Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kemandirian Mencuci Tangan Anak Berkebutuhan Khusus Di Kecamatan Pandeglang Gea Esika Mahargyani1. Toni Yudha Pratama2 & Sistriadini Alamsyah Sidik3 1,2,3 Program Studi Pendidikan Khusus. Universitas Sultan Agung Tirtayasa. Indonesia Email : geaesika00@gmail. com1, toniyudha@untirta. id2, sistriandinialamsyah@untirta. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-10-06 Revised : 2025-11-11 Accepted : 2025-11-15 KEYWORDS Parenting. Independence. Children with Special Needs. Tunagrahita. Tunadaksa. Autism KATA KUNCI Pola Asuh. Kemandirian. Anak Berkebutuhan Khusus. Tunagrahita. Tunadaksa. Autis ABSTRAC Parents are the lifeblood of a family who provide good things in educating children, including children with special needs. This study aims to describe the parenting patterns of parents in shaping the independence of children with special needs in Pandeglang District, especially children with conditions of tunagrahita, tunadaksa, and autism. Children with special needs often face obstacles in social development and independent abilities, so the parenting patterns applied by parents have a very crucial role. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through in-depth interviews, observation, documentation and participatory field notes to a number of parents who have children with special The results showed that there were variations in the parenting patterns used, ranging from authoritarian, permissive, to democratic parenting. The parenting patterns applied by each parent to the independence of hand washing activities for children with special needs in Pandeglang District, namely parents L and F apply a combination of authoritarian, democratic and permissive parenting patterns. This democratic parenting is applied by parents A. RB. L and F. The six parents apply democratic parenting, namely a clear boundary and an expectation in monitoring children's behavior. Parents always use reasons and rules as achievements or give warnings related to children's behavior. The application of parenting patterns with good and positive children makes effective application, both for the development of children's independence and vice versa. ABSTRAK Orang tua adalah pelengkap hidup di dalam suatu keluarga yang memberikan hal-hal baik dalam mendidik anak termasuk anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola asuh orang tua dalam membentuk kemandirian anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Pandeglang, khususnya anak dengan kondisi tunagrahita, tunadaksa, dan autisme. Anak berkebutuhan khusus seringkali menghadapi hambatan dalam perkembangan sosial dan kemampuan mandiri, sehingga pola asuh yang diterapkan oleh orang tua memiliki peran yang sangat krusial. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi serta catatan lapangan partisipatif terhadap sejumlah orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat variasi pola asuh yang digunakan, mulai dari pola asuh otoriter, permisif, hingga demokratis. Pola asuh yang diterapkan masing-masing orang tua terhadap kegiatan kemandirian mencuci tangan anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Pandeglang yakni orang tua L dan F menerapkan pola asuh kombinasi antara otoriter, demokratis dan Pola asuh demokratis ini diterapkan oleh orang tua A. RB. L dan F keenam orang tua menerapkan pola asuh demokratis yaitu sebuah batasan dan sebuah harapan yang jelas dalam memantau perilaku anak. Orang tua selalu menggunakan 47 | JPI. Vol. No. November 2025 alasan dan aturan sebagai pencapaian atau memberikan peringatan yang berhubungan dengan perilaku anak. Penerapan pola asuh dengan pembawaan yang baik dan positif anak menjadikan penerapan yang efektif, baik terhadap perkembangan kemandirian anak begitupun sebaliknya. Pendahuluan Orang tua adalah pelengkap hidup di dalam suatu keluarga yang memberikan hal-hal baik dalam mendidik anak, tentunya dengan kasih sayang dan perhatian yang cukup. Karena orang tua sangat berpengaruh bagi pertumbuhan anak nantinya, orang tua juga harus memberikan contoh yang baik kepada anak agar anak mampu mengikuti hal-hal yang seharusnya mereka tiru atau terapkan kedalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang tua ingin memiliki anak yang sehat, anak yang sehat dapat bertumbuh kembang dengan baik sesuai bertambahnya usia. Namun pada kenyataan tidak semua anak memiliki pertumbuhan yang baik dan tumbuh secara normal seperti anak pada umumnya. Dengan pertumbuhan yang tidak optimal contohnya anak berkebutuhan khusus. Menurut Nani . mengemukakan