HUBUNGAN ASI EKSKLUSIF DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS WAE NAKENG TAHUN 2018 Veronika Sekunda Yenli Tandang1. I Ketut Alit Adianta2. I Kadek Nuryanto3 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali1,2,3 Email: yenitandang@gmail. ABSTRAK Stunting merupakan salah satu bentuk kelainan gizi. Stunting dapat dicegah dengan memberikan asi eksklusif. Tujuan penelitian untuk menganalisa hubungan ASI eksklusif dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Puskesmas Wae Nakeng. Metode penelitian ini merupakan observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah anak berusia 1236 bulan sebanyak 275 yang dipilih menggunakan tehnik cluster sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Stunting pada anak diukur menggunakan indikator tinggi badan atau panjang badan menurut umur (WHO 2. Analisis data menggunakan uji Spearman Rho dengan derajat kesalahan =0,05. Hasil penelitian menunjukkan kejadian stunting pada balita sebesar 62,9%. Pemberian ASI eksklusif pada balita sebesar 83,3% dan riwayat penyakit infeksi sebesar 69,1%. Hasil uji statistik didapat nilai ASI eksklusif adalah p = 0,143 > < 0,05, yang berarti Ha ditolak dan nilai riwayat penyakit infeksi adalah p = 0,000 < < 0,05 yang berarti Ha diterima. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita dan terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita dengan arah korelasi positif. Kata Kunci : ASI Eksklusif. Riwayat Penyakit Infeksi. Stunting Pada Balita ABSTRACT Stunting is a form of nutritional disorderin terms of body size. Stunting can be prevented by providing executive breast milk. To determine the relation of exclusive breastfeeding and history of infectious diseases with stunting incidence in toddlers in Public Health Center the Wae Nakeng. This study employed observational analytic with a cross-sectional approach. To conduct this study, 275 toddlers aged 12-36 months were recruited as the sample through cluster sampling technique. The data were collected using a questionnaire. Stunting in toddler measured by body height and weight indicator based on age (WHO, 2. The data were analyzed using Spearman Rho with 0. 05 degree of Findings indicated that the incidence of stunting in toddler was 62. Exclusive breastfeeding for the toddlers was 83. 3% and a history of infectious diseases was 69. The statistical test results obtained by the value of exclusive breastfeeding was p=0. 143><0. 05, which means Ha is rejected and the infectious disease history value is p=0. 000<<0. 05, which means Ha is accepted. There is no relation of exclusive breastfeeding with the incidence of stunting in children under five and there is a significant correlation between the history of infectious diseases and the incidence of stunting in a toddler with a positive correlation direction. Keywords: Exclusive Breast-Milk. History of Infection. Stunting in Toddlers PENDAHULUAN Upaya peningkatan status gizi masyarakat termasuk penurunan prevalensi balita pendek menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional yang tercantum di dalam sasaran pokok Rencana Pembangunan jangka Menengah Tahun 2015 Ae 2019 (RPJMN, 2015 Ae 2. Stunting merupakan salah satu bentuk kelainan gizi dari segi ukuran tubuh yang ditandai dengan keadaan tubuh yang pendek hingga melampaui defisit -2SD di bawah standar (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Berdasarkan data Riskesdas pada tahun 2013 diketahui bahwa prevalensi kejadian stunting secara nasional adalah 37,2 Sedangkan data Riskesdas tahun 2010 sebesar 35,6%. Berdasar hasil tersebut dapat dilihat bahwa prevalensi stunting di Indonesia justru meningkat sebesar 1,6 % dalam kurun waktu 2010Ae2013 atau 0,4% per tahun. Persentase tertinggi pada tahun 2013 adalah di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 51,7% (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Untuk wilayah Puskesmas Wae Nakeng balita yang stunting pada