Mutiara Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. No. Juli 2025 e-ISSN 3025-1028 Available at: https://jurnal. tiga-mutiara. com/index. php/jimi/index Eksplorasi Pendekatan Culturally Responsive Teaching dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 2 di Sekolah Dasar Dini Ludfira Aisyah1, *Arizkylia Yoka Putri2 1,2Universitas Negeri Surabaya E-mail: 24011516029@mhs. arizkyliayoka@gmail. Abstract A culturally responsive approach to teaching has become an essential element in building an inclusive, relevant, and transformative educational ecosystem, particularly in the context of Indonesian language instruction at the primary school level. This study aims to analyze the implementation of the Culturally Responsive Teaching (CRT) approach in Indonesian language learning among second-grade students at SDN Sumobito 1 Jombang. Employing a descriptive qualitative method, data were collected through participatory observation, semi-structured interviews, and documentation. The data were thematically analyzed to identify patterns of CRT application in daily teaching practices. The findings indicate that student engagement in the learning process is relatively active. however, the integration of CRT principles remains suboptimal. This is evidenced by the limited use of teaching materials that reflect students' cultural backgrounds and the low level of teachersAo conceptual understanding of the CRT approach. The study underscores the importance of enhancing educatorsAo professional capacity through continuous training focused on pedagogies that are sensitive to local cultural contexts. In addition, the development of culturally responsive teaching materials needs to be accommodated within the curriculum to make learning more contextual and meaningful. The implications of these findings suggest that a systematic implementation of CRT has the potential to improve the quality of Indonesian language education by positioning cultural diversity as a pedagogical asset rather than a barrier. Consequently, the results of this study are expected to serve as a reference for the formulation of more inclusive, adaptive, and culturally equitable basic education policies in multicultural societies. Keywords: CRT Approach. Indonesian Language Learning. Elementary School. Abstrak Pendekatan pembelajaran yang responsif terhadap keragaman budaya peserta didik menjadi elemen esensial dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, relevan, dan transformatif, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II di SDN Sumobito 1 Jombang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola penerapan CRT dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 88 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2025 siswa dalam proses pembelajaran tergolong cukup aktif. namun demikian, integrasi prinsipprinsip CRT masih belum optimal. Hal ini ditunjukkan oleh terbatasnya penggunaan materi ajar yang merepresentasikan latar belakang budaya siswa serta rendahnya pemahaman konseptual guru terhadap pendekatan CRT. Penelitian ini menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas profesional pendidik melalui pelatihan berkelanjutan yang berfokus pada pedagogi yang sensitif terhadap konteks budaya lokal. Di samping itu, pengembangan perangkat ajar yang berbasis budaya siswa perlu diakomodasi dalam kurikulum agar pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa penerapan CRT secara sistematis berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menjadikan keberagaman budaya sebagai sumber daya pedagogis, bukan hambatan. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam perumusan kebijakan pendidikan dasar yang lebih inklusif, adaptif, dan berkeadilan kultural di tengah masyarakat multikultural. Kata-kata Kunci: Pendekatan CRT. Pembelajaran Bahasa Indonesia. Sekolah Dasar. PENDAHULUAN Pembelajaran Bahasa Indonesia pada jenjang Sekolah Dasar merupakan fondasi epistemik yang krusial dalam membentuk kerangka berpikir, struktur kognitif, serta kompetensi literasi dasar peserta didik. 1 Sebagai bahasa nasional dan ilmiah. Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium representasional dalam konstruksi makna dan transmisi pengetahuan lintas bidang studi. Pemerolehan keterampilan berbahasa yang mencakup aspek reseptif dan produktif secara simultan berperan dalam internalisasi nilai-nilai budaya, penguatan identitas nasional, dan pengembangan kompetensi sosial. 3 Kapasitas linguistik yang terbangun secara sistemik pada tahap pendidikan dasar menjadi determinan utama dalam keberhasilan akademik dan partisipasi aktif siswa dalam ekosistem pembelajaran berkelanjutan. 4 Oleh sebab itu, pengembangan kurikulum Bahasa Indonesia di tingkat dasar harus didasarkan pada pendekatan transdisipliner, berorientasi pada literasi kritis, dan selaras dengan kerangka kerja pendidikan berbasis kompetensi dan karakter. I Gusti Ngurah Santika dan I Nyoman Sudiana. AuInsersi Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia Ditinjau dari Perspektif Teoretis,Ay Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha 11, no. : 464Ae472, https://ejournal. id/index. php/JJPBS/article/view/42052. Evi Nurtikasari dan Muhammad Fahri. AuPenerapan Model Pembelajaran Scramble untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas i MI Nurul Huda 1 Curug,Ay Jurnal Pendidikan Guru . 42Ae51, https://ejournal. id/index. php/jpg/article/view/2869. Minahul Mubin dan Sherif Juniar Aryanto. AuPembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar,Ay Edu Cendikia: Jurnal Ilmiah Kependidikan . 554Ae559, https://jurnal. org/index. php/educendikia/article/view/3429. Ines Tasya Jadidah et al. AuAnalisis Pentingnya Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar dalam Berkomunikasi di Kalangan Anak Usia Sekolah Dasar,Ay JIMR: Journal Of International Multidisciplinary Research . 66Ae73, https://azramediaindonesia. com/index. php/JIMR/article/view/610. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 89 Dini Ludfira Aisyah. Arizkylia Yoka Putri: Eksplorasi Pendekatan Culturally Responsive Teaching dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 2 di Sekolah Dasar Penggunaan pendekatan yang responsif terhadap budaya siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan memberdayakan. 5 Setiap siswa membawa latar belakang budaya yang unik, nilai-nilai, dan pengalaman hidup ke dalam kelas, dan pendekatan yang responsif terhadap budaya memungkinkan guru untuk mengakui, menghargai, dan mengintegrasikan keberagaman ini ke dalam proses pembelajaran. 6 Dengan memperhatikan budaya siswa, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat menjadi lebih relevan, menarik, dan bermakna bagi mereka, meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan pemahaman mereka terhadap materi 7 Selain itu, pendekatan yang responsif terhadap budaya juga membantu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung bagi semua siswa, tanpa membedakan berdasarkan latar belakang budaya atau identitas mereka. Ini mempromosikan inklusi sosial dan kesetaraan dalam pendidikan, serta membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri, harga diri, dan identitas budaya positif. 8 Dengan demikian, penggunaan pendekatan yang responsif terhadap budaya siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bukan hanya tentang mengajar bahasa, tetapi juga tentang membangun hubungan yang bermakna antara siswa dan proses pembelajaran, serta mempersiapkan mereka untuk menjadi warga negara yang lebih berbudaya dan berdaya. Hasil observasi empiris menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas 2 Sekolah Dasar cenderung belum mengakomodasi keragaman budaya siswa secara optimal. Ketidakmampuan guru dalam mengintegrasikan latar belakang budaya dan bahasa ibu siswa ke dalam proses pembelajaran mengakibatkan rendahnya relevansi materi ajar terhadap konteks kehidupan siswa. Kurikulum dan pendekatan pedagogis yang kurang responsif terhadap dimensi budaya turut memperlebar kesenjangan pemahaman dan partisipasi siswa. Pada penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa penggunaan strategi pembelajaran yang Nabilatul Inayah. Leli Triana, dan Dwi Retnoningrum. AuPendekatan Culturally Responsive Teaching Menggunakan Media Game Kahoot pada Pembelajaran Bahasa