Thomas Yudha Tri Prasetiyanto. Sugeng Nugroho Dywi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme Thomas Yudha Tri Prasetiyanto,1 Sugeng Nugroho2 Program Studi Seni Pedalangan. Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Surakarta Jln. Ki Hadjar Dewantara No. 19 Kentingan. Jebres. Surakarta 57126 E-mail: yudhatriprasetiyanto@gmail. Coresponding author: sgngnugroho@gmail. 1, 2 ABSTRACT This study investigates the sanggit lakon . lot arrangement and interpretatio. and the symbolism of the Dywi Sri narrative as performed in the Kedu Temanggungan style of wayang kulit . hadow puppet theatr. by Legowo Cipto Karsono. The primary objective is to uncover the intrinsic cultural meanings embedded within the pakeliran . uppet performanc. through a detailed analysis of the plot arrangement and Dywi SriAos symbolism. This analysis employs a textual-contextual paradigm framed by the ethnoart methodology. Utilizing a qualitative research method, data were systematically collected through an in-depth literature review and performance observation. The findings reveal that the Dywi Sri sanggit lakon exhibits a high degree of artistic integrity, adhering to the Javanese dramatic principles of tutug . , kempel . , and mulih . onclusive retur. The symbolism of Dywi Sri does not merely represent rice fertility. it also encompasses ecosystem balance and social sustainability. Furthermore, the Dywi Sri figure reinforces the spiritual relationship between humans and nature, which is clearly reflected in agricultural rituals such as wiwitan and mapag. Keywords: Dywi Sri. Kedu Temanggungan, plot interpretation and interpretation, symbolism ABSTRAK Penelitian ini mengkaji sanggit lakon dan simbolisme lakon Dywi Sri pada pertunjukan wayang kulit gaya Kedu Temanggungan yang disajikan oleh Legowo Cipto Karsono. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna yang terkandung dalam pakeliran tersebut dengan menganalisis sanggit lakon dan simbolisme Dywi Sri. Analisis ini dilakukan dengan paradigma tekstual-kontekstual dengan payung metode ethnoart. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan observasi pertunjukan wayang kulit. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa sanggit lakon Dywi Sri menunjukkan tingkat integritas artistik yang tinggi, mematuhi prinsip-prinsip dramatik Jawa yaitu tutug . , kempel . , dan mulih . enyelesaian konklusi. Simbolisme Dywi Sri tidak hanya merepresentasikan kesuburan padi, tetapi juga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sosial. Lebih lanjut, figur Dywi Sri memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan alam, yang terefleksi dalam ritual pertanian seperti wiwitan dan mapag. Kata kunci: Dywi Sri. Kedu Temanggungan, sanggit lakon, simbolisme Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Dywi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme PENDAHULUAN Nugroho. Karsono. Purwoko. Pertunjukan wayang kulit . elanjutnya Penelitian-penelitian ini memberikan disebut pakelira. gaya Kedu Temanggungan landasan mengenai tradisi pakeliran di Kedu tetapi belum menyentuh secara spesifik pada berkembang di masyarakat pinggiran eks- interpretasi dan simbolisme lakon Dywi Sri Karesidenan yang adaptif dan unik. Kedu. Berbeda wayang purwa yang umumnya bersumber dari Kajian tentang figur Dywi Sri sendiri Ramayana dan Mahabharata, pakeliran gaya Kedu telah banyak dihasilkan dan tersebar di Temanggungan juga mengadaptasi mitos, berbagai konteks tradisi. Secara luas. Dywi folklor, atau lakon carangan lokal. Salah satu Sri dimaknai sebagai dewi kemakmuran, lakon khas yang sering dipentaskan adalah kesuburan padi, dan pelindung pertanian lakon Dywi Sri, yang diadaptasi dari cerita dalam tradisi masyarakat agraris di Indonesia rakyat Sengkan Turunan dan sangat penuh (Hartati, 2012. Anggraini, 2. Simbolisme dengan ritual adat pertanian, peternakan, ini juga dikaji dalam hubungannya dengan serta filosofi pembangunan rumah. Perbedaan ketahanan pangan (Sunardi, 2. dan sebagai cerita, tokoh, dan alur dengan lakon Dywi Sri figur ibu mitologis (Fitrahayunitisna. Astawan, versi umum menunjukkan adanya ciri tradisi & Rahman, 2. Representasi Dywi Sri juga lokal yang kuat dan penyesuaian terhadap diteliti dalam berbagai ritual, seperti upacara potensi daerah (Nugroho. Karsono, dan adat Mapag