tahun 2015 sebanyak 552 atau 27%, tidak mengalami penurunan signifikan pada tahun 2016 sebanyak 528 atau 25% dan pada tahun 2017 mengalami peningkatan jumlah balita stunting sebanyak 554 atau 25%. Menurut WHO, prevalensi balita pendek menjadi prevalensinya 20% atau lebih (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Stunting dapat dicegah dengan beberapa hal seperti memberikan ASI Esklusif, memberikan makanan yang bergizi sesuai kebutuhan tubuh, membiasakan perilaku hidup bersih, melakukan aktivitas fisik, untuk menyeimbangkan antara pengeluaran energi dan pemasukan zat gizi kedalam tubuh, dan memantau tumbuh kembang anak secara teratur (Millennium Challenga Account Indonesia, 2. Faktor status penyakit infeksi balita juga merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita. Sebagian besar kelompok balita stunting sering menderita sakit artinya ada hubungan yang bermakna antara frekuensi sakit dengan status gizi balita stunting (Welasasih, 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan ASI eksklusif dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Puskesmas Wae Nakeng. METODELOGI Penelitian observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan Nopember 2018 di enam tempat posyandu di Kelurahan Tangge wilayah Puskesmas Wae Nakeng, yaitu Posyandu Malawatar 1. Malawatar 2. Malawatar 3. Pandang. Karot, dan Wae Tulu. Sampel penelitian ini adalah anak berusia 12-36 bulan sebanyak 275 yang dipilih menggunakan tehnik cluster sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah balita berusia 12-36 bulan yang yang melakukan penimbangan atau pemantauan status gizi di Posyandu Malawatar 1. Malawatar 2. Malawatar 3. Pandang. Karot dan Wae Tulu dan ibu balita yang bersedia menjadi responden penelitian dengan Sedangkan kriteria eksklusi adalah balita yang mengalami gangguan mental dan fisik dan ibu balita yang menolak menjadi Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian stunting, sedangkan variabel bebas adalah ASI eksklusif dan riwayat Jenis dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder sebagai penunjang. Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner kepada ibu balita. Status gizi stunting diperoleh melalui pengukuran tinggi badan atau panjang badan balita. Kategori antropometri panjang badan dibanding umur (PB/U) atau tinggi badan dibanding umur (TB/U) dengan batas . di bawah standar deviasi ( < - 2 SD )(Kemenkes RI. Analisa data menggunakan uji spearman rho. Analisa data digunakan untuk masing-masing variabel yang diteliti dengan derajat kesalahan = 0,05. HASIL PENELITIAN Berdasarkan karakteristik responden bahwa sebanyak 172 orang . ,5 %) berumur 12-24 bulan. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin 148 orang . ,8%) berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan untuk karakteristik pendidikan ibu balita SMP adalah yang terbanyak yaitu 92 orang . ,5%). Sedangkan pekerjaan ibu balita, sebanyak 142 orang . ,6%) yang bekerja sebagai Ibu rumah tangga. Pada variabel ASI eksklusif sebagian besar balita diberi ASI eksklusif yaitu sebanyak 229 . ,3%). Sedangkan variabel riwayat penyakit infeksi sebagian besar balita memiliki riwayat penyakit infeksi dalam tiga bulan terakhir yaitu Diare dan ISPA sebanyak 190 orang . ,1%). Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai p value ASI eksklusif dengan stunting adalah 0,143 dimana . value > 0,. yang berarti Ho diterima. Ha ditolak. Hal ini berarti tidak ada hubungan antara ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita dengan koefisien korelasi . sebesar -0,089. Sedangkan pada tabel 2 diperoleh nilai p value riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting adalah 0,001 dimana . value < 0,. yang berarti Ho ditolak atau Ha diterima. Hal ini berarti adanya hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita dengan koefisien korelasi . sebesar 0,855 yang artinya tingkat hubungannya sangat kuat. Kemudian dilihat dari sifat