Filosofi: Publikasi Ilmu Komunikasi. Desain. Seni Budaya Volume. 2 Nomor. 3 Agustus 2025 E-ISSN . : 3032-1808. P-ISSN . : 3032-2073. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62383/filosofi. Available online at: https://journal. id/index. php/Filosofi Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto Samroatul SaAoadah1*. Ananda Syaifullah Firman Fathani2 Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Surabaya Email : samroatulsaadah. 21054@mhs. id, ananda. 21082@mhs. Korespondensi penulis : samroatulsaadah. 21054@mhs. Abstract : Javanese culture is a product of the communityAos collective thought, expressed through traditions that have been preserved over generations. However, cultural practices may face decline due to the pressures of modernization and changing times. Therefore, efforts to preserve and sustain cultural heritage are essential. One method of cultural transmission is through traditional practices. The Ngirim Banyu tradition at Sumber Genitri. Claket Village, represents a form of semi-oral folklore that is still regularly performed by the local community in Claket Village. Pacet District. Mojokerto Regency. This tradition is carried out as an expression of gratitude to God Almighty for the blessings received, particularly the natural spring that sustains the village. This study aims to explore the origins, procedures, ritual components . , symbolic meanings, functions, transformations, and preservation efforts related to the Ngirim Banyu tradition at Sumber Genitri. The research also seeks to broaden the researcherAos perspective, knowledge, and experience concerning the existence of local traditions. The theoretical framework used in this study includes concepts of folklore, symbolism and meaning, belief systems, cultural functions, cultural change, and cultural preservation strategies. Keywords: Folklore. Ngirim Banyu. Tradition. Abstrak : Kebudayaan Jawa merupakan hasil pemikiran masyarakat Jawa yang diwujudkan dalam bentuk tradisi dan terus dilestarikan hingga saat ini. Budaya yang terus berkembang dalam masyarakat bisa saja mengalami kemunduran akibat perubahan zaman. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk melestarikan budaya agar tetap hidup dan berkembang. Salah satu cara untuk mewariskan budaya tersebut adalah melalui tradisi. Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket sebagai salah satu bentuk folklor setengah lisan yang masih sering dilaksanakan oleh warga Desa Claket. Kecamatan Pacet. Kabupaten Mojokerto. Tradisi tersebut dilaksanakan sebagai wujud dari rasa syukur warga kepasa Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala nikmat yang telah diberikan khususnya untuk sumber air yang ada di Desa Claket. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui awal mula, tata cara, ubarampe dan maknanya, fungsi, perubahan, serta upaya pelestarian dalam tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket Kecamatan pacet Kabupaten Mojokerto. Manfaat penelitian ini agar bisa menambah sudut pandang, wawasan, dan pengalaman peneliti mengenai keberadaan tradhisi pada suatu tempat. Teori dan konsep yang berkaitan dengan rumusan masalah pada penelian ini adalah konsep folklor, konsep makna dan simbol, konsep kepercayaan, konsep fungsi, konsep perubahan, dan konsep cara melestarikan budaya. Kata kunci : Folklor. Tradisi. Ngirim Banyu. PENDAHULUAN Budaya merupakan bentuk jamak dari kata budi dan daya, yang bermakna cipta, rasa, dan kehendak. Istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta budhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi, yang berarti akal atau budi. Dalam konteks global, budaya sering disamakan dengan culture, yaitu keseluruhan aktivitas serta kemampuan manusia dalam mengelola dan mengubah lingkungan alam. Secara umum, budaya dapat dimaknai sebagai pola hidup yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menurut pandangan Linton . 3Ae1. , budaya adalah hasil dari perilaku yang dipelajari dan diciptakan oleh manusia, di mana hasil Received: Juni 09, 2025. Revised: Juni 23, 2025. Accepted: Juli 07, 2025. Online Available: Juli 09, 2025 Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto tersebut memperoleh dukungan dari masyarakat dan menjadi bagian penting dalam kehidupan Bersama. Kebudayaan Jawa merupakan hasil pemikiran masyarakat Jawa yang diwujudkan dalam bentuk tradisi dan terus dipertahankan hingga saat ini. Nilai-nilai luhur dalam kebudayaan Jawa merupakan ajaran yang terkandung dalam budaya Kejawen. Nilai luhur tersebut menjadi landasan ideologi Kejawen yang berfungsi sebagai falsafah hidup bagi masyarakat Jawa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Dalam kehidupan nyata, nilai luhur ini tercermin dalam perilaku yang dikenal dengan istilah budi pekerti. Budi pekerti adalah pandangan hidup yang membentuk prinsip Etika sendiri merupakan gambaran sikap dan tindakan manusia yang menunjukkan ada atau tidaknya nilai luhur dalam dirinya. Oleh karena itu, nilai luhur, budi pekerti, dan etika merupakan tiga aspek yang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan dalam budaya Jawa. Budaya yang terus berkembang dalam masyarakat bisa saja mengalami kemunduran akibat perubahan zaman. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk melestarikan budaya agar tetap hidup dan berkembang. Salah satu cara untuk mewariskan budaya tersebut adalah melalui tradisi. Tradisi adalah segala hal yang diwariskan dari zaman dahulu hingga saat ini. Tradisi mencakup cara atau kebiasaan yang digunakan untuk menyampaikan nilai, norma, dan adat istiadat yang telah menjadi kebiasaan dan masih diterima serta dijaga oleh masyarakat secara turun-temurun. Tradisi sering dianggap sebagai sesuatu yang sakral, terutama di kalangan masyarakat pedesaan dan daerah Menurut Poerwadarminta . , tradisi adalah segala sesuatu, kebiasaan, dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Dari keseluruhan tradisi yang ada di tanah Jawa, terdapat satu tradisi yang menarik untuk diteliti karena termasuk folklor semi-lisan yang memuat kepercayaan masyarakat, perayaan rakyat, dan adat istiadat. Tradisi tersebut berada di Mojokerto, sebuah kota yang terkenal dengan sejarah Kerajaan Majapahit serta memiliki berbagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu tradisi yang masih berkembang dan dilestarikan oleh masyarakat, khususnya warga Kecamatan Pacet, adalah Ngirim Banyu. Masyarakat yang masih mempertahankan tradisi ini secara turun-temurun adalah warga Desa Claket. Kecamatan Pacet. Kabupaten Mojokerto. Dalam upaya melestarikan lingkungan yang dimiliki, masyarakat Desa Claket menerapkan cara khas yang dikenal dengan sebutan Ngirim Banyu. Berdasarkan IKBJI (Anwar, 2. , istilah ngirim banyu secara harfiah berarti Aumengirim airAy. Istilah tersebut digunakan karena dalam rangkaian acara terdapat prosesi pelarungan sesaji. Namun, makna kata ngirim di sini tidak berarti mengantarkan air ke rumah warga, melainkan mengirimkan doa kepada sumber air tersebut. Hal ini FILOSOFI - VOLUME. NOMOR. AGUSTUS 2025 E-ISSN . : 3032-1808. P-ISSN . : 3032-2073. Hal. serupa dengan tradisi kirim doa yang ditemukan di beberapa komunitas masyarakat. Perbedaannya, dalam tradisi ini doa ditujukan bukan kepada punden atau makam leluhur, melainkan kepada sumber mata air yang berada di wilayah tersebut. Sebagai bentuk pelestarian alam yang dimiliki, warga Desa Claket memiliki cara unik dengan melaksanakan tradisi yang dikenal sebagai Ngirim Banyu. Istilah Ngirim Banyu diambil dari prosesi pelarungan sesaji yang merupakan bagian dari rangkaian acara Tradisi ini secara rutin dilakukan sebagai upaya menjaga dan merawat sumber mata air yang terdapat di desa tersebut. Sumber mata air di Desa Claket sangat penting bagi kehidupan masyarakat sekitar. Menurut kepercayaan masyarakat, setiap makhluk hidup membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya, baik manusia, hewan, maupun Tradisi ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus doa agar sumber mata air tersebut senantiasa terjaga dan diberkahi. Tradisi Ngirim Banyu ini menarik perhatian peneliti untuk melakukan kajian mendalam terhadap tradisi tersebut. Hal-hal yang akan diteliti meliputi asal-usul tradisi, bentuk dan makna ubarampe . erlengkapan upacar. , tata cara pelaksanaan tradisi, fungsi yang terkandung dalam tradisi tersebut, kepercayaan masyarakat, perubahan yang terjadi dalam tradisi Ngirim Banyu, serta upaya pelestarian tradisi ini. Menurut masyarakat, sumber mata air di Desa Claket memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang kehidupan warga Desa Claket dan daerah sekitarnya. Air dari sumber tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mandi, mengairi sawah, serta juga dimanfaatkan dalam kegiatan usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. , contohnya sebagai air minum. METODE Penggunaan metode dalam penelitian sangat penting untuk keberhasilan pelaksanaan penelitian tersebut. Agar data yang diperoleh sesuai dengan tujuan, peneliti harus memilih metode yang tepat sebagai dasar pelaksanaan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Artinya, dalam penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan tidak berupa angka, melainkan berasal dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi pribadi. Sejalan dengan penjelasan Bogdan dan Taylor . dalam bukunya Qualitative Research for Education, penelitian kualitatif adalah pendekatan yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari individu maupun perilaku yang diamati. Dengan demikian, metode ini diarahkan untuk memahami latar belakang dan individu secara menyeluruh . Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto Strategi yang diterapkan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian deskriptif dilakukan dengan mengumpulkan, mengorganisasi, dan menganalisis data guna menggambarkan fakta yang ada, khususnya terkait permasalahan yang dibahas, lalu data tersebut dianalisis untuk menarik kesimpulan. Metode deskriptif dikenal sebagai cara untuk menemukan fakta melalui interpretasi yang tepat terhadap objek penelitian. Tujuan metode ini adalah memberikan deskripsi dan gambaran data serta fakta secara sistematis, faktual, dan akurat. Metode deskriptif terdiri atas beberapa jenis, antara lain: . deskriptif berkesinambungan. studi kasus. studi komparatif. analisis pekerjaan dan kegiatan . studi pustaka dan dokumentasi. studi waktu dan pekerjaan (Santosa, 2. Dari jenis-jenis metode tersebut, peneliti menggunakan metode observasi dalam penelitian ini, yang berfungsi untuk mengumpulkan data mengenai perilaku dan Penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif menghasilkan data melalui interpretasi atau penafsiran terhadap kejadian yang diamati secara langsung di lapangan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji dan menggambarkan secara jelas pelaksanaan Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket. Kecamatan Pacet. Kabupaten Mojokerto sesuai norma dan tata cara yang berlaku di wilayah tersebut. Peneliti memilih metode kualitatif deskriptif karena metode ini dapat dipertanggungjawabkan. Sumber data dalam penelitian terbagi menjadi dua jenis, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Dalam penelitian Tradisi Ngirim Banyu ini, kedua sumber data tersebut digunakan. Sumber data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber serta observasi terhadap pelaksanaan tradisi yang diteliti. Sedangkan sumber data sekunder berasal dari berbagai bahan pendukung seperti catatan atau dokumentasi yang dikumpulkan selama proses penelitian. Data diperoleh dari informasi yang disampaikan oleh narasumber. Narasumber terbagi menjadi dua kelompok, yakni informan kunci dan informan pendukung. Menurut Endraswara . , informan kunci adalah individu yang memiliki peran penting dalam masyarakat serta pengetahuan mendalam tentang objek penelitian, seperti dalang, sesepuh desa, kepala desa, dan lain-lain. Sedangkan informan pendukung adalah mereka yang memberikan informasi tambahan, seperti masyarakat umum atau penonton dalam kegiatan tradisi yang menjadi fokus Dalam penelitian ini, narasumber utama adalah warga Desa Claket. Kecamatan Pacet. Kabupaten Mojokerto yang dianggap paling memahami dan menguasai Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket. Sementara itu, narasumber pendukung adalah individu yang mampu memberikan informasi tambahan untuk mendukung data penelitian, seperti masyarakat yang terlibat atau penonton tradisi Ngirim Banyu. FILOSOFI - VOLUME. NOMOR. AGUSTUS 2025 E-ISSN . : 3032-1808. P-ISSN . : 3032-2073. Hal. Data yang diperoleh peneliti dari lapangan kemudian dianalisis. Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis transkrip, catatan lapangan, dan materi lain yang dikumpulkan oleh peneliti untuk mendapatkan informasi mengenai objek penelitian (Erland Mouw, 2022:. Dalam analisis data kualitatif, terdapat tiga tahapan yang dijelaskan oleh Miles dan Huberman . alam Erland Mouw, 2022:. , yaitu : . Kondensasi data . ata condensatio. , pada tahap ini peneliti memilih data yang akan digunakan atau membuang data yang tidak relevan. Kondensasi merupakan bentuk analisis yang memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan keseluruhan data berupa catatan lapangan, transkrip wawancara, dokumen, dan instrumen lainnya. Kompresi data ini membuat data lebih dapat dipercaya dan diverifikasi. Presentasi data . isplay dat. , yaitu pengumpulan informasi yang telah tersusun sehingga memudahkan penarikan Bentuk penyajian data dalam penelitian kualitatif biasanya berupa teks naratif dan kejadian atau peristiwa masa lalu. Penarikan kesimpulan atau verifikasi, pada tahap pengumpulan data, peneliti harus sudah mulai membuat kesimpulan sementara. Peneliti kemudian memeriksa dan mengembangkan kesimpulan tersebut menjadi kesimpulan akhir yang jelas berdasarkan hasil penelitian. Penelitian mengenai Tradisi Ngirim Banyu di Desa Claket menggunakan proses analisis data melalui beberapa tahapan, yaitu: . mencatat seluruh data yang telah dikumpulkan dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang relevan dengan penelitian. memilih data yang sesuai dengan fokus atau rumusan masalah dalam penelitian. mengelompokkan data berdasarkan tema yang telah . mengidentifikasi data dengan memeriksa kelengkapan transkrip wawancara dan catatan lapangan. menggunakan data yang benar-benar valid dan relevan untuk dianalisis lebih lanjut. HASIL DAN PEMBAHASAN Keterkaitan tradisi Ngirim Banyu dengan kondisi masyarakat di Desa Claket masih sangat erat. Hal ini dapat dilihat dari kondisi geografis, pola kehidupan masyarakat, dan berbagai aspek lain yang masih berhubungan dengan tradisi Ngirim Banyu. Desa Claket yang memiliki curah hujan cukup tinggi membuat sumber air di wilayah tersebut tetap melimpah dan tidak pernah kering. Wilayah Desa Claket yang masih banyak ditumbuhi hutan juga mendukung upaya pelestarian dan pemeliharaan sumber air yang ada di dalam hutan tersebut. Sumber air di Desa Claket merupakan kebutuhan utama bagi warga desa, karena seluruh aktivitas dan kebutuhan hidup mereka sangat bergantung pada ketersediaan air tersebut. Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto Rangkaian Acara Pelaksanaan Tradisi Ngirim Banyu merupakan aturan yang telah menjadi kebiasaan turun-temurun sejak masa leluhur. Oleh karena itu, masyarakat Desa Claket tetap memegang teguh tata cara tersebut agar rangkaian acara dapat berjalan dengan lancar dan tujuan yang diharapkan tercapai. Tradisi ini dilaksanakan satu kali dalam setahun, tepatnya ketika memasuki musim hujan atau awal masa tanam. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini mengikuti alur yang terstruktur, dimulai dari tahap persiapan, pelaksanaan inti, hingga tahap penutupan. Untuk memahami tata cara Tradisi Ngirim Banyu secara runtut, jelas, dan lengkap, uraian selengkapnya akan dijelaskan pada bagian berikutnya. Persiapan Tahap persiapan atau titi siyaga dalam Tradisi Ngirim Banyu mencakup sejumlah kegiatan yang harus dipersiapkan oleh masyarakat Desa Claket sebelum tradisi dilaksanakan. Kegiatan tersebut meliputi musyawarah antara perangkat desa, peninjauan kondisi sumber mata air, penentuan hari dan tanggal pelaksanaan tradisi, serta menyiapkan perlengkapan atau keperluan upacara yang dibutuhkan selama prosesi berlangsung. Seluruh kegiatan dalam tahap ini dilakukan sebelum rangkaian tradisi dimulai. Penjelasan lebih lanjut mengenai tahap persiapan ini akan dipaparkan berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada bagian berikut. Musyawarah Musyawarah terkait pelaksanaan Tradisi Ngirim Banyu dilaksanakan pada hari Jumat malam, 17 Januari 2025, sekitar pukul 19. 00 hingga selesai. Untuk memperkuat penjelasan tersebut, peneliti menggunakan catatan observasi lapangan yang mendukung uraian berikut. AuSaminggu sadurunge nglaksanani adicara Ngirim Banyu ana adicara kang diarani wawanrembug. Wawanrembug iki ditekani dening perangkat desa kang nglumpuk ing bale desa kanggo ngrembug ngenani adicara Ngirim Banyu sadurunge diaturake marang masarakat. Wawanrembug dileksanani ing dina Jumuwah, tanggal 17 Januari 2025, wektune sawise isyaAo tumekan Sajroning rapat kasebut para perangkat desa ngrembug kapan kagiyatan ngirim banyu dileksanani. Dina kang dipilih kudu cocog karo pasaran Legi amarga kagiyatan Ngirim Banyu kudu dileksanani ing dina Jumuwah Legi. Rembugan ngasilake dina kang cocog kanggo adicara Ngirim Banyu yaiku dina Jumuwah, 24 Januari 2025. Dina kang kapilih kasebut cocog karo prakirane adicara Ngirim Banyu kang dilaksanani Dina Jumuwah FILOSOFI - VOLUME. NOMOR. AGUSTUS 2025 E-ISSN . : 3032-1808. P-ISSN . : 3032-2073. Hal. legi ing pungkasan wulan Rejeb. Saliyane nemtokake dina, ing rembugan kasebut uga mbagi perangkat desa minangka penanggung jawab kagiyatan ing saben sumberAy (Sumber Dhata Cathetan Observasi, 24 Januari 2. AuSekitar satu minggu sebelum prosesi Tradisi Ngirim Banyu dilaksanakan, masyarakat menyelenggarakan musyawarah yang disebut wawanrembug. Musyawarah ini dihadiri oleh para perangkat desa yang berkumpul di Balai Desa guna membahas persiapan kegiatan sebelum disampaikan kepada warga secara luas. Kegiatan ini berlangsung pada hari Jumat, 17 Januari 2025, setelah waktu salat Isya hingga acara selesai. Dalam rapat tersebut, dibahas penentuan hari pelaksanaan tradisi, yang berdasarkan ketentuan adat harus dilakukan pada hari Jumat Legi. Berdasarkan perhitungan kalender Jawa, hari Jumat Legi jatuh pada tanggal 24 Januari 2025. Selain menetapkan waktu pelaksanaan, rapat ini juga membagi tugas kepada perangkat desa untuk bertanggung jawab di masing-masing lokasi sumber mata air. Ay (Sumber Data: Catatan Observasi, 24 Januari 2. Berdasarkan catatan observasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa musyawarah persiapan pelaksanaan Tradisi Ngirim Banyu diselenggarakan pada hari Jumat, 17 Januari 2025, di Balai Desa Claket, dan dihadiri oleh perangkat desa serta beberapa warga. Musyawarah tersebut menghasilkan keputusan bahwa tradisi akan dilaksanakan pada hari Jumat Legi pada akhir bulan Rajab, sesuai dengan ketentuan adat yang telah diwariskan secara turuntemurun. Setelah dilakukan perhitungan kalender Jawa, hari Jumat Legi ditetapkan jatuh pada tanggal 24 Januari 2025. Peninjauan Sumber Peninjauan sumber air merupakan salah satu bagian dari tahap persiapan . iti siyag. sebelum pelaksanaan Tradisi Ngirim Banyu. Kegiatan ini juga dikenal dengan sebutan "sambang sumber", yaitu kunjungan yang dilakukan oleh perangkat desa bersama sebagian masyarakat ke lokasi sumber air yang akan digunakan dalam prosesi tradisi. Dalam kegiatan peninjauan ini, dilakukan beberapa aktivitas seperti membersihkan rumput liar, merapikan jalan menuju sumber air, serta membersihkan area di sekitar lokasi sumber. Peninjauan sumber air dilakukan dengan tujuan untuk memastikan bahwa lokasi sumber dalam keadaan bersih saat prosesi Tradisi Ngirim Banyu Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto keberadaan sumber air masih terjaga dengan baik. Biasanya, peninjauan dilaksanakan setelah kegiatan musyawarah atau wawanrembug selesai. Seluruh titik sumber air yang terdapat di wilayah Desa Claket akan diperiksa guna mengetahui kondisinya. Setelah proses peninjauan selesai, hari dan tanggal pelaksanaan tradisi akan diumumkan kepada masyarakat Desa Claket sebagai bentuk pemberitahuan resmi terkait waktu pelaksanaan Tradisi Ngirim Banyu. Perangkat desa bersama sebagian masyarakat Desa Claket turut serta melakukan peninjauan ke seluruh sumber mata air yang terdapat di wilayah Desa Claket. Menyiapkan ubarampe Ubarampe merupakan bagian yang sangat penting dalam suatu tradisi, karena ubarampe berfungsi sebagai alat atau sarana yang dibutuhkan selama pelaksanaan tradisi. Tanpa adanya ubarampe, prosesi tradisi tidak dapat berlangsung dengan baik sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu, sebelum tradisi dilaksanakan, semua ubarampe yang diperlukan harus sudah disiapkan secara lengkap dan teratur. Keberadaan ubarampe berfungsi untuk mendukung kelancaran jalannya tradisi dari awal hingga akhir. Menyiapkan ubarampe merupakan kegiatan mempersiapkan segala kebutuhan atau alat yang diperlukan selama proses pelaksanaan tradisi. Kegiatan ini tidak dapat dilakukan secara mendadak dalam satu hari, karena jika persiapan dilakukan terburu-buru, dapat menimbulkan kendala dalam pelaksanaan Tradisi Ngirim Banyu, seperti ubarampe yang terlupakan atau kesalahan saat mempersiapkan. Oleh sebab itu, ubarampe perlu disiapkan dengan baik, teliti, dan lengkap agar pelaksanaan tradisi dapat berjalan lancar tanpa hambatan. Pelaksanaan Tradisi Ngirim Banyu harus dilaksanakan secara runtut, mulai dari tahap persiapan . iti siyag. hingga tahap akhir . iti wasan. , agar harapan masyarakat Desa Claket dapat terwujud. Penjelasan mengenai tahap pelaksanaan . iti laksan. ini akan didukung oleh data hasil observasi lapangan. Tujuannya adalah untuk mempermudah dalam menelusuri rangkaian kegiatan yang berlangsung selama prosesi Tradisi Ngirim Banyu. Pengumpulan ubarampe Kegiatan pengumpulan ubarampe dalam rangkaian pelaksanaan Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri merupakan tahapan pertama dalam FILOSOFI - VOLUME. NOMOR. AGUSTUS 2025 E-ISSN . : 3032-1808. P-ISSN . : 3032-2073. Hal. prosesi acara. Pada tahap ini, para perangkat desa yang diberi tanggung jawab atas pelaksanaan tradisi di Sumber Genitri berkumpul bersama warga Desa Claket yang menggunakan air dari sumber tersebut. Kegiatan berkumpul dilakukan di kediaman Bapak RW 05, yaitu Bapak Slamet, yang menjabat sebagai Ketua RW sekaligus penanggung jawab di wilayah Sumber Genitri. Dalam kegiatan tersebut, warga membawa sajian berupa asahan dalam baskom sebagai bagian dari ritual slametan di Sumber Genitri, sedangkan para perangkat desa membawa tumpeng sebagai simbol persembahan dalam tradisi. Berangkat menuju sumber Tahapan berikutnya setelah proses pengumpulan perlengkapan adalah keberangkatan menuju lokasi pelaksanaan tradisi, yakni di Sumber Genitri. Jarak antara tempat berkumpul dengan lokasi acara kurang lebih sejauh tiga kilometer, karena letak Sumber Genitri berada di tengah kawasan hutan Taman Hutan Raya (Tahur. Soerjo. Saat menuju lokasi, warga menggunakan berbagai sarana transportasi, seperti sepeda motor, mobil bak terbuka . ick u. , atau sudah lebih dahulu berada di lokasi. Perlengkapan yang telah dikumpulkan sebelumnya dibawa menggunakan