Sri di Cirebon (Azhima. Priyatna. Purwoko, 2. Oleh karena itu, penelitian & Muhtadin, 2. dan di kalangan petani mendalam mengenai interpretasi . anggit Jawa Timur (Rohman. Fitrahayunitisna, & lako. dan makna simbolis lakon Dywi Sri Astawan, 2. dalam konteks spesifik Kedu Temanggungan Meskipun Dywi Sri telah banyak diteliti menjadi krusial, karena selain bersifat khas, dari berbagai perspektif ritual, folklor, dan aspek ini belum pernah dikaji oleh peneliti simbolisme umum, tinjauan pustaka tersebut menegaskan adanya kesenjangan dalam kajian. Kajian tentang pakeliran gaya Kedu Penelitian yang ada belum berfokus pada sudah pernah dilakukan, meskipun dengan analisis mendalam mengenai sanggit lakon fokus yang berbeda. Penelitian terdahulu Dywi Sri dalam konteks spesifik pertunjukan telah mengkaji struktur dan tekstur lakon wayang kulit gaya Kedu TemanggunganAi Mikukuhan Kedu sebuah lakon yang berbeda secara naratif karena diadaptasi dari Sengkan Turunan dan dalang yang sama. Legowo Cipto Karsono sarat dengan tradisi lokal Kedu. Oleh karena (Setyaji, 2. Studi lain membahas wayang itu, penelitian ini berkontribusi penting dalam kulit gaya Kedu secara umum, mencakup mengisi kekosongan tersebut. Temanggungan aspek bentuk figur wayang, struktur dan Sehubungan dengan isu krusial dan tekstur pertunjukan, serta eksistensinya di kesenjangan literatur yang ada, penelitian masyarakat (Nugroho. Sunardi, & Murtana, ini bertujuan untuk menjawab dua rumusan Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Thomas Yudha Tri Prasetiyanto. Sugeng Nugroho masalah utama, yakni bagaimana sanggit kontekstual dengan payung metode ethnoart lakon dan bagaimana makna simbolisnya. (Ahimsa-Putra, 2. Pendekatan ethnoart Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji karya seni dari sudut pandang mengkaji sanggit lakon sekaligus mengungkap makna simbolis lakon Dywi Sri dalam pakeliran kontekstual memastikan pemahaman yang purwa gaya Kedu Temanggungan sajian komprehensif, yakni dengan menguraikan Legowo Cipto Karsono. Dua permasalahan unsur-unsur tersebut menarik untuk dikaji karena sifatnya yang khas dan belum terungkap dalam kajian ilmiah terdahulu. , sehingga makna Analisis . yang terkandung di dalam pertunjukan tersebut dapat digali secara utuh. Interpretasi alur cerita . anggit lako. Dywi METODE Sri dalam pakeliran gaya Kedu Temanggungan pada pertunjukan wayang kulit gaya Kedu sajian Legowo Cipto Karsono dianalisis Temanggungan yang merupakan salah satu berdasarkan teori Sanggit (Nugroho, 2. subgaya khas dari tradisi pedalangan Kedu Teori ini menempatkan kreativitas dalang yang beragam. Fokus tersebut dipersempit sebagai hak independen dalam penciptaan pada sajian pakeliran Legowo Cipto Karsono, atau reinterpretasi lakon. Kreativitas ini dapat Penelitian terwujud dalam karya cipta baru maupun interpretasi baru atas karya-karya lama. Kajian fakta krusial, bahwa pada saat penelitian sanggit mencakup deskripsi narasi, analisis dilakukan. Legowo Cipto Karsono merupakan intertekstualitas, struktur adegan, penokohan, satu-satunya dalang yang masih aktif dan tema, dan amanat yang disampaikan. Pemilihan menguasai repertoar lakon wayang gaya Makna simbolis lakon Dywi Sri sajian Kedu Temanggungan secara komprehensif. Legowo Cipto Karsono dikaji melalui konsep- menjadikannya sumber otentik dan paling konsep budaya Jawa. Mitos Dywi Sri berakar relevan untuk dianalisis. pada zaman prasejarah. Pada masa itu. Lakon Dywi Sri dalam pertunjukan Legowo Cipto Karsono mendominasi (Herusatoto, 2. Simbolisme fenomena keunikannya. Kekhasan naratif ini diperkaya oleh masuknya budaya Hindu, dan simbolis lakon ini menjadikannya objek yang menciptakan imajinasi dewa-dewi lokal kajian yang relevan, mengingat berbeda dari seperti Dywi Sri. Dalam kosmologi Jawa, lakon Dywi Sri dalam gaya pakeliran pada terdapat dua entitas utama: Dywi Sri sebagai Oleh karena itu, penelitian ini dewi kesuburan yang berperan dalam ritual fokus pada analisis mendalam terhadap pertanian, dan Bathara Kala sebagai dewa sajian tersebut. Permasalahan penelitian ini waktu, kerusakan, dan kematian, yang penting dianalisis menggunakan paradigma tekstual- dalam upacara ngruwat (Koentjaraningrat. Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 praktik mitologi, animisme, dan dinamisme Dywi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data yang meliputi studi literatur dan observasi Studi untuk mengumpulkan data sekunder dari dengan pertunjukan wayang kulit purwa gaya Kedu, beragam interpretasi . lakon Dywi Sri, serta mitologi terkait Dywi Sri. Selanjutnya, berfokus pada pertunjukan wayang kulit Gambar 1. Dywi Sri diusir oleh Prabu Sengkan karena menolak dijodohkan dengan Prabu Kala Gumarang (Foto: Thomas Yudha, 2. dengan lakon Dywi Sri yang dipentaskan oleh dalang Legowo Cipto Karsono dalam gaya Kedu Temanggungan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis melalui tiga tahapan kualitatif dari Miles dan Huberman . , yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 2. Dywi Sri menyarankan kepada Jaka Ipel, kakek, dan neneknya agar menggelar upacara wiwitan (Foto: Thomas Yudha, 2. Sanggit Lakon Dywi Sri Menggala dan saat ia mengubah wujudnya Ringkasan Cerita Cerita berawal dari perjalanan Dywi Sri dari burung pipit yang memakan makanan setelah diusir dari Kerajaan Medhangtamtu Jaka Ipel. Setelah identitasnya terungkap, ia karena menolak dijodohkan dengan Prabu memberkati panen Jaka Ipel dan keluarganya Kala Gumarang. Pengusiran ini memicu dengan syarat mereka menggelar upacara bencana kelaparan di kerajaannya. Selama Dywi Sri Perjalanan Dywi Sri untuk bertemu kembali dengan adiknya. Raden Nurunan, dan bersama-sama mereka penjemputan paksa oleh Gadhing Winukir, berencana mendirikan baly wisma. Untuk itu, yang dibantu oleh keempat anak angkatnya. Raden Nurunan ditugaskan menemui Ki Dywi Sri juga tampil sebagai sosok sakral Buyut Bruwal. Keserakahan Ki Buyut Bruwal yang terkait dengan kesuburan, seperti saat ia berujung pada kehancuran harta bendanya. muncul dari perut kerbau yang disiksa Cakra Bantuan Bathara Guru kemudian mewujudkan Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Thomas Yudha Tri Prasetiyanto. Sugeng Nugroho dari Serat Pustaka Raja Purwa gubahan Ranggawarsita. Versi umum ini menceritakan perjalanan Dywi Sri dan Raden Sadana, kepulangannya ke negara yang menderita, dan pengajarannya mengenai pertanian kepada masyarakat agraris dan nelayan (Kodiron. Probohardjono, 1. Lakon umum ini Gambar 3. Dywi Sri dan Nurunan mendirikan baly wisma (Foto: Thomas Yudha, 2. pada akhirnya berorientasi pada keberhasilan Dywi Sri dalam meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraan. Berbeda signifikan, lakon Dywi Sri gaya Kedu Temanggungan diadaptasi dari Sengkan Turunan, sebuah cerita rakyat spesifik Kedu. Cerita Sengkan Turunan mengisahkan pengusiran Dywi Sri dari Medhang Tamtu oleh Prabu Sengkan, perjuangan Dywi Sri mengajarkan pertanian kepada petani, dan konflik melawan antagonis seperti Prabu Gambar 4. Dywi Sri dan Kebo Gydhyg berpapasan dengan Prabu Kala Gumarang (Foto: Thomas Yudha, 2. baly wisma menjadi sebuah keraton, dan Raden Nurunan dinobatkan sebagai raja. Cerita diakhiri dengan pertempuran. Baik Prabu Kala Gumarang maupun Prabu Sengkan tewas di tangan anak-anak angkat Dywi Sri, yaitu Kebo Gydhyg dan Sapi Gylyng, setelah keduanya kembali mencoba memaksanya kembali. Terakhir. Gadhing Winukir yang terus membujuk Dywi Sri akhirnya dikutuk menjadi pepohonan. Analisis Intertekstualitas Lakon Dywi Sri merupakan salah satu repertoar penting dalam tradisi pedalangan Jawa. Secara umum, narasi lakon ini diadaptasi Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Kala Gumarang dan Ki Buyut Karengkang. Cerita versi Kedu ini lebih menekankan pada perjuangan melawan ketidakadilan, kutukan terhadap petani yang tidak adil, dan upaya mendirikan kerajaan baru. Sementara lakon umum berakhir dengan keberhasilan pertanian. Sengkan Turunan diakhiri dengan keberhasilan Dywi Sri mendirikan Kerajaan Medhang Kamulyan dan pemulihan tokoh Perbedaan naratif ini menyoroti bahwa setiap daerah memiliki ciri dan tradisi yang unik, yang disesuaikan dengan potensi lokal (Sayuti, 2. Perbedaan ini juga terlihat jelas jika dibandingkan dengan tradisi pedalangan Surakarta. Dalam Surakarta, lakon ini dikenal dengan berbagai nama (Sri Mulih. Sri Mantuk. Sri Boyong. Sri-Sadan. dan memiliki latar peristiwa yang melintasi tiga zaman utama (Purwacarita. Wiratha. Dywi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme dan Pandhawa-Kuraw. Penempatan latar Menurut pola konvensional pakeliran yang berbeda ini mencerminkan cara tradisi gaya