikian, pemulihan lingkungan tidak hanya menjadi proses teknis rehabilitasi ekosistem, tetapi juga proses rekonstruksi makna, di mana manusia, alam, dan Tuhan ditempatkan kembali dalam relasi yang etis dan Pendekatan Lintas Iman sebagai Model Rekonstruksi Sosial dan Ekologis Pendekatan lintas iman dalam pemulihan pascabencana tidak hanya menyentuh dimensi ekologis, tetapi juga menjadi model rekonstruksi sosial di AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 03. Nomor 01. Tahun 2026. E-ISSN: 3048-2038 masyarakat multikultural. Praktik kerja sama lintas agama setelah bencana berfungsi sebagai ruang perjumpaan baru . hared sacred spac. yang memperkuat kepercayaan sosial antar kelompok dan mengikis sekat-sekat eksklusivitas Kolaborasi lintas iman membangun modal sosial baru berupa kepercayaan, gotong royong, dan kesetaraan moral dalam merawat bumi (Yanuardi et al. , 2. Fenomena ini memperlihatkan bahwa bencana ekologis dapat menjadi katalis bagi rekonsiliasi sosial dan transformasi spiritual. Dalam konteks trauma kolektif pascabencana, praktik lintas iman berfungsi sebagai mekanisme healing ecology yakni penyembuhan sosial dan ekologis secara bersamaan. Ritual lintas agama, doa bersama, dan pelayanan kemanusiaan menumbuhkan empati lintas iman yang berkelanjutan (Gunawan, 2. Di sini, teologi bencana berubah menjadi teologi solidaritas ekologis, di mana iman diwujudkan dalam tindakan nyata bagi kehidupan Pendekatan lintas iman di Indonesia juga terinstitusionalisasi melalui jaringan nasional dan global. Gerakan Green Islam menunjukkan potensi advokasi berbasis iman untuk isu lingkungan (Testriono et al. , 2. , sementara forum seperti World Peace Forum dan Religion Twenty memperluasnya ke ranah diplomasi spiritual internasional (Ridwan et al. , 2. Jejaring lintas iman ini menunjukkan bahwa rekonstruksi sosial dan ekologis berbasis spiritualitas dapat melampaui batas lokal menuju model global. Literatur menunjukkan bahwa pendekatan lintas iman memiliki potensi signifikan sebagai model rekonstruksi sosial dan ekologis di masyarakat multikultural, khususnya dalam konteks pascakonflik dan pascabencana seperti Aceh dan wilayah Sumatra lainnya. Temuan ini memperluas pemahaman tentang rekonstruksi pascabencana yang selama ini cenderung berfokus pada pembangunan fisik dan ekonomi, dengan menegaskan pentingnya dimensi relasional, kultural, dan spiritual dalam proses pemulihan jangka panjang. Lederach . dalam teori peacebuilding menekankan bahwa rekonsiliasi yang berkelanjutan hanya dapat tercapai melalui transformasi relasi sosial, bukan sekadar penyelesaian konflik struktural. Pendekatan lintas iman dalam pemulihan ekologis dapat dibaca sebagai bentuk relational peacebuilding, di mana kerja bersama merawat lingkungan menjadi medium pembentukan kepercayaan . dan rekonstruksi kohesi sosial (Mahmuluddin, 2. Studi lain menunjukkan bahwa kolaborasi lintas agama dalam pemulihan lingkungan pascabencana di Indonesia berkontribusi pada terciptanya social-ecological peace, yaitu kondisi di mana pemulihan ekosistem berjalan seiring dengan rekonsiliasi sosial (Rumahuru & Kakiay, 2. Pendekatan lintas iman yang bersifat praksis melalui rehabilitasi lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, dan aksi kemanusiaan bersama menciptakan ruang dialog yang lebih egaliter dibanding dialog teologis formal. Hal ini sejalan dengan konsep dialogue of life yang dikemukakan oleh Swidler . , di mana dialog antaragama terwujud dalam kehidupan sehari-hari dan kerja sama konkret, bukan hanya dalam perdebatan doktrinal. Dalam konteks pascabencana, kerja ekologis bersama memungkinkan agama-agama berjumpa pada level praksis, sehingga mengurangi ketegangan identitas dan membuka ruang solidaritas lintas iman. Acharya . menegaskan bahwa dari sudut pandang sosiologi agama, agama tetap menjadi aktor publik yang berpengaruh dalam masyarakat modern, terutama dalam isu-isu moral dan kemanusiaan. Dalam konteks rekonstruksi sosial-ekologis, agama berfungsi sebagai kekuatan sosial yang mampu memobilisasi nilai kepedulian, keadilan, dan tanggung jawab kolektif terhadap kehidupan. Praktik lintas iman dalam pemulihan ekologis memperlihatkan bagaimana agama-agama tidak