Amphibious Journal Vol. No. 1 Juni 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 DOI: a Available online at: https://journal. id/index. php/Amphibious Optimalisasi Latihan Perang Lawan Gerilya Taruna Korps Marinir Untuk Meningkatkan Kemampuan Penanggulangan Separatisme Farhan Zulfarino Athallah1 Agus Salim2 Agus Suprapto2 Taruna Akademi Angkatan Laut angkatan 67 Korps Marinir Dosen Program Study Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat AAL Abstract: The Marine Corps is one of the TNI's Main Operations Commands (Kotama Op. under the direct command of the TNI Commander. In the course of history, the Marine Corps has shown the Indonesian nation its capabilities as an amphibious landing force. To support this main task, the Marine Corps needs leaders who have the ability and skills to carry out their duties. In this case, the Naval Academy is an institution that has the function of forming prospective Indonesian Navy officers, including prospective Marine Corps officers who will later become leaders of the Marine Corps. Marine Corps cadets are required to be able to understand material in the field of military tactics, one of which is regarding tactics for certain conditions, namely war against The problems in this research are the lack of trainers and supporters in carrying out training, lack of facilities and infrastructure and lack of material received by cadets. The method used in this research is qualitative with management theory as a guide. The aim of this research is to optimize combat training against guerrillas with the aim of increasing the ability to overcome separatism for Marine Corps cadets so that after graduating from education they will become Dantons who are ready to be assigned to tackle the armed separatist movement. Based on the analysis that has been carried out, things that need to be optimized include increasing the number of trainers and supporters, updating facilities and infrastructure, using modern technology in carrying out training and establishing courses on counter-guerrilla warfare operations. The result of this research is an increase in the ability to deal with separatism of Marine Corps Cadets. Keywords: War Training Against Guerillas. Separatism. Marine Corps Cadets Abstrak: Korps Marinir merupakan salah satu Komando Utama Operasi (Kotama Op. TNI di bawah komando langsung Panglima TNI. Dalam perjalanan sejarah. Korps Marinir telah menunjukkan kepada bangsa Indonesia kemampuannya sebagai pasukan pendarat amfibi. Untuk menunjang tugas pokok tersebut Korps Marinir membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan serta kecakapan dalam melaksanakan tugas. Dalam hal ini Akademi Angkatan Laut sebagai lembaga yang memiliki fungsi membentuk calon calon perwira TNI Angkatan Laut termasuk calon perwira Korps Marinir yang kelak akan menjadi pemimpin Korps Marinir. Taruna Korps Marinir dituntut untuk dapat memahami materi di bidang militer taktik, salah satunya mengenai Taktik Kondisi Tertentu yakni perang lawan gerilya. Permasalahan dalam penelitian ini yakni kurangnya jumlah pelatih dan pendukung dalam pelaksanaan latihan, kurangnya sarana dan prasarana dan kurangnya materi yang diterima oleh Taruna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan teori manajemen sebagai Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalisasi latihan perang lawan gerilya dengan tujuan meningkatkan kemampuan penanggulangan separatism bagi Taruna Korps Marinir sehingga setelah lulus Pendidikan akan menjadi Danton yang siap ditugaskan untuk menanggulangi Gerakan separatisme bersenjata. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan hal-hal yang perlu dioptimalkan antara lain penambahan jumlah pelatih dan pendukung, pembaruan sarana dan prasarana, penggunaan teknologi modern dalam pelaksanaan latihan dan pembentukan mata kuliah sendiri operasi perang lawan gerilya. Hasil dari penelitian ini adalah meningkatnya kemampuan penanggulangan separatisme Taruna Korps Marinir. Kata Kunci : Latihan Perang Lawan Gerilya. Separatisme . Taruna KorpsMarinir Received Juni 01, 2024. Received Juni 14, 2024. Accepted Juni 28, 2024. Publish Juni 30, 2024 OPTIMALISASI LATIHAN PERANG LAWAN GERILYA TARUNA KORPS MARINIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENANGGULANGAN SEPARATISME PENDAHULUAN Latar Belakang Korps Marinir merupakan salah satu Komando Utama Operasi (Kotama Op. TNI di bawah komando langsung Panglima TNI (PERPRES No. 66 Tahun 2. Korps Marinir dipimpin oleh Komandan Korps Marinir, seorang perwira tinggi berpangkat bintang dua yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada Panglima (TNI). Korps Marinir mempunyai tugas pokok yaitu membina kekuatan dan kemampuan serta kesiapsiagaan operasional Korps Marinir sebagai Pasukan Pendarat (Pasra. TNI Angkatan Laut dalam rangka proyeksi kekuatan ke darat lewat laut, operasi pertahanan pantai di pulau-pulau strategis serta operasi tempur lainnya sesuai kebijakan Panglima TNI. Dalam perjalanan sejarah. Korps Marinir telah menunjukkan kepada bangsa Indonesia kemampuannya sebagai pasukan pendarat amfibi. Untuk menunjang tugas pokok tersebut Korps Marinir membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan serta kecakapan dalam melaksanakan Dalam hal ini Akademi Angkatan Laut (AAL) sebagai lembaga yang memiliki fungsi membentuk calon calon perwira TNI Angkatan Laut termasuk calon perwira TNI Korps Marinir yang kelak nanti akan menjadi pemimpin Korps Marinir. Prodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat sebagai salah satu prodi yang ada di Akademi Angkatan Laut yang memiliki visi Auterwujudnya program studi manajemen pertahanan matra laut aspek darat yang mampu menghasilkan Perwira TNI Korps Marinir yang handal dan professionalAy. Prodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat juga memiliki misi untuk menyelenggarakan pendidikan terhadap Taruna Korps Marinir agar dapat menjadi Komandan Peleton (Danto. Infanteri yang professional