2620-8563. e-ISSN: 2621-1521 Suhardiman et al. Uji antibakteri rimpang A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. p-ISSN: Agustus Farhamzah et al. /Journal of Pharmacopolium. Volume 5. No. Desember 2022, 241-250 Available online at Website: http://ejurnal. stikes-bth. id/index. php/P3M_JoP FORMULASI DEODORAN ROLL ON EKSTRAK METANOL BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarp. DAN UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Staphylococus epidermidis Farhamzah. Khofifah Fakultas Farmasi. Universitas Buana Perjuangan. Karawang. Indonesia Email: farhamzah@ubpkarawang. Received: 11 / 10 / 2022. Reviewed : 28 / 11 / 2022 Accepted: 06 / 12 / 2022 . Available online: 31 / 12 / 2022 ABSTRACT Fruit crown of god (Phaleria macrocarp. which contains flavonoid compounds that function as antibacterial can be formulated into roll-on deodorant preparations. Roll-on deodorant was made with a concentration of crown god fruit extract, namely 6. 25%, 7. 25%, and 8. Making roll-on deodorants has the principle that it can dissolve components that are soluble in water and can dissolve in methanol. Physical test parameters on roll deodorant preparations are organoleptic test, homogeneity test, pH test, viscosity test, packaged preparation, and antibacterial activity test on the preparation. The results of the evaluation of power in the preparation of extracts of the fruit of the crown of the gods were statistically analyzed by the one-way ANOVA method. The results showed that the increase in the concentration of the Fruit crown of god extract in the preparation, the greater the ability to inhibit bacteria. The greatest inhibitory power was at a concentration of 8. 25%, namely at F3 with the following characteristics: Good homogeneity, brown in color, distinctive odor of the extract, pH ranged from 5. 00 to 5. Viscosity ranged from 1746-3325 cPs, had thixotropic flow properties. , and the diameter of the inhibition zone 98 mm for Staphylococcus aureus while Staphylococcus epidermidis, which was 13. 72 mm. Keywords: Fruit crown of god (Phaleria macrocarpa. Deodorant roll on. Antibacterial. ABSTRAK Buah mahkota dewa (Phaleria macrocarp. yang mempunyai kandungan senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antibakteri dapat diformulasikan menjadi sediaan deodoran roll on. Deodoran roll on dibuat dengan konsentrasi ekstrak buah mahkota dewa yaitu 6,25%, 7,25%, dan 8,25%. Pembuatan deodoran roll on mempunyai prinsip yaitu dapat melarutkan komponen yang larut dalam air dan dapat larut dalam metanol. Parameter uji fisik pada sediaan deodoran roll on yaitu uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, sediaan kemasan, dan uji aktivitas Antibakteri pada sediaan. Hasil evaluasi daya hambat pada sediaan ekstrak buah mahkota dewa dianalisis secara statistik dengan metode ANOVA satu arah. Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi konsentrasi Ekstrak buah mahkota dewa pada sediaan maka semakin besar juga kemampuan menghambat bakteri. Daya hambat paling besar pada konsentrasi 8,25% yaitu pada F3 dengan karakteristik sebagai berikut: Homogenitas baik, berwarna coklat. Bau khas esktrak, pH kisaran 5,00-5,64. Viskositas berkisar antara 17463325 cPs, memiliki sifat alir tiksotropik, dan diameter zona hambat yaitu 10,98 mm pada bakteri Staphylococcus aureus. Sedangkan Staphylococcus epidermidis yaitu 13,72 mm. Kata kunci: Buah mahkota dewa. Deodoran roll on. Antibakteri. Farhamzah al. Formulasi Deodoran Roll