Vol. No. Oktober 2025. DOI: https://doi. org/10. 60011/jumpa. MENGGALI SINERGI KATEKESE DAN PASTORAL: IMPLIKASI PRAKTEK PERDUKUNAN DAN MAGI DALAM KEHIDUPAN KEAGAMAAN SUKU MALIND-ANIM DI STASI SANTO ANTONIUS KAISA Xaverius Wonmut. Erly Lumban Gaol. Raimundus Sedo. 1-2-3 Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke. Papua Selatan. Indonesia xaveriuswonmut@stkyakobus. erly@stkyakobus. raimundus@stkyakobus. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggali sinergi antara katekese dan pelayanan pastoral dalam konteks bagaimana implikasi praktik perdukunan dan magi terhadap kehidupan keagamaan Suku Malind-Anim di Stasi Santo Antonius Kaisa. Paroki Santo Petrus dan Paulus. Keuskupan Agung Merauke. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode etnografi dan grounded theory, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh agama, pemuka adat, dan anggota komunitas Malind-Anim. Analisis data dilakukan secara tematik dengan fokus bagaimana implikasi praktik perdukunan dan magi turut membentuk dinamika iman dan partisipasi umat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik perdukunan dan magi masih menjadi bagian integral dari sistem kepercayaan tradisional yang mempengaruhi cara hidup keagamaan Suku Malind-Anim. Sinergi katekese dan pastoral yang kontekstual menjadi ruang dialog dan integrasi nilai-nilai iman Katolik dengan kearifan lokal, sehingga membuka peluang pembaruan spiritual tanpa mengabaikan identitas budaya. Selain itu, strategi pastoral yang adaptif dan katekese yang dialogis menjadi solusi efektif dalam menghadapi tantangan Implikasi praktis dari penelitian ini menyarankan pendekatan katekese-pastoral yang humanis dan kontekstual dapat memperkuat keterlibatan umat Malind-Anim dalam kehidupan gereja sekaligus menghargai warisan budaya mereka. Kata Kunci: Katekese. Pastoral. Pendidikan Agama. Dialog Partisipatif. Kearifan Lokal Suku Malind. Abstract This study aims to explore the synergy between catechesis and pastoral ministry in the context of how shamanism and magic practices affect the religious life of the Malind-Anim tribe in St. Antonius Kaisa Station. St. Peter and Paul Parish. Archdiocese of Merauke. The method used is descriptive qualitative research with ethnographic and grounded theory methods. Data was collected through participatory observation, in-depth interviews with religious leaders, traditional leaders, and members of the Malind-Anim community. Data analysis was carried out thematically with a focus on how the implications of shamanism and magic practices shape the dynamics of faith and community The findings show that shamanism and magic practices are still an integral part of the traditional belief system that influences the religious life of the Malind-Anim tribe. The synergy of contextual catechesis and pastoral care provides a space for dialogue and integration of Catholic values with local wisdom, thus opening up opportunities for spiritual renewal without neglecting cultural identity. In addition, adaptive pastoral strategies and dialogical catechesis are effective solutions in facing the challenges of inculturation. The practical implications of this research suggest that a humanistic and contextual catechetical-pastoral approach can strengthen the involvement of the Malind-Anim people in church life while respecting their cultural heritage. Keywords: Catechesis. Pastoral Care. Religious Education. Participatory Dialogue. Local Wisdom of The Malind Tribe. Page | 13 PENDAHULUAN Menilik dinamika kehidupan keagamaan masyarakat adat, khususnya Suku Malind-Anim di wilayah Stasi Santo Antonius Kaisa, praktik-praktik kepercayaan tradisional seperti perdukunan dan magi masih Aumemegang perananAy penting dalam kehidupan sehari-hari diyakini sebagai kepercayaan leluhur turuntemurun. Fenomena ini menimbulkan tantangan sekaligus peluang bagi gereja Katolik dalam mendayagunakan pendekatan katekese dan pastoral kontekstual agar dapat merespons kebutuhan spritual serta menjaga keinginan umat beriman dalam kerangka inkulturasi yang sensitif terhadap kearifan lokal. Menurut Bosch . , proses evangelisasi dan pembentukan komunitas iman harus selalu memperhatikan konteks budaya dan nilai-nilai