JIGE 6 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium Memahami Pembelajaran Kontekstual Pada Peserta Didik Kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong Leha Arya Arvianti*1. Erwinestri Hanidar Nur Afifi1. Sella Nofriska Sudrimo1 Institut Agama Islam Negeri Sorong. Papua Barat Daya. Indonesia *Corresponding author email: viaarya519@gmail. Article Info Article history: Received Augustus 03, 2025 Approved November 10, 2025 Keywords: Natural Materials. Science Practicum. Limited Laboratory Facilities. Contextual Learning. ABSTRACT This study aims to determine the effect of using natural materials in science practicum activities amid limited laboratory facilities on understanding contextual learning among fifth-grade students at SD Inpres 34. Sorong Regency. Natural materials serve as an alternative medium for conducting science practicum due to the lack of proper laboratory equipment. The research was conducted from July 2024 to February 2025. quantitative approach was used, employing a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest model. The sample consisted of 22 students from SD Inpres 34. Sorong Regency. Data were collected through interviews and written tests in the form of a pretest and posttest. The results showed a significant difference in the average, maximum, and minimum scores before and after the treatment. The significance value 000 < 0. 05, indicating that H0 is rejected and H1 is accepted. It can thus be concluded that there is a significant difference in students' learning outcomes between the pretest and posttest, meaning that the use of natural materials in science practicum activities amid limited laboratory facilities has a positive effect on studentsAo understanding of contextual learning in fifth grade at SD Inpres 34. Sorong Regency. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium untuk Memahami Pembelajaran Kontekstual pada Peserta Didik Kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. Bahan alam menjadi salah satu alternatif bahan dalam melakukan praktikum IPA dengan adanya keterbatasan fasilitas laboratorium. Peneliian ini dilakukan mulai bulan Juli 2024 sampai Februari 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian Pre-Experimental One-Group Pretest-Posttest Designs. Sampel penelitian ini adalah 22 peserta didik dari SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. Adapun proses pengumpulan data yaitu wawancara dan tes tulis berupa pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata, nilai maksimal, dan nilai minimal pada sebelum dan sesudah treatment terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Hasil signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, maka disimpulkan bahwa ada perbedaan rata-rata antara hasil belajar pretest dengan posttest yang artinya ada pengaruh penggunaan bahan alam dalam praktikum IPA dengan keterbatasan fasilitas laboratorium untuk memahami pembelajaran kontekstual pada peserta didik kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2507 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Copyright A 2025. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license How to cite: Arvianti. Afifi. , & Sudrimo. Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium untuk Memahami Pembelajaran Kontekstual Pada Peserta Didik Kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. Jurnal Ilmiah Global Education, 6. , 2507Ae2520. https://doi. org/10. 55681/jige. PENDAHULUAN Kurikulum 2013 menekankan pembelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Ala. sebagai proses pembelajaran menemukan sebuah konsep materi. Dalam mengajarkan pembelajaran IPA guru lebih mengutamakan peserta didik dalam menemukan secara langsung konsep melalui proses penyelidikan ilmiah. Karena itu, semua peserta didik diharapkan memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman inderawi yang memungkinkan mereka memperoleh informasi dari melihat, mendengar, meraba/menjamah, mencicipi, dan mencium (Kusumawati, 2. Peserta didik dapat mengalami sendiri pembelajaran sehingga menjadi lebih bermakna dan akan lebih bertahan lama dalam ingatan (Lusidawaty et al. , 2. Maka dari itu, dalam proses pembelajaran IPA di sekolah dasar peserta didik harus dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran seperti adanya kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membuktikan suatu konsep atau teori. Kegiatan praktikum sejalan dengan tingkat kognitif peserta didik sekolah dasar. Selain itu kegiatan ini dapat membuat peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran (Winangun. Kegiatan praktikum sangat penting untuk diterapkan dalam pembelajaran IPA hal tersebut dikarekan . dengan praktikum motivasi belajar IPA peserta didik menjadi tumbuh, . praktikum sebagai dasar untuk mengembangkan kompetensi dalam pelaksanaan percobaan, . praktikum sebagai sarana untuk mempelajari pendekatan ilmiah dan . praktikum sebagai sarana pendukung dalam menunjang pelajaran (Arini. Ni Kadek Manis, 2. Hal ini dikarenakan agar peserta didik mampu mempelajari dan memahami berbagai macam proses ilmiah maupun sikap Selain itu, kegiatan pembelajaran IPA yang dilakukan di sekolah dasar juga tentunya menekankan pada kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secarap langsung, yang bisanya dilakukan melalui kegiatan yang berhubungan dengan keterampilan maupun proses serta sikap ilmiah (Widiyanto et al. , 2. Agar kegiatan praktikum dapat tercapai secara maksimal bagi peserta didik, penting untuk memperhatikan kelengkapan laboratorium dengan berbagai aspek pendukung yang dapat menunjang kelancaran proses Aspek keselamatan dan kesehatan penting karena kegiatan praktikum dapat menjadi lebih sulit jika terjadi kecelakaan laboratorium atau kondisi fisik peserta yang tidak sehat. Selain itu, peserta didik sering kehabisan waktu sebelum menyelesaikan tugas karena kurangnya manajemen waktu. Perencanaan dan persiapan yang matang, pemeliharaan dan inventarisasi alat yang baik, dan pelatihan dan pengarahan yang jelas kepada peserta adalah semua hal yang diperlukan untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut. Selain itu, penerapan prosedur keselamatan yang ketat dan pengendalian resiko yang efektif sangat penting. Kegiatan praktikum dapat berjalan lebih lancar dan efektif di masa mendatang dengan bantuan evaluasi dan umpan balik peserta didik (Lusidawaty et al. , 2. Untuk mendukung pelaksanaan praktikum yang aman dan efektif, kondisi laboratorium harus diperhatikan dengan baik termasuk dalam kebersihan, ketersediaan fasilitas yang memadai, serta penataan ruangan yang sesuai dengan kebutuhan kegiatan. Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2508 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Kondisi laboratorium menjadi kunci utama keberhasilan kegiatan pembelajaran melalui metode eksperimen. Laboratorium adalah tempat untuk melatih peserta didik dalam hal keterampilan melakukan praktek, demonstrasi, percobaan, penelitian, dan pengembangan sikap ilmiah peserta didik (Irdalisa et al. , 2. Keberadaan laboratorium yang mendukung keberhasilan proses belajar mengajar tentu harus memenuhi syarat minimal berdirinya Kelengkapan sarana dan prasarana sesuai dengan standar sarana dan prasarana pendidikan, yaitu Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 dan bagaimana pemanfaatannya dalam kegiatan praktikum di laboratorium. Pembelajaran melalui laboratorium memiliki beberapa kendala, yaitu membutuhkan ketersediaan alat laboratorium yang lengkap, penggunaan alat laboratorium yang rawan kerusakan, biaya pengadaan alat yang mahal, serta waktu praktikum yang tidak dapat dilakukan secara fleksibel (Darmaji et al. , 2. Laboratorium ilmu pengetahuan alam di sekolah dasar meskipun dianggap belum memiliki urgensi yang penting akan tetapi untuk menunjang kualitas perolehan pengetahuan peserta didik dianggap sangat relevan dengan tujuan peningkatan mutu pendidikan dan efektivitas penyerapan informasi dari guru kepada peserta didik (Nirwati & Mardin, 2. Maka dari itu, kemampuan guru dengan adanya kendala pada laboratorium membuat aktivitas praktikum tidak berjalan secara efektif. Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, diperlukan strategi yang efektif dalam meningkatkan kompetensi guru, termasuk melalui pelatihan, pengadaan alat peraga sederhana, serta pemanfaatan bahan alam sebagai alternatif pendukung kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum di laboratorium masih terbatas, salah satunya yaitu terbatasnya alat dan bahan praktikum (Wayan et al. , 2. Kemampuan guru sangat diperlukan dalam praktikum menggunakan alat-alat peraga sederhana maupun memanfaatkan bahan alam di sekitar Guru perlu diperkuat dalam menerapkan metode ilmiah yang merupakan aktivitas untuk mengkonstruksi bangunan pengetahuan baru melalui aktivitas pembelajaran yang Kemampuan guru dalam menentukan media dalam proses belajar mengajar dituntut untuk kreatif dalam upaya mengembangkan berbagai jenis aspek perkembangan yang dimiliki setiap peserta didik. Bahan alam merupakan salah satu media sebagaI sumber belajar yang tidak terbatas bagi peserta diidk untuk berekplorasi dan berinteraksi dalam membangun pengetahuan dan pemahamannya (Fasha, 2. Alam merupakan sumber belajar yang tak terbatas bagi anak untuk bereksplorasi dan berinteraksi dalam membangun pengetahuan dan pemahamannya (Krisna et al. , 2. Media bahan alam adalah segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar kita yang dapat digunakan untuk menunjang pembelajaran. Media ini sangat murah namun dapat dipergunakan secara efektif dan efesien. Proses belajar mengajar dalam penguasaan konsep ilmiah diperlukan adanya pembelajaran secara konkrit, agar peserta didik dapat meningkatkan pemahaman dengan mengaitkan konsep dan materi secara nyata. Mengembangkan penguasaan konsep ilmiah yang baik dibutuhkan komitmen peserta didik memilih belajar menjadi sesuatu yang AuberartiAy, yaitu dengan cara meningkatkan kemauan peserta didik mencari hubungan konseptual antara pengetahuan yang dimiliki dengan yang dipelajari di dalam kelas. Untuk mencapai tujuan ini maka diperlukan suatu tindakan konkrit yang efisien berdasarkan pengetahuan dan kemampuan yang diibutuhkan dalam proses pembelajaran, yang dapat menyebabkan terjadinya pergeseran pembelajaran yang membosankan menjadi sangat menarik untuk dipelajari oleh peserta didik (Marudut Sinaga, 2. Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2509 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Pembelajaran yang dilakukan tidak lagi hanya menyampaikan materi . ransfer of knowledg. dari guru terhadap peserta didik, tetapi proses pembelajaran harus mampu menanamkan sikap . ransform of attitud. , dan menanamkan niali nilai . ransform of value. Pembelajaran dengan penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual dirancang untuk menggabungkan pengetahuan dan tindakan, kegiatan pembelajaran yang dilakukan lebih konkrit, lebih realistik, lebih akurat, lebih nyata, lebih menyenangkan, dan lebih bermakna dengan menemukan makna esensial dibalik materi yang teroretikal (Sutedja, 2. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan guru SD Inpres 34 Kabupaten Sorong, kondisi sekolah pada umumnya di Papua Barat Daya memiliki kemiripan dengan SD Inpres 34 Kabupaten Sorong dimana tidak memiliki fasilitas laboratorium yang memadai (Hermawanto, 2. Hasil observasi yang dilakukan pada sekolah dasar di dua kelurahan yang sama yaitu kelurahan Malasom dan kelurahan Majaran didapatkan bahwa belum tersedia fasilitas laboratorium ilmu pengetahuan alam di sekolah. Sedangkan tuntutan pembelajaran IPA harus memberikan pengalaman belajar yang konkret melalui kegiatan praktikum seperti pada kompetensi dasar di kelas V. Berdasarkan hasil wawancara salah satu media alternatif yang digunakan dalam praktikum IPA dengan adanya keterbatasan fasilitas laboratorium yaitu bahan alam, guru memanfaatkan bahan alam sebagai media untuk mengoptimalkan praktikum IPA. Pengembangan yang dilakukan guru dengan P5 mengajak peserta didik praktik belajar di lapangan yang bersifat lokal seperti fotosistesis, peserta didik melihat langsung ke alam proses fotosintesis (Hermawanto. Hasil wawancara yang telah dilakukan peneliti pada SD Inpres 34 Kabupaten Sorong, yaitu kelengkapan alat keselamatan yang cukup baik, kondisi laboratorium yang cukup menggunakan kelas sebagai laboratorium, dan alat praktikum cukup baik. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian ini adalah PreExperimental One-Group Pretest-Posttest. Pendekatan kuantitatif digunakan karena tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan bahan alam dalam praktikum IPA dengan keterbatasan fasilitas laboratorium untuk memahami pembelajaran secara kontekstual. Populasi penelitian ini yaitu peserta didik kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong berjumlah 22 peserta didik. Teknik pengambilan sampel yaitu teknik sampel jenuh mencakup seluruh populasi, yaitu 22 peserta didik kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara dan tes tulis berupa pretest dan posttest. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu LKPD tentang materi bumi sebagai ruang kehidupan, modul materi bumi sebagai ruang kehidupan, instrumen wawancara, soal pretest dan posttest berupa pilihan ganda, isian, dan uraian. Validitas instrumen yang digunakan yaitu validitas isi dan validitas konstruk. Analisis data dalam penelitian kuantitatif berupa uji asumsi mencakup uji normalitas dan uji homogenitas, analisis data berupa uji t berpasangan . aired t tes. Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2510 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Skor Pretest Data pretest tanpa diberikan penjelasan ataupun treatment praktikum IPA kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong disajikan dalam distribusi frekuensi pada tabel 1 diketahui memilki banyak kelas sejumlah 6 kelas, batas interval kelas yang didapat yaitu 5, terdapat frekuensi kelas sejumlah 22, dan pada tabel terdapat frekuensi relatif terbesar yaitu 27,27% pada interval 27-31 kemudian frekuensi terkecil ada pada interval 37-41 dan 42-46 yaitu 9,09%. Diketahui bahwa penilaian prestest memperoleh nilai 642, ratarata . 29,17, nilai terendah 17, dan nilai tertinggi yaitu 45. Tabel 1 Data hasil pretest sebelum treatment Interval Kelas Frekuensi Sumber:Frekuensi Data diolah peneliti. Relatif (%) 17 - 21 22 Ae 26 27 Ae 31 32 Ae 36 37 Ae 41 42 Ae 46 Jumlah Rata-rata Nilai terendah Nilai tertinggi 13,64% 22,73% 27,27% 18,18% 9,09% 9,09% Nilai 29,17 Skor Posttest Data posttest setelah melakukan treatment, disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi pada tabel 2 diketahui bahwa terdapat 7 kelas, batas interval kelas yaitu 7, kemudian frekuensi relatif terbesar yaitu 45,46 % pada interval kelas 63-69 dan frekuensi terkecil terdapat pada interval kelas 42-48 dan 54-55 yaitu 4,54%. Pada tabel 2 diketahui bahwa hasil penilaian posttest akhir yaitu 1. 494, nilai rata-rata yaitu 67,95, nilai terendah yaitu 42, dan nilai tertinggi yaitu 89. Tabel 2 Data Posttest sesudah treatment Interval Frekuensi Frekuensi Nilai Kelas Relatif (%) 42 Ae 48 4,54 % 54 Ae 55 4,54 % 56 Ae 62 9,09 % 63 Ae 69 45,46 % 70 Ae 76 18,19 % 77 Ae 83 9,09 % 84 Ae 90 9,09 % Jumlah Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2511 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Rata-rata Nilai terendah Nilai tertinggi Sumber: Data diolah peneliti, 2025 67,95 Data Treatment Data treatment ini mencakup posttest treatment satu hingga treatment lima dalam pembelajaran praktikum IPAS kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong disajikan dalam bentuk distribusi frekuansi pada tabel 3 semua data posttest dijumlahkan menjadi satu kemudian pada tabel tersebut terdapat banyak kelas yaitu 7 kelas, batas interval kelas yaitu 9, dan pada tabel tersebut terdapat frekuensi relatif terbesar yaitu 20% pada interval 38-46 dan 56-64 kemudian terdapat juga frekuensi relatif kecil pada interval 74-82 yaitu 5,46%. Pada setiap satu kali treatment jumlah peserta didik yaitu 22, ketika digabungkan satu sampai lima mendapat hasil 110, kemudian nilai treatment satu sampai lima digabungkan menjadi 5,720, nilai rata-rata . dijumlahkan sehingga memperoleh hasil 239,52, nilai terendah pada kelima treatment yaitu 20, dan nilai tertinggi yaitu 80. Pada penilaian posttest satu memperoleh nilai 720, nilai rata-rata yaitu 32,72, nilai terendah 20, dan nilai tertinggi 50. Pada tahap ini, pembelajaran yang disampaikan mencakup materi tentang bagian-bagian lapisan bumi. Treatment kedua penilaian posttest memperoleh nilai 880, nilai rata-rata 40, nilai terendah 20, dan nilai Tahap kedua ini, pembelajaran yang disampaikan yaitu materi gunung meletus dan simulasi gempa bumi menggunakan bahan alam. Pada setiap selesai pembelajaran akan diberikan posttest untuk mengetahui tahapan pemahaman peserta Treatment ketiga penilaian posttest memperoleh nilai 1. 140, nilai rata-rata yaitu 51,81, nilai terendah 20, dan nilai tertinggi yaitu 70. Pada treatment ketiga ini melakukan praktikum bagian-bagian lapisan bumi menggunakan bahan alam berupa tanah liat, batu atau kerikil kecil, pasir, dan kacang atau biji-bijian, hingga setelah selesai praktikum akan diberikan soal posttest. Treatment keempat penilaian posttest memperoleh nilai 1. 