A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2022 . PENDAHULUAN Indonesia merupakan Negara tropis yang disinari matahari, sehingga berkeringat tidak dapat dihindari, seseorang mengeluarkan keringat yang berlebihan sehingga dapat menimbulkan masalah, seperti halnya bau badan yang kurang sedap. Bau badan dapat menyebabkan seseorang tidak percaya diri dan dapat mengiritasi pada kulit ketiak atau aksila. Bau badan terjadi karena kurang menjaga kebersihan badan dan terdapat bakteri yang mampu menguraikan keringat menjadi zat yang berbau kurang sedap. Bau badan manusia berasal dari kelenjar Kelenjar apokrin mampu mengeluarkan sebagian besar senyawa kimia yang diperlukan oleh flora kulit sehingga menghasilkan bau Beberapa bakteri yang dapat menyebabkan bau badan yaitu Staphylococcus aureus. Staphylococcus epidermidis. Corynebacterium acne . Pseudomonas aeruginosa, dan Streptococcus pyogenes. Staphylococcus mampu mengubah asam amino tertentu menjadi asam lemak volatil rantai pendek yang sangat berbau, yaitu asam isovalerik yang berperan pada bau ketiak Masalah bau badan dapat diatasi dengan pemakaian sediaan topikal khusus seperti deodoran. Kosmetik dapat dibuat dari bahan herbal maupun bahan sintetis, bahan herbal relatif lebih aman digunakan untuk kosmetik daripada bahan sintetis. Salah satu bahan alam yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri adalah Buah mahkota dewa. Hasil penelitian Lisdawati . dalam Anonymous . menunjukkan bahwa Buah mahkota dewa dari ekstrak metanol mengandung beberapa senyawa antara lain: alkaloid, flavonoid, senyawa polifenol, dan tanin. Flavonoid berperan sebagai antibakteri dengan cara membentuk senyawa kompleks terhadap protein ekstraseluler yang mengganggu integritas membran bakteri. Hasil dari penelitian MaAoruf. Setiawan. , & Putra. ekstrak etanol buah mahkota dewa (Phaleria macrocarp. efektif sebagai antibakteri Staphylococcus aureus. Efektifitas ekstrak buah mahkota dewa dipengaruhi oleh kemampuan kandungan zat aktif flavonoid. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Racmi Nurhalika . ekstrak etanol buah mahkota dewa (Phaleria macrocarp. memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis dalam konsentrasi 12,5% dengan zona hambat 15 mm yang dikategorikan kuat. Deodoran adalah sediaan kosmetika yang mengandung antiseptik untuk mengurangi dekomposisi bakteri sehingga dapat mengontrol bau badan (Susanti. et all. , 2. Untuk meningkatkan stabilitas, kemudahan dalam penggunaan dan dapat diterima oleh masyarakat, maka pada penelitian ini dibuat suatu sediaan Deodorant Roll on dengan bentuk cairan. Deodoran tipe Roll On sangat disukai karena memiliki kelebihan seperti mudah dan praktis digunakan, mudah dibawa kemana-mana serta terasa nyaman karena tidak terasa basah di kulit ketiak . Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik memformulasikan sediaan deodoran dari ekstrak metanol buah mahkota dewa, peneliti ingin berinovasi untuk membuat deodorant ekstrak metanol buah mahkota dewa, dengan jenis Deodorant Roll on yang terbuat dari bahan alam, yang memiliki kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, senyawa polifenol, sebagai antibakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis penyebab bau badan. METODE PENELITIAN Alat Botol plastik atau kaca yang terdapat bola roll-on, ose. Erlenmeyer, beaker glass, labu ukur . , tabung reaksi, gelas ukur, pipet tetes, rak tabung reaksi, timbangan analitik, cawan arloji, cawan porselen . , gelas ukur . Beaker glass . , corong glass, kaca objek, sudip. Paper disc, pH meter digital, batang pengaduk, corong glass. Rotary evaporator. Laminar Air Flow (LAF), inkubator, aluminium foil, kertas perkamen, dan autoklaf. Spiritus. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ekstrak Buah mahkota dewa (Phaleria macrocarp. , carbopol. Triethanolamine, etanol 96%. Natrium bisulfit, propylene glycol, aquadest. Staphylococcus aureus. Staphylococcus epidermis. Nutrien agar (NA), dan larutan standar Mc Farland . HCL 2 N. FeClCE 1%. Gelatin 1%, dan serbuk Mg. Determinasi Tanaman Determinasi tanaman buah mahkota dewa (Phaleria macrocarp. sebagai bahan aktif di lakukan di UPT Laboratorium Herbal Materia Medica Batu. Jawa Timur. Farhamzah al. Formulasi Deodoran Roll A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2022 . Proses Pembuatan Ekstrak Buah mahkota dewa sebanyak 3500 gram dicuci bersih, ditimbang, lalu diiris harus dan dikeringkan dengan cara didiamkan pada suhu kamar. Sampel kering sebanyak 520 gram diblender sampai menjadi Serbuk tersebut diayak hingga diperoleh serbuk berukuran 40 mesh. serbuk buah mahkota dewa sebanyak 236 gram dimaserasi menggunakan 2,5 L metanol pada suhu kamar selama satu hari. Hasil maserasi selanjutnya disaring sehingga diperoleh ekstrak cair metanol tahap 1. Kemudian ampas dikeringkan pada suhu kamar selama satu hari. Ampas yang telah dikeringkan diremaserasi dengan 2,5 L metanol pada suhu kamar selama satu hari. Hasil maserasi selanjutnya disaring sehingga diperoleh ekstrak cair metanol tahap 2. Kemudian ampas yang telah dikeringkan diremaserasi kembali dengan 2. 5 L metanol. Hasil maserasi selanjutnya disaring sehingga diperoleh ekstrak cair metanol berwarna bening. Ekstrak cair yang diperoleh didiamkan selama satu hari dan dilanjutkan pengentalan ekstrak menggunakan rotary evaporator . rpm, 45 oC, 0,62 ba. (Muaja et al. , 2. Identifikasi Senyawa Fitokimia Berikut merupakan skrining fitokimia dari ekstrak buah mahkota dewa: Pembuatan larutan uji fitokimia Pembuatan larutan uji untuk skrining fitokimia dilakukan dengan melarutkan 500 mg ekstrak metanol buah mahkota dewa (Phaleria marocarp. dalam 50 mL metanol. Uji Flavonoid Sebanyak 2 ml ekstrak metanol atau etanol kemudian memasukkan ekstrak ke dalam tabung reaksi dan menambahkan 0,5 asam klorida pekat (HCl peka. dan logam Mg. Kemudian dikocok kuat, adanya warna merah/jingga/dan hijau menunjukkan positif flavonoid (Lully Hanni Endarini, 2. Pembuatan Sediaan Deodoran Roll on Dibuat sebanyak empat Formula dengan komposisi seperti tabel dibawah ini: Tabel 1. Formula Sediaan Deodoran Roll on (%) No. Komponen Kegunaan Ekstrak metanol Buah Mahkota Dewa Bahan Aktif 6,25 8,25 Carbopol Pengental Triethanolamine Penetral pH 0,25 0,25 0,25 0,25 Butylated hydroxytoluene (BHT) Antioksidan 0,01 0,01 0,01 0,01 Etanol 96 % Pelalrut Natrium Metabisulfit Pengawet Propylene Glycol Pelarut Aquadest ad Pelarut Farhamzah al. Formulasi Deodoran Roll A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2022 . Metode Pembuatan Metode pembuatan sediaan deodoran dengan cara masing-masing bahan dan ekstrak buah mahkota dewa ditimbang sesuai dengan konsentrasinya yaitu 6,25%, 7,25%, dan 8,25%, kemudian carbopol didispersikan dengan aquades dan dinetralkan dengan TEA. BHT dilarutkan dalam air. Ekstrak buah mahkota dewa ke dalam etanol dan natrium metabisulfit kedalam air, pelarut campur dibuat dari campur air, propilen glikol dan etanol. Campurkanlarutan BHT kedalam ekstrak dalam beaker glass diaduk sampai