Kedu, satu lakon biasanya terdiri dari Surakarta mengintegrasikan mitos Dywi Sri ke tujuh babak . , dua adegan, dan lima dalam kerangka narasi epos Mahabharata yang peristiwa peperangan . (Nugroho, lebih luas (Kodiron, 1967. Probohardjono. Sunardi, & Murtana, 2. Struktur ini memiliki urutan yang baku dan linear. Kedu Mulai dari jejer pertama yang menampilkan Temanggungan dapat dikategorikan sebagai adegan di istana . , keputrian . , mitos yang berfungsi sebagai sistem simbol. dan balai penghadapan . asyban jaw. Jejer Mitos diartikan sebagai cerita suatu bangsa kedua dan ketiga menampilkan konflik dan yang mengisahkan dewa-dewi dan pahlawan pertempuran . rang simpang dan prang gaga. , masa lalu (Tim Penyusun Kamus, 1. Lakon diikuti oleh adegan gara-gara yang berfungsi ini berfungsi sebagai media untuk memahami sebagai selingan komedi. Jejer keempat hingga realitas spiritual dan alam semesta melalui keenam melanjutkan rangkaian pertempuran narasi simbolik (Iswidayati, 2. Dengan . rang bygal dan prang pangga. , yang sering kali demikian, teks hipogram atau teks asal lakon melibatkan ksatria dan raksasa. Puncaknya. Kedu adalah mitos lokal yang berkembang di masyarakat pendukungnya. Teks tersebut besar . rang agen. , dan seluruh cerita diakhiri bukan sekadar adaptasi epik pewayangan dengan jejer ketujuh, ditutup dengan tanceb kayon yang menandai akhir pementasan. Struktur yang kaku ini memberikan kerangka yang jelas dan terprediksi, yang menjadi ciri Lakon Dywi Sri Perbandingan menyajikan narasi yang unik dan relevan bagi khas pakeliran konvensional gaya Kedu. Berbeda dengan pola linear tersebut, komunitas pendukungnya. struktur adegan lakon Dywi Sri memiliki urutan yang bersifat kausalitas (Nugroho. Struktur Adegan Sri Artinya, setiap adegan yang disajikan menunjukkan adanya reinterpretasi dari pola memiliki hubungan sebab-akibat yang kuat konvensional pementasan wayang gaya Kedu. Berbeda dengan pakem tradisional, struktur permasalahan tokoh utama, yaitu Dywi adegan yang ditampilkan dalam lakon ini Sri. Fokus cerita tidak lagi pada rangkaian disesuaikan secara khusus dengan narasi pertempuran formal, tetapi pada perjalanan yang diceritakan. Hal ini menandakan sebuah Dywi inovasi dalam seni pedalangan, bahwa dalang interaksinya dengan berbagai tokoh, dan tidak hanya mengikuti aturan baku . akem dampaknya terhadap kesuburan alam. Struktur Dywi pedalanga. , tetapi juga menyesuaikannya Sri Struktur kausalitas ini membuat alur cerita menjadi lebih padat dan terpusat pada tema utama, yaitu mitos Dywi Sri sebagai Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Thomas Yudha Tri Prasetiyanto. Sugeng Nugroho dewi kesuburan. Misalnya, pengusiran Dywi Penokohan Sri secara langsung menyebabkan bencana Lakon Dywi Sri dalam pertunjukan ini kekeringan, dan kehadirannya di tengah dihidupkan oleh delapan kelompok tokoh masyarakat petani mengembalikan kesuburan. yang memiliki peran dan fungsi berbeda dalam Semua adegan dan tokoh yang munculAibaik membangun narasi. Kelompok-kelompok ini mereka yang membantu Dywi Sri seperti Jaka meliputi tokoh utama, tokoh antagonis, tokoh Ipel dan Kaki Tumbruk, maupun mereka yang pendukung . aik untuk protagonis maupun menentangnya seperti Prabu Sengkan dan Ki antagoni. , tokoh peran pembantu, dan Buyut BruwalAiselalu relevan dengan alur tokoh pelengkap (Nugroho, 2. Klasifikasi cerita utama. ini membantu kita memahami dinamika Berdasarkan struktur adegan dan tokoh- hubungan antar-karakter dan bagaimana tokohnya, lakon ini memenuhi kriteria tutug, setiap peran berkontribusi pada alur cerita kempel, dan mulih (Sumanto, 2. Tutug secara keseluruhan. berarti cerita terselesaikan secara tuntas Tokoh sentral dalam lakon ini adalah sesuai judulnya. perjalanan Dywi Sri berujung Dywi Sri, yang berfungsi sebagai tokoh utama pada pemberian manfaat bagi para petani. atau protagonis. Sementara itu, karakter yang Kempel mengacu pada keterkaitan setiap menjadi lawannya adalah Prabu Sengkan permasalahan tokoh dengan isu utama yang dan Prabu Kala Gumarang, yang berperan dialami oleh Dywi Sri. Semua konflik yang sebagai tokoh antagonis. Konflik yang mereka muncul berfungsi untuk memperkuat narasi ciptakan menjadi motor penggerak cerita. perjalanan sang dewi. Terakhir, lakon ini Dalam menghadapi konflik ini. Dywi Sri dikatakan mulih karena