dan handal. Taruna Korps Marinir dituntut untuk dapat memahami materi di bidang militer taktik, salah satunya mengenai Taktik Kondisi Tertentu (Tikkont. yakni perang lawan gerilya. Materi ini diberikan pada saat tingkat II dan juga dilatihkan dalam Latihan Praktek (Latte. Pendidikan Komando (Dikk. pada tahap Gerilya Lawan Gerilya (GLG) dengan tujuan agar Taruna Korps Marinir pada saat menjadi perwira sudah siap apabila diberikan tugas operasi tempur melawan Gerakan Separatis Bersenjata (GSB). Akan tetapi, belum maksimalnya pemberian materi praktek perang lawan gerilya saat pelajaran kelas, serta kurangnya sumber daya manusia dan sarana pra sarana, menyebabkan kurang optimalnya penerimaan serta pemahaman yang di terima oleh Taruna Korps Marinir. Karena pada saat penugasan tempur. Taruna akan menjadi seorang Danton yang akan dihadapkan dengan situasi serta kondisi medan penugasan yang tidak menentu. Oleh karena itu penulis mengangkat judul KARYA ILMIAHAy Optimalisasi Latihan Perang Lawan AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 Gerilya Taruna Korps Marinir Untuk Meningkatkan Kemampuan Penanggulangan Separatisme Ay Upaya optimalisasi ini dilaksanakan dengan tujuan agar Taruna Korps Marinir siap menjadi Danton dimasa depan serta siap ditugaskan dalam penugasan tempur melawan GSB. 2 Permasalahan Identifikasi Masalah. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut: Kurangnya jumlah personel pelatih dan pendukung dalam latihan perang lawan gerilya. Kurangnya sarana dan pra sarana dalam latihan perang lawan gerilya. Belum ditetapkannya kurikulum mengenai Materi Perang lawan gerilya. Rumusan Masalah. Dari identifikasi masalah di atas dikaitkan dengan kondisi yang ada sekarang ini. Penulis merumuskan masalah yaitu bagaimana mengoptimalkan latihan perang lawan gerilya bagi Taruna Korps Marinir agar dapat meningkatkan kemampuan penanggulangan 3 Tujuan dan Manfaat Tujuan. Adapun tujuan dari penulisan KARYA ILMIAH ini adalah mendapatkan hasil mengenai optimalisasi latihan perang lawan gerilya Taruna Korps Marinir untuk meningkatkan kemampuan penanggulangan separatisme. Manfaat. Adapun manfaat dari penulisan ini adalah : Manfaat Teoritis: Meningkatnya pemahaman Taruna Korps Marinir tentang perang lawan gerilya. Meningkatnya ketrampilan Taruna Korps Marinir dalam mempraktekkan peran sebagai Danton dalam perang melawan gerilya. Adanya optimalisasi pemberian materi perang melawan gerilya Taruna Korps Marinir dilaksanakan secara maksimal. Manfaat Praktis: Sebagai bahan masukan yang dapat digunakan dalam mendukung Lattek Tikkontu dan Dikko Taruna Korps Marinir. OPTIMALISASI LATIHAN PERANG LAWAN GERILYA TARUNA KORPS MARINIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENANGGULANGAN SEPARATISME METODE PENELITIAN Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deKARYA ILMIAH, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir,1. Hal Bogdan dan Taylor (Moleong,2. yang menyatakan Aymetodologi kualitatifAy sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang. Dengan kata lain, penelitian ini disebut penelitian kualitatif karena merupakan penelitian yang tidak mengadakan Disadari bahwa memahami keunikan dan dinamika tersebut tidaklah mudah, maka dalam mendapatkan gambaran obyek penelitian, informasi dan data yang diperlukan, peneliti menggunakan study cross sectional yakni mempersingkat waktu observasi dengan cara mengobservasi pada tahap atau tingkat perkembangan tertentu untuk mendapatkan kesimpulan yang benar dan tepat. Gambaran, informasi dan data bersifat restrospektif yaitu bersifat mundur mempergunakan data yang telah dicatat, data yang sudah ada terdahulu (Bungin 2. Karena penelitian ini bersifat studi kasus maka peneliti bermaksud menelaah obyek penelitian secara mendalam, detail, intensif dan menyeluruh. Studi kasus ini dipergunakan dengan pertimbangan keunggulan yang dimiliki yakni : Dapat memberikan informasi penting mengenai hubungan antar variabel serta proses- proses yang memerlukan penjelasan dan pemahaman yang lebih luas. Memberikan kesempatan untuk memperoleh wawasan tentang konsep dasar perilaku Melalui penelitian intensif, peneliti dapat menemukan sifat dan hubungan yang mungkin atau mungkin tidak diharapkan. Dalam konteks ilmu-ilmu sosial yang berkembang, dapat memberikan data dan bukti yang sangat berguna sebagai dasar untuk menciptakan latar belakang masalah untuk perencanaan studi yang lebih besar dan lebih rinci. Unit analisis Unit analisis yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah AAL dan Depmar. Objek penelitian dapat dinyatakan sebagai situasi sosial penelitian yang ingin diketahui apa yang AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 terjadi di dalamnya. Pada objek penelitian ini, peneliti dapat mengamati secara mendalam aktivitas . orang-orang . yang ada pada tempat . tertentu adapun fokus dari penelitian ini mengenai pengoptimalisasian latihan perang lawan gerilya Taruna Korps Marinir untuk meningkatkan kemampuan penanggulangan separatisme. Subyek penelitian merupakan sumber data yang dimintai informasinya sesuai dengan masalah penelitian. Adapun yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperoleh Untuk mendapat data yang tepat maka perlu ditentukan informan yang memiliki kompetensi dan sesuai dengan kebutuhan data . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk partisipasi, pelaksanaan partisipasi, manfaat partisipasi dan faktor yang mempengaruhi partisipasi dalam pembelajaran. Sumber dan Jenis Data Sumber data yang digunakan penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer, yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti secara langsung dari obyeknya (Wirawan, 2. Data primer penelitian ini didapat melalui informan yang diberikan pertanyaan dan dimintai keterangan. Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Komandan Brigade Infanteri 2 Marinir (Danbrigif 2 Ma. Pelatih Marinir. Sumber data sekunder, yaitu sumber data yang didapatkan oleh peneliti sebagai pendukung sumber yang pertama. Dapat juga dikatakan data yang tersusun dalam bentuk dokumen, tulisan, buku, media, serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang Dalam penelitian ini penulis menggunakan media Internet, penelitian terdahulu, serta buku paket instruksi Taruna Korps Marinir. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri yang akan turun ke lapangan untuk mengumpulkan data, menganalisis, membuat kesimpulan, dan memberikan saran. Setelah fokus penelitian menjadi jelas maka kemungkinan akan dikembangkan instrument penelitian sederhana, yang diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan dengan data yang telah ditemukan melalui observasi dan wawancara. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data Teknik pengumpulan data akan dilakukan dengan metode wawancara untuk memperoleh data lisan dari obyek penelitian yaitu perwira dan pelatih Depmar AAL yang mumpuni dan menguasai bahan dari penelitian ini. OPTIMALISASI LATIHAN PERANG LAWAN GERILYA TARUNA KORPS MARINIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENANGGULANGAN SEPARATISME Observasi lapangan akan dilaksanakan guna untuk mengetahui kondisi sebenarnya obyek yang diteliti. Data tulis dikumpulkan dengan metode wawancara yang dibantu dengan teknik lanjutan berupa teknik catat. Artinya, peneliti menyimak pemakaian ungkapan dalam sumber data tertulis. Hasil penyimakan ditindaklanjuti dengan teknik catat (Sudaryanto . Setelah data terkumpul, data akan dikelola dengan cara mengedit data yang masuk, kemudian dalam proses mengedit akan dilakukan pengecekan kelengkapan data yang masuk. Apabila data sudah lengkap, peneliti dapat mengambil kesimpulan dari data tersebut. Teknik Analisis Data Untuk mendapatkan hasil analisis data yang baik dilakukan sejumlah tahapan. Tahapan yang dilakukan meliputi merumuskan masalah, membuat hipotesis, mengumpulkan informasi berupa studi pustaka dan wawancara narasumber, menganalisa data, serta menarik kesimpulan dari penelitian. Aktivitas dalam analisis data meliputi Pengumpulan Data (Data Collectio. Kegiatan pengumpulan data dilaksanakan sejak awal penelitian. Data dikumpulkan secara terus menerus selama penelitian berlangsung baik data yang diperoleh dari wawancara, observasi maupun data yang berasal dari dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian akan dipilah berdasarkan waktu, tempat, dan tingkat kemanfaatannya dalam mendukung penelitian ini pada proses reduksi data. Reduksi Data (Data Reductio. Memperoleh data dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan memudahkan peneliti dalam mengumpulkan dan mempelajari data sesuai Penyajian Data (Data Displa. Merupakan proses pengorganisasian data sebagai kumpulan informasi terstruktur yang memberikan kemungkinan untuk menarik kesimpulan dan pengambilan Tindakan. Penarikan Kesimpulan (Conclusio. Penarikan kesimpulan atau verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti valid dan konsisten, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. (Sugiyono. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 7 Tahapan Kegiatan Penelitian Tempat Penelitian Kegiatan penelitian akan dilaksanakan di lingkungan AAL. Waktu Penelitian Tabel 3. 1 Jadwal Penelitian JADWAL KEGIATAN WAKTU Pembuatan Proposal 29 September s/d 11 Desember 2021 Paparan Proposal 21 Desember s/d 23 Desember 2021 Pelaksanaan ILMIAH Penelitian KARYA 10 Januari s/d 18 Januari 2022 Konsultasi KARYA ILMIAH 20 Maret s/d 10 Mei 2022 Ujian KARYA ILMIAH 15 Juni s/d 16 Juni 2022 Sumber: Olah Data Peneliti . PEMBAHASAN Penyajian Data. Kondisi saat ini. Latihan perang lawan gerilya merupakan latihan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian Taruna Korps Marinir dalam menumpas atau menghancurkan pemberontakan dalam rangka pengembalian keamanan demi terwujudnya kembali kewibawaan pemerintah. Pemberian materi perang lawan gerilya kepada Taruna Korps Marinir dilaksanakan pada saat tingkat II. Materi ini diberikan pertama kali pada saat pembelajaran kelas dengan jumlah 2 SKS dan dilatihkan dalam Lattek Tikkontu, yang dilaksanakan selama lima hari. Dalam waktu lima hari tersebut Taruna mempraktekkan beberapa materi seperti penyebrangan sungai, operasi dalam hutan berpenduduk, operasi pengepungan dalam rumah, operasi hutan, operasi serangan gunung dan operasi perang lawan Penerapan materi perang lawan gerilya tidak hanya diberikan pada saat Lattek Tikkontu akan tetapi diterapkan juga dalam Lattek Dikko. Dalam Lattek Dikko, pelaksanaan latihan perang lawan gerilya tergabung dalam tahap Gerilya Lawan Gerilya (GLG) yang OPTIMALISASI LATIHAN PERANG LAWAN GERILYA TARUNA KORPS MARINIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENANGGULANGAN SEPARATISME dilaksanakan selama 9 hari dengan 4 hari menjadi gerilya, 1 hari untuk pergantian dan 4 hari berikutnya menjadi lawan gerilya. Perbedaan pelaksanaan latihan perang lawan gerilya pada saat Taruna Korps Marinir melaksanakan Lattek Tikkontu dan Lattek Dikko adalah pada saat Lattek Tikkontu yang terlibat hanyalah Taruna dan pelatih saja sedangkan pada saat pelaksanaan Lattek Dikko yang terlibat tidak hanya siswa Taruna saja melainkan dengan siswa Dikmata dan Dikmaba. Pada saat Lattek Tikkontu pelaksanaan latihan perang lawan gerilya hanya dilaksanakan pengenalan saja mengenai garis besar perang lawan gerilya yakni mengenai pembagian daerah dalam perang lawan gerilya dan juga taktik serta teknik penanggulangan Penerapan latihan perang lawan gerilya baru dapat dilaksanakan pada saat Lattek Dikko. Dalam Lattek Dikko. Taruna akan dibagi menjadi dua pihak yakni pihak Gerilya dan Lawan Gerilya. Didalam kedua pihak tersebut terdiri dari beberapa tim yang beranggotakan beberapa siswa Taruna termasuk dengan siswa Dikmaba dan Dikmata. Dalam satu tim tersebut terdiri 10 sampai dengan 11 orang dengan siswa Taruna menjabat sebagai Dantim, siswa bintara menjabat sebagai Danru,dan siswa tamtam sebagai anggota. Sumber: Prodi Marinir . Selain