Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 115 - 126 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. Pengaruh Lingkungan Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Anak Pada Mata Pelajaran PPKn Siti Sri Rahayu1. Sujarwo2 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh lingkungan sekolah terhadap pembentukan karakter anak pada mata pelajaran PPKn kelas IV di SDN 104266 Pematang Sijonam. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 36 orang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik sampling total dikarenakan populasi pada penelitian ini hanya 36 orang. Instrumen pengumpulan data dengan menggunakan angket, observasi dan dokumentasi. Uji hipotesis menggunakan koefisien korelasi . dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan adanya Pengaruh Lingkungan Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Anak Pada Mata Pelajaran PPKn Kelas IV di SDN 104266 Pematang Sijonam. Hal ini ditunjukkan thitung > ttabel . 105 > 1,. dan p = 0,000. Selanjutnya berdasarkan hasil uji pengaruh variabel nilai R Square sebesar 0,949 . ,9%). Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model regresi, dimana variabel independent . ingkungan sekola. memiliki pengaruh terhadap variabel dependent . embentukan karakte. sebesar 94,9%. Sedangkan 5,1 % dipengaruhi oleh faktor lainnya. Kata Kunci: Lingkungan Sekolah. Pembentukan Karakter. Mapel PPKn Abstract This research aims to determine the influence of the school environment on the formation of children's character in class IV PPKn subjects at SDN 104266 Pematang Sijonam. This type of research is quantitative research with a descriptive approach. The sample in this study amounted to 36 The sampling technique used a total sampling technique because the population in this study was only 36 people. Data collection instruments using questionnaires, observation and documentation. Hypothesis testing uses the correlation coefficient . with a significance level of 5%. The results of the research show that there is an influence of the school environment on the formation of children's character in the Class IV PPKn subject at SDN 104266 Pematang Sijonam. This is shown by tcount > ttable . ,105 > 1. and p = 0. Furthermore, based on the results of the variable influence test, the R Square value is 0. 9%). This shows that by using a regression model, the independent variable . chool environmen. has an influence on the dependent variable . haracter formatio. Meanwhile, 5. 1% is influenced by other factors. Keywords: School Environment. Character Formation. PPKn Subject PENDAHULUAN Pendidikan adalah usaha sadar untuk mempengaruhi peserta didik agar mampu mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki Universiats Muslim Nusantara Al-Washliyah, sitisrirahayu88990@gmail. Universiats Muslim Nusantara Al-Washliyah, sujarwo@umnaw. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 115 - 126 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. agar mampu menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Potensi yang yang ada dalam diri peserta didik ada yang bersifat positif maupun negatif. Potensi mana yang akan berkembang tergantung dari stimulus atau lingkungan yang Oleh sebab itu diciptakanlah suatu lingkungan yang memungkinkan untuk menstimulus potensi-potensi positif yang dimiliki peserta didik agar dapat berkembang dan teraktualisasi dalam tingkah laku yang positif, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik dalam bentuk Pendidikan (Utama, 2011: . Hal ini sejalan dengan pengertian pendidikan dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 butir 1, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Setiawati, 2017: . Pemerintah telah menetapkan tujuan pendidikan nasional yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 sebagai berikut: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Sani & Kadri, 2016: . Jadi Lingkungan pendidikan adalah tempat seseorang memperoleh pendidikan secara langsung atau tidak