Jurnal Ilmu Hadits Volume 1 Nomor 1 (Jun. 2022 SEJARAH QAWAAoid al-ta. di>s\. Metode yang digunakan adalah metode penelitian library research atau penelitian kepustakaan. Di dalam sejarah telah dicatat beberapa upaya yang dilakukan para ulama dalam menetapkan kaidah-kaidah periwayatan hadis, mulai dari abad pertama Hijriah hingga saat ini. Adanya penetapan kaidah-kaidah dalam periwayatan hadis disebabkan karena adanya keraguan terhadap hadis tersebut, apakah betul berasal dari nabi atau hanya pendapat seseorang yang mengatasnamakan nabi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah lahir dan berkembangnya qawa>Aoid al-ta. di>s\ ada beberapa tahap yang muncul sejalan dengan berkembangnya ilmu hadis itu sendiri. Mulai dari tahap kelahiran, penyempurnaan, pembukuan, penyusunan, hingga mencapai tahap kesempurnaan kemudian terjadi masa kebekuan hingga kebangkitan Kata Kunci: Hadis, qawa>Aoid al-ta. di>s\, sejarah ilmu hadis. Pendahuluan Hadis merupakan sumber hukum Islam setelah al-QurAoan. Meskipun begitu, hadis tidak memperoleh perhatian khusus seperti halnya al-QurAoan yang diperintahkan untuk menulisnya. Hadis tidak diperintahkan untuk ditulis, hal ini dikarenakan takutnya al-QurAoan bercampur dengan hadis. Usaha pembukuan hadis barulah dilaksanakan pada masa khalifah Umar bin AoAbd al-Azi>z . 101 H), karena itulah banyak yang meragukan keotentikan hadis. Banyaknya pemalsu hadis membuat para ulama hadis menetapkan kaidah-kaidah untuk membuktikan keotentikan hadis tersebut. Qawa>Aoid al-Ta. di>s\ sebagai sebuah disiplin ilmu tidaklah muncul secara tiba-tiba dan lengkap seperti yang dijumpai sekarang ini. Ia tumbuh dan berkembang dalam kurun waktu tertentu. Qawa>Aoid al-Ta. di>s\ tidak dapat berdiri sendiri karena ia merupakan bagian dari ilmu hadis itu sendiri. Ilmu hadis mengalami periode-periode tertentu dan pembinaan-pembinaan sehingga muncul spesifikasi cabang-cabang ilmu hadis yang beranekaragam. Pertumbuhan dan perkembangan ilmu hadis itu mengalami pasang surut, mulai dari zaman Rasulullah saw. , hingga masa setelah ta>biAo ta>biAoi>n. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor dan karakteristik ulama Islam pada masanya. Maka dari itu, diperlukan kajian mengenai sejarah qawa>Aoid al-ta. di>s\ untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan hadis tersebut dan menggambarkan kesungguhan para ulama hadis dalam mengembangkan qawa>Aoid al-ta. di>s\. Metodologi penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah library research atau kajian kepustakaan yang mengambil data-data dari beberapa literatur seperti buku atau Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sejarah yang difokuskan untuk mengkaji sejarah dari qawa>Aoid al-ta. di>s\. Pembahasan Tahap Kelahiran Qawa>Aoid al-Ta. di>s\ Secara praktis. Qawa>Aoid al-Ta. di>s\ juga sudah ada sejak periode awal Islam atau sejak periode Rasulullah saw. , paling tidak dalam arti dasar-dasarnya. Ilmu ini muncul bersamaan dengan mulainya periwayatan hadis yang disertai dengan tingginya perhatian dan selektivitas sahabat dalam menerima riwayat yang sampai kepada mereka. Pada periode Rasulullah saw. , kritik atau penelitian terhadap suatu riwayat . yang menjadi cikal baka1 qawa>Aoid al-ta. di>s\ dilakukan dengan cara yang sederhana sekali. Apabila