semua permasalahan tidak berjuang sendirian. Ia didukung oleh yang ditampilkan mendapatkan jawaban yang tokoh pendukung lapis pertama, seperti jelas, baik yang berakhir bahagia maupun Kumara Sutra. Kumara Iwyn. Kebo Gydhyg. Karakter-karakter Sapi Gylyng. Nurunan, dan Bathara Guru, yang bersikap baik kepada Dywi Sri, seperti yang secara langsung membantu mengatasi Jaka Ipel dan keluarganya, mendapatkan permasalahan yang muncul. Sebaliknya, mereka yang Lakon ini juga memuat tokoh-tokoh menentangnya, seperti Prabu Sengkan. Prabu pendukung yang memiliki peran signifikan Kala Gumarang, dan Gadhing Winukir, dalam narasi. Semar, misalnya, bertindak mengalami nasib buruk. Hal ini menegaskan pesan moral dalam cerita, bahwa kebaikan kedua yang memberikan nasihat spiritual dan moral kepada protagonis. Di sisi lain, keserakahan dan kejahatan akan berujung Gadhing Winukir adalah tokoh pendukung pada kehancuran. antagonis yang memperkuat posisi Prabu Sengkan. Selain itu, terdapat tokoh-tokoh pembantu yang dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan karakternya. Kelompok pertama Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Dywi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme adalah yang berkarakter baik, seperti Jaka Ipel. Kaki Tumbruk, dan Nini Tumbruk, yang tindakannya membantu Dywi Sri dan Sebaliknya. Cakra Menggala dan Buyut Bruwal mewakili kelompok berkarakter tidak baik, yakni perbuatan mereka justru memicu konsekuensi negatif dalam alur cerita. Sebagai menampilkan tokoh-tokoh yang memperkaya narasi dan suasana. Karakter-karakter ini Kayu Mas. Andong Puring. Tunggak Semi. Garyng. Pytruk, dan Bagong. Meskipun peran mereka tidak sepenting tokoh utama, kehadiran mereka sangat vital. Misalnya. Garyng. Pytruk, dan Bagong sering kali muncul dalam adegan gara-gara untuk Diagram Korelasi antar-tokoh dalam lakon Dywi Sri . ibuat oleh Sugeng Nugroh. memberikan sentuhan komedi dan selingan. Klasifikasi tokoh-tokoh ini secara keseluruhan keseimbangan antara usaha fisik dan spiritual. dirancang dengan struktur kompleks untuk Pesan menyampaikan pesan dan alur cerita secara manusia harus bekerja keras, tetapi tidak boleh efektif . ihat Diagra. melupakan aspek spiritual, yaitu memohon berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai dengan keyakinan masing-masing. Dengan Tema dan Amanat demikian, keberhasilan dan kesejahteraan Ay bukan hanya hasil dari kerja keras semata. Tema ini menyampaikan pesan penting: melainkan juga dari adanya keseimbangan untuk mempertahankan kesuburan bumi dan antara ikhtiar manusia dan doa, menciptakan kelestarian pangan, manusia harus senantiasa keselarasan yang utuh dalam kehidupan. Lakon Dywi Aukesuburan Sri menjaga serta merawat ekosistem. Secara simbolis, narasi ini mengingatkan audiens Makna Simbolis Lakon Dywi Sri akan tanggung jawab mereka terhadap alam. Mitos Dywi Sri karena kesejahteraan dan kelangsungan hidup Mitos Dywi Sri dikenal luas di kalangan sangat bergantung pada harmoni antara Indonesia, aktivitas manusia dan lingkungan. mereka yang hidup dan bergantung pada Lebih dari sekadar etika lingkungan, sektor pertanian sebagai mata pencaharian lakon ini juga mengamanatkan pentingnya Keyakinan ini sangat kuat di daerahJurnal Panggung V35/N4/12/2025 Thomas Yudha Tri Prasetiyanto. Sugeng Nugroho daerah yang secara historis memiliki tradisi konseptual, mitos Dywi Sri dalam masyarakat pertanian padi yang kental, seperti masyarakat Jawa dapat dipahami sebagai simbol penting Jawa. Sunda, dan Bali. Masyarakat di wilayah- yang memuat beragam makna budaya. Simbol wilayah ini menginternalisasi mitos Dywi Dywi Sri tidak hanya menggambarkan sosok Sri sebagai bagian integral dari budaya dewi pelindung padi. Ia juga melambangkan Berbagai ritual dan upacara, mulai kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan dari penanaman benih hingga pasca-panen, masyarakat secara keseluruhan. Mitos ini menjadi cerminan nilai-nilai yang lebih besar terhadap Dywi Sri. Hal ini menunjukkan daripada sekadar urusan pertanian. bahwa mitos Dywi Sri bukanlah sekadar Ritual-ritual seperti upacara wiwitan, cerita, melainkan sebuah sistem kepercayaan mapag, dan bersih dysa merupakan ekspresi yang memandu praktik hidup dan pandangan dunia masyarakat agraris. Fenomena ini masyarakat Jawa terhadap berkah Dywi