langsung. Oleh karena itu, lingkungan pendidikan ada yang bersifat sosialdan material. Lingkungan pendidikan secara garis besar menurut Ki Hajar Dewantara dibagi menjadi tiga yaitu yang disebut dengan tri pusat pendidikan, yaitu lingkungan keluarga,sekolah dan masyarakat (Kurniawan: 2015: . Lingkungan sekolah merupakan lingkungan yang berhubungan langsung antara siswa dengan pendidik dan juga tenaga kependidikan sehingga dari pihak sekolah dapat memperbaiki secara terus menerus yang nantinya tercipta lingkungan yang kondusif dan mempengaruhi mutu atau kualitas kegiatan belajar lingkungan sekolah yang efektif mencakup dua hal, yaitu lingkungan fisik dan non fisik (Darmadi, 2016: . Dalam lingukungan sekolah, siswa merupakan subjek dan objek yang memerlukan bimbingan dari orang lain untuk mengarahkan potensi yang dimilikinya serta bimbingannya menuju kedewasaan yang berkarater. Dengan pembentukan karakter secara terus menerus diharapkan dapat membentuk siswa yang berkarakter. Siswa yang mempunyai karakter yang baik mampumenjadi norma-norma dan nilai positif yang mempengaruhi pendidikan siswa tersebut (Sihan, 2017: . Dampak globalisasi yang terjadi saat ini membawa masyarakat Indonesia melupakan pendidikan karakter bangsa, padahal pendidikan karakter adalah suatu pondasi bangsa yang sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini kepada anak (Muslich, 2011: . Akibatnya apabila sejak dini tidak mengajarkan betapa pentingnya pendidikan karakter maka terjadilah fenomena seperti yang di lihat akhir-akhir ini banyak peristiwa seperti perkelahian dikalangan remaja, pencurian, pelanggaran lalu lintas, dan tindakan asusila yang dilakukan khususnya siswa sekolah menengah atas (Ansari & Sujarwo, 2. Tindakan tersebut tentunya Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 115 - 126 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. sangat tidak diinginkan oleh masyarakat dan pemerintah. Terdapat sepuluh tanda perilaku manusia yang menuju kearah kehancuran suatu bangsa, yaitu semakin meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, ketidak jujuran, rasa tidak hormat kepada orangtua, guru dan pemimpin, pengaruh adanya grup terhadap tindakan kekerasan, meningkatnya kecurigaan dan kebenciaan, penggunnaan bahasa yang memburuk, penurunan etos kerja, menurunnya rasa tanggung jawab,dan meningginya perilaku merusak diri (Cahyandari, 2012: . Oleh karena itu apabila pendidik tidak menanamkan karakter yang baik sejak dini kepada peserta didik maka akan terjadi hal-hal seperti yang diuraikan diatas. Prilaku anak diera globalisasi ini semakin buruk dikarenakan pergaulan yang semakin bebas dan tak terkontrol, semakin banyaknya tindakan kriminal dan kejahatan yang dilakukan oleh anak usia sekolah, dikarenakan semakin kaburnya norma moral sehingga diperlukan pendidikan yang dapat dijadikan wadah sebagai pembentukan karakter siswa dan sebagai sarana pendidikan formal yang menitik beratkan pada Pendidikan (Sitepu & Lestari, 2. Pendidikan karakter pada usia sekolah perlu secara sadar dirancang dan dikelolah sedemikian rupa sehingga dalam proses pembelajarannya terjadi pula proses pembentukan sikap dan perilaku yang baik. Sebagai upaya mendukung pelaksanaan pendidikan karakter dapat dilakukan dengan cara kegiatan belajar baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler (Sofyan, 2. Pola pembentukan karakter anak pada usia sekolah dasar yaitu menghargai pendapatnya dan jangan menyalahkan, ajaklah dialog logika dan pengalaman, pujilah hal-hal yang baik dari penampilannya, bantulah dengan kalimat-kalimat positif untuk bisa tampil lebih baik lagi (Misnatun: 2016: . Faktor yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan Pembentukan karakter di lingkungan sekolah sangat diperlukan, karena seorang anak memiliki waktu yang cukup banyak untuk berada di lingkungan sekolah atau berada di luar lingkungan sekolah bersama teman-teman satu sekolah (Niawati & Sujarwo, 2. Sekolah adalah tempat terjadinya proses belajar mengajar yang tentunya terjadi