seorang sahabat ragu-ragu menerima suatu riwayat dari sahabat lainnya, maka ia segera menemui Rasulullah saw. , atau sahabat lain yang dapat dipercaya untuk mengkonfirmasikannya. Setelah itu, barulah ia menerima dan mengamalkan hadis tersebut. Pedoman periwayatan pada masa sahabat didasari dengan adanya ayat al-QurAoan maupun hadis yang mengharuskan seseorang berhati-hati dalam menyampaikan Hal itu ditandai dengan adanya hadis yang berbunyi: a a aA eCAUaAIe eEaIA eAeA aIIe eOaCEe e aEa acOe e aIA:eAAEacO e e aEaO aNe e aO aEac aIe eOaCOEA ca aAe aae eEIA:eAEA a e eAacA aa a e 2AeAaeaCeAaEOa acOee aIC a aNee aI aIeIac aA Dari Salamah berkata: saya mendengar Rasulullah saw. , bersabda: AuBarangsiapa sengaja berdusta atasku maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat di Ay Idri. Studi Hadis (Cet. Jakarta: Kencana, 2. , h. Muh. mmad bin Isma>Aoi>l Abu> AoAbdilla>h al-Bukha>ri>. >h{ al-Bukha>ri>, juz. 1 (Cet. : Da>r T. uq al-Naja>h, 1422 H), h. Bahkan Rasulullah saw. , membebankan dosa pembuat hadis palsu kepada seseorang yang ikut meriwayatkannya. Sebagaimana hadis Rasulullah saw: eeAace e a OcIe e a aOU e aON aOA a aEacO e e aEaO aNe e aO aEac aIe eCA a AeA aIIe e aA:eAEA A e a aIe eEIa OAUAaIe e aE scOA a e eAacA a AO OeIacNee aEA a ae aE aA e 3AeAOA AOA ANA a AA a a aa Dari AoAli. Rasulullah saw. , bersabda: AuBarangsiapa meriwayatkan suatu hadis dariku yang ia ketahui bahwa hadis itu palsu maka ia termasuk orang pendusta. Ay Allah swt. , juga berfirman tentang keharusan berhati-hati sebagaimana yang terdapat dalam Q. al-Hujura>t/49: 6 a ca a ACeeaIaueea Oac IOeaIeeA eAAOOeCaOUIea aNEaeeaOA a a U aAOIee aIIOeuIee aaEIeeAA a AOaeaOac aNeEA aa e eAOA a AaEaOe aIeAa aEIeeIaIA Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita maka periksalah dengan teliti kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan . , yang akhirnya kamu menyesali kesalahanmu itu. Dari hadis dan ayat di atas dapat diambil prinsip-prinsip kaidah periwayatan yang menopang kelangsungan pemeliharaan hadis. Pada masa itu, para sahabat menggunakan kaidah periwayatan hadis yang sangat sederhana sesuai dengan kebutuhan waktu itu untuk memastikan kesahihan riwayat dan menjauhi kesalahan. Kemudian kaidah ini berkembang sejalan dengan perkembangan zaman hingga mencapai puncaknya. Ibn Ma>jah Abu> AoAbdilla>h Muh. mmad bin Yazi>d al-Qaswi>ni>. Sunan Ibn Ma>jah, juz. Da>r Ih. a>Ao al-Kutub al-AoArabiyyah, t. ), h. Kementerial Agama RI. Mushaf al-QurAoan Terjemah (Bandung: Insan Kamil, t. ), h. Nuruddin AoItr. Manhaj al-Naqd fi> AoUlu>m al-H. di>s\, terj. Mujiyo. AoUlumul Hadis (Cet. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , h. Pada periode sahabat, penelitian hadis yang menyangkut sanad maupun matan hadis semakin menampakkan wujudnya. Abu> Bakar al-S. pertama dari al-Khulafa>' al-Ra>syidu>n, tidak mau menerima suatu hadis yang disampaikan oleh seseorang kecuali yang bersangkutan mampu mendatangkan saksi untuk memastikan kebenaran riwayat yang disampaikannya. 