Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 40-48 DOI: https://doi. org/10. 37366/jpgsd. REVIEW ARTICLE E-ISSN: 2809-2910 Iskandar & Indihadi Flipped Classroom dalam Pembelajaran Menulis di Sekolah Dasar: Studi Literatur tentang Penerapan dan Proses Pembelajaran Agnes Yulia Iskandar. Dian Indihadi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia Corresponding author: agnesyuliaiskandar@upi. To cite this article: Iskandar. & Indihadi. Flipped Classroom dalam Pembelajaran Menulis di Sekolah Dasar: Studi Literatur tentang Penerapan dan Proses Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 7. , 40-48. https://doi. org/10. 37366/jpgsd. Informasi Artikel Received : 31-03-2026 Revised : 09-04-2026 Accepted : 15-04-2026 Published : 30-04-2026 Abstrak Keterampilan menulis merupakan proses kognitif kompleks yang menuntut kemampuan mengembangkan ide serta penguasaan kaidah kebahasaan dan kosakata. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan tersebut secara optimal. Salah satu model yang dapat digunakan adalah flipped classroom. Penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang positif, namun masih berfokus pada peningkatan hasil belajar dan belum mengkaji secara komprehensif proses penerapannya dalam pembelajaran menulis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model flipped classroom dalam pembelajaran menulis melalui studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Kajian difokuskan pada konsep penerapan, kelebihan dan kekurangan, serta dampaknya terhadap keterampilan menulis. Hasil menunjukkan bahwa model ini diterapkan dengan memberikan materi awal sebelum pembelajaran di kelas, sehingga waktu tatap muka dapat dioptimalkan untuk praktik menulis, diskusi, serta pendampingan dan umpan balik secara langsung, yang berdampak pada peningkatan pemahaman dan kualitas tulisan siswa. Kata Kunci: Flipped Classroom. Pembelajaran Menulis. Menulis di SD. Model Flipped Classroom pada Abstract Writing skills are a complex cognitive process that requires the ability to develop ideas as well as mastery of linguistic rules and vocabulary. Therefore, an appropriate learning model is needed to optimally improve these skills. One model that can be used is the flipped classroom. Previous research has shown positive results, but it has focused primarily on improving learning outcomes and has not comprehensively examined the process of its implementation in writing instruction. This study aims to analyze the application of the flipped classroom model in writing instruction through a literature review using a descriptive qualitative approach. The study focuses on the concept of implementation, advantages and disadvantages, as well as its impact on writing skills. The results indicate that this model is implemented by providing introductory materials prior to inclass instruction, thereby optimizing face-to-face time for writing practice, discussion, and direct guidance and feedback, which leads to improved understanding and the quality of studentsAo writing. Keywords: Flipped Classroom. Writing Instruction. Writing in Elementary School. The Flipped Classroom Model in Writing. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 40-48 | 40 Flipped Classroom dalam Pembelajaran Menulis di Sekolah DasarA E-ISSN: 2809-2910 PENDAHULUAN Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu pembelajaran wajib pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia. (Erwin, 2. menyebutkan bahwa dalam kurikulum pendidikan nasional yang diatur oleh Pasal 37 ayat 1 dan 2 seluruh jenjang baik tingkat sekolah dasar, sekolah menengah, dan perguruan tinggi mewajibkan pembelajaran bahasa Indonesia untuk diajarkan pada setiap tingkatan pendidikan tersebut. Pada hakikatnya, pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa peserta didik di setiap jenjang pendidikan, yang meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Fatah & Utami, 2. Menurut (Tarigan, 2. keterampilan berbahasa terbagi menjadi 4, yakni: keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Salah satu keterampilan berbahasa yang paling penting adalah keterampilan menulis. Menurut (Dalman, 2. menulis merupakan sarana untuk mengungkapkan pikiran, harapan, dan perasaan melalui rangkaian tanda atau simbol tertulis yang memiliki makna. Sedangkan (Muid et al. , 2. menyebutkan bahwa menulis merupakan sebuah proses kognitif yang melibatkan serangkaian tahapan, sehingga tidak hanya dipahami sebagai kegiatan menuangkan ide secara langsung