Journal of Pharmaceutical Care and Sciences e-ISSN : 2828-4828 DOI :10. 33859/jpcs VOL 4 . 2024 : 217-227 | DOI: 10. 33859/jpcs. ETNOMEDICINE TUMBUHAN OBAT BELANGIAN. KALIMANTAN SELATAN MASYARAKAT DESA Laili Shinta Ayu Syahfitri. Kunti Nastiti. Darini Kurniawati. Rohama . 1Program Studi Sarjana Farmasi. Fakultas Kesehatan. Universitas Sari Mulia. Jalan Pramuka. Banjarmasin. Indonesia 2Program Studi Profesi Apoteker. Fakultas Kesehatan. Universitas Sari Mulia. Jalan Pramuka. Banjarmasin. Indonesia. Info Artikel ABSTRAK Submitted: 10-06-2024 Revised: 10-07-2024 Accepted: 09-08-2024 Latar Belakang: Keanekaragaman suku dan budaya di Indonesia menjadikan adanya perbedaan budaya dan pengetahuan tradisional salah satunya dalam memanfaatkan tumbuhan untuk pengobatan suatu penyakit. Salah satu suku yang tersebar luas di Pulau Kalimantan yang kental dengan pengobatan tradisionalnya adalah Suku Banjar yang berada di Desa Belangian. Kalimantan Selatan. Etnomedisin merupakan pengobatan oleh etnis tertentu yang didasarkan atas tradisi turun temurun dalam pengobatan tradisionalnya dalam hal ini adalah penggunaan tumbuhan berkhasiat obat. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui etnomedicine tumbuhan obat yang digunakan oleh Suku Banjar Desa Belangian. Kecamatan Aranio. Provinsi Kalimantan Selatan. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif dengan perhitungan Fidelity Level (FL) untuk masing-masing jenis tumbuhan obat. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian dari 38 informan diperoleh 58 spesies dengan jumlah family sebanyak 36. Terdapat 50 penyakit yang dapat diobati dari 58 jenis tumbuhan obat. Metode yang paling digemari pada pengolahan adalah direbus 56,89 kemudian diminum 72,41%. Bagian tumbuhan obat paling banyak digunakan adalah bagian daun 41,73%. Lima jenis tanaman dengan nilai FL tertinggi yang menyatakan efektivitas untuk pengobatan yaitu Cymbopogon citratus 86,84%. Zingiber officinale 78,94%. Jatropha multifida L 73,64%. Peronema canescens jack 68,42%. Syzygium polyanthum 65,78%. Tradisi pengobatan dengan tumbuhan obat oleh Suku Banjar ini secara turun temurun dengan nilai kearifan lokal dalam pemanfaatannya. Simpulan: Terdapat 58 jenis tumbuhan obat yang dapat dimanfaatkan sebagai obat atau pereda untuk sesuatu penyakit tertentu oleh masyarakat Suku Banjar. Desa Belangian. Dengan nilai FL lima tertinggi ialah terdapat pada tanaman Cymbopogon citratus 86,84%. Zingiber officinale 78,94%. Jatropha multifida L 73,64%. Peronema canescens jack 68,42%. Syzygium polyanthum 65,78%. *Corresponding author Kunti Nastiti Email: kuntinastiti@unism. Kata Kunci: Etnomedisin. Suku Banjar. Tumbuhan Obat ABSTRACT Background: The diversity of tribes and cultures in Indonesia makes cultural differences and traditional knowledge, one of which is in utilizing plants for the treatment of a disease. One of the widespread tribes on the island of Kalimantan that is thick with traditional medicine is the Banjar Tribe located in Belangian Village. South Kalimantan. Ethnomedisin is a treatment by certain ethnicities based on hereditary traditions in traditional medicine, in https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Etnomedicine Tumbuhan Obat Di Masyarakat Desa Belangian. Kalimantan Selatan this case the use of medicinal plants. Objective: The purpose of this study was to determine the ethnomedicine of medicinal plants used by the Banjar Tribe of Belangian Village. Aranio District. South Kalimantan Province. Methods: This research is descriptive using qualitative and quantitative Quantitative analysis with Fidelity Level (FL) calculations for each type