yang melekat dalam masyarakat setempat agar tidak terjadi pendangkalan atau bahkan penolakan terhadap pesan Injil. Hal ini sejalan dengan konsep inkulturasi yang dikembangkan oleh sejumlah teolog seperti Bevans . , yang menekankan bahwa misi gereja harus mampu menyesuaikan diri dengan budaya lokal tanpa mengorbankan nilai-nilai dasar iman Katolik. Namun kenyataannya, masih terdapat ketegangan antara praktik kepercayaan tradisional seperti perdukunan dan ajaran Katolik yang secara normatif menolak praktik-praktik magi karena berpotensi menjadi bentuk sinkretisme yang kurang sehat (Rahardjo, 2. Praktek magi ini dapat menimbulkan fragmentasi dalam komunitas Gereja, menurunkan kualitas katekese, dan meningkatkan efektivitas pelayanan pastoral jika tidak diantisipasi dengan strategi yang tepat. Konteks khusus di Stasi Santo Antonius Kaisa menampilkan bahwa perdukunan dan magi tidak hanya dimaknai sebagai praktik supranatural biasa, melainkan sebagian umat menganggap bagian dari Aupraktek budaya yang turun temurun-merupakan bagian kearifan lokalAy dimana dapat dipandang mengatur hubungan sosial, pemuliaan leluhur, dan penjagaan harmoni dengan alam (Sutrisno, 2. Oleh karena itu, pengembangan sinergi antara katekese dan pastoral mampu membangun dialog kritis dan konstruktif dengan nilai-nilai tersebut menjadi sangat mendesak. Hal ini sekaligus menanggapi panggilan pastoral Gereja Katolik di Keuskupan Agung Merauke untuk melakukan pendekatan inkulturatif yang membangun di tengah masyarakat majemuk dan beragam. Dalam perspektif katekese. Raharjo . menegaskan perlunya pengembangan model pembelajaran iman yang relevan dengan konteks sosial budaya agar peserta katekis dapat lebih mudah menerima dan menginternalisasi pesan iman dalam kehidupan nyata. Hal ini memperkuat asumsi bahwa katekese dan pastoral tidak dapat berdiri sendiri secara parsial, melainkan harus dirancang secara sinergis agar menghasilkan dampak spiritual yang optimal dan inkulturasi yang otentik. Selain itu, penelitian terdahulu oleh Niode . tentang pola pelatihan iman umat Malind-Anim menyebutkan bahwa pendekatan pastoral yang efektif-sensitif terhadap praktik budaya lokal mampu membangun kepercayaan dan keterlibatan aktif umat dalam Gereja. Namun, masih terdapat keterbatasan dalam rangka mengatasi praktik perdukunan dan magi yang dianggap bertentangan dengan iman Katolik. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengeksplorasi lebih jauh bagaimana sinergi antara katekese dan pastoral dapat menciptakan ruang dialog dan pemahaman bersama menjembatani permasalahan tersebut. Dari sudut pandang teori ini, terlihat jelas bahwa integrasi katekese dan pastoral dengan pendekatan inkulturatif merupakan sebuah strategi kebutuhan dalam konteks kehidupan keagamaan suku Malind-Anim yang masih melekat pada nilai-nilai tradisional. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritik dan praktis bagi pengembangan model pastoral dan instrumen katekese yang adaptif dan relevan dengan kondisi lokal serta bagaimana Gereja dapat meresponsnya secara kontekstual melalui sinergi katekese dan pelayanan pastoral. Kontribusi ini dipandang penting mengingat tantangan inkulturasi dalam konteks keberagaman budaya di Indonesia, khususnya di Keuskupan Agung Merauke yang terkenal dengan kompleksitas budaya dan kepercayaan masyarakatnya. Page | 14 KAJIAN PUSTAKA Katekese dan Pastoral dalam Gereja Katolik Katekese dan pastoral merupakan dua aspek penting yang saling berkaitan dalam kehidupan Gereja Katolik (Agustinus et al. , n. Katekese berfungsi sebagai pelatihan iman yang sistematis dan mendalam kepada umat, sedangkan pastoral lebih menekankan pada pendampingan spiritual dan pelayanan masyarakat umat secara holistik dalam kehidupan sehari-hari gereja (Firmanto, 2023. Gaol et al. , 2. Katekese dalam Gereja Katolik dapat dipahami sebagai proses pendidikan iman yang memungkinkan umat mengenal, memahami, dan menghayati ajaran Gereja Katolik secara sadar dan terstruktur. Katekese bukan sekedar transfer pengetahuan, melainkan juga pembentukan karakter iman yang berkembang secara Berdasarkan dokumen resmi Gereja seperti "Catechesi Tradendae" . menekankan pentingnya katekese dalam evangelisasi, dimana katekese dapat