Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 12. Nomor 1, 2025 pp. P-ISSN: 2355-6633 E-ISSN : 2548-5490 Open Access: https://jurnal. id/index. php/Deiksis/index Representation Of Women In The Novel Rara Mendut By Y. Mangunwijaya: A Study Of Liberal Feminism 1Astriyani, 2Wanda Ayu Salsabila, 3Ilmiyanti Rahayu Putri 123Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Swadaya Gunung Jati. Cirebon Corresponding authorAos email: astriyani2003@gmail. ARTIKEL INFO A B S T R A CT Article history: Received 20 November 2024 Accepted 10 December 2024 Published 28 January 2025 Literary works can be a means of understanding the problems and challenges of life. Through the novel Rara Mendut, readers can recognize the problems faced by women as inferiors in society. This study aims to describe the representation of women in the novel Rara Mendut by Y. Mangunwijaya and to determine the forms of liberal feminism in the novel. This research is a qualitative descriptive study using the novel Rara Mendut by Y. Mangunwijaya as the data This study used reading and note-taking techniques to collect The results of this study indicate that there are representations of Javanese women in the characters of Rara Mendut. Ni Semangka. Nyai Ajeng, and Putri Arumardi. In addition, this study also found forms of liberal feminism in the character of Rara Mendut in the novel Rara Mendut by Y. Mangunwijaya. Keywords: Liberal Feminist Studies Novels. Representation of Women DOI: 10. 33603/deiksis. PENDAHULUAN Karya sastra merupakan hasil rekaan yang diciptakan pengarang melalui Salah satu bentuk karya sastra yang saat ini banyak digemari oleh masyarakat adalah novel (Khairun Nisya & Dwi Komalasari, 2. Novel adalah sebuah karya sastra yang menceritakan tentang permasalahan-permasalahan kehidupan seseorang atau beberapa tokoh dalam sebuah cerita yang bersifat imajinatif. Dengan demikian, novel menceritakan hal-hal yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita dari awal hingga akhir sebuah cerita (Rahmawati et al. , 2. Novel juga banyak menceritakan keadan suatu daerah dan permasalahan sehari-hari, dan kisah nyata yang layak diceritakan karena mengandung nilai moral yang tinggi yang dapat diambil hikmahnya (Angelia et al. , 2. Salah satu contoh permasalahan yang seringkali diceritakan dalam novel adalah gerakan perlawan yang dilakukan perempuan terhadap hegemoni individu dan sosial dalam realitas masyarakat. Di dalam novel, representasi perempuan seringkali menggambarkan isuisu sosial atau budaya seperti ketimpangan gender dan penindasan terhadap perempuan. Sosok perempuan memang sering kali dianggap sebagai sosok yang lemah dan hanya bisa p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Astriyani, 2Wanda Ayu Salsabila, 3Ilmiyanti Rahayu Putri . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. mengurusi urusan rumah tangga saja berbeda dengan laki-laki yang lebih identik dengan karakter maskulin yang tegas, berani, cekatan, dan cepat dalam mengambil keputusan. Perempuan dianggap makhluk yang lemah atau inferior dibandingkan laki-laki sebagai makhluk superior. Inilah yang mengakibatkan adanya ketidaksetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Terjadinya ketidakadilan gender yang dialami oleh kaum perempuan tentu saja tidak terlepas dari adanya budaya patriarki yang masih sangat melekat pada masyarakat. Budaya patriarki ini memicu kedudukan perempuan yang selalu ada dinomor dua setelah laki-laki sehingga kaum perempuan