6 Demikian pula yang dilakukan oleh Umar bin al-Kha. a>b . Bahkan Umar mengancam akan memberi sanksi terhadap siapa saja yang meriwayatkan hadis jika tidak mendatangkan saksi. AoAli bin Abi> T. >lib . menetapkan persyaratan tersendiri, la tidak mau menyampaikannya bersedia diambil sumpah atas kebenaran riwayat tersebut. Meskipun demikian, ia tidak menuntut persyaratan tersebut terhadap sahabatsahabat yang paling dipercaya kejujuran dan kebenarannya, seperti Abu> Bakar alS. ddi>q. Semua yang dilakukan mereka bertujuan untuk memelihara kemurnian hadishadis Rasulullah saw. Kritik matan juga tampak jelas pada periode sahabat AoA Bakar misalnya, pernah mengkritik hadis dari Abu> Hurairah . 57 H) dengan matan AeuIeIEOeOeNENeEONA TM. Hasbi Ash-Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis (Cet. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1. , h. Nuruddin AoItr. Manhaj al-Naqd fi> AoUlu>m al-H. di>s\, terj. Mujiyo. AoUlumul Hadis, h. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, h. Muslim bin al-H}ajja>j Abu> al-Husain al-Qusyairy al-Naisabu>ri>. S}a. i>h Muslim, juz. II (Beirut: Dar I. yaAo Tura>s\ al-AoArabi>, t. , h. Sesungguhnya mayat diazab disebabkan ratapan keluarganya. AoA Hurairah karena maknanya bertentangan dengan aIQur'an. la mengutip Q. al-An'a>m . ayat 164: eAeeO aaUee aOaeeaOA a AOaea aA. dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Sejumlah sahabat lainnya juga melakukan hal yang sama, seperti AoUmar bin alKha. AoAli bin Abi> T. >lib. AoAbdulla>h bin MasAou>d (AoIbn MasAou>. , dan AoAbdulla>h bin AoAbba>s. Pada masa AoUs\ma>n bin AoAffa>n terjadi pemalsuan hadis, maka dari itu para ulama hadis berusaha untuk menjaga hadis dengan cara mencari sanad hadis dan meneliti karakteristik rawi dan menghimbau kepada setiap orang berhati-hati dalam menerima hadis dan tidak menerimanya kecuali dari orang yang dapat dipercaya Mu. ammad bin Isma>Aoi>l Abu> Abdilla>h al-Bukha>ri>. S}a. al-Bukha>ri>, juz. I (Beirut: Da>r Ibn Kas\i>r al-Yama>mah, 1987 M) h. Kementerian Agama RI. Mushaf al-QurAoan dan Terjemah Al-AoAjalu>ni> Isma>Aoi>l bin Mu. ammad al-Jara>. Kasyf al-Khafa>Ao, juz. I . : Da>r Ihya>Ao alTura>s\ al-AoAra>bi>, t. , h. keagamaannya, ke-waraAo-annya, hafalannya dan ketepatannya. Dari sinilah muncul ilmu kritik rija>l al-hadi>s\. Di antara para sahabat yang banyak berbicara mengenai karakteristik para rawi adalah AoAbdulla>h bin AoAbbas. AoUbadah bin S. >mit dan Anas bin Ma>lik. Namun mereka tidak banyak mencela karena saat itu kelemahan masih jarang ditemukan. Dari kalangan tabiAoin yang banyak membicarakannya adalah SaAoid ibn al-Musayyab Amir al-Syabi dan Ibn Sirin. Demikian juga ada usaha-usaha lain yang ditempuh untuk membedakan mana hadis sahih dan mana yang cacat, yang asli dan telah berubah. Oleh karena itu, sebelum abad I H berakhir, sebenarnya telah lahir sejumlah cabang ilmu hadis. Pada saat itu, hadis dibagi menjadi 2 yakni hadis maqbu>l dan mardu>d. Tahap Penyempurnaan Pada tahap ini, ilmu hadis mencapai titik kesempurnaannya karena setiap cabangnya dapat berdiri sendiri dan sejalan dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan dan dipergunakan oleh para ulama. Tahap ini berlangsung pada awal abad II hingga awal abad i H. Pada masa ini terjadi pembukuan hadis secara resmi yang diperintahkan oleh Khalifah Umar bin AoAbd al-AoAzi>z. Keharusan sanad dalam periwayatan bahkan menjadi tuntutan yang sangat kuat ketika Ibn Syiha>b al-Zuhri> menghimpun hadis dari para ulama di atas lembaran kodifikasi. Sanad adalah merupakan syarat mutlak