di lingkungan sekolah itu sendiri, kegiatan serta kebiasaan yang baik sangat berpengaruh pada karakter anak apalagi kebiasaan itu dilakukan secara rutin. Untuk dapat menarik keinginan anak dalam menumbuhkan minat bacanya adalah dengan cara menggunakan media (Nurjannah & Lestari, 2. Dalam pendidikan formal di lingkungan sekolah kebiasaan-kebiasaan tersebut akan membentuk karakter, watak serta potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berahlak mulia, sehat, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Dwi & Sujarwo, 2. Hal inilah yang peneliti temukan dalam observasi awal dan wawancara dengan beberapa guru di SDN 104266 Pematang Sijonam. Dari hasil wawancara tersebut, menunjukan bahwa masih terdapat siswa yang berperilaku kurang berkarakter dan bermoral. Bahkan menurut salah satu guru disekolah tersebut masih banyak siswa yang malas beribadah, berbohong dan kurang peduli Disamping itu, siswa juga kurang sopan terhadap guru dan staf yang lain baik dari perkataan maupun perilaku mereka seperti makan ketika guru menjelaskan pelajaran dan guru belum memberikan materi tentang karakter yang mendalam melalui pelajaran PPKn kepada siswanya. Pembentukan karakter akan dapat tercapai dengan adanya kerjasama guru dengan siswa. Guru yang Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 115 - 126 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. memberikan contoh yang baik dan mengontrol siswa dalam pembelajaran berdampak pada keberhasilan pembentukan karakter (Masdar & Lestari, 2. Pada mata pelajaran PPKn banyak materi-materi tentang karakter yang dapat ditanamkan pada siswa. Anak-anak yang berada di lingkungan sekolah pada saat mereka kita ajarkan mata pelajaran PPKn tentunya kita bisa menanamkan kepada mereka bagaimana cara mereka agar bias memfilter diri mereka untuk tidak terjerumus kedalam hal-hal yang bisa merugikan diri mereka KAJIAN TEORI Lingkungan Sekolah Lingkungan sekolah terdiri dari dua kata yaitu, lingkungan dan Menurut kamus besar bahasa indonesia lingkungan adalah Audaerah . awasan dan sebagainy. yang termasuk didalamnyaAy. Pengertian lingkungan sekolah adalah wahana kegiatan dan proses pendidikan Di sekolah diadakan kegiatan pendidikan, pembelajaran dan latihan . uAou, 2004: . Sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melakasanakan pendidikan, seperti yang dikemukakan bahwa karena kemajuan zaman keluarga tidak mungkin lagi memenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi generasi muda terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Darajat . 8: . AuLingkungan adalah seagala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa Ia adalah seluruh yang ada, baik manusia maupun benda buatan manusia, atau alam yang bergerak atau tidak bergerak. Kejadiankejadian atau hal-hal yang mempunyai hubungan dengan seseorang Au. Jadi, menurut penulis dapat disimpulkan bahwa lingkungan sekolah adalah seluruh komponen atau bagian yang terdapat di dalam sekolah dan seluruh komponen bagian tersebut ikut berpengaruh serta menunjang dalam proses pencapaian tujuan pendidikan yang ada di sekolah. Secara garis besar lingkungan sekolah sangatlah berpengaruh terhadap sebuah proses pembelajaran bagi anak didik, karena bagaimanapun lingkungan sekitar yang dengan sengaja di gunakan sebagai alat dalam proses pendidikan. Menurut El-Khanza . 1: . peranan sekolah dalam pendidikan yang merupakan tingkatan kedua setelah pendidikan dalam keluarga. Peranan sekolah yakni mendidik dan mengajar serta memperbaiki dan memperhalus tungkah laku anak didik yang dibawa dari keluarganya. Peran sebagai seorang guru yang sebagai pendidik harus memikul pertanggung jawaban untuk mendidik. Guru yang ada di lingkungan sekolah merupakan pendidik formal secara lansunng menerima kepercayaan dari sekolah maupun masyarakat untuk memangku tanggungjawab pendidikan. Selain dari guru, sekolah juga butuh adanya alat sebagai pelengkap berkembangnya Pendidikan (Asih & Sujarwo, 2. Rahmawati . 