Volume 5 Nomor 1 . Juni GENITRI: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN ISSN: 2964-7010 Peningkatan Keterampilan Masyarakat melalui Demonstrasi Pembuatan Nugget Tempe sebagai Alternatif Pangan Bergizi untuk Pencegahan Stunting Sari Widyaningsih. Rismayani. Ade Elvina. Lety Arlenti. Resya Aprillia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti Corresponding author: Ade Elvina Email: adeelvina55@gmail. ABSTRAK Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang dipengaruhi oleh kurangnya asupan gizi, terutama protein. Pemanfaatan pangan lokal seperti tempe sebagai alternatif sumber protein perlu dioptimalkan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat melalui demonstrasi pembuatan nugget tempe sebagai alternatif pangan bergizi untuk pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah edukasi dan demonstrasi langsung kepada peserta, dengan pengukuran pengetahuan dan keterampilan menggunakan pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan dari 50 menjadi 80 serta peningkatan keterampilan dari 20 menjadi 40 setelah intervensi. Hal ini menunjukkan bahwa metode demonstrasi efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan praktik masyarakat. Nugget tempe sebagai inovasi olahan pangan lokal memiliki potensi sebagai alternatif makanan bergizi yang mudah dibuat, ekonomis, dan kaya protein. Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan stunting melalui pemberdayaan masyarakat berbasis pangan lokal. Kata Kunci: Stunting. Tempe. Nugget-Tempe. Pengetahuan. Keterampilan. Demonstrasi ABSTRACT Stunting remains a significant public health problem influenced by inadequate nutritional intake, particularly protein deficiency. The utilization of local food sources such as tempeh as an alternative protein source needs to be optimized through improving community knowledge and skills. This community service activity aimed to enhance community knowledge and skills through a demonstration of making tempeh nuggets as a nutritious food alternative for stunting prevention. The methods used were education and direct demonstration, with knowledge and skills measured using pre-test and post-test. The results showed an increase in the average knowledge score from 50 to 80 and an improvement in skills from 20 to 40 after the intervention. This indicates that the demonstration method is effective in improving both understanding and practical abilities of participants. Tempeh nuggets as an innovation of local food processing have the potential to be a nutritious, affordable, and protein-rich alternative This activity is expected to support stunting prevention efforts through community empowerment based on local food resources. Keyword: Stunting. Tempeh. Tempeh-Nuggets. Knowledge. Skills. Demonstration Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm/index PENDAHULUAN Permasalahan stunting hingga saat ini masih menjadi tantangan utama dalam bidang kesehatan masyarakat di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan pada anak balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi dalam jangka panjang, terutama selama periode kritis 1. 000 hari pertama kehidupan (Susianto et al. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya terbatas pada hambatan pertumbuhan fisik, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, menurunkan produktivitas di masa dewasa, serta meningkatkan risiko terjadinya penyakit degeneratif (Tengku Hartian, et. Tingginya angka kejadian stunting menunjukkan bahwa diperlukan upaya berkelanjutan dengan melibatkan peran aktif keluarga serta masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak (Hesti Atasasih. Irma Susan Paramita 2. Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kejadian stunting adalah ketidakcukupan asupan gizi, khususnya protein, pada balita. Asupan protein yang tidak adekuat dapat menghambat pertumbuhan jaringan tubuh dan perkembangan otak anak. Selain itu, praktik pemberian makanan yang kurang tepat serta rendahnya pemanfaatan memperburuk kondisi tersebut (Agustin. Anis, and Siskawardani 2. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan pemanfaatan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh, terjangkau, dan memiliki nilai gizi tinggi. Tempe merupakan salah satu pangan lokal khas Indonesia yang kaya akan protein nabati, vitamin, dan mineral, serta mudah diolah menjadi berbagai jenis makanan. Kandungan protein dalam tempe diketahui memiliki kualitas yang baik dan mudah dicerna, sehingga sangat potensial sebagai alternatif sumber protein untuk balita dalam rangka pencegahan stunting (Widodo. Hardianti, and Amir 2. Selain itu, tempe juga mengandung senyawa bioaktif hasil fermentasi yang bermanfaat bagi kesehatan pencernaan dan daya tahan tubuh anak. Meskipun demikian, pemanfaatan tempe sebagai makanan bergizi untuk balita masih belum optimal. Salah satu kendala yang dihadapi masyarakat adalah keterbatasan mengolah tempe menjadi menu yang menarik dan sesuai dengan preferensi anak. Anak balita cenderung memilih makanan yang memiliki bentuk dan rasa yang menarik, sehingga diperlukan inovasi pengolahan pangan yang dapat meningkatkan daya terima anak terhadap makanan bergizi (Yarmaliza 2. Salah satu inovasi pengolahan tempe yang dapat dilakukan adalah pembuatan nugget tempe sebagai alternatif pangan bergizi. Nugget tempe memiliki tekstur dan bentuk yang disukai anak-anak, serta dapat dikombinasikan dengan bahan lain untuk meningkatkan nilai gizinya. Selain itu, proses pembuatannya relatif sederhana sehingga dapat diaplikasikan oleh masyarakat di tingkat rumah tangga. Dengan demikian, inovasi ini berpotensi meningkatkan konsumsi protein pada balita secara berkelanjutan (Humairoh et al. Dalam masyarakat, metode demonstrasi merupakan salah satu pendekatan yang efektif untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman masyarakat dalam praktik pengolahan pangan. Metode ini memungkinkan peserta untuk belajar secara langsung melalui pengamatan dan praktik, sehingga dapat meningkatkan retensi pengetahuan dan keterampilan secara signifikan (Dwiyanti et al. Demonstrasi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi aktif, sehingga hasil pembelajaran lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini dilaksanakan di Desa Bukit Peninjauan I. Kecamatan Sukaraja. Kabupaten Seluma, yang berdasarkan hasil survei awal menunjukkan adanya peningkatan kasus stunting dalam beberapa bulan terakhir. Data yang diperoleh pada bulan Desember 2025 menunjukkan bahwa jumlah kasus stunting pada balita mengalami tren peningkatan, yaitu sebanyak 13 kasus pada September 2025, meningkat menjadi 14 kasus pada Oktober 2025, dan kembali meningkat menjadi 17 kasus pada November 2025. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa masalah stunting di wilayah tersebut masih menjadi permasalahan kesehatan yang serius dan memerlukan intervensi yang tepat dan berkelanjutan. Selain itu, hasil observasi dan wawancara dengan kader kesehatan serta ibu balita menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm terkait pemenuhan gizi seimbang dan pengolahan makanan bergizi masih terbatas. Masyarakat cenderung mengolah bahan pangan secara sederhana dan kurang bervariasi, sehingga asupan gizi anak belum optimal. Padahal, bahan pangan lokal seperti tempe yang kaya protein nabati mudah diperoleh dan relatif terjangkau, namun belum dimanfaatkan secara maksimal dalam bentuk olahan yang menarik dan disukai anak. Keterbatasan keterampilan masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi produk yang inovatif dan bernilai gizi tinggi menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap permasalahan tersebut. Oleh karena masyarakat melalui kegiatan edukasi dan demonstrasi pembuatan olahan pangan berbasis tempe, seperti nugget tempe, sebagai alternatif makanan bergizi. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menyediakan makanan sehat bagi anak, sehingga dapat berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting di Desa Bukit Peninjauan I. Sejalan dengan teori perubahan perilaku, peningkatan pengetahuan dan sikap melalui keterampilan dan praktik individu dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kegiatan demonstrasi pembuatan nugget tempe tidak keterampilan, tetapi juga untuk membentuk sikap positif masyarakat terhadap pemanfaatan pangan lokal sebagai upaya pencegahan stunting (Dwiyanti et al. Berdasarkan uraian tersebut, diperlukan kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan keterampilan masyarakat melalui demonstrasi pembuatan nugget tempe sebagai alternatif pangan bergizi. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengolah pangan lokal, serta mendorong praktik pemberian makanan bergizi pada anak sebagai upaya preventif terhadap stunting di tingkat rumah tangga. METODE Pelaksanaan masyarakat ini dilakukan di Desa Bukit Peninjauan I Kecamatan Sukaraja. Kabupaten Seluma. Provinsi Bengkulu dengan diikuti oleh 20 orang ibu yang memiliki balita. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan tanggal 26 Januari 2026 dengan rangkaian kegiatan Tim pengabdian melakukan pre test sebelum memberikan intervensi dan di akhir kegiatan melakukan post test dengan menggunakan kuesioner untuk keterampilan ibu. Tim memberikan edukasi dan demonstrasi tentang kandungan gizi dari bahan-bahan yang digunakan untuk membuat nugget tempe. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema peningkatan keterampilan masyarakat melalui demonstrasi pembuatan nugget tempe sebagai alternatif pangan bergizi untuk pencegahan stunting sebanyak 20 orang tua yang memiliki balita di Desa Bukit Peninjauan I Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu sudah dilaksanakan sepenuhnya . %) dengan hasil sebagai Gambar 1. Hasil Pre-test dan Post-test Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada tingkat pengetahuan responden terkait pangan bergizi sebagai upaya pencegahan stunting, dimana nilai rata-rata meningkat dari 50 . ategori kuran. menjadi 80 . ategori bai. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar responden Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm masih memiliki pemahaman yang terbatas mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang serta variasi pengolahan bahan pangan lokal yang bernilai gizi tinggi. Rendahnya pengetahuan tersebut berpotensi mempengaruhi praktik pemberian makanan pada anak, sehingga kebutuhan gizi tidak terpenuhi secara Setelah intervensi, terjadi perbaikan yang bermakna pada aspek kognitif responden, yang tercermin dari peningkatan skor pengetahuan ke kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa responden telah mampu memahami konsep dasar gizi seimbang, pentingnya asupan protein dalam pencegahan stunting, serta alternatif pengolahan bahan pangan lokal menjadi makanan yang lebih menarik dan bergizi. Peningkatan pengetahuan ini merupakan indikator awal yang penting dalam perubahan perilaku kesehatan, karena pengetahuan yang baik akan mempengaruhi sikap dan praktik dalam pemenuhan gizi keluarga, khususnya pada anak. Dengan demikian, peningkatan skor pengetahuan yang terjadi tidak hanya mencerminkan keberhasilan transfer informasi, tetapi juga menunjukkan adanya potensi penyediaan makanan bergizi. Hal ini menjadi dasar penting dalam upaya pencegahan stunting, mengingat salah satu faktor utama penyebab stunting adalah kurangnya pemahaman orang tua terkait pola pemberian makan yang tepat dan bergizi seimbang. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa metode pendidikan kesehatan berbasis demonstrasi mampu meningkatkan pengetahuan secara signifikan dibandingkan metode konvensional. Hasil pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Dwiyanti et al. menyebutkan bahwa pendekatan demonstrasi interaktif dapat meningkatkan skor pengetahuan secara bermakna . <0,. , karena peserta terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian lain yang menemukan adanya perbedaan signifikan pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi dengan metode demonstrasi dan permainan edukatif . <0,. (Purnaningsih et al. Peningkatan penelitian ini juga dapat dijelaskan melalui teori pendidikan kesehatan, yang melibatkan indera penglihatan dan praktik langsung akan meningkatkan retensi informasi. Demonstrasi memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan, sehingga peserta lebih mudah memahami konsep gizi dan cara pengolahan makanan sehat. Hal ini didukung oleh Fadel et . yang menyatakan bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan individu dalam pengelolaan gizi anak secara signifikan. Selain itu, materi yang diberikan dalam demonstrasi berupa pembuatan nugget tempe juga relevan dengan kebutuhan masyarakat, karena menggunakan bahan yang mudah diperoleh dan memiliki nilai gizi tinggi. Tempe sebagai sumber protein nabati, telur sebagai sumber protein hewani, serta susu sebagai sumber kalsium memberikan kontribusi penting dalam mendukung pertumbuhan anak. Peningkatan literasi gizi masyarakat terbukti berperan dalam pencegahan stunting, dimana intervensi berbasis edukasi gizi dapat meningkatkan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Hasil kegiatan ini juga menunjukkan bahwa edukasi berbasis praktik memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan masyarakat dalam mengolah makanan bergizi. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa pengetahuan sekaligus keterampilan dalam praktik pemberian makanan sehat di Dengan demikian, demonstrasi pembuatan nugget tempe tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membekali masyarakat dengan kemampuan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Misrawati. Nurhannifah Rizky Tampulon, et. Secara keseluruhan, peningkatan nilai pengetahuan dari kategori kurang menjadi baik menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan efektif dan dapat dijadikan sebagai strategi berbasis masyarakat. Kegiatan demonstrasi seperti ini dapat direkomendasikan sebagai salah satu upaya edukatif dalam program pencegahan stunting, khususnya dalam meningkatkan pemanfaatan pangan lokal bergizi (Setyawaningsih et al. Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Gambar 2. Hasil Pre test dan Post test Keterampilan Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rata-rata nilai keterampilan responden dalam pembuatan nugget tempe dari 20 . ategori kuran. menjadi 40 . ategori bai. Peningkatan ini menunjukkan bahwa metode demonstrasi efektif dalam khususnya dalam pengolahan makanan bergizi berbasis pangan lokal. Peningkatan keterampilan ini dapat dijelaskan karena metode demonstrasi memberikan pengalaman belajar secara langsung . earning by doin. , dimana peserta tidak hanya menerima informasi secara teoritis, tetapi juga melihat dan mempraktikkan secara langsung setiap tahapan pembuatan nugget Keterlibatan aktif peserta dalam proses pembelajaran ini memungkinkan terbentuknya kemampuan psikomotor yang lebih baik dibandingkan metode edukasi pasif seperti ceramah (Auliya et al. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa metode demonstrasi memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan keterampilan karena peserta dapat meniru langkah-langkah yang diperagakan secara langsung. Studi terbaru menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan berbasis praktik masyarakat dalam pengolahan makanan bergizi secara signifikan . <0,. Selain itu, pendekatan praktik langsung terbukti lebih efektif dalam membentuk kebiasaan baru dibandingkan penyampaian informasi secara verbal saja (Putri et al. Peningkatan kesederhanaan bahan dan proses pembuatan nugget tempe. Bahan seperti tempe, telur, dan susu mudah diperoleh di lingkungan masyarakat serta memiliki nilai gizi yang tinggi, sehingga memudahkan peserta untuk mempraktikkan kembali secara mandiri di Kemudahan ini menjadi faktor penting keterampilan yang diperoleh tidak hanya berhenti pada saat kegiatan, tetapi berpotensi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari (Nur and Puspitasari 2. Selain itu, keterampilan yang meningkat tidak hanya terbatas pada aspek teknis pengolahan makanan, tetapi juga mencakup aspek higienitas dan penyajian. Hal ini penting dalam konteks kesehatan masyarakat, karena pengolahan makanan yang baik dan higienis berperan dalam mencegah penyakit serta mendukung pemenuhan gizi yang optimal bagi anak (Humairoh et al. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa demonstrasi pembuatan nugget tempe merupakan metode yang efektif dalam meningkatkan keterampilan Oleh karena itu, kegiatan ini dapat direkomendasikan sebagai salah satu strategi meningkatkan kemampuan keluarga dalam menyediakan makanan bergizi sebagai upaya pencegahan stunting (Fadel et al. Peningkatan pengetahuan yang terjadi menunjukkan bahwa penyampaian informasi melalui metode demonstrasi mampu membantu peserta memahami konsep gizi, khususnya terkait pemanfaatan pangan lokal seperti tempe Demonstrasi memungkinkan peserta untuk melihat secara langsung proses pengolahan makanan, sehingga informasi yang diterima menjadi lebih konkret dan mudah dipahami. Hal ini sejalan dengan teori pendidikan kesehatan yang menyatakan bahwa penggunaan media visual dan praktik langsung dapat Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm dibandingkan metode ceramah saja (Misrawati Di sisi lain, peningkatan keterampilan menunjukkan bahwa metode demonstrasi tidak hanya memberikan pemahaman, tetapi juga membentuk kemampuan praktis masyarakat dalam mengolah makanan. Melalui pendekatan learning by doing, peserta terlibat secara aktif dalam setiap tahapan pembuatan nugget tempe, mulai dari persiapan bahan hingga penyajian. Keterlibatan aktif ini berperan penting dalam membentuk keterampilan psikomotor, sehingga peserta tidak hanya mengetahui, tetapi juga (Setyawaningsih et al. Peningkatan keterampilan dalam penelitian ini saling berkaitan dan saling mendukung. Pengetahuan yang baik akan mendorong perubahan perilaku, sedangkan keterampilan yang dimiliki mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pencegahan stunting, kombinasi keduanya sangat penting karena tidak cukup hanya mengetahui pentingnya gizi, tetapi juga diperlukan kemampuan untuk mengolah makanan bergizi secara mandiri di tingkat rumah tangga (Dwiyanti et al. Selain itu, penggunaan bahan-bahan seperti tempe, telur, dan susu dalam pembuatan nugget tempe memberikan nilai tambah gizi yang signifikan. Tempe sebagai sumber protein nabati, telur sebagai sumber protein hewani, serta susu sebagai sumber kalsium berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah bahan-bahan tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kualitas konsumsi pangan keluarga dan berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting (Widodo et Secara keseluruhan, hasil kegiatan ini menegaskan bahwa metode demonstrasi merupakan pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat, baik dari aspek pengetahuan maupun keterampilan. Dengan demikian, intervensi ini memiliki potensi besar untuk diterapkan secara luas sebagai bagian dari program promosi kesehatan dalam pencegahan stunting di masyarakat. DOKUMENTASI KEGIATAN Gambar 3. Demonstrasi pembuatan nugget tempe Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Gambar 4. Demonstrasi pembuatan nugget tempe Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Penanganan Anak Stunting Au Implementasi Makanan Nugget Tempe. Ay 5. :155Ae61. doi:10. 34305/jnpe. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa demonstrasi pembuatan nugget tempe sebagai alternatif pangan bergizi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan Peningkatan perbedaan skor sebelum dan sesudah edukasi, yang mencerminkan pemahaman yang lebih baik terkait pentingnya gizi seimbang dan pencegahan stunting. Selain itu, keterampilan masyarakat dalam mengolah pangan lokal juga mengalami peningkatan setelah diberikan demonstrasi secara langsung. Metode demonstrasi terbukti mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret dan mudah dipahami, sehingga peserta dapat mempraktikkan kembali secara mandiri di rumah. Pemanfaatan tempe sebagai bahan pangan lokal yang kaya protein menjadi salah satu solusi inovatif dalam upaya pencegahan stunting, karena mudah diperoleh, ekonomis, dan memiliki nilai gizi yang tinggi. Dengan meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga berpotensi mendukung ketahanan pangan keluarga berbasis sumber daya lokal. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih disampaikan kepada LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti sudah memfasilitasi kegiatan Pengabdian Masyarakat. Dan terima kasih kepada Camat Sukaraja dan Kepala Desa Bukti Peninjauan I yang sudah memberi izin sehingga kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat dilaksanakan. DAFTAR PUSTAKA