of medicinal plant. Result: Based on the results of research from 38 informants, 58 species with 36 families were obtained. There are 50 diseases that can be treated from 58 types of medicinal plants. The most popular method of processing is boiled 89 then drunk 72. The most widely used part of medicinal plants is the leaf part of 41. Five types of plants with the highest FL values that stated effectiveness for treatment were Cymbopogon citratus 86. Zingiber 94%. Jatropha multifida L 73. Peronema canescens jack 42%. Syzygium polyanthum 65. The tradition of treatment with medicinal plants by the Banjar Tribe has been passed down for generations with the value of local wisdom in its use. Conclusion: There are 58 types of medicinal plants that can be used as medicine or relief for certain diseases by the people of the Banjar Tribe. Belangian Village. With the highest FL value of five is found in Cymbopogon citratus plants 86. Zingiber officinale 78. Jatropha multifida L 64%. Peronema canescens jack 68. Syzygium polyanthum 65. Keywords: Banjar Tribe. Ethnomedicin. Medicinal Plants PENDAHULUAN Pengetahuan etnomedisin ialah pengetahuan masyarakat lokal mengetahui kesehatan atau ilmu yang mempelajari sistem medis etnis tradisional, yang mana dalam hal ini memanfaatkan tumbuhan sebagai obat. Secara etimologi. Etnomedisin berasal dari kata etnho . serta medicine . yang berarti menghubungkan antara etnis atau suku dengan Etnomedisin merupakan hasil perkembangan kebudayaan asli masyarakat lokal berupa keyakinan dan praktek Ae praktek yang mencakup dari penyakit tertentu (Putri N. Pengobatan Tradisional merupakan salah satu kekayaan tradisi budaya Indonesia, pengobatan tradisional atau lebih dikenal sebagai pengobatan alternatif adalah suatu metode pengobatan yang menggunakan tumbuhan dan hewan untuk mengobati berbagai penyakit. Namun jika dilihat dari jumlah penggunaannya, lebih banyak digunakan oleh masyarakat adalah (Arrozi P, 2. Permasalahan saat ini yang terjadi di masyarakat ialah pengobatan tradisional yang berasal dari nenek moyang akan semakin terkikis dan menghilang seiring dengan perkembangan jaman. Etnomedisin sangat diperlukan untuk diinventarisasi sehingga menjadi suatu dokumen kekayaan alam yang dimiliki oleh Negara Indonesia tentang pemanfaatan tumbuhan obat. Masalah yang terjadi lainnya adalah banyak pihak asing yang menginventarisasi tumbuhan obat di Indonesia sedangkan warga Negara sendiri tidak melakukannya. Untuk itu diperlukan penelitian-penelitian mengenai etnomedicine di seluruh Wilayah Nusantara agar lebih terdokumentasi oleh Negara sendiri. Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi yang terletak pada bagian tenggara pulau Kalimantan, mempunyai wilayah dataran rendah dibagian pantai barat dan timur, serta dataran tinggi diantaranya dibentuk pegunungan meratus. (Kamila, 2. Kondisi geografis Kalimantan Selatan banyak mempunyai sunga dan rawa, sedangkan salah satu suku terbesar di Kalimantan Selatan ialah suku Banjar. Suku Banjar dikenal sebagai https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Etnomedicine Tumbuhan Obat Di Masyarakat Desa Belangian. Kalimantan Selatan salah satu suku yang secara alami menggunakan alam sekitarnya sebagai sumber kehidupan antara lain makanan, pakaian hingga pengobatan. Terutama orang banjar yang tinggal di daerah terpencil atau dibagian pedalaman daerah pegunungan meratus, oleh karena itu. Masyarakat lebih memilih memakai obat Ae obatan dan ramuan tradisional untuk pengobatan serta memelihara atau menjaga kesehatan masyarakat tersebut, ramuan tradisional mempunyai khasiat atau manfaat yang sangat terjangkau