homogen, tambahkan larutan Natrium metabisulfit, kemudian dilarutkan dalam pelarut campur. Campuran ditambahkan ke dalam carbopol yang telah dikembangkan kemudian campuran dihomogenkan, lalu dimasukkan ke dalam kemasan untuk kemudian dilakukan pengujian. Evaluasi Sediaan Deodoran roll on Pemeriksaan Organoleptik Warna Pengamatan dilakuakan secara visualdengan mata terhadap sediaan Bau Bau diuji dengan cara mencium bau pada sediaan yang dihasilkan Homogenitas Pengamatan dilakukan dengan cara melihat apakah terjadi pemisahan antar komponen pada sediaan Uji pH Pengukuran pH dilakukan dengan cara sebagai berikut: Kalibrasi pH meter menggunakan larutan dengan pH 7 . apar fosfat ekimola. dan pH 4 . apar kalium biftala. Siapkan sediaan yang akan diuji pada suhu kamar Celupkan elektroda pH meter yang telah dicuci dan dibilas dengan air suling sedemikian rupa hingga ujung elektroda tercelup dan semua angka digital menjadi stabil . da tanda read. Catat pH yang didapat Uji Viskositas Penentuan viskositas bertujuan untuk mengetahui adanya perubahan kekentalan pada tiap formula deodoran roll on. Penetuan viskositas dilakukan dengan mengamati angka pada skala viskometer brookfield dengan kecepatan tertentu. Sediaan deodoran roll on yang berupa larutan diletakkan pada wadah lalu diputar dengan kecepatan tertentu sampai jarum viskometer menunjukkan pada skala yang konstan. Uji Pengemasan Sediaan Dalam wadah dari botol dengan bolal yang dimasukkan ke dalam leher botol (A1 cm dari permukaan atas boto. yang dapat mengeluarkan cairan. Uji Antibakteri Sediaan Pembuatan Media Nutrient Agar (NA) Menimbang Sebanyak 28gram Nutrient Agar (NA) ditimbang, kemudian dimasukkan kedalam gelas kimia kemudian melalrutkannya dengan 1L aquadest. Larutan media dipanaskan sampai mendidih, ditunggu 1 menit. Kemudian disterilisasi dengan autoklaf pada temperature 116oC-121oC selama 15 menit. Setelahnya masukkan larutan media kedalam cawan petri sebanyak 25 ml lalu didinginkan pada temperatur ruangan atau dimasukkan kedalam Laminal Air Flow (LAF) (Oxoid, 1. Kultur Bakteri Pembuatan stok bakteri ini dilakukan untuk memperbanyak dan meremajakan bakteri, dengan cara menginokulasikan 1 ose biakan murni bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis ke dalam Nutrient Agar (NA) dengan cara digorekan secara zig zag diatas permukaan media, kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam di dalam incubator (Andriani, 2. Pembuatan Media Suspensi Bakteri Proses suspensi balkteri menggunalkaln NalCl 0,9% dengaln prosedur kerjal sebalgali berikut: Disuspensikaln balkteri uji dengaln lalrutaln NAlCl 0,9% sebalnyalk 5 ml, kemudialn suspensi balkteri ini disetalralkaln kekeruhalnnyal dengaln lalrutaln stalndalr Mc. Falrlalnd 0,5 (Haffizah et al. , 2. Pengujian Aktivitas Antibakteri Farhamzah al. Formulasi Deodoran Roll A Journal of Pharmacopolium. Vol. No. Desember 2022 . Menuangkan Larutan Media Nutrient Agar (NA) yang steril kedalam cawan petri steril sebanyak 25 ml secara aseptis . Mengambil suspensi bakteri sebanyak 10 AAl dan dituangkan kedalam cawan petri steril yang telah terisi media Nutrient Agar yang sudah memadat, kemudian dihomogenkan dengan Batang L. Sediaan Deodoran roll on ekstrak buah mahkota dewa dengan konsentrasi 0% . ontrol negati. , 6,25%, 7,25%, 8,25%, dan clindamicyn 1% . ontrol positi. teteskan dikertas cakram steril dan dibiarkan beberapa saat sampai kering. Kertas cakram yang sudah diletakkan diatas media agar yang sudah memadat dan diletakkan secara teratur kemudian diberi label dengan konsentrasi 0% . ontrol negati. , 6,25%, 7,25%, 8,25%, dan clindamicyn . ontrol positi. Media tersebut diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37AC, selanjutnya dilakukan pengamatan zona hambat yang terbentuk. (Kusumawati, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Determinasi Tanaman Hasil identifikasi tanaman buah mahkota dewa (Phaleria macrocarp. yang telah dilakukan di UPT Laboratorium Herbal Materia Medica Batu. Jawa Timur. Diperoleh hasil determinasi Nomor. 