kendaraan pick up yang disiapkan oleh Ketua RW. Setelah menempuh perjalanan sekitar tujuh menit, semua perlengkapan diturunkan dan dibawa ke tempat pelaksanaan kegiatan Bancakan dan doa bersama Rangkaian acara bancakan dalam Tradisi Ngirim Banyu merupakan bagian yang memiliki keterkaitan erat dengan kepercayaan dan unsur Pada tahap ini, masyarakat berkumpul untuk melaksanakan bancakan dan berdoa bersama. Sebelum prosesi bancakan dimulai, makanan berupa berkatan atau asahan yang dibawa oleh warga dan perangkat desa dikumpulkan menjadi satu, kemudian seluruh peserta duduk melingkari sajian Selama pelaksanaan bancakan, acara dipimpin oleh seseorang yang dipercaya oleh masyarakat. Sosok yang memimpin doa dan jalannya prosesi ini biasanya disebut sebagai juru ujub atau tukang ujub. Meletakkan sesajen pada sumber Sesajen yang diletakkan di sumber terdiri atas kelengkapan seperti coklat, dupa atau menyan, serta beberapa perlengkapan lainnya. Beberapa perlengkapan yang diletakkan dan dicelupkan ke dalam sumber meliputi Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto beberapa porsi nasi, serta jeroan dari ayam panggang. Kadang-kadang, sebagian bothok dan urap juga ikut dicelupkan ke sumber tersebut. Bagian jeroan ayam yang diletakkan di sumber dipilih karena menurut keterangan informan, hal ini bertujuan agar sumber air menjadi lebih besar dan tidak Penutupan Tahap akhir dalam tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri adalah kegiatan Kegiatan membersihkan ini meliputi pembersihan tempat yang digunakan untuk bancakan dan pembagian berkat. Tujuan dari kegiatan ini agar lokasi acara kembali bersih seperti sebelum acara dimulai, karena tidak hanya saat datang tempat harus bersih, tetapi juga saat meninggalkannya. Kegiatan membersihkan ini sangat penting bagi kelestarian Sumber Genitri. Selain menjaga kebersihan lokasi acara, kegiatan ini juga menjadi upaya pelestarian lingkungan khususnya di sekitar Sumber Genitri. Ubarampe Beragam jenis ubarampe yang digunakan dalam tradisi ini meliputi makanan, tumbuhan, peralatan, dan lain sebagainya, yang disesuaikan dengan kepercayaan dan aturan yang dianut oleh masyarakat setempat, karena setiap perlengkapan tersebut memiliki makna tersendiri yang terkandung di dalamnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Spradley . alam Hendro, 2020: . yang menyatakan bahwa simbol adalah perilaku manusia dalam masyarakat yang diwujudkan atau dilambangkan melalui ubarampe atau Setiap tindakan dan perilaku manusia sarat dengan penggunaan lambang dan Dalam penggunaannya, simbol berfungsi sebagai identitas bagi anggota kelompok dan komunitas, serta sebagai media integrasi sosial berupa sistem nilai atau norma sosial. Berdasarkan pandangan tersebut, makna ubarampe dalam tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri akan dianalisis secara mendalam sesuai dengan konsep ini. Tujuannya adalah agar makna yang terkandung dalam ubarampe tersebut dapat dipahami dengan jelas sehingga berhubungan erat dengan fungsi dalam kehidupan masyarakat. AuNgirim banyu mesthi idhentik kalih sega golong mbak, dadi sega golong niku wajib. Terus wonten malih panggang ayam, dhawet, cok bakal istilahe damel suguh ngonten Mangke saben tempat wonten tukang ujub mbak, dados mangke kula nggih ngajak tukang ujubAy (Bapak Slamet, 22 Januari 2. FILOSOFI - VOLUME. NOMOR. AGUSTUS 2025 E-ISSN . : 3032-1808. P-ISSN . : 3032-2073. Hal. "Ngirim air selalu identik dengan nasi golong, jadi nasi golong itu wajib ada. Selain itu, ada juga panggang ayam, dawet, dan sesaji yang disebut Aocok bakalAo untuk sajian. Nanti di setiap tempat akan ada tukang ujub, jadi saya juga akan mengajak tukang ujub tersebut. (Bapak Slamet, 22 Januari 2. Setiap ubarampe yang dijelaskan oleh informan selalu mengandung makna tertentu, dan makna tersebut berkaitan erat dengan fungsi dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Desa Claket. Penjelasan mengenai ubarampe serta makna yang terkandung di dalamnya akan diuraikan secara rinci berikut ini. Nasi golong Nasi golong merupakan jenis nasi yang dibentuk dengan cara diremas-remas atau dikepal hingga membentuk bulatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata golong berarti gumpalan besar atau bundaran. Oleh karena itu, disebut nasi golong karena nasi tersebut dibentuk menjadi bulatan-bulatan besar. Dalam tradisi masyarakat Jawa, nasi golong memiliki makna simbolis yang berasal dari gabungan kata AunasiAy dan AugolongAy. Nasi merupakan makanan pokok yang berasal dari beras, sementara golong melambangkan tekad atau niat yang bulat (Sutono, 2. Ayam panggang Ayam panggang yang digunakan dalam tradisi ini harus dalam kondisi utuh dan disajikan