Indonesia,Ay in Prosiding Seminar Nasional Literasi Dan Pedagogi (Srad. (Tegal: Universitas Pancasakti Tegal, 2. , 24Ae31, https://scholar. com/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=BgiPVcwaJ&citation_for_vi ew=BgiPVcwaJ:9yKSN-GCB0IC. Dita Hardiana. AuPeningkatan Minat Belajar IPAS melalui Culturally Responsive Teaching pada Peserta Didik Kelas IV SDN 01 Sumbersari,Ay Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang 9, no. 2394Ae2405, https://journal. id/index. php/didaktik/article/view/983. Joko Hariadi. AuPembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Kearifan Lokal,Ay Jurnal Samudra Bahasa 1, no. : 1Ae9, https://ejurnalunsam. id/index. php/JSB/article/view/973. Ni Luh Ika Windayani et al. AuMembangun Kesadaran Multikultural melalui Implementasi Model Pendidikan Inklusif di Sekolah,Ay Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti 11, no. : 383Ae396, https://jurnalilmiahcitrabakti. id/jil/index. php/jil/article/view/2889. Aceng Joyo. AuGerakan Literasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Kearifan Lokal Menuju Siswa Berkarakter,Ay Jurnal KIBASP: Kajian Bahasa. Sastra dan Pengajaran 1, no. : 159Ae 170, https://journal. id/index. php/KIBASP/article/view/193. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 90 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2025 memperhatikan keberagaman budaya siswa dapat meningkatkan prestasi akademik siswa, memperkuat identitas budaya mereka, dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) memiliki peran yang sangat penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa Sekolah Dasar. 11 Tantangan dalam mengajar Bahasa Indonesia, terutama dalam memperhatikan keragaman budaya siswa, menekankan perlunya pendekatan yang responsif terhadap budaya untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan bermakna bagi semua siswa. 12 Dengan memperhatikan keragaman budaya siswa dalam desain pembelajaran, guru dapat meningkatkan keterlibatan siswa serta pemahaman mereka terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia. 13 Oleh karena itu, eksplorasi pendekatan CRT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi relevan dan penting dalam mengatasi tantangan ini, serta memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar. Pada penelitian sebelumnya hanya terfokus pada metode pengajaran konvensional dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa Sekolah Dasar, sehingga masih kurangnya penelitian mengenai penggunaan pendekatan CRT dalam konteks tersebut. Penelitian ini bermaksud untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji topik tersebut lebih dalam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi pendekatan CRT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa kelas 2. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap praktik pengajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar dengan mengintegrasikan aspek-aspek budaya siswa ke dalam proses Sri Antika et al. AuPenggunaan Media Pembelajaran Leaflet Berbasis Culture Responsif Teaching terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas 2 Sanggar Bimbingan Kampung Bharu Malaysia,Ay Innovative: Journal Social Science Research . 9945Ae9956, https://jinnovative. org/index. php/Innovative/article/view/2913. Nur Aenun Bahar. Amrah, dan Muh. Hamkah. AuPenerapan Model TPS dengan Pendekatan CRT dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Peserta Didik,Ay Global Journal Teaching Professional 2, no. : 483Ae490, https://jurnal. com/index. php/gpp/article/view/963. Hariadi. AuPembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Kearifan Lokal. Ay Agita Misriani. Shesilia Cintari, dan Nuriza Zulyani. AuUrgensi Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Kearifan Lokal,Ay Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 6, no. : 7131Ae7136, https://jiip. id/jiip/index. php/JIIP/article/view/2392. Rista Irianti dan Abdullah Hasibuan. AuPembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Kearifan Lokal,Ay EduLITERA: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia 1, no. : 12Ae21, https://jurnallp2m. id/index. php/EDU-L/article/view/2492. Dina Indri Astuti. AuPengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia,Ay Diskursus: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia 1, no. 213Ae219, https://journal. id/index. php/diskursus/article/view/6688. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 91 Dini Ludfira Aisyah. Arizkylia Yoka Putri: Eksplorasi Pendekatan Culturally Responsive Teaching dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 2 di Sekolah Dasar Dengan demikian, guru dapat memperoleh panduan yang lebih baik dalam merancang pembelajaran yang responsif terhadap budaya siswa, sehingga memungkinkan tercapainya pembelajaran yang lebih inklusif, relevan, dan bermakna bagi semua siswa. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai implementasi Culturally Responsive Teaching (CRT) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II Sekolah Dasar. Pendekatan kualitatif merupakan metode penelitian yang bertumpu pada proses dan makna, bukan sekadar pengukuran angka atau hasil statistik. 16 Penelitian kualitatif berusaha memahami fenomena dalam konteks alaminya, dengan melibatkan peneliti secara langsung dalam pengumpulan dan interpretasi data. 17 Sementara itu, pendekatan deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran yang sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta yang diteliti, tanpa melakukan manipulasi terhadap variabel yang ada. 18 Kombinasi keduanya memungkinkan penelitian ini untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan secara rinci praktik pembelajaran yang responsif terhadap keragaman budaya siswa di kelas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama, yaitu observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi. Observasi partisipatif adalah metode di mana peneliti terlibat secara langsung dalam situasi yang diamati dengan tujuan mengamati perilaku, interaksi, dan aktivitas secara alami. 19 Dalam konteks penelitian mengimplementasikan prinsip-prinsip CRT dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Wawancara semi-terstruktur merupakan teknik wawancara yang menggunakan panduan pertanyaan terbuka namun tetap memberi ruang bagi informan untuk mengembangkan jawabannya secara bebas. 20 Wawancara ini dilakukan dengan guru Bahasa Indonesia untuk menggali pandangan, pemahaman, strategi, dan tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis budaya. Sementara itu, studi dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang dilakukan melalui penelaahan terhadap dokumen tertulis yang Hardani et al. Buku Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Cetakan 1. (Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu Group Yogyakarta, 2. John W. Creswell. Penelitian Kualitatif & Desain Riset (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Dian Muslimin et al. Metodologi Penelitian: Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif dan Campuran, ed. Rantika. Cetakan 1. (Pilubang: CV. Lauk Puyu Press, 2. Sukiati. Metodologi Penelitian: Sebuat Pengantar (Medan: CV. Manhaji, 2. , chromeextension://efaidnbmnibpcajpcglclefindmkaj/http://repository. id/1284/1/buku Metopel 2016. Dahlia Amelia et al. Metode Penelitian Kuantitafi (Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 92 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2025 relevan, seperti kurikulum. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan bahan ajar. Studi ini bertujuan untuk menilai sejauh mana materi pembelajaran mendukung nilai-nilai keberagaman budaya. Untuk menjamin validitas dan reliabilitas data, digunakan teknik triangulasi sumber dan metode, yaitu upaya membandingkan dan mengonfirmasi data yang diperoleh dari berbagai sumber dan teknik pengumpulan data. Triangulasi bertujuan untuk meningkatkan keabsahan data dengan melihat konsistensi temuan dari berbagai perspektif. Selain itu, dilakukan member checking, yaitu proses pengembalian hasil interpretasi kepada informan guna mengonfirmasi kebenaran makna yang ditangkap oleh peneliti. Analisis data dilakukan melalui metode analisis tematik, yaitu teknik analisis kualitatif yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengorganisasi, dan menginterpretasi pola-pola atau tema-tema yang muncul dari data. Proses analisis dilakukan secara induktif dan iteratif, dimulai dari pengkodean data, pengelompokan berdasarkan kategori tematik, hingga penarikan kesimpulan yang bermakna dan relevan dengan kerangka teoritik Culturally Responsive Teaching. 