5th Conference on Research and Community Services STKIP PGRI Jombang AuPeningkatan Kinerja Dosen Melalui Penelitian dan Pengabdian MasyarakatAy 4 Oktober 2023 DINAMIKA KEHIDUPAN EKONOMI KOMUNITAS PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI LINGKUNGAN WISATA RELIGI Masruchan STKIP PGRI Jombang masruchan@gmail. Abstract With the rapid development of an area not followed by adequate job opportunities, people who do not get a place in the formal sector will switch to the informal sector, where this informal sector does not require a lot of skills and adequate The informal sector is most in demand by Indonesian people who generally live in urban areas. Informal Sector Socio-Economic Life. Street Vendors (PKL) around Gus Dur's grave which currently needs to be considered for the development of social and economic life for the community around the site. This research was conducted to uncover and find out how the socio-economic changes of street vendors and the impact caused by the existence of Gus Dur's grave in Tebuireng Hamlet. Cukir Village. Diwek District. Jombang Regency. The research method uses the theory of Social Change and this research also uses a phenomenological qualitative method with a descriptive approach. The results of the study concluded that the existence of this informal sector is a form of community effort to create a new business that is able to reduce the burden on family needs, as well as help the government in terms of the community's economy, especially street vendors. This has been realized, where previously the street vendor community was just a person who relied on income from farm laborers, factory workers, victims of termination of employment (PHK) whose income was erratic and even had no income, now with street vendors for the community it has have predictable income. It should provide insight and understanding to the street vendor community to open a wider business, not only rely on existing trade and should be able to act wisely in consumption. And should start learning about investing in the future. Keywords: Street Vendors Abstrak Dengan perkembangan suatu daerah yang semakin pesat tidak diikuti dengan pertambahan lapangan kerja yang memadai, menjadikan masyarakat yang tidak mendapatkan tempat pada sektor formal akan beralih ke sektor informal, dimana sektor informal ini tidak menuntut banyak keahlian dan pendidikan yang memadai. Sektor informal yang paling banyak diminati oleh masyarakat indonesia yang umumnya adalah tinggal di perkotaan. Kehidupan Sosial Ekonomi Sektor Informal. Pedagang Kaki Lima (PKL) disekitaran makam Gus Dur yang saat ini perlu dipertimbangkan untuk pembangunan kehidupan sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar situs. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkt dan mengetahui bagaimana perubahan sosial ekonomi pedagang kaki lima serta dampak yang ditimbulkan oleh adanya makam Gus Dur di Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Metode Penelitian menggunakan teori Perubahan Sosial dan penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif fenomenologi dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa keberadaan sektor informal ini merupakan wujud usaha masyarakat untuk menciptakan suatu usaha baru yang mampu menguranggi beban kebutuhan keluarga, juga membantu pemerintah dalam hal perekonomian masyarakat khususnya Pedagang Kaki Lima. Hal ini telah terwujud, dimana yang dulunya komunitast Pedagang Kaki Lima hanyalah seorang yang mengandalkan pendapatan dari buruh tani, buruh pabrik, korban pemutusan hubungan kerja (PHK) yang hasil pendapatannya tidak mementu bahkan tidak ada penghasilan, kini dengan para Pedagang Kaki Lima bagi masyarakat telah memiliki pendapatan yang bisa diprikdisikan sebelumnya. Selayaknya memberi wawasan dan pemahaman kepada komunitas pedagang kaki lima untuk membuka usaha yang lebih luas, tidak hanya bergantung kepada berdagang yang ada dan hendaknya mampu