Vol 3 No. 1 Januari 2026 P-ISSN : 3047-2792 E-ISSN : 3047-2032. Hal 114 - 119 JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jimat Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/64n18h21 PERAN ASPEK KEPERILAKUAN DALAM PENERAPAN AKUNTANSI KEBERLANJUTAN: DARI KESADARAN SOSIAL HINGGA IMPLEMENTASI ORGANISASI Ambarwati Akib a* a Ekonomi dan bisnis/Akuntansi. ambarwati@unm. Universitas Negeri Makassar. Jalan Raya Pendidikan. Kota Makassar. Sulawesi Selatan Penulis Korespondensi: Ambarwati Akib ABSTRACT The successful implementation of sustainability accounting relies not only on organizational systems and policies but also on the underlying human behavior and organizational culture. This study analyzes the role of behavioral aspects in implementing sustainability accounting through an extensive literature review of national and international publications. The findings indicate that sustainability awareness, ethical values, managerial motivation, and an open organizational culture significantly shape the effectiveness of sustainability reporting. Moreover, external pressuresAisuch as stakeholder expectations and regulatory frameworks including the Global Reporting Initiative (GRI) and Environmental. Social, and Governance (ESG) standardsAireinforce organizational commitment to social and environmental accountability. Consequently, behavioral factors are essential in transforming sustainability accounting from a compliance-oriented activity into a value-driven managerial practice. This study contributes theoretically by offering a deeper understanding of how human behavior integrates with sustainability accounting practices to support long-term sustainable development. Keywords: Sustainability accounting. behavioral aspects. sustainability awareness. ESG. GRI Abstrak Keberhasilan penerapan akuntansi keberlanjutan tidak hanya bergantung pada sistem dan kebijakan perusahaan, tetapi juga pada perilaku individu dan budaya organisasi yang mendasarinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran aspek keperilakuan dalam penerapan akuntansi keberlanjutan melalui pendekatan studi literatur terhadap berbagai jurnal nasional dan internasional. Hasil telaah menunjukkan bahwa kesadaran keberlanjutan, nilai etika, motivasi manajerial, serta budaya organisasi yang terbuka memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas pelaporan keberlanjutan. Selain itu, faktor eksternal seperti tekanan pemangku kepentingan dan regulasi pelaporan, termasuk penerapan Global Reporting Initiative (GRI) dan prinsip Environmental. Social, and Governance (ESG), turut memperkuat komitmen organisasi terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dengan demikian, aspek keperilakuan menjadi faktor kunci yang mengubah akuntansi keberlanjutan dari sekadar kewajiban administratif menjadi strategi manajerial berbasis nilai dan etika. Artikel ini memberikan kontribusi teoritis dalam memperluas pemahaman tentang integrasi antara perilaku manusia dan praktik akuntansi keberlanjutan yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan. Kata Kunci: Akuntansi keberlanjutan. aspek keperilakuan. kesadaran keberlanjutan. ESG. GRI Naskah Masuk 12 November 2025. Revisi 13 November 2025. Diterima 14 November 2025. Tersedia 19 November 2025 Ambarwati Akib dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 114 Ae 119 PENDAHULUAN Akuntansi keberlanjutan merupakan pengembangan dari akuntansi sosial yang berfokus pada penyajian informasi terkait dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan organisasi. Dalam perkembangannya, akuntansi keberlanjutan tidak hanya menjadi instrumen pelaporan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi organisasi dalam memenuhi tuntutan transparansi dan akuntabilitas. Peran aspek keperilakuan dalam akuntansi keberlanjutan sangat penting karena keberhasilan implementasinya tidak hanya ditentukan oleh sistem dan kebijakan, tetapi juga oleh kesadaran, motivasi, dan nilai etika individu dalam organisasi . Perkembangan akuntansi merupakan respons terhadap meningkatnya tuntutan transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab sosial perusahaan di era globalisasi. Perusahaan tidak lagi dinilai hanya berdasarkan kinerja keuangan, tetapi juga sejauh mana mereka memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan Akuntansi sosial menekankan