22 Melalui metode ini, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan praktik pembelajaran yang inklusif, relevan secara budaya, dan mendukung keberagaman dalam konteks pendidikan dasar di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil observasi terhadap perangkat pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SDN Sumobito 1 Jombang menunjukkan bahwa materi ajar yang digunakan masih belum sepenuhnya relevan dengan konteks budaya dan kehidupan sehari-hari siswa. Materi cenderung bersifat umum dan tidak mencerminkan realitas sosial, budaya, maupun pengalaman lokal siswa. Ketidaksesuaian ini menyebabkan keterputusan antara pembelajaran di kelas dan kehidupan nyata, sehingga potensi pembelajaran yang bermakna menjadi terbatas. Selain itu, peran bahasa ibu sebagai sarana penguatan pemahaman konseptual belum dimanfaatkan secara maksimal. Guru masih mengedepankan penggunaan Bahasa Indonesia formal tanpa membuka ruang bagi siswa untuk menafsirkan materi melalui bahasa pertama mereka. Data hasil wawancara dengan guru-guru menunjukkan bahwa pemahaman terhadap Sumanto. Teori dan Aplikasi Metode Penelitian (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2. Muhidin dan M. Abdurrahman. Analisis Korelasi. Regresi, dan Jalur dalam Penelitian (Bandung: Pustaka Setia, 2. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 93 Dini Ludfira Aisyah. Arizkylia Yoka Putri: Eksplorasi Pendekatan Culturally Responsive Teaching dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 2 di Sekolah Dasar konsep Culturally Responsive Teaching (CRT) masih bervariasi. Sebagian guru telah menyadari pentingnya integrasi aspek budaya lokal dalam pembelajaran dan mulai mencoba mengaitkan materi ajar dengan latar belakang siswa. Namun, sebagian lainnya belum memahami secara mendalam prinsip-prinsip CRT dan belum mengintegrasikannya secara konsisten dalam praktik pembelajaran. Kendala utama yang dihadapi meliputi kesulitan dalam menyesuaikan perangkat ajar dan metode pengajaran yang sesuai dengan pendekatan CRT, serta keraguan terhadap efektivitasnya dalam meningkatkan hasil belajar. Meskipun siswa menunjukkan tingkat keterlibatan yang cukup tinggi, hal tersebut belum didukung oleh pendekatan pedagogis yang responsif terhadap keragaman budaya. Keterlibatan siswa cenderung bersifat mekanis dan belum menyentuh dimensi afektif maupun identitas kultural mereka. Kurangnya pengakuan terhadap budaya asal siswa dan minimnya penggunaan bahasa ibu menghambat proses pembelajaran yang reflektif dan Hal ini berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran jangka panjang, terutama dalam hal pemahaman makna dan relevansi materi. Temuan ini menekankan pentingnya peningkatan kapasitas guru dalam memahami dan menerapkan pendekatan CRT secara menyeluruh. Upaya strategis seperti pelatihan berbasis budaya, pengembangan perangkat ajar kontekstual, dan pembinaan berkelanjutan diperlukan guna menciptakan proses pembelajaran yang lebih inklusif, adaptif, dan Integrasi CRT diyakini dapat memperkuat hubungan antara materi ajar dan latar belakang siswa, serta mendorong partisipasi aktif yang lebih autentik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa implementasi CRT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SDN Sumobito 1 Jombang masih bersifat parsial dan memerlukan penguatan. Pengembangan pembelajaran berbasis budaya lokal tidak hanya akan meningkatkan relevansi dan efektivitas proses belajar, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan identitas siswa yang utuh dan berakar pada lingkungan sosial-budaya mereka. Pembahasan Penerapan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) ini membuktikan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia bukan hanya sekadar mempelajari kaidah-kaidah bahasa, tetapi juga tentang pengakuan akan keberagaman budaya siswa. 