Volume 5 No. 1 Desember 2025 Hal. 60 Ae 67 PSYCOMEDIA: Jurnal Psikologi Website: http://journal. id/psychomedia/ Psikoedukasi psychological first aid dan resiliensi pada ibu-ibu di Bantaran Kali Code Yogyakarta Dewi Soerna Anggraeni Asti Fatwasari Dimas Adi Wijaya Narastri Insan Utami Fakultas Psikologi. Universitas Mercu Buana. Yogyakarta. Indonesia E-mail: dewisoerna@mercubuana-yogya. Abstract This study aims to measure the effectiveness of psychoeducation based on Psychological First Aid (PFA) in improving the resilience of mothers living in Jogoyudan Village, along the banks of the Code River. Yogyakarta. The research employed a pre-test and post-test design to evaluate changes in resilience levels before and after the training, involving 6 mothers residing in the Code River area. The analysis results showed a significant difference in resilience scores between the pre-test and post-test, with a p-value of 0. < 0. These findings indicate that PFA-based psychoeducation effectively enhances resilience among mothers in the Code River area. Further analysis revealed that the more frequently PFA training was provided, the higher the levels of resilience achieved. This study offers significant practical contributions. PFA-based interventions can be implemented as an effective strategy to enhance resilience within the context of community empowerment. By incorporating this approach into community development programs, individuals, especially those living in disaster-prone areas, are expected to be better prepared to face life's challenges. This study recommends continuous PFA training to strengthen the psychological resilience of communities residing in high-risk Keywords: Psychoeducation. Psychological First Aid. Resilience. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas psikoedukasi berbasis Psychological First Aid (PFA) dalam meningkatkan resiliensi pada ibu-ibu yang tinggal di Kelurahan Jogoyudan, bantaran Kali Code. Yogyakarta. Penelitian menggunakan desain pre-test dan post-test untuk mengevaluasi perubahan tingkat resiliensi sebelum dan sesudah pelatihan, pada 6 ibu-ibu di bantaran Kali Code. Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor resiliensi pada pre-test dan post-test, dengan nilai p sebesar 0,027 . < 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa psikoedukasi berbasis PFA efektif dalam meningkatkan resiliensi pada ibu-ibu di bantaran Kali Code. Analisis lebih lanjut juga mengungkapkan bahwa semakin sering pelatihan PFA diberikan, semakin tinggi tingkat resiliensi yang dicapai. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis yang signifikan. Intervensi berbasis PFA dapat diimplementasikan sebagai strategi efektif untuk meningkatkan resiliensi dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Dengan memasukkan pendekatan PFA ke dalam program-program pengembangan komunitas, diharapkan individu, khususnya mereka yang tinggal di wilayah rawan bencana, dapat lebih siap menghadapi tantangan kehidupan. Hasil penelitian ini merekomendasikan pelatihan PFA secara berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan psikologis masyarakat yang tinggal di lingkungan berisiko. Kata Kunci: Psikoedukasi. Psychological First Aid. Resiliensi Copyright A 2025. Dewi Soerna Anggraeni dkk. All Right Reserved PSYCOMEDIA: Jurnal Psikologi E-mail: psikologi. fishum@gmail. mauntag1745@gmail. Program Studi Psikologi Universitas Ibrahimy Situbondo Pendahuluan Bantaran kali adalah sebuah area marjinal yang rentan terhadap berbagai masalah sosial, ekonomi dan psikologis. Kondisi lingkungan yang tidak sehat, sanitasi yang buruk, keterbatasan akses terhadap air bersih, dan risiko penyakit dapat menciptakan beban tambahan pada kesejahteraan mental penduduk di area bantaran Selain itu, ketidakpastian dan ketidakamanan akan