Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2020 Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) pada Perawat di Lampung Nova Mega Rukmana1. Juniarti Mega Putri2. Nana Novariana3 1,2,3 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Universitas Mitra Indonesia e-mail: novamegarukmana@umita. Abstract Republic of Indonesia Minister of Heal Regulation No. 66 of 2016 concerning occupational safety health at the Hospital,states that the Hospital is a workplace that has a high risk to the safety and health of hospital human resources,patients,patient companions,visitors and the Hospital environment. The prevalence of hepatitis in Lampung province increased from 2007 3% to 1% in 2014 and 66% in HIV prevalence. Using ADP will prevent the emergence of The design of this research is analytic observational analysis with Cross Sectional The population in this study is all health workers in RSIA. PBH Bandar Lampung, with the number of samples is 35 people. Univariate analysis test using chi-square. The results showed that there was a relationship between are knowledge and behavior of health workers in the use of PPE . -value = 0,000 and OR=24,7 )Suggestion for the head of the room to increase supervision in the use of personal protective equipment routinely in carrying out health services for patients in the Hospital. Keywords :Knowledge,Personal,protective equipment,Nurse Abstrak Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 66 tahun 2016 tentang kesehatan keselamatan kerja di Rumah Sakit , menyatakan bahwa Rumah Sakit merupakan tempat kerja yang memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan sumber daya manusia rumah sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung maupun lingkungan Rumah Sakit. Prevalensi hepatitis di provinsi Lampung meningkat dari tahun 2007 yaitu 0,3% menjadi 1% pada tahun 2014 dan prevalensi HIV 66%. Dengan Menggunakan ADP maka akan mencegah timbunya penyakit. Desain penelitian ini adalah analitik observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan di RSIA. Puri Betik Hati Bandar Lampung , dengan jumlah sampel adalah 35 orang. Uji analisis univariat menggunakan chi-square. Hasil Penelitian diperoleh ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku tenaga kesehatan dalam pemakaian APD . -value = 0,000 dan OR = 24,. Saran bagi kepala ruangan untuk meningkatkan pengawasan dalam penggunaan alat pelindung diri secara rutin dalam melakukan pelayanan kesehatan terhadap pasien di RS. Kata Kunci : Pengetahuan. Pemakaian Alat Pelindung Diri. Perawat. PENDAHULUAN Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 66 tahun 2016 tentang kesehatan keselamatan kerja di Rumah Sakit , menyatakan bahwa Rumah Sakit merupakan tempat kerja yang memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan sumber daya manusia rumah sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung maupun lingkungan Rumah Sakit. Jika memperhatikan isi dari pasal tersebut maka jelaslah bahwa Rumah Sakit termasuk dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di Rumah Sakit, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung Rumah Sakit (Permenkes RI No. 66, 2. Standar pelayanan kesehatan dan keselamatan kerja setidaknya harus memenuhi kriteria diantaranya adalah ketersediaan SDM dan ketersediaan sarana dan prasarana. Ketersediaan SDM K3RS dan Komite PPI yang kompeten karena harus memenuhi kualifikasi persyaratan serta penelitian dan pengembangan. Aspek sarana dan prasarana juga perlu dipenuhi dalam standar pelayanan kesehatan dan keselamatan kerja seperti penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap sesuai dengan SOP yang ada. (Permenkes no. 66 Tahun HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) PADA PERAWAT DI LAMPUNG (NOVA MEGA RUKMANA) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2020 Data statistik dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat sepanjang tahun 2015 jumlah pesertanya yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 089 orang. Sebanyak 34,43% penyebab kecelakaan kerja karena posisi tidak aman atau ergonomis dan sebanyak 32,12% perilaku pekerja yang tidak memakai peralatan yang safety. Sementara itu di Indonesia berdasarkan data dari Riskesdas tahun 2013 prevalensi HBSAg adalah 7,2%, diperkirakan 18 juta orang memiliki Hepatitis B dan 3 juta orang menderita Hepatitis C dan untuk prevalensi HIV 74,2% (Infodatin, 2. Prevalensi hepatitis di provinsi Lampung meningkat dari tahun 2007 yaitu 0,3% menjadi 1% pada tahun 2014 dan prevalensi HIV 66% (Profil Dinkes Lampung, 2. Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Betik Hati merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa kesehatan, memiliki karyawan yang terbagi atas karyawan medis dan non medis dengan sistem operasional 24 jam. Sehubungan dengan peningkatan jumlah pasien maka RSIA Puri Betik Hati dituntut untuk meningkatkan standar kesehatan dan keselamatan kerja untuk mencegah potensi- potensi bahaya yang mungkin terjadi. Untuk memastikan baik buruknya standar pelayanan maka dilakukan program pengendalian mutu melalui evaluasi mutu program PPI yang merupakan proses pengukuran dan penilaian atas semua kegiatan program PPI secara berkala yang meliputi managemen risiko, managemen penggunaan sumber daya, pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan dan pencegahan dan kontrol infeksi, surveilance dan Mengacu pada ketentuan dan pedoman Pemenkes nomor 27 tahun 2017 tentang pedoman PPI di fasilitas pelayanan kesehatan, maka RSIA Puri Betik Hati juga melakukan evaluasi mutu program PPI pada tahun 2016 ditinjau dari tiga kegiatan yakni audit . , review . dan observasi. Hasil survei dan observasi evaluasi mutu Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di RSIA Puri Betik Hati Bandar Lampung menunjukkan bahwa kualitas program PPI di RSIA Puri Betik Hati Bandar Lampung yang masih terdapat kesenjangan seperti insiden tertusuk jarum dan angka kejadian infeksi IDO yang masih tinggi di atas angka target dan persentase kepatuhan penggunaan APD dan kepatuhan cuci tangan juga masih dibawah target. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di RSIA Puri Betik Hati terhadap 10 perawat, 8 perawat atau 80% kurang berperilaku baik dalam pelaksanaan prosedur penggunaan APD saat melakukan perawatan pasien. seperti tidak memakai sarung tangan saat pemasangan infus, pemberian obat, perawatan pasien, pembersihan cairan pasien dll. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor- faktor yang berhubungan dengan perilaku pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) pada perawat di RSIA Puri Betik Hati Bandar Lampung Tahun 2018. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan Desain penelitian analitik observasional yaitu untuk mengetahui hubungan Pengetahuan dengan perilaku tenaga kesehatan dalam pemakaian APD di RSIA Puri Betik Hati Bandar Lampung Tahun 2018 Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat . oint time approac. (Nursalam, 2. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 15 Mei Ae 30 Juni 2018. Tempat penelitian yang digunakan yaitu di RSIA. Puri Betik Hati Bandar Lampung. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan di RSIA. Puri Betik Hati Bandar Lampung yaitu 35 orang , dengan jumlah sampel adalah 35 orang. menggunakan Teknik Sampling yaitu Total sampling Uji analisis bivariat menggunakan chi-square. HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) PADA PERAWAT DI LAMPUNG (NOVA MEGA RUKMANA) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2020 HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Hasil Analisis Univariat No. Variabel Pengetahuan Kurang Baik Baik Sikap Kurang Mendukung Mendukung Masa Kerja O 3 tahun >3 tahun Motivasi Kurang Mendukung Mendukung Ketersediaan APD Tidak Lengkap Lengkap Pengawasan Kurang Baik Baik Penggunaan APD Tidak Menggunakan Menggunakan Frekuensi (%) Berdasarkan table 1 dapat diketahui bahwa. Sebagian besar responden berpengetahuan kurang baik, yaitu sebanyak 22 orang . ,9%). Sebagian besar responden memiliki sikap mendukung, yaitu sebanyak 19 orang . ,3%). Sebagian besar responden memiliki masa kerja > 3 tahun, yaitu sebanyak 29 orang . ,9%). Sebagian besar responden memiliki motivasi yang kurang mendukung, yaitu sebanyak 18 orang . ,4%). Sebagian besar ketersediaan APD di ruangan kerja responden dalam kategori lengkap, yaitu sebanyak 20 orang . ,1%). Sebagian besar responden memiliki pengawasan dalam kategori kurang