23 Melalui pendekatan ini, guru-guru memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi dan Siti Suwadah Rimang. Hasriani Usman, dan Mansur. AuImplementasi Pendekatan Teaching at the Right Level and Culturally Responsive Teaching pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IX Andi Page SMPN 1 Segeri Pangkep,Ay LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra 3, no. : 158Ae 166, https://jurnalp4i. com/index. php/language/article/view/2641. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 94 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2025 menghargai keunikan budaya mereka sendiri serta budaya orang lain. 24 Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi sarana untuk memperoleh keterampilan berbahasa, tetapi juga sebagai wahana untuk membangun kesadaran multikultural dan menghargai keberagaman dalam masyarakat. Peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu hasil signifikan dari penerapan pendekatan CRT. 26 Dengan memperhatikan keragaman budaya siswa dan mengadopsi pendekatan yang responsif terhadap budaya, siswa lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran. 27 Mereka tidak hanya berpartisipasi secara verbal, tetapi juga melalui ekspresi non-verbal, seperti gestur, ekspresi wajah, dan kontak mata. Keterlibatan siswa yang lebih aktif ini menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan interaktif, di mana setiap siswa merasa dihargai dan diperhatikan. 28 Hal ini juga mendorong terjadinya kolaborasi antara siswa dalam memecahkan masalah dan berbagi ide, sehingga memperkaya pengalaman belajar mereka. Peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia juga memiliki dampak positif terhadap motivasi dan minat belajar siswa. 30 Dengan merasa lebih terlibat dalam pembelajaran, siswa menjadi lebih antusias untuk berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran dan lebih termotivasi untuk mencapai tujuan pembelajaran. 31 Mereka merasa lebih termotivasi untuk berbicara dalam bahasa Indonesia, memperdalam pemahaman Rahmawati M et al. AuPeran Guru dalam Merancang Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal di Masa Pandemi,Ay Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, no. : 1527Ae1539, https://obsesi. id/index. php/obsesi/article/view/1802. Iwan Setiawan. AuPembelajaran Bahasa Indonesia dalam Masyarakat Multikultural,Ay Jurnal Likhitaprajna . 1Ae9, https://likhitapradnya. id/index. php/likhitapradnya/article/view/2. Indah Milati Khasanah. Harto Nuroso, dan Agnita Siska Pramasdyahsari. AuEfektivitas Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas II Sekolah Dasar,Ay Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial dan Pengabdian Kepada Masyarakat 3, no. : 1121Ae1127, https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety/article/view/393. Dewi Nurhasanah Nasution. Umri Rahman Efendi, dan Sri Yunita. AuImplementasi Pendekatan Pembelajaran Culturally Responsive Teaching pada Mata Pelajaran PPKN Kelas V Sekolah Dasar,Ay Jurnal Sekolah 8, no. : 171Ae177, https://jurnal. id/2012/index. php/js/article/view/55063. Della Puspita Sari. Putri Rachmadyanti, dan Umi Alfiyah. AuAnalisis Culturally Responsive Teaching for Meaningfull Learning di SD Negeri Pepelegi II,Ay Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 10, 2 . : 1792Ae1803, https://journal. id/index. php/pendas/article/view/13501. Hardiana. AuPeningkatan Minat Belajar IPAS melalui Culturally Responsive Teaching pada Peserta Didik Kelas IV SDN 01 Sumbersari. Ay Azalea Dewi Larassati et al. AuPeningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman Teks Narasi melalui Model SQ3R Berbasis Culturally Responsive Teaching (CRT) pada Siswa Kelas V SDN 3 Bancarkembar,Ay Journal of Professional Elementary Education 2, no. : 215Ae224, https://jpee. id/index. php/home/article/view/51. Achmad Saiful Whatoni. Yunita Arian Sani Anwar, dan Dina Namira. AuPenerapan Pendekatan Culturally Responsive Teaching untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Minat Belajar Kimia Peserta Didik,Ay DIDAKTIKA: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas . 22Ae28, https://didaktika. com/index. php/JPTK/article/view/13. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 95 Dini Ludfira Aisyah. Arizkylia Yoka Putri: Eksplorasi Pendekatan Culturally Responsive Teaching dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 2 di Sekolah Dasar mereka tentang materi pelajaran, dan mengembangkan keterampilan berbahasa. Selain itu, meningkatnya keterlibatan siswa juga memberikan kontribusi positif terhadap suasana kelas yang lebih positif dan harmonis, di mana hubungan antara guru dan siswa serta antar siswa menjadi lebih baik. 32 Dengan demikian, peningkatan keterlibatan siswa merupakan indikator kesuksesan dari implementasi pendekatan CRT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar. Pemahaman Bahasa Indonesia yang lebih mendalam menjadi hasil penting dari penerapan pendekatan CRT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Melalui pendekatan CRT, siswa dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi Bahasa Indonesia yang diajarkan. 33 Hal ini terjadi karena guru-guru menerapkan strategi pengajaran yang memanfaatkan bahan pembelajaran yang relevan dengan kehidupan seharihari siswa. Dengan menggunakan contoh-contoh dan situasi yang akrab bagi siswa, mereka dapat lebih mudah memahami konsep-konsep dalam Bahasa Indonesia. Selain itu, memperhatikan penggunaan bahasa ibu siswa sebagai sumber daya pembelajaran juga berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam. 34 Dengan membiarkan siswa menggunakan bahasa ibu mereka untuk berbagi pengalaman dan pemahaman tentang topik Bahasa Indonesia yang sedang dipelajari, guru membuka ruang untuk pemahaman yang lebih dalam dan autentik. Pemahaman Bahasa Indonesia yang lebih mendalam ini tidak hanya mencakup aspek linguistik, tetapi juga aspek budaya dan kontekstual. 36 Siswa tidak hanya memahami struktur dan aturan Bahasa Indonesia, tetapi juga memahami makna dan relevansi budaya yang terkandung di dalamnya. Mereka dapat menghubungkan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pengalaman hidup dan budaya mereka sendiri, sehingga pembelajaran Devi Ayu Septiani. Yayuk Andayani, dan Baiq Rena Puji Astuti. AuPenerapan Model Problem Based Learning Terintegrasi Culturally Responsive Teaching untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kimia,Ay DIDAKTIKA: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas . 29Ae36, https://didaktika. com/index. php/JPTK/article/view/16. Nadira Martasubrata dan Suwatno. AuMutu Layanan Akademik Sebagai Determinan Kepuasan Mahasiswa,Ay MANPER: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Perkantoran 1, no. : 136Ae143, https://ejournal. edu/index. php/jpmanper/article/view/3266. Basyurotul Hilmi et al. AuPenggunaan Bahasa Indonesia Warga Sekitar yang Dapat Berpengaruh dalam Lingkungan Sosial dan Budaya,Ay Simpati: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Bahasa 1, no. 149Ae159, https://w. com/document/798274687/simpati-149. Arni Mahyudi. AuEksplorasi Peran Sekolah dalam Mengajarkan dan Mempertahankan Kemahiran Berbahasa Indonesia di Desa,Ay Jurnal Riset Ilmiah 3, no. : 134Ae145, https://ejournal. id/index. php/sentri/article/view/2127. Nandang Sarip Hidayat. AuHubungan Berbahasa. Berpikir, dan Berbudaya,Ay Sosial Budaya: Media Komunikasi Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya 11, no. : 190Ae205, https://ejournal. id/index. php/SosialBudaya/article/view/834. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 96 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Juli 2025 menjadi lebih bermakna dan relevan bagi mereka. 37 Dengan demikian, penerapan pendekatan CRT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa tentang Bahasa Indonesia sebagai bahasa, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya mereka yang lebih luas. Dengan demikian, pentingnya penerapan pendekatan CRT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan relevan bagi semua siswa. 39 Dengan mengintegrasikan aspek-aspek budaya siswa ke dalam pembelajaran, guru dapat meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan prestasi belajar siswa secara keseluruhan. 