menuntut kesetaraan hak, status, dan kedudukannya dalam sektor domestik maupun sektor publik. Ketidakadilan gender pada kaum perempuan inilah yang melahirkan aliran atau gerakan Feminisme merupakan salah satu bentuk kritik sastra yang berpusat pada perspektif perempuan pada kehidupan sosial. Inti tujuan feminisme adalah menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan laki-laki. Dengan demikian, gerakan feminisme bertujuan untuk mendapatkan kesetaraan gender (Rohmata et al. , 2. Menurut Fakih ada beberapa aliran kritik sastra feminisme yaitu liberal, radikal, marxis, dan sosial (Nurrahmah & Wahyuningtyas, 2. Namun, aliran feminisme yang akan diteliti oleh peneliti adalah feminisme liberal yang berfokus pada kebebasan dan otonomi individu perempuan. Feminisme liberal merupakan pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual (Hafid et al. , 2. Kerangka kerja feminisme liberal adalah memperjuangkan persoalan masyarakat yang tertuju pada kesempatan yang sama bagi setiap individu, termasuk di dalamnya kesempatan dan hak kaum perempuan (Rohmata et al. , 2. Pada dasarnya perempuan menuntut kesempatan dan hak yang sama bagi setiap individu atas dasar kesamaan keberadaannya sebagai makhluk Aliran feminisme liberal ini beranggapan sistem patriarki dapat dihancurkan dengan cara mengubah sikap masing-masing individu, terutama sikap kaum perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki (Tawaqal et al. , 2. Feminisme liberal meyakini bahwa tujuan kehidupan bermasyarakat adalah kebebasan individu. Kebebasan individu dipandang sebagai kondisi ideal di mana setiap orang dapat mengekspresikan dirinya terhadap hal-hal yang diinginkan. Dalam hal ini laki-laki dan perempuan memiliki kebebasan untuk mengembangkan dirinya (Purwasari et al. , 2. Novel Rara Mendut yang ditulis oleh Y. B Mangunwijaya menceritakan perjuangan tokoh perempuan untuk mendapatkan hak kebebasannya. Selain itu, di dalam novel Rara p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Astriyani, 2Wanda Ayu Salsabila, 3Ilmiyanti Rahayu Putri . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Mendut juga banyak menggambarkan representasi perempuan dalam upaya menentang hegemoni dan ketidakadilan. Novel ini menceritakan sosok Rara Mendut sebagai wanita yang dianggap membangkang dan menolak berbagai aturan yang berlaku dalam tatanan istana. Dibesarkan di kampung nelayan Pantai Utara Jawa. Rara Mendut tumbuh menjadi gadis yang trengginas dan tak pernah ragu menyuarakan isi pikirannya. Pemikirannya mengenai kebebasan terhadap kaum perempuan tampak dalam tingkah laku dan perbuatannya yang selalu bertentangan dengan adat dan kebudayaan pada masa kerajaan Mataram, terlebih dalam menolak untuk dijadikan seorang selir. Perjuangan tokoh perempuan untuk mendapatkan hak kebebasannya inilah dapat dikaji menggunakan aliran feminisme liberal. Adapun kajian feminisme liberal dalam novel dapat menjadi sarana untuk Hasil penelitian Tawaqal. Mursalim & Hanum . menunjukan bahwa tokoh Zarah Amala dalam novel Supernova Episode: Partikel Karya Dee Lestari menganut paham Feminisme Liberal. Keputusan dan pilihan yang diambil Zarah kerap bertentangan dengan pendapat orang di sekitarnya. Namun, ia selalu berusaha memperjuangkan sendiri haknya sebagai seorang perempuan. Sekait hal tersebut, kajian feminisme liberal dalam novel dapat menjadi salah satu upaya untuk mengidentifikasi citra perempuan dalam pandangan masyarakat. Misalnya penggambaran citra perempuan