memberikan fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan spiritual umat (Paus Yohanes Paulus II). Senada halnya dengan beberapa kajian akademik dan penelitian dalam konteks Gereja Katolik menegaskan bahwa integrasi antara katekese dan pastoral sangat krusial untuk membentuk iman yang hidup, diintegrasikan, dan membuahkan hasil dalam tindakan sosial yang nyata (Aliano & Riyanto, 2022. Kock et al. , 2021. Roebben, 2. Selain itu, dalam mensinergikan katekese membutuhkan metode yang khas dan kontekstual, adaptif terhadap zamannya, relevan, termasuk pada era media digital. Pendekatan yang relevan dengan konteks budaya masyarakat membutuhkan metode katekese. Pendekatan ini penting agar katekese dapat menjawab tantangan zaman modern dan memperdalam hubungan antar katekis dan umat secara interpersonal dan Sebagaimana ditulis oleh Yekrianus . , berkatekese di perlu untuk mewartakan pengajaran iman dalam segala lini dan juga kesiapan menanggapi tantangan zaman, dalam sosial dan budaya. Kajian penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pendampingan pastoral dipengaruhi oleh kesesuaian metode, ketekunan mewartakan firman, serta kemampuan katekis dalam membangun komunikasi yang baik. Gereja melalui dokumen "Evangelii Nuntiandi" . dan "Evangelii Gaudium" . menegaskan perlunya metode pastoral yang kreatif dan relevan untuk menjangkau umat. Menelisik pastoral Gereja Katolik dalam lintas sosial dan budaya dapat dipahami sebagai bentuk pastoral adalah kegiatan pendampingan dan pelayanan yang menjangkau seluruh aspek kehidupan umat, baik secara spiritual maupun sosial. Dalam pendampingan pastoral, peran katekis sangat penting untuk mendukung evangelisasi dan formasi iman yang berkesinambungan. Pendampingan pastoral diharuskan pada panggilan Injili, di mana iman umat terus dibina dalam perjalanan menuju keselamatan (Seri Dokumen Gerejawi, 2022. KATEKESE BERBASIS AI, n. Pastoral Kontekstual di Merauke Berbasis Kearifan Lokal Pastoral Kontekstual di Merauke Berbasis Kearifan Lokal merupakan pendekatan pastoral yang menempatkan budaya, nilai-nilai, dan tradisi masyarakat setempat sebagai pijakan utama dalam pelayanan pastoral Gereja Katolik. Merauke, sebagai bagian dari Papua Selatan, memiliki keragaman budaya yang kuat, terutama suku-suku asli seperti Marind-Anim yang memiliki sistem nilai dan kearifan lokal yang kaya dan unik. Pendekatan pastoral yang kontekstual ini tidak hanya memandang iman Katolik sebagai ajaran universal, tetapi mengintegrasikannya dengan kearifan lokal untuk memberikan pelayanan yang lebih relevan, bermakna, dan membangun bagi komunitas setempat (Kobak & Kabala, 2023. Antropologi & Indonesia, 2. Page | 15 Kabupaten Merauke dikenal dengan keragaman etnis dan budaya yang khas, terutama suku MarindAnim yang menempati daerah seperti Kampung Yaba Maru dan sekitarnya. Masyarakat ini masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai totemisme tradisional, yang melambangkan hubungan kerabat, solidaritas, dan kelangsungan spiritual dengan alam dan leluhur. Nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, persaudaraan, dan kebersamaan yang diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, membentuk fondasi sosial dan komunitas spiritual (Mukrimin, 2. Motivasi dan prinsip Kabupaten Merauke AuIzakod Bekai Izakod KaiAy yang berarti AuSatu Hati. Satu TujuanAy merupakan wujud nasionalisme lokal yang mengakar dan sejajar dengan semboyan nasional AuBhinneka Tunggal IkaAy. Prinsip ini mengandung ajaran penting tentang toleransi dan persatuan bagi warga Merauke yang heterogen, yang juga menganut agama Katolik bersama pandangan hidup lokalnya. Berlandaskan motivasi tersebut, warnasari pendekatan pastoral kontekstual juga diaplikasikan dalam budaya lokal dimana adanya suatu paradigma pelayanan yang mengambil akar kultur dan kearifan lokal sebagai dasar dalam membangun hubungan pastoral yang erat dan relevan dengan komunitas Gereja mewarta dalam berbagai basis komunitas sosial termasuk didalammnya budaya. Dalam pastoral di Merauke, ini berarti mengadopsi metode yang sesuai dengan nilai dan praktik masyarakat Marind-Anim, sekaligus mengintegrasikan ajaran Katolik sebagai kekayaan iman universal (Antropologi & Indonesia. Wea, 