korelasinya yaitu positif menunjukkan arah yang sama antar Semakin tinggi riwayat penyakit infeksi semakin tinggi kejadian stunting (Dahlan, 2. Tabel 1. Hasil Korelasi ASI Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Puskesmas Wae Nakeng Tahun 2018 . Correlation Stunting Correlation Coefficien Kategori Sig. -tailed SpearmanAos ASI Eksklusif Correlation Coefficient ASI Eksklusif Sig. Tabel 2. Hasil Korelasi Riwayat Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Puskesmas Wae Nakeng Tahun 2018 . Correlation Stunting Correlation Coefficien Kategori Riwayat Penyakit Infeksi Sig. -tailed SpearmanAos Correlation Coefficient ASI Eksklusif Sig. ** Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. PEMBAHASAN ASI Eksklusif Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa sebagian besar balita mendapatkan ASI eksklusif. Menurut peneliti hal ini terjadi karena banyak ibu balita yang tidak bekerja atau sebagai ibu kemungkinan atau kesempatan lebih banyak memberikan ASI eksklusif pada anak. Hal ini dapat diketahui dari karakteristik ibu balita yang sebagian besar adalah ibu rumah Faktor status pekerjaan ibu merupakan salah satu faktor mempengaruhi keberhasilan ASI eksklusif. Ibu yang tidak bekerja, akan memiliki banyak waktu untuk merawat bayinya termasuk memberikan ASI eksklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anindita Putri . tentang hubungan pekerjaan ibu dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada anak di Posyandu Bina Putra Tirto Triharjo Pandak Bantul Yogyakarta. Hasil penelitian tersebut diperoleh melalui korelasi chi kuadrat bahwa terdapat hubungan antara pekerjaan ibu dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada anak. Dengan kata lain kecendrungan ibu yang tidak bekerja akan meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif , dan sebaliknya. Riwayat Penyakit Infeksi Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa sebagian besar subjek memiliki riwayat penyakit infeksi, dimana infeksi pada balita yang paling umum terjadi dalam tiga bulan terakhir di wilayah Puskesmas Wae Nakeng yaitu diare dan ISPA. Menurut peneliti hal ini disebabkan karena kesadaran orang tua yang kurang akan pentingnya higiene dan sanitasi Selain itu, penyebaran bakteri dan virus ditularkan melalui media atau orang -orang terdekat dari balita. Faktor lingkungan yang mempengaruhi kejadian penyakit infeksi seperti perilaku cuci tangan sebelum makan, lingkungan yang kotor. Higiene sanitasi makanan memberikan dampak positif terhadap status gizi anak. Anak yang mengkonsumsi makanan dengan kebersihan yang kurang baik dapat menimbulkan penyakit infeksi yang biasanya disertai dengan penurunan nafsu makan dan mengalami muntah atau mencret. Kondisi ini dapat menurunkan keadaan gizi balita dan berimplikasi buruk terhadap kemajuan pertumbuhan anak, yang dapat bermanifestasi menjadi stunting (MCA, 2. Lingkungan yang kotor dan udara yang lembab merupakan tempat berkembangnya virus dan bakteri yang menginfeksi saluran pernapasan (Welasasih & Wirjatmadi, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Herni Oktavia . tentang hubungan pengetahuan gizi dan perilaku higiene sanitasi terhadap kejadian stunted pada balita usia 7-24 bulan di Desa Hargorejo Kulon Progo. Hasil penelitian tersebut diperoleh melalui uji korelasi person bahwa ada hubungan antara kejadian stunted dengan perilaku higiene sanitasi. Penelitian lainnya yang juga menunjukkan adanya pengaruh PHBS terhadap kejadian stunting yaitu hasil penelitian Sulifana . tentang pengaruh perilaku hidup bersih dan sehat terhadap kejadian gizi kurang dan stunting pada balita di kecamatan pamijahan menyatakan adanya pengaruh perilaku hidup bersih dan sehat keluarga terhadap penyakit diare balita yang mempengaruhi status gizi (BB/U) dan status gizi (TB/U). Kejadian Stunting Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa sebagian besar subjek mengalami stunting. Hal ini menunjukkan bahwa masalah stunting di wilayah Puskesmas Wae Nakeng masih Peneliti berasumsi bahwa tingginya balita stunting disebabkan ada riwayat penyakit infeksi yang diderita selama masa bayi/balita. Riwayat penyakit infeksi termasuk faktor yang mempengaruhi stunting pada Kejadian stunting yang tinggi ini disebabkan karena tingginya riwayat penyakit infeksi pada balita. Infeksi bisa berhubungan dengan gangguan gizi melalui beberapa cara, menyebabkan kehilangan bahan makanan karena muntah/diare, atau mempengaruhi metabolisme makanan (Supariasa, 2. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Uliyanti,dkk . tentang faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Kabupaten Ketapang, bahwa stunting terjadi karena adanya faktor langsung yang meliputi variabel asupan gizi, riwayat penyakit infeksi, pengetahuan gizi ibu dan kadarzi. Sedangkan faktor tidak langsung adalah perilaku hidup bersih dan sehat di rumah yang mempengaruhi terjadinya penyakit infeksi. Hubungan ASI Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara variabel ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Puskesmas Wae Nakeng tahun 2018. Peneliti berasumsi bahwa tidak terdapat hubungan disebabkan karena ASI eksklusif yang tinggi semestinya dapat menurunkan kejadian stunting pada Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Asweros Umbu Zogara, dkk . tentang Riwayat pemberian ASI eksklusif dan MPASI dini sebagai prediktor terjadinya stunting pada baduta di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Nusa Tenggara Timur. Pemberian ASI eksklusif dan MPASI dini bukan merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting pada baduta. Hubungan Riwayat Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita dengan arah korelasi positif, yang artinya semakin sering anak mengalami penyakit infeksi maka semakin tinggi kejadian stunting pada balita di wilayah Puskesmas Wae Nakeng tahun Peneliti berasumsi bahwa riwayat penyakit infeksi merupakan salah satu faktor dominan kejadian stunting pada balita. Setiap balita yang mengalami penyakit infeksi akan mempengaruhi asupan atau nafsu makan, dapat terjadi kehilangan bahan makanan karena muntah-muntah atau diare sehingga mempengaruhi metabolisme makanan dalam Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Candra Dewi,dkk . tentang pengaruh konsumsi protein dan seng serta riwayat penyakit infeksi terhadap kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Nusa Penida i. Dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa riwayat penyakit infeksi sebagai salah satu faktor dominan yang mempengaruhi stunting pada balita. Kesimpulan dan saran Berdasarkan hasil dan tujuan penelitian ini, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut: Sebagian besar balita usia 12-36 bulan mengalami stunting yaitu sebanyak 173 balita . ,9%). Sebagian besar balita mendapat ASI eksklusif yaitu sebanyak 228 anak . ,9%) dan tidak ASI eksklusif sebanyak 47 anak . ,1%). Sebagian besar subjek memiliki riwayat penyakit infeksi selama tiga bulan terakhir seperti Diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Atas yaitu sebanyak 190 anak . ,1%). Tidak terdapat hubungan antara ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Puskesmas Wae Nakeng tahun 2018 . value > 0,143, r = -0,. Terdapat hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Puskesmas Wae Nakeng tahun 2018 . value < 0,001, r = 0,. Saran bagi Dinas kesehatan agar dapat memaksimalkan tujuan RPJMN tahun 2015-2019 dalam upaya penurunan prevalensi balita pendek . dengan melakukan kerjasama lintas sektoral berupa upaya promotif dan preventif untuk menurunkan prevalensi stunting pada balita. Saran bagi masyarakat atau keluarga agar dapat lebih memahami faktor-faktor yang menyebabkan anak menjadi Selain itu, sangatlah penting menjaga kesehatan balita dimulai dari menjaga kebersihan makanan dan lingkungan sekitar untuk menghindari kejadian penyakit infeksi pada balita secara berulang. Daftar Pustaka