BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin DOI: https://doi. org/10. 62667/begibung. E-ISSN: 3025-7743 Vol. No. Nov. Hal. Homepage: https://berugakbaca. org/index. php/begibung PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP (IPA) SISWA MTS SA DAWATUL KHAER Siska Novia Vazlin1*. Irwansah2. Asrorul Azizi3 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Instititut Pendidikan Nusantara Global Informasi Artikel Sejarah Artikel: Diterima 21 Nov. Perbaikan 27 Nov. Disetujui 30 Nov. Kata Kunci: Media Pembelajaran. Pemanfaatan Lingkungan. IPA ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan bertanya siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) melalui penerapan strategi pembelajaran The Learning Cell pada siswa kelas IV SDN 1 Tanak Kaken. Permasalahan ini yang melatarbelakangi penelitian ini adalah rendahnya partisipasi siswa dalam bertanya, rasa malu, serta kurangnya motivasi belajar. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan tahap perencanaan, pelaksanaan observasi dan refleksi. Subjek penelitian terdiri dari 16 siswa, terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 6 siswa Instrumen penelitian meliputi lembar observasi, angket, dan wawancara untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan bertanya siswa secara signifikan. Pada kondisi awal, hanya, hanya 3 dari 16 siswa yang aktif bertanya. Setelah penerapan The Learning Cell pada siklus I, keaktifan bertanya meningkat meskipun kualitas bertanyaan belum merata. Pada siklus II, terjadi peningkatan yang signifikan, baik dari segi jumlah maupun kualitas pertanyaan, dengan ratarata keberhasilan mencapai 71%. A 2025 BEGIBUNG *Surat ielektronik ipenulis: siskanoviazalin_ipng@gmail. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan proses dinamis dan inopatif terhadap permasalahan kehidupan yang tidak hanya bertujuan untuk mentransfer sehari-hari. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap (IPA), sebagai bagian dari ilmu dasar, memiliki dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kontribusi yang besar dalam membangun cara kehidupan nyata. Dalam dunia yang terus berpikir ilmiah dan sikap peduli terhadap berkembang, peran pendidikan menjadi semakin kompleks, terutama dalam membekali peserta Secara ideal, pembelajaran IPA tidak didik dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, hanya terbatas pada pemberian informasi atau Page 32 hafalan konsep, tetapi juga harus mampu mengemukakan bahwasanya pengajaran IPA yang ideal itu ialah pengajaran yang dapat mengaitkan ide-ide dan meningkatkan rasa ingin keterlibatan aktif siswa dalam mengeksplorasi tahu siswa mengenai semua yang ada di dunia sekitar. Namun kenyataannya, proses sekelilingnya serta dijadikan wahana untuk anak pembelajaran IPA di banyak satuan pendidikan, didik guna mempelajari diri sendiri dan alam termasuk di MTs SA daAowatul khaer masih sekitar, pengembangan lebih lanjut untuk didominasi oleh pendekatan konvensional. Guru mengimplementasikannya pada aktivitasnya lebih sering menggunakan metode ceramah sehari-hari supaya menjadi manusia yang yang berpusat pada guru . eacher-centere. , bermartabat dan bermanfaat bagi masyarakat buku teks menjadi sumber utama pembelajaran, serta lingkungan sekitarnya. dan siswa cenderung menjadi pendengar pasif dalam kelas. Metode pembelajaran semacam itu sangat berisiko menyebabkan siswa mengalami Pengajaran IPA pengajaran yang dapat dipraktikkan dalam memahami konsep-konsep penting dalam IPA. lingkungan sekitar. Hakikat pembelajaran IPA Akibatnya, siswa hanya menghafal tanpa yang ideal adalah proses belajar mengajar yang tidak sebatas menghafalkan konsep dan prinsip Pembelajaran saja tetapi bisa juga dikaitkan dengan hakikat menyebabkan rendahnya kemampuan siswa IPA yang dikaji melalui fakta, konsep, prinsip dalam menerapkan pengetahuan IPA dalam dan hukum yang telah teruji kebenarannya pada kehidupan sehari-hari. Padahal, pembelajaran suatu serangkaian aktivitas ilmiah (Juhji, 2015: IPA seharusnya