074/286/102. 20-A/ 2022 menunjukkan bahwa bahan yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari tumbuhan malhkota dewa dengan falmili Thymelaceae dengan spesies (Phaleria macrocarp. Hasil Ekstraksi Buah Mahkota Dewa Buah mahkota dewa sebanyak 3500 gram dicuci bersih, ditimbang, lalu diiris harus dan dikeringkan dengan cara didiamkan pada suhu kamar. Sampel kering sebanyak 520 gram diblender sampai menjadi serbuk. Serbuk tersebut diayak hingga diperoleh serbuk berukuran 40 mesh. serbuk buah mahkota dewa sebanyak 236 gram dimaserasi menggunakan 2,5 L metanol pada suhu kamar selama satu hari. Hasil maserasi selanjutnya disaring sehingga diperoleh ekstrak cair metanol tahap 1. Kemudian ampas dikeringkan pada suhu kamar selama satu hari. Ampas yang telah dikeringkan diremaserasi dengan 2,5 L metanol pada suhu kamar selama satu hari. Hasil maserasi selanjutnya disaring sehingga diperoleh ekstrak cair metanol tahap 2. Kemudian ampas yang telah dikeringkan diremaserasi kembali dengan 2. 5 L metanol. Hasil maserasi selanjutnya disaring sehingga diperoleh ekstrak cair metanol berwarna bening. Ekstrak cair yang diperoleh didiamkan selama satu hari dan dilanjutkan pengentalan ekstrak menggunakan rotary evaporator . rpm, 45 oC, 0,62 ba. Rendemen yang didapat adalah 25% dari sample kering. Hasil Skrining Fitokimia Terhadap Ekstrak Skrining fitokimia bertujuan untuk menentukan golongan metalbolit sekunder yang mempunyai aktivitas biologis yang ada didalam simplisia malupun ekstrak metanol buah mahkota dewa (Phaleria macrocarp. secalral kuallitaltif. Halsil skrining fitokimial dalri bualh malhkotal dewal (Phaleria macrocarp. dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil Skrining Fitokimia dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Buah Mahkota Dewa Tanaman Buah Mahkota Dewa Senyawa Flavonoid Hasil Penelitian Warna merah Ket . Dari tabel 2. menunjukkan bahwa kandungan senyawa metabolit sekunder ekstrak buah mahkota dewa yaitu flavonoid. Mekanisme kerja flavonoid dalam menghambat bakteri yaitu dengan cara menghambat fungsi membran sel yang membentuk ikatan kompleks dengan dinding sel, merusak membran, dan menghambat metabolisme energidengan cara menghambat sistem pernapasan, karena dibutuhkan energi yang cukup untuk penyerapan aktif sebagai metabolit dan biosintesis makromolekul. Pengamatan Organoleptik Pengamatan organoleptik suatu sediaan adalah menggunakaln alat indra meliputi indra penglihatan, indra perasa ataupun indra pembau. Berikut merupakan hasil uji orgalnoleptik sediaan deodoran roll on dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Uji Organoleptis Sediaan Deodoran Roll on Formula Warna Bau Tekstur Bening Tidak berbau Kental Coklat Khas ekstrak Agak kental Coklat Khas ekstrak Agak kental Coklat Khas ekstrak Agak kental Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui homogenitas dari sediaan yang dihasilkan. Hasil pemeriksaan homogenitas sediaan deodoran Roll on dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil Pengujian homogenitas seidaan deodoran roll on Formulal Keterangan Homogen Homogen Homogen Homogen Hasil uji homogenitas pada sediaan deodoran roll on ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarp. menggunakan gelas objek menunjukkan hasil diatas tabel bahwa pada sediaan F1. F2, dan F3 menunjukkan tidak adanya butiran kasar. Pada formula diatas menjukkan bahwa eksipien dan ekstrak buah mahkota dewa dapat tercampur homogen. Uji pH Uji pH dilakukan untuk mengetahui homogenitas dari sediaan yang dihasilkan. Hasil uji pH sediaan deodoran roll on yalng dalpat dilihat pada Tabel 5 dibawah ini. Tabel 5. Hasil Uji pH Sediaan Deodoran Roll On Formula Nilai pH 5,00 5,35 5,42 5,64 Hasil pemeriksaan pH sediaan deodora roll on menunjukkan bahwa pH pada keempat formula berbeda beda. Dimana formula 1,2 dan 3 yang ditambahkan ekstrak metanol buah mahkota dewa memiliki pH yang lebih rendah. pH yang dihasilkan pada empat formula yaitu . , . , . , dan . yang berarti bahwa pH sediaan deodoran roll on ekstrak metanol buah mahkota dewa masih berada pada kisaran pH kulit ketiak yaitu 4,0-6,9. Uji Viskositas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui homogenitas dari sediaan yang dihasilkan. Halsil uji Viskositas formulasi deodoran Roll on dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil Pengujian Viskositas Pengujian Viskositas Kriteria 52 cps Hasil Viskositas merupakan kemampuan suatu zat untuk mengalir yang berpengaruh saat proses Hasil pengukuran nilai viskositas pada Tabel 6 menunjukkan bahwa sediaan Deodoran Roll-On ekstrak buah mahkota dewa memiliki nilai viskositas berkisar antara 1750-2500 cps, sehingga nilai viskositas pada semua konsentrasi formulasi masuk pada kriteria ketentuan viskositas yaitu 52 cps. Hasil uji viskositas berdasarkan pada tabel diatas pada F0 dihasilkan 3325 cps. Pada F1 nilai viskositas lebih tinggi dibandingkan dengan F2 dan F3 sehingga dapat diartikan semakin besar konsentrasi formulasi maka nilai viskositasnya semakin kecil. Hal ini dikarenakan penambahan jumlah atau kadar air dalam sediaan yang dapat meningkatkan atau menurunkan viskositassediaan. Uji Pengemasan Sediaan Deodoran Roll On Uji pengemasan dilakukan untuk mengetahui apakah produk dapat keluar dari sediaan yang Hasil uji pengemasan formulasi deodoran Roll on dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Uji Pengemasan Sediaan Deodoran Roll On Formula Keterangan Keluar Keluar Keluar Keluar Pada Tabel 7. menunjukkan bahwa hasi dari uji pengamatan pengemasan sediaan deodoran roll on F0. F1. F2, dan F3 dalam wadah dari botol dengan bola yang dimasukkan ke dalam leher botol (A1 cm dari permukaan atas boto. dalam penelitian tersebut dapat mengeluarkan cairan. Pengujian Antibakteri Terhadap Sediaan Hasil pengujian antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis menggunakan metode difusi cakram, hasil yang diperoleh dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 8. Pengukuran Zona Hambat Pada Sediaan Bakteri Formula Staphylococcus 0,00 0,00 0,00 0,00A 0,00 Tidak Ada 6,08 7,01 7,05 6,71A 0,54 Sedang 7,09 8,02 8,05 7,72A 0,54 Sedang 10,08 11,07 11,09 10,98A0,57 Kuat 24,09 25,05 25,08 24,74A 0,56 Sangat Kuat Staphylococcus Diameter . Formula Diameter . Rata-rata . A SD Rata-rata . A SD Kategori Zona Hambat Kategori Zona Hambat 0,00 0,00 0,00 0,00A 0,00 Tidak Alda 8,01 8,03 8,09 8,04A 0,04 Sedang 9,01 9,03 9,08 9,04A 0,03 Sedang 13,08 14,02 14,07 13,72A0,55 Kuat 25,09 26,02 26,03 25,71A0,47 Sangat