4: . , menyatakan bahwa fungsi dan peranan sekolah sebagai lembaga yang membantu lingkungan keluarga, maka sekolah bertugas mendidik dan mengajar serta memperbaiki tingkah laku anak didik yang dibawa dari keluarganya, dilain sisi juga mempunyai fungsi dalam mengembangkan kecerdasan, pikiran, dan ilmu pengetahuan. Sekolah adalah tempat mendidik dan mengajar anak- anak. Sekolah mempunyai tatatertib dan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh murid- Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 115 - 126 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. Sekolah didirikan dengan tujuan menarik masyarakat ketingkatan yang lebih tinggi (Hijjah & Bahri, 2. Tujuan sekolah melaksanakan dasar yang pokok yaitu, mendidik semua anak-anak dengan pendidikan yang sebenarnya, sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat dikemudian hari. Disiplin siswa yang bersifat kehadiran adalah suatu cara yang dilakukan oleh guru untuk membekali siswa agar selalu taat terhadap disiplin (Siregar & Sujarwo. Apabila anggota itu buruk dan lemah, niscaya masyarakan akan lemah dan buruk pula. Maka kemajuan masyarakat tidak akan tercapai, kecuali dengan baiknya sekolah-sekolah rakyat. Sekolah merupakan waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah aadalah kegiatan diwaktu luang bagi anak-anak ditengah tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak- anak dan remaja (Zein & Lestari, 2. Kegiatan dalam waktu luang itu adalah mempelajari cara berhitung, cara membaca huruf dan menegnal tentang moral . udi pekert. dan estetika . Untuk mendampingi dalam kegiatan sekolah anak-anak didampingi oleh orang ahli dan mengerti tentang psikologi anak, sehingga memberikan kesempatan yang sebesar- besarnya kepada anak untuk menciptakan dunianya melalui berbagai pelajaran diatas. Sedangkan tugas sekolah ialah mempersiapkan anak-anak untuk mengisi kebutuhan masyarakat tempat tinggalnya dan untuk menempuh kehidupan yang sempurna, sehingga mereka mendapat kebahagiaan bersama Pembentukan Karakter Pendidikan tidak hanya mendidik para peserta didikya untuk menjadi manusia yang cerdas, tetapi juga membangun kepribadiannya agar berakhlak mulia. Secara umum, pendidikan karakter sesungguhnya dibutuhkan sejak anak berusia dini (Butar, 2. Apabila karakter seseorang sudah terbentuk sejak usia dini, ketika dewasa tidak akan mudah berubah meski godaan atau rayuan datang begitu menggiurkan. Dengan adanya pendidikan karakter semenjak usia dini, diharapkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan yang akhir-akhir ini sering menjadi keprihatinan bersama dapat diatasi (Azzet, 2011: . Karakter merupakan prilaku baik dalam menjalankan peran dan fungsinya sesuai amanah dan tanggung jawab. Karakter dapat terwujud hanya dengan praktek dan latihan. Tanpa praktek, sifat baik masih jadi nilai. Menurut Sudewo . 1: . Kata karakter memiliki banyak arti, tapi pada intinya menunjukkan kualitas kepribadian seseorang (Safaruddin, 2015: Karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis dan kompleksitas seseorang, suatu kelompok atau bangsa. Robert Marine mengartikan karakter sebagai suatu gabungan yang samar-samar antara sikap, prilaku bawaan dan kemampuan yang membangun kepribadian seseorang. Menurut Kurniawan . karakter mengacu pada serangkaian sikap . , perilaku . , motivasi . , dan keterampilan . , juga meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan hal yang terbaik, kapsitas intelektual seperti kritis dan alasan moral, perilaku seperti jujur dan bertanggung jawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 115 - 126 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. dalam situasi penuh ketidakadilan, kecakapan interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang erinteraksi secara efetif dalam berbagai keadaan, dan komitmen untuk berkontribusi dengan komunitas dan masyarakat (Kurniawan, 2013: . Tegasnya karakter adalah kualitas pribadi yang baik, dalam arti mengetahui dan menghayati kebaikan, mau berbuat baik dan menampilkan kebaikan sebagai manifestasi