secara ekonomis dan tumbuhan obat relatif mudah untuk didapatkan di alam sekitar. Sehingga penelitian ini menjadi tujuan etnomedicine karena dapat mengkaji pengobatan di masyarakat yang menggunakan bahan-bahan dari tumbuhan . Bahan kajian berupa jenis tumbuhan yang dapat digunakan, jenis ramuan, cara pengobatannya, jenis penyakit yang diobati, dan sebagainya. Daerah yang menjadi sumber data pada etnomedicine ini adalah Suku Banjar yang berada di Desa Belangian. Kecamatan Aranio. Provinsi Kalimantan Selatan. Belangian adalah suatu Desa yang terletak daerah Kecamatan Aranio. Kabupaten Banjar. Provinsi Kalimantan Selatan. Mayoritas penduduk menganut agama Islam yang berupa suku Banjar. Rata-rata penduduk mempunyai mata pencaharian sebagai petani ladang di gunung. Desa Belangian sebagai target Etnomedicine bagi peneliti dikarenakan penduduk Desa Belangian menggunakan tanaman obat. METODE Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat deskripdtif dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif dengan perhitungan Fidelity Level (FL) masing-masing jenis tumbuhan obat. Penelitian ini dilakukan di wilaah Desa Belangian. Kecamatan Aranio. Provinsi Kalimantan Selatan. dengan sumber informasi berasal dari Masyarakat Suku Banjar yang menggunakan tumbuhan sebagai obat untuk suatu penyakit tertentu yang berjumlah sebanyak 35 informan. Sampel Sampel penelitian ini menggunakan semua orang yang termasuk dalam populasi dengan teknik total sampling yang artinya semua total populasi digunakan sama dengan sampel. Adapun sampel yang dapat digunakan pada penelitian ini yaitu masyarakat yang mempunyai pengetahuan yang cukup tentang pengobatan, berumur diatas 20 tahun dan masyarakat yang sebelumnya menderita riwayat penyakit di Desa Belangian. Kalimantan Selatan, berjumlah 38 Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah panduan wawancara penelitian sedangkan bahan yang digunakan adalah tumbuhan obat yang digunakan sebagai obat untuk suatu penyakit tertentu dari hasil wawancara yang dilakukan. Prosedur Kerja Pengambilan data dilakukan dengan mendatangi informan secara door to door dengan menanyakan pertanyaan berdasarkan panduan wawancara penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Etnomedicine Tumbuhan Obat Di Masyarakat Desa Belangian. Kalimantan Selatan Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2024 di Desa Belangian. Kecamatan Aranio. Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat Banjar di Desa Belangian ini, didapatkan 58 jenis tumbuhan obat dari 35 informan. Pencarian data menggunakan wawancara terhadap informan yang mana dalam wawancara dilakukan uji keabsahan data terlebih dahulu, yang mana dengan triangulasi teknik dilakukan untuk uji triangulasi teknik yaitu diperoleh dengan cara wawancara, observasi beserta dokumentasi. Pada saat mewawancarai informan disediakan beberapa pertanyaan wawancara secara langsung antara penelitian dan informan. Observasi dilakukan sebelum wawancara berupa mengamati wilayah dan etnis kemudian setelah wawancara dilakukan observasi cara penggunaan sehingga langsung pencarian dan pengambilan bahan, kemudian pada penelitian ini dilakukan pengambilan dokumentasi berupa foto dan video. Letak geografis wilayah kecamatan Aranio Kabupaten Banjar memiliki letak Bujur Timur 33032 dan Lintang Selatan 1145937. Batas-batas wilayah kecamatan aranio yaitu pada bagian Utara berada di Kecamatan Pengaron, bagian Selatan berada di Kecamatan Tanah Laut. Bagian Timur berada di Kecamatan Tanah Bumbu dan pada bagian Barat Kecamtan Karang Intan. Sehingga luas wilayah 1. 