Jawa pada tokoh Sayem dalam novel Hati Sinden karya Dwi Rahyuningsih. Dalam novel tersebut ditemukan citra perempuan Jawa meliputi: nrima, sabar, pasrah, lembut, bakti, pandai berhemat, perhatian, dan pengendalian diri tinggi (Fitriani. Qomariyah & Sumartini, 2. Hasil penelitian tersebut serupa dengan penelitian Rohmata. Murtadlo, dan Dahri . yang menunjukan bahwa tokoh Zahra dalam Novel Pelabuhan Terakhir karya Roidah menganut paham feminisme liberal. Keinginan Zahra untuk menjadi Wanita karir dan tidak menikah ditentang oleh keluarganya yang masih menganut sistem patriarki. Namun. Zahra selalu berjuang untuk mendapatkan kewenangan secara penuh dalam hidupnya demi kehidupan dia yang lebih baik. Berdasarkan uraian di atas ditemukan hubungan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya dengan fokus pembahasan mengenai isu-isu feminisme dan feminisme liberal. Adapun perbedaannya berkaitan dengan subjek penelitian ini yaitu Novel Rara Mendut karya Mangunwijaya yang belum pernah dikaji menggunakan pendekatan feminisme liberal. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan representasi perempuan dalam p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Astriyani, 2Wanda Ayu Salsabila, 3Ilmiyanti Rahayu Putri . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. novel Rara Mendut serta untuk mengetahui bagaimana bentuk feminisme liberal dalam novel Rara Mendut. METODE Penelitian ini merupakan salah satu jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, karena data-data yang ditampilkan bukan berupa angka-angka melainkan berupa kata-kata atau kalimat yang ada pada novel Rara Mendut. Pada penelitian ini menggunakan desain metode deskriptif dengan cara menyajikan, menganalisis, dan kemudian menginterpretasikan data tersebut (Oftavia et al. , 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan feminisme liberal. Pendekatan feminisme liberal dalam karya sastra ini memfokuskan kepada representasi perempuan dan bagaimana bentuk feminisme liberal dalam karya sastra. Sumber data pada penelitian ini adalah novel Rara Mendut karya Mangunwijaya yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Adapun data dalam penelitian ini yaitu berupa kutipan-kutipan kalimat yang terdapat dalam novel Rara Mendut karya Y. Mangunwijaya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara AubacacatatAy yaitu membaca dengan cermat dan berulang-ulang semua novel yang menjadi objek kajian (Arikunto, 2. Teknik tersebut digunakan untuk mengkaji novel tersebut dengan pendekatan feminisme liberal. Guna mendapat hasil yang maksimal dalam penelitian ini penulis menggunakan instrumen dokumentasi berupa kartu data analisis (Oftavia et al. , 2. Data-data dalam penelitian ini diuji keabsahannya menggunakan triangulasi. Adapun teknik analisis yang dipilih peneliti yaitu model analisis interaktif yang meliputi: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (Miles & Huberman. HASIL DAN PEMBAHASAN Representasi Perempuan dalam Novel Rara Mendut karya Y. Mangunwijaya Representasi pada penelitian ini mengacu pada citra perempuan Jawa dalam novel Rara Mendut karya Y. Mangunwijaya. Perempuan Jawa memiliki karakter yang khas sesuai dengan kultur Jawa pada umumnya, yaitu bertutur kata halus, setia, diam/kalem, nrima, perhatian, sabar, pasrah, lembut, bakti, pandai berhemat, dan pengendalian diri tinggi. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan empat sosok yang mencerminkan citra perempuan Jawa dalam novel Rara Mendut, yakni Rara Mendut. Ni Semangka. Nyai Ajeng, dan Putri Arumardi. Gambaran citra Perempuan Jawa pada empat tokoh tersebut akan dibahas pada pembahasan berikut. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Astriyani, 2Wanda Ayu Salsabila, 3Ilmiyanti Rahayu Putri . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Perhatian Sifat lembut dan penuh perhatian sering kali dihargai dalam budaya Jawa. Perempuan Jawa mungkin mengekspresikan perhatian mereka melalui ungkapan kasih sayang, kepedulian, dan empati. Terbukti pada kutipan berikut. AuKepala genduk duku sekarang pindah terbaring dalam pangkuan Rara Mendut. Manja si anak ini, batin ni semangka. Anak piatu tidak punya siapa pun. AuNduk,Ay kata Rara Mendut lembut pada dayang kecilnya sambil membelai-belai pipi dan lengannya. Ay (Rara mendut, 1987: . Kutipan di atas menunjukan citra perhatian tampak pada perilaku Rara Mendut pada Genduk Duku yang bersikap lembut dengan membelai pipi dan lengan dayang kecil Sikap lemah lembut tersebut juga merupakan bentuk/ekspresi kasih sayang Rara Mendut terhadap orang di sekitarnya. AuMendut membelai rambut genduknya itu, sambil berkata penuh senyum sayang, "Ada. Nduk. Ada" Mendut membaringkan diri juga di samping datangnya, dan membisikkan kesayangannya kepada anak manis yang sudah sangat ia sayangi ituAAy (Rara Mendut, 1987: . Kutipan di atas menunjukan citra perhatian pada tokoh Rara Mendut diekspresikan dalam bentuk verbal/ungkapan kata dengan penuh senyum sayang. Selain Rara Mendut, sosok Ni Semangka yang merupakan dayang utama Rara Mendut mempunyai sifat yang perhatian terhadap puannya itu. Terbukti pada kutipan berikut. AuPenuh sayang seperti kepada anaknya sendiri, datang Ni Semangka mengucapkan nasihat itu kepada gadis bawuk dari pantai yang dipercayakan kepadanya oleh Ni Sekar, dayang utama Puri Pati. Ay (Rara Mendut, 1987: . Kutipan di atas menunjukan citra perhatian tokoh Ni Semangka pada Rara Mendut yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri dengan memberikan nasihat-nasihat baik kepadanya. AuBagaimanapun rasa keibuan Ni Semangka lebih kuat daripada rasa ketaatan kepada Walaupun masih sulit untuk memahami sikap puannya yang nekad, akan tetapi bila sudah jelas "anak"-nya terjepit minta tolong, mana ada wanita yang tidak membalik, lalu mati-matian membela sang Tersayang?. Ay (Rara Mendut, 1987: . Kutipan di atas menunjukan bagaimana bentuk rasa keibuan Ni Semangka kepada Rara Mendut yang kuat membuatnya menyerah dan bersedia membantu Rara Mendut p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Astriyani, 2Wanda Ayu Salsabila, 3Ilmiyanti Rahayu Putri . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. untuk mendapatkan kebebasannya. Adapun bentuk rasa perhatian lainnya juga ditunjukan Putri Arumardi kepada Rara Mendut yang merupakan sahabatnya. Terlihat pada kutipan berikut. AuSayang Putri Arumardi mencium sahabatnya yang baru itu. Ay (Rara Mendut, 1987: Kutipan di atas menunjukan citra perhatin tampak pada perilaku Putri Arumardi pada Rara Mendut yang bersikap lembut dengan mencium sahabatnya tersebut. Sikap lembut tersebut merupakan bentuk kasih sayang Putri Arumardi untuk sahabat barunya itu. AuArumardi anak gunung,Ay kata Arumardi. Autetapi kau. Adikku sayang, kau anak Jangan! Jangan melawan keyakinanmu. Bayangkan bagaimana perasaan Arumrdi, bila setiap hari nanti melihat kau menderita, hanya demi aku. Ah, semoga Allah yang maha bijaksana menghapus gagasan semacam itu, betapapun mulianya. Ay (Rara Mendut, 1987: . Kutipan di atas menunjukan bagaimana Putri Arumardi menyayangi Rara Mendut dan menolak pengorbanan yang dilakukan Rara Mendut karena ia peduli akan perasaan Mendut sahabatnya itu yang ingin hidup bebas tanpa ada aturan istana yang mengikat dan dapat bahagia bersama orang yang dia cinta. Pasrah Pasrah atau dalam bahasa Jawa disebut dengan sumarah mengandung arti sebagai sikap atau perasaan yang dapat muncul karena adanya pemahaman akan kekalahan, kekurangan atau kelemahan diri kita terhadap sesuatu sehingga membuat kita tunduk, takluk dan juga menjadi penurut/patuh (Ananto, 2. pada novel Rara Mendut, sikap pasrah ditunjukan oleh Ni Semangka dan Putri Arumardi. Terbukti pada kutipan berikut. AuYa, untuk Genduk Duku pemboyongan ke pusat kerajaan dapat dirasakan sebagai memanglah Mendut harus mengakui bahwa perjalanan mereka, kendatipun berat harus menembus hutan-hutan yang masih lihat penuh lintah dan nyamuk-nyamuk tidaklah, hampa peristiwa-peristiwa yang mengasyikkan. Lain sama sekali daripada dalam kurungan dinding-dinding tebal. Sesudah satu hari ikut tentara pusat. Rara Mendut sudah berubah suasana hatinya. Dari jengkel dan menggerutu melulu mulailah Ia belajar menyaring hal-hal yang dapat menyenangkan hati dan memperkaya Lain Ni semangka dari awal mula ia sudah sumarah. Bagi dia hidup p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Astriyani, 2Wanda Ayu Salsabila, 3Ilmiyanti Rahayu Putri . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. hanyalah mampir ngombe sehingga sebentar untuk minum keteguhan saja. Ay (Rara Mendut, 1987: 31-. Kutipan di atas menunjukan bahwa Ni Semangka sudah pasrah dengan keadaannya yang harus diboyong ke pusat kerajaan Mataram karena tuannya sudah terbunuh oleh Wiraguna di medan perang. Baginya hidup di Pragola atau Wiraguna sama saja, ia akan tetap bekerja melayani para putri-putri ningrat. AuArumardi sudah belajar sumarah, tetapi toh tidak bisa sumarah dengan peristiwaperistiwa hidup kaum istana yang dirasanya kejam sewenang-wenang. Ay (Rara Mendut, 1987: . Kutipan di atas menunjukan bahwa Putri Arumardi pasrah akan hidupnya yang menjadi selir Wiraguna, tetapi tidak dengan kekejaman-kekejaman yang ada di istana. Baginya istana itu adalah tempat dimana mudah sekali diperintahkan oleh darah mengalir, bukan rumah Rahmat. Bahkan ia sendiri sudah kehabisan selera mengenai hak-hak waris dan hidup dalam kemewahan. Nrima Dalam Jawa ada istilah narima atau nrima berarti menerima. Arti makan kata narima lebih dalam ialah menerima dengan bersyukur, ikhlas, dan telah merasa puas (Afidah et al. , 2. Identik dengan perempuan Jawa yang selalu menerima dengan ikhlas apa pun perintah suaminya ataupun orang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Terbukti pada kutipan berikut. AuApakah kau keberatan Nyai Ajeng, bila suamimu diberi pahala oleh Rajanya berupa putriputri cantik dari Pragola, selaku lambang kejayaan Susuhanan Senapati Ingalaga Mataram dan Panglima Alap-alap Mataram atas pemberontak laknat itu?Ay AuTidak pernah seorang hamba setia menolak permintaan Rajanya, baginda. Ay (Rara Mendut, 1987: . Kutipan di atas menunjukan betapa Nyai Ajeng sangat menerima keputusan Raja Mataram yang memberikan putri-putri rampasan untuk dijadikan selir suaminya. AuKakanda. Nyai Ajeng Ikhlas Tuannya mengambil wanita baru sebagai selir. Bahkan Nyai Ajeng dengan sadar memohon, agar Kakanda mengambil wanita lain sebagai istri yang berhak warisan. Akan tetapi, sudilah ingat: Kakanda Panglima Besar Kerajaan Mataram. Ay (Rara Mendut, 1987: . Kutipan di atas menunjukan citra nrima pada tokoh Nyai Ajeng diekspresikan dalam bentuk ungkapan kata yang penuh dengan pengertian mengusulkan kepada suaminya agar jangan hanya diangkat menjadi selir, tetapi benar-benar istri resmi. Dengan demikian, anak-anak yang akan dilahirkan nanti memiliki hak-hak waris. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Astriyani, 2Wanda Ayu Salsabila, 3Ilmiyanti Rahayu Putri . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Bakti Sikap bakti atau berbakti adalah sikap seorang perempuan untuk selalu senantiasa menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Terbukti pada kutipan berikut. AuNyai ajeng sekarang harus melindungi kewibawaan suaminya, dan menghindarkan kejadian sangat memalukan bila Hasrat asmaranya sampai ditolak oleh seorang kawulaalit, apalagi putri suatu daerah yang baru memberontak dan kalah. Ay (Rara Mendut, 1987: Kutipan di atas menunjukan citra perempuan Jawa yang penuh bakti yang ditampilkan pada tokoh Nyai Ajeng. Ia harus tetap melindungi wibawa suaminya dan menginsafkan suaminya yang selalu melakukan segala hal untuk meluluhkan hati Rara Mendut agar mau diperistri. Nyai Ajeng tau hal yang dilakukan suaminya itu tentu saja sangat membahayakan, karena kedudukan suaminya bukan sembarangan dalam Kerajaan Mataram. Bentuk Feminisme Liberal dalam Novel Rara Mendut karya Y. Mangunwijaya Penolakan Penolakan yang dilakukan oleh Rara mendut di dalam novel terdapat dalam kutipan dibawah ini. AuMaka berlarilah Si Mendut itu lalu memanjat dinding halaman keputrian. Mendut sendiri bercerita sesudahnya bahwa pada saat itu ia memang mati-matian berniat untuk lari dari puri dan bertekad pulang ke desanya, entah bagaimana caranya. Ay (Rara Mendut, 1987: . Dari kutipan di atas menggambarkan Rara Mendut yang berusaha kabur dari puri Pragola sebelum prajurit-prajurit Wiraguna membawa para wanita Pragola ke Kerajaan Mataram. Ia mencoba kabur agar dapat pulang ke Pantai Utara dan dapat hidup bebas. Ia menganggap bahwa istana adalah sebuah kurungan yang merenggut hak kebebasannya. Selain itu. Rara mendut juga melakukan perlawanan ketika ia akan dijadikan selir oleh Wiraguna. Seperti kutipan di bawah ini. AuSiapa bilang aku calon istri Wiraguna?Ay tangkis Mendut sungguh kurang ajar, sehingga tak heranlah, semua menjadi cemas. Ay (Rara Mendut, 1987: . Hal ini menggambarkan penolakan yang berani dilakukan oleh Rara Mendut ketika ia tidak diperbolehkan pulang ke rumah orang tuanya karena ia adalah calon istri Tumenggung Wiraguna. Selain itu. Rara Mendut juga mengatakan alasan ia menolak menjadi selir seorang Tumenggung Wiraguna. Terlihat pada kutipan di bawah ini. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Astriyani, 2Wanda Ayu Salsabila, 3Ilmiyanti Rahayu Putri . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. AuMendut bersembah. AuRambut Wanita Panjang, kanjeng tumenggung. Daya rabanya pun Panjang dan lembut. Warna di dalamku merasa. Paduka mencintai gengsi kaum Paduka mencintai kewibawaan panglima yang jaya. Bukan si Mendut yang si Mendut. Mendut bagi paduka hanyalah lambing peneguhan kejayaan senjata dan kewibawaan Mataram. Ay (Rara Mendut, 1987: . Dari kutipan di atas menggambarkan bagaimana Rara Mendut mengungkapkan bahwa Wiraguna hanyalah mencintai gengsi kaum pria, dimana Wiraguna yang merupakan ksatria belum pernah melihat wanita yang menolak dan menantangnya seperti Rara Mendut. Kebebasan