kesadaran mendalam tentang nilai kebenaran dan kebaikan dalam kehidupan yang baik (Safaruddin, 2015: . Pendidikan karakter adalah proses yang dilaksanakan oleh penanggung jawab pendidikan untuk membentuk keperibadian peserta didik yang berkarakter. Karakter dalam kamus bahasa Indonesia menyebutkan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, tabiat, watak. Dalam kamus psikologi disebutkan bahwa karakter adalah Character a consisten and enduring property or quality by means of which of person, object, or event can be identified. Tiga domain pendidikan yakni pembentukan kognitif, afektif, psikomotor. Kognitif dibentuk lewat transfer ilmu pengetahuan, afektif dibentuk melalui transfer nilai-nilai . sedangkan keterampilan . dibentuk melalui transfer skill. Di antara tiga hal ini yang paling terkait dengan karakter adalah transfer nilai . tanpa mengabaikan bahwa keterkaitan pembentukan kognitif dan psikomotor (Daulay & Pasa, 2016: . Dono Baswardono (Daulay & Pasa, 2016: . menyatakan bahwa nilai-nilai karakter ada dua macam, yakni nilai-nilai karakter inti dan nilai-nilai karakter turunan. Nilai-nilai karakter inti bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman tanpa ada perubahan, sedangkan nilai-nilai karakter turunan sifatnya lebih fleksibel sesuai dengan konteks budaya lokal. Proses pembentukan karakter pada diri seseorang dipengaruhi oleh faktor- faktor khas yang ada dalam diri orang yang bersangkutan, dan ini sering disebut dengan faktor endogen dan faktor lingkungan . yang mana antara keduanya saling terjadi interaksi (Pertiwi & Sujarwo, 2. Segala sesuatu yang berada di dalam pengaruh kita, baik sebagai individu maupun sebagian dari masyarakat adalah faktor lingkungan. Jadi usaha dalam pengembangan karakter pada tataran individu dan masyarakat dipengaruhi oleh lingkungan (Aulia & Sujarwo, 2. Pada dasarnya karakter adalah kualitas pribadi seseorang yng terbentuk melalui proses belajar baik secara formal maupun informal (Putra & Dina, 2. Jadi pendidikan karakter dalam arti luas pada dasarnya adalah menyiapkan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan interaksi di antara fokus khas yang ada dalam diri seseorang dan lingkungannya memberikan kontribusi maksimal untuk menguatkan dan mengembangkan kebajikan yang ada dalam diri orang yang bersangkutan. Secara normatif pembentukan karakter yang baik memerlukan kualitas lingkungan yang baik Pembelajaran PPKn Hakikat dari PPKn adalah Kesadaran sebagai warga negara . ivic literac. Komunikasi sosial kultural kewarganegaraan . ivic engagemen. Kemampuan berpartisipasi sebagai warga negara . ivic skill and participatio. Penalaran kewarganegaraan . ivic knowledg. Partisipasi kewarga negaraan secara bertanggung jawab . ivic participation and civic Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 115 - 126 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. Dalam proses pembelajaran, tenaga pendidik sangat membutuhkan media sebagai alat penunjang proses pembelajaran berlangsung (Lestari, 2. Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran yg memang mengalami perubahan nama dengan sangat cepat karena mata pelajaran tersebut memang rentang terhadap perubahan politik, namun ironisnya nama perubahan berkali kali, tetapi secara umum serta pendekatan cara penyampaian kebanyakan tidak berubah. Tujuan Pembelajaran PPKn berdasarkan Krikulum 2013: menampilkan karakter yang mencerminkan penghayatan, pemahaman, dan pengamalan nilai dan moral Pancasila secara personal dan sosial. memiliki komitmen konstitusional yang ditopang oleh sikap positifpe mahaman utuh tentang UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif serta memiliki semangat kebangsaan serta cinta tanah air yang dijiwai oleh nilai- nilai Pancasila,Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan . berpartisipasi secara aktif, cerdas, dan bertanggung jawab sebagaiangg ota masyarakat, tunas bangsa, dan warga negara sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang hidup bersama dalam berbagai tatanan sosial Budaya. Menurut mulyasa . 