bahwa Ayanak luar biasa adalah anak yang dianggap berbeda atau menyimpang dari anak pada umumnya diantaranya adalah anak luar biasa atau potensi nya tinggi, penyandang cacat, memiliki kelainan, yang saat ini dikenal dengan istilah anak berkebutuhan khususAy. Menurut Hurlock dan Soetjiningsih (Widadi dkk 2. berpendapat bahwa Audalam perkembangan kemampuan anak berkebutuhan khusus faktor lingkungan menjadi aspek yang sangat berpengaruh, termasuk bagaimana orang tua memperlakukan anak di rumah atau biasa disebut pola asuhAy. Pola asuh merupakan sebuah tanggung jawab orang tua dalam mendisiplinkan anak serta menjaga, mendidik, melindungi dan memberikan hal-hal yang baik serta positif terhadap kehidupan anak dari kecil hingga Menurut Hurlock (Widadi dkk 2. berpendapat bahwasanya AuPola asuh sangat diberlakukan didalam lingkungan keluarga, usia orang tua, jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap pola asuh orang tuaAy. Pola asuh yang positif akan mempengaruhi hal yang positif begitupun sebaliknya jika orang tua menerapkan pola asuh yang negatif akan mempengaruhi perkembangan anak dimasa yang akan datang. Berdasarkan pendapat tersebut pola asuh sangat berpengaruh dalam lingkungan keluarga, jenis kelamin anak juga berpengaruh dalam pola asuh orang tua dengan Menurut Dayaningsih . berpendapat Aupola asuh erat kaitannya dengan kemandirian anak dalam melakukan aktifitas sehari-hari atau activity daily living, activity daily living sangat berkesinambungan dengan kegiatan bina diriAy. Bina diri merupakan salah satu usaha untuk membangun individu yang lebih baik dilingkungan keluarga, masyarakat dan sosial, melalui pendidikan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Sehingga mewujudkan kemandirian terhadap bina dirinya. Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa bina diri merupakan langkah awal seseorang untuk memulai kegiatan kemandirian karena aktifitasnya bermula dari kebutuhan diri sendiri. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk melatih kemandirian dikehidupan sehari-hari. Agar anak mampu mengembangkan kemandirian dengan baik seperti harapan orang tua dan meminimalisir kebutuhan anak akan bantuan orang lain. Selain itu, anak dapat dengan mudah melakukan kegiatan yang ia inginkan tanpa mengharapkan bantuan orang lain. Menurut Rahmawati . mengemukakan dalam jurnal Peran keluarga dalam pengasuhan Aukeluarga ialah yang berperan penting dalam melakukan pola asuh anak, sebab anak akan dibimbing dengan keluargaAy. Orangtua adalah gambaran yang akan di diperlihatkan dan dicontoh dengan anak didalam keluarga, pola asuh anak ialah salah satu kewajiban yang harus dilakukan orang tua. Apabila orang tua bisa memberikan pendidikan dan contoh yang baik untuk anak, maka akan berdampak baik untuk anak tersebut dalam berbagai Salah satunya, baik yang bisa diberikan orang tua yaitu mengenai pembelajaran kemandirian didalam kehidupan sehari-hari untuk anak. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu melakukan kemandirian secara baik dan mandiri. Pola asuh orang tua memiliki perbedaan antara satu sama lain, peneliti menemukan suatu permasalahan yang dialami orang tua ketika menerapkan pola asuh kepada anak, khususnya anak yang memiliki hambatan antara lain ialah anak tunagrahita, tunadaksa dan autis. Berdasarkan hasil observasi penelitian kepada ke enam orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Kecamatan pandeglang, yang berlokasi di Kp. Kadungaleng. Kp. Bangun Masjid. Kp. Pasir Puri. Kp. Karang Winaya. Kp. Pasir Pelang. Kp. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 48 Nyoreang, diantaranya orang tua yang memiliki anak dengan hambatan tunagrahita, tunadaksa dan Pola asuh orang tua memiliki perbedaan antara satu sama lain, peneliti menemukan suatu permasalahan yang dialami orang tua ketika menerapkan pola asuh kepada anak, khususnya anak yang memiliki hambatan antara lain ialah anak tunagrahita, tunadaksa dan autis. Pada permasalahan ini peneliti menemukan pola asuh orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, dalam melakukan pola asuh orang tua ketika menerapkan kemandirian. Diantaranya yaitu mengajarkan kepada anak tentang kebersihan diri mencuci tangan. Dari ke 6 orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, adanya suatu perbedaan dalam pola asuh kemandirian. Namun ketika di lapangan pola asuh yang diterapkan pada anak yaitu dominan menggunakan pola asuh demokratis. Oleh karena itu, peneliti memutuskan untuk mengangkat penelitian berjudul AuPola Asuh Orang Tua Terhadap Kemandirian Mencuci Tangan Anak Berkebutuhan