memberikan ruang bagi siswa Hakikat IPA yang ditinjau dari fakta dan untuk berinteraksi langsung dengan fenomena data dapat diimplementasikan dalam proses alam agar mereka mampu mengaitkan teori pembelajaran IPA berupa konsep, prinsip dan dengan realitas kehidupan. Berdasarkan Permasalahan tersebut menjadi semakin pengalaman belajar yang didapat tersebut guna nyata tindakan melihat berbagai hasil studi nasional maupun tindakan yang menunjukkan diperlukan sikap dan cara berfikir ilmiah agar bahwa capaian kompetensi siswa Indonesia bisa bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari dalam bidang sains masih tergolong rendah. bagi dirinya serta masyarakat luas. Hasil Pernyataan Sam IPA. Program For International Student Asesmen (PISA) tahun . 2022, yang dilakukan oleh Organisator For BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin Page 33 Economic Co-operation Development (OECD). Indonesia tumbuhan, hewan, atau fenomena alam lainnya, menempati urutan ke-68 dari 81 negara yang Skor rata-rata peserta didik Indonesia dalam tiga bidang utama yaitu 2. Pembelajaran tidak lagi bersifat abstrak, matematika . , membaca . , dan sains tetapi berubah menjadi pengalaman nyata yang . berada secara konsisten di bawah rata-rata dapat mereka rasakan, lihat, dan refleksikan OECD, yang masing-masing sebesar 472, 476, secara langsung. Hal berpengaruh pada meningkatnya pemahaman mencerminkan masih rendahnya kemampuan konsep serta sikap ilmiah siswa. (Hosnan, 2. (OECD, (Purwanto, ini pada akhirnya Lebih jauh lagi, pembelajaran berbasis pemahaman saintifik peserta didik Indonesia lingkungan juga berpotensi membentuk karakter siswa yang peduli terhadap kelestarian alam dan Fakta kompetensi abad ke-21. memiliki kesadaran ekologis. Dalam konteks Salah satu pendekatan yang dapat saat ini, isu-isu lingkungan seperti pemanasan digunakan untuk menjembatani kesenjangan global, kerusakan ekosistem, dan kepunahan tersebut tindakan dengan mengintegrasikan spesies menjadi persoalan global yang serius, lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. penting bagi dunia pendidikan untuk mengambil Lingkungan tidak hanya kaya akan objek dan peran aktif dalam menanamkan nilai-nilai fenomena nyata, tetapi juga memberikan kepedulian lingkungan sejak dini kepada peserta kesempatan kepada siswa untuk mengalami (UNESCO, 2017. Rachmawati, 2. langsung proses ilmiah melalui pengamatan. Namun, realisasi pembelajaran berbasis pengumpulan data, dan analisis sederhana. lingkungan di sekolah-sekolah, terutama di Pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan madrasah, masih menghadapi berbagai kendala. lingkungan sebagai media, sangat sesuai dengan Di antaranya keterbatasan pemahaman guru prinsip-prinsip mengenai strategi pembelajaran kontekstual, (Contextual Teaching and Learnin. dan minimnya pelatihan atau pendampingan, serta konstruktivisme yang menekankan pentingnya kurangnya integrasi antara kurikulum formal dengan potensi lingkungan sekitar. (Mulyasa, (Johnson, 2014. Piaget, 1. Anisa & Fitri, 2. Di samping itu. Pembelajaran berbasis lingkungan juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Ketika siswa diajak keluar dari ruang kelas dan BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin Page 34 merepotkan dari segi teknis, sehingga enggan lingkungan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Melalui PTK, guru tidak hanya Permasalahan ini juga terjadi di MTs SA DaAowatul Khaer. Hasil menunjukkan bahwa tindakan besar guru masih berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai peneliti yang merefleksikan dan memperbaiki praktik pembelajaran secara sistematis. Dengan menyampaikan materi IPA. Aktivitas siswa berbasis lingkungan, diharapkan siswa tidak dalam pembelajaran pun masih rendah, ditandai hanya lebih mudah memahami konsep IPA, dengan kurangnya partisipasi dalam diskusi, tetapi juga menjadi lebih aktif, kritis, dan terbatasnya eksplorasi, serta kecenderungan siswa untuk hanya menerima informasi