bertindak lebih bijak dalam berkonsumsi. Serta hendaknya mulai belajar tentang investasi ke depan. Kata kunci: Pedagang Kaki Lima PENDAHULUAN Pada hakikatnya pembangunan merupakan cerminan proses terjadinya perubahan sosial suatu masyarakat, tanpa mengabaikan keragamaan kebutuhan dasar dan keinginaan individual maupun kelompok sosial atau institusi yang ada di dalamnya untuk mencapai kondisi kehidupan yang lebih baik. Sementra itu pembangunan mencakup tidak hanya wilayah . ahan, kota, atau des. tetapi juga semua unsur, bisnis, masyarakat, dan Dalam pembangunan sendiri bisa mengalami suatu perubahan, terutama dalam hal kehidupan masyarakat, dimana perubahan tersebut diakibatkan oleh pembangunan kawasan industri yang tidak semuanya bisa menampung tenaga kerja yang ada masyarakat pada umumnya. Usaha pemerintah untuk mewujudkan sasaran tersebut di atas telah di rumuskan dan di prioritaskan pada bidang ekonomi. Sasaran utama dalam aspek ini adalah di titik beratkan pada ekonomi kerakyatan dalam menginplementasikan program di sektor ini, maka pemerintah mampu menjadi fasilitas dan pendukung dari kegiatan masyarakat, terutama dibidang sosial ekonomi. Perkembangan industri harus didukung oleh peningkatan kualitas atau mutu yang baik. Baik dalam produksi maupun pemasaran ataupun tenaga ahli dan para pekerja/buruh atau karyawan yang memproduksinya, dari sebuah penghasilan industri/jasa barang ataupun pabrik lebih jelasnya. Terlebih pengaruhnya terhadap pertumbuhan sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar makam Gus Dur yang terletak di Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Dimana di areal sekitar makam Gus Dur saat ini terdapat beragam kegiatan para pelaku ekonomi untuk menuju keluarga yang lebih sejahtera. Besarnya angka pengangguran menjadi permasalahan yang tidak mudah di atasi oleh pemerintah. Penganguran selain berdampak pada segi ekonomi juga pada segi sosial. Dari segi ekonomi pengangguran menyebabkan, turunnya daya beli masyarakat, turunnya kemampuan menabung masyarakat sehingga tingkat investasi menurun. Sedangkan dari segi sosial penganguran dapat menyebabkan. tingginya angka kriminalitas, bertambahnya penduduk miskin, bertambahnya anak putus sekolah, meningkatnya pengemis, anak jalanan dan tunawisma. Pengangguran dapat disebakan dua pokok masalah, yaitu banyaknya tenaga kerja yang tersedia atau terbatasnya lapangan kerja. Dari dua pokok masalah tersebut didalamnya juga ada faktor ketidak seimbangan antara kebutuhan jumlah tenaga kerja terdidik dengan tersedianya jumlah tenaga kerja terdidik yang sesuai kebutuhan di lapangan kerja. Jadi jika lapangan kerja tersedia tapi tenaga kerja yang terdidik tidak sesuai dengan kebutuhkan maka pengangguranpun tetap akan terjadi. Pengangguran berdampak pada kemiskinan dan ketimpangan pendapatan penduduk di perkotaan. Salah satu cara pemecahan yang dianjurkan banyak pengamat sosial ekonomi pembangunan adalah dengan melalui pengembangan dan penciptaan lapangan kerja di sektor informal (Firdausy. M, 1995:. PKL adalah salah satu sektor informal yang banyak terdapat di daerah perkotaan. Keberadaan PKL di perkotaan mampu menyediakan lapangan kerja baru. Banyak orang menjadikan pedagang kaki lima sebagai pilihan alternatif bagi yang tidak tertampung di sektor formal. Jadi keterlibatan dalam sektor informal lebih diakibatkan karena keterpaksaan saja dibanding sebagai pilihan, hal ini terjadi karena tekanan dari sistem ekonomi yang tidak memberi tempat bagi mereka yang tidak mempunyai pendidikan dan ketrampilan yang mencukupi (Rachbini. and A. Hamid ,1994: . Sektor informal (PKL) menjadi pilihan alternatif, karena mudah memasukinya, tidak perlu ketrampilan khusus, serta pasar yang kompetitif . eperti pada definisi sektor informal oleh ILO), sehingga hal ini dapat menekan angka pengangguran dan kemiskinan. Sektor informal terus berkembang dalam menyerap tenaga kerja yang tidak tertampung pada sektor formal, hal ini dikemukakan