166,35 km2 dengan tinggi dari permukaan laut 88 meter (Web https://banjarkab. id/). Dari Banjarmasin menuju ke Pelabuhan Riam Kanan memerlukan waktu A 2 jam sedangkan dari pelabuhan riam kanan menuju Pelabuhan Desa Belangian memerlukan waktu 3-4 jam. Kiri kanan di sepanjang danau Riam Kanan dipenuhi hamparan perbukitan pegunungan Meratus. Dalam perjalanan sesekali melewati pondok-pondok atau rumah warga yang dibangun di atas danau sekaligus sebagai tempat mereka memelihara atau pembibitan dan pembesaran ikan nila, patin, atau ikan lokal haruan/gabus atau sejenis bakut lainnya (Web https://pamsimas. id/). Dari Desa Belangian menuju ke Geosite Kahung ditempuh menggunakan kendaraan bermotor roda 2, dilanjutkan berjalan kaki. (Web https://meratusgeopark. org/). Hasil Penelitian Berikut uraian hasil wawancara yang mencakup jenis penyakit, jenis pengolahan, cara pengobatan dari 58 tumbuhan obat : Jenis-Jenis Penyakit Sebanyak 38 informan menyebutkan bahwa ada 50 penyakit yang bisa disembuhkan dengan menggunakan tanaman obat. Masyarakat Belangian menggunakan tumbuhan obat untuk menyembuhkan peradangan, penyakit mata, luka, batuk, demam, hipertensi, perawatan pasca melahirkan, kejantanan pria, kanker, sesak nafas, insomnia, keseleo, kolesterol, thypus, penyakit kulit, penyakit dalam, migrain, sakit pinggang. Maag, diare dan penyakit lainnya. Ramuan tumbuhan obat untuk mengobati penyakit paling banyak ialah batuk dan luka dengan jumlah sitasi 10,38%. https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Etnomedicine Tumbuhan Obat Di Masyarakat Desa Belangian. Kalimantan Selatan Sumber: Primer Peneliti Gambar 4. 1 Jenis penyakit Masyarakat menganggap penyakit ini merupakan penyakit yang umum diderita saat pergantian musim atau saat melakukan kegiatan sehari-hari. Hal inilah yang membuat masyarakat terbiasa menangani penyakit, terdapat beberapa variasi jenis tanaman obat yang Informasi mengenai penggunaan tumbuhan obat ini berasal dari generasi sebelumnya atau orang tua, yang menggunakan tumbuhan obat, masyarakat setempat ataupun dari pengalaman masyarakat setempat. https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Etnomedicine Tumbuhan Obat Di Masyarakat Desa Belangian. Kalimantan Selatan Jenis Pengolahan Kebanyakan penggunaan ramuan bersifat tunggal hal ini diduga dikarenakan masih terbatasnya informasi yang dimiliki tentang jenis tumbuhan dan masyarakat sudah familiar tentang ramuan yang sudah dikonsumsi sehingga tidak ada ramuan khusus untuk jenis penyakit Tabel 4. 1 Jenis cara pengolahan ramuan Jenis Ramuan Frekuensi Sitasi Sitasi (%) (N. (N=. Direbus 56,89 Ditumbuk 17,24 Diparut 1,72 Dipanggang 1,72 Diambil getah 5,17 Diperas 6,89 Digores 1,72 Direndam air panas 1,72 Dikerik 3,44 Diremas 1,72 Selain itu, karena masyarakat jarang terserang penyakit tersebut. Masyarakat Suku Banjar mempunyai banyak cara dalam mengolah tumbuhan berkhasiat obat. Uraian pengolahan tumbuhan obat sebagai pereda atau mengobati suatu penyakit ini kami sajikan pada Tabel 4. Cara pengolahan tumbuhan obat tersebut dilaksanakan menggunakan cara sederhana dan berbeda-beda jenisnya ada yang direbus, diremas, ditumbuk halus, dirajang dan lain-lain. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan teknik sitasi, persentase sitasi yang paling sering digunakan dari cara pengolahan ramuan ialah dengan cara direbus 56,89%, dipotong 18,96%, ditumbuk 17,24% sedangkan diparut, dipanggang, diambil getahnya, diperas, digores, direndam air panas, dikerik, dan diremas disitasi dibawah 17,24% (Gambar 4. 56,89 Cara Pengolahan 17,24 18,96 6,89 Sumber: Primer Peneliti Gambar 4. 