STIKes Mitra Keluarga Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) p-ISSN 2580-3379. ,e-ISSN 2716 0874 . Vol. No. Juni 2026. Hal. 178 Ae 189 Research Article HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN ANEMIA REMAJA PUTRI DI SMPN Y. KABUPATEN BOGOR RELATIONSHIP BETWEEN NUTRITIONAL STATUS AND ANEMIA IN ADOLESCENT GIRLS AT SMPN Y. BOGOR REGENCY Rohayati Rohayati1. Elsi Sofiatul Fuadah2 1Program Studi Pendidikan Profesi Ners. STIKes Mitra Keluatga 2 Rumah Sakit Pertamina Jaya ll. Jakarta *rohayati@stikesmitrakeluarga. INFORMASI ARTIKEL Article history Submitted: 12 Ae 12 Ae 2025 Accepted: 02 Ae 06 Ae 2026 Published: 30 Ae 06 Ae 2026 DOI : https://doi. org/10. 47522/jm Kata Kunci: Anemia. Remaja putri. Status Gizi Keywords : Anemia. adolescence girl. nutrition status ABSTRAK Pendahuluan : Anemia gizi besi merupakan masalah kesehatan publik yang serius di kalangan remaja putri di Indonesia. Status gizi yang tidak optimal, baik kurang maupun berlebih, dapat mempengaruhi metabolisme zat besi dan berkontribusi terhadap kejadian anemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi dengan anemia pada remaja putri di SMPN Y. Bogor. Metode: Penelitian menggunakan desain crosectional dengan sampel sebanyak 220 remaja putri berusia 12Ae16 Variabel status gizi diukur berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) yang dikategorikan menjadi dua kategori: non-overweight dan overweight/obesitas. Status anemia ditentukan melalui pengukuran kadar hemoglobin (H. Analisis data bivariat dilakukan menggunakan uji Pearson Chi-Square serta estimasi rasio odds rasio (OR) dengan confidence interval 95%. Hasil: Prevalensi anemia pada remaja putri mencapai 29,1%. Mayoritas responden memiliki status gizi non-overweight sebesar 67,7%. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi (IMT/U) dengan anemia . -value = 0,399. Remaja putri dengan status gizi non-overweight menunjukkan kecenderungan risiko 1,315 kali lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan kelompok overweight/ obesitas (OR = 1,315. 95% CI: 0,695Ae2,. Kesimpulan: Status gizi tidak berhubungan signifikan secara statistik dengan anemia pada remaja putri. Oleh karena itu, program intervensi disarankan untuk tidak hanya berfokus pada remaja dengan status kurus, melainkan melakukan skrining hemoglobin menyeluruh tanpa memandang status antropometri. Selain itu, perlu dilakukan peningkatan pengawasan terhadap kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) di sekolah. Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 178 Ae 189 ABSTRACT Introduction : Iron-deficiency anaemia remains a major public health challenge among adolescent girls in Indonesia. Although nutritional status is recognized as an important determinant of health, both undernutrition and overnutrition may disrupt iron metabolism and increase the risk of anaemia. This study aimed to examine the association between nutritional status and anaemia among adolescent girls at SMPN Y. Bogor. Method: The study used a cross-sectional design, sampling 220 adolescent girls aged 12Ae16 years. Nutritional status, measured by Age-Adjusted Body Mass Index (BMI-for-Ag. , was categorised as Non-Overweight or Overweight/Obese, while anaemia status was determined by haemoglobin (H. Bivariate data analysis used the Pearson Chi-Square test and odds ratio (OR) estimation at a 95% confidence level. Result: The prevalence of anaemia among adolescent girls was 29. Most respondents . had a non-overweight nutritional status. Statistical analysis indicated no significant association between nutritional status (BMI-for-ag. and anaemia . -value = 0. p > 0. Adolescent girls with a nonoverweight nutritional status had a 1. 315-fold higher risk of developing anaemia compared to those in the overweight or obese group (OR = 1. 