250, nilai rata-rata yaitu 56,81, nilai terendah 20, dan nilai tertinggi yaitu 80. Pada treatment keempat ini peserta didik melakukan praktikum gunung meletus menggunakan bahan alam berupa tanah liat untuk membentuk sebuah gunung dan dibantu oleh bahan-bahan lainnya seperti botol bekas, karton, soda kue, stik es krim, gelas bekas, pewarna makanan dan cuka, setelah proses praktikum selesai akan diberikan posttest. Treatment kelima penilaian posttest memperoleh nilai 1. 280, nilai rata-rata yaitu 58,18, nilai terendah yaitu 20, dan nilai tertinggi 80. Pada treatment kelima praktikum yang diberikan berupa simulasi gempa bumi menggunakan bahan alam seperti pasir, batu atau kerikil kecil, ranting pohon, dan daun dan dibantu oleh alat berupa wadah datar, setelah proses praktikum selesai akan diberikan posttest. Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2512 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Tabel 3 Data Treatment Interval Frekuensi Frekuensi Kelas Relatif (%) 20 Ae 28 8,18 % 29 Ae 37 19,09 % 38 Ae 46 47 Ae 55 14,54 % 56 Ae 64 65 Ae 73 12,73 % 74 Ae 82 5,46 % Jumlah Rata-rata Nilai terendah Nilai tertinggi Sumber: Data diolah peneliti, 2025 Nilai 239,52 Peningkatan nilai rata-rata pada treatment menunjukkan bahwa penggunaan bahan alam dalam praktikum memberikan dampak positif terhadap pemahaman peserta didik. Peningkatan paling signifikan terjadi dari treatment kedua ke treatment ketiga, saat peserta didik mulai melakukan praktikum langsung menggunakan bahan Pada gambar 1 ini merupakan grafik peningkatan nilai rata-rata treatment yang dilakukan secara berulang. Nilai Rata-Rata Treatment Ke - Sumber: Diolah peneliti, 2025 Gambar 1 Grafik Nilai Rata-Rata Treatment Uji Normalitas Tujuan uji normalitas yaitu untuk mengetahui signifikansi penyebaran data bersifat normal atau tidak normal. Data yang digunakan adalah data pretest dan posttest dari kelas V berjumlah 22 peserta didik. Data ini menggunakan uji normalitas ShapiroWilk dengan menggunakan program SPSS. Berikut ini merupakan hasil uji normalitas Shapiro-Wilk. Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2513 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Tabel 4 Data Uji Normalitas Shapiro-Wilk Kolmogrov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Sig. Statistic Sig. Pretest 0,113 0,200 0,975 0,821 Posttest 0,171 0,095 0,937 0,169 Sumber: Diolah peneliti, 2025 Berdasarkan tabel 4 di atas data pretest pada kolom Shapiro-Wilk nilai signifikansinya 0,821, kemudian pada kolom pretest nilai signifikansinya yaitu 0,169. Kriteria: nilai sig. > 0,05 menunjukkan data normal, sedangkan < 0,05, menunjukkan data tidak normal. Data yang diperoleh dari hasil pretest dan posttest peserta didik seperti yang terlihat pada tabel 4 di atas, bahwa nilai signifikasi lebih dari 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa data nilai pretest dan posttest berdistribusi normal. Uji Homogenitas Tujuan uji homogenitas adalah untuk mengetahui data yang digunakan bersifat homogeny atau tidak. Data yang digunakan yaitu data pretest dan posttest kelas V berjumlah 22 peserta didik. Data ini diuji menggunakan program SPSS, berikut ini hasil uji homogenitas. Tabel 5 Data Uji Homogenitas Pretest&Posttest Sumber: Diolah peneliti, 2025 Levene ,225 Sig. ,637 Berdasarkan uji homogenitas dilakukan menggunakan Tests of Homogeneity of Variances untuk memastikan kesamaan varians antara kelompok pretest dan posttest. Berdasarkan hasil analisis tabel 5, diperoleh nilai levence statistic berdasarkan pretest dan posttest sebesar 0,225 dengan sig. 0,637 menunjukkan bahwa data lebih dari 0,05 memiliki varians homogen. Uji asumsi homogenitas terpenuhi dan dapat dilakukan uji statistik seperti uji t berpasangan (Paired t-tes. Uji Hipotesis Uji t berpasangan (Paired t-tes. merupakan salah satu metode pengujian hipotesis yang digunakan tidak bebas . Ciri-ciri yang paling sering ditemui pada kasus yang berpasangan adalah satu individu . bjek penelitia. dikenai dua buah perlakuan yang berbeda. Walaupun menggunakan individu yang sama, peneliti tetap memperoleh dua macam data sampel, yaitu dari sebelum perlakuan dan setelah Berikut ini hasil Paired Sampels Statistics. Tabel 6 Hasil Paired