PELAKSANAAN PIK-KRR (PUSAT INFORMASI KONSELING KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA) SMK DI MEDAN Barirah1,*. Fistaqul Isnaini2 Program Studi Pendidikan Profesi Bidan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan. Medan Penulis Korespondensi: Email: barirahmst563@gmail. ABSTRAK Program Kesehatan Reproduksi Remaja difokuskan pada empat sasaran utama yaitu: Peningkatan komitmen terhadap program KRR. Komunikasi perubahan perilaku remaja. Peningkatan kemitraan dan kerjasama dalam program KRR dan Peningkatan akses dan kualitas pengelolaan dan pelayanan Pusat Informasi dan Konseling KRR (PIK-KRR). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil evaluasi bagaimana pelaksanaan PIK-KRR SMK di Medan. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif untuk mengetahui pelaksanaan setelah adanya PIK-KRR. Sampel pada penelitian adalah 20 SMK yang telah melaksanakan program PIK-KRR dengan metode pengambilan sampel accidental sampling dan analisa data distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukan pada PIK-KRR melakukan sarasehan bagi anggota kelompok remaja 75%, 60% pimpinan/kepala sekolah memberi dukungan dan persetujuan, penyusunan program kegiatan PIK-KRR 55%, kegiatan jambore remaja 60%, advokasi untuk meningkatkan kualitas dan keberlangsungan PIK-KRR didapatkan dari hasil bahwa 70%, jaringan keterlibatan70%, media cetak dan elektronik 70%, meresmikan pembentukan PIK-KRR 60%, jadwal rutin pertemuan minimal 1 bulan sekali 55%, informasi KRR oleh pendidik sebaya kepada guru didapatkan 75%, pendidik sebaya dan konselor sebaya, tenaga medis, psikolog dan tenaga ahli lainnya yang datang secara terjadwal 65%, ruangan khusus tempat pelayanan dan ruang pertemuan PIK-KRR 55%, 50% membuat laporan, informasi dan konseling KRR di luar tempat PIK-KRR ini dapat dilakukan dengan cara penyuluhan 70%, mengirimkan kader untuk pelatihan bagi pengelola, calon pendidik sebaya dan konselor sebaya 65%. Berdasarkan pelaksanaan PIK-KRR diperoleh hasil bahwa hanya 75% yang telah melaksanakan PIK-KRR dengan baik. Disarankan dari hasil penelitian ini agar melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai manfaat dibentuknya atau dilaksanakannya PIK-KRR disekolah-sekolah. Kata Kunci : PIK-KRR. Pelaksanaan PENDAHULUAN serta diiringi dengan perkembangan Kondisi ini menyebabkan remaja menjadi rentan terhadap masalah-masalah perilaku berisiko, seperti melakukan hubungan seks sebelum menikah dan penyalahgunaan NAPZA, yang kedua dapat membawa risiko terhadap penularan HIV AIDS. Kompleksitas permasalahan remaja perlu mendapat perhatian secara terus menerus baik dari pihak pemerintah. LSM, masyarakat, maupun keluarga, guna menjamin kualitas generasi mendatang (Muadz, 2008, hal. Sejak Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan ICPD (Internasional Conference on Population and Developmen. , di Kairo Mesir tahun 1994, masyarakat internasional mengukuhkan hak-hak remaja akan informasi tentang kesehatan reproduksi yang benar dan pelayanan kesehatan reproduksi termasuk konseling. Pemerintah Indonesia sejak tahun 2000, juga telah mengangkat kesehatan reproduksi remaja menjadi program Program kesehatan reproduksi remaja (KRR) merupakan upaya pelayanan untuk membantu remaja memiliki status kesehatan reproduksi yang baik melalui : pemberian informasi, pelayanan konseling, dan pendidikan keterampilan hidup (Muadz, 2. Dukungan terhadap program ini terus dilanjutkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Rapena. 