pentingnya pelaporan yang mencerminkan kontribusi sosial dan lingkungan dari aktivitas bisnis, yang pada akhirnya memperkuat legitimasi dan kepercayaan publik terhadap perusahaan . Dalam konteks yang lebih luas, akuntansi sosial telah berevolusi menjadi akuntansi keberlanjutan . ustainability accountin. , yang mencakup dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan secara terpadu . menjelaskan bahwa akuntansi keberlanjutan berperan dalam menyediakan informasi bagi pengambilan keputusan yang mendukung keseimbangan antara profitabilitas, tanggung jawab sosial, dan pelestarian Sementara itu. Schaltegger dan Burritt . menegaskan bahwa akuntansi keberlanjutan tidak sekadar instrumen pelaporan, tetapi juga mekanisme manajerial yang membantu organisasi menginternalisasi nilai-nilai keberlanjutan dalam strategi bisnis mereka. Penerapan akuntansi keberlanjutan menghadapi berbagai tantangan yang bersifat perilaku dan budaya Faktor seperti kesadaran individu, nilai etika, motivasi manajemen, serta tekanan dari pemangku kepentingan eksternal berpengaruh besar terhadap sejauh mana pelaporan keberlanjutan dapat diimplementasikan secara efektif . Menurut Soo. Mitan, dan Kurniawan . , persepsi dan motivasi individu berperan penting dalam efektivitas sistem informasi akuntansi yang mendukung transparansi dan akuntabilitas organisasi. Urgensi pembahasan ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan pendekatan keperilakuan dalam penerapan akuntansi keberlanjutan. Di Indonesia, praktik pelaporan keberlanjutan masih sering bersifat formalitas dan belum sepenuhnya mencerminkan perubahan nilai serta perilaku organisasi yang berorientasi pada tanggung jawab sosial dan lingkungan. Banyak perusahaan telah melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR) dan menerbitkan laporan keberlanjutan, tetapi masih sedikit yang memahami peran perilaku individu dan budaya organisasi sebagai faktor penentu keberhasilan Perkembangan kebijakan global seperti Sustainable Development Goals (SDG. Environmental. Social, and Governance (ESG), serta penerapan standar pelaporan seperti GRI Standards . menuntut organisasi untuk lebih serius mengelola dampak sosial dan lingkungan secara terukur. Selain itu, peningkatan tekanan dari pemangku kepentingan dan regulasi global menjadikan praktik akuntansi keberlanjutan semakin relevan . Oleh karena itu, pemahaman terhadap dimensi keperilakuan menjadi krusial agar akuntansi keberlanjutan tidak hanya menjadi simbol kepatuhan regulatif, tetapi berkembang menjadi bagian integral dari nilai, strategi, dan budaya perusahaan. Dengan menelaah peran aspek keperilakuan dalam penerapan akuntansi keberlanjutan, artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam mengembangkan model pelaporan keberlanjutan yang lebih humanistik, etis, dan berorientasi pada perubahan perilaku organisasi menuju praktik bisnis yang berkelanjutan. TINJAUAN PUSTAKA 1 Akuntansi Keberlanjutan Akuntansi keberlanjutan . ustainability accountin. merupakan pendekatan pelaporan yang mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam sistem akuntansi organisasi. Tujuannya adalah menyediakan informasi yang komprehensif bagi para pemangku kepentingan untuk menilai sejauh mana organisasi berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. Menurut Gray . , akuntansi keberlanjutan tidak hanya mengukur kinerja finansial, tetapi juga dampak sosial dan ekologis dari kegiatan bisnis, sehingga membantu perusahaan mengelola risiko dan peluang keberlanjutan secara strategis. Peran Aspek Keperilakuan dalam Penerapan Akuntansi Keberlanjutan: Dari Kesadaran Sosial Hingga Implementasi Organisasi (Ambarwati Aki. Ambarwati Akib dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 114 Ae 119 Schaltegger dan Burritt . menekankan bahwa akuntansi keberlanjutan berfungsi sebagai alat manajerial yang mendukung pengambilan keputusan dalam konteks triple bottom line profit, people, dan planet. Dalam praktik global, pelaporan keberlanjutan banyak mengacu pada kerangka Global Reporting Initiative (GRI) dan konsep Environmental. Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi indikator penting bagi investor dalam menilai kinerja non-keuangan perusahaan. 