bagi yang meriwayatkan hadis, maka dapat disimpulkan bahwa pada saat itu telah timbul pembicaraan periwayat mana yang adil dan mana yang cacat (Aoilm al-jar. wa al-taAodi>. , sanad mana yang terputus . dan yang tersambung . , dan cacat (Aoilla. yang tersembunyi. Nuruddin AoItr. Manhaj al-Naqd fi> AoUlu>m al-H. di>s\, terj. Mujiyo. AoUlumul Hadis, h. Pada masa ini pula. Qawa>Aoid al-Ta. di>s\ mulai ditulis dan dikodifikasikan dalam bentuk yang sederhana, belum berdiri sendiri, masih campur dengan ilmu-ilmu lain atau berbagai buku atau berdiri secara terpisah. Misalnya ilmu hadis bercampur dengan ilmu ushul fiqh, seperti dalam kitab al-Risa>lah yang ditulis oleh al-Sya>fiAoi>, dalam kitab ini membahas mengenai kriteria hadis yang dapat dipakai hujjah yaitu hadis yang memenuhi kriteria hadis sahih di samping masalah hafalan rawi, riwayat dengan makna dan rawi mudallis yang dapat diterima hadisnya. Ada pula kitab yang bercampur dengan fiqih seperti kitab al-Umm karya al-Sya>fiAoi> yang membahas mengenai hadis hasan dan mursal. Tahap Pembukuan Hadis secara Terpisah Tahap ini berlangsung sejak abad i hingga pertengahan abad IV H. Pada abad ini merupakan masa pembukuan hadis dan merupakan zaman keemasan sunah sebab pada abad inilah sunah dan ilmu-ilmunya dibukukan secara sempurna. Pada masa ini sejalan dengan pesatnya perkembangan kodifikasi hadis, perkembangan penulisan kitab yang berisi Qawa>id al-Ta. juga pesat. Setiap cabang ilmu hadis telah berdiri sebagai suatu ilmu tersendiri seperti ilmu hadis sahih, ilmu hadis mursal ilmu al-Asma>Ao wa al-Kunya dan sebagainya. Para ulama pun telah menyusun kitab khusus untuk setiap cabang tersebut. Di antara ulama ada yang menulis hadis pada mukadimah bukunya seperti Imam Muslim dalam S}a. -nya dan al-Tirmi>z\i> pada akhir kitab Ja>miAo- nya. Di antara mereka al-Bukha>ri> menulis tiga tarikh yaitu al-Ta>rikh al-Kabi>r, al-Ta>rikh al- Awsa. , dan al-Ta>rikh al-S. gi>r. Muslim menulis T. baqa>t al-TabiAoi>n dan al-AoIlal. Nuruddin AoItr. Manhaj al-Naqd fi> AoUlu>m al-H. di>s,\ terj. Mujiyo. AoUlumul Hadis, h. Lihat juga. Majid MaAoarif. Tarikh-e Umumi-ye Hadi>s\, terj. Abdillah Musthafa. Sejarah Hadis (Cet. Nur al-Huda, 2. , h. Tirmi>z\i> menulis al-Asma>Ao wa al-Kunya dan Kita>b al-Tawa>rikh dan Mu. ammad bin SaAoad menulis al-T. baqa>t al-Kubra> . Dan di antara mereka ada yang menulis secara khusus tentang periwayat yang lemah seperti al-D}uAoafa>Ao yang ditulis oleh alBukha>ri> dan al-D}uAoafa>Ao ditulis oleh al-Nasa>Aoi> dan lain-lain. Namun pada tahap ini belum dijumpai suatu tulisan yang pembahasannya mencakup seluruh kaidah cabang-cabang ilmu hadis dengan batasan istilahistilahnya (Qawa>Aoid al-Ta. di>s\) kecuali kitab kecil yang berjudul al-AoIlal al-S. gi>r karya Imam al-Tirmi>z\i> . 279 H) dalam kitab tersebut membahas mengenai masalah-masalah penting dari al-jar. wa al-taAodi>l, peringkat para rawi, tata tertib penerimaan dan periwayatan hadis, periwayatan hadis dengan makna, hadis mursal, definisi hadis hasan, hadis garib, dan penjelasannya. Tahap Penyusunan Kitab Hadis Tahap ini bermula pada pertengahan abad IV dan berakhir pada abad VII. Ulama pertama yang membukukan ilmu hadis dirayah adalah Abu> Mu. ammad alRama. -360 H) dalam kitabnya al-Mu. addis\ al-Fa>s\il bain al-Ra>wi> wa al- wa>'i (Ahli Hadis yang Memisahkan Antara Rawi dan Pemberi Nasiha. Sebagai pemula, kitab ini belum membahas masalah-masalah ilmu hadis secara lengkap. Kemudian muncul al-H. >kim al-Naisa>bu>ri> . 