2004 - 2009. Kesehatan reproduksi remaja telah menjadi salah satu program pokok di Pada masa remaja terjadilah suatu perubahan organ-organ fisik secara cepat, dan perubahan tersebut tidak seimbang dengan perubahan kejiwaan. Terjadinya perubahan ini umumnya membingungkan remaja yang mengalaminya. Dalam hal ini bagi para ahli dalam bidang ini, memandang perlu akan adanya pengertian, bimbingan dan dukungan dari lingkungan di sekitarnya, agar dalam sistem perubahan perkembangan yang sehat sedemikian rupa sehingga kelak remaja tersebut menjadi manusia dewasa yang sehat secara jaSMKni, rohani dan sosial. Terjadinya alat-alat reproduksi yang berkaitan dengan sistem reproduksi, merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan remaja sehingga diperlukan perhatian khusus, karena bila timbul dorongan-dorongan seksual yang tidak sehat maka akan timbul perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab. Kesetaraan perlakuan terhadap remaja pria dan wanita diperlukan dalam mengatasi masalah kesehatan reproduksi remaja, agar dapat tertangani secara tuntas. (Yani Widyastuti dkk, 2. Kepedulian pemerintah terhadap masalah kesehatan reproduksi remaja cenderung semakin Hal ini disebabkan karena berbagai masalah yang dihadapi remaja semakin Masa remaja sangat erat kaitannya dengan perkembangan psikis pada periode yang dikenal sebagai pubertas BKKBN dan telah dialokasikan dana khusus di seluruh Indonesia. Arah Keluarga Berencana salah satunya diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas dengan program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dalam rangka menyiapkan kehidupan berkeluarga yang lebih baik, serta pendewasaan usia perkawinan melalui upaya meningkatkan KRR, penguatan institusi masyarakat dan pemerintah yang memberikan pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja serta pemberian konseling tentang permasalahan remaja (BKKBN dan UNFPA, 2. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI, 2002-2. didapatkan bahwa remaja mengatakan mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada usia 1419 tahun . anita 34,7%, pria 30,9%), sedangkan usia 20-24 tahun . anita 48,6%, pria 46,5%). Faktor mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seksual . x lebih besa. teman sebaya yang mempunyai pacar, mempunyai teman yang setuju dengan hubungan seks pra-nikah, mempunyai teman yang mempengaruhi/mendorong untuk melakukan seks pranikah. Dari penelitian yang dilakukan oleh Wimpie Pangkahila tahun 1996 terhadap 633 pelajar SLTA didapatkan bahwa 27% laki-laki dan 18% wanita mempunyai pengalaman hubungan seks di Bali. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Situmorang tahun 2001 didapatkan 27% remaja laki-laki dan 9% remaja wanita di Medan mengatakan sudah melakukan hubungan seks. Hasil penelitian DKI (Daerah Khusus Ibukot. Indonesia menunjukkan perilaku seksual remaja di 4 kota, yaitu Jabotabek. Bandung. Surabaya, dan Medan berdasarkan norma yang dianut, 89% remaja tidak setuju adanya seks pranikah, namun kenyataannya 82% remaja punya teman melakukan seks pra-nikah, 66% remaja punya teman hamil sebelum menikah, remaja terbuka mengatakan melakukan seks pranikah di Jabotabek 51%. Bandung 54%. Surabaya 47% dan Medan 52%. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi- eksperimen yang bersifat two group pretest-postest yaitu kelompok kontrol dan intervensi untuk mengidentifikasi pengaruh metode masase terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif pada ibu inpartu sebelum dan sesudah dilakukan masase. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Januari HASIL PENELITIAN Pada bab ini diuraikan hasil penelitian dan pembahasaan penelitian mengenai AuPelaksanaan PIK-KRR SMK di Medan. Pengumpulan data dilakukan dari tanggal 10 Januari sampai 15 April 2025 di yang banyak diberikan informasi KRR oleh Medan. Jumlah sampel yang didapat Pendidik Sebaya hanya kepada guru 15 sebagai responden yang memenuhi kriteria SMK . %), adanya Pendidik sebaya dan penelitian sebanyak 20 responden. Konselor sebaya, tenaga medis, psikolog Dari dan tenaga ahli lainnya yang datang secara pelaksanaan PIK-KRR (Pusat Informasi terjadwal hanya dilakukan di 13 SMK dan Konseling Kesehatan Reproduksi . %), mempunyai ruangan khusus dan Remaj. di Kota Medan didapatkan hasil ruang pertemuan PIK-KRR 11 SMK adalah sebagai berikut. %), membuat laporan PIK-KRR 10 Pada penelitian berdasarkan