2 Hubungan antara Akuntansi Sosial dan Akuntansi Keberlanjutan Akuntansi sosial merupakan cikal bakal dari akuntansi keberlanjutan. Keduanya memiliki kesamaan dalam hal tanggung jawab sosial dan transparansi, namun berbeda dalam cakupan dan orientasi. Akuntansi sosial lebih fokus pada pelaporan dampak sosial terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar, sementara akuntansi keberlanjutan memiliki cakupan yang lebih luas, mencakup aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi dalam satu sistem pelaporan terpadu . Menurut Hermawan. Prasetyo, dan Wahyuni . , evolusi dari akuntansi sosial menuju akuntansi keberlanjutan terjadi karena meningkatnya kesadaran global terhadap isu perubahan iklim, kesenjangan sosial, dan tuntutan tata kelola yang lebih etis. Oleh karena itu, akuntansi keberlanjutan dipandang sebagai bentuk penyempurnaan dari akuntansi sosial dengan penekanan pada keberlanjutan jangka panjang dan integrasi dalam strategi bisnis perusahaan. 3 Peran Aspek Keperilakuan dalam Implementasi Akuntansi Keberlanjutan Keberhasilan implementasi akuntansi keberlanjutan sangat bergantung pada perilaku manusia di dalam Susanto dan Lestari . menemukan bahwa resistensi terhadap perubahan dan lemahnya komitmen etis merupakan hambatan utama dalam penerapan pelaporan keberlanjutan. Sebaliknya, organisasi dengan budaya terbuka, kepemimpinan visioner, dan nilai etika yang kuat cenderung lebih sukses dalam mengintegrasikan akuntansi keberlanjutan ke dalam proses bisnis . Selain faktor internal, tekanan dari pemangku kepentingan seperti regulator, investor, dan masyarakat juga berperan mendorong perusahaan untuk memperkuat pelaporan keberlanjutan. Yuliana dan Nugroho . menunjukkan bahwa tekanan stakeholder meningkatkan adopsi praktik akuntansi sosial dan keberlanjutan di pasar berkembang . merging market. Dengan demikian, integrasi aspek keperilakuan dalam akuntansi keberlanjutan menjadi elemen penting untuk memastikan bahwa pelaporan tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar mencerminkan nilai dan komitmen organisasi terhadap tanggung jawab sosial, lingkungan, dan METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam peran aspek keperilakuan dalam penerapan akuntansi keberlanjutan, mulai dari tahap kesadaran hingga implementasi dalam organisasi. Pendekatan ini dipilih karena isu yang diteliti berkaitan dengan fenomena sosial, nilai, dan perilaku manusia yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya melalui data Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari studi pustaka . ibrary researc. , dengan mengumpulkan dan menelaah berbagai literatur yang relevan seperti jurnal ilmiah, artikel penelitian, buku akademik, laporan keberlanjutan perusahaan, serta dokumen kebijakan terkait pelaporan keberlanjutan . isalnya GRI Standards. ESG Reports, dan Sustainable Development Goal. Kriteria literatur yang digunakan adalah sebagai berikut: . Rentang waktu 2010Ae2024 untuk memastikan relevansi dengan perkembangan terbaru akuntansi keberlanjutan. Jenis publikasi berupa jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional, buku akademik, standar GRI, dokumen ESG, dan laporan keberlanjutan. Kesesuaian topik, yaitu membahas akuntansi keberlanjutan, akuntansi sosial, aspek keperilakuan, budaya organisasi, dan etika. Kredibilitas, dibuktikan melalui peer review atau publikasi resmi institusi. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Gambaran Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami peran aspek keperilakuan dalam penerapan akuntansi keberlanjutan melalui analisis literatur dari berbagai sumber akademik dan laporan praktik Berdasarkan hasil telaah pustaka terhadap lebih dari 15 artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan, ditemukan bahwa keberhasilan implementasi akuntansi keberlanjutan sangat bergantung pada faktor perilaku individu, budaya organisasi, serta tekanan dari pemangku kepentingan eksternal. JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 114 - 119 Ambarwati Akib dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 114 Ae 119 Analisis literatur menghasilkan tiga tema utama yang menjadi fokus pembahasan, yaitu: . kesadaran dan persepsi terhadap akuntansi keberlanjutan, . pengaruh budaya organisasi dan motivasi etis terhadap implementasi, dan . strategi keperilakuan untuk memperkuat praktik akuntansi keberlanjutan 2 Kesadaran dan Persepsi terhadap Akuntansi Keberlanjutan Pembahasan pertama, mengarahkan perhatian pada dimensi individual