95% CI: 0. 695Ae2. Conclusion: Nutritional status is not statistically significantly associated with anaemia in adolescent girls. It is recommended that intervention programmes should not focus solely on underweight adolescents, but instead conduct comprehensive haemoglobin screening regardless of anthropometric status and strengthen monitoring of compliance with iron tablet consumption in schools. PENDAHULUAN Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan reproduksi krusial yang berdampak jangka panjang terhadap kesehatan ibu dan anak di masa depan. Remaja putri yang menderita anemia memiliki risiko lebih tinggi mengalami defisiensi zat besi kronis yang terus berlanjut hingga masa kehamilan (Fente et al. , 2025. Rahman et al. , 2016. ZychKrekora et al. , 2. Kondisi anemia selama kehamilan terbukti secara signifikan meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Bayi dengan riwayat BBLR dan kekurangan pasokan nutrisi sejak dalam kandungan ini memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami gangguan pertumbuhan linear atau stunting pada masa kanak-kanak (Wija et al. , 2. Oleh karena itu, pencegahan anemia sejak dini pada fase remaja menjadi intervensi hulu yang sangat vital guna memutus rantai generasi stunting di Indonesia. Prevalensi anemia pada remaja putri Indonesia mencapai 32% secara nasional dan 41,5% pada wilayah Jawa Barat (Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan RI, 2. Penelitian Sobari et al. , menunjukkan bahwa 45,6% remaja putri di Bogor menderita anemia (Sobari et al. , 2. Anemia didefinisikan sebagai penurunan kadar hemoglobin di bawah batas normal (<12 g/dL) untuk remaja putri usia 12Ae19 tahun (Direktorat Gizi Masyarakat, 2. Penyebab utama anemia adalah defisiensi zat besi, yang dipengaruhi oleh asupan, penyerapan, dan kebutuhan fisiologis yang meningkat selama pubertas, menstruasi, dan pertumbuhan cepat (Chaparro & Suchdev, 2. Asupan zat besi yang tidak memadai Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 178 Ae 189 terutama dari sumber heme iron . aging, ikan, ungga. menjadi faktor risiko utama, karena zat besi non-heme dari sumber nabati memiliki bioavailabilitas yang lebih rendah (Young et al. , 2. Selain itu, kekurangan protein dan vitamin C yang berperan dalam transportasi dan absorpsi zat besi dapat memperparah risiko anemia defisiensi besi (Heffernan et al. , 2017. Song et al. , 2. Remaja putri termasuk kelompok populasi yang rentan menderita anemia karena tekanan sosial tentang body image sering mendorong mereka melakukan diet restriktif, melewatkan makan, atau mengonsumsi makanan rendah kandungan zat gizi. Pola makan tidak seimbang berdampak langsung pada status gizi dan ketersediaan zat besi. Studi di Bali menunjukkan body image negatif 30,6 kali dapat mengakibatkan anemia pada remaja putri (Putra et al. , 2. Studi lain menunjukkan bahwa remaja perempuan dengan status gizi kurang . memiliki risiko mengalami defisiensi zat besi lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki status gizi normal (Fayasari et al. , 2022. Nur Hanifah et al. , 2. Keterkaitan antara status gizi dan anemia bersifat multidimensi dan tidak linier. Baik status gizi kurang maupun gizi lebih dapat meningkatkan risiko anemia melalui mekanisme patofisiologis yang berbeda, dengan hepcidin berperan sebagai regulator utama homeostasis besi (Helt et al. , 2025. Sachdeva et al. , 2. Hasil penelitian di beberapa lokasi di Indonesia diantaranya di Sampang. Madura dan Semarang menunjukkan hubungan signifikan antara status gizi . urus, gemuk, obesita. dan kejadian anemia (Daris et al. , 2013. Fauziah et al. , 2. Penelitian di distrik Babile. Eastern Ethiopia menemukan bahwa 21,6% responden kurus, 4,8% gemuk dan 1,1% obesitas sementara untuk status anemia 32% dan 15% bertubuh pendek (Teji et al. , 2. Penelitian di Sampang. Madura kepada 372 responden menunjukkan bahwa 21,5% dengan anemia ringan, 7,3% anemia sedang, dan 5,1% anemia berat. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara status gizi dengan anemia (Fauziah et al. , 2. Penelitian lain di Sragen yang melibatkan 160 siswa menunjukkan hubungan yang signifikan antara status gizi dan anemia (Sulistiyanti et al. , 2. Penelitian di Kupang kepada 256 remaja putri menunjukkan prevalensi anemia sebesar 5%, dengan 31% remaja berada pada kategori kurus. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara status gizi dengan anemia di Kota Kupang (Djogo & Letor. Beberapa penelitian masih menunjukkan variasi hasil, akan tetapi dengan jumlah sampel yang rendah. Meskipun berbagai studi telah dilakukan, penelitian yang secara spesifik mengkaji hubungan antara status gizi dan anemia di wilayah kerja Puskesmas Ciangsana. Kabupaten Bogor, masih terbatas. Penelitian ini mengangkat urgensi kajian hubungan status gizi dengan anemia pada remaja putri di tengah fenomena beban ganda malnutrisi yang semakin kompleks di Indonesia yaitu koeksistensi overweightobesitas dan anemia dalam populasi yang sama. Pemilihan status gizi sebagai variabel utama didasarkan pada landasan teoretis mengenai mekanisme patofisiologis berbeda pada kedua status gizi. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyediaan data kontekstual lokal di wilayah Puskesmas Ciangsana. Bogor, yang sebelumnya belum tersedia, sehingga mengisi kesenjangan bukti ilmiah untuk perencanaan intervensi. Oleh karena itu, penelitian ini Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 178 Ae 189 bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi berdasarkan IMT/U sesuai zscore dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN Y. Ciangsana. Kabupaten Bogor. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan pada periode Mei hingga Juli 2023 di SMPN Y. Ciangsana. Kabupaten Bogor, yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Ciangsana. Jawa Barat. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi penelitian mencakup seluruh siswi aktif di sekolah tersebut berjumlah 671 Sampel dipilih menggunakan teknik stratified random sampling . on-probability samplin. , dengan jumlah sampel dihitung berdasarkan rumus perbandingan dua proporsi menurut Lemeshow et al. Estimasi awal prevalensi anemia di Jawa Barat sebesar 41,5% (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2. digunakan sebagai dasar perhitungan. Hasil perhitungan minimal sampel adalah 200, setelah memperhitungkan kemungkinan dropout sebesar 10%, jumlah sampel akhir ditetapkan sebanyak 220 responden. Kriteria inklusi meliputi: . siswi yang masih aktif di sekolah selama periode penelitian, . bersedia berpartisipasi, . tidak dalam kondisi haid dan . menandatangani informed consent . erta persetujuan orang tua untuk responden di bawah usia 17 tahu. Kriteria eksklusi mencakup: . siswi yang menolak pemeriksaan hemoglobin, . data yang tidak lengkap, atau . ketidakhadiran saat pengukuran Instrumen Penelitian Variabel dependen adalah anemia, yang didefinisikan sebagai kadar hemoglobin <12,0 g/dL sesuai kriteria WHO . Pengukuran data hemoglobin dilakukan oleh tim peneliti didampingi oleh petugas puskesmas. Pengukuran dilakukan menggunakan alat HemoCue Hb 201 yang telah dikalibrasi sebelumnya. Hasil dikategorikan menjadi: tidak anemia (Ou12,0 g/dL), anemia ringan . ,0Ae11,9 g/dL), anemia sedang . ,0Ae10,9 g/dL), dan anemia berat (<8,0 g/dL). Variabel independen adalah status gizi yang dinilai berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) sesuai dengan nilai Z-score yang diukur pada saat pengambilan data oleh tim peneliti. Pengukuran antropometri dilakukan menggunakan timbangan digital (SECA . dan stadiometer portabel (SECA . , kemudian diolah menggunakan perangkat lunak WHO AnthroPlus versi 1. Status gizi diklasifikasikan berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yaitu gizi kurang (< Oe2 SD), gizi normal (Oe2 SD hingga 1 SD), gizi lebih (> 1 SD hingga 2 SD), dan obesitas (> 2 SD) (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Standar Antropometri Anak, 2. Metode Pengumpulan data Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 178 Ae 189 Pengumpulan data dilakukan dalam dua tahap: . pengisian kuesioner untuk karakteristik demografi dan . pengukuran antropometri serta hemoglobin oleh tenaga Pertimbangan Etik Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan STIKes Bani Saleh (Nomor: EC. 012/KEPK/STKBS/IV/2. Seluruh responden memberikan persetujuan tertulis, dan hak untuk menarik diri kapan saja dijamin tanpa konsekuensi. Pengolahan dan Analisa Data Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak IBM SPSS statistik versi 26. Data dianalisis secara univariat berupa frekuensi, persentase, serta rerata A standar deviasi (SD) untuk menggambarkan karakteristik responden. Selanjutnya, hubungan antara status gizi dan kejadian anemia dianalisis secara bivariat. Adanya lebih dari 50% sel pada tabel kontingensi yang memiliki nilai expected count kurang dari 5 menyebabkan penggunaan Fisher's Exact Test sebagai pengganti uji Chi-Square. Kekuatan hubungan antarvariabel dinilai menggunakan koefisien Cramer's V dengan kategori lemah . ,10Ae 0,. , sedang . ,30Ae0,. , dan kuat (Ou 0,. (Field, 2. Tingkat signifikansi statistik ditetapkan pada nilai p-value < 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Analisa univariat akan menggambarkan deskripsi usia, derajat anemia dan status gizi remaja putri berdasarkan IMT/U. Tabel 1. Distribusi frekuensi remaja berdasarkan status gizi dan anemia (N=. Variabel Status Gizi berdasarkan IMT/ U Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih Obesitas Total Klasifikasi anemia Tidak anemia Anemia ringan Anemia sedang Anemia berat Total Frekuensi Persentase (%) 3,2% 64,5% 12,3% 70,9% 14,1% 0,9% Berdasarkan Tabel 1, distribusi status gizi remaja berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U) menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi baik, yaitu sebanyak 142 orang . ,5%). Sementara itu, sebanyak 44 orang . ,0%) Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 178 Ae 189 memiliki status gizi lebih, 27 orang . ,3%) mengalami obesitas, dan 7 orang . ,2%) tergolong gizi kurang. Berdasarkan klasifikasi anemia, mayoritas responden tidak mengalami anemia, yaitu sebanyak 156 orang . ,9%). Namun, masih ditemukan responden yang mengalami anemia, terdiri atas 31 orang . ,1%) dengan anemia ringan, 31 orang . ,1%) dengan anemia sedang, dan 2 orang . ,9%) dengan anemia berat. Distribusi yang seimbang antara anemia ringan dan sedang . asing-masing 14,1%) menunjukkan bahwa meskipun kasus anemia berat relatif jarang terjadi, terdapat beban anemia subklinis yang signifikan yang berpotensi memengaruhi performa kognitif, kapasitas kerja fisik, dan produktivitas belajar remaja. Rendahnya prevalensi anemia berat . ,9%) dapat mencerminkan efektivitas parsial program suplementasi zat besiAe asam folat yang telah dijalankan, namun tingginya proporsi anemia ringan-sedang mengisyaratkan perlunya penguatan cakupan, kepatuhan, dan kualitas intervensi yang Berdasarkan indeks massa tubuh menurut usia (IMT/U), mayoritas remaja putri dalam penelitian ini memiliki status gizi baik 142 orang . ,5%). Namun, hasil penelitian yang patut mendapat perhatian adalah prevalensi gizi lebih/overweight sebesar 44 orang . %) dan obesitas 27 orang . ,3%). Sebaliknya, status gizi kurang hanya ditemukan pada 7 orang . ,2%). Temuan ini menunjukkan bahwa masalah gizi