40 Rekomendasi yang diberikan termasuk pelatihan dan pengembangan profesional untuk guru-guru dalam mengintegrasikan pendekatan CRT dalam praktik pengajaran mereka. 41 Selain itu, perlu dilakukan pengembangan bahan pembelajaran yang responsif terhadap budaya siswa, yang mencerminkan kehidupan sehari-hari siswa dan mengakomodasi keberagaman budaya dalam kelas. 42 Dengan implementasi rekomendasi ini, diharapkan pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar dapat menjadi lebih inklusif, bermakna, dan berhasil memenuhi kebutuhan belajar semua siswa. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada peserta didik kelas II SDN Sumobito 1 Jombang, dengan menitikberatkan pada sejauh mana prinsip-prinsip pedagogi responsif budaya telah diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, ditemukan bahwa implementasi CRT masih terbatas pada tingkat permukaan . urface-level Khairy Abusyairi. AuPembelajaran Bahasa dengan Pendekatan Budaya,Ay Dinamika Ilmu 13, no. : 174Ae188, https://journal. id/index. php/dinamika_ilmu/article/view/276. Moh. Sofian Hariri. AuPenerapan Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) terhadap Nilai Karakter Cinta Lingkungan di Daerah Pesisir pada Siswa Kelas i SD Negeri 2 Paremas Tahun Pelajaran 2023/2024Ay (Universitas Hamzanwadi, 2. , https://eprints. id/5456/. Inayah. Leli Triana, dan Dwi Retnoningrum. AuPendekatan Culturally Responsive Teaching Menggunakan Media Game Kahoot pada Pembelajaran Bahasa Indonesia. Ay Geneva Gay. Culturally Responsive Teaching: Theory. Research, & Practice (New York: Teachers College Pres, 2. Wahira. Sumarlin Mus, dan Sri Hastuti. AuPelatihan Pelaksanaan Pendekatan Culturally Responsive Teaching pada Guru Sekolah Dasar,Ay Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat 2, no. : 117Ae 123, https://gembirapkm. id/index. php/jurnal/article/view/395. Sutji Rochaminah. Mirnawati, dan Zahariati. AuPenerapan Pendekatan Culturally Responsive Teaching untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMPN 15 Palu pada Materi Faktorisasi Prima,Ay Edu-Mat: Jurnal Pendidikan Matematika . 100Ae114, https://ppjp. id/journal/index. php/edumat/article/view/21763. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 97 Dini Ludfira Aisyah. Arizkylia Yoka Putri: Eksplorasi Pendekatan Culturally Responsive Teaching dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 2 di Sekolah Dasar implementatio. , di mana unsur-unsur budaya peserta didik belum sepenuhnya direpresentasikan secara sistemik dalam kurikulum mikro, strategi pembelajaran, maupun pemanfaatan bahasa ibu sebagai alat mediasi kognitif. Minimnya pemahaman guru terhadap pendekatan CRT, serta belum tersedianya perangkat ajar yang kontekstual dan inklusif, turut berkontribusi terhadap terbatasnya efektivitas pembelajaran yang mampu menjangkau keberagaman latar belakang budaya siswa. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara idealisme pendekatan CRT sebagai strategi pedagogis transformatif dengan praksis pendidikan yang masih cenderung homogen dan berorientasi pada standar normatif nasional. Implikasi dari temuan ini menunjukkan perlunya reformulasi kebijakan internal sekolah serta intervensi pedagogis yang bersifat berkelanjutan dalam bentuk pelatihan profesional guru yang berfokus pada kompetensi interkultural, literasi budaya, dan desain pembelajaran berbasis konteks lokal. Selain itu, perlu dilakukan rekonstruksi materi ajar yang tidak hanya bersifat tematis, tetapi juga representatif terhadap identitas sosial-budaya siswa, guna mendorong keterlibatan belajar yang autentik dan bermakna. Untuk memperluas kontribusi keilmuan, direkomendasikan agar penelitian selanjutnya berfokus pada analisis longitudinal terhadap dampak integrasi CRT terhadap capaian akademik dan perkembangan sosial-emosional siswa, serta uji efektivitas berbagai model pembelajaran berbasis budaya dalam konteks pendidikan dasar multikultural. Dengan demikian, kesimpulan ini menegaskan bahwa CRT bukan semata-mata pendekatan metodologis, melainkan kerangka konseptual yang mendasar dalam pembangunan sistem pembelajaran yang adil, relevan, dan responsif terhadap kompleksitas identitas peserta didik dalam konteks kebhinekaan Indonesia. REFERENSI