2 Cara pengolahan persentase terbesar Perebusan merupakan suatu cara yang paling banyak digunakan. Hal ini dikarenakan masyarakat menganggap metode ini paling berkhasiat. Perebusan membuat senyawa-senyawa aktif dalam tumbuhan terlarut dalam pelarut air. Sehingga pada saat meminum air rebusan dipercaya lebih ampuh dibanding dengan metode lain. Selain itu, dapat mengurangi rasa tidak enak dari tumbuhan obat bila dibandingkan dengan dimakan langsung dan juga dapat membunuh mikroba bila dilakukan perebusan sehingga lebih higienis. Sebagai contoh tumbuhan https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Etnomedicine Tumbuhan Obat Di Masyarakat Desa Belangian. Kalimantan Selatan yang direbus antara lain Labisia Pumila. Peronema canescens jack. Curcuma longa Linn. Axonopus compressus. Tinospora crispa L. Gluta travancorica, dan lain-lain. Cara Pemakaian Pengelompokan tumbuhan obat berdasarkan cara pemakaian paling banyak disitasi adalah diminum 72,41%, diteteskan 8,62%, ditempelkan 6,89% sedangkan cara pemakaian yang lain berada dibawah 6,89% (Gambar 4. Masyarakat menggunakan tumbuhan obat paling banyak dengan Hal diyakini masyarakat bahwa dengan diminum khasiat akan lebih terasa dan efeknya lebih cepat dalam menyembuhkan suatu penyakit (Yassir & Asnah, 2. Cara Pemakaian 80 72,41 6,896,896,891,728,625,171,725,17 Sumber: Primer Peneliti Gambar 4. 3 Cara Pemakaian Tumbuhan Obat Tumbuhan Obat Hasil survei tumbuhan obat yang digunakan menunjukkan terdapat 22 jenis family yang penting digunakan sebagai obat. Family tumbuhan obat didapatkan melalui hasil determinasi tumbuhan dilakukan di Laboratorium FMIPA Universitas Lambung Mangkurat. Family Tumbuhan Berdasarkan family paling sering masyarakat Suku Banjar gunakan adalah Poaceae 9,6%. Myrtaceae 5,8%, sedangkan family yang lain berada di bawah 5,8%. Pengelompokan tumbuhan obat berdasarkan family yang paling sering digunakan oleh masyarakat Suku Banjar adalah Poaceae 9,6%. Myrtaceae 5,8%, sedangkan family yang lain berada di bawah 5,8%. Pada proses identifikasi tumbuhan terdapat 6 jenis tumbuhan yang belum teridentifikasi klasifikasi tumbuhan (Non Identifie. (Gambar 4. https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Etnomedicine Tumbuhan Obat Di Masyarakat Desa Belangian. Kalimantan Selatan Sumber: Primer Peneliti Gambar 4. 4 Hasil identifikasi tumbuhan Bagian Tumbuhan Selanjutnya dikelompokkan juga dari yang banyak digunakan berdasarkan tumbuhan Hasil menunjukkan bagian terbanyak digunakan adalah bagian daun 41,73%. Batang 31,03%. Akar 18,96% dan kurang dari 18,96% adalah getah, bagian buah, kulit batang, rimpang, bunga, pucuk, rimpang, umbi, biji dan air dalam batang. Sumber: Primer Peneliti Gambar 4. 5 Bagian tumbuhan Daun ialah salah satu bagian tumbuhan yang paling sering digunakan. Pemanfaatan bagian tumbuhan berasal dari informasi secara turun temurun mengenai bukti khasiatnya karena kaitannya dengan kandungan senyawa kimia pada daun. Alasan yang lain karena bagian daun mempunyai jumlah yang melimpah, mudah diperoleh dan diproses, juga mengandung barbagai senyawa kimia berkhasiat seperti, flavonoid, fenolik, alkaloid, tannin dan saponin. Hal inilah yang membuat bagian daun lebih berkhasiat daripada bagian tumbuhan yang lain. Bagian dauin ialah bagian paling aman bagi tumbuhan bila diambil untuk digunakan sebagai obat dibandingkan dengan bagian lain. Tidak membuat tumbuhan tersebut tetap hidup, berbeda bila diambil bagian batang atau akar. Tumbuhan yang digunakan masyarakat didapatkan dari pekarangan, hutan, pasar, parit dan rawa-rawa. Persentase terbesar perolehan adalah berasal dari hutan dan pekarangan rumah. Sebagian besar tumbuhan diperoleh dari hutan menunjukkan bahwa masyarakat di Suku Banjar masih