dalam bentuk ingkung. Ayam ingkung adalah ayam yang dimasak dengan posisi tubuh dibungkukkan, lalu ditusuk dengan bambu dan diikat. Sajian ayam ingkung ini memiliki makna simbolis berupa sikap membungkuk yang melambangkan kerendahan hati dan perlambang bahwa manusia dijaga serta dirawat (Indah, 2. Dalam setiap prosesi tradisi Ngirim Banyu, hidangan ayam panggang selalu hadir saat ritual kenduri atau bancakan. Khusus untuk Sumber Genitri, ayam yang digunakan harus berwarna putih bersih tanpa cacat. Bothok udang Bothok udang merupakan salah satu unsur penting yang harus ada dalam prosesi tradisi Ngirim Banyu. Bothok adalah jenis makanan yang terbuat dari campuran bahan utama seperti parutan kelapa yang dibungkus dengan daun pisang, kemudian disematkan menggunakan lidi. Seluruh bahan yang digunakan dalam pembuatan bothok melambangkan semangat kerukunan antarwarga. Hal ini menjadi pengingat bagi masyarakat dan perangkat desa untuk terus menjaga kebersamaan dan persatuan guna mewujudkan kehidupan yang sejahtera (Ipmanalisa, 2. Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto Urab rebung Urab rebung dalam tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri dianggap sangat penting bagi masyarakat Desa Claket. Urab sendiri memiliki makna bahwa dalam kehidupan akan menghadapi berbagai peristiwa, oleh karena itu kita harus menjalani hidup dengan sederhana dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dawet Dawet dianggap sangat penting dalam tradisi Ngirim Banyu, khususnya di Sumber Genitri, dan tidak sekadar menjadi pelengkap dalam rangkaian perlengkapan adat. Menurut para sesepuh Jawa, dawet ayu melambangkan kehidupan yang sederhana. Bahan-bahan yang digunakan dalam dawet, seperti berbagai rasa yang tercampur keras, lembut, asin, manis, gurih, dan pahitmenggambarkan dinamika kehidupan yang harus dijalani dan diperjuangkan dengan kesabaran dalam bermasyarakat (Herlambang, 2. Cok bakal Cok bakal digunakan sebagai media penghormatan kepada roh leluhur yang dahulu tinggal di wilayah tertentu. Tujuannya adalah untuk memohon izin agar acara dapat berlangsung dengan lancar. Selain itu, cok bakal juga berfungsi sebagai sarana untuk membangun hubungan, seolah-olah menjalin komunikasi dengan penguasa wilayah agar segala keinginan terpenuhi dan apabila terjadi kesalahan mudah untuk Makna atau filosofi yang terkandung dalam cok bakal berasal dari istilah cikal bakal. Oleh karena itu, masyarakat meyakini bahwa segala sesuatu bermula dari adanya cok bakal (Margiyono, 2. Dupa Dupa adalah jenis wewangian yang dibakar untuk menghasilkan aroma Bentuk dupa biasanya seperti lidi atau batang kecil. Dupa merupakan salah satu sajian khusus dalam upacara slametan, terutama di kalangan masyarakat Jawa. Takir Takir merupakan salah satu bagian penting dalam tradisi Ngirim Banyu. Takir adalah wadah yang terbuat dari daun pisang yang dibentuk dengan cara dilipat menggunakan janur. Bentuk takir biasanya segi empat . dan digunakan sebagai tempat untuk meletakkan bunga telon dalam sajian cok bakal. Dalam tradisi Ngirim Banyu, takir berfungsi sebagai wadah untuk berbagai jenis sesajen seperti cok bakal, urab rebung, telur, dan lain sebagainya. FILOSOFI - VOLUME. NOMOR. AGUSTUS 2025 E-ISSN . : 3032-1808. P-ISSN . : 3032-2073. Hal. Tampah Tampah merupakan bagian dari perlengkapan yang digunakan dalam tradisi Ngirim Banyu. Tampah adalah kerajinan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat (Margiyono, 2. Perubahan Tradisi Ngirim Banyu Perubahan dalam suatu tradisi selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut. Untuk menjelaskan perubahan yang terjadi dalam tradisi Ngirim Banyu, peneliti mengacu pada konsep perubahan menurut Sukarman . 6: 36-. , yang menyatakan bahwa perubahan dapat berasal dari faktor internal maupun eksternal. Faktor internal muncul karena adanya penemuan baru . dan ciptaan . , sedangkan faktor eksternal meliputi proses difusi, akulturasi, dan . Faktor Internal Faktor internal dalam suatu tradisi muncul akibat adanya penemuan . dan ciptaan . Discovery merupakan proses menemukan unsur baru dalam kebudayaan yang bernilai, bisa berupa gagasan baru yang diciptakan oleh individu, atau hasil interaksi antarindividu dalam masyarakat. Suatu discovery akan berubah menjadi invention apabila masyarakat mengakui, menerima, dan menerapkan penemuan baru tersebut (Sukarman, 2006: . Perubahan pada tradisi ngirim banyu yang dipengaruhi oleh faktor internal yaitu : Nasi golong, yang biasanya digunakan dalam asahan untuk bancakan oleh beberapa warga telah digantikan dengan sega tumpeng biasa, yaitu tumpeng Kadang-kadang, ada juga warga yang menggunakan nasi putih biasa lalu langsung ditempatkan