kehilangan identitasnya di ruang publik, tetapi justru menemukan relevansi sosialnya melalui kolaborasi untuk kebaikan bersama . ommon goo. Copyright A 2026 Ramdanil Mubarok, et al. (Dialog Lintas Iman Dalam Pemulihan Ekologis Pasca-Bencana: Studi Ekoteologi MultikulturalA. Auliya IstiAoanah, et al. Dialog akademis juga muncul ketika pendekatan ini dikaitkan dengan Konsep teologi ekologis praksis menekankan bahwa refleksi teologis harus berakar pada tindakan konkret dalam merespons krisis ekologis. Dalam kerangka ini, dialog lintas iman tidak hanya menjadi sarana komunikasi antaragama, tetapi juga locus praksis teologis di mana agama-agama bersama-sama menegosiasikan makna iman dalam konteks krisis lingkungan (Tupa Pebrianti Lumbantoruan & Meditatio Situmorang, 2. Pemulihan ekologis menjadi arena teologis bersama, di mana bumi dipahami sebagai rumah bersama ciptaan Tuhan yang menuntut tanggung jawab lintas iman. Pendekatan lintas iman dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, relevan sebagai alternatif model rekonstruksi pascabencana yang holistik. Rekonstruksi ekologis tidak dipisahkan dari rekonstruksi sosial, karena kerusakan lingkungan sering kali memperparah ketimpangan sosial dan konflik identitas. Studi tentang interfaith peacebuilding di Asia Tenggara menunjukkan bahwa kerja sama lintas agama dalam isu lingkungan dan kemanusiaan memiliki dampak jangka panjang dalam memperkuat kohesi sosial dan ketahanan komunitas (Ridwan et al. Nasution, 2. Dengan demikian, pendekatan lintas iman dapat dipahami sebagai model rekonstruksi sosial-ekologis yang integratif, di mana pemulihan lingkungan menjadi medium rekonsiliasi sosial dan transformasi relasi antar komunitas. Model ini menegaskan bahwa dialog lintas iman bukan sekadar wacana normatif, tetapi praksis teologis dan sosial yang relevan bagi masyarakat multikultural dalam menghadapi krisis ekologis global dan lokal secara berkelanjutan. SIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa interaksi antaragama di wilayah pascabencana telah membentuk kesadaran ekologis baru yang bersifat spiritual dan Kolaborasi lintas iman di Aceh dan Sumatra menunjukkan bahwa pengalaman penderitaan ekologis dapat menjadi titik temu bagi berbagai agama dalam meneguhkan tanggung jawab moral terhadap alam. Kesadaran ini lahir dari praktik sosial seperti reboisasi, doa bersama lintas iman, serta kegiatan kemanusiaan yang menjadikan dialog antaragama sebagai sarana pembelajaran ekologis dan solidaritas spiritual lintas keyakinan. Kearifan lokal dan nilai-nilai keagamaan terbukti berperan penting dalam membangun fondasi etika ekologis Nusantara. Prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Aceh dan nilai marsiadapari . otong royon. di Tanah Batak menggambarkan sinergi antara spiritualitas agama dan tradisi lokal dalam menata kembali hubungan manusia dengan alam. Integrasi ini melahirkan bentuk ekoteologi multikultural teologi ekologis yang tumbuh dari dialog dinamis antara iman, budaya, dan pengalaman ekologis masyarakat. Spiritualitas ekologis Indonesia karenanya bersifat inklusif, partisipatif, dan berakar kuat pada nilai-nilai kebersamaan lokal. Pendekatan lintas iman terbukti menjadi model rekonstruksi sosial dan ekologis yang relevan bagi masyarakat multikultural. Kerja sama antaragama pascabencana tidak hanya memulihkan lingkungan fisik, tetapi juga menyembuhkan relasi sosial dan spiritual yang terguncang. Melalui mekanisme penyembuhan kolektif dan pembangunan social-ecological peace, teologi lintas iman bertransformasi menjadi praksis kolaboratif yang menanggapi krisis kemanusiaan dan lingkungan secara bersamaan. Secara konseptual. Penelitian ini menawarkan kerangka ekoteologi multikultural lintas iman yang mengintegrasikan teologi, ekologi, dan pluralitas budaya dalam horizon praksis spiritual. Dengan menjadikan bumi sebagai ruang spiritual bersama, dialog lintas iman berperan ganda: menyelamatkan lingkungan sekaligus memperdalam kemanusiaan dan memperkuat perdamaian sosial lintas agama. AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin AL-AMIYAH: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 03. Nomor 01. Tahun 2026. E-ISSN: 3048-2038 DAFTAR PUSTAKA