Khusus di kecamatan Pandeglang dengan (Studi Deskriptif Pola Asuh Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tunagrahita, tunadaksa, autis di Kecamatan Pandeglan. Peneliti melakukan penelitian kepada ke enam orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Tinjauan Literatur Menurut Gunarso . bahwa Aupola asuh orang tua tidak lain merupakan metode untuk mendidik anak-anak dengan memperlakukan anak dengan baikAy. Pola asuh orang tua sangat mempengaruhi perkembangan kemandirian anak terutama anak berkebutuhan khusus, pola asuh orang tua juga merupakan peran penting dalam berinteraksi serta membentuk tumbuh kembang anak di dalam kehidupan sehari-hari, serta memberikan pendidikan dan kasih sayang yang cukup. Sedangkan menurut Hidayah . Aupola asuh yang baik dan sikap positif di lingkungan masyarakat akan menimbulkan sikap positif bagi anak dalam menilai diri sendiriAy. Karena anak menilai dirinya berdasarkan apa yang orang lain lihat dan orang lain katakan di lingkungannya, jika lingkungan masyarakat yang mendukung dan menerima atau memberikan sikap positif maka anak akan mengikuti bagaimana kehidupan didalam keluarga dan lingkungan sekitar. Abadi dkk . menyebutkan bahwa AyOrang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus perlu memiliki pemahaman yang tepat dalam menerapkan pola asuh yang sesuai dengan karakteristik dan kondisi anakAy. Pola pengasuhan anak berkebutuhan khusus tidak dapat disamakan dengan anak pada umumnya, karena mereka memiliki keterbatasan dalam kemampuan tertentu. Menurut pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua sangat berperan penting bagi kehidupan anak, karena pola asuh orang tua dapat menumbuhkan sikap dan prilaku serta kemandirian yang baik didalam kehidupan seharihari. Pola asuh orang tua dapat membentuk tingkat kemandirian anak yang baik dan efektif. Pola asuh orang tua dapat menumbuhkan suatu karakter yang mendorong kemandirian anak agar anak melakukan setiap kegiatan aktivitas secara mandiri dengan baik. Menurut KBBI, kemandirian merupakan suatu keadaan individu yang mampu melakukan kegiatan sendiri secara mandiri tanpa bergantung pada orang Desmita . mengemukakan Aukemandirian secara bebas dalam melakukan kegiatan dan mengontrol tindakan maupun pikiran, serta berupaya untuk mengatasi emosi dan keraguan yang ada pada diriAy. Drajat Mengemukakan Aukemandirian merupakan individu dalam bertindak sesuai dengan keinginan tanpa adanya campur tangan orang lain, bisa mengontrol tindakan yang sesuai dengan kemampuan tanpa harus melibatkan orang lain dan memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiriAy. Menurut Abadi dkk . mengemukakan bahwa keterampilan untuk merawat dan memenuhi kebutuhan pribadi dalam kehidupan sehari-hari merupakan kemampuan penting agar seseorang dapat hidup mandiri tanpa bergantung pada orang Menurut pendapat di atas maka kemandirian dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam melakukan dan menjalani kegiatan tanpa melibatkan orang lain. Ketika anak dapat mengambil sebuah keputusan dengan caranya sendiri, maka saat itu kemandirian anak dapat dilihat. Hal kecil yang sederhana pada anak dapat dilihat dari cara anak melakukan kegiatannya sendiri, dan bertanggung jawab dengan konsekuensi yang dilakukan. Menurut Nani . dalam buku Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Auanak berkebutuhan khusus sering dianggap anak yang berbeda dengan anak pada umumnya, didalam kehidupan masyarakat anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang di sebut sebagai anak yang cacatAy. Kata cacat merupakan sebutan untuk anak yang memiliki hambatan atau kekurangan dari anak pada umum nya, seperti sebutan untuk anak tunanetra, tunarungu, tunalaras, tunagrahita, dan tunadaksa. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 49 | JPI. Vol. No. November 2025 Maka anak berkebutuhan khusus di sebut sebagai anak disabilitas. Menurut Agus dalam sukmadi dkk . menjelaskan bahwa permasalahan yang dialami oleh anak berkebutuhan khusus umumnya terbagi menjadi dua kategori, yaitu permasalahan internal dan external. Permasalahan internal mencakup gangguan atau keterbatasan fungsi organ serta kondisi fisik maupun mental akibat adanya kelainan atau di fungsi organ. Berdasarkan pendapat para ahli di atas anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memiliki suatu hambatan dalam perkembangan intelektual, fisik maupun motoriknya yang mengakibatkan terjadinya hambatan didalam Anak berkebutuhan khusus juga sering disebut dengan istilah anak cacat yang membedakan dengan anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki kelainan atau hambatan perkembangan yang di alami oleh anak, sehingga erat kaitan nya dengan disability yang memiliki keterbatasan baik fisik, psikologis maupun kognitif. Anak tunagrahita merupakan anak dengan hambatan intelektual yang memiliki lambannya perkembangan mental-intelektual yang dibawah rata-rata dari anak pada umum nya. Sehingga seringkali mengalami berbagai kesulitan dalam menyelesaikan kegiatannya. Menurut Moh. Amin (Rochyadi 2012:6. mengemukakan bahwa Auanak tunagrahita yaitu anak yang memiliki hambatan pada intelektual, seringkali dengan sebutan kecerdasan yang di bawah rata-rataAy. Dalam bahasa Indonesia bisa disebut lemah otak, lemah ingatan, lemah pikiran dan cacat grahita. Berdasarkan pendapat di atas mengemukaan bahwa, anak dengan hambatan intelektual anak yang memiliki masalah yang berkaitan dengan intelektual dan di sertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa Menurut Muslim dan Sugirman (Nurhastuti 2019:. mengemukaan bahwa anak tunadaksa adalah anak yang memiliki kelainan fisik atau cacat fisik, tunadaksa dapat mengakibatkan kelainan fungsi dari tubuh sehingga adanya hambatan gerak yang dibutuhkan. Pada jenis anak tunadaksa juga ada disertai kelainan pasca indra dan kecerdasan. Menurut Efendi (Nurhastuti 2. bahwa Auanak tunadaksa merupakan seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengoptimalkan fungsi anggota tubuh yang disebabkan oleh penyakit dan pertumbuhan yang salah dalam bentuk, akibatkan kemampuan untuk gerakan tubuh tertentu mengakibatkan penurunanAy. Berdasarkan pendapat diatas peneliti menyimpulkan bahwa anak tunadaksa adalah anak yang memilik hambatan fisik dan motorik, yang menyebabkan terjadinya kendala dalam melakukan gerakan-gerakan aktivitas nya sehingga anak mengalami kesulitan. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif pendekatan kualitatif. Sudjana dan Ibrahim . mengemukakan bahwa Aumetode deskriptif yaitu metode yang dipergunakan bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan kejadian atau peristiwa yang ada pada masa sekarangAy. Menurut Sugiono . pengertian kualitatif merupakan Aupenelitian yang berdasarkan pada filsafat postposivisme, digunakan pada suatu kondisi yang alamiah . ebagai lawannya eksperime. yang dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi . , menganalisa data yang bersifat induktif/kualitatifAy. Dan hasil dari penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada Moleong . mengemukakan bahwa Aupenelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa tertulis maupun lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati, pengenalan bertujuan pada latar individu tersebut secara holistic . Ay. Metode penelitian kualitatif deskriptif yang digunakan pada penelitian ini yaitu untuk mendapatkan informasi dengan mendeskripsikan tentang pola asuh orangtua terhadap perkembangan kemandirian di kecamatan Pandeglang. Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelituan ini yaitu Observasi, wawancara dan Adapun teknik analisis data pada penelitian ini yaitu Reduksi data. Penyajian data . ata displa. Menarik kesimpulan atau verifikasi . onclusion drawing/verificatio. Hasil Kondisi umum subjek yang dijadikan informan utama pada penelitian ini terdiri dari 6 . orang tua yang memiliki anak dengan hambatan Tunagrahita. Tunadaksa dan autis. Dalam hal ini menjelaskan mengenai berbagai kondisi/keadaan yang dialami oleh orangtua meliputi tempat tinggal orang tua, kondisi ekonomi orang tua, serta kondisi orang tua pada saat mendampingi anak dalam Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 50 melakukan proses kegiatan kemandirian mencuci Hal ini dibuat guna memberikan informasi dan penjelasan mengenai gambaran di sekitar objek Penelitian ini terdiri dari 6 orang tua yang memiliki anak tunagrahita, tunagrahita, autis di kecamatan Pandeglang sebagai informan dalam mendapatkan data pola asuh orang tua pada kemandirian mencuci tangan anak berkebutuhan khusus di rumah. Orang tua tersebut adalah B (Orang tua A). MM (Orang tua D). DH (Orang tua R). UY (Orang tua RB). S (Orang tua L). A (Orang tua F). Berikut merupakan data anak berkebutuhan khusus dengan hambatan . unagrahita, tunadaksa, auti. di Kecamatan Pandeglang dari 6 orang tua . nforman penelitia. yaitu A . nak dari informan B). D . nak dari informan MM). R . nak dari informan DH. RB . nak dari informan UY). L . nak dari informan S). F . nak dari informan A). Pola Asuh Orang Tua yang Diterapkan saat Kemandirian Mencuci Tangan Pada Anak Berkebutuhan Khusus di Kecamatan Pandeglang . Reduksi Data Terdapat