dalam baskom untuk bancakan di sumber. Bothok udang, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi ngirim banyu karena berkaitan dengan awal pelaksanaan tradisi tersebut. Namun, saat ini bothok urang telah digantikan dengan bothok bandeng, bothok teri, serta bothok tahu tempe. Tradisi yang biasanya dilaksanakan di sumber, bagi sebagian masyarakat dilakukan di tempat lain dengan alasan tertentu. Biasanya, bagi mereka yang tidak dapat hadir dalam acara ngirim banyu, tetap berusaha membuat asahan atau berkatan lalu membawanya ke masjid bersamaan dengan niat ngirim Tradisi Ngirim Banyu di Sumber Genitri Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto . Faktor Eksternal Faktor eksternal merupakan penyebab perubahan tradisi yang muncul akibat adanya pengaruh dari luar tradisi dan masyarakat itu sendiri. Artinya, faktor eksternal berasal dari pihak atau tempat lain. Faktor ini dapat berbentuk proses difusi, akulturasi, dan asimilasi (Sukarman, 2006: . Setiap faktor yang menjadi penyebab perubahan tradisi memiliki proses serta tahapan yang beragam dan berbeda-beda. Perubahan pada tradisi ngirim banyu yang disebabkan oleh factor eksternal yaitu : Pada masa lalu, seluruh kebutuhan yang digunakan untuk pelaksanaan tradisi Ngirim Banyu dibeli di pasar yang terletak di Desa Pacet. Namun, menurut penuturan juru masak, berbelanja ke pasar tersebut dirasa terlalu jauh. Oleh karena itu, untuk memenuhi seluruh keperluan dalam persiapan acara tersebut, masyarakat memilih berbelanja di toko kelontong . yang berada lebih Pada zaman dahulu, seluruh masyarakat desa yang melaksanakan tradisi Ngirim Banyu berangkat bersama-sama menuju sumber mata air yang menjadi tujuan pengiriman. Misalnya, warga yang memanfaatkan Sumber Genitri akan berjalan kaki bersama-sama dari desa menuju hutan tempat sumber tersebut Namun, saat ini kondisi telah berubah. Masyarakat lebih memilih berangkat ke lokasi sumber menggunakan sepeda motor atau bersama-sama naik mobil bak terbuka . ick u. Cara Melestarikan Tradisi Ngirim Banyu Upaya pelestarian dalam penelitian ini akan dijelaskan selaras dengan teori yang dikemukakan oleh Sendjaja . , yang menyatakan bahwa menjaga dan melestarikan budaya Indonesia dapat dilakukan melalui berbagai cara. Terdapat dua pendekatan yang dapat dilakukan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mendukung pelestarian budaya serta ikut menjaga keberlangsungan budaya lokal, yaitu: Culture Experience, yaitu pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara terlibat langsung dalam kegiatan kebudayaan tersebut. Upaya yang dilakukan oleh warga Desa Claket memiliki manfaat tidak hanya untuk melestarikan tradisi, tetapi juga untuk mengenalkan tradisi tersebut kepada generasi berikutnya agar mereka dapat terus menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah ada. FILOSOFI - VOLUME. NOMOR. AGUSTUS 2025 E-ISSN . : 3032-1808. P-ISSN . : 3032-2073. Hal. Culture Knowledge, yaitu pelestarian budaya yang dilakukan melalui pendirian atau penyediaan pusat informasi tentang kebudayaan, yang dapat memberikan pemahaman sekaligus menjadi sarana pengembangan budaya tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan oleh warga Desa Claket untuk melestarikan tradisi ngirim banyu adalah melalui pembukuan cerita rakyat. Pembukuan cerita rakyat ini merupakan bentuk pelestarian tradisi dalam media buku, yang berisi kisah-kisah mengenai tradisi yang berkembang di Desa Claket. Upaya lain yang dilakukan warga Desa Claket untuk melestarikan tradisi ngirim banyu di Sumber Genitri yaiku dengan cara sosialisasi masarakat oleh karang taruna Desa Claket serta dengan menggunakan peran media sosial. SIMPULAN Kebudayaan Jawa memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Jawa, mencakup adat istiadat serta berbagai tradisi. Hingga kini, budaya Jawa masih relevan dengan perkembangan zaman, termasuk tradisi, ritual, ajaran kepercayaan, dan peninggalan seperti candi. Folklor merupakan bentuk kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, baik secara lisan, sebagian lisan, maupun nonlisan. Salah satu contoh folklor setengah lisan adalah tradisi Ngirim Banyu yang terdapat di Kabupaten Mojokerto. Jawa Timur. Ubarampe yang dibutuhkan meliputi nasi golong, ayam panggang, bothok udang, urab rebung, dawet, cok bakal, dupa, takir, dan tampah. Perubahan yang terjadi pada tradisi Ngirim banyu dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal yang ada pada Cara melestarikan tradisi tersebut bisa menggunakan cara culture experience . erlibat secara langsun. , culture knowledge . elalui media yang mengedukas. , sosialisasi masarakat, serta peran media sosial dalam proses perkembangannya. DAFTAR PUSTAKA