2025. Warwer, 2. Maka, sangatlah tepat bahwa kontekstualisasi pelayanan pastoral tidak hanya menjadi bagian dari masyarakat adat, melainkan menjadi bagian dari pengalaman hidup mereka sehari-hari. Misalnya, penggunaan simbolisme totem dalam ajaran pastoral dapat memperkuat identitas iman yang dihilangkan pada budaya. Nilai-nilai seperti persatuan, gotong royong, dan kekerabatan yang ada dalam totemisme diubah menjadi sepiritualitas Katolik yang hidup yang menyemangati komunitas untuk saling mendukung dan dalam iman. Merujuk penelitian yang dilakukan tentang totem sebagi AunilaiAy menunjukkan bahwa nilai-nilai totemisme turut memperkuat sikap toleransi dan moderasi beragama dalam lingkungan masyarakat yang Dengan konteks tersebut, pastoral Gereja Katolik di Merauke diarahkan untuk mengembangkan sikap keterbukaan dan penghargaan atas keberagaman serta menghindari konflik sosial yang dapat mengganggu keharmonisan komunitas (Meyer Fortes, 1. Selain itu, data empiris juga menunjukkan bahwa kegiatan pastoral berbasis komunitas yang mengintegrasikan kearifan lokal memperkaya penghayatan iman umat sekaligus memperkokoh kerukunan Partisipasi aktif masyarakat adat dalam kegiatan gereja seperti misa, ziarah, dan liturgi yang mengandung unsur budaya lokal menjadi bukti konkrit keberhasilan pendekatan pastoral kontekstual ini. Dengan menggali dan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pelayanan pastoral. Gereja Katolik di Merauke tidak hanya menjaga keaslian budaya tetapi juga memajukan misi evangelisasi yang inklusif dan menghargai pluralitas. Pendekatan ini membebaskan komunitas dari sekat budaya dan menjembatani iman Katolik dengan tradisi lokal yang selama ini menjaga turun-temurun. Konteks pastoral juga berkontribusi dalam mengatasi pergeseran sosial yang dihadapi masyarakat adat, misalnya dalam menghadapi modernisasi dan tantangan globalisasi yang terkadang mengikis nilai-nilai Intinya Gereja hadir sebagai agen yang tidak hanya membina iman secara spiritual tetapi juga memberdayakan masyarakat dengan nilai-nilai kearifan lokal yang relevan secara sosial dan kultural. Page | 16 C. Mengulik Budaya Perdukunan dan Magi dalam Kehidupan Keagamaan Suku Malind-Anim di Stasi Antonius Kaisa Dilansir dari beberapa sumber (Muhammad Arief Hasan, 2. Suku Malind-Anim merupakan kelompok masyarakat adat terbesar yang mendiami wilayah dataran rendah Papua Selatan, termasuk di Stasi Antonius Kaisa. Budaya mereka sangat erat kaitannya dengan alam dan spiritualitas yang terkandung dalam sistem kepercayaan tradisional yang melibatkan praktik perdukunan dan magi . lmu gai. (Email. Kehidupan sosial dan keagamaan mereka tidak dapat dipisahkan dari keyakinan terhadap kekuatan roh dan alam gaib yang dipercaya mengatur keselamatan, kesuburan, kesehatan, serta keharmonisan masyarakat dan lingkungan sekitar. Perspektif budaya Malind-Anim, perdukunan dalam budaya Malind-Anim memiliki fungsi utama sebagai mediator antara dunia manusia dan dunia spiritual. Dukun dipercaya memiliki kemampuan khusus untuk berkomunikasi dengan roh leluhur, dema . oh ala. , dan kekuatan supranatural yang diyakini menguasai berbagai aspek kehidupan. Mereka melakukan berbagai ritual dan pengobatan tradisional untuk menyembuhkan penyakit, menjaga kesuburan lahan, serta mengusir pengaruh buruk atau gangguan magis. Praktik perdukunan tidak hanya sebatas fisik, melainkan termasuk juga aspek magi, dimana mantra dan simbol-simbol sakral digunakan untuk mengaktifkan kekuatan gaib guna membantu individu atau Keunikan perdukunan Malind-Anim terkait erat dengan struktur sosial dan kosmologi mereka yang menganut sistem totemisme (Freud, 2002. Nasrudin, 2. Setiap marga atau klan memiliki totem berupa binatang atau tumbuhan tertentu yang dianggap suci dan menjadi kekuatan spiritual yang melindungi Totem ini berperan sebagai representasi dari dema yang merupakan roh atau kekuatan gaib penting dalam kepercayaan Malind-Anim. Dalam konteks magi, perdukunan menggunakan pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk penggunaan ramuan herbal dan ritual khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan spiritual atau fisik pasien (Nasrudin, 2. Ritual-ritual magis dan perdukunan juga menjadi