Sri. menunjukkan bahwa lakon Sri Mulih berfungsi Dalam konteks pemikiran Geertz, simbol- sebagai representasi budaya petani, karena simbol ini mencerminkan nilai-nilai mendalam ekspresi simbolis tentang padi dibentuk dalam budaya pertanian. Kesuburan lahan dari cerita turun-temurun hingga akhirnya dan keberhasilan panen tidak hanya dianggap membentuk mitos Dewi Padi itu sendiri sebagai hasil kerja keras, tetapi juga sebagai (Sunardi, 2. hasil perlindungan dan anugerah Dywi Sri. Mitos Dywi Sri secara umum dianggap yang dihormati sebagai entitas spiritual yang menjaga keseimbangan alam. pertanian masyarakat agraris. Panen padi Lakon wayang kulit Dywi Sri gaya yang berlimpah, yang mampu mencukupi Kedu Temanggungan dapat dilihat sebagai kebutuhan pangan, dipersepsikan sebagai representasi simbolis dari hubungan erat manifestasi nyata dari kesuburan tersebut. antara masyarakat Jawa dengan padi dan Dalam upacara bersih dysa yang diadakan Dywi Sri. Narasi ini mencerminkan filosofi setelah panen raya, pementasan wayang kulit keseimbangan antara manusia dan alam. dengan lakon Sri Mulih sering kali dipilih Melalui cerita ini, masyarakat diajarkan untuk melambangkan harapan akan berkah untuk menghargai siklus alam, memahami kesuburan Dywi Sri yang terus berlanjut (Sunardi, 2. Hal ini menegaskan bahwa ditentukan oleh usaha fisik, tetapi juga oleh seni pertunjukan, dalam hal ini wayang kulit, harmoni spiritual dengan alam. Oleh karena menjadi media penting untuk menjaga dan itu. Dywi Sri dalam lakon ini bukan sekadar simbol mitologis. Ia mencerminkan makna nilai-nilai mendalam tentang siklus hidup, kemakmuran. Berdasarkan teori simbol Clifford Geertz dan keberlanjutan yang sangat dihormati . , yang memandang simbol sebagai dalam masyarakat Jawa. Lakon ini secara elemen kebudayaan yang membawa makna efektif menginternalisasi nilai-nilai budaya Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Dywi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme agraria, mengajarkan pentingnya menjaga bergantung pada hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan entitas spiritual yang diyakini melindunginya. Kaki Tumbruk: Woo yyn mekaten kaleresan sanget Kusuma Dywi. Saryhing Panjenengan rawuh wonten sawah kula mriki, ingkang mangka menika nedheng badhy labu, pramila saking menika kula nyuwun berkahipun Kusumaning Ayu Dywi Sri. Jer Paduka menika dados ratuning pari, ratuning tanem tuwuh. Dywi Sri sebagai Simbol Kesuburuan Penampilan Dywi Sri Kaki Tumbruk: representasi simbolis yang kaya, melampaui Figur merupakan perwujudan konsep kesuburan dan kemakmuran yang berakar kuat dalam budaya agraris masyarakat Jawa. Lebih dari sekadar memastikan panen yang melimpah. Dywi Sri melambangkan hubungan spiritual yang mendalam antara manusia dan alam. Ia merefleksikan pentingnya keseimbangan alam, dan spiritualitas saling terhubung dan Legowo Cipto Karsono menekankan pentingnya kesuburan sebagai inti dari lakon Dywi Sri. Setiap adegan yang disajikan dalam simbol-simbol kesuburan dan siklus pertanian. Kesuburan melainkan juga melambangkan kesejahteraan secara umum. Kehadiran Dywi Sri dalam lakon tersebut memberikan harapan akan panen yang berlimpah dan keseimbangan ekologi, yang pada akhirnya mencerminkan kepercayaan mendalam masyarakat terhadap kekuatan spiritual yang menjaga tanah dan Hal ini terungkap dalam dialog Kaki Tumbruk kepada Dywi Sri sebagai Kebetulan sekali Sang Dewi. Oleh karena kehadiran Paduka di sawah saya mendekati panen labu, maka saya memohon berkah Paduka Sang Dywi Sri untuk kesuburan dan kelimpahan panenku, karena Paduka merupakan dewi padi dan dewi semua tumbuha. Dialog Kaki Tumbruk yang memohon berkah dari Dywi Sri untuk kesuburan dan Dywi Sri sebagai simbol kesuburan. Kaki Tumbruk, sebagai petani yang mengharapkan panen labu yang berlimpah, dengan jelas bahwa Dywi Sri bukan hanya penguasa padi, melainkan juga seluruh tumbuhan dan hasil Permohonan berkah dari Dywi Sri menunjukkan bahwa kesuburan tanah dan keberhasilan panen dianggap bergantung pada restu dan perlindungan Dywi Sri yang menjadi penentu utama kesejahteraan Melalui tersebut, peran sentral Dywi Sri dalam menjaga keseimbangan dan produktivitas alam tersoroti. Dywi Sri diposisikan sebagai figur dewi yang tidak hanya mengendalikan pertumbuhan padi, tetapi juga seluruh