405 H/1014 M) dengan sebuah kitab yang lebih sistematis. MaAorifah AoU1u>m al-H. di>s\ (Makrifat Ilmu Hadi. 16 Meskipun demikian, kitab ini masih memiliki kekurangan. Kemudian Abu> NuAoaim al-Isfahani . 430 H/1038 M), muhaddis\ dari Astalun (Persi. , berusaha melengkapi kekurangan tersebut melalui kitabnya, al-Mustakhraj Aoala> al-H. >kim. Setelah itu Nuruddin AoItr. Manhaj al-Naqd fi> AoUlu>m al-H. di>s\, terj. Mujiyo. AoUlumul Hadis, h. Al-Syari>f Ha>tim bin AoArif al-AoAuni>, al-Manhaj al-Muqtara. li Fahm al-Hadi>. Juz. I . Multaqi> Ahl al-H}adi>s\, t. muncul Abu> Bakr A. mad al-Kha>tib al-Bagda>di> . H/1002 M-463 H/1071 M) yang menulis dua kitab ilmu hadis, yakni al-Kifa>yah fi> 'Ilm al-Riwa>yah dan al-Ja>miAo li Awi wa al-Sa>miAo. Selain itu, al-Bagda>di> juga menulis sejumlah kitab dalam berbagai cabang ilmu hadis. Menurut al-H. >fiz Abu> Bakar bin Nuq. ah, ulama hadis kontemporer dari Mesir, ulama yang menulis ilmu hadis setelah al-Bagda>di> pada dasamya berutang budi kepada karya-karya yang ditinggalkannya. Tahap Kematangan dan Kesempurnaan Pembukuan AoUlu>m al-H. di>s\ Tahap ini bermula pada abad VII dan berakhir pada abad X. Pada tahap ini, pembukuan ilmu hadis mencapai tingkat kesempurnaannya dengan ditulisnya sejumlah kitab mencapai tingkat seluruh cabang ilmu hadis. 18 Kitab Aoulu>m al-. adi>s\ yang terkenal pada periode ini adalah 'Ulu>m al-H. di>s\ karya Abu> AoAmr AoUs\ma>n bin al-S. lah atau Ibn S. 642 H/1246 M). Kitab ini mendapat perhatian banyak ulama sehingga banyak pula yang menulis syarah, seperti. Ibnu H. jar al-Asqala>ni> dalam kitabnya al-lf. ah Aoala Nukat Ibn al-S. Imam al-Nawa>wi> dalam kitabnya al-Irsya>d dan al-Taqri>b dan Ibnu Kas\ir . H/1300 M-774 H/1373 M) dalam kitabnya lkhti. ar AoUlu>m al-H. di>s\. Kitab lainnya yang cukup terkenal di antaranya ialah Tadri>b al-Ra>wi> oleh Jala>luddi>n al-Suyu>. i, kitab ini sangat komplet meskipun tidak luput dari hal-hal yang perlu dikritik di sana-sini. Masa Kebekuan dan Kejumudan Masa ini berlangsung dari abad X hingga abad XIV H. pada tahap ini ijtihad dalam masalah ilmu hadis dan penyusunan kitabnya nyaris berhenti total. Tahap ini ditandai dengan lahirnya sejumlah kitab hadis yang ringkas dan praktis. Para penulis Nuruddin AoItr. Manhaj al-Naqd fi> AoUlu>m al-H. di>s\, terj. Mujiyo. AoUlumul Hadis, h. Nuruddin AoItr. Manhaj al-Naqd fi> AoUlu>m al-H. di>s\, terj. Mujiyo. AoUlumul Hadis, h. sibuk dengan kritik-kritik terhadap istilah-istilah yang terdapat dalam kitab yang telah ada tanpa ikut menyelami inti permasalahannya baik melalui penelitian maupun melalui ijtihad. Di antara kitab yang disusun pada tahap ini adalah Tau. al-Afiar oleh Mu. ammad bin Isma>'i>l al-Kahla>ni al-San'a>ni> . 1182 H). 20 dan al-Manz\uma>t al- Baiquniyyah karya AoUmar bin Mu. ammad bin Futu>h al-Baiquni> al-Dimasyqi> . 