yang menjadi fondasi awal dari perilaku keberlanjutan dalam organisasi. Kesadaran dan persepsi individu terhadap keberlanjutan memegang peranan penting karena menjadi titik awal yang menentukan sejauh mana praktik akuntansi keberlanjutan dapat diterima, dipahami, dan diimplementasikan secara konsistenHasil studi literatur menunjukkan bahwa kesadaran keberlanjutan . ustainability awarenes. menjadi titik awal yang menentukan keberhasilan penerapan akuntansi keberlanjutan. Kesadaran ini dibentuk melalui pendidikan, nilai individu, dan persepsi terhadap manfaat keberlanjutan. Menurut Gray kesadaran keberlanjutan dalam organisasi muncul ketika pelaku bisnis menyadari keterkaitan antara kinerja ekonomi dan dampak sosiallingkungan yang ditimbulkan . Penelitian Soo. Mitan, dan Kurniawan . menemukan bahwa persepsi positif akuntan terhadap nilai keberlanjutan berpengaruh signifikan terhadap komitmen pelaporan non-keuangan. Hasil serupa dikemukakan oleh Hermawan. Prasetyo, dan Wahyuni . , yang menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner dan nilai organisasi berperan penting dalam membangun persepsi bahwa akuntansi keberlanjutan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan sarana menciptakan keunggulan reputasi dan kepercayaan publik. Secara umum, literatur menunjukkan bahwa kesadaran keberlanjutan di tingkat individu akan memperkuat moral intention untuk bertindak etis dan transparan dalam pelaporan. Oleh karena itu, organisasi perlu mengembangkan program edukasi keberlanjutan dan pelatihan etika bagi akuntan maupun manajer agar kesadaran ini tumbuh menjadi perilaku yang konsisten. 3 Budaya Organisasi. Etika, dan Motivasi Tema kedua, peran budaya organisasi dalam penerapan akuntansi keberlanjutan tidak dapat dilepaskan dari nilai dan etika yang dianut oleh perusahaan yang diidentifikasi dari literatur adalah pentingnya budaya organisasi dan motivasi etis sebagai faktor internal yang menentukan keberhasilan penerapan akuntansi Junaini. Wulanda, dan Isneli . menegaskan bahwa motivasi manajerial dan nilai etika individu memengaruhi efektivitas sistem akuntansi di lingkungan usaha kecil dan menengah. Ketika budaya organisasi mendukung keterbukaan, integritas, dan tanggung jawab sosial, maka pelaporan keberlanjutan dapat berjalan lebih konsisten dan kredibel. Susanto dan Lestari . menyoroti bahwa resistensi terhadap perubahan dan rendahnya komitmen etis menjadi hambatan perilaku yang paling sering ditemui dalam penerapan akuntansi sosial maupun Sebaliknya, budaya organisasi yang menumbuhkan ethical leadership dan learning culture terbukti mampu meningkatkan partisipasi karyawan dalam pelaporan keberlanjutan . Dalam konteks Indonesia, temuan dari Putri dan Santosa . juga menegaskan bahwa kesadaran etis dan budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap penerapan akuntansi sosial di perusahaan manufaktur. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi perilaku tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan akuntansi keberlanjutan, karena faktor manusia menjadi penggerak utama di balik setiap proses pelaporan dan pengambilan keputusan. 4 Strategi Keperilakuan untuk Memperkuat Akuntansi Keberlanjutan Berdasarkan hasil sintesis berbagai penelitian, penerapan akuntansi keberlanjutan dapat diperkuat melalui beberapa strategi berbasis perilaku yang bersifat jangka panjang. Pertama, melalui pelatihan dan edukasi berbasis nilai keberlanjutan, yang tidak hanya menekankan aspek teknis pelaporan tetapi juga penginternalisasian nilai etika dan tanggung jawab sosial . Pelatihan yang efektif membantu individu memahami keterkaitan antara peran mereka dan dampak keberlanjutan organisasi. Peran Aspek Keperilakuan dalam Penerapan Akuntansi Keberlanjutan: Dari Kesadaran Sosial Hingga Implementasi Organisasi (Ambarwati Aki. Ambarwati Akib dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 114 Ae 119 Kedua, penerapan sistem insentif dan akuntabilitas sosial seperti green accounting dan environmental responsibility reporting dapat mendorong perubahan perilaku organisasi ke arah yang lebih berorientasi pada keberlanjutan . Ketiga, penguatan regulasi dan standar pelaporan juga berperan penting dalam membentuk norma organisasi. Penelitian Suaryana . menunjukkan bahwa lemahnya regulasi menjadi hambatan utama di Indonesia, sementara penerapan standar seperti GRI dapat memperkuat komitmen perilaku manajerial dalam pengambilan keputusan berbasis keberlanjutan. Selain itu, studi internasional oleh Prihastini dan Indrayani . Untari and Wulandari . menekankan pentingnya integrasi antara pelaporan keuangan dan keberlanjutan untuk menciptakan sistem akuntansi yang benar-benar menggambarkan kinerja organisasi secara holistik. Integrasi ini memerlukan dukungan perilaku manajerial yang adaptif dan berorientasi pada pembelajaran berkelanjutan . ontinuous learnin. 