saja. Menulis dianggap sebagai keterampilan berbahasa yang paling kompleks, karena menurut (Mukhsinah et al. , 2. keterampilan menulis dipandang sebagai keterampilan berbahasa produktif yang menuntut penguasaan berbagai aspek seperti kaidah kebahasaan dan kosakata, kemampuan menyusun, mengorganisasi, dan mengembangkan gagasan secara logis, runtut, padat, dan mudah dipahami. Oleh karena itu, diperlukan strategi atau model pembelajaran yang tepat untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan keterampilan menulis secara optimal. Salah satu model pembelajaran yang relevan dalam pengembangan keterampilan menulis adalah model pembelajaran terbalik atau flipped classroom. Flipped classroom merupakan model pembelajaran yang membalik proses belajar, di mana peserta didik mempelajari materi di luar jam sekolah dan dikelas berfokus pada diskusi dan praktik langsung (Rahayu & Rochmiyati, 2. Secara teoretis, flipped classroom berlandaskan pendekatan pedagogis konstruktivis, dengan menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran, didukung oleh lingkungan belajar yang aktif, serta fasilitas yang disediakan oleh guru (Suhartono et al. , 2. Dengan demikian, model ini mendukung kebutuhan pembelajaran abad ke-21 yang berpusat pada peserta didik dan mendorong keterlibatan aktif dalam proses pembelajarannya. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa flipped classroom memberikan dampak positif terhadap hasil belajar peserta didik. Diantaranya, penelitian oleh (Zeir et al. , 2. dan (Indayani et al. , 2. yang menunjukkan terdapat peningkatan keterampilan peserta didik dalam menulis teks ekspanasi dan teks rekon yang terbukti dengan hasil belajar peserta didik melampaui KKM saat menggunakan model flipped Namun demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada hasil implementasi model flipped classroom dan belum mengkaji secara komprehensif bagaimana penggunaan model flipped classroom pada proses menulis peserta didik. Selain itu, kajian yang secara khusus menganalisis bagaimana Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 40-48 | 41 Flipped Classroom dalam Pembelajaran Menulis di Sekolah DasarA E-ISSN: 2809-2910 model flipped classroom diterapkan dalam keterampilan menulis peserta didik di sekolah dasar melalui pendekatan studi literatur masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji secara sistematis berbagai pelenitian yang relevan mengenai penerapan model flipped classroom dalam pembelajaran menulis di Sekolah Dasar. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep, kelebihan dan kekurangan serta dampak dari penerapan model flipped classroom terhadap keterampilan menulis peserta didik sekolah dasar. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan dapat menjadi referensi bagi guru serta peneliti dalam mengembangkan pembelajaran menulis yang lebih inovatif dan efektif. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi literatur dengan mengumpulkan berbagai informasi penting yang berkaitan sesuai dengan topik. Proses ini dilakukan melalui penelusuran dan penelaahan berbagai sumber seperti buku, artikel, serta bahan lainnya yang relevan dengan topik penelitian (Febrianto & Siroj, 2. Pendekatan yang peneliti gunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif menurut (Sugiyono, 2. merupakan penelitian yang berfokus pada penggambaran kondisi suatu variabel secara apa adanya. Pada penelitian ini, sumber data yang digunakan merupakan sumber data sekunder yang dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dengan cara membaca, mencatat, dan mengkaji informasi dari berbagai referensi. Hal tersebut selaras dengan pandangan (Sugiyono, 2. yang menyatakan bahwa sumber data primer merupakan sumber yang tidak memberikan data secara langsung pada pengumpul data, melainkan melalui orang lain ataupun dokumen. Adapun prosedur pada penelitian ini merujuk pendapat (Agusdianita et al. , 2. yang menyebutkan tahapan dalam literatur review diantaranya: . memilih topik yang akan direview, . mencari dan memilih artikel yang relevan, . melakukan analisis dan sintesis literatur serta . mengorganisasi penulisan review. Pada tahap pemilihan topik, penulis menyesuaikan dengan permasalahan/fenomena yang menarik di lingkup sekolah dasar. kemudian untuk tahap ke dua, pencarian serta pemilihan artikel dilakukan melalui website seperti google schoolar dan Ipusnas. Pada tahap ke tiga yakni analisis dan sintesis data menggunakan model miles and huberman yakni . Reduksi data. dengan memilih