Kuat Berdasarkan Tabel 8. pengujian aktivitas antibakteri dilakukan secara in vitro terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis, pengujian aktivitas antibakteri dengan media agar Nutrien Agar (NA) dengan metode difusi (Paper dis. Hasil pengukuran diameter zona hambat yang terbentuk menggunakan jangka sorong dengan satuan mm, menunjukkan bahwa diameter daya hambat deodoran roll on ekstrak buah mahkota dewa terhadap Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis dengan konsentrasi ekstrak buah mahkota dewa F0 . tidak ada zona hambat, pada F1 konsentrasi 6,25% diperoleh diameter rata -rata . ,71 m. , . ,04 m. pada F2 dengan konsentrasi 7,25% diperoleh rata- rata diameter . ,72 m. ,04 m. , pada F3 dengan konsentrasi 8,25% dihasilkan rata-rata diameter . ,98 m. , . ,72 m. dan pada kontrol positif dihasilkan rata-rata diameternya . ,74m. ,71 m. , dari hasil diatal menunjukkan bahwa sediaan deodoran roll on ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarp. mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Dapat disimpulkan bahwa Semakin tinggi konsentrasi ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarp. maka daya hambat terhadap bakteri semakin besar atau naik secara pararel. Hasil diameter zona hambat yang diperoleh F1 daln F2 dikategorikan zona hambat yang sedang. F3 dikategorikan zona hambat yang kuat, sedangkan untuk kontrol positif termasuk dalam kategori zona hambat yang sangat kuat untuk bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Zona bening yang terbentuk pada media Nutrient Agar di sekitar paper disc dapat digunakan untuk mengidentifikasi daya hambat pada penelitian ini. Menurut Davis daln Stout, zona hambat yang dihasilkan pada uji difusi agar dengan ukuran kurang dari 5 mm menunjukkan kekuatan hambat yang buruk atau lemah, tetapi zona hambat yang diklalsifikasikan sebagai 5-10 mm sedang, kuat 10-20 mm, dan lebih dari 20mm sangat kuat. Kemampuan suatu antibakteri tergantung pada konsentrasi bahan antibakteri yang digunakan. Berdasarkan uji aktivitas antibakteri menunjukkan diameter zona hambat pada bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis memiliki nilai yang berbeda-beda hal ini dikarenakan perbedaan kekuatan dinding sel antara bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Aktivitas antibakteri ekstrak metanol buah mahkota dewa didapatkan dari senyawa metabolit sekunder flavonoid, polifenol, tanin dan saponin. Mekanisme kerja flavonoid dalam menghambat bakteri yaitu dengan cara menghambat fungsi membran sel yang membentuk ikatan kompleks dengan dinding sel, merusak membran, dan menghambat metabolisme energidengan cara menghambat sistem pernapasan, karena dibutuhkan energi yang cukup untuk penyerapan aktif sebagai metabolit dan biosintesis Ada tiga mekanisme kerja flavonoid sebagai antibakteri yaitu menghambat sintesi asam nukleat, menghambat fungsi membran sel dan menghambat metabolisme energi. KESIMPULAN Buah Mahkota Dewa dapat diformulasikan menjadi sediaan deodoran roll on dengan kosnsentrasi ektrak 6,25%, 7,25%, dan 8,25%. Semakin besar ekstrak buah mahkota dewa dalam sediaan maka semakin besar kemampuan menghambat bakteri (Staphylococcus eureus dan Staphylococcus Konsentrasi ekstrak buah mahkota dewa yang terbaik pada sediaan deodoran roll on adalah Formula 3 (F. dengan konsntrasi 8,25% dengan daya hambat paling besar 10,98 mm pada bakteri Staphylococcus aureus sedangkan pada bakteri Staphylococcus epidermidis menghasilkan daya hambat 13,72 mm. DAFTAR PUSTAKA