itu Pihak lawan gerilya juga melaksanakan kegiatan lain seperti patroli tempur dan pengamanan rute. Pelaksanaan patroli tempur dilakukan secara bertahap dengan tujuan untuk mendapatkan informasi mengenai medan dan lokasi Pihak Gerilya berada. Patroli dilaksanakan dengan rute yang berubah dan berkembang seiring didapatkannya informasi mengenai pergerakan gerilya. Semakin banyak informasi dan data yang diperoleh maka rute dan jarak patroli yang ditempuh juga akan berkembang. e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 Pengamanan juga dilaksanakan oleh pihak Lawan Gerilya yang bertujuan mengamankan bantuan perbekalan yang diberikan oleh satuan atas agar tidak direbut dan dikuasai oleh pihak gerilya. Pengamanan ini berupa pengamanan rute perjalanan umum (RPU). Pengamanan dilaksanakan dengan menempatkan pasukan di medan medan kritis disekitar jalan yang akan dilewati oleh kendaraan yang membawa perbekalan dan logistik yang dikirim oleh satuan atas kepada pihak lawan gerilya. Apabila kendaraan yang melewati jalan tersebut dapat dikuasai maka pihak lawan gerilya kehilangan bekal logistik dan harus dengan bekal awal. Kegiatan Gerilya Lawan Gerilya Sumber: Prodi Marinir . Dalam pelaksanaan Operasi Lawan Gerilya, daerah lawan gerilya dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan kemampuan dan daya tempur yang dimiliki dan dikuasai oleh pihak lawan gerilya. Pembagian daerah lawan gerilya dapat dibagi sebagai berikut: Daerah tempur Adalah daerah yang dikuasai sepenuhnya oleh satuan gerilya. Biasanya sukar untuk dicapai akibat keadaan medan dan tidak adanya jalan komunikasi untuk memberikan tekanan. Daerah ini adalah daerah yang menjadi sasaran operasi lawan gerilya. Dalam daerah ini OPTIMALISASI LATIHAN PERANG LAWAN GERILYA TARUNA KORPS MARINIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENANGGULANGAN SEPARATISME kegiatan teriorial yang dilaksanakan yaitu menggalang kepercayaan rakyat agar dapat dijadikan sebagai sumber informasi dan pemberitaan kepada TNI. Daerah Konsolidasi Daerah yang dikuasai oleh kedua pihak dalam keadaan yang relatif seimbang. Daerah ini dapat ditempatkan basis tetap dengan kekuatan pasukan yang cukup untuk menghadapi serangan atau penyerangan dari pihak gerilya. Keuntungan di daerah ini adalah dapat membantu daerah operasi teritorial untuk mengkonsolidir hasil operasi tempur dan mengembangkan potensi teritorial. Akan tetapi didaerah ini rawan terjadi penyerangan terhadap basis sehingga peranan unsur intel sangat penting. Daerah Stabilisasi Daerah yang sudah dibebaskan dari penguasaan dan pengaruh gerilya. Kegiatan TNI di daerah ini yaitu menempatkan sisa pasukan sebagai satuan cadangan dengan atau tanpa bantuan kesenjataan lain dengan tujuan untuk mencegah musuh berusaha kembali merebut daerah yang telah dikuasai serta Kembali menanamkan pengaruh kepada masyarakat. Daerah Belakang Adalah daerah yang dikuasai oleh pasukan yang melaksanakan lawan gerilya. Daerah ini dijadikan sebagai tempat latihan serta pengadaan logistik bagi pasukan. Di daerah ini juga TNI melaksanakan bimbingan terhadap rakyat serta melaksanakan penumpasan secara menyeluruh terhadap segala bentuk penyelewengan. Proses pembersihan daerah pangkal gerilya dilaksanakan dengan memisahkan terlebih dahulu antara Pihak Gerilya dan masyarakat. Pemisahan dilakukan dengan pelaksanaan pengecekan identitas diri. Setelah dipisahkan anggota gerilya yang melaksanakan perlawanan atau kabur pada saat pembersihan akan ditangkap dan diintrogasi untuk mendapatkan informasi detail mengenai pihak Gerilya. Kemudian setelah didapatkan informasi maka pasukan bergerak untuk melaksanakan Raid terhadap pimpinan gerilya. Pasukan lawan gerilya memiliki keunggulan dalam persenjataan dan perlengkapan yang digunakan, sedangkan Pihak gerilya tidak memiliki persenjataan yang mencukupi. Pihak Gerilya melaksanakan penggalangan kepada masyarakat di sekitar daerah pangkal gerilya untuk ikut bergabung dan ikut memberikan bantuan kepada pihak Gerilya. Pihak Gerilya juga mengajak masyarakat untuk tidak berpihak kepada pemerintah, melainkan ikut mendukung GSB untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pihak Gerilya juga memanfaatkan kondisi medan yang ada di daerah kekuasaan mereka untuk dijadikan sebagai pertahanan dengan dibentuknya perkuatan seperti kubu-kubu atau rintangan rintangan buatan. Para Gerilyawan bersembunyi di daerah yang memiliki AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 keuntungan medan yang apabila dimasuki oleh pihak lawan gerilya akan susah untuk ditembus dan dikuasai. Sehingga diperlukan taktik serta teknik yang tepat dalam pelaksanaan operasi perang lawan gerilya untuk menumpas GSB. Latihan perang lawan gerilya ini dinilai penting karena merupakan salah satu tugas TNI dalam pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yakni mengatasi GSB. Latihan ini juga yang akan menjadi dasar dan juga bekal bagi Taruna yang pada saat telah lulus dari pendidikan dan berada kedinasan nanti akan menjadi komandan peleton yang siap mendapatkan tugas untuk mengatasi GSB di wilayah Indonesia. Analisis Data Dengan kondisi yang dialami serta faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya latihan maka peneliti menggunakan metode wawancara sebagai sarana untuk mengumpulkan data menjadi informasi dari narasumber agar dapat diperoleh data-data sebagai berikut: Tabel 4. 