lebih dan obesitas pada remaja putri masih cukup tinggi dibandingkan masalah gizi kurang. Pola ini konsisten dengan temuan Global Burden of Disease Study 2021 yang melaporkan bahwa prevalensi overweight dan obesitas di kalangan remaja telah meningkat dua kali lipat di negara berpenghasilan rendah dan menengah selama dua dekade terakhir(Ge et al. Analisis Bivariat Peneliti melakukan restriksi . enggabungan kategor. pada variabel independen dan dependen dari format awal 4x4 menjadi format bivariat 2x2. Langkah restriksi ini diambil berdasarkan dua pertimbangan utama. Pertama, secara teknis statistik, analisis awal menunjukkan sebaran data yang sangat kecil . xpected count < . pada beberapa sel kategori ekstrem . eperti gizi kurang dan anemia bera. , yang menyebabkan pelanggaran asumsi uji Pearson Chi-Square. Penggabungan menjadi kategori non-overweight . urus dan norma. serta overweight/obesitas . izi lebih dan obesita. berhasil mengatasi kendala tersebut sehingga diperoleh nilai p-value yang valid serta nilai Odds Ratio (OR) untuk mengukur kekuatan risiko. Kedua, secara konseptual ilmu gizi, pengelompokan ini disesuaikan untuk membandingkan secara spesifik antara remaja putri dengan berat badan normal/kurang terhadap mereka yang memiliki akumulasi jaringan adiposa berlebih, yang secara patofisiologi memiliki mekanisme pemicu anemia yang berbeda . efisiensi besi absolut vs defisiensi besi fungsional akibat inflamas. Hasil restriksi inilah yang menjadi dasar interpretasi hubungan dalam penelitian ini. Hasil analisis bivariat dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 178 Ae 189 Tabel 2 Hubungan Status Gizi dengan Anemia Remaja Putri Status gizi Non-overweight Overweight/ Total Klasifikasi anemia Anemia Tidak n (%) n (%) 46 . ,9%) 103 . ,1%) 149 . %) 18 . ,4%) 53 . ,6%) 71 . %) 64 . ,1%) 156 . ,9%) 220 . %) Total % Pvalue OR 95% CI 0,39 1,135 ,695 Ae Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 149 remaja putri dengan status gizi nonoverweight, terdapat 46 orang . ,9%) yang mengalami anemia dan 103 orang . ,1%) yang tidak anemia. Sementara itu, pada kelompok remaja putri dengan status gizi overweight/obesitas sebesar 71 orang, proporsi yang mengalami anemia cenderung lebih rendah, yaitu sebesar 18 orang . ,4%), sedangkan 53 orang . ,6%) lainnya tidak Hasil uji Pearson Chi-Square menunjukkan nilai p-value sebesar 0,399 . -value > 0,. , yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan anemia pada remaja putri. Berdasarkan analisis nilai odds ratio (OR), diperoleh nilai sebesar 1,315 . % CI: 0,695Ae2,. Hal ini secara klinis menunjukkan bahwa remaja putri yang non-overweight memiliki kecenderungan risiko 1,315 kali lebih besar terkena anemia dibandingkan kelompok overweight/obesitas, namun risiko ini tidak bermakna secara statistik karena nilai rentang interval kepercayaan . onfidence interva. mencakup angka 1. Hasil penelitian ini selaras dengan karakter etiologi anemia yang bersifat multifaktorial dimana status gizi berperan sebagai salah satu determinan, tetapi bukan satu-satunya penyebab utama anemia. Fenomena hidden hunger . elaparan tersembuny. menjelaskan bahwa status gizi normal berdasarkan IMT/U tidak selalu mencerminkan kecukupan zat gizi mikro di dalam tubuh. IMT/U hanya menilai aspek antropometri dan keseimbangan energi makro antara berat badan dan tinggi badan, sehingga tidak mampu mendeteksi defisiensi mikronutrien spesifik seperti zat besi, vitamin A, zinc, maupun asam folat (AuThe State of Food Security and Nutrition in the World 2023,Ay 2. Dengan demikian, remaja putri dapat tampak memiliki status gizi proporsional dan normal secara fisik, tetapi tetap rentan mengalami anemia defisiensi besi akibat penipisan cadangan besi tubuh yang tidak teridentifikasi melalui pengukuran antropometri makro