Jurnal Komputer Multidisipliner Vol. 8 No. Desember 2025 ISSN: 24559633 PEMANFAATAN INSTAGRAM @SEMETON_SEKAAN OLEH GENERASI Z DALAM PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL DI DESA SEKAAN Ni Kadek Ary Indah Puspita Dewi1. Irma Suryanti2 Universitas Pendidikan Nasional E-mail: nikadekaryindahpuspitadewi@gmail. com1, irmasuryanti@undiknas. Abstrak Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan Instagram @semeton_sekaan oleh Generasi Z dalam pelestarian kearifan lokal di Desa Sekaan. Media sosial Instagram memiliki potensi besar sebagai media pelestarian budaya, karena mampu menjangkau audiens luas sekaligus membangun kesadaran budaya di kalangan generasi muda. Instagram @semeton_sekaan berperan penting dalam memastikan kearifan lokal tetap terjaga melalui konten-konten budaya yang informatif dan Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Generasi Z memanfaatkan Instagram @semeton_sekaan dalam pelestarian kearifan lokal di Desa Sekaan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang strategi komunikasi digital yang efektif serta dampaknya terhadap pelestarian budaya lokal di era digital. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi yang mencakup fenomena pemanfaatan media sosial untuk pelestarian budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan Instagram @semeton_sekaan memiliki peran signifikan dalam pelestarian kearifan lokal di Desa Sekaan. Pertama, melalui teori Uses and Gratification, ditemukan bahwa Generasi Z menggunakan Instagram untuk memenuhi kebutuhan kognitif . nformasi buday. , afektif . ebanggaan terhadap buday. , integrasi personal . enguatan identita. , integrasi sosial . oneksi dengan komunita. , dan pelepasan ketegangan . Kedua. Instagram terbukti menjadi sarana efektif untuk penyebaran informasi budaya, edukasi nilai-nilai lokal, dan promosi kegiatan tradisional. Ketiga, implementasi konten budaya di Instagram @semeton_sekaan dilakukan melalui dokumentasi visual kegiatan tradisional seperti upacara keagamaan, pementasan calonarang, dan gotong royong. Keempat, pemanfaatan Instagram ini meningkatkan partisipasi aktif Generasi Z dalam kegiatan pelestarian budaya, seperti bergabung dalam sekaa tari dan kelompok tabuh. Penelitian ini menegaskan pentingnya media sosial sebagai sarana untuk mengelola pelestarian kearifan lokal secara efektif di era digital, yang pada akhirnya dapat mendukung keberlanjutan warisan budaya di Desa Sekaan. Kata Kunci Ai Instagram. Generasi Z. Pelestarian Kearifan Lokal. Media Sosial. Desa Sekaan. Abstract This study focuses on the utilization of Instagram @semeton_sekaan by Generation Z in preserving local wisdom in Sekaan Village. Instagram social media has great potential as a medium for cultural preservation, as it can reach a wide audience while building cultural awareness among the younger generation. Instagram @semeton_sekaan plays an important role in ensuring local wisdom is maintained through informative and engaging cultural content. The main objectiv of this study is to determine how Generation Z utilizes Instagram. @semeton_sekaan in preserving local wisdom in Sekaan Village. This study aims to provide an understanding of effective digital communication strategies and their impact on local cultural preservation in the digital era. The method used in this study is a qualitative approach with descriptive analysis Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation studies that include the phenomenon of social media utilization for cultural preservation. The results indicate that the utilization of Instagram @semeton_sekaan has a significant role in preserving local wisdom in Sekaan Village. First, through the Uses and Gratification theory, it was found that Generation Z uses Instagram to fulfill cognitive needs . ultural informatio. , affective needs . ride in cultur. , personal integration . dentity strengthenin. , social integration . ommunity connectio. , and tension release . Second. Instagram has proven to be an effective means for disseminating cultural information, educating local values, and promoting traditional Third, the implementation of cultural content on Instagram @semeton_sekaan is carried out through visual documentation of traditional activities such as religious ceremonies, calonarang performances, and community cooperation. Fourth, the utilization