Wirahadikusumah . alam Parid, 2003: Selain itu keberadaan sektor informal PKL juga menguntungkan bagi konsumen dari kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah, karena PKL mampu menyediakan barang-barang kebutuhan dengan harga yang relatif lebih murah. Seperti yang dikemukakan Rachbini dan Hamid . alam Arifianto,2006:. menyatakan bahwa dari sekitar dua juta buruh atau pegawai sektor formal . wasta ataupun neger. di Jakarta kurang lebih satu setengah juta membeli makanan dari sektor informal. Hanya dengan cara ini mereka dapat bertahan dalam kondisi di sektor formal yang rata-rata rendah. Kondisi ini juga menggambarkan hubungan antara sektor informal dengan sektor formal. Meskipun demikian keberadaan PKL sering dianggap sebagai sumber permasalahan, khususnya di perkotaan. Hal ini terjadi karena PKL sering menggunakan ruang publik, seperti, di trotoar, bahu jalan, taman kota dan sebagainya, yang sebenarnya bukan untuk berjualan tapi digunakan untuk melakukan aktifitas perdagangan. Akibatnya selain mengganggu ketertiban dan keindahan, para pengguna jalan juga dirugikan dengan menyempitnya ruas jalan, lalu lintas menjadi terhambat karena tidak leluasa bergerak dan pada akhirnya kemacetan tidak dapat dihindari. Disamping Pedagang kaki lima memiliki potensi untuk menciptakan lapangan kerja bagi tenaga kerja yang kurang memiliki kemampuan dan keahlian yang memadai untuk bekerja di sektor formal, karena rendahnya pendidikan yang dimiliki. Pedagang kaki lima merupakan pedagang yang memiliki modal relatif kecil untuk proses produksinya. Pedagang kaki lima juga biasa bekerja dengan waktu yang lama dan kurang teratur dibandingkan pekerja yang bekerja di sektor formal, hal ini dilakukan pedagang kaki lima karena ingin mendapatkan penghasilan tambahan yang lebih banyak lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kelangsungan usaha yang pedagang kaki lima tekuni. Banyaknya pedagang yang berada di kawasan makam Gus Dur Dusun Tebuireng. Kecamatan Diwek. Kabupaten Jombang menjadi menarik untuk diteliti, karena pedagang dengan jumlah yang banyak, jenis produk juga hampir sama. Hal ini mengakibatkan semakin tingginya persaingan antar pedagang dan mengakibatkan semakin banyaknya tantangan yang harus di hadapi oleh setiap usaha di sektor informal ini. Sebagaimana paparan dan latar belakang kenyataan diatas peneliti melakukan penelitian Kehidupan Sosial Ekonomi masyarakat bekerja sektor informal Pedagang Kaki Lima (PKL) disekitar makam Gus Dur di Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Perbedaan Sektor Informal dan Sektor Formal Karakteristik Sektor Informal Sektor Formal Modal Sukar diperoleh Relatif mudah diperoleh Teknologi Padat Karya Padat Modal Organisasi Seperti Organisasi Keluarga Birokrasi Sumber Modal Lemb. Keu tdk resmi Lembaga keuangan resmi Serikat Buruh Tidak berperan Sudah Berperan Bantuan Negara Tidak ada Diperlukan untuk untk kelangsungan hidup One-way-traffic untuk Hub. Dgn. Desa Saling menguntung untuk kepentingan sektor Sangat tergantung pada Sifat Wiraswasta Berdikari perlindungan pemerintah atau inport Persediaan barang Persediaan barang Juml Juml Jumlah besar dan kualitas Jumlah besar dan kualitas Sumber : Hidayat . METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang didasarkan pada pandangan penelitian untuk memahami Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Pedagang Kaki Lima (PKL) disekitar makam Gus Dur di Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Penelitian kualitatif sebagai model yang dikembangkan oleh Mazhab Baden yang bersinergi dalam aliran filsafat fenomenologi menghendaki pelaksanaan penelitian berdasarkan pada situasi yang ada . atural settin. sehingga kerap orang juga menyebutkan sebagai metode naturalistik. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah meneliti informan sebagai subjek penelitian dalam lingkungan hidup kesehariannya. Untuk itu peneliti kualitatif sedapat mungkin berinteraksi secara dekat dengan informan, mengenal secara dekat kehidupan mereka, mengikuti dan mengerti alur kehidupan informan secara apa adanya. Pemahaman akan simbol-simbol dan bahasa asli masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan penelitian ini. Ada beberapa pertimbangan penulis dalam memilih metode kualitatif yaitu : pertama, menyesuaikkan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan yang jamak. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakekat antara peneliti dengan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dengan pola-pola nilai yang dihadapi. Hal ini akan memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian yang berhubungan dengan Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Pedagang Kaki Lima disekitar makam Gus Dur, itu dikarenakan dengan kemudahan dalam bertemu atau berhadapan langsung dengan responden maka peneliti akan dengan mudah melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap, selain itu dengan sifat kualitatif yang alamiah atau apa adanya maka dalam penelitian ini akan lebih mudah dalam menggambarkan masalah-masalah yang diteliti. Penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang berusaha menggambarkan masalah-masalah yang diteliti sesuai dengan keadaan dengan apa adanya, yaitu tanpa ditambah dan dikurangi. Selanjutnya, dilakukan penafsiran terhadap data yang ada sebagai solusi masalah yang muncul dalam Penggunaan pendekatan deskriptif dalam penelitian ini dengan tujuan dapat menggambarkan fenomena-fenomena atau gejala-gejala yang aktual untuk mengetahui apa makna yang terjadi dalam Kehidupan Sosial Ekonomi komunitas Pedagang Kaki Lima (PKL) disekitar makam Gus Dur, serta bagaimana dampak adanya makam terhadap kehidupan masyarakat Tebuireng, yang ada disekitar makam. Penelitian kualitatif adalah meneliti informan atau sebagai subjek penelitian dalam lingkungan hidup Untuk itu peneliti sedapat mungkin berinteraksi secara dekat dengan informan, mengenal secara dekat dunia kehidupan mereka, mengamati alur kehidupan informan atau responden dengan apa adanya. Penelitian dilaksanakan di Dusun Tebuireng Desa Cukir yang merupakan sebuah desa yang ada di Kecamatan Diwek. Kabupaten Jombang. Desa Cukir memiliki luas wilayah 3,7 km2 dan terbagi atas beberapa dusun dan salah satu dusun yang ada di wilayah Kelurahan Cukir adalah Dusun Tebuireng. Tebuireng, nama sebuah pendukuhan yang termasuk wilayah administratif Desa Cukir. Kecamatan Diwek. Kabupaten Jombang, berada pada kilometer 8 dari kota Jombang ke arah selatan. Nama pendukuhan seluas 25,311 hektar ini, kemudian dijadikan nama pesantren yang didirikan oleh KH. Hasyim AsyAoari yang tidak lain adalah kakek dari Gus Dur. Populasi Menurut Sugiyono . bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah komunitas sektor infornal Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek. Kabupaten Jombang sebanyak 20 Sampel AuDefinisi Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasiAy (Sugiyono, 2011:. Tehnik sampling dalam penelitian ini menggunakan Accidental Sampling. Accidental Sampling adalah merupakan cara pengambilan sampel dengan mengambil responden atau kasus yang kebetulan ada atau tersedia. Dalam hal ini, sesuai dengan penjelasan diatas maka peneliti akan melakukan pengambilan sampel dengan cara bertanya pada responden ke responden lain. Contohnya, peneliti hanya mengetahui dua responden yang menurut penilaian si peneliti dapat dijadikan sampel, setelah itu peneliti akan menanyakan pada responden siapa-siapa lagi tokoh-tokoh masyarakat yang dapat dijadikan responden. Adapun masyarakat yang akan dijadikan responden yakni 2 tokoh masyarakat yang menurut penilaian peneliti merupakan orang yang tepat untuk dijadikan narasumber, setelah itu berhubung peneliti tidak mengetahui siapa saja yang akan tepat dijadikan responden maka peneliti akan menanyakan siapa saja yang tepat untuk dijadikan responden. Untuk memperoleh data sebagai bahan dalam