semata (Rahmah Mustakin & Adam, n. Fenomena ini secara umum dapat dijumpai pada remaja putri yang mengadopsi pola makan tinggi kalori tetapi rendah kualitas zat gizi . igh-calorie, low-nutrient die. Konsumsi makanan yang didominasi oleh karbohidrat sederhana, lemak, serta pangan ultra-proses (Ultra-Processed Foods / UPF) seperti mie instan, makanan cepat saji, dan snack kemasan, terbukti dapat mencukupi kebutuhan energi harian untuk mempertahankan berat badan dalam rentang normal, namun miskin akan bioavailabilitas zat besi heme yang bersumber dari protein hewani (Dargenio et al. , 2. Akibat dari Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 178 Ae 189 ketidakseimbangan kualitas konsumsi ini, tubuh mengalami deplesi zat besi secara kronis meskipun status antropometrinya berada pada kategori normal. Pada remaja putri, kondisi ini menjadi jauh lebih progresif karena adanya kebutuhan fisiologis yang meningkat tajam selama fase pertumbuhan . rowth spur. serta kehilangan darah rutin akibat siklus menstruasi bulanan. Oleh karena itu, penilaian kesehatan remaja tidak dapat lagi hanya mengandalkan indikator berat badan atau IMT. Oleh karena itu, penilaian status gizi tidak cukup dilakukan hanya berdasarkan indikator antropometri, melainkan perlu dikombinasikan dengan evaluasi pola konsumsi aktual serta pemeriksaan biomarker hematologi, seperti kadar hemoglobin (H. dan feritin serum, untuk mendeteksi hidden hunger secara lebih komprehensif. (World Health Organization, 2. Remaja putri yang mengalami gizi kurang dapat menderita anemia karena defisiensi mikronutrien esensial yang menyertai asupan energi dan protein yang tidak adekuat. Kekurangan zat besi, vitamin BCACC, folat, vitamin A, dan tembaga secara langsung menghambat sintesis hemoglobin serta mengganggu proses pematangan eritrosit di sumsum tulang. Defisiensi zat besi dapat terjadi akibat asupan diet yang rendah bioavailabilitas besi, kehilangan darah menstruasi, atau kebutuhan yang meningkat selama masa percepatan pertumbuhan . rowth spur. (Suryanarayana & Rangareddy. Selain itu, malnutrisi kronis dapat menyebabkan atrofi mukosa usus dan penurunan ekspresi divalent metal transporter-1 (DMT. , sehingga kapasitas absorpsi besi dari saluran cerna turut berkurang. Defisiensi protein jangka panjang juga berdampak pada rendahnya produksi eritropoietin (EPO) serta menurunnya respon sel progenitor eritroid terhadap hormon tersebut. Kondisi ini akan memperlambat laju eritropoiesis (DAoAngelo, 2013. Helt et al. , 2. Kondisi anemia pada remaja gizi lebih/obesitas memiliki jalur patofisiologi yang berbeda dengan gizi kurang. Jaringan adiposa khususnya yang bersifat visceral, berfungsi sebagai organ endokrin aktif yang mensekresi berbagai sitokin pro-inflamasi, terutama interleukin-6 (IL-. (Berton & Gambero, 2. Peningkatan IL-6 secara sistemik akan menstimulasi hepatosit untuk memproduksi hepcidin secara berlebihan. Hepcidin berperan sebagai regulator utama homeostasis besi dengan cara menginduksi degradasi ferroportin, yakni protein transporter yang bertugas melepaskan besi dari enterosit usus dan makrofag ke dalam sirkulasi (Nemeth & Ganz, 2. Kondisi diatas mengakibatkan ketersediaan besi fungsional untuk eritropoiesis menurun, meskipun cadangan feritin tubuh mungkin masih dalam batas normal atau bahkan tinggi. Bukti empiris terbaru menunjukkan bahwa remaja dengan obesitas memiliki kadar hepcidin-25 serum yang lebih tinggi dibandingkan kelompok berat badan normal, bahkan setelah dikontrol terhadap asupan zat besi harian. Hal ini memperkuat peran inflamasi sebagai mediator kunci dalam patogenesis anemia pada populasi ini (Berton & Gambero, 2024. Calcaterra et al. , 2. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dan kejadian anemia . -value = 0,. Temuan ini didukung oleh nilai odds ratio (OR) sebesar 1,315 dengan interval kepercayaan 95% . % confidence interval [CI]: Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 178 Ae 189 0,695Ae2,. Rentang OR yang melewati angka 1 secara metodologis menegaskan bahwa variasi status gizi tidak mengubah risiko anemia secara bermakna di populasi ini. Angka kejadian anemia terdistribusi hampir merata di kedua yaitu 30,9% pada kelompok nonoverweight dan 25,4% pada kelompok overweight/obesitas. Hasil uji bivariat yang menunjukkan tidak adanya korelasi ini terjadi karena adanya dua jalur patofisiologi berbeda yang saling meniadakan efek statistik dimana pada kelompok non-overweight anemia didorong oleh jalur defisiensi besi absolut sedangkan kelompok overweight/obesitas anemia dipicu oleh jalur defisiensi besi fungsional akibat akumulasi lemak berlebih memicu inflamasi kronis yang meningkatkan hormon hepcidin. Karakteristik biologis remaja putri, seperti volume dan durasi perdarahan menstruasi, kebiasaan diet restriktif, tingkat aktivitas fisik, status hidrasi, serta kerentanan genetik terhadap metabolisme besi, kemungkinan besar turut memengaruhi derajat anemia yang terobservasi (Suryanarayana & Rangareddy, 2. Hasil penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa status gizi buruk hanya berkontribusi sebesar 15Ae30% terhadap variasi prevalensi anemia, sedangkan faktorfaktor lain, seperti pola menstruasi dan infeksi, juga berperan signifikan dalam terjadinya anemia(Melani et al. , 2024. Wijayanti & Nurseskasatmata, 2. Penelitian di Indonesia menemukan korelasi yang lemah . = 0,. antara status gizi dan anemia di kalangan remaja putri. Hal ini menyoroti keterbatasan efektivitas penggunaan indikator IMT untuk menilai status zat besi (Noviona Lingga Fitri et al. , 2024. Romadhon et al. , 2. Selain itu, defisiensi mikronutrien, terutama zat besi dan vitamin esensial lainnya, terbukti secara signifikan mempengaruhi kadar hemoglobin (Millaty et al. , 2. Prevalensi anemia yang tinggi di kalangan remaja putri menunjukkan pentingnya intervensi yang tepat untuk mengatasi kekurangan nutrisi, terutama zat besi, vitamin B12, dan folat . a Silva Lopes et al. , 2021. Millaty et al. , 2. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan dalam menginterpretasikan hasil. Pertama penelitian ini tidak mengukur faktor perancu potensial seperti asupan diet spesifik . onsumsi zat besi, vitamin C, inhibitor absorps. , riwayat infeksi parasit, status menstruasi, tingkat aktivitas fisik, dan status sosioekonomi keluarga yang dapat memengaruhi hubungan antara status gizi dan anemia. Keterbatasan penelitian ini juga terletak pada sampel yang hanya berasal dari satu lokasi dengan karakteristik demografis tertentu, sehingga kemampuan generalisasi temuan terhadap populasi remaja putri di wilayah lain yang memiliki karakteristik sosioekonomi, budaya, dan pola makan yang berbeda menjadi terbatas. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan prevalensi anemia pada remaja putri sebesar 29,1% dengan proporsi status gizi didominasi kelompok non-overweight sebesar 30,9%. Hasil uji hipotesis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara status gizi (IMT/U) dengan kejadian anemia pada remaja putri . -value = 0,399. p-value > 0,. Remaja putri dengan status gizi non-overweight memiliki kecenderungan risiko 1,315 . % CI: 0,695Ae2,. mengalami anemia dibandingkan kelompok Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 178 Ae 189 overweight/obesitas. Berdasarkan temuan diatas, disarankan agar upaya pencegahan anemia pada remaja putri tidak hanya berfokus pada status gizi berdasarkan IMT/U, tetapi juga pada pemenuhan zat gizi mikro khususnya zat besi melalui edukasi gizi seimbang dan optimalisasi konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). DAFTAR PUSTAKA