Sampels Statistics Mean Std. Std. Error Deviation Mean Pair 1 Pretest 29,18 7,570 1,614 Posttest 67,91 10,592 2,258 Sumber: Diolah peneliti, 2025 Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2514 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Pada tabel 6 di atas menunjukkan hasil dari statistik deskriptif dari kedua sampel data, yaitu data pretest dan posttest. Pada tabel 6 menunjukkan nilai mean atau rata-rata pretest sebesar 29,18 dan nilai mean atau rata-rata posttest sebesar 67,91. Jumlah responden yang digunakan sebagai sampel penelitian yaitu sebanyak 22 peserta didik. Kemudian nilai Std. Deviation . tandar devias. pada pretest yaitu sebesar 7,570 dan posttest sebesar 10,592. Terakhir nilai Std. Eror Mean untuk pretest sebesar 1,614 dan untuk posttest sebesar 2,258. Karena nilai rata-rata hasil belajar pada pretest 29,18 < posttest 67,91, maka artinya secara deskriptif ada perbedaan rata-rata hasil belajar antara pretest dengan hasil belajar posttest. Tabel 7 Hasil Paired Sampels Correlations Correlation Sig. Pair 1 Pretest & posttest ,291 ,188 Sumber: Diolah peneliti, 2025 Pada tabel 7 menunjukkan hasil korelasi atau hubungan antara kedua data atau hubungan variabel pretest dan variabel posttest. berdasarkan hasil di atas diketahui nilai koefisien kolerasi (Correlatio. sebesar 0,291 dengan nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0,188. Karena nilai Sig. 0,188 > 0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan antara variabel pretest dengan variabel posttest. Mean Tabel 8 Hasil Paired Sampel Test Paired Differences Std. Std. 95% Confidence T Deviation Error Interval of the Mean Difference Lower Upper 11,081 2,362 -43,640 -33,814 -16,393 Sig. Pair Pr- -38,727 21 ,000 Ket: Pr-Po: Pretest-Post test Sumber: Diolah peneliti, 2025 Pada tabel 8 menunjukkan hasil Paired Sampel Test yang akan menemukan jawaban atas rumusan masalah pada penelitian ini, yakni mengenai ada atau tidaknya pengaruh penggunaan bahan alam dalam praktikum IPA dengan keterbatasan fasilitas laboratorium untuk memahami pembelajaran kontekstual pada peserta didik kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. Berdasarkan tabel di atas, diketahui nilai Sig. -taile. adalah sebesar 0,000 < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan rata-rata antara hasil belajar pretest dengan posttest yang artinya ada pengaruh penggunaan bahan alam dalam praktikum IPA dengan keterbatasan fasilitas laboratorium untuk memahami pembelajaran kontekstual pada peserta didik kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. Pada tabel di atas juga memuat tentang nilai Mean Paired Differences adalah sebesar -38,727. Nilai ini menunjukkan selisih antara rata-rata hasil belajar pretest dengan ratarata hasil belajar posttest dan selisih perbedaan tersebut antara -43,640 sampai dengan 33,814 . % Confidence Interval of the Difference Lower dan Uppe. Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2515 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Berdasarkan tabel di atas diketahui t hitung bernilai negatif yaitu sebesar -16,393. T hitung bernilai negatif ini disebabkab karena nilai rata-rata hasil belajar pretest lebih rendah daripada nilai rata-rata hasil posttest. Dalam konteks kasus seperti ini maka nilai t hitung negatif dapat bermakna positif, sehingga nilai t hitung menjadi 16,393. Tahap mencari nilai t batel, dimana t tabel dicari berdasarkan nilai df . egree of freedom atau derajad kebebasa. dan nilai signifikanis . Dari tabel di atas diketahui nilai df adalah sebesar 21 dan nilai 0,05/2 sama dengan 0,025. Nilai ini kita gunakan sebagai acuan dasar dalam mencari t tabel pada distribusi nilai t tabel statistik. Maka ketemu nilai t tabel adalah sebesar 2,07961. Dengan demikian, karena t hitung 16,393 > t tabel 2,079, maka sebagaimana dasar pengambilan keputusan di atas dapat disimpulkan bahwa H 0 ditolak dan H1 Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan rata-rata antara hasil belajar pretest dengan posttest yang artinya ada pengaruh penggunaan bahan alam dalam praktikum IPA dengan keterbatasan fasilitas laboratorium untuk memahami pembelajaran kontekstual pada peserta didik kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. PEMBAHASAN Penggunaan bahan alam dalam kegiatan pembelajaran akan memberikan