5 Sintesis Temuan dan Model Konseptual Hasil telaah literatur secara keseluruhan dapat disintesiskan dalam model hubungan berikut: Nilai dan persepsi individu Ie Kesadaran keberlanjutan Ie Budaya organisasi dan motivasi etis Ie Implementasi akuntansi keberlanjutan Ie Peningkatan reputasi dan nilai perusahaan. Model ini menunjukkan bahwa penerapan akuntansi keberlanjutan berawal dari dimensi perilaku mikro . yang kemudian berkembang ke dimensi makro . Keberhasilan pelaporan keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh kepatuhan terhadap standar pelaporan, tetapi juga oleh perubahan nilai, motivasi, dan perilaku manusia di dalam organisasi KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil telaah pustaka yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa aspek keperilakuan memiliki peran strategis dalam mendukung efektivitas penerapan akuntansi keberlanjutan. Dimensi keperilakuan yang mencakup kesadaran individu, nilai etika, persepsi terhadap manfaat sosial, budaya organisasi, dan motivasi manajerialAimenjadi fondasi utama dalam membangun sistem pelaporan yang tidak hanya patuh terhadap regulasi, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab moral organisasi terhadap lingkungan dan Kesadaran keberlanjutan di tingkat individu menjadi titik awal perubahan perilaku menuju praktik akuntansi yang lebih etis dan berorientasi pada keberlanjutan. Budaya organisasi yang mendukung transparansi, tanggung jawab sosial, dan kepemimpinan etis terbukti meningkatkan partisipasi anggota organisasi dalam pelaporan keberlanjutan. Selain itu, dukungan eksternal berupa tekanan dari pemangku kepentingan, regulasi pemerintah, dan standar global seperti Global Reporting Initiative (GRI) turut memperkuat komitmen organisasi dalam menerapkan prinsip Environmental. Social, and Governance (ESG). SARAN Bagi Dunia Akademik Diperlukan pengembangan model teoritis yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara aspek keperilakuan dan keberhasilan implementasi akuntansi keberlanjutan. Penelitian mendatang dapat memperluas studi ini melalui pendekatan empiris, seperti survei atau studi kasus pada perusahaan yang telah menerapkan sustainability reporting, untuk menguji pengaruh variabel perilaku terhadap efektivitas pelaporan. Bagi Praktisi dan Organisasi, organisasi perlu menanamkan nilai keberlanjutan dalam budaya perusahaan melalui pelatihan etika, komunikasi internal yang berkelanjutan, dan sistem insentif yang mendorong perilaku pro-lingkungan dan sosial. Bagi organisasi, penerapan strategi berbasis perilaku dapat dilakukan melalui penguatan budaya keberlanjutan. Misalnya, perusahaan seperti Unilever Indonesia telah menerapkan program internal untuk mengurangi limbah plastik melalui pelatihan berbasis perilaku dan sistem insentif keberlanjutan. Contoh lainnya adalah Pertamina, yang mengembangkan kebijakan internal pengurangan emisi dan mengintegrasikannya dalam penilaian kinerja Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa strategi perilaku yang tepat dapat memperkuat implementasi akuntansi keberlanjutan dan meningkatkan kualitas pelaporan organisasi. JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 114 - 119 Ambarwati Akib dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 114 Ae 119 Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan sejawat di Program Studi Pendidikan Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Negeri Makassar atas bimbingan, masukan, serta dukungan yang diberikan selama proses penulisan artikel ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para peneliti terdahulu yang karyanya menjadi rujukan dan memperkaya kajian dalam penelitian ini. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu akuntansi, khususnya dalam memperkuat pemahaman tentang peran aspek keperilakuan dalam penerapan akuntansi keberlanjutan. DAFTAR PUSTAKA