2: . menyataka bahwa tujuan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah untuk mengembangkan kemampuan kemampuan sbb: Berfikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab serta bertindak cerdas dalam kegiatan kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara. Berkembang secara positif dan demokratif untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter karakter masyarakat indonesia agar dapat hidup bersama bangsa lainnya. Berinteraksi dengan bangsa bangsa lain dalam peraturan dunia secara langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan Metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desainnya. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 104266 Pematang Sijonam. Dengan subjek penelitian yang diambil adalah siswa kelas IV SD. Penentuan dipilihnya sekolah sebagai lokasi berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut: Belum pernah ada penelitian seperti ini dilaksanakan disekolah tersebut. Penulis sudah mengenal situasi sekolah tersebut sehingga akan memberikan keleluasaan dan kemudahan dalam melaksanakan penelitian sesuai dengan keperluan. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 115 - 126 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. Disanalah penulis menemukan kasus yang berkaitan dengan judul penelitian ini. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang akan diteliti. Menurut Arikunto . 8: . Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas Kelas IV-A di SDN 104266 Pematang Sijonam sebanyak 36 Menurut Sugiyono . sampel adalah bagian dari jumlah dan kharakteristik yang dimiliki oleh populasi. Pengambilan sampel untuk penelitian menurut Arikunto . 8: . , jika subjeknya kurang dari 100 orang sebaiknya diambil semuanya, jika subjeknya besar atau lebih dari 100 orang dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih. Dikarenakan populasi pada penelitian ini hanya 36 orang. Untuk populasi penelitian < 100 maka penelitian ini menggunakan sampel total yaitu sebanyak 36 orang. Desain peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dimana data yang dikumpulkan berupa angka-angka. Desain penelitian yang menjadi model korelasi penelitian untuk pengukuran pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Berangkat dari paradigma variabel tersebut. Peneliti kemudian mencari teori yang terkait dengan variabel. Sehingga ditemukanlah apa yang menjadi dasar peneliti untuk dapat menemukan permasalahan dalam peneliti yang ingin diteliti. Adapun gambaran desain penelitian yang dilakukan peneliti sebagai berikut: Variabel Penelitian Variabel Bebas (Lingkungan Sekola. Variabel Terikat (Pembentukan Karakte. Hipotesis Penelitian Instrumen Penelitian : Observasi, 2. Angket, 3. Dokumentasi Teknik Analisis Data Analisis Data Awal: Uji Normalitas Analisis Data Hipotesis Uji Regresi Sederhana Korelasi Product Moment Rumus Persamaan Regresi Gambar 1. Desain Penelitian Angket yang digunakan dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas, uji linieritas dan uji hipotesis. Uji hipotesis dengan Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 115 - 126 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. menggunakan regresi linier sederhana. Dasar pengambilan keputusan menggunakan koefisien korelasi . lingkungan sekolah terhadap pembentukan karakter anak. Jika koefisien korelasi bernilai positif maka dapat dilihat adanya hubungan yang positif antara variabel bebas dan variabel terikat. Sedangkan untuk menguji signifikansi adalah dengan membandingkan nilai r hitung dengan ttabel pada taraf signifikansi 5% dan dengan melihat nilai Jika nilai thitung lebih besar dari nilai ttabel dan nilai signifikansi kurang dari 0,05. maka pengaruh tersebut signifikan. Sebaliknya jika nilai r hitung lebih kecil dari dan nilai t tabel signifikansi di atas 0,05. maka pengaruh tersebut tidak signifikan. Untuk menguji hipotesis tersebut maka digunakan analisis regresi sederhana. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian di atas diketahui bahwa terdapat Pengaruh Lingkungan Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Anak Pada Mata Pelajaran PPKN Kelas IV di SDN 104266 Pematang Sijonam. Hal ini ditunjukkan thitung > ttabel . 105 > 1,. dan p = 0,000. Selanjutnya berdasarkan hasil uji pengaruh variabel nilai R Square sebesar 0,949 . ,9%). Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model regresi, dimana variabel independent . ingkungan sekola. memiliki pengaruh terhadap variabel dependent . embentukan karakte. sebesar 94,9%. Sedangkan 5,1 % dipengaruhi oleh faktor lainnya Hal ini juga diperkuat dengan adanya penelitian Penelitian hasil penelitiannya yaitu Meningkatnya minat belajar siswa dengan pemanfataan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar tematik hal ini ditunjukkan dengan adanya keaktifan, ketertarikan, perasaan senang dan semangat, percayah diri serta keberanian siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Persamaan penelitiannya yaitu pada lingkungan sekolah. Penelitian menurut Sumardi,dkk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Analisis prasyarat hasil uji normalitas lingkungan sekolah dan motivasi belajar 0,200>0,05 . erdistribusi norma. , hasil uji homogenitas 0,658>0,05 . , hasil uji linearitas adalah 0,582>0,05 berdasarkan hasil data tersebut maka terdapat hubungan yang linear lingkungan sekolah terhadap motivasi belajar. Persamaan penelitiannya yaitu pada lingkungan sekolah. Penelitian menurut Herdiansyah,dkk. hasil penelitiannya yaitu Penerapan pendidikan karakter di Sekolah Dasar dapat dimasukkan ke dalam proses pembelajaran seperti beberapa mata pelajaran, salah satunya mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Persamaan penelitiannya yaitu pada karakter siswa. Penelitian menurut Dewi & Yuniarsih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekolah berada pada kategori cukup mendukung, peran guru berada pada kategori cukup efektif, dan motivasi belajar berada pada kategori Hasil Uji hipotesis menunjukkan bahwa lingkungan sekolah dan peran guru berpengaruh positif signifikan terhadap motivasi belajar. Persamaan penelitiannya yaitu pada lingkungan sekolah. Melihat paparan diatas jelaslah bahwa lingkungan sekolah akan berdampak pada pembentukan karakter siswa. Hal ini juga dikemukakan oleh bahwa sekolah adalah tempat terjadinya proses belajar mengajar yang tentunya terjadi di lingkungan sekolah itu sendiri, kegiatan serta kebiasaan yang baik sangat berpengaruh pada karakter anak apalagi kebiasaan itu dilakukan Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 115 - 126 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. secara rutin. Untuk dapat menarik keinginan anak dalam menumbuhkan minat bacanya adalah dengan cara menggunakan media. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian di atas diketahui bahwa terdapat Pengaruh Lingkungan Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Anak Pada Mata Pelajaran PPKn Kelas IV di SDN 104266 Pematang Sijonam. Hal ini ditunjukkan thitung > ttabel . 105 > 1,. dan p = 0,000. Selanjutnya berdasarkan hasil uji pengaruh variabel nilai R Square sebesar 0,949 . ,9%). Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model regresi, dimana variabel independent . ingkungan sekola. memiliki pengaruh terhadap variabel dependent . embentukan karakte. sebesar 94,9%. Sedangkan 5,1 % dipengaruhi oleh faktor lainnya. SARAN Bagi Sekolah, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi SDN 104266 Pematang Sijonam agar dalam pembentukan karakter anak lebih ditingkatkan untuk menanamkan nilai karakter atau Bagi Guru, sebagai bahan masukan kelak agar dapat mengoptimalkan pembentukan karakter anak di lingkungan sekolah khususnya pada mata pelajaran PPKn yang memang adalah mata pelajaran yang sangat mengarah pada karakter dan moral bangsa Indonesia. Bagi Siswa, penelitian ini dapat digunakan sebagai pembentukan karakter mereka melalui mata pelajaran PPKn yang diberikan oleh guru. DAFTAR PUSTAKA