mengandalkan hasil hutan untuk pengobatan karena jauhnya fasilitas kesehatan dari daerahnya dan sulitnya perjalanan yang ditempuh. Sedangkan yang diperoleh di pekarangan merupakan jenis tumbuhan yang memang ditanam oleh https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Etnomedicine Tumbuhan Obat Di Masyarakat Desa Belangian. Kalimantan Selatan Berfungsi sebagai bumbu masak, buah-buahan, tumbuhan pagar, sayur-sayuran, ataupun tumbuhan hias. Penanaman tumbuhan obat di pekarangan dapat disebabkan karena sulitnya akses ke pasar atau pusat keramaian. Sehingga masyarakat lebih memilih menanam di pekarangan rumah. Fidelity Level (FL) Analisis kuantitatif pada penelitian ini menggunakan Fidelity Level (FL) yang digunakan untuk mengukur tingkat kesamaan informasi informan terhadap jenis tumbuhan Ae tumbuhan untuk berbagai ragam manfaat tertentu. Nilai FL dengan persentase 86,84% menunjukkan bahwa jenis-jenis tumbuhan tersebut diyakini atau popular di masyarakat untuk mengobati suatu Nilai FL merupakan suatu informasi tentang jenis tumbuhan yang potensial diteliti lebih lanjut. Pemanfaatan tumbuhan dengan nilai FL yang tinggi telah secara umum dan direkomendasikan oleh informan dari informasi yang homogen. Tumbuhan dengan FL yang tinggi diantaranya Cymbopogon citratus. Zingiber officinale. Jatropha multifida L. Peronema canescens Jack, dan Syzygium polyanthum sedangkan tumbuhan lain mempunyai nilai FL kurang dari 50%. Adapun tumbuhan yang belum diketahui spesiesnya mempunyai nilai FL 34,21% yaitu Kelupak tandui, 26,32% Kayu pahlawan putih, 5,26% Akar ulur-ulur, 5,26% Asam daun, 2,63% Pulantan putih dan 2,63% Akar carikan merah. Tumbuhan yang belum diketahui identitasnya berpotensi dapat dikembangkan secara penelitian. Pembahasan Pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Belangian misalnya Sereh (Cymbopogon citratu. digunakan untuk demam dan masuk angin. Yang mana Secara penelitian dalam kandungan tumbuhan ini antara lain fitosterol, flavonoid, senyawa fenolik, minyak atsiri dan senyawa lain yang berkhasiat sebagai antiradang, demam, antinyeri, antibakteri, antijamur, antimalarial, antihipertensi dan obesitas (Oladeji et al. , 2. Tumbuhan Jahe (Zingiber officinal. yang memang secara turun temurun oleh masyarakat Suku Banjar digunakan untuk obat berupa mengurangi keseleo, melancarkan peredaran darah dan pegal linu. Kandungannya berupa berbagai senyawa flavonoid dan fenol (Mao et al. , 2. Sesuai dengaan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor HK. 07/Menkes/187/2017 terkait Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia, bahwa jahe terbukti berkhasiat sebagai pegal Kemudian tumbuhan obat jarak cina (Jatropha multifida L) dipercayai secara empiris oleh masyarakat Desa Belangian sebagai mengobati luka namun, secara penelitian tumbuhan ini mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, fenolik dan saponin yang berbeda Ae beda dari setiap bagiannya dan kandungan zat inilah yang bekerja pada Jatropha multifida L sebagai antibakteri dari ekstrak dan getah daun tersebut diyakini menghambat pertumbuhan Staphylococcus aerus (Wijaya A, 2. Selanjutnya daun sungkai (Peronema canescens Jac. , yang sempat viral pada masa pandemi. Dikarenakan diyakini untuk meningkatkan daya tahan tubuh, peradangan dan membunuh virus. Kandungan senyawanya antara lain flavonoid, fenol, alkaloid, tannin dan saponin (Latief. Fatwa, et al. , 2. Secara penelitian tumbuhan ini dapat sebagai imunostimulan, anti peradangan. Kemudian tumbuhan salam (Syzygium polyanthu. dipercayai oleh masyarakat Desa Belangian bahwa daun salam dapat berfungsi sebagai kolesterol, bahwa secara