bagian dari upacara adat penting seperti pesta perkawinan, penyembuhan penyakit, serta pergantian musim berburu dan cocok tanam. Misalnya, masyarakat Malind-Anim melakukan ritual simbolis yang mencakup praktik seksual sebagai bagian dari simbol kesuburan. Praktik ini tidak dianggap tabu, melainkan merupakan bagian dari rangkaian ritual magi yang diyakini meningkatkan keberhasilan dan kelangsungan hidup komunitas (Kamerop et al. , 2024. Email. Selain dimensi spiritual dan sosial, budaya perdukunan Malind-Anim juga mencerminkan cara komunitas ini mempertahankan identitas budaya dan kedaulatan atas wilayah mereka. Dengan tetap menjaga praktik perdukunan dan magi, kelompok ini mampu mempertahankan keseimbangan antara tradisi lama dan pengaruh modernisasi, termasuk agama-agama besar yang masuk seperti Katolik. Beberapa penelitian menunjukkan adanya integrasi atau akulturasi antara praktik kepercayaan lokal dengan unsur agama Katolik, di mana perdukunan bertransformasi dalam konteks baru namun tetap menjadi tonggak identitas budaya dan keagamaan masyarakat di Stasi Antonius Kaisa . awancara-no nam. Secara ilmiah, penelaahan mengenai perdukunan dan magi di Malind-Anim menunjukkan bahwa sistem kepercayaan ini bukan sekadar kejawen spiritual tanpa fungsi sosial, melainkan suatu sistem kompleks yang mengatur hubungan manusia dengan alam, spiritualitas, dan komunitas. Pengobatan tradisional dan praktik magis berperan sebagai sistem terapi holistik yang memadukan aspek fisik, psikologis, dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mengulik budaya perdukunan dan magi di Malind-Anim tidak hanya membuka wawasan tentang praktik keagamaan tradisional, tetapi juga menampilkan dinamika sosial-kultural yang masih hidup dan relevan dalam konteks modern di Papua Selatan. Sebagaimana kajian mendalam yang dilakukan oleh Lucky Zamzami terhadap budaya AuSekerei Page | 17 Mentawai: Keseharian dan Tradisi Pengetahuan Lokal yang Digerus oleh ZamanAy semestinya dijaga dikarenakan oleh adanya nilai dan budaya warisan (Ngata, 2013. Email, n. Antropologi budaya Malind-Anim dan perdukunan dapat ditemukan dalam kajian antropologi dan sosiologi budaya yang mengkaji totemisme, ritual, serta interaksi antara kepercayaan tradisional dan agama-agama dunia yang masuk ke wilayah tersebut (Nasrudin, 2. Kajian antropologi dan teologi inkulturatif, pemahaman praktik perdukunan dan magi di kalangan Suku Malind-Anim, khususnya di Stasi Antonius Kaisa. Papua Selatan, menggunakan pendekatan yang holistik dan kontekstual. Budaya Auperdukunan dan magiAy bukan saja aktivitas spiritual, tetapi bagian tak terpisahkan dari sistem kekerabatan, lingkungan hidup, dan identitas sosial-kultural masyarakat Malind-Anim yang memiliki kepercayaan dan ritual adat khas . asil wawancara dari salah satu warga setempat-no nam. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dan grounded Pendekatan kualitatif dipilih karena tujuan penelitian adalah menggali secara mendalam fenomena kultural dan religius yang kompleks, terkait praktik perdukunan dan magi dalam konteks katekese dan pastoral di masyarakat adat Malind-Anim. Lokasi penelitian di Stasi Santo Antonius Kaisa, wilayah Papua Selatan yang menjadi tempat komunitas Malind-Anim dengan kearifan budaya lokal. Subjek Penelitian yakni Umat Katolik Malind-Anim, termasuk tokoh agama, pemuka adat/tetua adat, penduduk Malind Anim dan anggota komunitas yang menjadi pelaku dan penerima katekese serta pastoral guna memperoleh narasi dan interpretasi mereka tentang fungsi perdukunan dan magi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif dimana peneliti ikut serta dalam kegiatan katekese, pastoral untuk memperoleh data empiris langsung bagaimana praktik tersebut Sedangkan wawancara mendalam dilakukan pada tokoh kunci seperti tokoh adat, dukun, pelaku pastoral, umat yang berdomisili dilokasi penelitian, tujuan dari wawancara ini untuk memahami makna dari implikasi melakukan praktik perdukunan dan magi, serta hubungan sinergi dengan katekese dan pastoral. Perolehan data lapangan didapatkan berdasarkan wawancara responden sebanyak 8 orang . ata wawancara direduks. dalam Focus Group Discussion (FGD) melibatkan beberapa kelompok masyarakat dan tokoh untuk