penelitian, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yakni : Library Research, yakni suatu penelitian dengan cara mengumpulkan berbagai bahan bacaan atau literatur, dokumen serta media massa yang ada hubungannya dengan penulisan penelitian. Disini peneliti mempelajari teori, informasi serta mengumpulkan bahan bacaan yang berhubungan dengan penelitian guna kelengkapan, keakuratan data serta sebagai pembanding sehingga akan memperkaya hasil penelitian mengenai Kehidupan Sosial Ekonomi komunitas Pedagang Kaki Lima (PKL) disekitara makam Gus Dur Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. FieldWork Research, yakni mengumpulkan data dari penelitian yang dilakukan secara langsung di lapangan yakni di Dusun Tebuireng Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Untuk mempermudah penelitian di lapangan, perlu ditentukan teknik pengumpulan data agar yang dihimpun dapat efektif dan efisien. Data-data yang dilakukan dengan teknik pengumpulan data seperti wawancara dengan informan yakni tokoh-tokoh masyarakat, komunitas Pedagang Kaki Lima yang sejak awal ada dan karyawan makam Gus Dur. Tebuireng Jombang, dokumentasi dan observasi dikumpul untuk dipilahpilah mana yang dapat mewakili dari semua data yang diperoleh, sehingganya data-data akan menjadi akurat. Teknik wawancara terstruktur, yakni metode pengumpulan data dimana peneliti menyiapkan pertanyaan terlebih dahulu yang akan ditujukan dalam wawancaranya nanti. Pada tahap ini, peneliti mewawancarai tokoh-tokoh masyarakat yang dominan serta paham dengan masalah yang akan diteliti. Dengan wawancara ini maka peneliti akan mendapatkan informasi yang lengkap serta dapat mendalami masalah yang diteliti. Selain itu data yang didapatkan oleh peneliti merupakan data yang apa adanya, bukan rekayasa maupun karangan semata. HASIL DAN PEMBAHASAN Kehidupan Sosial Ekonomi komunitas Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitar makam Gus Dur sebelum adanya makam pada dasarnya setiap masyarakat memiliki kehidupan berbeda-deda,terutama dalam bidang Ekonomi dikenal sebagai suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaanya yang berhubungan dengan pengalokasian sumberdaya masyarakat . umahtangga dan pembisnis/perusahaa. yang terbatas diantara berbagai anggotanya, dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha,dan keinginanmasing-masing. Dengan kata lain ekonomi merupakan usaha sadar yang mau tidak mau masyarakat tidak lepas dengan yang namanya ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, bahwa komunitas pekerja sektor informa yang ada di Dusun Tebuireng Desa Cukir sebelum adanya makam Gus Dur sebagian dari mereka melakukan pekerjaan sebagai petani, buruh tani, buruh pabrik, buruh cuci. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh laki-laki dan untuk perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga, walau kehidupan masyarakat pekerja sektor informa di Dusun Tebuireng Desa Cukir sebelum adanya makam gus dur bisa dibilang tidak ada yang namanya perubahan dari segi ekonomi namun masyarakat pekerja sektor informa tetap merasa bersyukur dengan apa yang letah alam hasilkan buat mereka, walau hasil panen yang mereka tanami tidak bisa di jual ke desa lain, setidaknya dari hasil panen mereka bisa bertahan hidup, dan sebagian dari Pedagang Kaki Lima mereka hanya pendatang dari berbagai desa. Berdasarkan hasil observasi tentang Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Pedagang Kaki Lima (PKL) Dusun Tebuireng Desa Cukir sebebelum adanya makam Gus Dur, maka didapatkan hasil penelitian berupa keadaan kehidupan yang meliputi. Kondisi Sosial. Keadaan Ekonomi. Keadaan pendidikan, yang dapat dilihat pada penjelasan dibawah Kondisi sosial Kondisi sosial suatu masyarakat selalu berkaitan dengan keadaan kehidupan masyarakat disuatu wilayah. Kondisi kehidupan masyarakat ini dapat dilihat dari segi ras dan etnis yang ada di wilayah itu, mata pencaharian penduduknya, agama yang di anut, tingkat kesejahteraan, nilai