berbagai macam bentuk pola asuh yakni pola asuh otoriter, demokratis, permisif. Sesuai dengan hasil data yang ditemukan, adapun pola asuh yang di terapkan oleh orang tua F yakni gabungan dari pola asuh otoriter, demokratis. Informan S memberikan hukuman terhadap anak apabila anak tidak patuh sesuai dengan keinginan orang tua dengan cara dimarahi. Sejalan dengan informan S, informan A mengatakan dia akan memarahi anaknya jika anak tersebut susah sekali diberitahu. Sebaliknya, untuk informan B, informan MM, informan DH dan informan UY tidak menerapkan pola asuh otoriter dengan alasan kondisi anak yang memiliki hambatan. Dalam membiasakan kemandirian anak informan B tidak mewajibkan untuk anak dapat melakukan kemandirian. Namun untuk informan UY, informan S dan informan A dalam membiasakan kemandirian anak adanya kewajiban terhadap kemandirian anak tersebut. Semua informan mengambil peran dalam membantu aktivitas kemandirian anak supaya anak mampu melakukan aktifitasnya sendiri tanpa bantuan orang Dalam keseharian informan A . bu dari F) dan informan MM . bu dari D) terkadang memaklumi anak jika anak melakukan kesalahan asalkan yang tidak berlebihan. Selanjutnya penerapan pola asuh permisif pada kemandirian anak informan DH . bu dari R) dan informan S . bu dari L) mengatakan bahwa anak harus selalu di ingatkan ketika melakukan kegiatan kemandirian seperti mandi dan mencuci tangan. Display Data Sesuai dengan hasil penemuan dari observasi, wawancara, sera dokumentasi diketahui bahwa pola asuh terhadap kemandirian A dan L selalu memberikan hukuman terhadap anak apabila anak tidak patuh sesuai dengan keinginan orang tua dengan cara dimarahi. Sejalan dengan informan S . bu dari L), informan A . bu dari F) mengatakan dia akan memarahi anaknya jika anak tersebut susah sekali diberitahu. Pola asuh yang diterapkan kepada A oleh informan B . yah dari A) Dalam membiasakan kemandirian anak informan B tidak mewajibkan untuk anak dapat melakukan kemandirian sesuai dengan pernyataan wawancara terhadap informan B. Meskipun demikian, orang tua selalu membiasakan untuk melakukan kegiatan kemandirian. Penerapan pola asuh permisif pada kemandirian anak informan DH . bu dari R) dan informan S . bu dari L) mengatakan bahwa anak harus selalu di ingatkan ketika melakukan kegiatan kemandirian seperti mandi dan mencuci tangan. Sesuai dengan pernyataan tersebut hasil wawancara dari informan DH . bu dari R). Kedua orang tua memiliki persamaan dalam melakukan kemandirian harus selalu memberikan peringatan kepada anak. Penarikan Kesimpulan Sesuai dengan hasil observasi serta wawancara terhadap 6 orang tua anak autis, tunadaksa, tunagrahita diketahui bahwasannya pola pengasuhan yang diimplementasikan pada kemandirian dan disiplin anak menyesuaikan dengan tingkat pengetahuan orang tua dalam mendidik anak. Orang tua F dan S menerapkan pola asuh yang cenderung pada pola asuh otoriter. Orang tua B mengimplementasikan pola asuh demokratis, begitupun dengan orang tua RB, informan L dan informan F dalam membiasakan kemandirian anak adanya kewajiban terhadap kemandirian anak Permasalahan Kemampuan Kemandirian Mencuci Tangan Orang Tua Pada Anak Berkebutuhan Khusus . Reduksi Data Berdasarkan data yang diperoleh, kemampuan fisik anak menunjukan bahwa A. RB. L, dan F mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan A dan RB sudah mampu melakukan kegiatan aktivitas mencuci tangan secara mandiri walaupun masih dengan bantuan orang tua. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 51 | JPI. Vol. No. November 2025 Dalam permasalahan yang terjadi pada orang tua selama mengajarkan aktivitas kemandirian mencuci tangan, kedua dan enak orang tua tidak mengalami kesulitan saat memberikan pemahaman serta mengajarkan mencuci tangan kepada anak. Display Data Berdasarkan data hasil temuan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi pada permasalahan yang terjadi saat pembelajaran kemandirian mencuci tangan baik pihak orang tua maupun anak, sebagian orang tua mengalami kesulitan namun sebagian lainnya tidak mengalami kesulitan dalam memberikan pemahaman terkait kemandirian mencuci tangan. Kedua orang tua tidak mengalami kesulitan dalam memberikan pemahaman dan pengetahuan pada kemandirian mencuci tangan kepada anak, orang tua tidak mengalami kesulitan. Kedua orang tua juga selalu meluangkan waktu untuk bisa mengajari anak mengenai kemandirian mencuci tangan. Keempat orang tua mengalami sedikit kesulitan dalam saat memberikan pengetahuan tentang mencuci tangan mandiri. Keempat orang tua mengalami kesulitan karena adanya beberapa faktor