mendiskusikan pengalaman dan persepsi mereka terhadap praktik perdukunan serta dampak katekese dan pastoral. Dokumentasi dikumpulkan melalui literatur ilmiah penelitian tentang suku Malind Anim, gerejawi, dokumen pastoral, katekese, dan hasil penelitian sebelumnya terkait kearifan lokal dan praktik budaya bertema antropologi, katekese, pastoral dan lainnya. Pendekatan etnografi yang ditetapkan oleh peneliti untuk memungkinkan peneliti menetap dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial budaya komunitas yang menjadi studi kasus, untuk mengumpulkan data secara holistik dan kontekstual. Dengan etnografi, aspek budaya, kepercayaan, ritual, dan praktik perdukunan dapat diobservasi secara langsung dan dijelaskan dalam konteks kulturalnya. PEMBAHASAN Kerangka Pemikiran dan Kepercayaan tentang Perdukunan dan Magi Malind-Anim di Era Suku Malind-Anim dikenal dengan kepercayaan terhadap dema, roh alam dan leluhur, yang meliputi totemisme serta konsep keallahan yang melekat pada alam dan makhluk hidup. Perdukunan dan magi merupakan manifestasi dari sistem kepercayaan ini, berfungsi mengatasi persoalan keseharian seperti kesembuhan penyakit, perlindungan, dan keberhasilan usaha hidup . erburu, bertani, dl. Magi juga berkaitan erat dengan peran simbolis dan ritual yang menghubungkan umat dengan dunia gaib yang dipersonifikasikan oleh para dukun (Nasrudin, 2019. Email, n. Page | 18 Mengkaji ulang dengan hadirnya Gereja dan pewartaannya melalui basis katekese dan pastoral di tengah AuBudaya Perdukunan dan Magi dalam Kehidupan Keagamaan Suku Malind-Anim di Stasi Antonius KaisaAy, katekese dan pastoral merupakan proses pendidikan iman yang eksplisit bertujuan membentuk pengetahuan dan pemahaman ajaran gereja tentang perdukungan dan magi. Sebagaimana katekese adalah basik pelayanan pastoral (Baric, 2023. Murniat et al. , 2. maka katekese dan pastoral juga menjadi jembatan pengajaran, pelatihan nilai, dan pembentukan karakter. Katekesasi diharapkan menjadi fondasi intelektual dan spiritual yang kuat bagi kehidupan beriman umat (Pastoral et al. , n. Hal ini sesuai hasil rangkum dalam ulasan wawancara sepuluh orang responden mengungkapkan Au. Kami masih percaya kepada perdukunan, dikarenakan ajaran yang kami terima dari suku dan nenek moyang kami, dan bagi kami itu budaya yang harus dipertahankan sebagai budaya leluhur di tanah air dan kami juga percaya Gereja hadir di tanah kami melalui katekis yang mengajarkan kebenaran dan kepercayaan pada Tuhan. Namun, nilai budaya termasuk perdukunan adalah bagian dari darah Ay Di sisi lain, pelayanan pastoral mengedepankan pendekatan personal dan komunitas yang melayani kebutuhan rohani dan sosial umat, mendorong pengalaman kehadiran Allah secara nyata melalui pendampingan, penghiburan, dan bimbingan spiritual. Sinergi antara katekesasi dan pastoral sangat penting untuk membangun kehidupan keagamaan yang holistik, di mana aspek kognitif, afektif, dan konatif dalam iman terwujud secara seimbang dan saling menguatkan (Bosch, 1. Konteks Kultural Perdukunan dan Magi Suku Malind-Anim Suku Malind-Anim yang bermukim di wilayah Papua Selatan memiliki kekayaan budaya dan spiritual yang masih menyebarkan perdukunan dan magi sebagai bagian dari cara berhubungan dengan dunia Praktik ini seringkali menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam upaya menjaga keselamatan, kesembuhan, dan kesejahteraan bersama. Namun, praktik perdukunan dan magi memiliki implikasi yang kompleks bagi kehidupan iman umat, karena sering berseberangan dengan ajaran Gereja. Mengutip hasil wawancara responden . o nam. Au. saya menjadi seorang dukun hanya karena di wariskan oleh leluhur kita secara turun-temurun, secara berkesinambungan sampai dengan saya. Dalam keluarga besar, beradik-kaka, hanya saya yang dipercayakan untuk jadi seorang dukun. Ay Sebagian dari hasil wawancara ini bukan dibuat atau meresponnya menjadi AupolemikAy atau mengijinkan, memperbolehkan praktik-praktik perdukunan dalam konteks pastoral di tengah kehidupan Namun, bagaimana menghindari ketegangan antara Tradisi Lokal dan katekesasi dimana masih ada praktik budaya tradisional yang masih mengakar, seperti perdukunan dan magi. Sebagian umat mengintegrasikan keduanya, menciptakan