atau norma yang dianut oleh masyarakat, dan lain sebagainya. Kondisi sosial selanjutnya memang tidak terlepas dari kondisi fisik wilayah tersebut Kondisi sosial masyarakat Dusun Tebuireng Desa Cukir sebelum adanya makam Gus Dur, pekerjaan yang dilakoni oleh warga Dusun Tebuireng Desa Cukir yaitu petani, buruh pabrik, makanan yang mereka makan pun hasil dari panen yang mereka dapatkan. Ketiadaan akses jalan yang kurang memadai, menjadikan masyarakat Dusun Tebuireng Desa Cukir pada saat itu sangatlah awam, karna jika masyarakat sakit hanya mengandalkan mantri kesehatan. Berarti pekerjaan yang menjadi pokok penghidupan pekerjaan/ pencaharian utama mereka yang dikerjakan untuk biaya sehari-hari sebelum adanya situs Gus Dur. Dengan kata lain sistem mata pencaharian mereka adalah cara yang dilakukan oleh sekelompok orang sebagai kegiatan sehari-hari guna usaha pemenuhan kehidupan, dan menjadi pokok penghidupan bagi mereka semua. Kondisi Ekonomi Kondisi sosial ekonomi merupakan cerminan tingkat produksi dan konsumsi suatu wilayah, kondisi ekonomi sendiri dapat mempengaruhi pendapatan atau beban dari suatu penghasil, sehingga dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi didalam suatu wilayah. Setiap orang berbeda-beda hal ini bisa kita lihat dari bagaimana cara masyarakat memenuhi kebutuhannya. Masyarakat Dusun Tebuireng Desa Cukir yang awam tentunya memiliki pengertian ekonomi berbeda dengan masyarakat Dusun Tebuireng Desa Cukir saat ini, demikian halnya dengan cara mereka memenuhi kebutuhan dimana kehidupan pada massa itu tidak terlalu mengedepankan masalah kebutuhan primer. Sementara itu kebutuhan primer adalah kebutuhan yang sangat harus terpenuhi, artinya apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka manusia akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. Misalnya: sandang, pangan, papan, juga pekerjaan. Kondisi Pendidikan Pendidikan bertujuan untuk menciptakan seseorang yang berkwalitas dan berkarakter, sehingga memiliki pandangan yang cukup luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam suatu lingkungan juga untuk menciptakan kemandirian masyarakat perlu membangun kecerdasan melalui peningkatan pendidikan, namun realita yang ada di dalam masyarakat Dusun Tebuireng Desa Cukir khususnya komunitas Pedagang Kaki Lima (PKL) sebelum adanya makam Gus Dur perubahan dalan struktur adalah perubahan jumlah penduduk, perubahan status sosial, perubahan pelapisan sosial, sedangkan perubahan dalam fungsi sosial antara lain anak yang seharusnya sekolah, terpaksa harus ikut bekerja bersama ayah dan ibu di ladang/sawah. Bagi sebagian orang di Dusun Tebuireng Desa Cukir, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Sehingga masyarakat Dusun Tebuireng Desa Cukir pada masa itu lebih mengedepankan pekerjaan dibanding pendidikan Namun semua itu berubah karna beriringnya waktu, setelah adanya pembangunan situs makam Gus Dur Tebuireng Jombang. Bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan semakin banyaknya pula penduduk yang ada di Dusun Tebuireng Desa Cukir sehingga banyak penduduk yang mencari pekerjaan, dulunya memang mereka masih mau menjadi petani akan tetapi beriringnya waktu dan karna pengaruh modernisasi, kini masyarakat lebih mengeluti pekerjaan yang menurut mereka pantas dan menguntungkan baik dirinya maupun keluarganya, dengan berdirinya makam Gus Dur pula, mereka bukan hanya sebagai buruh pabrik ataupun petani, namun ada juga sebagian masyarakat memilih untuk bekerja sebagai pekerja sektor informal di sekitaran makam Gus Dur. Pengaruh modernisasi yang masuk di Dusun Tebuireng Desa Cukir ini membut masyarakat lebih keras dalam mencari nafkah, misalnya sebagian dari mereka lebih memilih membuka usaha kecil-kecilan. Penghasilan pekerja informal juga tidak kalah dengan penghasilan buruh pabrik atau buruh tani. Perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat Dusun Tebuireng Desa Cukir merupakan gejala yang normal. Pengaruhnya bisa