1 Daftar Narasumber NARASUMBER SATUAN JABATAN Kol Mar Rudi Harto M Brigif 2 DanBrigif 2 Peltu Mar Sumariyanto AAL Pelatih Prodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat Peltu Mar Alim Mustofa AAL Pelatih Prodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat Sumber : Diolah oleh Penulis . OPTIMALISASI LATIHAN PERANG LAWAN GERILYA TARUNA KORPS MARINIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENANGGULANGAN SEPARATISME Berikut data dokumentasi pelaksanaan wawancara dengan narasumber: Wawancara dengan Danbrigif Wawancara dengan Peltu Mar Alim Mustofa Wawancara dengan Peltu Mar Sumariyanto Sumber : Penulis . Dalam pelaksanaan wawan -cara, peneliti menggunakan teori manajemen sebagai Wawancara dengan Danbrigif 2 Mar berfokus kepada Danton Marinir yang berasal dari lulusan AAL, sementara itu wawancara dengan Pelatih Depmar lebih berfokus pada pelaksanaan latihan yang dilakukan oleh Taruna, berikut data hasil wawancara dalam tabel di bawah ini : e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 MAN Pertanyaan : Menurut anda apakah naluri tempur Taruna sudah cukup baik dalam operasi lawan Narasumber : Kolonel Mar Rudi Harto Marpaung Danton lulusan Akademi saat ini memiliki kekurangan dalam, kemampuan bertempur, seperti kesigapan dan kecakapan memberi perintah saat situasi genting. Peltu Mar Sumariyanto Taruna saat ini kurang memiliki naluri yang baik dalam pertempuran. Hal ini dikarenakan naluri tempur Taruna jarang dilatih dan diasah. Peltu Mar Alim Mustofa Naluri tempur Taruna belum cukup baik karena materi yang diberikan masih kurang dan perlu ditambahkan lagi. Apa saja kendala yang di hadapi dalam pelaksanaan latihan perang lawan Kolonel Mar Rudi Harto Marpaung Tidak ada kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Latihan Lawan Gerilya. Hal ini dikarenakan penyelenggaraan latihan satuan yang dilakukan telah diorganisir dengan baik dalam program latihan satuan tiap tahunnya Peltu Mar Sumariyanto Pada saat pelaksanaan latihan, pelatih yang jumlahnya sedikit dihadapkan dengan daerah yang cukup luas dan siswa yang banyak menjadikan pengawasan dan pengendalian kepada siswa saat latihan menjadi sulit. Peltu Mar Alim Mustofa Kendala yang dihadapi pada saat latihan perang lawan gerilya adalah pemilihan lokasi yang jauh dari keramaian dikarenakan COVID19. Sehingga pelaksanaan latihan menjadi kurang maksimal MONEY Pertanyaan : Apakah dana yang diberikan dalam pelaksanaan Lattek sudah mencukupi untuk mendukung proses latihan? Narasumber : OPTIMALISASI LATIHAN PERANG LAWAN GERILYA TARUNA KORPS MARINIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENANGGULANGAN SEPARATISME Kolonel Mar Rudi Harto Marpaung Anggaran yang diberikan oleh satuan atas sudah sesuai dengan kebutuhan dalam pelaksanaan Dalam proses penyelenggaraan latihan, anggaran telah di susun secara terperinci sehingga tidak ada anggaran yang terbuang. Peltu Mar Sumariyanto Dalam pembagian anggaran Depmar selalu menyesuaikan dengan jumlah personil yang terlibat dan ikut dalam latihan. Sehingga anggaran yang diberikan sudah cukup Peltu Mar Alim Mustofa Untuk anggaran pelaksanaan latihan sudah cukup didukung dengan bantuan logistik dari satuan lain seperti KODIKMAR, sangat membantu dalam pelaksanaan latihan. MATERIAL Pertanyaan : Apakah dana yang diberikan dalam pelaksanaan Lattek sudah mencukupi untuk mendukung proses latihan? Narasumber : Kolonel Mar Rudi Harto Marpaung Dalam pelaksanaan latihan lawan gerilya pasukan beserta unsur komandan dibekali dengan sarana pra sarana untuk mendukung kemampuan prajurit seperti tiap unsur komandan yang dibekali dengan HT beserta anggota yang dibekali perlengkapan tempur untuk latihan Peltu Mar Sumariyanto Taruna sudah diberikan perlengkapan dan kelengkapan yang cukup dalam latihan,ditambah dengan perlengkapan yang dibawa perorangan. Tetapi memang perlengkapan yang digunakan perlengkapan yang usianya sudah lama. Peltu Mar Alim Mustofa Sarana pra sarana yang diberikan Depmar kepada Taruna untuk melaksanakan latihan sudah mencukupi dengan Taruna yang dibekali peralatan tempur perorangan sesuai dengan jumlah Taruna yang terlibat dalam latihan. Tiap Taruna dibekali dengan peta dan kompas untuk membantu Taruna dalam proses latihan. Memang untuk perlengkapan seperti peta yang digunakan Taruna saat ini masih AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 MACHINE Pertanyaan : Menurut Anda. Bagaimana perkembangan penggunaan teknologi dalam latihan perang lawan gerilya? Narasumber : Kolonel Mar Rudi Harto Marpaung Dalam pelaksanaan kegiatan latihan, sekarang Brigif 2 telah melakukan modernisasi seperti mulai digunakannya pesawat tanpa awak (Dron. dalam latihan. Peltu Mar Alim Mustofa Dari pihak Depmar belum ada secara resmi untuk mengembangkan teknologi mengenai latihan perang lawan gerilya,karena menurut saya Taruna dalam pelaksanaan latihan lawan gerilya masih dalam tahap pengenalan METODE Pertanyaan : Menurut anda bagaimana metode pembelajaran latihan perang lawan gerilya bagi Taruna? Narasumber : Peltu Mar Sumariyanto Dalam AAL pengenalan dalam pembelajaran harus dapat diterima dengan baik oleh Taruna, supaya pada saat latihan Taruna langsung dapat mempraktekkan teori yang diperoleh di Peltu Mar Alim Mustofa Materi lawan gerilya yang diajarkan kepada Taruna masih kurang. Karena berdasarkan pengalaman saya,yang dilaksanakan saat penugasan menghadapi separatis tidak hanya pelaksanaan patroli tetapi juga pelaksanaan operasi intelejen dan penggalangan kepada Sumber : Diolah oleh penulis . Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber yang telah dilaksanakan, maka didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pelaksanaan latihan perang lawan gerilya yang dilaksanakan. Berikut faktor-faktor yang didapat oleh penulis setelah melaksanakan wawancara dengan narasumber: Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendukung latihan perang lawan OPTIMALISASI LATIHAN PERANG LAWAN GERILYA TARUNA KORPS MARINIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENANGGULANGAN SEPARATISME Faktor penting latihan perang lawan gerilya dapat berhasil ialah mengenai SDM yang mencukupi sehingga peran yang dimainkan pada saat latihan dapat dijalankan secara SDM yang dimaksud pada latihan perang lawan gerilya adalah pelatih dan juga Dibutuhkan pelatih yang menguasai materi perang lawan gerilya dan setidaknya pernah melaksanakan satgas lawan gerilya di satuan. Dengan pengalaman yang telah dimiliki serta teori yang didapat diharapkan pelatih dapat memberikan materi serta contoh pelaksanaannya agar para siswa mengerti