penelitian daun salam juga dapat mengatasi penyakit diare, hipertensi dan kolesterol (Bhadreswara, 2. Beberapa tumbuhan lainnya yang berkhasiat obat misalnya pucuk bamboo (Schizostachyum brachycladu. yang secara empiris digunakan masyarakat Belangian untuk mengobati batuk mempunyai kandungan senyawa aktif yaitu senyawa flavonoid dan senyawa fenolik. Senyawa ini mempunyai efek farmakologis sebagai antibakteri, antimikroba, antiinflamasi, antioksidan dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh (I Nyoman, 2. https://ejurnal. id/index. php/jpcs Journal of Pharmaceutical Care and Sciences. E-ISSN: 2828-4828. Vol. No. Tahun. Etnomedicine Tumbuhan Obat Di Masyarakat Desa Belangian. Kalimantan Selatan Selain itu, daun Kenikir (Cosmo. digunakan masyarakat untuk menurunkan kadar asam Penelitian menyebutkan bahwa daun kenikir mempunyai efektivitas menurunkan asam urat dengan penghambatan xantin oksidase yang mencegah terbentuknya kristal asam urat dan merupakan salah satu yang menunjukkan aktivitas anti-oksidan yang paling tinggi. Namun, kadar asam urat sangat dipengaruhi oleh makanan kaya purin yang dikonsumsi serta gaya hidup masing-masing individu, maka besarnya penurunan akan berbeda-beda pada setiap individu (Saptono Putro, 2. Sebagai perbandingan antara penelitian ini dengan penelitian lainnya pada masyarakat etnis yang menggunakan tumbuhan obat yang salah satunya sebagai mengobati luka oleh suku Banjar di Desa Belangian. Provinsi Kalimantan Selatan ialah menggunakan jahe (Zingiber officinal. Jeruk nipis (Citrus aurantiifoli. Sirih merah (Piper Ornatu. Bidara (Phyllantus boxifoliu. Pohon jarak cina (Jatropha multifida L). Sinogiri (Phyllantus myrtifoliu. , dan Akar Carikan Merah. Sedangkan penelitian lain pada etnis Dayak Maanyan. Desa Matabu Kabupaten Barito Timur. Provinsi Kalimantan Tengah menyebutkan bahwa penanganan awal terhadap luka dapat menggunakan tumbuhan obat Kayu manis (Cinnamom umburmann. tumbuk, lalu tambahkan sedikit madu, lalu tempelkan atau oleskan pada bagian yang terluka (Widianto. Hal ini sesuai teori penelitian sebelumnya bahwa Etnomedicine yaitu ilmu yang mempelajari pandangan dan konsep masyarakat lokal mengenai kesehatan atau suatu ilmu yang mempelajari pengobatan dari etnis tertentu secara tradisional salah satunya memanfaatkan tumbuhan sebagai obat (Dapar et al. , 2. Serta membahas tentang penyakit, penyebabnya serta cara pemakaian menurut etnis tertentu (Mujahid et al. , 2. KESIMPULAN Terdapat 58 macam tumbuhan obat dapat digunakan sebagai obat oleh Masyarakat Suku Banjar. Desa Belangian. Tumbuhan Obat tersebut digunakan untuk mengobati atau mengurangi gejala pada 50 macam penyakit. Penyakit paling banyak disembuhkan adalah batuk dan obat Tumbuhan obat yang paling banyak digunakan adalah berasal dari suku Poaceae. Tumbuhan obat yang dipercaya dan diandalkan masyarakat untuk menyembuhkan suatu penyakit tertentu antara lain Cymbopogon citratus. Zingiber officinale. Jatropha multifida L. Peronema canescens jack dan Syzygium polyanthum. Terdapat banyak tumbuhan yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan obat ataupun penemuan obat baru. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih serta apresiasi yang sebesar-besarnya kepada informan Desa Belangian atas bantuan, keramahan, dan kerjasamanya. Dan rekan peneliti yang telah menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk penyusunan artikel ini. Kedua orang tua dan keluarga yang selalu mendoakan dan telah memberikan bantuan dukungan material dan moral selama masa perkuliahan sehingga penelitian ini dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. DAFTAR PUSTAKA