menjalar dengan cepat ke bagian-bagian kalangan masyarakat lain berkat adanya komunikasi modern. Berupa pembangunan area makam Gus Dur menjadikan adanya perubahan dalam masyarakat Dusun Tebuireng Desa Cukir namun, sekarang perubahan-perubahan berjalan dengan sangat cepat. Setiap manusia selama hidup pasti mengalami yang namanya Perubahan dapat berupa pengaruhnya terbatas maupun luas, perubahan yang lambat dan ada perubahan yang berjalan dengan cepat. Perubahan dapat mengenai nilai dan norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan sebagainya. Kini sebagian penduduknya yang didominasi oleh pendatang dari berbagai desa yang ada di sekitar Dusun Tebuireng. Ini artinya masyarakat dari luar dapat mempengaruhi laju cepatnya perubahan sosial Perkembangan komunitas (Pedagang Kaki Lim. sekitar makam Gus Dur Setiap pembangunan akan mengalami yang namanya perubahan dan mengalami dampak bagi masyarakat yang mengalami hasrat dalam meningkatkan teknologi dari perkembangan pengetahuan manusia, seperti halnya makam Gus Dur yang berdiri di Tebuireng Jombang tepatnya di Dusun Tebuireng Desa Cukir yang memiliki dampak perkembangan yang cukup baik untuk Pedagang Kaki Lima (PKL). Aspek Pendidikan Dilihat dari aspek pendidikan apakah munculnya Pedagang Kaki Lima (PKL) dalam masyarakat mempunyai dampak yang positif terhadap kelangsungan pendidikan anak para Pedagang Kaki Lima (PKL). Pendidikan adalah masalah setiap orang, karena setiap orang sejak dahulu hingga sekarang tentu memerlukan pendidikan khususnya pada anak-anaknya. Aspek Pendapatan Dilihat dari aspek pendapatan, penghasilan adalah tambahan kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup ekonominya dalam suatu periode tertentu, sepanjang tambahan kemampuan ini berupa uang atau dapat dinilai dengan uang. Pendapatan yang hasilkan oleh komunitas Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitaran makam Gus Dur menambah tingkat kesejahteraan dan mengurangi tingkat pengangguran. SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pekerjaan sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) adalah salah satu alternatif yang ditempuh oleh masyarakat Dusun Tebuireng Desa Cukir demi menopang perekonomian keluarga. Perkembangan masyarakat Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitar Makam Gus Dur yaitu setelah adanya situs makam, sebagian masyarakat yang dulunya bekerja sebagai petani, buruh tani, buruh pabrik, kini masyarakat bisa menambah pendapatan ekonomi, dengan cara bekerja sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitaran makam Gus Dur. Terdapat tiga faktor yang menjadi penyebab masyarakat memilih bekerja sebagai Pedagang Kaki Lima(PKL) diantaranya adalah: Faktor pendidikan. Faktor ekonomi. Faktor keinginan masyarakat untuk mandiri dalam hal ekonomi SARAN Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan di atas, maka penulis dapat mengemukakan masukkan atau beberapa saran sebagainya berikut: Perlu dilakukan pengawasan dan peringatan terhadap pedagang di dalam area situs makam yang ikut menggelar dagangan di kaki lima, karena selain hal ini bisa mempengaruhi pedagang di kios dalam pasar yang lain untuk mengikuti apa yang mereka lakukan, juga bisa menyebabkan semakin banyak PKL dan membuat kemacetan di sepanjang bahu jalan Irian Jaya yang merupakan jalan akses Jombang - Malang. Hendaknya mampu bertindak lebih bijak dalam berkonsumsi. Serta hendaknya mulai belajar tentang investasi serta kerukunan, kerjasama, kepercayaan yang dimiliki oleh komunitas pedagang kaki lima sebagai modal utama dalam perdagangan, hendaknya selalu dijaga dan dilestarikan jangan sampai tercemar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, seperti investor dan para pengusaha eksternal yang hanya berorientasi pada keuntungan semata. Bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan sehingga mampu mengembangkan hasil dengan lebih baik, sehingga dapat lebih menyempurnakan hasil penelitan ini. DAFTAR PUSTAKA