secara Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab Hal ini berdampak pada rendahnya hasil permasalahan rendahnya hasil belajar IPA serta belajar siswa, terutama dalam memahami menghidupkan semangat belajar siswa melalui materi-materi yang bersifat konseptual dan metode yang menyenangkan, bermakna, dan memerlukan pemahaman mendalam, seperti Hal ini sejalan dengan penelitian keanekaragaman hayati. yang dilakukan (Rahman, 2. menyatakan kepedulian terhadap lingkungan. Padahal, lingkungan di sekitar MTs SA Lingkungan memberikan pengalaman langsung DaAowatul Khaer sebenarnya memiliki potensi sehingga konsep-konsep abstrak menjadi lebih yang sangat besar untuk dijadikan sebagai media nyata dan mudah dipahami. Lingkungan sekitar Keberadaan kebun sekolah, serta membantu siswa menghubungkan teori dengan berbagai jenis flora dan fauna di lingkungan praktik nyata (Setiawati. , dan Pratama. laboratorium alam. Dengan pemanfaatan yang Berdasarkan paparan di atas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian pengalaman belajar siswa dan membuat mereka lebih mudah memahami konsep-konsep ilmiah Sekitar sebagai Media Pembelajaran untuk secara konkret. Meningkatkan Pemahaman Konsep IPA Siswa Maka dari itu, perlu dilakukan inovasi AuPemanfaatan Lingkungan MTs SA DaAowatul Khaer. Ay Penelitian ini bertujuan untuk memberikan tindakan terhadap meningkatkan pemahaman konsep IPA siswa. pembelajaran IPA serta menjadi kontribusi Salah satu cara yang bisa ditempuh dengan nyata dalam peningkatan kualitas pembelajaran menerapkan strategi pembelajaran berbasis BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin Page 35 yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan penelitian yang menghasilkan data berupa angka-angka dari hasil tes (Sugiono, 2. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Reserc. Penelitain tindakan kelas yaitu penelitian yang sebab-akibat perlakuan, sekaligus memaparkan apa saja yang mengacu prosedur pelaksanaan Kemmis dan Mc. Taggart, satu siklus terdiri dalam 4 kegiatan . pelaksanaan, . pengamatan/observasi, . Sample dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VII MTs SA DAAoWATUL KHAER berjumlah 25 Siswa Laki-laki Dan pemberian perlakuan sampai dengan dampak Perempuan. dari perlakuan tersebut. Penelitian Tindakan digunakan dalam penelitian ini yaitu tes, dan Kelas (PTK) yaitu penelitian tindakan yang pembelajaran berlangsung. PTK dilakukan meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK pembelajaran yang terjadi di dalam kelas. Adapun HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil tindakan yang dilakukan pada materi Keanekaragaman Hayati IPA kelas VII MTs SA DaAowatul Khaer dengan pemanfaatan lingkungan Penelitian tindakan kelas juga diartikan sebagai sebagai media pembelajaran, terlihat adanya peningkatan hasil belajar siswa pada setiap Pada siklus I, hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai 72,2 dengan pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat jumlah siswa yang tuntas sebanyak 15 orang mencoba suatu gagasan perbaikan dalam . %) dan 10 orang siswa belum tuntas praktek pembelajaran mereka, dan terlihat . %). Kondisi ini menunjukkan bahwa Penelitian ini meskipun terdapat sebagian siswa yang menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau pernyataan lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), namun secara klasikal hasil keberhasilan penelitian. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan pada siklus II. BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin Page 36 Pada siklus II, setelah dilakukan sekitar sebagai media pembelajaran, terjadi perbaikan strategi pembelajaran dengan peningkatan yang signifikan. Rata-rata nilai kelas meningkat menjadi 75,36 dengan sekitar sebagai media pembelajaran, terjadi jumlah siswa tuntas sebanyak 21 orang peningkatan yang signifikan. Rata-rata nilai . %) dan siswa yang belum tuntas kelas meningkat menjadi 75,36 dengan berkurang menjadi 4 orang . %). Hal ini jumlah siswa tuntas sebanyak 21 orang . %) dan