bentuk sinkretisasi keagamaan yang unik dan menantang pendekatan kateketik konvensional. Sebagaimana dikemukakan oleh Baric, . dalam dan sepanjang sejarah, manusia memiliki kebutuhan mendalam untuk mengekspresikan dirinya, pemahaman sosial budayanya, agamanya, tidak hanya melalui kata-kata tetapi juga melalui gambar, pesan leluhur dan budaya. Lebih jauh, pesan tersebut menjadi gambar dan karya seni AuungkapanAy yang memiliki potensi untuk menjadi jalan menuju Tuhan, menyatu dengan budaya lokal. Ekspresi artistik dalam katekese dan memiliki peran dalam pendidikan dan pertumbuhan iman sepanjang hidup seseorang(Franchi, 2018. BariN, 2. Pelayanan Pastoral yang Adaptif dan Kontekstual Pelayanan pastoral di Stasi Santo Antonius Kaisa berkembang untuk menanggapi realitas ini dengan pendekatan yang lebih dialogis dan sensitif terhadap budaya lokal. Pendampingan pastoral tidak hanya bersifat normatif tetapi juga inkulturatif, dimana Gereja hadir dan berusaha membangun jembatan antara ajaran iman katolik dengan kehidupan dan kepercayaan masyarakat setempat. Page | 19 Dalam Hal ini, peran katekis dan petugas pastoral lainnya dalam berkatekese lebih kepada penguatan/menguatkan iman dan pemahaman umat tentang ajaran gereja. Katekese haru berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan pemahaman umat mengenai ajaran Gereja yang kritis terhadap praktik perdukunan dan magi, tetapi juga membuka ruang dialog untuk menghargai nilai-nilai budaya tanpa mengorbankan Perlu bahwa, sinergi katekese dan pastoral di lapangan tidak bersifat statistik administratif, tetapi terus berkembang melalui proses dialog dan pembelajaran bersama antara pemuka agama, katekis, dan umat untuk mengatasi konflik dan membangun kesatuan iman yang lebih konsisten. Dalam praktek pastoralnya diperlukan respon Inkulturasi dimana Gereja Katolik di Kaisa menyinergikan pelayanan pastoral dengan budaya setempat secara resonansi, menghormati nilai-nilai lokal tanpa meninggalkan doktrin iman katolik, sebagai upaya pastoral kontekstual yang produktif. Juga tetap memperhatikan kearifan lingkungan hidup Auseperti dalam pelestarian hutan dan danau yang dianggap sebagai kawasan sakralAy. Hal ini mendukung nilai etika ekologi lokal dan pelestarian keimanan ekologi umat Katolik Malind-Anim. Implikasi Penelitian Menganalisis penelitian ini mempertimbangkan dengan ekstra hati-hati untuk tidak menimbulkan Ausensitivitas budaya dan agama memungkinkan pemahaman kehilangan ritual magi yang sedang berubah di tengah globalisasi dan gereja yang sedang berkembangAy. Data wawancara menunjukkan perlunya pendekatan dialogis dan kolaboratif antara gereja dengan lembaga adat dan tokoh perdukunan guna mengembangkan pelayanan iman yang inklusif dan membangun. Dan menurut pandangan Teologis Gereja Katolik tentang Perdukunan: Katekismus Gereja Katolik (KGK) menegaskan larangan tegas terhadap segala bentuk perdukunan, magi, dan praktik ilmu gaib yang bertujuan menguasai kekuatan gaib untuk kepentingan manusia dan yang melanggar ketaatan hanya kepada Allah (KGK 2116-2. Perdukunan dipandang sebagai bentuk penyembahan palsu . yang mengalihkan rasa takwa dan ketergantungan manusia dari Allah kepada kekuatan lain, yang berspekulasi bisa membawa pada pengaruh roh-roh jahat atau kekuatan gelap. Doktrin ini didasari pada Kitab Suci yang berulang kali agamawan melakukan praktik ramalan, pemanggilan arwah, dan segala bentuk kepercayaan yang tidak berdasar pada Allah Tritunggal (Ul 18:10-12. Yer 29:. Rohaniwan dan teolog Gereja memperingatkan umat agar tidak terjebak dalam dualisme kepercayaan yang menyertakan iman Katolik dan merusak hubungan dengan Allah. Implikasi Teologisnya: Keutuhan Iman kepada Allah. Praktik perdukunan merusak hubungan iman karena mengarahkan manusia untuk mencari kekuatan di luar Tuhan yang esa, sehingga melanggar perintah pertama: AuJangan ada kamu Allah lain di hadapan-KuAy (Kel 20:. Ancaman Berhala: Perdukunan dianggap sebagai bentuk pemujaan berhala yang menempatkan hal-hal ciptaan atau kuasa gaib sebagai pengganti Allah. Bahaya Roh Jahat: Karena perdukunan sering melibatkan pemanggilan roh atau pengaruh ilmu gaib. Gereja mewaspadai keterlibatan roh jahat yang bisa membahayakan jiwa dan