tempat tinggal dapat memicu stres dan kecemasan. Penduduk di bantaran kali juga rentan menghadapi kesulitan ekonomi yang berdampak pada ketidakstabilan finansial, minimnya akses pendidikan dan terbatasnya peluang pekerjaan yang memunculkan harga diri yang rendah serta kekuatiran akan masa depan. Orang-orang dalam kemiskinan juga mengalami risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan emosi, yang mungkin mengakibatkan hubungan suami istri dan keluarga menjadi bermasalah, seperti konflik, kekerasan, dan perpisahan keluarga (Vandsburger et al. , 2. Kondisi nyata yang dihadapi oleh masyarakat yang menghuni bantaran Kali Code ini mengarahkan pada kondisi mental yang kurang baik. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara Tim Peneliti dengan salah satu informan yang merupakan Kader PKK yang ditemui pada 10 Januari 2024 di bantaran kali Code. Berdasarkan hasil wawancara awal Tim Peneliti dengan informan dan hasil skrining kesehatan mental yang dilakukan oleh Puskesmas Jogoyudan, ditemukan informasi bahwa ibu-ibu yang tinggal di bantaran kali Code terindikasi mengalami stres dan mudah cemas. Beberapa di antaranya sudah dirujuk ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan Psikolog namun tidak banyak yang melakukan hal ini dikarenakan berbagai alasan. Untuk menjawab permasalahan yang terjadi di bantaran kali Code ini, peneliti hendak memberikan psikoedukasi mengenai psychological first aid (PFA) dan bagaimana dampaknya kepada resiliensi. Pertolongan pertama psikologis, atau biasa yang disebut sebagai Psychological First Aid (PFA) merupakan serangkaian tindakan yang diberikan guna membantu menguatkan mental seseorang yang mengalami krisis (World Health Organization. Pada dasarnya, pertolongan pertama psikologis dilakukan spesifik untuk mengobati luka-luka batin yang membekas pada orang-orang yang baru saja mengalami pengalaman traumatis. Hal ini diterapkan untuk dapat meringankan beban para penyintas dengan mengurangi dampak-dampak psikologis yang dirasakan seperti rasa stress dan tertekan. PFA dilakukan untuk membantu individu mengembangkan koping fungsional dalam jangka pendek maupun jangka panjang yang diakibatkan oleh stres yang mereka rasakan (Brymer et al. , 2. Resiliensi merupakan konsep psikologis yang berkaitan dengan kemampuan individu untuk bertahan dan pulih dari tekanan, tantangan, atau trauma yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini telah menjadi fokus utama dalam bidang psikologi karena perannya yang krusial dalam menentukan adaptabilitas dan kesejahteraan individu, terutama dalam menghadapi kondisi lingkungan yang penuh dengan ketidakpastian dan perubahan yang cepat. (Meichenbaum, 2. menerangkan bahwa resiliensi diartikan sebagai proses interaktif yang melibatkan PSYCHOMEDIA : Jurnal Psikologi Page | 61 beberapa karakteristik individu ataupun kelompok masyarakat yang lebih luas. Resiliensi juga dapat diartikan sebagai proses dinamis saat individu memiliki pikiran yang terus berubah dan berkembang yang disertai dengan adaptasi yang positif pada saat situasi/kondisi yang sulit, adanya tantangan, maupun hambatan (Luthar, 2. Untuk meningkatkan ketahanan psikologis, diperlukan pula potensi yang dimiliki oleh individu secara internal dan eksternal dalam menghadapi tantangan di setiap tahapan perkembangan kehidupan (Pooley & Cohen, 2. Kajian tentang resiliensi tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang kekuatan individu dalam mengatasi kesulitan, tetapi juga memberikan landasan untuk pengembangan intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis. Salah satu kelompok yang rentan dan membutuhkan perhatian khusus dalam konteks ini adalah para ibu, terutama yang tinggal di daerah rawan, seperti bantaran sungai, di mana mereka seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan eksternal yang dapat mengganggu stabilitas dan keseimbangan psikologis Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas psikoedukasi Psychological First Aid (PFA) dalam meningkatkan resiliensi pada ibu-ibu yang tinggal di bantaran Kali Code. Dengan memahami dan meningkatkan tingkat resiliensi pada ibu-ibu ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan mereka serta kualitas kehidupan keluarga secara keseluruhan. Metode Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain One-Group Pretest-Posttest Design. Pemilihan desain ini bertujuan untuk mengukur pengaruh pemberian perlakuan . berupa psikoedukasi Psychological First Aid (PFA) terhadap variabel terikat dengan membandingkan kondisi subjek sebelum dan sesudah Melalui rancangan O1XO2, peneliti melakukan kontrol terhadap variabel dengan memberikan pretest (O. untuk mengetahui keadaan awal, diikuti pemberian perlakuan (X), dan diakhiri dengan posttest (O. untuk melihat perubahan yang terjadi (Sugiono, 2. Subjek dalam penelitian ini adalah enam orang ibu yang berdomisili di bantaran Kali Code. Yogyakarta. Penentuan subjek difokuskan pada populasi ini mengingat kerentanan lingkungan tempat tinggal mereka yang memerlukan kapasitas resiliensi yang kuat dalam menghadapi tantangan harian maupun potensi bencana. Data dikumpulkan menggunakan skala resiliensi yang diadaptasi dari ConnorDavidson Resilience Scale (CD-RISC) . Instrumen ini terdiri dari 35 item yang mencakup lima aspek utama: . personal competence. trust in oneAos instincts. positive acceptance of change and secure relationships. spiritual Instrumen ini telah melalui uji validitas konstruk oleh Octaryani dan Baidun . dengan hasil model fit (RMSEA = 0,020. p-value chi-square >0,. dan seluruh aitem dinyatakan signifikan sebagai pengukur resiliensi dengan muatan faktor lebih dari 1,96. Prosedur penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap utama. Tahap pertama adalah pemberian pretest menggunakan skala resiliensi untuk mendapatkan data basis sebelum intervensi. Tahap kedua adalah pemberian perlakuan berupa psikoedukasi PSYCOMEDIA : Jurnal Psikologi Page | 62 PFA yang dilaksanakan dalam satu kali pertemuan intensif. Tahap ketiga adalah pemberian posttest yang dilakukan satu minggu setelah psikoedukasi diberikan untuk melihat stabilitas pengaruh perlakuan terhadap tingkat resiliensi ibu-ibu tersebut. Data yang diperoleh dari skor pretest dan posttest dianalisis menggunakan teknik statistik inferensial untuk menguji perbedaan rata-rata yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon. Hasil Peneliti menggunakan sampel Wilcoxon untuk menguji dua kelompok yang berpasangan karena sampel yang diuji kurang dari 15 orang. Selama proses pelatihan terdapat enam subjek yang dapat dianalisa secara konsisten. Hasil uji Wilcoxon dapat dilihat pada tabel 1 dan 2. Tabel 1 menunjukkan bahwa pada kolom negative ranks hasil resiliensi pada pre test dan post test adalah nol. Nilai nol menunjukkan tidak adanya penurunan . nilai pretest dan nilai posttest. Nilai positive rank resiliensi pre test dan post test pada 6 subjek mengalami peningkatan resiliensi dengan Mean Rank atau ratarata peningkatan tersebut sebesar 3. 5 sedangkan jumlah ranking positif sebesar 21. Sedangkan pada nilai Ties adalah 0, hal ini menunjukkan tidak ada skor yang sama pada pre-test dan post-test hasil resiliensi yang dilakukan pada enam orang subjek penelitian di bantaran Kali Code. Berdasarkan penghitungan diatas nilai signifikansi sebesar 0. <0. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pretest dan posttest resiliensi subjek penelitian. Hasil ini menunjukkan bahwa psikoedukasi Psychological First Aid (PFA) efektif untuk meningkatkan resiliensi ibu-ibu di bantaran Kali Code. Yogyakarta. Tabel 1 Mean Rank Post-Test - Pre-Test Mean Rank Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Sum of Ranks Tabel 2. Hasil Uji Wilcoxon Post-Test - Pre-Test Asymp. Sig. -taile. PSYCHOMEDIA : Jurnal Psikologi Page | 63 Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan resiliensi subjek penelitian sebelum mendapatkan psikoedukasi PFA dan sesudah mendapat psikoedukasi PFA. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan rata-rata yang signifikan antara skor pre-test dan post-test resiliensi pada ibu-ibu di bantaran Kali Code. Yogyakarta. Temuan ini mengindikasikan bahwa psikoedukasi berbasis Psychological First Aid (PFA) efektif dalam meningkatkan resiliensi partisipan. Efektivitas PFA dalam penelitian ini sesuai dengan definisi yang dijelaskan oleh World Health Organization . yaitu sebagai metode bantuan awal untuk memperkuat kondisi mental individu yang mengalami krisis. Dalam konteks penelitian ini, pendekatan PFA telah berhasil memberikan dukungan emosional yang signifikan bagi ibu-ibu yang hidup di lingkungan dengan tantangan ekonomi dan sosial. Hal ini relevan dengan kajian Vandsburger et al . yang menyatakan bahwa individu dalam situasi di rural area berisiko tinggi mengalami tekanan emosional, yang dapat berdampak negatif pada hubungan keluarga, termasuk munculnya konflik dan Oleh sebab itu. PFA merupakan salah satu intervensi untuk membantu individu menghadapi kondisi tersebut. Hasil penelitian ini ini sejalan dengan tinjauan sistematis dari Hermosilla et al . yang menyatakan bahwa PFA berdampak positif terhadap beberapa kondisi psikologis individu. Kondisi ini mencakup pengurangan kecemasan, depresi, dan stres, serta peningkatan kesejahteraan psikososial. Efektivitas PFA dalam mengurangi kecemasan, depresi, dan stres serta meningkatkan kesejahteraan psikososial juga didukung oleh studi di Turki terhadap relawan bencana yang menujukkan bahwa pemberian PFA berpengaruh terhadap peningkatan resiliensi dan penurunan stres secara signifikan (Bekircan et al. , 2. Penelitian dari Grey et al . juga menunjukkan bahwa PFA memerlukan intervensi berkelanjutan. Intervensi PFA yang diberikan dalam satu sesi tetap dapat memberi efek sementara yang signifikan dalam konteks komunitas lokal yang kohesif. Hal ini mencerminkan kemungkinan adanya pemberian intervensi yang sedikit namun berdampak kuat pada kelompok yang saling mendukung secara sosial. Hasil penelitian ini juga selaras dengan beberapa penelitian-penelitian mutakhir yang menegaskan efektivitas PFA dalam memperkuat ketahanan psikologis pada kelompok rentan di lingkungan berisiko tinggi (Shultz & Forbes, 2014. Wang et al. Namun, penelitian ini memberikan kontribusi baru melalui temuan bahwa frekuensi pelatihan PFA berhubungan positif dengan peningkatan tingkat resiliensi. Hal ini memperluas hasil penelitian sebelumnya yang lebih banyak menyoroti efektivitas intervensi satu sesi, sementara hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan berkelanjutan lebih berdampak dalam konteks komunitas yang menghadapi stresor Perbedaan mendasar pada pendekatan metode dan durasi intervensi yang dilakukan dalam penelitian dengan beberapa penelitian lain. Mayoritas riset global seperti studi di Turki dari Bekircan et al . yang menerapkan PFA secara daring PSYCOMEDIA : Jurnal Psikologi Page | 64 atau satu sesi tunggal pada saat krisis akut. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks stresor kronis . eperti kemiskinan perkotaa. , intervensi yang menyertakan psikoedukasi terstruktur memberikan dampak yang lebih terukur pada kapasitas adaptasi jangka Panjang. Perbedaan metodologis juga terlihat pada penggunaan Onegroup pretest-posttest design. Meskipun memiliki keterbatasan dalam kontrol variabel eksternal dibandingkan metode Randomized Controlled Trial (RCT) yang digunakan oleh Figueroa et al . , metode eksperimen kuasi dalam penelitian ini memberikan gambaran nyata tentang cara komunitas lokal merespons intervensi psikologis di tengah keterbatasan akses layanan kesehatan mental formal. Hasil penelitian ini juga mendukung teori resiliensi yang dikemukakan oleh Meichenbaum . dan Luthar . yang mengartikan resiliensi sebagai proses adaptasi positif dalam menghadapi situasi sulit atau penuh tantangan. Selama pemberian PFA, peserta diberikan ruang untuk memperkuat kemampuan adaptasi, meningkatkan keterampilan mengelola stres, serta membangun hubungan sosial yang Pandangan ini sejalan dengan Pooley dan Cohen . yang menekankan pentingnya memanfaatkan potensi internal dan eksternal individu untuk memperkuat ketahanan psikologis mereka dalam menghadapi dinamika kehidupan. Peningkatan resiliensi dapat dijelaskan melalui elemen-elemen dasar PFA seperti empati aktif, validasi emosional, dan kekuatan koneksi interpersonal, yang semuanya menciptakan rasa aman dan kontrol diri (Figueroa et al. , 2024. Hermosilla et al. , 2. Dukungan komunitas dalam konteks budaya koletivistik seperti di Indonesia dapat menjadi faktor utama yang berpengaruh terhadap proses pemulihan psikologis dan resiliensi (Figueroa et al. , 2. Karakteristik lingkungan bantaran Kali Code sangat khas dengan tekanan ekonomi, ketidakpastian tempat tinggal, dan keterbatasan akses layanan kesehatan Hal ini menjadi faktor yang memperberat beban psikologis ibu-ibu yang tinggal di bantaran Kali Code. Dalam situasi ini, pemberian PFA secara berulang tidak hanya membantu mengurangi tekanan emosional, tetapi juga memperkuat jejaring sosial dan solidaritas komunitas, yang merupakan aspek penting dalam teori resiliensi ekologis (Ungar, 2. Selain itu, adaptasi kultural dalam pelaksanaan PFA, seperti integrasi nilai gotong royong, terbukti meningkatkan relevansi dan efektivitas intervensi dibandingkan dengan protokol standar yang bersifat universal (Mendes et al. , 2. Keterbatasan penelitian ini terletak pada jumlah partisipan yang kecil dan durasi intervensi yang singkat, sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan desain longitudinal dan partisipan yang lebih banyak untuk menguji keberlanjutan efek PFA terhadap resiliensi masyarakat bantaran sungai (M. Hechanova et al. , 2. Meski demikian, hasil penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis yang penting. Intervensi PFA berbasis komunitas dengan frekuensi terstruktur dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat resiliensi jangka panjang pada populasi marginal, khususnya di wilayah rawan bencana (Samarasekara, 2. Dengan demikian, integrasi pelatihan PFA secara berkelanjutan ke dalam program pemberdayaan masyarakat sangat direkomendasikan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan psikologis individu maupun komunitas dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Secara PSYCHOMEDIA : Jurnal Psikologi Page | 65 praktis, hasil ini memberikan bukti awal bahwa PFA adalah strategi intervensi yang efektif, murah, dan sesuai secara budaya untuk memperkuat resiliensi psikologis masyarakat rentan. Integrasi model ini ke dalam program kesehatan mental komunitas kiranya dapat menjadi langkah strategis dalam membangun ketahanan psikososial masyarakat lokal. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan maka terdapat perbedaan pengaruh pelatihan Psychological First Aid (PFA) terhadap resiliensi. Psychological First Aid (PFA) secara positif memberikan pengaruh terhadap resiliensi Ibu-ibu di bantaran kali Code. Artinya, dengan semakin sering diberikan pelatihan maka semakin tinggi resiliensi ibuibu di bantaran Kali Code. Peneliti selanjutnya dapat memilih metode eksperimen pretest posttest control group design sehingga memiliki nilai evidensi yang lebih terpercaya karena kelompok eksperimen dapat dibandingkan dengan kelompok Referensi