kategori SMK. %), menyampaikan informasi dan pelaksanaan menunjukan bahwa dari 20 konseling KRR di luar tempat PIK-KRR 14 SMK yang menjadi sampel hanya 15 SMK SMK . %), dan mengirimkan kader untuk . %) yang telah melaksanakan PIK-KRR pelatihan bagi pengelola, calon pendidik dan 5 SMK . %) tidak melaksanakan sebaya, konselor sebaya sebanyak 13 SMK PIK-KRR %), 7 SMK . %) yang tidak mengirimkan kader utuk pelatihan bagi pembentukan PIK-KRR disekolah hanya pengelola, calon pendidik sebaya, dan 12 SMK . %) yang 8 SMK . %) tidak konselor sebaya. Untuk lebih jelas dapat melakukan, membuat jadwal rutin PIKdilihat pada tabel 1. KRR pertemuan hanya 11 SMK . %). Tabel 1. Distribusi Frekuensi PIK-KRR Pertanyaan Apakah adanya sarasehan yang dilakukan? Apakah adanya konsultasi dan koordinasi untuk dukungan/persetujuan Apakah Menyusun program kegiatan PIKKRR? Kegiatan-kegiatan yang dapat menarik minat Melakukan Advokasi Apakah adanya jaringan Apakah ada menggunakan Frequensi Persentase Tidak Frequensi Persentase Apakah ada meresmikan pembentukan PIK-KRR? Membuat jadwal rutin pertemuan PIK-KRR? Memberikan KRR oleh Pendidik Sebaya Apakah adanya Pendidik Konselor sebaya, tenaga medis, psikolog dan tenaga ahli lainnya yang datang secara Mempunyai pertemuan PIK-KRR? Membuat laporan PIKKRR? Menyampaikan informasi dan konseling KRR di luar tempat PIK-KRR? Mengirimkan kader untuk pelatihan bagi pengelola, calon pendidik sebaya dan konselor sebaya? Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan PIKKRR SMK di Medan Tahun 2025 Variabel Dilaksanakan Tidak Total Frekuensi Persentase (%) sebanyak 6 responden . ,8%), dan pada karakteristik sumber informasi mayoritas pada teman/keluar2ga sebanyak 16 responden . %) dan minoritas pada media cetak sebanyak 2 responden . ,3%). Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang, semakin bertambah usia semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikir yang dimiliki Notoatmodjo . Hal ini menunjukkan bahwa usia responden saat dilakukan penelitian sudah dapat dikatakan matang untuk menjadi seorang ibu, dan bertanggung jawab dengan apa yang telah dimiliki karena mereka sudah dapat berpikir dewasa dan telah memiliki Hasil penelitian menujukan bahwa dari 32 responden didapatkan pada karakteristik umur mayoritas umur ibu 2035 tahun sebanyak 19 responden . ,3%) dan minoritas pada umur <20 tahun sebanyak 5 responden . ,7%), pada karakteristik pendidikan mayoritas ibu pendidikan SD sebanyak 12 responden ,5%) dan minoritas pada pendidikan PT kesiapan mental untuk menjalankan peran menjadi seorang ibu Menurut Notoatmodjo Pendidikan mempengaruhi proses belajar, semakin tinggi pendidikan seseorang makan akan semakin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Namun pendidikan rendah bukan berarti bahwa mutlak memiliki pengetahuan yang rendah. Lingkungan yang merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar individu baik lingkungan fisik, biologis maupun sosial yang berpengaruh terhadap masuknya Pekerjaan penelitian seluruhnya sebagai ibu rumah tangga, ibu dengan pengetahuan cukup 34,3% dan pengetahuan kurang 25%. Kesibukan ibu sebagai ibu rumah tangga kemungkinan membatasi ibu berinteraksi dengan orang lain banyak sehingga banyak waktu untuk pekerjaan dan mengurus sebesar 0,003 . <0,. yang artinya ada hubungan pengetahuan dengan imunisasi tetanus texoid. Hubungan Pendidikan Ibu Tentang Imunisasi Tetanus Toxoid di Klinik Pratama Jannah Tahun 2025 Berdasarkan Hasil analisis yang di peroleh data menunjukkan bahwa dari 32 responden di dapatkan hasil mayoritas pendidikan ibu SD sebanyak 12 responden . ,5%), yaitu dimana ibu dengan pendidikan SD dengan imunisasi TT tidak lengkap sebanyak 11 orang . ,4%) dan imunisasi lengkap sebanyak 1 responden . ,1%). Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,008 . <0,. yang artinya ada hubungan pendidikan dengan imunisasi tetanus texoid. Menurut penelitian Pudjawidjana, . pengetahuan merupakan hasil dan capaian dari suatu penelitian dan observasi, terbentuk dari hubungan dan jalinan dengan realitas yang tetap dan senantiasa berubah Sosialisasi imunisasi TT perlu dilakukan mengingat masih ada sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa perempuan yang akan menikah kemudian mendapat imunisasi TT maka akan terjadi keterlambatan untuk hamil dan bila saat hamil diberikan imunisasi TT maka wanita tersebut akan menjadi tidak subur lagi setelah melahirkan (Achsin, 2. Upaya imunisasi penting memperhatikan segala aspek yang berkaitan dengan vaksin PEMBAHASAN Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Imunisasi Tetanus Di Klinik Pratama Jannah Tahun 2025 Berdasarkan hasil analisis diperoleh data menunjukkan bahwa dari 32 responden di berpengetahuan kurang sebanyak 15 responden . yaitu pengetahuan kurang imunisasi TT tidak lengkap sebanyak 14 responden . ,8%) dan imunisasi lengkap sebanyak 1 responden . ,1%). Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh p-value KESIMPULAN . etersediaan vaksin, promosi kesehatan, ketersediaan tenaga kesehata. Pelayanan kesehatan ibu hamil terutama pertolongan persalinan yang bersih oleh tenaga kesehatan dan perawatan tali pusat yang bersih serta penguatan surveilans tetanus neonatorum (TN). Tetanus neonatorum perlu dijadikan sebagai salah satu penyakit yang dilaporkan secara mingguan dalam laporan system kewaspadaan dini terhadap kejadian luar biasa. Karena terjadinya satu kasus tetanus neonatorum dapat ditetapkan sebagai KLB sehingga perlu dilakukan penanggulangan secepatnya (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 10 Januari sampai 15 April 2025 yang dilakukan di 20 SMK di Medan dan setelah mambahas sacara teoritis dilakukan pengujian hasil penelitian mengenai pelaksanaan PIK-KRR pada SMK maka peneliti membahas beberapa hal yang menjadi kesimpulan. Pelaksanaan PIK-KRR dilingkungan sekolah di Medan Tahun 2025 dapat dilihat pelaksanaannya berjalan dengan baik dengan kriteria 15 item: Sarasehan yang dilakukan Konsultasi dan koordinasi untu dukungan/persetujuan pimpinan setempat Menyusun program kegiatan PIK-KRR Kegiatan-kegiatan yang dapat menarik minat remaja Advokasi dan promosi untuk keberlangsungan PIK-KRR Adanya jaringan dengan orang tua, kelompok remaja, guru dan PIK-KRR lainnya Menggunakan media cetak dan Meresmikan pembentukan PIKKRR Membuat jadwal rutin pertemuan PIK-KRR Hubungan Sumber Informasi Ibu Tentang Imunisasi Tetanus Toxoid di Klinik Pratama Jannah Tahun 2025 Berdasarkan menunjukkan bahwa dari 32 responden di dapatkan hasil mayoritas ibu mendapatkan sumber informasi tentang imunisasi TT dari teman/keluarga sebanyak 16 responden . %), yaitu imunisasi TT tidak lengkap sebanyak 13 responden . ,6%) dan imunisasi TT lengkap sebanyak 3 responden . ,4%). Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0,005 . <0,. yang artinya ada hubungan sumber informasi dengan imunisasi tetanus Memberikan informasi KRR oleh Pendidik Sebaya kepada guru, oarang tua dan teman sebaya Pendidik sebaya dan Konselor sebaya, tenaga medis, psikolog dan tenaga ahli lainnya yang datang secara terjadwal Mempunyai ruangan khusus dan ruang pertemuan PIK-KRR Membuat laporan PIK-KRR? Menyampaikan informasi dan konseling KRR di luar tempat PIK-KRR Mengirimkan pelatihan bagi pengelola, calon pendidik sebaya dan konselor Medan PIK-KRR disekolah-sekolah mereka. Untuk Pendidikan D-IV Kebidanan Bagi bidan pendidik D-IV kebidanan sendiri agar nantinya bila ada program PIKKRR diminta untuk menyampaikan masalah remaja agar lebih ditekankan pelaksanaan PIK-KRR untuk dapat terus berjalan karena ini adalah wadah bagi remaja untuk menyampaikan segala permasalahannya baik itu masalah seksualitas, narkoba, dan lain-lain. Untuk penelitian selanjutnya Agar nantinya hasil penelitian ini dapat di referensikan untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai manfaat dibentuknya atau dilaksanakannya PIK-KRR disekolah-sekolah. SARAN