yang menjadi hambatan dalam menerapkan pengetahuan tentang mencuci tangan. Namun dengan demikian orang tua tetap mau memberikan pengetahuan tentang mencuci tangan kepada . Penarikan Kesimpulan Sesuai dengan hasil observasi serta wawancara terhadap keenam orang tua anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Pandeglang, di ketahui bahwasanya sebagian anak mengalami kesulitan dan sebagian anak tidak mengalami kesulitan saat melakukan kegiatan kemandirian mencuci tangan. Orang tua D tidak merasa kesulitan dalam memberikan pemahaman tentang kemandirian mencuci tangan kepada anak, begitupun orang tua F selalu mengusahakan memberikan pengetahuan tentang mencuci tangan secara mandiri kepada anak. Namun lain halnya dengan keempat orang yang memiliki kendala atau kesulitan ketika memberikan pemahaman dan pengetahuan terkait kemandirian mencuci tangan. Pembiasaan Pola Asuh Pada Kemandirian Mencuci Tangan Pada Anak Berkebutuhan Khusus . Reduksi Data Berdasarkan data yang di peroleh selama pembelajaran kemandirian mencuci tangan, keenam anak merasa senang, . Display Data Berdasarkan data yang diperoleh, anak merasa senang ketika melakukan kegiatan kemandirian mencuci tangan menunjukan bahwa A. D dan RB memiliki kesenangan ketika melalukan kegiatan kemandirian mencuci tangan yang telah di berikan pemahaman oleh orang tua. Tiga dari enam anak menunjukan keberanian untuk pergi ke kamar mandi sendiri untuk melakukan kegiatan kemandirian mencuci tangan. Sehingga anak tidak merasa takut untuk pergi mencuci tangan dengan mandiri. Pola asuh ini yang dapat menumbuhkan motivasi bagi anak untuk belajar mandiri. Penarikan Kesimpulan Berdasarkan observasi wawancara terhadap 6 orang tua anak berkebutuhan khusus . utis, tunadaksa, tunagrahit. di Kecamatan Pandeglang bahwasanya keenam anak merasa senang ketika melakukan kegiatan mencuci tangan. disimpulkan bahwasanya pola asuh yang diterapkan orangtua pada pembelajaran kemandirian mencuci tangan kepada anak dapat menumbuhkan dampak kemandirian anak saat anak ingin mencuci tangan. Ketiga anak menunjukan keinginan besar untuk pembelajaran kegiatan kemandirian mencuci tangan sehingga mereka tidak merasa takut untuk pergi mencuci tangan secara mandiri. Kemudian RB. L dan F memiliki rasa berani dan tidak takut untuk melakukan kegiatan mencuci tangan secara mandiri. Berdasarkan hasil observasi pola asuh orang tua yang ditemukan ketika di lapangan pada kegiatan kemandirian mencuci tangan empat dari enam orang tua tidak memberikan peraturan yang harus dipatuhi oleh anak. Orang tua juga tidak memberikan hukuman kepada anak ketika anak melanggar peraturan yang diberikan orang tua. Namun dua dari enam orang tua memberikan hukuman atau aturan kepada anak ketika anak tidak patuh pada peraturan yang diterapkan oleh orang tua. Dapat dilihat pada penerapan pola asuh yang di terapkan oleh orang tua S dan F yang memberikan hukuman ketika anak melanggar peraturan yang orang tua berikan, salah satu contoh hukumannya adalah anak tidak dibolehkan bermain dengan Namun dengan demikian orang tua S dan F memberikan kasih sayang yang cukup. Kemudian dalam pengasuhan demokratis pada kegiatan kemandirian mencuci tangan keenam orang tua memberikan figure yang baik dan dukungan kepada segala aktivitas yang dilakukan oleh anak, dan memberikan segala sesuatu yang anak butuhkan. Dalam pola asuh demokratis ini keenam orang tua tetap memberikan pemahaman kepada anak dengan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 52 baik ketika anak melakukan kesalahan ketika anak tidak mengikuti peraturan yang diberikan orang tua. Dalam pola asuh permisif yang di temukan di lapangan yaitu tidak semua orang tua memberikan kebebasan kepada anaknya, salah satunya dengan adanya keterbatasan fisik yang memungkinkan kekhawatiran yang di rasakan oleh orang tua. Namun keenam orang tua selalu memberikan rasa kepedulian dan memberikan rasa tanggung jawab kepada anak-anaknya. Dapat dilihat pada penerapan pola asuh orang tua A dan orang tua RB yang tidak terlalu memberikan kebebasan kepada anaknya karena adanya keterbatasan fisik dan komunikasi. Namun dengan begitu orang tua memberikan kebebasan kepada anak meski anak dalam pantauan orang tua. Pola asuh demokratis ini diterapkan oleh orang tua A. RB. L dan F keenam orang tua menerapkan pola asuh demokratis yaitu sebuah batasan dan sebuah harapan yang jelas dalam memantau perilaku anak. Orang tua selalu menggunakan alasan dan aturan sebagai pencapaian atau memberikan peringatan yang berhubungan dengan perilaku anak. Sejalan dengan teori menurut Anang dan Soenarjadi . dalam