jurnal 5-10 terakhir, . Penyajian data, serta . Penarikan kesimpulan dan verifikasi (Sugiyono, 2. Dan pada tahap terakhir yakni mengorganisasi penulisan kedalam bentuk artikel sesuai dengan template jurnal yang dituju. HASIL DAN PEMBAHASAN Model Pembelajaran Flipped Classroom pada Pembelajaran Menulis Model flipped classroom merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan kegiatan belajar di dalam dan di luar kelas untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dengan aktivitas yang umumnya dilakukan di kelas dialihkan ke rumah, sedangkan kegiatan yang biasa dikerjakan di rumah dilakukan di kelas (Sarumaha et al. , 2. Selaras dengan itu, (Purba et al. , 2. menyebutkan bahwa dalam proses Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 40-48 | 42 Flipped Classroom dalam Pembelajaran Menulis di Sekolah DasarA E-ISSN: 2809-2910 pembelajarannya, peserta didik mempelajari materi terlebih dahulu di rumah sebelum kegiatan di kelas berlangsung, dan saat pembelajaran di kelas berlangsung difokuskan pada pengerjaan tugas serta diskusi terkait materi atau hal-hal yang belum dipahami oleh peserta didik di rumah. Selain itu. Johnson dalam (Anggraeni & Khaerunnisa, 2. menyebutkan bahwa model flipped classroom merupakan suatu kegiatan belajar yang lebih menekankan pada pemahaman materi serta interaksi antara guru, peserta didik dan lingkungan belajarnya. Pada pembelajaran menulis (Indayani et al. , 2. menyebutkan bahwa kelas dengan flipped classroom memberikan kesempatan untuk guru untuk memandu secara langsung proses menulis dengan hasil yang lebih bagus, dengan pendampingan dari pra penulisan hingga publikasi daripada pembelajaran dengan kelas konvensional. Maka dapat disimpulkan bahwa, model flipped classroom merupakan kegiatan membalik alur pembelajaran tradisional dengan memfokuskan pada pemahaman serta interaksi dan pendampingan menyeluruh pada pembelajaran di sekolah. Model flipped classroom mulai dikenal luas setelah dipopulerkan oleh Bergman dan Aaron pada tahun 2007 (Jayanti & Rahayuningsih, 2. Namun, konsep ini sebenarnya telah diperkenalkan lebih awal pada tahun 2000 oleh J. Wesley Baker sebagai pelopor model flipped classroom (Kurniawan, 2. Secara umum model pembelajaran flipped classroom menurut (Kurniawan, 2. terdiri atas tiga kegiatan utama, yaitu sebelum pembelajaran dimulai . re-clas. dimana peserta didik mempelajari terlebih dahulu materi yang akan dibahas di kelas, kemudian saat pembelajaran berlangsung . n-clas. peserta didik dapat mengaplikasikan da menganalisis materi melalui kegiatan yang interaktif dalam ruang kelas, dan setelah pembelajaran berakhir . ut of clas. peserta didik melakukan evaluasi dan mengerjakan tugas berbasis project sebagai kegiatan setelah kelas berakhir. Menurut steele dalam (Vitalocca, 2. model flipped classroom memiliki beberapa tipe, salah satunya adalah traditional flipped classroom dan peer instruction flipped. Menurut steele dalam (Vitalocca, 2. model flipped classroom memiliki beberapa tipe, salah satunya adalah traditional flipped classroom dan peer instruction flipped. Hasil dari studi litertur ditemukan 3 penelitian yang menjelaskan bagaimana pembelajaran menulis dilakukan dengan menggunakan model flipped classroom pada jenjang sekolah dasar. Pada kegiatan pra kelas (Rahayu & Rochmiyati, 2. serta (Primasari et al. , 2. menyebutkan bahwa pendidik memberikan materi tentang konsep menulis teks yang dikirim melalui whatsapp grup baik berupa dokumen, materi yang disajikan dengan bantuan google slide maupun berupa link youtube agar mudah diakses oleh peserta didik. Selain itu, (Kholifah et al. , 2. menyebutkan 93,758% peserta didik memberikan respon positif terkait penggunaan model flipped classroom. Salah satu aspek yang ditanyakan adalah terkait antusiasme belajar di rumah serta peserta didik merasa terbantu dalam memahami cara membuat teks deskripsi yang mendapat pernyataan 100% ya dari peserta didik di kelas tersebut, sehingga memberikan kesiapan peserta didik dalam memahami materi sebelum belajar dikelas. Kesiapan belajar memiliki hubungan yang sangat erat dengan hasil belajar peserta didik, sebagaimana ditunjukkan dalam ketiga penelitian yang telah dipaparkan, di mana nilai peserta didik mengalami peningkatan hingga melampaui KKM. Hal ini menunjukkan bahwa ketika peserta didik berada dalam Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 40-48 | 43 Flipped Classroom dalam Pembelajaran Menulis di Sekolah DasarA E-ISSN: 2809-2910 kondisi siap, baik dari segi