of Instagram increases active participation of Generation Z in cultural preservation activities, such as joining dance groups and gamelan groups. This study emphasizes the importance of social media as a means to effectively manage the preservation of local wisdom in the digital era, which can ultimately support the sustainability of cultural heritage in Sekaan Village. Keywords Ai Instagram. Generation Z. Local Wisdom Preservation. Social Media. Sekaan Village. PENDAHULUAN Era digital seperti saat ini menjadikan media sosial sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Media sosial memungkinkan pengguna terhubung dengan teman dan keluarga secara instan, serta berfungsi sebagai alat untuk mendapatkan informasi terkini (Feroza et al. , 2. Platform seperti Instagram. TikTok, dan Twitter menjadi sarana untuk berbagi pengalaman dan informasi, terutama bagi Generasi Z yang menggunakan media sosial untuk mengekspresikan diri dan menemukan identitas mereka. Dalam konteks budaya, media sosial dapat membantu memperkenalkan kearifan lokal kepada audiens yang lebih luas. Generasi Z merupakan generasi yang lahir di atas tahun 1995 yang dikenal dengan generasi mobile (Octavia et al. , 2. , memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi dengan cepat, menjadikan mereka pengguna aktif platform media sosial seperti Instagram. Mereka tumbuh di lingkungan yang dikelilingi oleh teknologi, sehingga pemahaman mereka tentang perangkat digital sangat tinggi. Ketertarikan ini menciptakan komunitas yang saling mendukung dan berbagi informasi, di mana konten yang kreatif dan menarik menjadi kunci untuk mendapatkan perhatian mereka. Instagram, sebagai salah satu platform media sosial terpopuler di dunia, memainkan peran penting dalam pemanfaatan oleh Generasi Z dalam pelestarian kearifan lokal. Instagram merupakan layanan microblogging dan jejaring sosial internet yang mampu tumbuh secara pesat (Rizky et al. , 2. Instagram merupakan media sosial yang digunakan oleh para penggunanya sebagai media sosial dengan fungsi membagikan informasi berupa gambar, foto, video, dan caption (Sutrisno et al. , 2. Dengan cara ini. Generasi Z tidak hanya dapat mendokumentasikan warisan budaya yang ada, tetapi juga meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap warisan lokal di kalangan masyarakat Laporan dari Napoleoncat menyatakan bahwa jumlah pengguna Instagram pada bulan Januari 2025 sebesar 90,183,200 pengguna yang setara dengan 31. 8% dari populasi total penduduk Indonesia. Mayoritas pengguna Instagram di Indonesia adalah wanita dengan proporsi 54. 2% dengan demografis umur pengguna Instagram di Indonesia terbesar yaitu umur 25 hingga 34 sebesar 36,000,000 orang. Hal ini menunjukkan potensi besar Instagram sebagai platform untuk menjangkau generasi muda dalam upaya pelestarian budaya. Penelitian ini menggunakan teori Uses and Gratification yang merupakan salah satu pendekatan dalam studi ilmu komunikasi, di mana teori ini menekankan pada peran aktif pengguna media saat memilih dan menggunakan media guna memenuhi kebutuhan dan keinginan pribadi mereka (Karunia et al. , 2. Teori ini diperkenalkan pertama kali oleh seorang Sosiolog dan Ilmuwan komunikasi asal Amerika-Israel yang bernama Elihu Katz dan 2 rekannya yang biasa dikenal Blumler & Gurevitch. Teori ini sangat relevan dalam mengkaji pemanfaatan Instagram @semeton_sekaan oleh Generasi Z dalam pelestarian kearifan lokal di Desa Sekaan. Teori Uses and Gratifications mengatakan bahwa perbedaan individu menyebabkan audiens mencari dan memberikan tanggapan terhadap isi media secara berbeda-beda yang disebabkan berbagai faktor sosial dan psikologis yang berbeda antara individu (Suyanto. Dalam konteks ini. Generasi Z menggunakan Instagram sebagai media untuk memenuhi kebutuhan informasi terkait budaya dan tradisi lokal, membentuk dan menegaskan identitas mereka sebagai bagian dari masyarakat adat, menjalin interaksi sosial dengan komunitas, serta mendapatkan hiburan melalui konten budaya yang dikemas secara menarik. Penelitian tentang pemanfaatan media sosial dalam pelestarian budaya telah dilakukan oleh berbagai peneliti yang memiliki berbagai sudut pandang. Juniawan et al. dalam artikel yang berjudul pemanfaatan media sosial dalam pelestarian budaya lokal di desa Mantar kecamatan Poto Tano Kabupaten Sumbawa Barat, menunjukkan bahwa Pemerintah