dan memahami tentang apa yang sedang dipelajari. Unsur pendukung juga tidak kalah penting fungsinya dalam pelaksanaan sebuah latihan. Unsur pendukung dalam pelaksanaan latihan berperan agar dalam pelaksanaan latihan segala logistik, perlengkapan , kebutuhan dan pengamanan latihan dapat di dukung dengan Dalam sebuah latihan tidak jarang terjadi sebuah kecelakaan atau hal-hal yang tidak diinginkan, sehingga jumlah unsur pendukung sangat diperlukan untuk mengatasi hal-hal Dengan penanganan yang cepat serta pendukungan yang baik latihan akan dapat berjalan dengan maksimal. Kurangnya sarana pra sarana dalam latihan perang lawan gerilya. Sarana dan pra sarana merupakan salah satu faktor penting yang mendukung jalannya Sarana dan pra sarana yang baik akan menunjang tingkat keberhasilan dan kelancaran Dalam pelaksanaan latihan perang lawan gerilya sarana dan pra sarana yang digunakan sudah cukup tua. Sehinga menyebabkan jalannya latihan terkadang tidak sesuai dengan yang direncanakan oleh penyelenggara latihan. Seperti peta yang digunakan masih menggunakan peta dari tahun 1985 sehingga pada saat pelaksanaan pengeplotan di peta terkadang untuk menentukan tanda medan yang ada di peta dan di medan sebenarnya sedikit berbeda dikarenakan perubahan yang terjadi selama bertambahnya tahun masih belum Selain peta juga terdapat kompas yang penggunaannya Belum digunakannya teknologi yang modern dalam pelaksanaan latihan perang lawan Dengan berkembangnya teknologi yang pesat di era globalisasi sekarang, menyebabkan ikut berkembangnya taktik perang lawan gerilya. Dimasukkannya teknlogi dalam sebuah taktik perang lawan gerilya inilah yang menjadi alasan banyak negara-negara maju di dunia yang menggabungkan penggunaan teknologi serta taktik perang lawan gerilya agar dapat meningkatkan keberhasilan dalam pelaksanaan tugas operasi. Dalam latihan perang lawan gerilya saat ini. Akademi Angkatan Laut masih belum menggunakan teknologi modern dalam latihan perang lawan gerilya hal tersebut menyebabkan taktik yang digunakan tidak berkembang dan hanya berfokus pada penggunaan taktik yang sama secara terus-menerus. AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 Belum ditetapkannya materi perang lawan gerilya sebagai materi kuliah berdiri sendiri Materi Perang lawan Gerilya termasuk dalam Materi Tikkontu. Namun dalam materi Tikkontu masih dibagi menjadi beberapa operasi, yaitu operasi penyeberangan sungai, operasi serangan hutan, operasi serangan gunung, operasi daerah hutan berpenduduk, operasi Pungsihpung, operasi Pungdahmah, dan operasi pertempuran perkotaan, serangan perkubuan. Sehingga Materi perang lawan Gerilya dalam materi Tikkontu tidak terlalu detail pembahasanya karena juga harus membahas operasi yang lainnya. Hal ini menyebabkan penyampaian materi mengenai latihan perang lawan gerilya oleh Taruna Korps Marinir tidak maksimal sehingga penguasaan materi tidak sesuai yang diharapkan. Dalam penyampaian materi perang lawan gerilya Taruna mendapat kesulitan dalam menerima materi tersebut karena tidak adanya praktek sehingga dalam pelaksanaan Lattek Tikkontu banyak yang tidak paham mengenai perang lawan gerilya. Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan analisis data yang telah dilaksanakan, bila dikaitkan dengan teori manajemen yang digunakan sebagai panduan penelitian didapatkan hasil sebagai berikut: Man Dari hasil penelitian, yang disampaikan oleh Danbrigif 2 sejalan dengan yang disampaikan oleh pelatih Prodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat. Naluri tempur yang dimiliki Taruna dinilai masih kurang disebabkan jarangnya dilaksanakan latihan untuk mengasah naluri tempur yang dimilik Taruna. Taruna hanya diberikan materi pada saat pelajaran kelas di tingkat tertentu saja dan diaplikasikan pada saat Lattek tertentu saja. Hal tersebut yang menjadi penyebab kemampuan naluri tempur Taruna menurun. Karena setelah pelaksanaan Lattek Taruna tidak pernah mempelajari kembali materi yang telah dilatihkan sehingga menyebabkan kemampuan yang telah didapat pada saat Lattek menurun bersamaan dengan naluri tempur yang telah dilatih. Kendala selanjutnya Taruna yang belum memahami materi yang disampaikan dan dilaksanakan dilapangan. Taruna belum memahami materi taktis yang dilatihkan di lapangan hal ini dikarenakan kondisi beserta situasi tempat latihan dilaksanakan. Pemilihan tempat latihan yang jauh dari keramaian dengan tujuan untuk menghindari pandemi virus COVID 19. Akibatnya adalah dengan dipilihnya tempat yang jauh dari keramaian seperti di hutan menyebabkan para siswa hanya dapat melaksanakan latihan dengan situasi seadanya menyesuaikan dengan tempat latihan yang digunakan. OPTIMALISASI LATIHAN PERANG LAWAN GERILYA TARUNA KORPS MARINIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENANGGULANGAN SEPARATISME Selain itu, faktor lain yang menjadi kendala menurut Pernyataan Peltu Mar Sumariyanto pada saat pelaksanaan wawancara adalah mengenai kurangnya jumlah personil pendukung serta pelatih dalam pelaksanaan latihan. Kurangnya jumlah personil pelatih menyebabkan pengawasan terhadap siswa menjadi terbatas. Money Menurut data hasil wawancara yang dilaksanakan dengan Peltu Mar Alim Mustofa dan Peltu Mar Sumariyanto menyatakan bahwa anggaran yang digunakan dalam pelaksanaan latihan sudah mencukupi dibantu dengan dukungan yang diberikan oleh Komando Pendidikan Marinir (KODIKMAR) sebagai penyelenggara Lattek Dikko. Prodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat juga telah menganggarkan jumlah pengeluaran dana sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan saat latihan beserta jumlah personil yang terlibat latihan seperti Perwira staf latihan. Taruna, pelatih dan pendukung. Hal tersebut juga sejalan dengan pernyataan dari Danbrigif 2 Mar Kolonel Mar Rudi Harto Marpaung, beliau menyatakan anggaran yang dibutuhkan dalam pelaksanaan suatu latihan satuan sudah melalui perencanaan dan penganggaran terlebih dahulu, sehingga dalam pelaksanaan