1080 H). Akan tetapi, telah bangkit pengkaji hadis di wilayah India dengan semangat yang cukup tinggi. Kegiatan tersebut dipelopori oleh al-AoAlla>mah al-Ima>m al-Mu. addis\ Syah Waliyulla>h al-Dahlawi> yang dilanjutkan oleh cucu-cucunya dan murid-muridnya. Mereka memprioritaskan perhatiannya terhadap ilmu hadis dari pada ilmu-ilmu lainnya. Kitab-kitab hadis dan syarahnya yang disebarkan dari India merupakan bukti kesungguhan kebangkitan pengabdian mereka kepada sunah. Pada masa ini, mereka juga memperhatikan mengenai qawa>Aoid al-ta. di>s\. Hal ini dapat dilihat bahwa para ulama tidak pernah mengabaikan pembahasan mengenai sanad dan membedakan hadis yang makbul dan mardud. Masa Kebangkitan Kedua Masa ini bermula pada awal abad XIV H. Pada masa ini, umat Islam terbangkitkan oleh sejumlah kekhawatiran yang setiap saat bisa muncul sabagai akibat persentuhan antara dunia Islam dengan dunia Timur dan Barat, bentrokan militer yang tidak manusiawi dan kolonialisme pemikiran yang lebih jahat dan lebih Maka muncullah informasi yang megaburkan eksistensi hadis yang Nuruddin AoItr. Manhaj al-Naqd fi> AoUlu>m al-H. di>s\, terj. Mujiyo. AoUlumul Hadis, h. mad bin AoUmar bin Sa>lim, al-Muqtarib fi> Baya>n al-Mu. arib, juz. I . ) h. Nuruddin AoItr. Manhaj al-Naqd fi> AoUlu>m al-H. di>s\, terj. Mujiyo. AoUlumul Hadis, h. dilontarkan oleh para orientalis dan diterima begitu saja oleh orang-orang yang mudah terbawa arus lalu mereka turut menyebarkannya dengan penuh keyakinan. Kondisi ini menuntut disusunnya kitab-kitab yang membahas seputar informasi tersebut guna menyanggah kesalahan-kesalahan dan kedustaan mereka. Sejalan dengan itu, kondisi sekarang menuntut pembaharuan sistematika penyusunan kitabkitab Aoulu>m al-. maka para ulama berupaya memenuhi tuntutan ini dengan karya masing-masing. Di antara karya ulama pada masa ini adalah Qawa>'id al-Ta. di>s\ karya Mu. ammad Jama>luddi>n bin Mu. ammad bin Sa'id bin Qa>sim al-Qa>simi> . 3-1332 H). 23 Hingga saat ini, qawa>Aoid al-ta. di>s\ mengalami perkembangan. Khususnya di Indonesia, qawa>Aoid al-ta. di>s\ berkembang yang ditandai dengan berdirinya Perguruan Tinggi Islam yakni IAIN . ekarang UIN) yang salah satu jurusannya adalah Tafsir Hadis dan salah satu mata kuliahnya adalah qawa>Aoid al-ta. di>s\. Sementara itu, terdapat pula karya-karya di bidang hadis diantaranya Kaedah keshahihan Sanad Hadis karya H. Syuhudi Ismail pada tahun 1988 M, dan Kaedah Keshahihan Matan karya Rajab. Penutup Masa pertumbuhan qawa>Aoid al-ta. di>s\ telah muncul cikal-bakalnya pada masa sahabat sampai pada abad pertama hijriah. selanjutnya, tahap penyempurnaan berlangsung dari awal abad kedua hijriah hingga awal abad ketiga hijriah. Tahap pembukuan ilmu hadis secara terpisah berlangsung sejak abad ketiga sampai pertengahan abad keempat hijriah. Kemudian, pertengahan abad keempat dan awal Nuruddin AoItr. Manhaj al-Naqd fi> AoUlu>m al-H. di>s\, terj. Mujiyo. AoUlumul Hadis, h. Ma>hir Ya>si>n. ar Aoilal Hadi>. li Ikhtila>f al-Fuqaha>Ao, juz. Vi . tp: MauqiAo S}aid al-Fawa>Aoid, t. , h. abad ketujuh merupakan tahap penyusunan kitab AoUlu>m al-H. di>s\. setelah itu, pembukuan AoUlu>m al-Hadi>s\ mencapai tingkat kesempurnaannya pada abad ke tujuh dan berakhir pada abad ke sepuluh. Kemudian terjadi masa kebekuan pada abad kesepuluh sampai awal abad keempat belas hijriah dan barulah pada permulaan abad keempat belas terjadi kebangkitan kedua ilmu hadis yang ditandai dengan adanya kitab yang berjudul Qawa>Aoid al-Ta. di>s\ karya Syekh Jama>luddi>n al-Qa>simi>. DAFTAR PUSTAKA