anak pengalaman belajar yang lebih konkrit dan secara tidak langsung mengenalkan anak pada benda-benda yang terdapat di lingkungan sekitar mereka. Media bahan alam juga akan membuat pembelajaran tentang alam lebih menarik, menyenangkan, dan bermakna (Oktarani, 2. Pada penelitian (Fibriyani, 2. guru memberikan pengajaran dengan macam media bahan alam untuk mengembangkan kreativitas anak dengan cara yang berbeda-beda supaya anak tidak mudah bosan pada saat melakukannya. Adapun tahap-tahap penggunaan media pembelajaran bahan alam yang dilakukan oleh guru, terdiri dari tahap perencanaan pembelajaran, persiapan media yang akan digunakan, tahap pelaksanaan pembelajaran, dan tahap evaluasi. Pembelajaran IPA melalui praktik adalah metode di mana peserta didik melakukan percobaan dan pengamatan langsung terhadap objek atau fenomena alam. Metode ini bertujuan membantu pemahaman konsep IPA secara mendalam melalui pengalaman Peserta didik diberi pengalaman langsung dalam percobaan di kelas atau laboratorium dengan petunjuk yang jelas. Mereka dapat menerapkan teori yang di pelajari dan melihat penerapannya secara langsung (Rabiudin, 2. Pembelajaran IPA dilakukan peneliti dengan metode praktikum membuat peserta didik tidak jenuh dan bosan dalam proses pembelajaran. Salah satunya peneliti menggunakan bahan yang berasal dari alam sebagai medianya, sehingga dari metode praktikum menggunakan bahan alam peserta didik mendapatkan pengalaman langsung serta dapat memahami pemahaman secara kontesktual atau nyata. Pemahaman merupakan sejauh mana peserta didik dapat menerima dan memahami pelajaran serta pengalaman yang mereka alami berupa hasil penelitian, praktikum, dan observasi langsung ia lakukan (Susanto, 2. Pemahaman kontekstual mengaitkan materi dengan situasi real, mendorong peserta didik mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan peserta didik dan menerapkannya. Strategi pembelajaran kontekstual adalah proses pendidikan yang memotivasikan peserta didik memahami mata pelajaran dengan mengaitkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari (Majid, 2. Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan di SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. Pada penelitian ini penulis mengambil Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2516 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . sampel yaitu kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong yang berjumlah 22 peserta didik, kemudian akan diberikan perlakuan. Perlakuan yang diberikan setelah melakukan pretest kemudian akan diberikan treatment atau perlakuan pada proses pembelajaran tersebut, setelah melakukan treatment akan diberikan posttest. SD Inpres 34 Kabupaten Sorong memiliki nilai KKM sebesar 67. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan bahan alam dalam praktikum IPA memberikan pengaruh yang positif terhadap pemahaman kontesktual peserta didik kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. Hal ini dibuktikan dalam proses pembelajaran yang dilakukan secara berulang dengan melibatkan bahan alam sebagai media pembelajaran memberikan pengaruh yang signifikansi antara sebelum dan sesudah melakukan treatment. Hal ini dapat memberikan kesempatan untuk peserta didik mengalami, memahami, dan merefleksikan sendiri bahan-bahan alam yang cocok untuk digunakan dalam praktikum. Rata-rata nilai posttest meningkat dibandingkan nilai pretest, yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman kontekstual peserta didik setelah treatment. Peningkatan hasil pretest hingga posttest menggunakan bahan alam dicapai setelah pelaksanaan pembelajaran dengan adanya treatment secara berulang dapat dilihat pada grafik di bawah ini: Nilai Rata-Rata Tes 1 Tes 2 Tes 3 Tes 4 Tes 5 Tes 6 Tes 7 Tes ke - Ket: tes 1: pretest, tes 2: posttest 1, tes 3: posttest 2, tes 4: posttest 3, tes 5: posttest 4, tes 6: posttest 5, tes 7: posttest Sumber: Diolah peneliti, 2025 Gambar 2 Grafik Nilai Rata-Rata Pretest-Posttest Bahan alam dapat digunakan sebagai media dan terdapat pengaruh pada pemahaman serta kreatiivitas peserta didik, dengan adanya keterbatasan fasilitas laboratorium tidak menghalangi peserta didik dalam melakukan praktikum (Fajriani, 2020. Fibriyani, 2023. Laeli, 2022. Nurfitriani, 2. Hasil peneliti, penelitian menggunakan bahan alam