Desa Mantar walaupun belum mempunyai akun media sosial resmi dalam memperkenalkan budayanya, namun masyarakat Desa Mantar sudah menggunakan media sosial dalam melestarikan dan memperkenalkan budayanya melalui 3 media sosial yaitu Instagram. Youtube, dan Facebook. Peneliti lain yaitu Agustini et al. menyatakan bahwa manusia mengandalkan informasi untuk memenuhi berbagai kebutuhannya seperti menambah pengetahuan, meningkatkan keterampilan, mengurangi ketidakpastian, memperoleh kepuasan dan lain sebagainya. Meskipun demikian, belum terdapat penelitian yang membahas secara khusus tentang pemanfaatan Instagram oleh Generasi Z dalam pelestarian kearifan lokal di Desa Sekaan. Desa Sekaan adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kintamani. Kabupaten Bangli. Dari data BPS menyatakan jumlah penduduk Desa Sekaan sebanyak 2,134 jiwa dengan jumlah laki-laki 1,074 jiwa dan perempuan 1,060 jiwa. Desa Sekaan merupakan salah satu desa adat di Bali yang masih memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal, baik dalam bentuk tradisi, upacara keagamaan, kesenian, maupun tata cara kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun, seperti banyak daerah lainnya. Desa Sekaan juga menghadapi tantangan dalam hal regenerasi pelestari budaya, karena generasi muda cenderung lebih akrab dengan teknologi digital dibandingkan tradisi lisan atau praktik Menariknya. Desa Sekaan telah melakukan upaya inovatif dengan memanfaatkan media sosial, salah satunya melalui akun Instagram @semeton_sekaan. Akun ini dibuat pada tahun 2017 yang dikelola oleh individu yang memiliki kepedulian terhadap budaya lokal, dan berfungsi sebagai media dokumentasi, edukasi, serta promosi berbagai bentuk kearifan lokal yang ada di Desa Sekaan. Dengan memiliki jumlah pengikut 1,462 pada bulan Oktober 2025, hal ini menjadikan akun Instagram @semeton_sekaan sebagai studi kasus yang ideal untuk melihat bagaimana media sosial dapat dijadikan alat pelestarian Penelitian ini dibatasi pada pemanfaatan Instagram @semeton_sekaan oleh Generasi Z dalam melestarikan kearifan lokal di Desa Sekaan, dengan fokus pada praktik komunikasi digital yang mencakup promosi budaya, partisipasi masyarakat, dan interaksi antar generasi yang mendukung keberlanjutan nilai-nilai lokal. Dengan demikian, penelitian ini menjadi penting untuk memahami peran strategi komunikasi Generasi Z dalam pelestarian kearifan lokal, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata terhadap keberlanjutan warisan budaya di tengah arus modernisasi. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yang bersifat Jenis penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena atau kenyataan yang ada, baik bersifat alami maupun rekayasa manusia. Penelitian deskriptif kualitatif memanfaatkan data kualitatif dan dijabarkan secara skriptif, dengan tujuan untuk mengungkapkan sikap, pertentangan, hubungan, serta pandangan yang terjadi pada sebuah lingkup responden (Salamah et al. , 2. Penelitian ini lebih memperhatikan kualitas, karakteristik, dan keterkaitan antar kegiatan, serta menggambarkan kondisi apa adanya tanpa manipulasi variabel yang diteliti. Metode penelitian deskriptif kualitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena atau kenyataan yang ada, baik bersifat alami maupun rekayasa manusia (Kartika et al. , 2. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sehingga dapat menjelaskan secara deskriptif mengenai bagaimana Generasi Z di Desa Sekaan memanfaatkan Instagram dalam pelestarian kearifan lokal yang ada di desa tersebut. Lokasi penelitian pada penelitian ini berada di Desa Sekaan. Kecamatan Kintamani. Bangli. Bali. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga metode utama yaitu observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknik penentuan informan yang digunakan adalah purposive sampling. Penelitian ini memilih informan sebagai sumber informasi yang dipilih adalah yang memiliki informasi tentang fenomena tersebut supaya informasi yang didapatkan akurat dan relevan dengan fenomena tersebut. Informan yang ditargetkan adalah admin atau pemilik akun, pengikut dari akun @semeton_sekaan yang berasal dari kalangan Generasi Z di Desa Sekaan, serta pengikut dari luar Desa Sekaan sebagai data pembanding, dengan total 16 informan. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi empat komponen utama yaitu pengumpulan data, reduksi data dan penyajian Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan dan memeriksa informasi dari berbagai sumber dan waktu (Susanto et al. , 2. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda seperti wawancara, observasi, dan HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan Teori Uses and Gratification dalam Pelestarian Kearifan Lokal Melalui Instagram Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, ditemukan bahwa pemanfaatan Instagram @semeton_sekaan oleh Generasi Z di Desa Sekaan dapat dijelaskan melalui lima aspek dalam teori Uses and Gratification yang dikemukakan oleh Katz. Gurevitch & Haas . Teori kegunaan dan kepuasan ini menekankan bahwa seseorang dapat secara selektif menyeleksi dan mengkonsumsi media sesuai kebutuhan masing-masing individu (Hasny et al. , 2. Kognitif (Cognitiv. Tipe kognitif menggambarkan kebutuhan individu untuk memperoleh informasi, pengetahuan, dan pemahaman. Kebutuhan kognitif ini mendorong seseorang untuk menggunakan media sebagai sarana belajar atau mendapatkan wawasan baru tentang dunia sekitar (Salma et al. , 2. Hasil wawancara menunjukkan bahwa informan merasa akun Instagram @semeton_sekaan sangat berkontribusi terhadap pengetahuan mereka tentang tradisi dan kearifan lokal di Desa Sekaan. Banyak dari mereka yang menyatakan bahwa dengan mengikuti akun tersebut, mereka mendapatkan informasi yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Sebagaimana diungkapkan oleh Doni Mahardika selaku admin akun: AuSebenarnya hal yang mendorong saya membuat akun ini adalah sesuatu hal yang sederhana untuk menjaga kelestarian budaya di Desa saya, karena saya merasa pelestarian budaya lokal akan mudah tergerus jika kita tidak melakukan hal yang bisa menjaganya, dan juga dari akun ini saya mendorong generasi muda di Desa Sekaan ini untuk mengkolaborasikan teknologi yang ada dengan kearifan lokal yang kita punya. Ay Informan juga mencatat bahwa konten yang informatif membuat mereka merasa terinspirasi untuk mencari tahu lebih banyak. Media sosial ini tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk bersosialisasi, tetapi juga sebagai sumber edukasi yang efektif bagi Generasi Z. Temuan ini sejalan dengan penelitian Adistri et al. yang menemukan bahwa media sosial tidak hanya menjadi platform hiburan tetapi juga sebagai sarana informasi. Afektif (Affectiv. Tipe afektif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan perolehan pengalamanpengalaman yang menyenangkan, estetis dan dapat memenuhi kebutuhan emosional (Isnaini et al. , 2. Kebutuhan ini dilakukan untuk memperoleh informasi, pengetahuan, dan pemahaman mengenai sesuatu, didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan (Wakes et al. , 2. Dalam wawancara, informan mengungkapkan bagaimana interaksi dengan akun Instagram @semeton_sekaan membangkitkan perasaan positif dan kedekatan terhadap budaya lokal mereka. Banyak informan melaporkan bahwa melihat konten yang menampilkan tradisi dan festival di Desa Sekaan memberikan rasa bangga akan identitas budaya mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Riyan Setiadi: AuKonten yang saya anggap memberikan rasa bahagia adalah konten pementasan calonarang maupun pementasan yang berhubungan dengan tarian, hal ini dikarenakan saya menjadi penabuh. Dengan adanya konten ini saya menjadi bahagia dan bangga bahwa saya sudah bertindak untuk pelestarian kearifan Ay Emosi yang positif ini tidak hanya mencakup kebanggaan, tetapi juga rasa cinta dan penghargaan terhadap kearifan lokal. Informan menyatakan bahwa mereka merasa terdorong untuk terlibat lebih lanjut dalam kegiatan budaya dan tradisi di desa mereka. Integrasi Personal (Personal Integrativ. Kebutuhan integritas pribadi adalah berkaitan dengan pengukuhan kredibilitas, keyakinan, stabilitas dan status individu. Ini bermula dari keinginan individu untuk mencapai self-esteem (Nurianna et al. , 2. Hasil wawancara menunjukkan bahwa interaksi dengan akun Instagram @semeton_sekaan memiliki dampak signifikan terhadap pandangan individu mengenai diri dan posisi sosial dalam komunitas. Informan menyatakan bahwa konten yang informatif dan menampilkan tradisi lokal memberikan rasa percaya diri dan penghargaan terhadap budaya. Ketika kearifan lokal disajikan secara positif, terdapat peningkatan status sosial, karena individu merasa terlibat dalam narasi yang lebih luas mengenai identitas dan keberlanjutan budaya. Pengalaman ini tidak hanya memperkuat self-esteem, tetapi juga memperkuat koneksi sosial dengan komunitas. Integrasi Sosial (Social Integrativ. Kebutuhan integritas sosial adalah kebutuhan individu untuk mempererat hubungan sosial, menjaga koneksi dengan orang lain, dan merasa menjadi bagian dari komunitas melalui media. Kebutuhan ini mencerminkan pentingnya interaksi sosial dalam kehidupan manusia (Salma et al. , 2. Hasil wawancara menunjukkan bahwa penggunaan akun Instagram @semeton_sekaan memungkinkan individu terhubung dengan sesama anggota komunitas. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu informan: AuIya saya lebih terlibat dengan adanya akun ini dalam pelestarian kearifan lokal, karena dari akun ini menyadarkan saya bahwa kita sebagai masyarakat Bali yang lahir dan besar di Bali, sangat penting untuk menjaga dan melestarikan budaya khususnya di Desa kita, dan akun ini juga membuktikan bahwa perkembangan teknologi bisa kita kolaborasikan dengan tradisi yang kita punya sehingga menciptakan sebuah hubungan yang berkaitan. Ay Konten yang dibagikan tidak hanya menyampaikan informasi tentang tradisi lokal, tetapi juga mengundang partisipasi aktif audiens, yang berkontribusi pada perasaan kedekatan dan rasa memiliki. Melepaskan Ketegangan (Tension Releas. Kebutuhan melepaskan ketegangan adalah kebutuhan yang erat hubungannya dengan keinginan untuk melepaskan ketegangan seperti rasa jenuh dan muncul hasrat untuk mencari hal yang menghibur (Tampubolon et al. , 2. Hasil wawancara menunjukkan bahwa interaksi dengan akun Instagram @semeton_sekaan memberikan kesempatan untuk melepaskan ketegangan melalui konten yang menarik dan menghibur. Konten yang ditampilkan, seperti gambar-gambar budaya lokal dan cerita-cerita menarik, tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi sumber hiburan. Media sosial berfungsi sebagai ruang untuk bersantai, di mana individu dapat menikmati informasi sambil meredakan tekanan sehari-hari. Manfaat Instagram dalam Konteks Pelestarian Kearifan Lokal Instagram merupakan media sosial yang berbasis foto dan video, termasuk ke dalam salah satu media sosial yang populer dengan pengguna terbanyak di dunia (Syarif et , 2. Media sosial ini memudahkan orang untuk terhubung dengan teman, keluarga, dan komunitas di seluruh dunia, sekaligus menyediakan sumber inspirasi dengan ide dan konten kreatif yang beragam. Instagram menawarkan hiburan yang beragam dan menjadi sumber informasi yang mutakhir, dijadikan platform untuk memberikan dan menyebarkan informasi berita dan hiburan (Sanida et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi yang memungkinkan tradisi dan budaya tersebar dengan cepat dan luas, sehingga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kearifan lokal. Temuan ini sejalan dengan penelitian Vandora et al. yang menyatakan bahwa Instagram sebagai sarana penyebaran informasi dan promosi online yang cepat dan luas. Melalui konten informatif, pengguna dapat belajar mengenai nilai dan makna di balik budaya, yang pada gilirannya meningkatkan rasa kepemilikan dan kebanggaan terhadap warisan Instagram juga memfasilitasi interaksi dan keterlibatan komunitas, di mana Generasi Z dapat terhubung satu sama lain dan berkontribusi dalam upaya pelestarian Konten visual yang menarik tidak hanya mempromosikan kegiatan budaya seperti festival atau upacara, tetapi juga mendorong lebih banyak orang untuk berpartisipasi. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ningsih et al. yang menyatakan bahwa manfaatkan media sosial Instagram sebagai media literasi informasi pada mahasiswa dengan memberikan informasi konten video tips tutorial dan motivasi pada mahasiswa agar mahasiswa dapat memilih dan mengolah informasi sesuai Temuan dari wawancara menunjukkan bahwa pengguna merasa semakin terinspirasi dan terdorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan budaya berkat adanya akun Instagram @semeton_sekaan. Hal ini menegaskan bahwa Instagram tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga menciptakan ikatan sosial yang mendukung pelestarian kearifan lokal di kalangan generasi muda. Temuan ini dipertegas oleh penelitian dari Dinny et al. yang menyatakan bahwa penggunaan media sosial yang menggabungkan nilai budaya lokal berpotensi meningkatkan