siswa yang belum tuntas lingkungan sebagai media pembelajaran berkurang menjadi 4 orang . %). Hal ini mampu meningkatkan keterlibatan siswa, lingkungan sebagai media Berdasarkan hasil keanekaragaman hayati, serta menjadikan tindakan yang dilakukan pada materi Keanekaragaman Hayati IPA kelas VII MTs SA Dawatul Khaer dengan pemanfaatan Peningkatan dari siklus I ke siklus II lingkungan sebagai media pembelajaran, dapat diinterpretasikan bahwa pemanfaatan terlihat adanya peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Pada siklus I, hasil pengalaman belajar langsung, tetapi juga penelitian menunjukkan rata-rata nilai 72,2 dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak pelajaran dengan realitas kehidupan sehari-hari. 15 orang . %) dan 10 orang siswa belum tuntas . %). Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat sebagian siswa yang mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Hal konstruktivisme, dimana siswa membangun pengetahuannya melalui pengalaman nyata. Selain itu, keterlibatan aktif siswa dalam mengamati, mendiskusikan, dan menganalisis Minimal (KKM), namun secara klasikal objek nyata di lingkungan sekitar menjadikan hasil tersebut belum memenuhi indikator pembelajaran lebih menarik dan menumbuhkan keberhasilan penelitian. Oleh karena itu, motivasi belajar. Dengan demikian, hasil diperlukan perbaikan pada siklus II. penelitian ini memperkuat bahwa pemanfaatan Pada siklus II, setelah dilakukan perbaikan strategi pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan lingkungan meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya dalam materi keanekaragaman hayati. ,tindakan BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin Page 37 disetiap siklusnya dilakukan perbedaan model Peningkatan dari siklus I ke siklus II dapat diinterpretasikan bahwa pemanfaatan sekolah dan di siklus II siswa diminta untuk pengalaman belajar langsung, tetapi juga terlibat dengan memanfaatkan benda-benda dan tumbuhan yang ada disekitar sekolah untuk pelajaran dengan realitas kehidupan sehari-hari. dijadikan media pembelajaran. Adanya kegiatan Keterlibatan aktif siswa dalam mengamati, itu terlihat peningkatan dapat dilihat dari rata- mendiskusikan, dan menganalisis objek nyata di rata kelas dan presentase ketuntasan belajar dan lingkungan sekitar menjadikan pembelajaran hasil belajar siswa pada kondisi awal hingga lebih menarik dan menumbuhkan motivasi siklus II. Dengan demikian, hasil penelitian ini Berdasarkan hasil observasi aktivitas memperkuat bahwa pemanfaatan lingkungan siswa, pada siklus I masih banyak siswa yang sebagai media pembelajaran merupakan strategi pasif, kurang berpartisipasi dalam diskusi, dan yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar cenderung hanya mengandalkan penjelasan siswa, baik dari segi kognitif maupun aktivitas Namun, pada siklus II terlihat adanya keanekaragaman hayati. dengan antusiasme dalam bertanya, berdiskusi. Pada kondisi awal, hasil belajar siswa menunjukkan bahwa pemahaman konsep masih Aktivitas belajar yang meningkat ini sejalan dengan peningkatan hasil tes kognitif siswa. ketuntasan belajar yang hanya mencapai 20%. Selain itu, hasil observasi terhadap aktivitas Sebagian guru juga menunjukkan adanya peningkatan mengaitkan materi dengan fenomena nyata di kualitas pembelajaran. Pada siklus I guru masih sekitar mereka, sehingga proses pembelajaran dominan dalam menjelaskan materi, sedangkan cenderung pasif dan berpusat pada guru. pada siklus II guru lebih berperan sebagai Hal Memasuki siklus I, dilakukan tindakan fasilitator yang membimbing siswa untuk menemukan konsep sendiri melalui kegiatan lingkungan sekitar sekolah sebagai media langsung di lapangan. Hal ini sesuai dengan pendekatan pembelajaran kontekstual dan teori menunjukkan rata-rata nilai siswa sebesar 72,2 konstruktivisme, dimana guru tidak hanya dengan persentase ketuntasan hanya 60% atau 15 siswa dari total 25 siswa yang mencapai nilai di atas KKM. Meskipun terjadi peningkatan BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin Hasil Page 38 keterlibatan siswa dibandingkan kondisi awal, kondisi awal, namun secara umum hasil belajar hasil yang diperoleh masih jauh dari harapan. belum memenuhi target yang diharapkan. Oleh Siswa masih tampak kurang termotivasi, rasa karena itu, penelitian perlu dilanjutkan ke siklus ingin tahu terhadap materi baru masih rendah. II dengan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang muncul pada siklus sebelumnya. Sementara mengemukakan pendapat. Perbaikan dilakukan pada siklus II dengan menekankan pembelajaran berbasis aktivitas langsung, diskusi kelompok, serta pemanfaatan benda-benda dan tumbuhan yang ada di sekitar sekolah. Hasil postest pada siklus ini menunjukkan adanya peningkatan yang Rata-rata meningkat menjadi 75,36 dengan persentase ketuntasan mencapai 80% atau 20 siswa yang Siswa mengamati, bertanya, berdiskusi, serta berani menyampaikan hasil pemikirannya. Bahkan, sebagian besar siswa mampu mengerjakan soal Pada pelaksanaan siklus I, penelitian ketuntasan klasikal yang diperoleh masih berada di bawah standar yang ditetapkan. Hasil postest menunjukkan bahwa hanya 60% siswa yang mencapai nilai di atas KKM, sedangkan kriteria ketuntasan klasikal yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah sebesar 80%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat peningkatan pemahaman siswa dibandingkan II, lingkungan sekitar sebagai media belajar menunjukkan hasil yang lebih optimal. Ratarata nilai siswa meningkat menjadi 75,36 dan ketuntasan klasikal mencapai 80%. Capaian ini telah sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan sejak awal. Dengan demikian, siklus II dinyatakan berhasil karena mampu mencapai kriteria ketuntasan perbaikan strategi pembelajaran yang dilakukan pemahaman konsep dan hasil belajar siswa. Seluruh dilakukan sesuai dengan indakator tindakan pengulangan yang intensif. metodologi penelitian. Hal ini bertujuan agar hasil yang diperoleh benar-benar objektif dan sistematis, namun untuk mendapatkan hasil yang sempurna dari penelitian sangat sulit Selama penelitian tindakan kelas yang dilakukan di MTs DAWATUL KHAER menyadari adanya keterbatasan diantaranya yaitu : 1. Penelitian ini hanya menggunakan sampel siswa kelas VII saja yang artinya data yang diperoleh belum secara menyeluruh. BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin Page 39 Kesulitan dalam mengkondisikan siswa apalagi dalam bentuk kelompok, karena pembelajaran membuat siswa lebih mudah mengkonstruksi yang dilakukan diluar kelas konstruktivisme dan pembelajaran kontekstual KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas pada materi keseimbangan dan pelestarian sumber daya alam di kelas VII MTs SA DaAowatul Khaer, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran terbukti mampu meningkatkan IPA SARAN Guru disarankan untuk memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai media pembelajaran, khususnya pada materi yang berhubungan dengan fenomena alam. Metode membuat pembelajaran lebih kontekstual. Pihak sekolah diharapkan mendukung Pada kondisi awal, pemahaman konsep siswa masih rendah ditandai dengan banyaknya kesulitan dalam menjawab soal, kurangnya keterlibatan dalam diskusi, serta kecenderungan menghafal tanpa memahami makna materi. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I dengan mengajak siswa mengamati lingkungan sekolah, mulai tampak adanya peningkatan pemahaman. siswa lebih mampu mengenali hubungan antara materi dengan fenomena nyata, meskipun penunjang seperti area belajar luar kelas yang aman dan nyaman, serta mendorong inovasi guru dalam mengembangkan pembelajaran berbasis alam. Penelitian serupa dapat dilakukan dengan cakupan yang lebih luas, baik dari segi jumlah sampel maupun variasi materi, serta metode pembelajaran lain agar hasil yang keterlibatan mereka masih terbatas. Pada siklus II, ketika siswa dilibatkan secara langsung dengan memanfaatkan bendabenda dan tumbuhan di sekitar sekolah, diperoleh lebih komprehensif. DAFTAR PUSTAKA