latihan yang dilaksanakan oleh satuan tidak ada dana yang kurang dalam penggunaannya. Dalam pelaksanaan latihan perang lawan gerilya dana latihan merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan latihan dapat berlangsung dengan baik atau tidak. Dengan dana dukungan serta pengelolaan yang baik menyebabkan latihan yang dilaksanakan dapat berjalan baik. Hal ini disebabkan karena dengan pengelolaan yang baik maka dana yang digunakan dapat dimanfaatkan untuk membeli sarana dan prasarana serta dukungan logistik yang memadai. Materials Dari hasil penelitian, yang disampaikan oleh Danbrigif 2 Mar sejalan dengan yang disampaikan oleh pelatih Depmar. Dalam pelaksanaan wawancara Danbrigif 2 Mar menyampaikan bahwa dalam latihan perang lawan gerilya di satuan, tiap komandan unsur dibekali dengan HT beserta tiap anggotanya pun juga dibekali dengan perlengkapan tempur Wawancara dengan pelatih Depmar juga menyampaikan bahwa perlengkapan Taruna yang digunakan saat latihan sudah mencukupi sesuai dengan jumlah personil yang terlibat. Dalam pelaksanaannya peng- gunaan sarana dan prasarana dalam latihan perang lawan gerilya masih belum efektif. Hal ini dikarenakan perlengkapan yang diberikan seperti peta yang digunakan merupakan peta lama yang gambar di peta dan di medan sudah jauh berbeda, sehingga sering mengakibatkan kesalahan dalam memperkirakan keadaan medan. Selain itu kompas yang digunakan juga kebanyakan sudah rusak bagian kecilnya seperti garis hitam AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 yang sudah hilang dan prisma kompas yang sudah buram. Hal ini menyulitkan siswa dalam penggunaan pada saat kompas siang dikarenakan tidak dapat melihat jelas sasaran tembakan Machine Perkembangan zaman menyebab kan ikut berkembangnya teknologi tidak terkecuali teknologi mesin perang. Unsur ini berkaitan dengan penggunaan teknologi yang digunakan pada saat pelaksanaan latihan. Menurut wawancara yang dilaksanakan kepada Danbrigif 2 Mar, beliau menyampaikan bahwa dalam jajaran Brigif 2 Mar saat ini sudah melaksanakan modernisasi dalam pelaksanaan latihan seperti mulai digunakannya pesawat tanpa awak (Dron. dalam pelaksanaan latihan. Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dengan Peltu Mar Alim Mustofa, beliau menyampaikan bahwa dari pihak Depmar belum ada secara resmi untuk mengembangkan teknologi mengenai latihan perang lawan gerilya, karena Taruna dalam pelaksanaan latihan lawan gerilya masih dalam tahap pengenalan. Kendala yang terjadi dalam pelaksanaan latihan Taruna saat melaksanakan latihan perang lawan gerilya berupa minimnya teknologi yang digunakan dalam pelaksanaan latihan. Dihadapkan dengan masalah yang akan dihadapi oleh bangsa yakni perkembangan teknologi persenjataan perang yang dimiliki oleh negara luar tidak menutup kemungkinan bahwa para separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia yang akan menggunakan teknologi-teknologi yang sudah maju sehingga perlu ditingkatkannya teknologi yang dimiliki oleh TNI termasuk Korps Marinir. Metode Menurut data hasil wawancara yang dilaksanakan dengan Peltu Mar Alim Mustofa menyatakan bahwa materi yang diterima Taruna sekarang masih dinilai kurang. Dikarenakan materi yang diberika oleh pelatih didasarkan pada buku Paket Instruksi (PI) Depmar, sedangkan penerapan pada saat penugasan seperti yang dialami oleh Peltu Mar Alim Mustofa, pelaksanaan operasi lawan gerilya tidak hanya pelaksanaan patroli namun juga dilaksanakan operasi intelejen dan juga operasi penggalangan terhadap masyarakat. Peltu Mar Sumariyanto juga menyatakan bahwa pemberian materi di kelas kepada Taruna harus dimaksimalkan agar pada saat pelaksanaan latihan tidak perlu untuk mengulangi materi yang sudah diajarkan di kelas dan hanya perlu mempraktekkan saja. Kurangnya materi yang terkandung dalam buku paket instruksi Prodi Manajemen Pertahanan Matra Laut Aspek Darat merupakan salah satu kendala yang dialami oleh Taruna. Dalam buku PI hanya dijelaskan mengenai pengenalan lawan gerilya serta pembagian daerah lawan gerilya. Yang sebenarnya pada pelaksanaan perang lawan gerilya dilaksanakan melalui OPTIMALISASI LATIHAN PERANG LAWAN GERILYA TARUNA KORPS MARINIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENANGGULANGAN SEPARATISME beberapa tahapan dalam penyelesaian sasaran gerilya. Taktik yang digunakan dalam operasi lawan gerilya pun beragam sesuai dengan kondisi medan dan situasi masyarakat disekitar daerah operasi. Sebagai seorang calon Danton Marinir yang siap mengatasi GSB. Taruna dilatih dan di didik serta disiapkan dengan dilaksanakannya latihan perang lawan gerilya. Cara untuk meningkatkan pemahaman serta kemampuan Taruna Korps Marnir untuk mengatasi gerakan separatisme adalah: Dengan memungkinkan pengawasan serta pengendalian terhadap siswa jauh lebih terawasi, serta dengan ditambahnya jumlah pendukung dalam latihan bertujuan agar dapat mempercepat proses penanganan atau evakuasi apabila terjadi kecelakaan atau masalah. Dengan memungkinkan kendala-kendala yang dihadapi pada saat proses latihan perang lawan gerilya berlangsung dapat dikurangi dan diatasi. Sarana prasarana yang harus diupgrade antara lain: Peta Peta yang digunakan dalam pelaksanaan latihan perang lawan gerilya saat ini memiliki banyak kekurangan diantaranya banyaknya medan di peta yang tidak sesuai dengan medan Hal ini disebabkan karena perubahan medan sebenarnya belum tercatat atau belum diperbarui. Selain tanda medan yang berbeda, peta yang digunakan sejak lama sudah mulai kusut dan menyebabkan ketidaktepatan koordinat geografi sehingga menyulitkan untuk menentukan koordinat di peta. Kompas Kompas merupakan alat yang penting dalam pelaksanaan operasi. Kompas digunakan untuk menentukan arah serta tujuan dalam pelaksanaan operasi. Kompas yang digunakan saat latihan saat ini memiliki kekurangan dikarenakan usia pakainya yang sudah lama. Karena usia pakai yang sudah lama inilah menyebabkan kompas yang digunakan mulai rusak seperti hilangnya garis