buku yang berjudul Kriminologi dan kenakalan remaja bahwa pola asuh ini memiliki keterbukaan antara anak dan orang tua tentang apa yang anak butuhkan dan anak Sehingga mengungkapkan kesulitan atau kegelisahan kepada orang tuanya, yang dimana anak memiliki keterbukaan kepada orang tua untuk menyampaikan apa yang anak rasakan serta menyampaikan keinginan atau apa saja yang anak butuhkan. Orang tua melibatkan pada setiap perkembangan anak serta menjadikan peran penting untuk anak mereka. Kemudian pola asuh ini di aplikasikan orang tua A dan L yakni gabungan antara pola asuh otoriter, demokratis dan permisif, dimana orang tua memberikan sesuatu yang diinginkan serta dengan memberi bimbingan dan arahan pada setiap aktivitas Orang tua F juga memberikan hukuman kepada anak ketika anak melakukan kesalahan dan melanggar peraturan yang di terapkan orang tua. Orang tua A. R dan RB tidak menerapkan pola asuh otoriter terhadap pembelajaran kegiatan kemandirian mencuci tangan. Kondisi ini dapat di perhatikan dari cara orang tua yang tidak menerapkan peraturan dan hukuman ketika anak melakukan kesalahan. Sedangkan orang tua L dan F cenderung suka memarahi anak jika anak sulit diberitahu dengan nada yang cukup tinggi. Pola asuh otoriter yang di terapkan oleh orang tua berdampak positif pada perilaku karena keinginan orang tua yang harus diikuti oleh semua anak dan menjadikan anak memiliki sikap disiplin. Namun disisi lain pola asuh otoriter ini memilik dampak negatif bagi anak keharmonisan antara orang tua dan anak. Hasil studi selaras dengan teori Gunarso . tentang AuPola asuh orang tua tidak lain merupakan metode untuk mendidik anak-anak dengan memperlakukan anak dengan baikAy dalam hal ini orang tua sangan mempengaruhi perkembangan kemandirian anak terutama anak berkebutuhan Diskusi Berdasarkan kesesuaian antara teori serta hasil analisis bahwasanya yang mempengaruhi pola asuh orang tua pada kegiatan kemandirian mencuci tangan anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Pandeglang yaitu pengalaman dan pendidikan orang Hal ini dapat di lihat oleh identitas informan, yang sebagian besar adalah pendidikan SMA dan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup dalam merawat dan mendidik. Selain itu, penelitian menunjukan bahwa sebagian besar orang tua menggunakan pola asuh yang fleksibel dan juga demokratis pada pembelajaran kegiatan kemandirian mencuci tangan anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Pandeglang. Berdasarkan hasil observasi yang di temukan di lapangan terkait dengan kegiatan kemandirian mencuci tangan yang berada di Kecamatan Pandeglang, orang tua tidak mengalami kesulitan memberikan pemahaman tentang kemandirian mencuci tangan kepada anak. Namun satu dari enam orang tua yaitu orang tua A mengalami kesulitan dalam mengajarkan tata cara mencuci tangan kepada anak karena adanya permasalahan yang dialami oleh anak, sehingga menjadi kesulitan yang di alami orang tua ketika mengajarkan tata cara mencuci Kemudian dalam membagi waktu antara mengajarkan anak mencuci tangan dengan aktivitas lainnya orang tua tidak mengalami kesulitan dalam hal tersebut. Keenam orang tua mengatakan akan selalu mengupayakan penerapan kemandirian mencuci tangan kepada anaknya meskipun terbagi dengan aktivitas lainnya. Keenam orang tua selalu memberikan waktu luang untuk mengajarkan anakanaknya untuk melakukan kegiatan mencuci tangan. Pada pelaksanaan kegiatan kemandirian mencuci tangan anak berkebutuhan khusus di rumah di ajarkan oleh orang tua, semua informan tidak mengalami masalah dan kesulitan saat proses Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 53 | JPI. Vol. No. November 2025 pembelajaran kemandirian mencuci tangan di Namun 2 diantara keenam anak sedikit kemandirian mencuci tangan dari orang tua, sehingga adanya kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan kemandirian mencuci tangan di rumah. Hambatan yang berasal pada diri anak ini sebenarnya merupakan hambatan yang paling kemandirian mencuci tangan. Bahkan hambatan tersebut dapat mempengaruhi kegagalan semua anak dalam mempelajari kegiatan mencuci tangan. Walaupun tidak semua anak memiliki hambatan yang seperti ini, dengan kata lain siswa yang memiliki hambatan yang demikian. Berdasarkan kesesuaian antara teori serta hasil analisis bahwasanya yang mempengaruhi pola asuh orang tua pada kegiatan kemandirian mencuci tangan anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Pandeglang semua informan tidak mengalami masalah dan kesulitan saat proses pembelajaran kemandirian mencuci tangan di lakukan. Namun dua