pemahaman awal, kesiapan mental, maupun keterlibatan dalam pembelajaran, maka proses belajar dapat berlangsung lebih efektif dan memberikan hasil yang optimal. Temuan tersebut selaras dengan teori behaviorisme yang dikemukakan oleh Edward Thorndike melalui konsep Law of Readiness, yang menjelaskan bahwa belajar akan berjalan lebih efektif apabila individu berada dalam kondisi siap untuk bertindak. Sebaliknya, jika pembelajaran dilakukan tanpa kesiapan yang memadai, maka hasil yang diperoleh cenderung kurang optimal (Silangen et al. , 2. Dengan demikian, kesiapan belajar menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dalam mencapai keberhasilan pembelajaran. Pada saat proses pembelajaran di kelas, peserta didik menjawab pertanyaan terkait materi yang telah disajikan di rumah kemudian melakukan diskusi kelas yang dipandu secara langsung oleh pendidik (Kholifah et al. , 2. Bedanya dengan (Rahayu & Rochmiyati, 2. , setelah diskusi kelas berlangsung peserta didik mengerjakan soal tahap kedua untuk mengetahui sejauh mana pemahaman terhadap konsep. Sedangkan penelitian oleh (Primasari et al. , 2. pembelajaran di kelas lebih di fokuskan pada latihan menulis dengan melalui tahap pra menulis dan penulisan yang dibimbing secara langsung oleh pendidik. Setiap kesulitan yang muncul segera direspons melalui pendampingan langsung dengan fokus pada kendala yang dihadapi peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa pendampingan intensif dari guru berperan penting dalam membantu peserta didik menjalani proses pembelajaran secara lebih efektif sehingga dapat menghasilkan hasil belajar yang optimal pada pembelajaran. Temuan tersebut memperkuat pendapat (Nisa et al. , 2. yang menyebutkan bahwa kesulitan dalam pembelajaran, khususnya menulis, salah satunya dipengaruhi oleh kurangnya pendampingan dan dukungan dari keluarga maupun guru, serta terbatasnya penguasaan pengetahuan yang dimiliki. Maka dari itu, pendampingan perlu dilakukan secara intensif agar hasil belajar peserta didik dapat berjalan optimal, sebagaimana ketiga hasil pembelajaran yang menggunakan model flipped classroom. Selain itu, pembelajaran dikelas pada pembelajaran dengan flipped classroom berorientasi pada peserta didik, yang dimana mendukung kebutuhan abad ke-21. Hal ini sejalan dengan urgensi transformasi pembelajaran menuju model yang lebih inovatif, yang mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, literasi digital, serta kesiapan menghadapi dinamika sosial (Pengestu et al. , 2. Adapun hasil pembelajaran yang ditemui, ketiga penlitian tersebut menyatakan hasil dari pembelajaran dengan menggunakan model flipped classroom terbukti sama yakni terdapat peningkatan hasil belajar dengan ditandai oleh nilai peserta didik yang melampaui KKM. Berdasarkan hasil analisis, perbedaan yang ditemukan dari ketiga penelitian tersebut, terletak pada tipe model flipped classroom yang digunakan di kelas. (Kholifah et al. , 2. dan (Primasari et al. , 2. menggunakan tipe traditional flipped classroom. Menurut Steele dalam (Kinteki, 2. Traditional flipped classroom merupakan model paling sederhana dengan langkah-langkah: . Peserta didik menonton video pembelajaran di rumah, . Saat di kelas melakukan kegiatan serta mengerjakan tugas yang berkaitan, . menerapkan kemampuan peserta didik dalam proyek dan simulasi lain, . Mengukur pemahaman peserta didik pada akhir bab. Sedangkan, (Rahayu & Rochmiyati, 2. berdasarkan hasil analisis terdapat dua kali Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 40-48 | 44 Flipped Classroom dalam Pembelajaran Menulis di Sekolah DasarA E-ISSN: 2809-2910 pengerjaan soal sehingga diidentifikasi menggunakan tipe peer instruction flipped. Adapun langkah-langkah dari peer instruction flipped diantaranya: . Peserta didik mempelajari vide yang dibagikan, . mengerjakan sejumlah soal . mengenai konsep materi, . Peserta didik bertanya materi yang belum dipahami dari soal yang dikerjakan, . Peserta didik diarahkan untuk menyelesaikan persoalan tertentu secara berkelompok, . Peserta didik mengerjakan soal . sesuai materi yang dipelajari, . Peserta didik membuat kesimpulan bersama-sama. Berdasarkan berbagai tipe model pembelajaran beserta tahapan yang telah dipaparkan, guru maupun peneliti perlu mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, karakteristik peserta didik, serta kesiapan dalam menerapkannya di kelas. Kesiapan tersebut menjadi faktor penting agar pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Oleh karena itu, pembelajaran menulis sebaiknya diawali dengan membangun kesiapan awal peserta didik, khususnya dalam memahami konsep dasar materi. Selanjutnya, kegiatan pembelajaran di kelas dapat difokuskan pada praktik menulis serta diskusi terstruktur untuk memperdalam pemahaman terkait menulis, mulai dari pengertian, struktur, hingga penerapannya dalam berbagai contoh teks. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pada keterampilan yang dapat dikembangkan secara optimal. Kelebihan dan Kekurangan Penerapan Model Flipped Classroom Setelah memahami konsep model pembelajaran flipped classroom, meskipun terdapat beberapa tipe dalam model pembelajaran yang telah dipaparkan, pada dasarnya setiap tipe memiliki karakteristik yang serupa karena berada dalam satu kerangka model yang sama. Oleh karena itu, kelebihan dan kekurangan yang akan dibahas mengacu pada model pembelajaran tersebut secara umum. Adapun untuk kelebihan dari model pembelajaran flipped classroom diantaranya: memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari materi secara mandiri sebelum pembelajaran di kelas, . menyesuaikan proses belajar dengan kemampuan masing-masing, . memungkinkan guru memberikan perhatian lebih saat peserta didik mengalami kesulitan. Peserta didik dapat belajar melalui berbagai sumber seperti video, buku, dan website, . memungkinkan pengulangan materi, . memberikan fleksibilitas akses belajar kapan saja dan di mana saja (Sutrisna et al. , 2. Disamping kelebihan yang telah dipaparkan, model pembelajaran flipped classroom juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu menjadi perhatian dalam penerapannya yakni: Peserta didik memerlukan perangkat yang memadai untuk mengakses pembelajaran secara online, . Diperlukan koneksi internet yang baik dengan kuota dan jaringan yang stabil. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar 7 . April 2026: 40-48 | 45 Flipped Classroom dalam Pembelajaran Menulis di Sekolah DasarA E-ISSN: 2809-2910 Penerapan flipped classroom bergantung pada ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai pada peserta didik (Rahayu & Rochmiyati, 2. Selain itu, model flipped classroom memberikan berbagai manfaat dalam proses pembelajaran. Pertama, model ini memungkinkan peserta didik untuk mengulang dan menguasai materi melalui sumber belajar digital, seperti modul dan video, yang dapat diakses secara mandiri kapan saja. Kedua, peserta didik memiliki kesempatan untuk mempelajari konsep yang kompleks secara mandiri di luar kelas sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada penjelasan guru saat pembelajaran tatap muka. Ketiga, penyajian materi yang didukung media visual dan interaktif membantu peserta didik dalam memahami materi yang bersifat abstrak atau sulit. Keempat, model ini mendorong peningkatan keterlibatan peserta didik dalam diskusi serta aktivitas kolaboratif di kelas. Kelima, aktivitas interaktif tersebut turut mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dan memungkinkan mereka membandingkan serta memperdalam pemahaman bersama guru dan teman sebaya (Pengestu et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kajian literatur, dapat disimpulkan bahwa penerapan model flipped classroom dalam pembelajaran menulis di Sekolah Dasar tidak hanya berdampak pada peningkatan hasil belajar, tetapi juga memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai proses pembelajaran yang berlangsung. Model ini diterapkan melalui pemberian materi awal kepada siswa sebelum pembelajaran di kelas, sehingga kegiatan di kelas dapat difokuskan pada praktik menulis, diskusi, serta pemberian pendampingan dan umpan balik secara langsung. Temuan ini menunjukkan bahwa flipped classroom mampu menciptakan pembelajaran yang lebih aktif dan berpusat pada siswa, di mana siswa memiliki kesempatan untuk memperdalam pemahaman dan implementadi menulis dengan pendampingan dan interaksi yang lebih intensif di dalam kelas. Selain itu, penerapan model ini juga memperlihatkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh bagaimana proses belajar dirancang dan dilaksanakan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dengan menegaskan bahwa kajian terhadap flipped classroom dalam pembelajaran menulis perlu tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil, tetapi juga pada analisis proses penerapannya. Hal ini sekaligus memperkuat pentingnya pendekatan pembelajaran yang mendukung keterlibatan aktif siswa serta sejalan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21. DAFTAR PUSTAKA