hasil Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Thomas Yudha Tri Prasetiyanto. Sugeng Nugroho Simbol kesuburan dalam kehidupan masyarakat ini mencakup tidak hanya aspek material, seperti padi yang tumbuh subur, tetapi juga panen yang subur datang dari berkah Dywi keterkaitan spiritual antara manusia dan alam. Kepercayaan Sri memperlihatkan pentingnya keterkaitan Setiap spiritual antara manusia dan alam. Kesuburan yang dijanjikan oleh Dywi Sri dalam lakon dibawa oleh Dywi Sri berhubungan dengan ini mengandung makna yang lebih luas, kelimpahan pangan, kedamaian, dan harmoni yaitu kelangsungan hidup dan kelimpahan dalam kehidupan sosial. Pemberian berkah yang diharapkan oleh masyarakat petani dari dari Dywi Sri menjadi simbol kemakmuran hubungan harmonis dengan alam. yang bersifat holistik. Kehidupan masyarakat Analisis mendalam terhadap lakon ini yang makmur tidak hanya bergantung pada menunjukkan bagaimana simbolisme Dywi hasil bumi, tetapi juga pada keseimbangan Sri menjadi media untuk menyampaikan spiritual dan sosial yang dijaga melalui ritual- pesan-pesan moral dan filosofis. Tokoh ini Dengan demikian, kemakmuran yang mengajarkan pentingnya menjaga harmoni dilambangkan Dywi Sri mencerminkan konsep dengan alam, yang terwujud dalam ritual kesejahteraan dalam kebudayaan Jawa, yang dan praktik pertanian tradisional. Dengan mencakup dimensi material, kebahagiaan, demikian, lakon ini tidak hanya berfungsi keharmonisan, dan hubungan yang baik sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana dengan alam. Berikut adalah narasi pocapan edukasi dan pewarisan nilai-nilai budaya. dalang yang membuktikan bahwa Dywi Sri Pesan ini sejalan dengan pandangan bahwa merupakan simbol dari kemakmuran. seni pertunjukan, seperti wayang, adalah medium vital untuk mempertahankan dan mentransmisikan kearifan lokal dari generasi ke generasi (Pramana, 2. Dywi Sri sebagai Simbol Kemakmuran Dywi Sri dalam lakon tersebut dihadirkan sebagai simbol kemakmuran yang melampaui sekadar hasil pertanian. Melalui visualisasi yang detail dan dialog yang mendalam, pertunjukan ini menegaskan bahwa Dywi Sri merupakan representasi dari kesejahteraan Dalam narasi lakon. Dywi Sri digambarkan sebagai sosok yang memberikan berkah berupa panen yang berlimpah, yang memastikan kelangsungan hidup masyarakat Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Bawany putri linuhung kinasihan jawata, mila mboten nama mokal kathah punggawa miwah wadya-bala medhak ing para kawula samya kembeng-kembeng waspa, labet tinilar ratuny pari nenggih Kusumaning Ayu Dywi Sri. Wauta kocapa, kagyat njola awekas, sakathahing para kawula dupi nguninga wonten prahara mangampak-ampak gora mawalikan lysus pindha pinusus, gya hanyampar hanyaut sakathahing wuluwetu: pari, palawija, lan sapanunggalanira ing salebeting lumbung ing Negari Medhangtamtu, temah bubar mawur tanpa (Sungguh kesayangan dewa, sehingga banyak warga yang menangisi kepergian Dywi Sri dari Negara Medhangtamtu. Setelah kepergian sang dewi, terjadilah Dywi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme malapetaka, lesus menyerang tanaman serta membuat lumbung Negara Medhangtamtu habis tak tersis. Dialog yang menggambarkan kepergian Dywi Sri dari Negara Medhangtamtu dan dampak buruk yang menyertainya, secara jelas menegaskan bahwa Dywi Sri sebagai Ketika Dywi Sri, yang disebut sebagai Auratunya padi,Ay meninggalkan negara tersebut, terjadi bencana yang menghancurkan lumbung padi. Dialog tersebut mencerminkan bahwa keberadaan Dywi Sri secara simbolis berkaitan erat dengan kelimpahan hasil bumi dan kesejahteraan masyarakat. Tanpa kehadiran Dywi Sri, tanaman gagal, hasil panen hancur, dan lumbung menjadi kosong, sehingga merupakan gambaran kuat tentang Dywi Sri Penggambaran Dywi Sri dalam narasi tersebut dapat dianalisis melalui kerangka ekokritisisme dan studi budaya. Narasi ini bukan sekadar cerita, melainkan sebuah teks dunia . masyarakat Jawa tentang hubungan antara manusia dan alam. Konsep bahwa kemakmuran suatu negara musnah setelah dewi padi diusir menegaskan adanya . ehadiran dew. , ekologi . esuburan ala. , . esejahteraan (Glotfelty & Fromm, 1. Dalam pandangan ini, kemakmuran tidak dapat dipisahkan dari etika menjaga hubungan baik dengan alam, yang dipersonifikasikan oleh Dywi Sri. Hilangnya Dywi Sri, yang dilambangkan dengan bencana