partisipasi masyarakat adat dalam kegiatan pelestarian. Peranan Media Sosial dalam Meningkatkan Kesadaran Budaya di Kalangan Generasi Z Media sosial memiliki peranan yang krusial dalam membentuk kesadaran budaya di kalangan Generasi Z, sebagai generasi yang tumbuh di era digital. Penggunaan media sosial sebagai alat untuk berbagi informasi budaya telah terbukti mendukung pembentukan identitas yang lebih kuat di kalangan Generasi Z. Hal ini dipertegas dalam penelitian Qadir et al. yang menyatakan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana interaksi sosial, tetapi juga platform untuk membangun jejaring profesional, mempromosikan bisnis, dan menyebarkan informasi secara luas. Melalui interaksi dengan akun yang berfokus pada pelestarian budaya, pengguna dapat melihat dan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas yang merayakan heritage mereka. Kesadaran terhadap warisan budaya meningkat ketika generasi muda melihat teman-teman dan rekan-rekan mereka terlibat dalam kegiatan yang menampilkan tradisi lokal. Hal ini dipertegas oleh penelitian dari Dinny et al. yang menyatakan bahwa media sosial efektif dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal, seperti gotong royong dan kearifan alam, dalam meningkatkan kesadaran ekologis. Hasil wawancara mengungkapkan bahwa partisipasi di media sosial sangat memengaruhi informan dalam memahami dan menghargai budaya lokal. Banyak informan menyatakan bahwa konten yang diakses melalui akun Instagram @semeton_sekaan memicu ketertarikan untuk lebih mendalami tradisi dan sejarah daerah mereka. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial berperan tidak hanya dalam penyebaran informasi, tetapi juga sebagai pendorong untuk tindakan nyata dalam melestarikan budaya. Hal ini diperjelas oleh penelitian dari Safitri . yang menyatakan bahwa media sosial berfungsi sebagai ruang diskusi, edukasi, dan mobilisasi sosial, yang memungkinkan Generasi Z membangun empati dan keterlibatan aktif dalam isu sosial. Dengan membangun rasa keterlibatan dan komunitas, media sosial mendorong Generasi Z untuk berperan aktif dalam menjaga kearifan lokal di tengah arus modernisasi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan Instagram @semeton_sekaan oleh Generasi Z memiliki peran signifikan dalam pelestarian kearifan lokal di Desa Sekaan. Pertama, melalui perspektif teori Uses and Gratification. Generasi Z menggunakan Instagram untuk memenuhi berbagai kebutuhan, meliputi kebutuhan kognitif untuk memperoleh informasi budaya, kebutuhan afektif untuk merasakan kebanggaan terhadap budaya, integrasi personal untuk memperkuat identitas diri, integrasi sosial untuk membangun koneksi dengan komunitas, dan pelepasan ketegangan untuk mendapatkan hiburan. Kedua. Instagram berfungsi sebagai sarana efektif untuk penyebaran informasi budaya yang cepat dan luas, edukasi nilai-nilai lokal, serta promosi kegiatan tradisional. Konten visual yang menarik tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kearifan lokal, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dalam kegiatan pelestarian budaya. Ketiga, implementasi konten budaya di Instagram @semeton_sekaan dilakukan melalui dokumentasi visual berbagai kegiatan tradisional seperti upacara keagamaan, pementasan calonarang, melancaran saat hari raya kuningan, perayaan HUT STT, dan kegiatan gotong royong. Konten-konten ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai media edukasi dan inspirasi bagi generasi muda. Keempat, pemanfaatan Instagram ini terbukti meningkatkan partisipasi aktif Generasi Z dalam kegiatan pelestarian budaya, seperti bergabung dalam sekaa tari, kelompok tabuh, dan kegiatan ngayah di pura. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial mampu menjadi jembatan antara teknologi modern dan tradisi, memungkinkan kearifan lokal tetap relevan di era digital. Kelima, media sosial berperan penting dalam meningkatkan kesadaran budaya di kalangan Generasi Z dengan memberikan akses informasi, memfasilitasi interaksi, dan membangun dukungan komunitas yang diperlukan untuk memahami dan menghargai warisan budaya. Penelitian ini menegaskan pentingnya media sosial, khususnya Instagram, sebagai sarana untuk mengelola pelestarian kearifan lokal secara efektif di era digital, yang pada akhirnya dapat mendukung keberlanjutan warisan budaya di Desa Sekaan. DAFTAR PUSTAKA