rohani umat. Implikasi Pastoral dan Katekese: Dalam dimensi pastoral. Gereja memiliki tugas mendampingi umat agar memahami bahaya perdukunan secara rohani dan sosial serta membina iman yang kokoh. Dengan demikian, pendidikan iman yang kritis dan kuat didapatkan melalui pembinaan iman/pendampingan katekese dalam mengembangkan pemahaman mendalam tentang keesaan Allah dan bahaya praktik magi, perdukunan atau ramalan, serta mempromosikan kepercayaan kepada kuasa Ilahi. Pendampingan Pastoral lebih kepada pendekatan kasih dan dialog, bukan sekedar penolakan, diperlukan bagi umat yang mempengaruhi budaya dan tradisi perdukunan. Pendampingan ini juga membantu masyarakat mengatasi ketakutan, kebutuhan akan penyembuhan, atau kecemasan yang seringkali menjadi alasan utama mereka mencari dukun. Page | 20 Dari segi Penguatan Liturgi dan Sakramen: perlunya penguatan iman melalui sakramen, khususnya Ekaristi dan Pengakuan Dosa, umat dibina dalam kehidupan rohani yang sehat dan terhindar dari pengaruh Selain itu, perlu dikembangkan melalui pastoral kontekstual. Pastoral yang menghormati budaya lokal tanpa mendukung perdukunan, menjadi strategi pastoral yang efektif. Au. Praktik Perdukunan dalam Kehidupan Umat dan Tantangan Gereja: Praktik perdukunan sering muncul sebagai respon atas kebutuhan umat akan perlindungan, penyembuhan, dan pembebasan dari berbagai kesulitan hidup. Dalam konteks budaya tertentu, praktik ini bertahan karena diizinkan dalam struktur sosial dan tradisi. Gereja menghadapi tantangan untuk mengajak umat meninggalkan praktek yang bertentangan dengan iman tanpa menimbulkan rasa hormat terhadap budaya asli. Ay. Penelitian empiris mengungkapkan bahwa masyarakat yang mencari dukun umumnya mengalami rasa takut, sakit, atau sakit yang belum terpenuhi oleh pendampingan pastoral. Oleh karena itu, upaya pastoral harus bisa menghadirkan alternatif penguatan iman dan pelayanan rohani yang memadai. KESIMPULAN Pastoral Kontekstual di Merauke berbasis kearifan lokal adalah model pelayanan pastoral yang menyatukan iman katolik dengan budaya masyarakat Marind-Anim. Melalui pendekatan ini, nilai-nilai adat seperti totemisme, gotong royong, dan persaudaraan menjadi sarana penguatan iman yang hidup dan Data dan temuan terkini menegaskan bahwa konteks pastoral menjadi kunci pemeliharaan keharmonisan sosial, pengembangan iman yang relevan secara lokal, dan pembinaan kerukunan antar umat beragama di Merauke. Pendekatan ini merefleksikan spiritualitas yang menyatu dengan realitas budaya dan menjawab kebutuhan pastoral masa kini. Mengulik budaya perdukunan dan magi di Stasi Antonius Kaisa memerlukan strategi pengumpulan data kualitatif yang terintegrasi dengan studi lapangan partisipatif, wawancara mendalam, sastra budaya dan teologi inkulturatif. Temuan terkini menekankan pentingnya magi sebagai bagian vital spiritual dan sosial Suku Malind-Anim. Pendekatan interdisipliner sangat mendukung revitalisasi iman dan pelestarian budaya dalam kehidupan keagamaan yang kontekstual, inklusif dan dialogis. Praktik perdukunan dalam pandangan Gereja Katolik adalah praktik yang harus dihindari karena mengandung potensi penyembahan berhala, keterlibatan dengan kuasa gelap, dan merusak hubungan umat dengan Allah. Implikasinya dalam katekese dan pastoral adalah perlunya pendidikan iman yang kuat, pendampingan penuh kasih, dan pengembangan pelayanan pastoral yang kontekstual agar umat diberikan jalan keluar yang sehat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Gereja mengajak umat beriman untuk mengandalkan kekuatan Allah yang mampu menyembuhkan dan memerdekakan, dan menolak segala bentuk ketergantungan terhadap kekuatan yang bukan dari Allah. Pendekatan pastoral yang bijaksana dan kontekstual menjadi kunci untuk membangun kekuatan iman umat yang mampu menghadapi godaan perdukunan dengan teguh dan penuh harapan. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pengintegrasian praktik pastoral dan katekesasi sangat bergantung pada pemahaman kontekstual atas budaya lokal dan keyakinan masyarakat. Sinergi ini mengokohkan dan kreativitas dalam membangun metode pelatihan iman yang menghargai identitas budaya sekaligus memelihara keutuhan doktrin gereja. Page | 21 DAFTAR PUSTAKA