baik, yaitu sebanyak 20 orang . ,1%). Sebagian besar responden tidak menggunakan APD sesuai SOP, yaitu sebanyak 20 orang . ,1%). Tabel 2 Hasil Analisis Bivariat Variabel Penggunaan APD Tidak Menggunakan Menggunakan Jumlah . % CI) Pengetahuan Kurang Baik 0,000 . ,8Baik 158,. Total Berdasarkan table 2 dapat dilihat bahwa. Pada variabel pengetahuan didapatkan p-value = 0,000, sehingga p-value< . ,000< 0,. maka Ho ditolak. Jadi dapat disimpulkan terdapat hubungan antara pengetahuan tenaga kesehatan dengan perilaku tenaga kesehatan dalam pemakaian alat pelindung diri (APD) dan didapatkan pula nilai odds ratio (OR) = 24,7. HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) PADA PERAWAT DI LAMPUNG (NOVA MEGA RUKMANA) Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) E-ISSN: 2745-8555 Vol. No. Agustus 2020 Pembahasan Pemakaian APD Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa sebagian besar responden tidak menggunakan APD sesuai SOP, yaitu sebanyak 20 orang . ,1%). Menurut peneliti, kurangnya penggunaan APD disebabkan karena kurang tersediannya alat- alat pelindung diri di rumah sakit disebabkan kerena berbagai macam faktor. Kurangnya penggunaan APD merupakan salah satu faktor memudahkannya transmisi agen penyakit dari pasien ke tenaga kesehatan ataupunsebaliknya. APD berfungsi melindungi tenaga kesehatan terhadap bahaya yang dapat menggangu kesehatan yang ada dilingkungan kerjanya. Pengetahuan Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa sebagian besar responden berpengetahuan kurang baik, yaitu sebanyak 22 orang . ,9%) dan berdasarkan uji statistik didapatkan p-value = 0,000 dan odds ratio (OR) = 24,7. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati . , tentang faktor- faktor yang berhubungan dengan penggunaan alat pelindung diri pada bidan saat melakukan pertolongan persalinan normal di Kabupaten Hulu Sungai Selatan diperoleh ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan bidan dengan penggunaan APD. Menurut peneliti, kurangnya pengetahuan responden tentang penggunaan APD disebabkan belum adanya informasi secara lengkap tentang keselamatan dan kesehatan kerja ataupun penjelasan secara rinci potensi bahaya yang dihadapi dalam pekerjaan. Peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan dapat terjadi melalui proses pembelajaran antara lain dengan membaca ataupun pelatihan-pelatihan yang KESIMPULAN Sebagian besar responden berpengetahuan kurang baik . ,9%), sikap kurang mendukung . ,7%). memiliki masa kerja > 3 tahun . ,9%), motivasi yang kurang mendukung . ,4%), ketersediaan APD di ruangan kerja dalam kategori lengkap . ,1%), pengawasan dalam kategori kurang baik . ,1%), tidak menggunakan APD sesuai SOP . ,1%) dan disimpulkan Terdapat hubungan antara pengetahuan, dengan perilaku tenaga kesehatan dalam pemakaian alat pelindung diri (APD). Diharapkan bagi kepala ruangan untuk meningkatkan pengawasan dalam penggunaan alat pelindung diri secara rutin dalam melakukan pelayanan kesehatan terhadap pasien di RS. Diharapkan kepada tenaga perawat untuk terus meningkatkan pengetahuan, sikap dan motivasinya terhadap penggunaan APD sehingga dapat menekan perilaku yang tidak aman dalam bekerja dan mampu memenuhi target dalam pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan. Diharapkan kepada Dinas Kesehatan agar melakukan pengawasan dalam pelaksanaan K3RS, dengan menerapkan tindakan sanksi yang sesuai peraturan dari pihak dinas kesehatan, seperti diberikannya surat peringatan hingga sampai tahap diputuskannya PHK bagi yang tidak Peraturan harus dibuat ecara lebih tegas terhadap perlindungan publik dan pekerja seperti ini harus menjadi persyaratan mutlak dalam pemberian izin pendirian suatu rumah sakit. Untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja perawat, pihak RS diharapkan memberikan sosialisasi kepada seluruh pegawainya tentang penggunaan APD dan melakukan pengawasan terhadap hal tersebut. Pihak manajemen RS diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan alat dengan melakukan pengadaan yang cepat terhadap APD. UCAPAN TERIMA KASIH Pada Kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada instansi dan Direktur RSIA yang mendukung saya dalam menyelesaikan jurnal yang di buat. DAFTAR PUSTAKA