tengah hitam dan kotornya kaca prisma yang digunakan untuk melihat sudut Teropong Teropong adalah salah satu peralatan penting yang wajib dibawa dalam sebuah pelaksanaan operasi. Dengan menggunakan teropong kita dapat menentukan jarak antara diri sendiri atau sasaran. Dengan menggunakan teropong juga kita dapat mengetahui sasaran yang jaraknya jauh yang tidak dapat dilihat oleh jarak pandang mata biasa. Teropong yang AMPHIBIOUS JOURNAL-VOL. NO. 1 JUNI 2024 e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 digunakan dalam latihan lawan gerilya memiliki kekurangan, selain jumlahnya yang sedikit, teropong yang digunakan usia pakainya juga sudah cukup lama. Kurangnya materi perang lawan gerilya yang diberikan kepada Taruna pada saat pembelajaran di kelas dan kurangnya materi yang terkandung dalam buku paket instruksi perang lawan gerilya dari Depmar, dihadapkan dengan permasalahan yang kompleks di lapangan, maka diperlukan pembentukan mata kuliah tersendiri tentang operasi lawan gerilya sehingga Taruna dapat lebih banyak memahami taktik perang lawan gerilya. Karena dalam pelaksanaan pembelajaran di AAL, materi Tikkontu hanya diberikan selama 2 SKS atau 32 jam pelajaran. Dengan 32 jam pelajaran tersebut yang dibagi kembali dengan beberapa Dengan dibuatnya materi kuliah berdiri sendiri sebanyak 1SKS atau 16 jampel dengan perincian sebagai berikut : Tabel 4. 3 Rencana Program Pembelajaran MATERI JAM PELAJARAN Operasi Intelejen 4 Jampel Operasi Pengamanan 4 Jampel Operasi Teritorial 4 Jampel Operasi Informasi 4 Jampel JUMLAH 16 jampel Sumber : Diolah Oleh Penulis . Belum adanya penggunaan teknologi modern yang disediakan dalam latihan perang lawan gerilya menimbulkan ketertinggalan teknologi pada tentara Indonesia. Penggunaan teknologi modern yang dilaksanakan dalam program latihan perang lawan gerilya akan meningkatkan pengetahuan serta wawasan yang dimiliki oleh para pelaku latihan dalam hal ini Taruna. Seperti contohnya dengan menggunakan CR-UAV (Close Range Unmaned Aerial Vehicl. jenis CR 40 untuk operasi intelejen dalam operasi perang lawan gerilya. Jenis UAV ini untuk misi taktis pemantauan, dengan bentang sayap 4 m dan dapat dikemas dengan bentuk yang kecil yang memudahkan untuk dibawa ke segala medan. Dengan ketahanan selama 6 jam UAV ini dapat digunakan untuk melaksanakan misi pemantauan jarak dekat dari laut ke darat atau dari darat ke darat. OPTIMALISASI LATIHAN PERANG LAWAN GERILYA TARUNA KORPS MARINIR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENANGGULANGAN SEPARATISME Gambar 4. 9 CR 40-UAV Sumber: https://w. id/project/uav-cr-40-cr-15/ PENUTUP Kesimpulan Untuk mendidik Taruna Koprs Marinir sehingga menjadi calon Danton yang Handal dan Professional guna melaksanakan Tugas Pokok Korps Marinir sesuai dengan Perpres NO. 66 tahun 2019. Selain kemampuan fisik, seorang Danton juga harus memiliki kemampuan penanggulangan gerakan separatisme dalam operasi perang lawan gerilya. Pelaksanaan latihan perang lawan gerilya sudah baik, akan tetapi masih ada beberapa kekurangan sebagai Dalam pelaksanaan latihan perang lawan gerilya, peralatan yang digunakan pada saat latihan merupakan peralatan yang usianya sudah cukup tua dan juga kebanyakan sudah tidak layak dipakai dalam latihan. Jumlah personel pelatih dan pendukung yang kurang dikarenakan lokasi wilayah yang digunakan dalam latihan perang lawan gerilya cukup luas. Selain kondisi wilayah yang luas, kondisi siswa yang tidak sedikit juga menyulitkan pengawasan pelatih serta pendukung dalam latihan perang lawan gerilya. Masih belum adanya modernisasi dalam penggunaan teknologi saat latihan perang lawan gerilya disandingkan dengan perkembangan jaman yang pesat tentang perkembangan teknologi. Menyebabkan kekuatan tempur yang dimiliki oleh Indonesia tertinggal. Dengan digunakannya teknologi akan mempermudah pelaksanaan operasi lawan gerilya maupun latihan perang lawan gerilya. Materi yang berada di buku PI Taruna dianggap masih sangat kurang. Dalam buku PI Taruna Korps Marinir tidak menjelaskan bagaimana operasi lawan gerilya dilaksanakan, dan tahap-tahap apa saja yang perlu dilaksanakan dalam suatu operasi lawan gerilya. Dalam buku paket instruksi hanya dijelaskan mengenai pembagian daerah lawan gerilya dan hal-hal penting yang dijadikan patokan sebuah operasi lawan gerilya dilaksanakan. e-ISSN: x-x. p-ISSN: x-x. Hal 72-95 Saran Untuk mengatasi permasalahan yang dialami oleh Taruna dalam latihan Perang Lawan Gerilya, maka Peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut: Pembaruan Peralatan dan Perlengkapan Dengan dukungan perlengkapan dan peralatan yang diperbarui maka proses latihan perang lawan gerilya akan lebih maksimal. Hal ini dikarenakan dengan peralatan yang baik maka kemampuan personil pun akan dapat ditingkatkan. Penambahan Pelatih Dan Pendukung Penambahan jumlah pelatih bertujuan agar dalam pelaksanaan latihan perang lawan gerilya siswa dapat dipantau secara menyeluruh. Dengan cara Meningkatkan jumlah pelatih yang mengajarkan Taruna serta menambah jumlah personil Bawah Kendali Operasi (BKO) yang diambil dari satuan Kolat (Komando latiha. akan mempermudah melaksanakan pengamanan kepada siswa serta penanganan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Penggunaan teknologi modern dalam latihan Pada saat pelaksanaan latihan perang lawan gerilya, penggunaan teknologi yang modern akan dapat mempermudah siswa atau pelaku untuk menghancurkan pasukan gerilya. Teknologi yang modern juga dapat digunakan untuk melindungi daerah konsolidasi pihak lawan gerilya agar tidak diketahui dan dilacak oleh musuh. Pembentukan Mata Kuliah Perang Lawan Gerilya Penambahan jumlah materi berupa materi taktik dan tahapan penanggulangan gerilya bertujuan agar Taruna dapat lebih memahami materi yang diterima serta dapat mempraktekkan materi yang telah dipelajari. Sehingga Taruna setelah lulus menjadi komandan peleton telah memiliki bekal serta sudah siap untuk diberikan tugas untuk mengatasi GSB. DAFTAR PUSTAKA