diantara keenam anak sedikit mengalami kesulitan penerimaan materi kemandirian mencuci tangan dari orang tua, sehingga adanya kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan kemandirian mencuci tangan di rumah. Pada hasil observasi pola asuh orang tua dalam pembelajaran mencuci tangan yang ditemukan di lapangan, sebagian anak belum mampu melakukan secara inisiatif dan mandiri dalam kegiatan mencuci Ketika anak melakukan kegiatan mencuci tangan, anak merasa senang dan nyaman. Dapat di lihat pada orang tua A. RB. S dan F. Kemudian anak menjadi lebih mandiri ketika pergi untuk melakukan mencuci tangan di lihat pada orang tua R. RB. S dan F. Keempat anak sudah mampu melakukan kegiatan kemandirian mencuci tangan dan pergi melakukan mencuci tangan tanpa adanya bantuan dari orang tua. Walaupun beberapa anak masih dalam bantuan orang tuanya, namun sikap inisiatif yang muncul pada anak sudah menumbuhkan kemandirian yang baik. Kemandirian merupakan suatu keadaan individu yang mampu melakukan kegiatan sendiri secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain, bisa mengontrol tindakan sesuai dengan kemampuan tanpa harus melibatkan orang lain dan tanggung jawab terhadap diri sendiri Drajat . Kemandirian dapat di artikan sebagai kemampuan seseorang dalam melakukan atau menjalani kegiatan secara mandiri tanpa melibatkan orang lain. Pada pelaksanaan kegiatan kemandirian mencuci tangan anak berkebutuhan khusus di rumah di ajarkan oleh orang tua, semua informan tidak mengalami masalah dan kesulitan saat proses pembelajaran kemandirian mencuci tangan di Namun 2 diantara keenam anak sedikit kemandirian mencuci tangan dari orang tua, sehingga adanya kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan kemandirian mencuci tangan di rumah. Hambatan yang berasal pada diri anak ini sebenarnya merupakan hambatan yang paling kemandirian mencuci tangan. Bahkan hambatan tersebut dapat mempengaruhi kegagalan semua anak dalam mempelajari kegiatan mencuci tangan. Walaupun tidak semua anak memiliki hambatan yang seperti ini, dengan kata lain siswa yang memiliki hambatan yang demikian. Berdasarkan kesesuaian antara teori serta hasil analisis bahwasanya yang mempengaruhi pola asuh orang tua pada kegiatan kemandirian mencuci tangan anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Pandeglang semua informan tidak mengalami masalah dan kesulitan saat proses pembelajaran kemandirian mencuci tangan di lakukan. Namun dua diantara keenam anak sedikit mengalami kesulitan penerimaan materi kemandirian mencuci tangan dari orang tua, sehingga adanya kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan kemandirian mencuci tangan di rumah. Sesuai dengan hasil data yang di temukan dari wawancara, observasi, serta dokumentasi pola pengasuhan orang tua pada kegiatan kemandirian mencuci tangan anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Pandeglang yang di ajarkan oleh orang tua di rumah, empat dari enam anak menunjukan rasa senang saat melakukan kegiatan kemandirian mencuci tangan yang dilakukan di rumah, sehingga keempat anak ini tidak merasa takut untuk pergi ke melakukan kegiatan kemandirian mencuci tangan secara mandiri. Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwasanya pola asuh yang diterapkan orang tua pada kegiatan kemandirian mencuci tangan kepada anak dapat memberikan dampak kemandirian anak saat melakukan kegiatan mencuci tangan. Hal ini sejalan dengan teori Noojannah . bahwa kemandirian adalah faktor utama untuk melakukan kegiatan secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Kemandirian juga akan menimbulkan bagaimana sikap bertanggung jawab, emosi dan kepercayaan terhadap diri sendiri dalam melakukan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 54 Kesimpulan Berdasarkan terhadap temuan analisis yang telah dilakukan terkait bahwasanya yang mempengaruhi pola asuh orang tua pada kegiatan kemandirian mencuci tangan anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Pandeglang semua informan tidak mengalami masalah dan kesulitan saat proses pembelajaran kemandirian mencuci tangan di Diketahui bahwasanya pola asuh orang tua terhadap kegiatan kemandirian mencuci tangan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua anak terdiri dari pola asuh otoriter, demokratis. Pola asuh orang tua berpengaruh untuk mendorong tumbuh kembang kemandirian anak, kondisi tersebut disebabkan dari masing-masing pola asuh yang di terapkan oleh orang tua. Penerapan pola asuh dengan pembawaan yang baik dan positif anak menjadikan penerapan yang efektif, baik begitupun sebaliknya. Referensi