dalam praktikum IPA dengan keterbatasan fasilitas laboratorium dapat membantu peserta didik dalam memahami pemahaman kontekstual dengan metode praktikum, sehingga disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki pengaruh. Pemahaman peserta didik untuk pembelajaran kontekstual juga dapat terlaksana dengan adanya bahan alam hingga mencapai nilai pretest sebesar 29,18 dan nilai posttest sebesar 67,91. Nilai tersebut dapat membuktikan bahwa sebelum adanya perlakuan penggunaan pemahaman peserta didik belum cukup untuk memahami pembelajaran kontekstual sedangkan sesudah diberikan perlakuan pada nilai posttest pemahaman peserta didik mulai meningkat. Peningkatan ini terjadi karena adanya Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2517 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . proses treatment secara berulang dan kontesktual dengan menggunakan bahan alam dapat memberikan pengalaman langsung peserta didik dapat meraba serta melihat. Berdasarkan hasil analisis data dibuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan bahan alam dalam praktikum IPA dengan keterbatasan laboratorium terhadap pemahaman peserta didik dalam pembelajaran kontekstual di kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. Hasil uji Paired Sampels Test menunjukkan bahwa nilai signifikansi yaitu 0,001, karena nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pretest dan posttest. Pada penelitian peneliti menggunakan sebuah LKPD sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap proses pembelajaran. Melalui LKPD, peserta didik dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran, peserta didik diajak untuk mengalami langsung proses praktikum menggunakan bahan-bahan alam yang mudah untuk ditemukan disekitar Hal ini sejalan dengan tulisan Mahardika, . bahwa dengan LKPD peserta didik mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan, mengetahui informasi yang terdapat dalam materi, dan mengerjakan soal dengan baik. Penggunaan media bahan alam untuk mengembangkan kreativitas anak dimulai dengan cara merencanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tema, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, memberikan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan, membagikan alat dan bahan, mengamati proses kegiatan pembelajaran, dan menilai perkembangan anak (Fasha, 2. Hasil dari penggunaan bahan alam untuk meningkatkan kreativitas anak semakin meningkat bila menggunakan bahan alam. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahan alam dalam proses pembelajaran anak prasekolah dapat meningkatkan kreativitasnya (Khairunnisa, 2. Sehingga dapat mendukung ide dari penelitian ini, yaitu penggunaan bahan alam dapat membantu peserta didik pada pemahaman kontesktual, peserta didik mengalami secara langsung pembelajaran dengan media bahan alam. Hal ini juga sejalan dengan tulisan Novitayanti Sidu dan Parwoto . yang mengatakan alam dan lingkungan sekitar adalah media yang sangat baik untuk mengajarakan banyak hal kepada manusia, terutama untuk anak usia dini. Sebab dengan menggunakan media alam, anak akan mudah melihat dan mencerna apa yang telah diajarkan kepadanya. Pengenalan alam untuk anak usia dini diharapkan menjadi sebuah sarana untuk berinteraksi secara langsung baik dengan makhluk hidup maupun benda-benda mati sehingga anak dapat menumbuh kembangkan kreativitasnya. Pemanfaatan lingkungan sekitar anak dalam pengalaman belajar maupun meningkatkan kreativitas anak dan menstimulus anak serta mencari informasi untuk menambah pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman eksplorasinya. KESIMPULAN Berdasarkan nilai rata-rata, nilai maksimal, dan nilai minimal pada sebelum dan sesudah treatment terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Hasil signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, maka disimpulkan bahwa ada perbedaan rata-rata antara hasil belajar pretest dengan posttest yang artinya ada pengaruh penggunaan bahan alam dalam praktikum IPA dengan keterbatasan fasilitas laboratorium untuk memahami pembelajaran kontekstual pada peserta didik kelas V SD Inpres 34 Kabupaten Sorong. Penggunaan Bahan Alam dalam Praktikum IPA dengan Keterbatasan Fasilitas Laboratorium A - 2518 Arvianti et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . DAFTAR PUSTAKA