alam, menunjukkan adanya konsekuensi fatal ketika manusia melanggar keseimbangan ini, sebuah konsep yang relevan dengan krisis ekologi modern. Oleh karena itu, lakon ini dapat dianggap sebagai kearifan lokal . ocal wisdo. yang berfungsi sebagai ekologis dan keberlanjutan sosial (Brandon. Geertz, 1973. Sardjono, 2. Dywi Sri sebagai Simbol Pertanian Dywi Sri ditampilkan sebagai simbol sentral dalam kehidupan pertanian masyarakat Jawa. Sebagai dewi padi, ia menjadi figur yang melambangkan keberkahan alam dan hubungan erat antara manusia dan siklus Lakon Dywi Sri sebagai pelindung tanaman padi, yang sangat dihormati dalam setiap tahap pertanian, mulai dari menanam hingga panen. Kehadirannya dalam pertunjukan wayang menunjukkan betapa pentingnya sosok Dywi Sri dalam menjaga kesuburan tanah, sehingga hasil panen yang berlimpah dapat dinikmati oleh masyarakat agraris. Pakeliran bagaimana ritual-ritual pertanian, seperti permulaan menanam padi . dan penyambutan padi yang akan dipanen . apag sr. , selalu dikaitkan dengan penghormatan kepada Dywi Sri. Ia diposisikan sebagai sosok yang memiliki kekuatan untuk menjamin keberhasilan panen, sehingga masyarakat merasa perlu menjalin hubungan spiritual Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Thomas Yudha Tri Prasetiyanto. Sugeng Nugroho Pakeliran dan hasil panen berlimpah. Sesaji ini bukan simbol Dywi Sri dalam lakon tidak hanya mencerminkan aspek agraris masyarakat, juga representasi spiritual hubungan antara tetapi juga menggambarkan keyakinan bahwa manusia dan alam yang dijaga oleh Dywi Sri. keberlangsungan hidup dan kesejahteraan Penggambaran Dywi Sri dalam narasi tersebut dapat dianalisis melalui kerangka keberkahan yang diberikan oleh Dywi Sri antropologi agama dan studi ritual. Dialog sebagai dewi pertanian. Berikut dialog yang tentang sesaji wiwitan menunjukkan bahwa menunjukkan sesaji upacara wiwitan. wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media sakral Dywi Sri: yang merepresentasikan ritual pertanian. Dyny sarat saranany anggonmu bakal wiwit amyk pari, saraty: ingkung ayam loro, tumpeng megana dijunduki endhog dadar, jajan pasar, kembang boryh, kinang, jongkat, pengilon, gula klapa, srabi, klepon, kupat lepet, kupat sompil, iwak kebo siji, sega liwet, degan klapa, tebu, beras, kapurata, dhuwit sadak sawit. Dalam konteks ini. Dywi Sri adalah simbol sentral dari hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Sesaji yang beragam, mulai dari makanan hingga uang, bukan sekadar persembahan, melainkan sebuah komunikasi simbolis yang menguatkan ikatan antara petani dan kekuatan supranatural yang dipercaya mengatur siklus pertanian. Dywi Sri: Hal ini mencerminkan pandangan animisme Sesaji yang harus disajikan untuk mulai memanen padi yaitu dua ingkung ayam, tumpeng megana yang pucuknya ditancapkan telur dadar, jajan pasar, bunga boreh, kinang, sisir, kaca, gula jawa, serabi, klepon, kupat lepet, kupat sumpil, satu buah daging kerbau, nasi liwet, kelapa muda, tebu, beras, kapur barus, dan uan. dan spiritualisme masyarakat agraris, bahwa setiap unsur alam memiliki kekuatan dan perlu dihormati (Eliade, 1959. Koentjaraningrat. Sartini & Purwadi, 2. Dengan demikian, lakon ini dapat dipahami sebagai . mitos dan ritual agraris, yang berfungsi untuk mengikat komunitas, melestarikan kearifan Dialog menekankan peran Dywi Sri sebagai penjaga lokal, dan memberikan makna spiritual pada kerja keras dalam bertani. dan pelindung pertanian, khususnya dalam tradisi menanam dan memanen padi. Setiap poin sesaji yang disebutkan, seperti ingkung SIMPULAN ayam, tumpeng, dan jajan pasar, berperan Kajian ini mengidentifikasi dua temuan penting dalam budaya masyarakat Jawa, utama terkait lakon Dywi Sri dalam wayang bahwa ritual tersebut dianggap sebagai kulit gaya Kedu Temanggungan. Pertama, bentuk penghormatan kepada Dywi Sri agar dari perspektif sanggit lakon, pertunjukan proses pertanian berjalan dengan lancar ini menunjukkan inovasi kreatif dalang yang Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Dywi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme membedakannya dari pakem konvensional. Narasi yang diadaptasi dari mitos lokal *** Kedu (Sengkan Turuna. disusun dengan pola kausalitas yang padat, memenuhi prinsip tutug, kempel, dan mulih. Kedua, dari perspektif DAFTAR PUSTAKA