Kebebasaan dapat diartikan bahwa manusia menentukan pilihannya sendiri sesuai dengan keinginannya, tanpa terikat oleh apa pun. Dalam hal ini. Perempuan juga memiliki kebebasan dan kesempatan untuk menentukan pilihan dan keinginannya tanpa terikat oleh apapun (Rohmata et al. , 2. Rara Mendut sebagai tokoh utama yang memiliki jiwa yang pemberontak dan berani menyuarakan isi pikirannya mengenai hak kebebasan untuk dirinya. Ia rela berjualan rokok untuk membayar pajak dan untuk bekal ia pulang ke Pantai Utara. Terlihat pada kutipan di bawah ini. AuTiada jalan lain, penjualan rokok harus diteruskan. Betul penghasilan hari-hari pertama jauh melebihi yang diharapkan, akan tetapi dengan sikap sang Tumenggung yang tanpa iba hati begitu saja menaikkan pajak Mendut harus mempunyai persediaan. Selain untuk membayar pajak, nanti untuk bekal di jalan pulang ke pantai masih dibutuhkan uang juga. Ay (Rara Mendut, 1987: . Kutipan di atas menggambarkan bagaimana Rara Mendut harus melanjutkan berjualan rokok agar ia bisa membayar pajak yang terus naik karena sikap Tumenggung Wiraguna yang tidak memiliki rasa iba. Berjualan rokok juga dijadikan Mendut sebagai usaha ia untuk terus mendapatkan uang untuk bekal ia pulang ke rumahnya di Pantai Utara. Ia terus berusaha dan berharap agar ia dan dayangdayangnya dapat bebas dari istana. Rara Mendut akhirnya memutuskan untuk kabur dari istana bersama kekasihnya yang memang berasal dari Pantai Utara juga dengan dibantu oleh Putri Arumardi. Terlihat pada kutipan di bawah ini. AuTerima kasih Putri Arumardi! Juga berkat sikapmu, insya`allah Mendut dapat Ay (Rara Mendut, 1987: . Kutipan di atas menunjukan bagaimana Rara Mendut dapat bebas keluar dari istana dengan dibantu oleh Putri Arumardi. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Astriyani, 2Wanda Ayu Salsabila, 3Ilmiyanti Rahayu Putri . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. AuAkhirnyalah, kemerdekaan tercapai! Sesudah tegang berpegang pada Pranacitra di atas kuda yang lari sangat kencang, serba takut terguncang jatuh. Mendut dan Pranacitra sampai di tepi Sungai Oya. Ay (Rara Mendut, 1987: . Kutipan di atas menunjukan bagaimana kebebasan Rara Mendut yang sudah tercapai. Ia dan kekasihnya Pranacitra berhasil kabur dengan menggunakan sebuah kuda. Rara mendut berhasil merdeka atau bebas dari istana yang membuat ia seperti berada di dalam kurungan yang mengatur segala tindak-tanduknya. SIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa novel Rara Mendut karya Y. Mangunwijaya menggambarkan representasi perempuan yang mengacu pada citra perempuan Jawa. Citra perempuan Jawa pada novel tersebut terdapat pada tokoh Rara Mendut. Ni Semangka. Nyai Ajeng dan Putri Arumardi. Kriteria perempuan Jawa sangat kental dengan berbagai sifat yang mampu menjadikan tokoh-tokoh tersebut sebagai sosok perempuan yang nrima, pasrah, bakti, dan juga memiliki perhatian terhadap orang lain. Selain itu, di dalam cerita Rara Mendut sebagai tokoh yang berjiwa pemberontak dan pemberani melakukan berbagai penolakan untuk mendapatkan hak kebebasannya yang terenggut akibat aturan-aturan yang ada di dalam istana. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk kabur dari istana untuk mendapatkan hak kebebasannya itu. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tua tercinta yang telah memberikan ruh dan napas kehidupan. Terima kasih juga peneliti sampaikan kepada dosen dan teman-teman yang terlibat dalam penyusunan penelitian ini. REFERENSI